Anda di halaman 1dari 49

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM POSING TIPE PRESOLUTION POSING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA DAN KARAKTER

SISWA SMA SANUDIN PANGKALAN BALAI

Proposal
Oleh

SUTRIYAH
Nomor Induk Siswa 2012122046
Program Studi Pendidikan Fisika
Jurusan Pendidikan MIPA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2014

1.1

Latar Belakang
Dalam usaha peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas diperlukan

strategi belajar mengajar yang diharapkan mampu memperbaiki sistem pendidikan yang
telah berlangsung selama ini. Pemerintah berupaya keras dengan memperbaiki sistem
pendidikan nasional. Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UUD Sisdiknas:Pasal 3).
Adanya mata pelajaran Fisika di sekolah diharapkan setiap siswa mampu
mengembangkan pengetahuan dan konsep-konsep fisika yang dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari, sehingga menghasilkan manusia yang mempunyai kemampuan
dan potensi yang dapat memberikan kontribusi terhadap kemajuan bangsa dan negara.
Mata pelajaran fisika adalah satu mata pelajaran dalam rumpun sains yang dapat
mengembangkan

kemampuan

berfikir

analitis

induktif

dan

deduktif

dalam

menyelesaiakan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar, baik secara
kualitatif

maupun

kuantitatif

dengan

menggunakan

matematika,

serta

dapat

mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap percaya diri (kurikulum 2004).


Pengajaran fisika selalu diikuti oleh pengerjaan soal-soal. Pengerjaan soal secara
optimal dapat mengetahui hasil pembelajaran. Soal yang hanya memerlukan satu
langkah berfikir, mengingat satu rumus dan hanya memasukan angka-angka ke dalam
rumus, kurang berarti dalam membiasakan berfikir analisis. Untuk melatih kemampuan
tersebut, diperlukan soal penyelesainya memerlukan langkah berfikir, yang memerlukan
panduan dari beberapa konsep yang berkaitan.

Saat peneliti melakukan pengamatan di beberapa sekolah,penyelesaian soal-soal


fisika menggunakan format diketahui;. ,ditanya..,dan jawab, bila diperhatikan
secara cermat aspek analisis penyelesaian belum tampak, karena pada umumnya bagian
penyelesaian langsung akhirnya. Penyelesaian soal-soal fisika yang terpenting adalah
kerangka berfikir penyelesaiannya dan bukan perhitu-ngan matematisnya.
Dalam pengamatan juga diperoleh informasi sebagai berikut: kegiatan belajar mengajar
berpusat pada siswa, Tingginya interaksi yang terjadi antara siswa dan guru, kurangnya
interaksi antara siswa dalam pembelajaran. kurangnya kemampuan bekerja sama dalam
belajar, kurang semangatnya siswa dalam mengerjakan tugas. Hal ini terlihat dari tugastugas latihan siswa. Siswa hanya menjawab dengan memasukan angka-angka ke dalam
rumus yang telah ada.
Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan yang ada, dibutuhkan suatu
variasi model pembelajaran, strategi pembelajaran diantaranya model pembelajaran
problem posing. Pada prinsipnya, model pembelajaran problem posing adalah suatu
model pembelajaran yang mewajibkan para siswa untuk mengajukan soal sendiri
melalui pelajaran soal (berlatih soal secara mandiri)
Model pembelajaran problem posing tipe pre-solution posing menuntut siswa untuk
terlibat secara aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar. Penerapan model
pembelajaran problem posing tipe pre- solution posing untuk mata pelajaran fisika di
SMA X diharapkan lebih efektif, karena siswa akan belajar lebih aktif dalam berpikir
sehingga konsep fisika dapat lebih mudah dipahami siswa.

1.2 Rumusan Masalah


Dari uraian di atas dirumuskan masalah dalam penelitian ini :
1. Apakah ada pengaruh penggunaan model pembelajaran problem posing tipe presolution posing terhadap hasil belajar fisika siswa di SMA?
2. Apakah ada pengaruh penggunaan model pembelajaran problem posing tipe presolution posing terhadap karakter siswa di SMA?

1.3 Pembatasan Masalah


Mengingat luasnya permasalahan yang menyangkut sekolah, siswa dan bahan kajian
mata pelajaran Fisika, maka perlu diberi batasan sebagai berikut:
1.

Pembelajaran problem posing yang dijadikan penelitian adalah pembelajaran

problem posing tipe pre-solution posing .


2.

Materi yang digunakan adalah Suhu dan Kalor yang merupakan bahan ajar mata

pelajaran Fisika SMA kelas X semester I.


3.

Karakter siswa yang akan dikembangkan meliputi berfikir kreatif, kritis dan logis

bekerja dengan teliti, jujur dan berperilaku santun serta keterampilan social seperti
bekerja sama dan saling menghargai.

1.4 Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran problem posing tipe presolution posing terhadap hasil belajar fisika dan karakter siswa di SMA?

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:


1.

Bagi siswa : penelitian ini diharapkan dapat menjadi pembelajaran yang dapat

membantu siswa dalam memecahkan masalah yang dipelajari sehingga meningkatkan


motivasi dan hasil belajar.
2.

Bagi guru: sebagai bahan masukan dalam upaya meningkatkan motivasi dan hasil

belajar fisika siswa SMA.


3.

Bagi sekolah: penelitian ini dapat memberikan informasi dan kajian dalam

pengembangan model pembelajaran yang tepat untuk pembelajaran siswa di sekolah.

A.

Landasan Teori

A.1 PROBLEM POSING


Problem posing merupakan model pembelajaran yang mengharuskan siswa
menyusun pertanyaan sendiri atau memecah suatu soal menjadi pertanyaan-pertanyaan
yang lebih sederhana yang mengacu pada penyelesaian soal tersebut.

Dalam

pembelajaran, problem posing (pengajuan soal) menempati posisi yang strategis. Siswa
harus menguasai materi dan urutan penyelesaian soal secara mendetil. Hal tersebut akan
dicapai jika siswa memperkaya ranah pengetahuannya tak hanya dari guru melainkan
perlu belajar secara mandiri.
Problem posing juga dapat dikatakan sebagai perumusan soal agar lebih
sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih
sederhana dan dapat dikuasai. Hal ini terutama terjadi pada soal-soal yang rumit.
Dengan demikian, penerapan model pembelajaran problem posing adalah sebagai
berikut Guru menjelaskan materi pelajaran kepada para siswa. Penggunaan alat peraga
untuk memperjelas konsep sangat disarankan.
1. Guru memberikan latihan soal secukupnya.
2. Siswa diminta mengajukan 1 atau 2 buah soal yang menantang, dan siswa yang
bersangkutan harus mampu menyelesaikannya. Tugas ini dapat pula dilakukan secara
kelompok.
3. Pada pertemuan berikutnya, secara acak, guru menyuruh siswa untuk menyajikan soal
temuannya di depan kelas. Dalam hal ini, guru dapat menentukan siswa secara selektif
berdasarkan bobot soal yang diajukan oleh siswa.
4. Guru memberikan tugas rumah secara individual.

