Anda di halaman 1dari 3

Pendidikan: Peranan Pesantren dalam Membangaun Kesatria Bangsa

Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi pertumbuhan dan


kemajuan bangsa. Pembentukan karakter masyarakat suatu bangsa tergantung pada
sistem pendidikan yang dilaksanakan dalam suatu negara. Tanpa pendidikan,
masyarakat dalam suatu bangsa, tidak akan menemukan dan mendapatkan perubahan
yang signifikan dalam setiap bidang. Bahkan masyarakat yang tak berpendidikan alias
tidak pernah merasakan alam pendidikan akan melahirkan manusia yang bringas dan
bebas tanpa batas serta tidak mengenal aturan dan moral. Jika nilai, moral dan
keberadaban tidak dijaga melalui system pendidikan maka yang ada hanya
kebiadaban, pengrusakan tatanan kehidupan dan alam. Disinalah peranan pendidikan
menunjukkan begitu pentingnya.
Maraknya berita dan kabar kejahatan-kejahatan yang tersembunyi atau terang-
terangan yang dilakukan para oknum penduduk, kelompok dan masyarakat Indonesia
di setiap tayangan berita televisi atau di surat kabar Indonesia pada saat sekarang,
telah memberikan bukti bahwa masyarakat telah jauh menghilangkan pentingnya
penanaman moralitas. Kemudian gambaran tersebut telah memberikan nasehat yang
berharga bahwa, sebegitu kejamnya arti kebebasan yang tanpa batas dalam kehidupan
masyarakat. Masyarakat sudah mulai Mengesampingkan arti norma, aturan, undang-
undang, peraturan-peraturan dan bahkan agama. Padahal manusia hidup dalam
bermasyarakat sangat membutuhkan standar nilai dan norma agar tidak terdapat clash
atau pertentangan-pertentangan yang akan menimbulkan kerusakan dan ketidak
harmonisan antar masyarakat.
Pendidikan bukanlah tanggung jawab lembaga pendidikan, pemerintah
memiliki peranan yang penting dalam kemajuan pendidikan yang menghantarkan
masyarakat berperadaban dan berilmu pengetahuan serta menjunjung moralitas
kehidupan bermasyarakat, bernegara dan beragama. Tetapi tidaklah cukup hanya
berhenti pada pemerintah dan lembaga pendidikan. Masyarakat selalu subjek
kehidupan sangat besar peranannya dalam menentukan perkembangan dan kemajuan
dunia pendidikan yang bermoralitas tinggi dan berilmu pengetahuan.
Lembaga pendidikan tertua yang pernah tumbuh dan menjamur di nusantara
adalah pesantren. Telah banyak lembaga pendidikan berbasis pesantren ini,
melahirkan cendekiawan-cendekiawan intelektual, agamawan-agamawan yang
nasionalis, guru-guru bangsa yang mengabdikan tanpa pamrih dan bahkan pahlawan-
pahlawan bangsa yang sangat gigih berjuang mengorbankan segalanya demi
kemerdekaan bangsa dari colonial dan imperial yang mengukung bangsa Indonesia.
Dengan demikian lembaga pendidikan, masyarakat dan pemerintah harus
bersatu padu, berpelukan erat menganyam satu tujuan demi kebebasan bangsa yang
sedang mengalami keterpurukan politik, budaya, ekonomi, dan moral. Nasionalisme
tinggi terhadap negara harus dipupuk dengan baik melalui dunia pendidikan. Dari
tangan dan pemikiran-pemikiran nasionalis tinggi ini akan menghasilkan politikus
yang handal, budayawan dan ekonom yang sangat bangga serta peduli terhadap
bangsa. Tetapi tidaklah berhenti sampai disitu. Sebab sejarah telah membuktikan,
Banyak politikus, budayawan dan ekonom yang lahir dari perut bangsa yang besar ini
( Indonesia ) tetapi tidak memiliki kepedulian yang besar terhadap kemalangan rakyat
dan bangsa, bahkan sebagian mereka tak memperdulikan nasib rakyat, serta sempat
menari-nari diatas penderitaan rakyat yang terseok-seok mempertahankan hidup demi
sepiring nasi.
Tindakan selanjutnya dalam melahirkan kesatria bangsa adalah penanaman
ajaran agama yang kuat pada mayarakat. Baik dan buruk, salah dan benar tidak cukup
jika hanya menggunakan standar akal manusia tetapi dibutuhkan standar tuhan selaku
pemilik alam semesta dan seisinya. Inilah yang kurang diperhatikan masyarakat
bangsa Indonesia. Kita disibukkan bagaimana mencerdaskan otak-otak manusia