Aurbech menyatakan problem posing bermakna untuk mengajar kemampuan


berfikir kritis, dengan langkah-langkah yaitu: Menguraikan isi, menggambarkan
masalah, menyederhanakan masalah, mendiskusikan masalah dan mendiskusikan
alternatif pemecahan masalah.
Dalam mencari pemecahan masalah tidak harus didapatkan satu solusi. Seorang
guru harus melatih siswanya untuk mencari kemungkinan solusi yang lain dengan mengembangkan konsekuensi yang diterima jika mereka mengambil salah satu solusi
masalah tersebut.
Dalam pembelajaran problem posing masalah yang diajukan tidak harus baru.
Hal tersebut juga menyangkut pembentukan kembali dari permasalahan yang telah ada
atau bahkan pembentuk masalah dari masalah yang telah ada atau bahkan pembentuk
masalah yang telah diperoleh solusinya. Seperti yang dinyatakan Dunker (2010) bahwa
problem posing tidak bisa dipisahkan dengan problem solving. Setiap langkah dari
pemecahan masalah akan selalu ada pengajuan masalah di dalamnya.
Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa problem posing adalah
bentuk model pembelajaran yang menekankan pada pengajuan soal atau perumusan
masalah oleh siswa dan disertai jawaban dari permasalahan tersebut.
Keterlibatan siswa untuk turut belajar dengan cara menerapkan model pembelajaran
problem posing merupakan salah satu indikator keefektifan belajar. Siswa tidak hanya
menerima materi dari guru, melainkan siswa juga berusaha menggali dan
mengembangkan sendiri. Hasil belajar tidak hanya menghasilkan nilai tetapi dapat
meningkatan pengetahuan dan konsep fisika. Kemampuan siswa untuk mengerjakan
soal-soal sejenis uraian perlu dilatih, agar penerapan model pembelajaran problem
posing dapat optimal. Kemampuan tersebut akan tampak dengan jelas bila siswa mampu

mengajukan soal-soal secara mandiri maupun berkelompok. Kemampuan siswa untuk


me-ngerjakan soal tersebut dapat dideteksi lewat kemampuannya untuk menjelaskan
penyelesaian soal latihan. Penerapan model pembelajaran problem posing dapat melatih
siswa belajar kreatif, disiplin, dan meningkatkan konsep fisika.
Silver (1994) telah mengklasifikasikan problem posing seperti:
(1) Pre-Solution
Sebelum penyelesaian masalah, dimana beberapa masalah dihasilkan secara teliti
dari stimulus yang disajikan seperti sebuah gambar, kisah atau cerita, diagram, paparan
dan lain-lain.
(2) During (within-solution)
Selama penyelesaian masalah ketika siswa secara sengaja merubah suatu hasil
dan kondisi dari permasalahan.
(3) After Problem Posing (post-solution).
Setelah penyelesaian masalah, ketika pengalaman dari konteks penyelesaian masalah diterapkan pada situasi yang baru.
Model pembelajaran problem posing dapat dikembangkan dengan memberikan
suatu masalah yang belum terpecahkan dan meminta siswa untuk menyelesaikannya
(Silver,1994) menjelaskan bahwa pengajuan soal mandiri dapat diaplikasikan dalam 3
bentuk aktivitas kognitif matematika yakni sebagai berikut:
1.

Problem Posing tipe Pre-Solution Posing


Siswa membuat pertanyaan dan jawaban berdasarkan pernyataan yang dibuat

oleh guru. Jadi, yang diketahui pada soal itu dibuat guru , sedangkan siswa membuat
pertanyaan dan jawabannya sendiri.
2.

Problem Posing tipe Within Solution Posing

Siswa memecahkan pertanyaan tunggal dari guru menjadi sub-sub pertanyaan


yang relevan dengan pertanyaan guru.
3.

Problem Posing tipe Post Solution Posing


Siswa membuat soal yang sejenis dan menantang seperti yang dicontohkan oleh

guru. Jika guru dan siswa siap maka siswa dapat diminta untuk mengajukan soal yang
menantang dan variatif pada pokok bahasan yang diterangkan guru. Siswa harus bisa
menemukan jawabannya. Tetapi ingat, jika siswa gagal menemukan jawabannya maka
guru merupakan narasumber utama bagi siswanya, sehingga guru harus benar-benar
menguasai materi.
Problem posing tipe pre-solution posing merupakan salah satu model
pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam proses kegiatan belajar
mengajar. Model pembelajaran ini mewajibkan siswa membuat pertanyaan dan jawaban
sendiri berdasarkan soal yang diberikan guru. Berdasarkan pendapat Aurbech, Suyitno
dan Silver. Maka penerapan model pembelajaran problem posing tipe pre-solution
posing adalah sebagai berikut:
a. Menguraikan isi
Guru menjelaskan materi kepada siswa jika perlu untuk memperjelas konsep
menggunakan, pada langkah ini guru memberikan siswa dengan sebuah kode.
b. Menggambarkan masalah
Guru memberikan contoh-contoh soal, dengan model problem posing tipe presolution posing yaitu memberi stimulus berupa seperti sebuah gambar, kisah atau cerita,
diagram, paparan dan lain-lain, kemudian siswa menggambarkan masalah/ menjabarkan
masalah yang diberikan dengan me-ngidentifikasi stimulus yang diberikan.

c. Membuat masalah
Guru memberi latihan dengan model problem posing tipe pre-solution posing
dengan mengaitkan masalah yang berhubu-ngan dengan kehidupan mereka sehari-hari.
d. Mendiskusikan masalah
Pada langkah ini, seorang guru menjadi fasilitator untuk memandu siswanya
berdiskusi untuk memecahkan masalah. Fasilitator atau guru hanya memantau dan
mengarahkan jalannya kegiatan belajar mengajar, tidak boleh ikut terlibat dalam
pemecahan masalah. Hal ini penting untuk menumbuhkan kepercayaan para siswa
bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mencari pemecahan masalah sendiri.
e. Mendiskusikan alternatif pemecahan masalah
Guru membahas tugas yang diberikan dengan model problem posing tipe pre
solution posing dan guru melatih siswa untuk mencari kemungkinan pertanyaan lain
yang didapat dari stimulus yang diberikan. Dalam penelitian ini model inilah yang akan
diterapkan dalam pembelajaran fisika.

A.2 KARAKTER
Karakter secara etimologis barasal dari bahasa Yunani kasairo berarti cetak
biru, format dasar, sidik seperti sidik jari. Dalam hal ini karakter adalah given atau
sesuatu yang sudah ada dari sananya. Namun, istilah karakter sebenarnya menimbulkan
ambiguitas. Tentang ambiguitas terminologi karakter ini, Mounier (1956) mengajukan
dua cara interpretasi. Ia melihat karakter sebagai dua hal, yaitu pertama sebagai
sekumpulan kondisi yang telah diberikan begitu saja, atau telah ada begitu saja dalam
diri kita, karakter yang demikian ini dianggap sebagai sesuatu yang telah ada atau
kodrat (given). Kedua, karakter juga bisa dipahami sebagai tingkat kekuatan mielalui

mans seorang individu mampu menguasai kondisi tersebut. Karakter yang demikian ini
disebutnya sebagai sebuah proses yang dikehendaki (willed). Ada pula yang
mendefinisikan karakter sebagai berikut:
Character determines someone s private thoughts and someones actions done. Good
character is the inward motivation to do what is right, accordng to the highest standard
of behaviour, in every situation (Hill, 2002).
Pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan perilaku yang membantu
individu untuk hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara
dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karakter yang menjadi acuan seperti yang terdapat dalam The Six Pillars of
Character yang dikeluarkan oleh Character Counts! Coalition ( a project of The Joseph
Institute of Ethics). Enam jenis karakter yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a. Trustworthiness, bentuk karakter yang membuat seseorang menjadi: berintegritas,
jujur, dan loyal
b. Fairness, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki pemikiran terbuka serta
tidak suka memanfaatkan orang lain.
c. Caring, bentuk karakter yang membuat seseorang memiliki sikap peduli dan perhatian terhadap orang lain maupun kondisi sosial lingkungan sekitar.
d. Respect, bentuk karakter yang membuat seseorang selalu menghargai dan menghormati orang lain.
e. Citizenship, bentuk karakter yang membuat seseorang sadar hukum dan peraturan
serta peduli terhadap lingkungan alam.
f. Responsibility, bentuk karakter yang membuat seseorang bertanggung jawab, disiplin,
dan selalu melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin

10

Karakter dapat juga disebut watak, yaitu paduan segala tabiat manusia yang
bersifat tetap, sehingga menjadi ciri khusus yang membedakan orang satu dengan
yang lain.
Karakter dapat dilihat dari tingkah laku ketika orang berinteraksi, yang memiliki
arti psikologis dan etis. Dalam arti psikologis, karakter adalah sifat-sifat yang demikian
nampak dan yang seolah-olah mewakili pribadinya. Sedangkan dalam arti etis, karakter
hams me-ngenai nilai-nilai yang baik dan menunjukkan sifat-sifat yang selalu dapat
dipercaya, sehingga orang berkarakter itu menunjukkan sifat mempunyai pendirian
teguh, baik, terpuji dan dapat dipercaya. Berkarakter berarti memiliki prinsip dalam arti
moral di mana perbuatannya atau tingkah lakunya dapat dipertanggungjawabkan dan
teguh. Kementrian pendidikan Nasional mengembangkan pendidikan budaya dan
karakter bangsa melalui pusat kurikulum meliputi:
1. Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang
dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan
pemeluk agama lain.
2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang
selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat,
sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4. Disiplin

11

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan
dan peraturan.
5. Kerja Keras
Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai
hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari
sesuatu yang telah dimiliki.
7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam
menyelesaikan tugas-tugas.
8. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban
dirinya dan orang lain.
9. Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan
meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10. Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa
dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya
11. Cinta Tanah Air
Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan
penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya,
ekonomi, dan politik bangsa.

12

12. Menghargai Prestasi


Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang
berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13. Bersahabat/Komuniktif
Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama
dengan orang lain.
14. Cinta Damai
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan
aman atas kehadiran dirinya.
15. Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan

waktu untuk membaca

berbagai

bacaan yang

memberikan kebajikan bagi dirinya.


16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan
alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan
alam yang sudah terjadi.
17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan
masyarakat yang membutuhkan.
18. Tanggung-jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang
seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan
budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

13

B.

Kerangka Berpikir
Sebagian besar siswa SMA mengalami kesulitan dalam belajar fisika. Kesulitan

tersebut disebabkan karena kurang tertariknya siswa untuk belajar fisika. Penggunaan
model pembelajaran yang kurang tepat dalam proses pembelajaran dapat menimbulkan
kebosanan atau kejenuhan, kurang memahami konsep dan monoton sehingga siswa
kurang termotivasi untuk belajar. Kejenuhan siswa belajar fisika menyebabkan siswa
lebih banyak pasif dan kurang terlibat dalam proses belajar mengajar.
Model pembelajaran problem posing tipe pre-solution posing menuntut siswa
untuk terlibat secara aktif dalam proses kegiatan belajar mengajar. Siswa membuat
pertanyaan dan jawaban berdasarkan pernyataan yang dibuat oleh guru. Jadi, yang
diketahui pada soal itu dibuat guru , sedangkan siswa membuat pertanyaan dan
jawabannya sendiri. Selain itu, pembelajaran ini dapat membantu meningkatkan sikap
positif siswa dalam pembelajaran fisika. Pembelajaran problem posing memberikan
kesempatan kepada siswa berpartisipasi lebih aktif untuk meluangkan ide-idenya.

C.

Hipotesis

Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah:


1.

Pembelajaran problem posing tipe pre-solution posing dapat meningkatkan

karakter siswa SMA untuk materi Suhu dan kalor.


2.
Pembelajaran problem posing tipe pre-solution posing dapat meningkatkan hasil
belajar siswa SMA untuk materi Suhu dan Kalor.

METODOLOGI PENELITIAN

14

A. Tempat dan waktu penelitian


1. Tempat Penelitian
Penelitian akan dilakukan di SMA SANUDIN.
2. Waktu Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan pada semester I kelas X SMA.
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA SANUDIN.
2.

Sample

Sample dalam penelitian ini adalah 2 kelas siswa pada kelas X SMA SANUDIN,
diambil secara random, 1 kelas sebagai kelas eksperimen dan 1 kelas sebagai kelas
control.
C.
1.

Metode Penelitian
Rancangan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan degan menggunakan metode quasi eksperimen dengan


desain pretes-posttest.
Kelas

Variabel

Variabel

A
B

bebas
XA
XB

control
T1
T2

Keterangan:
A : Kelas eksperimen
B : Kelas control
XA: Perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen yaitu kelas yang di ajar oleh guru
dengan menggunakan model pembelajaran problem posing tipe pre- solution posing
XB: Perlakuan yang diberikan pada kelas kontrol yaitu kelas yang diajar oleh guru dengan menggunakan strategi pembelajaran ekspositori

15

T1: Hasil tes belajar fisika kelompok eksperimen yang menggunakan pembelajaran
problem posing tipe pre-solution posing
T2: Hasil tes belajar fisika kelompok kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran
ekspositori.
2.
a.
-

Prosedur Penelitian
Persiapan
Perijinan (waktu, tempat, subjek, dan materi)
Pembuatan Instrumen dan analisis instrumen
(Pretest, lembar pengamatan, kuisioner, tes evaluasi atau posttest)

b.
-

Pelaksanaan
Pretest
Pembelajaran dengan penerapan pembelajaran problem posing tipe pre- solution

posing Observasi
c.
Evaluasi (posttest)
d.
Respon (angket atau kuisioner)
e.
Analisis Data

D.

Teknik Pengumpulan Data


Teknik-teknik pengumpulan data penelitian yang digunakan adalah sebagai

berikut :
1.

Dokumentasi
Metode dokumentasi berarti cara mengumpulkan data dengan mencatat data

yang sudah ada. Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk
memperoleh data mengenai nama-nama peserta didik kelas eksperimen dan kelas
kontrol serta untuk memperoleh data nilai awal peserta didik pada kelas eksperimen dan
kelas kontrol.
2.

Tes Tertulis

16

Tes tertulis terdiri dari pretest dan posttest. Pretest digunakan untuk mengetahui
kondisi awal kedua kelas sebeum dikenai perlakuan. Posttest digunakan untuk kondisi
akhir atau hasil belajar pada siswa setelah dikenai perlakuan. Sehingga dapat diketahui
ada atau tidaknya peningkatan hasil belajar dan antusias/ motivasi selama pembelajaran.
3.

Observasi
Observasi dilaksanakan untuk memperoleh data afektif, sikap dan aktivitas

siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Terutama dalam karakter siswa.


4.

Kuisioner
Merupakan data penunjang yang digunakan untuk mengumpulkan informasi

terkait dengan respon dan antusias siswa terhadap penerapan pembelajaran problem
posing tipe pre- solution posing.

E. Analisis Instrumen
1. validitas
Validitas yang digunakan adalah validitas butir. Teknik yang digunakan adalah
teknik korelasi product moment :

rxy=

Keterangan:
y = koefisien korelasi antara variabel X dan Y, dua variabel yang dikorelasikan
y = jumlah perkalian x dengan y
X2

= kuadrat dari x

y2

= kuadrat dari y

17

2.

Reliabilitas
Dalam menguji reliabilitas digunkaan uji konsistensi internal dengan

menggunakan rumus Alpha Cronbach sebagai berikut.


r11=

(1-

(Arikunto, 1999: 193)


Dimana:
r11
= reliabilitas instrumen
k
= banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
= jumlah varian butir/item
= varian total
Kriteria suatu instrumen penelitian dikatakan reliabel dengan menggunakan teknik ini,
bila koefisien reliabilitas (r11) > 0,6.
3. Taraf Kesukaran (TK)
Menentukan taraf kesukaran (TK) digunakan rumus sebagai berikut:

P=
(Arikunto, 2005: 208)
Dimana:
P
= Indeks kesukaran
B
= Banyaknya siswa yang menjawab soal dengan betul
JS
= Jumlah seluruh siswa peserta tes
Dengan Interprestasi Tingkat Kesukaran sebagaimana terdapat dalam Tabel
berikut:
Tingkat Kesukaran (TK)
TK < 0,30
0,30 TK 0,70
TK > 0,70
4.