dengan menjejali mereka dengan teori-teori ilmu pengetahuan tetapi melupakan
ajaran agama.
Ajaran agama adalah masalah privat masyarakat, agama tidak memiliki ruang
dihadapan public itulah anggapan selama ini. Sehingga yang dihasilkannya pun
masyarakat yang materialistis, semua diukur melalaui materi dan tak ada standar
norma atau nilai-nilai agama. Jadi pantas jika banyak para oknum aparat
menyeleweng dari tugas, politikus yang mengejar kekayaan dengan dalih atas nama
rakyat, ataupun budayawan yang nyeleneh dengan dalih atas nama seni.
Dengan lahirnya Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) tahun
2003 dan PP (Peraturan Pemerintah) No. 55 tahun 2007 serta Surat Keputusan
Bersama (SKB) tentang pendidikan agama dan keagamaan yang Insya Allah akan
dikeluarkan pada tahun 2010 melalui oleh tiga kementrian (Menteri Dalam
Negeri/Mendagri, Menteri Agama/Menag, dan Menteri Pendidikan
Nasional/Mendiknas) memberikan angin segar bagi semua masyarakat khususnya
lembaga pendidikan agama dan keagamaan yang sedang menggodok putra-putri
bangsa untuk jadi kesatria bangsa.
Pesantren yang telah memiliki reputasi dan prestasi besar bagi bangsa
Indonesia melalui alumni-alumninya, pantas untuk dikaji dan ditiru dalam penerapan
pendidikan dan pengajarannya. Pesantren telah berhasil dalam penanaman dan
penumbuhan rasa nasionalisme terhadap bangsa, serta pesantren telah berhasil juga
dalam menanamkan moralitas bagi peserta didiknya. Tetapi perlu diingat bahwa,
pesantren juga menanamkan ilmu pengetahuan bagi peserta didiknya. Jadi tidak
sepantasnya pesantren atau madrasah yang ada di Indonesia, dihilangkan dari peta
sejarah pendidikan Indonesia atau mendapatkan prilaku yang menyudutkan pesantren
atau madrasah melalui pendiskriminasian fasilitas, bantuan-bantuan, atau
memarjinalkan pesatren atau madrasah melalui kebijakan-kebijakan pemerintah.
Pemerintah pusat atau daerah selama ini hanya memperhatikan lembaga
pendidikan atau sekolah umum sedangkan sekolah keagamaan seakan-akan
keberadaannya bukan sebuah keharusan ditanah air Indonesia. Dibuktikan dengan
keengganan pemerintah daerah menggelontorkan ABPD nya untuk kepentingan
pembangunan pendidikan keagamaan (pesantren/Madrasah).
Ada yang beralasan bahwa, Keengganan pemerintah daerah ini bukannya
tanpa alasan, tetapi dikarenakan tidak adanya aturan yang jelas dari pemerintah pusat
yang mengatur hal ini sehingga menimbulkan kekawatiran dari pemerintah daerah
akan terjerat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam menyalurkan ABPD nya.
Tetapi walaupun tanpa bantuan pemerintah yang signifikan, keberadaan
pesantren tetap eksis dengan penuh ikhlas membina putra-putri bangsa. Pesantren atau
madrasah terus mengukir karya dalam dunia pendidikan dinegara ini dengan tetap
semangat, Ihlas bina bangsa, sepi ing pamrih rame ing gawe memang benar-benar
tertanam pada lembaga pendidikan pesatren dan madrasah. Jadi tidak mengherankan
jika pesantren atau madrasah selalu menelurkan kesatria bangsa (politikus,
budayawan, ekonom, guru bangsa, pahlawan, tokoh masyarakat) yang nasionalis,
berseraramkan ilmu pengetahuan dan berkendaraan moralitas keagamaan (berakhlak
yang mulia) peduli terhadap perkembangan masyarakat.

Penulis adalah staff pengajar pondok pesantren Al-Manshur Darunnajah Serang dan
peserta Program Kaderisasi Ulama (PKU) ke-3 ISID-CIOS Gontor Ponorogo
http://suarapembaca.detik.com/read/2009/12/26/171111/1266252/471/2010-
mendahulukan-moral-daripada-hukum
http://suarapembaca.detik.com/read/2010/01/27/180502/1287498/471/peran-
pendidikan-pesantren-dalam-membangun-kesatria-bangsa
http://suarapembaca.detik.com/read/2009/12/21/181156/1263886/471/pendidikan-
menuju-peradaban-modern
http://suarapembaca.detik.com/read/2009/12/07/075442/1255108/471/nasib-
pendidikan-indonesia
http://www.inpasonline.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=398:islam--kehidupan-bebas-barat-ciptakan-
nilai-nilai-fatamorgana&catid=70:opini&Itemid=104