Interprestasi atau Penafsiran TK


Sukar
Sedang
Mudah

Daya Pembeda (DP)


Menentukan daya pembeda (DP) digunakan rumus sebagai berikut.

D= - =PA-PB
Dimana:
J
= Jumlah peserta tes
18

JA
JB
BA
BB

= Banyaknya peserta kelompok atas


= Banyaknya peserta kelompok bawah
= Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal dengan benar
= Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal dengan benar
= Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar

= Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar


Dengan interprestasi DP sebagaimana terdapat dalam Tabel berikut.
Tabel
Interprestasi atau penafsiran Daya Pembeda (DP)
Daya Pembeda (DP)
DP 0,70
0,40 DP < 0,70
0,20 DP < 0,40
DP < 0,20
F.

Interprestasi atau penafsiran DP


Baik sekali (digunakan)
Baik (digunakan)
Cukup
Jelek

Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini meliputi analisis tahap awal dan tahap akhir.
a.

Tahap Awal

1). Uji Normalitas


Tujuan uji normalitas sampel adalah untuk mengetahui apakah data awal yang
diperoleh berdistribusi normal atau tidak. Jika data berdistribusi normal, maka untuk
analisis lebih lanjut digunakan digunakan statistika parametrik dan jika tidak akan
digunakan statistika non parametrik. Hipotesis yang digunakan adalah sebagai berikut.
H0 : data awal berdistribusi normal.
H1 : data awal tidak berdistribusi normal.
Langkah-langkah uji normalitas data sebagai berikut.
1)
2)
3)

Menyusun data dan mencari nilai tertinggi dan terendah.


Membuat interval kelas dan menentukan batas kelas.
Menghitung rata-rata dan simpangan baku.

19

4)

Membuat tabulasi data ke dalam interval kelas.

5)

Menghitung nilai Z dari setiap batas kelas.

6) Mengubah harga Z menjadi luas daerah kurva normal dengan menggunakan tabel.
7) Menghitung frekuensi harapan berdasarkan kurva.
8) Membandingkan harga Chi Kuadrat hitung dengan Chi Kuadrat tabel dengan taraf
signifikansi 5%.
9) Menarik kesimpulan, yaitu jika maka data berdistribusi normal.

2). Uji Homogenitas (Uji F)


Uji homogenitas dilakukan untuk memperoleh asumsi bahwa sampel penelitian
memiliki kondisi yang sama atau homogen. Uji homogenitas dilakukan dengan
menyelidiki apakah kedua sampel mempunyai varians yang sama atau tidak. Hipotesis
yang digunakan dalam uji ini adalah sebagai berikut
Distribusi F digunakan untuk menguji homogenitas varians dari dua kelompok
data.

Untuk mengetahui efektivitas.


F = Varians terbesar : Variansterkecil

3). Uji Kesamaan rata-

rata
Sebelum sampel diberi perlakuan, terlebih dahulu dilakukan uji kesamaan ratarata untuk mengetahui bahwa kedua sampel itu mempunyai kondisi awal rata-rata yang
sama. Langkah-langkah uji kesamaan rata-rata adalah sebagai berikut.
1)
2)
3)
4)
5)

Menentukan hipotesis.
Menentukan
Menentukan kriteria penerimaan hipotesis
Menghitung t
Menentukan simpulan.

20

b.

Tahap Akhir

1). Uji Normalitas


Uji normalitas digunakan untuk memastikan atau membuktikan apakah data yang
akan dianalisis terdistribusi normal atau tidak. Dalam hal ini digunakan rumus Chi
Kuadrat.

2= (fo fh)2: fh

2). Uji t-test


Uji t-test digunakan untuk membandingkan penguasaan konsep siswa kelas
control dan kelas eksperimen.
3). Uji Regresi Linear
Uji Regresi Linear untuk mengetahui hubungan antara aktivitas siswa (X)
terhadap penguasaan konsep siswa (kognitif) (Y). Selain itu untuk mengetahui sejauh
mana besarnya pengaruh antara aktivitas siswa dengan penguasaan konsep siswa
(kognitif).
Y= ax + b
Y = Subjeke dalam variable dependen yang diprediksikan
a = Harga Y ketika harga X= 0 (Harga konstan)
b= Angka arah atau koefisien regresi, yang menunukkan angka peningkatan ataupun
penurunan variable dependen yang didasarkan pada perubahan variable independen.
(Bila + arah garis naik, bila arah garis turun )
X =Subyek pada variable independen yang mempunyai nilai tertentu.

21

DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono. 2010. Statistika untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.


Sugiyono.2009. METODE PENELITIAN KUANTITATIF KUALITATIF DAN R&D.
Bandung : Alfabeta.
http://fisika21.wordpress.com/2009/12/09/model-pembelajaran-problem-posing/
Suharsimi,Arikunto.2012.Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan.Jakarta:Bumi Aksara

22

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)


Nomor
:1
Kelas/Semester
: XI/1
Materi Pembelajaran : Kinematika dengan Analisis Vektor
Alokasi Waktu : 16 45 menit
Jumlah Pertemuan
: 4 kali
A. Kompetensi Dasar (KD)
3.1. Menganalisis gerak parabola dan gerak melingkar dengan menggunakan
vektor
4.1. Mengolah dan menganalisis data hasil percobaan gerak parabola dan gerak
melingkar
B.

Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)


3.1.1. Menentukan hubungan x-t, v-t, dan a-t melalui grafik
3.1.2. Menentukan persamaan fungsi sudut, kecepatan sudut, dan percepatan sudut
pada gerak melingkar
3.1.3. Memformulasikan gerak meligkar berubah beraturan
3.1.4. Menganalisis gerak parabola dengan menggunakan vektor
4.2.1. Menemukan komponen-komponen dari gerak parabola

C. Tujuan Pembelajaran
Pertemuan pertama

23

Melalui diskusi dan kerja kelompok dilanjutkan dengan pemberian soal uji
kompetensi, diharapkan peserta didik dapat:
1. Menentukan hubungan x-t, v-t, dan a-t melalui grafik secara tepat
Pertemuan kedua
Melalui diskusi dan kerja kelompok dilanjutkan dengan pemberian soal uji
kompetensi, diharapkan peserta didik dapat:
1. Menentukan persamaan fungsi sudut, kecepatan sudut, dan percepatan sudut
pada gerak melingkar secara tepat
2. Memformulasikan gerak melingkar berubah beraturan secara tepat
Pertemuan ketiga
Melalui diskusi dan kerja kelompok, peserta didik diharapkan dapat:
1. Menganalisis gerak parabola dengan menggunakan vektor secara tepat
Diberikan kasus partikel yang bergerak dengan kecepatan vx untuk diselesaikan
dalam diskusi kelompok, agar peserta didik dapat:
1. Menemukan komponen-komponen dari gerak parabola
D. Materi Pembelajaran
Kinematika dengan Analisis Vektor

Posisi, kecepatan, dan percepatan pada gerak dalam bidang


Posisi, kecepatan, dan percepatan sudut pada gerak melingkar
Gerak Parabola

Metode Pembelajaran
Diskusi
Demonstrasi

E.

F.

Kegiatan Pembelajaran
1. Pertemuan ke-1
a. Pendahuluan (15 menit)

Siswa berkumpul dan duduk sesuai dengan kelompoknya masingmasing.

Guru memberikan salam dan berdoa bersama (sebagai implementasi nilai

religius).
Guru mengabsen,mengondisikan kelas dan pembiasaan (sebagai
implementasi nilai disiplin).

24

Prasyarat kemampuan sebelum mempelajari subbab (paket halaman 6):


-

Perbedaan posisi, jarak dan perpindahan


Perbedaan kelajuan dan kecepatan
Menentukan turunan dan integral f(x)

Motivasi: Guru menyebutkan mobil menempuh lintasan jalan sebagai


benda yang bergerak pada bidang, pesawat terbang yang berpindah dari
sebuah bandara ke bandara lain sebagai benda yang bergerak pada ruang.
Kemudian guru menanyakan contoh gerak pada bidang dan gerak pada
ruang lainnya pada siswa.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

b. Kegiatan Inti (145 menit)


Mengamati

Mengamati ilustrasi gerak dua dimensi gerak dalam bidang(dilakukan


pada semester gasal).
Mempertanyakan
Mempertanyakan tentang pengunaan vektor pada gerak dalam bidang
Mengeksplorasi
Mendiskusikan vektor posisi, kecepatan dan percepatan gerak dalam
bidang
Mengasosiasi
Mendiskusikan pemecahan masalah gerak dalam bidang pada
pengamatan kehidupan sehari-hari secara berkelompok.
Mengomunikasikan

Mempresentasikan hasil kegiatan diskusi kelompok tentang pemecahan


masalah gerak dalam bidang

c. Penutup (20 menit)

Guru bersama dengan peserta didik membuat simpulan kegiatan

pembelajaran.
Guru memberikan umpan balik proses dan hasil pembelajaran untuk

mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran.


Guru meminta peserta didik untuk mempelajari konsep vektor-vektor
pada gerak melingkar untuk pertemuan berikutnya.

25

Tindak lanjut: Penugasan menjawab pertanyaan uji kompetensi bab I


esai nomor 1,3,6,7,13,14,17,18,20.

2. Pertemuan ke-2
a. Pendahuluan (15 menit)
Siswa berkumpul dan duduk sesuai dengan kelompoknya masing

masing.
Memberikan salam dan berdoa (sebagai implementasi nilai religius).
Mengabsen, mengondisikan kelas dan pembiasaan (sebagai implementasi

nilai disiplin).
Motivasi: Guru menanyakan secara analogi dengan gerak lurus,
bagaimanakah menentukan kecepatan sudut

jika diberikan fungsi

posisi sudut dalam variabel waktu t?


Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

b. Kegiatan Inti (145 menit)


Mengamati

Mengamati ilustrasi gerak dua dimensi gerak melingkar


Mempertanyakan
Mempertanyakan tentang pengunaan vektor pada gerak melingkar
Mengeksplorasi
Mendiskusikan vektor posisi, kecepatan dan percepatan gerak melingkar
Mendiskusikan hubungan posisi sudut, kecepatan, dan percepatan gerak
melingkar
Mengasosiasi
Mendiskusikan pemecahan masalah gerak dalam bidang melingkar pada
pengamatan kehidupan sehari-hari secara berkelompok (kegiatan 1.2)
Mengomunikasikan

Mempresentasikan hasil kegiatan diskusi kelompok tentang pemecahan


masalahgerak dalam bidang

c. Penutup (20 menit)

Guru bersama dengan peserta didik membuat simpulan kegiatan

pembelajaran.
Guru memberikan umpan balik proses dan hasil pembelajaran untuk
mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran.
26

Guru memberikan penghargaan kepada kelompok terbaik dalam

pembelajaran.
Guru meminta peserta didik untuk mempelajari gerak parabola untuk
pertemuan berikutnya.

Tindak lanjut: Penugasan menjawab uji kompetensi bab I esai nomor 24

3. Pertemuan ke-3
a. Pendahuluan (15 menit)
Guru memberikan salam dan berdoa bersama (sebagai implementasi nilai

religius).
Guru mengabsen,mengondisikan kelas dan pembiasaan (sebagai

implementasi nilai disiplin).


Prasyarat kemampuan sebelum mempelajari subbab (paket halaman 35):
-

Persamaan kecepatan dan posisi pada sebuah partikel yang bergerak


dengan kesepatan tetap dan percepatan tetap.

Motivasi: guru melemparkan sebuah spidol dengan sudut elevasi


tertentu terhadap bidang horizontal dan spidol lainnya dilepaskan jatuh
bebas secara serentak, kemudian menanyakan apakah besaran yang

sama?
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

b. Kegiatan Inti (145 menit)


Mengamati

Mengamati ilustrasi gerak parabola


Mempertanyakan
Mempertanyakan tentang pengunaan vektor pada gerak parabola
Mengeksplorasi
Mendiskusikan vektor posisi, kecepatan dan percepatan gerak parabola
Mendiskusikan hubungan posisi, kecepatan, dan percepatan gerak
parabola
Mengasosiasi
Memprediksi posisi dan kecepatan pada titik tertentu berdasarkan
pengolahan data percobaan gerak parabola (kegiatan 1.3)
Mengomunikasikan

Mempresentasikan hasil prediksi posisi dan kecepatan pada kegiatan 1.3


27

c. Penutup (20 menit)

Guru bersama dengan peserta didik membuat simpulan kegiatan

pembelajaran.
Guru memberikan umpan balik proses dan hasil pembelajaran untuk
mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran.

Guru meminta peserta didik untuk mempelajari metode kosinus dan


metode analitis dalam menentukan vektor resultanuntuk pertemuan

berikutnya.
Tindak lanjut: memberikan tugas mengerjakan uji kompetensi bab I esai
nomor 29,30,32,33,35.

4. Pertemuan ke-4 (2 jam)


Ulangan harian I
G.

Sumber Belajar/Bahan Ajar/Alat

Sumber:
Buku Fisika XI Marthen Kanginan Erlangga, Bab 1.
Internet
H.
Penilaian
1. Teknik Penilaian dan bentuk instrumen
Teknik
Pengamatan Sikap
Tes Tertulis
Tes Unjuk Kerja
Portofolio (laporan percobaan)

Bentuk Instrumen
Lembar Pengamatan Sikap dan Rubrik
Pilihan Ganda dan Uraian
Uji Petik Kerja dan Rubrik
Panduan Penyusunan Portofolio

2. Instrumen penilaian
a. Lembar pengamatan sikap
No
1

Aspek yang dinilai


Menghayati dan

mengamalkan ajaran agama


2

yang dianutnya
menunjukkan perilaku jujur,
disiplin, tanggungjawab,
peduli (gotong royong,
kerjasama, toleran, damai),
santun, responsif dan proaktif
28

Keterangan

Rubrik pengamatan sikap


1 = jika peserta didik sangat kurang konsisten memperlihatkan perilaku

yang tertera dalam indikator


2 = jika peserta didik kurang konsisten memperlihatkan perilaku yang

tertera dalam indikator, tetapi belum konsisten


3 = jika peserta didik mulai konsisten memperlihatkan perilaku yang

tertera dalam indikator


4 = jika peserta didik konsisten memperlihatkan perilaku yang tertera

dalam indikator
5 = jika peserta didik selalu konsisten memperlihatkan perilaku yang
tertera dalam indikator

b. Penilaian pemahaman konsep


1) Uraian (Uji Kompetensi Bab 1 nomor 8,26,40)
Rubrik Penilaian Tes Uraian:
I.

Penilaian Pemahaman Konsep


A. Bentuk Soal Uraian
1. Jumlah soal
= 3 butir soal
2. Bobot soal
= lihat tabel
3. Skor Ideal
= 100

No
Soal

Hasil Pengerjaan soal

Skor

Skor
Mak
sima
l

a. Jika mengerjakan 2 soal vektor posisi partikel

20

P dengan benar
b. Jika mengerjakan 1 soal vektor posisi partikel

10
20

P dengan benar
c. Jika mengerjakan 2 soal vektor posisi P tetapi

tidak ada yang benar


d. Jika tidak menjawab

a. Jika mengerjakan 2 soal cakram dengan benar


b. Jika mengerjakan 1 soal cakram dengan benar

29

20
10

20

c. Jika mengerjakan 2 soal cakram tetapi salah


d. Jika tidak mengerjakan
3

2
0

a. Jika mengerjakan 6 soal partikel yang

60

mengalami gerak parabola dengan benar


b. Jika mengerjakan 5 soal partikel yang

50

mengalami gerak parabola dengan benar


c. Jika mengerjakan 4 soal partikel yang

40

mengalami gerak parabola dengan benar


d. Jika mengerjakan 3soal partikel yang

30
60

mengalami gerak parabola dengan benar


e. Jika mengerjakan 2 soal partikel yang

20

mengalami gerak parabola dengan benar


f. Jika mengerjakan 1 soal partikel yang

10

mengalami gerak parabola dengan benar


g. Jika mengerjakan 6 soal partikel yang

mengalami gerak parabola tetapi salah


h. Jika tidak menjawab

JUMLAH SKOR TOTAL URAIAN


Nilai Akhir

100

= Total Skor Uraian


= 100

c. Penilaian unjuk kerja


- Komponen gerak parabola
Skor Kriteria/Aspek
Kelompok

Perencanaan
bahan/alat

Proses praktikum

Laporan
praktikum

1
2
3
4
5
6
7
8
Rubrik pengamatan komponen gerak parabola:
No

Aspek yang dinilai

Rubrik

30

Total
Skor

Perencanaan bahan/alat

1: menunjukkan ketidaksiapan bahan dan


alat yang akan digunakan dalam
praktikum dan ketidaksiapan memulai
praktikum
2: menunjukkan ketidaksiapan bahan dan
alat praktikum tetapi menunjukkan
kesiapan memulai praktikum atau
sebaliknya
3: menunjukkan kesiapan bahan dan alat
praktikum juga kesiapan memulai

Proses praktikum

praktikum
1: tidak menunjukkan sikap antusias selama
proses praktikum
2: menunjukkan sikap antusias tetapi tidak
mampu bekerjasama dengan teman
sekelompok
3: menunjukkan sikap antusias dan mampu
bekerja sama dengan teman sekelompok

Laporan praktikum

selama praktikum
1: tidak bersungguh-sungguh dalam
menyelesaikan tugas dengan hasil terbaik
yang bisa dilakukan dan tidak berupaya
tepat waktu.
2: berupaya tepat waktu dalam
menyelesaikan tugas, namun belum
menunjukkan upaya terbaiknya
3: sungguh-sungguh dalam menyelesaikan
tugas, dan berupaya selesai tepat waktu

d. Penilaian portofolio
No

KI / KD / PI

Waktu

MACAM
PORTOFOLIO

31

Jumlah
Skor

Nilai

Laporan Kelompok

Laporan Praktikum

Makalah

Kualitas Rangkuman
1

2
3
Catatan:
PI = Pencapaian Indikator
Untuk setiap karya peserta didik dikumpulkan dalam satu file sebagai
bukti pekerjaan yang masuk dalam portofolio.
Skor menggunakan rentang antara 0 -10 atau 10 100.
Penilaian Portofolio dilakukan dengan sistem pembobotan sesuai tingkat
kesulitan dalam pembuatannya.

Mengetahui, Suak Timah,


Kepala Sekolah

29 Desember 2014
Guru Mata Pelajaran Fisika,

Drs. Baharuddin
NIP.19620419 199303 1 004

Dedek Juliana, S.Pd


NIP 197812012003122006

32

Lembar Kerja Siswa


1.Jelaskan pengertian gerak parabola?
2. Sebuah kelereng bergerak menurut persamaan x= 8t3+3t2-3,maka besar percepatan
kelereng pada saat t=2 sekon adalah : . . . . . m/s2.
a. 115 m/s2
b. 105 m/s2
c. 150 m/s2
d. 102 m/s2
Penyelesaian:
No.
1.

Kunci Jawaban
Gerak parabola merupakan gerak yang terjadi

Skor
25

karena adanya perpaduan gerak antara gerak


lurus beraturan dengan gerak lurus berubah
2.

beraturan yang lintasannya berbentuuk parabola.


Dik: x = 8t3+3t2-3

50

t= 2 sekon
Dita:a...?
Penyelesaian:
X=8t3+3t2-3
a= 24t2+6t-3
= 24(2)2+6(2)-3
=24(4)+12-3
=105 m/s2
Jumlah

75
33

34

S I LAB U S
Nama Sekolah
Mata Pelajaran
Standar Kompetensi
Alokasi Waktu

Form : 4/ IK 7.3.1/FIS

: SMA SANUDIN PANGKALAN BALAI


: Fisika
: Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik.
: 12 Jam

Kelas
Semester

: XI / IPA
:I

Standar Kompetensi
:
Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik.
Kompetensi Dasar
:
1.1 Menganalisis gerak lurus, gerak melingkar dan gerak parabola dengan menggunakan vektor.

Indikator

Menganalisis besaran perpindahan,


kecepatan dan percepatan pada perpaduan
gerak lurus dengan menggunakan vektor

Menganalisis besaran kecepatan dan


percepatan pada gerak melingkar dengan
menggunakan vektor

Menganalisis besaran perpindahan dan


kecepatan pada gerak parabola dengan
menggunakan vektor

Menganalisis vektor percepatan tangensial


dan percepatan sentripetal pada gerak
melingkar

Materi Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

Metode

Penilaian

Alokasi
Waktu

Sumber/
Bahan/Alat

Perpaduan gerak
antara:

Mengidentifikasi katrakteristik
perpaduan gerak translasi pada
beberapa gerak melalui presentas,
percobaan atau demonstrasi di
kelas secara klasikal (misalnya
gerak mobil mainan di atas triplek
yang bergerak)

Diskusi dan
Informasi

Penugasan,
penilaian
kinerja
(sikap) tes
tertulis

12 Jam

Sumber: Buku
Fisika yang relevan
(Mekanika)

glb dan glb


glb dan glbb
Gerak parabola
Gerak melingkar dengan
percepatan konstan

Menganalisis vektor perpindahan,


vektor kecepatan, dan vektor
percepatan pada gerak dalam
bidang datar (gerak parabola,
gerak melingkar) melalui kegiatan
diskusi di kelas

Menerapkan analisis vektor


perpindahan, vektor kecepatan,
dan vektor percepatan pada gerak
dalam bidang datar (parabola dan
melingkar) dalam diskusi
pemecahan masalah

35

Bahan: bahan
presentasi, lembar
kerja
Alat: media
presentasi,

Imtaq

Standar Kompetensi
:
Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik.
Kompetensi Dasar
:

1.2 Menganalisis keteraturan gerak planet dalam tatasurya berdasarkan hukum-hukum Newton
Indikator

Materi Pembelajaran

Menganalisis hubungan antara gaya gravitasi


dengan massa benda dan jaraknya

Hukum Newton tentang


Gravitasi

Menghitung resultan gaya gravitasi pada benda


titik dalam suatu sistem

Gaya gravitasi antar


partikel

Membandingkan percepatan gravitasi dan kuat


medan gravitasi pada kedudukan yang berbeda

Kuat medan gravitasi dan


percepatan gravitasi

Menganalisis gerak planet dalam tata surya


berdasarkan hukum Keppler

Gravitasi antar planet


Hukum Keppler

Kegiatan Pembelajaran

Metode

Mendiskusikan konsep
gerak, gaya dan
kesimbangan yang terjadi
pada sistem tatasurya dan
gerak planet melalui
berbagai media (misalnya
presentasi, simulasi, dan
lain-lain)

Diskusi dan
informasi

Memformulasikan hukum
Newton tentang gravitasi,
konsep berat, konsep
percepatan dan medan
gravitasi dalam tatasurya
dalam diskusi kelas

Menganalisis keteraturan
sistem tata surya dalam
pemecahan masalah
gravitasi antar planet,
gerak satelit, penerbangan
luar angkasa dalam diskusi
kelas pemecahan masalah

36

Penilaian

Penugasan,
penilaian
kinerja (sikap)
tes tertulis

Alokasi
Waktu
12 Jam

Sumber/
Bahan/Alat

Imtaq

Sumber: Buku
Fisika yang
relevan
(Mekanika)

Ar rad 2, 11

Bahan: bahan
presentasi,
lembar kerja

Al Anbiya 31

Alat: media
presentasi,

Fusilat 29

Al Baqoroh
74
Lukman 10
An Nuur 20

Standar Kompetensi
:
Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik.
Kompetensi Dasar
:

1.3 Menganalisis pengaruh gaya pada sifat elastisitas bahan


Indikator

Mendeskripsikan karakteristik gaya pada benda


elastis berdasarkan data percobaan (grafik)

Mengidentifikasi modulus elastisitas dan


konstanta gaya

Membandingkan tetapan gaya berdasarkan data


pengamatan

Menganalisis susunan pegas seri dan paralel

Materi Pembelajaran
Hukum Hooke dan
elastisitas

Kegiatan Pembelajaran
Melakukan percobaan
untuk mengidentifikasi
sifat benda elastis
Memformulasikan konsep
gaya pegas, modulus
elastisitas, tetapan gaya,
dan energi potensial
pegas melalui diskusi
kelas
Menganalisis penerapan
susunan pegas seri atau
paralel dalam kehidupan
(misalnya: sock breker,
spring bad, peralatan
fitness, dan lain-lain)

Menganalisis penerapan
konsep pegas dan prinsip
hukum Hooke dalam
diskusi pemecahan
masalah

37

Metode

Penilaian

Diskusi,
informasi dan
percobaan

Penugasan
, penilaian
kinerja
(sikap dan
praktik) tes
tertulis

Alokasi
Waktu
10 Jam

Sumber/
Bahan/Alat
Sumber: Buku
Fisika yang
relevan
(Mekanika)
Bahan: bahan
presentasi,
lembar kerja
Alat: media
presentasi,

Imtaq
A rahman 7

Standar Kompetensi
:
Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik.
Kompetensi Dasar
:

1.4 Menganalisis hubungan antara gaya dengan gerak getaran


Indikator

Mendeskripsikan karakteristik gerak pada


getaran pegas

Menjelaskan hubungan antara periode getaran


dengan massa beban berdasarkan data
pengamatan

Menganalisis gaya simpangan, kecepatan dan


percepatan pada gerak getaran

Materi Pembelajaran
Gerak getaran

Kegiatan Pembelajaran
Melakukan percobaan
untuk mengidentifikasi
karakteristik gerak getaran
pada pegas (simpangan,
amplitudo, periode, dan
lain-lain) secara
berkelompok
Memformulasikan
hubungan antara
simpangan, kecepatan,
percepatan, dan gaya
pada gerak getaran melalui
diskusi kelas

Menganalisis penerapan
konsep dan prinsip pada
getaran melalui diskusi
pemecahan masalah

38

Metoda
Diskusi,
informasi dan
percobaan

Penilaian

Penugasan,
penilaian
kinerja (sikap
dan praktik)
tes tertulis

Alokasi
Waktu

10 Jam

Sumber/
Bahan/Alat

Sumber:
Buku Fisika
yang relevan
(Mekanika)
Bahan:
bahan
presentasi,
lembar kerja
Alat: media
presentasi,

Imtaq

Standar Kompetensi
:
Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik.
Kompetensi Dasar
:

1.5 Menganalisis hubungan antara usaha, perubahan energi dengan hukum kekekalan energi mekanik
Indikator

Mendeskripsikan hubungan antara usaha, gaya,


dan perpindahan

Menghitung besar energi potensial (gravitasi


dan pegas) dan energi kinetik

Menganalisis hubungan antara usaha dan


energi kinetik

Menganalisis hubungan antara usaha dengan


energi potensial

Merumuskan bentuk hukum kekekalan energi


mekanik

Materi Pembelajaran
Usaha dan energi
Konsep usaha
Hubungan usaha dan energi
kinetik
Hubungan usaha dengan
energi potensial
Hukum kekekalan energi
mekanik

Kegiatan Pembelajaran
Merumuskan konsep
usaha, energi kinetik,
energi potensial (gravitasi
dan pegas), dan energi
mekanik dan hubungan
antara konsep-konsep itu
dalam diskusi kelas
Mendemonstrasikan usaha
yang terjadi karena
perubahan energi kinetik
Mendemonstrasikan usaha
yang terjadi karena
perubahan energi potensial
Menerapkan prinsip
hubungan antara usaha
dan energi dalam
pemecahan masalah
dinamika gerak melalui
diskusi kelas

39

Metode

Penilaian

Diskusi,
informasi dan
percobaan

Penugasan,
penilaian kinerja
(sikap dan
praktik) tes
tertulis

Alokasi
Waktu
10 Jam

Sumber/
Bahan/Alat

Imtaq

Sumber: Buku
Fisika yang
relevan
(Mekanika)

An nur 20

Bahan: bahan
presentasi,
lembar kerja

Al Raad 11

Alat: media
presentasi,

Al Isro 19
Huud 52

Standar Kompetensi
:
Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik.
Kompetensi Dasar
:

1.6 Menerapkan hukum kekekalan energi mekanik untuk menganalisis gerak dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator

Menerapkan hukum kekekalan energi mekanik


pada gerak misalnya gerak jatuh bebas, gerak
parabola dan gerak harmonik sederhana

Menerapkan hukum kekekalan energi mekanik


pada gerak dalam bidang miring

Menerapkan hukum kekekalan energi mekanik


pada gerak benda pada bidang lingkaran

Menerapkan hukum kekekalan energi mekanik


pada gerak satelit

Menerapkan hukum kekekalan energi mekanik


pada gerak getaran

Materi Pembelajaran
Hukum kekekalan energi
mekanik
Penerapan energi mekanik
pada gerak jatuh bebas
Penerapan energi mekanik
pada gerak di bidang miring
Penerapan energi mekanik
pada gerak planet/ satelit
Penerapan energi mekanik
pada gerak getaran

Kegiatan Pembelajaran

Metode

Penilaian

Menyelidiki berlakunya
hukum kekekalan energi
mekanik pada gerak jatuh
bebas, parabola dan gerak
harmonik sederhana

Diskusi,
informasi dan
percobaan

Penugasan,
penilaian kinerja
(sikap dan
praktik) tes
tertulis

Menerapkan hukum
kekekalan energi mekanik
dalam memecahkan
masalah gerak jatuh
bebas, gerak bidang
miring, gerak dalam bidang
lingkaran, gerak
planet/satelit, dan gerak
getaran secara
berkelompok

40

Alokasi
Waktu
8 Jam

Sumber/
Bahan/Alat
Sumber: Buku
Fisika yang
relevan
(Mekanika)
Bahan: bahan
presentasi,
lembar kerja
Alat: media
presentasi,

Imtaq

Standar Kompetensi :
Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik.
Kompetensi Dasar
:
1.7 Menunjukkan hubungan antara konsep impuls dan momentum untuk menyelesaikan masalah tumbukan
Indikator

Memformulasikan konsep impuls dan


momentum, keterkaitan antar keduanya, serta
aplikasinya dalam kehidupan (misalnya roket)

Merumuskan hukum kekekalan momentum


untuk sistem tanpa gaya luar

Mengintegrasikan hukum kekekalan energi dan


kekekalan momentum untuk berbagai peristiwa
tumbukan

Materi Pembelajaran
Momentum, impuls, dan
tumbukan

Kegiatan Pembelajaran
Mendiskusikan konsep
momentum, impuls,
hubungan antara impuls
dan momentum dalam
diskusi kelas
Melakukan percobaan
hukum kekekalan
momentum

Menganalisis pemecahan
masalah tumbukan denga
n menggunakan hukum
kekekalan momentum

41

Metode

Penilaian

Diskusi,
informasi dan
percobaan

Penugasan,
penilaian
kinerja (sikap
dan praktik)
tes tertulis

Alokasi
Waktu

12 Jam

Sumber/
Bahan/Alat

Imtaq

Sumber:
Buku Fisika
yang relevan
(Mekanika)

Al Baqoroh25

Bahan:
bahan
presentasi,
lembar kerja

Ar rahman
26,27

Alat: media
presentasi

Alqosos 88
Faathir 43

S I LAB U S

Form : 4/ IK 7.3.1/FIS

Nama Sekolah
: SMA Negeri 1 Cianjur
Kelas
: XI / IPA
Mata Pelajaran
: Fisika
Semest
:2
Standar Kompetensi : 2. Menerapkan konsep dan prinsip mekanika klasik sistem kontinu dalam menyelesaikan masalah.
Alokasi Waktu
: Jam
Standar Kompetensi :
Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik.
Kompetensi Dasar
:
2.1 Menformulasikan hubungan antara konsep torsi, momentum sudut, dan momen inersia, berdasarkan hukum II Newton serta penerapannya dalam masalah benda tegar

42

Indikator

Memformulasikan pengaruh torsi pada sebuah


benda dalam kaitannya dengan gerak rotasi
benda tersebut

Mengungkap analogi hukum II Newton


tentang gerak translasi dan gerak rotasi
Menggunakan konsep momen inersia
untuk berbagai bentuk benda tegar

Memformulasikan hukum kekekalan


momentum sudut pada gerak rotasi

Menerapkan konsep titik berat benda


dalam kehidupan sehari-hari

Materi Pembelajaran

Keseimbangan benda
tegar dan titik berat

Kegiatan Pembelajaran

Metode

Penilaian

Mendorong benda
dengan posisi gaya
yang berbeda-beda
untuk medefinisikan
gaya dan momen
gaya melalui kegiatan
demonstrasi kelas

Diskusi,
informasi dan
percobaan

Penilaian
kinerja (sikap
dan praktik),
tes tertulis

Merumuskan dan
menerapkan
keseimbangan benda
titik dan benda tegar
dengan menggunakan
resultan gaya dan
momen gaya dalam
diskusi kelas

43

Alokasi
Waktu

10 Jam

Sumber/
Bahan/Alat

Imtaq

Sumber:
Buku Fisika
yang relevan
(Mekanika)

Al Mulk 3

Bahan:
bahan
presentasi,
lembar kerja

Al Haj 19

Alat: media
presentasi,

Al Isro 29
Asyuro 17
Al Furqon 67
Al Baqoroh
143

Indikator

Materi Pembelajaran

Keseimbangan benda
tegar dan titik berat

Kegiatan Pembelajaran

Metode

Penilaian

Melakukan percobaan
titik berat benda
homogen dan
keseimbangan secara
berkelompok di kelas/
laboratorium

Diskusi,
informasi dan
percobaan

Penilaian
kinerja (sikap
dan praktik),
tes tertulis

Merumuskan dan
menerapkan konsep
momen inersia dan
dinamika rotasi dalam
diskusi pemecahan
masalah di kelas

Merumuskan dan
menerapkan hukum
kekekalan momentum
sudut dalam diskusi
pemecahan masalah
di kelas

44

Alokasi
Waktu

Sumber/
Bahan/Alat

Imtaq

Kompetensi Dasar

2.2 Menganalisis hukum-hukum yang berhubungan dengan fluida statick dan dinamik serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
Indikator

Memformulasikan pengaruh torsi pada sebuah


benda dalam kaitannya dengan gerak rotasi
benda tersebut

Mengungkap analogi hukum II Newton


tentang gerak translasi dan gerak rotasi

Menggunakan konsep momen inersia


untuk berbagai bentuk benda tegar

Memformulasikan hukum kekekalan


momentum sudut pada gerak rotasi

Menerapkan konsep titik berat benda


dalam kehidupan sehari-hari

Materi Pembelajaran

Fluida statik
Fluida dinamik

Kegiatan Pembelajaran

Metode

Penilaian

Menerapkan konsep
tekanan hidrostatis,
prinsip hukum
Archimedes dan
hukum Pascall melalui
percobaan

Diskusi,
informasi dan
percobaan

Penilaian
kinerja (sikap
dan praktik),
tes tertulis

Melakukan percobaan
tentang tegangan
permukaan,
kapilaritas, dan
gesekan fluida
Mendiskusikan
penerapan kosep dan
prisip fluida statis
dalam pemecahan
masalah
Membuat alat peraga
atau demonstrasi
penerapan hukum
Archimedes dan/atau
hukum Pascall secara
berkelompok

45

Alokasi
Waktu

16 Jam

Sumber/
Bahan/Alat

Imtaq

Sumber:
Buku Fisika
yang relevan
(Mekanika)

Al furqon 2

Bahan:
bahan
presentasi,
lembar kerja
Alat: media
presentasi,

Al muzadalah
11
Faathir 12

Indikator

Materi Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

Metode

Diskusi,
Mendiskusikan
informasi dan
karakteristik fluida
percobaan
ideal, asas
kontinuitas, dan asas
Bernoulli dan
penerapannya secara
klasikal dalam
memecahkan masalah

Membuat alat peraga


atau demonstrasi
penerapan asas
Bernoulli secara
berkelompok

46

Penilaian

Penilaian
kinerja (sikap
dan praktik),
tes tertulis

Alokasi
Waktu

Sumber/
Bahan/Alat

Sumber:
Buku Fisika
yang relevan
(Mekanika)
Bahan:
bahan
presentasi,
lembar kerja
Alat: media
presentasi,

Imtaq

AN nahl 79
AL Haj 2

Standar Kompetensi:
3. Menerapkan konsep termodinamika dalam mesin kalor
Kompetensi Dasar :
3.1 Mendeskripsikan sifat-sifat gas ideal monoatomik
Indikator

Materi Pembelajaran

Mendeskripsikan persamaan umum gas


ideal pada persoalan fisika sehari-hari

Teori kinetik gas

Menerapkan persamaan umum gas


ideal pada proses isotermik, isokhorik,
dan isobarik

Tekanan dan energi


kinetik gas

Persamaan umum gas

Kegiatan Pembelajaran

Metode

Penilaian

Merumuskan
hubungan antara
tekanan, volume,
suhu, kecepatan, dan
energi kinetik dalam
diskusi kelas

Diskusi,
informasi dan
percobaan

Penilaian
kinerja (sikap
dan praktik),
tes tertulis

Menerapkan konsep
tekanan, volume,
suhu, kecepatan, dan
energi kinetik dalam
diskusi pemecahan
masalah

47

Alokasi
Waktu

14 Jam

Sumber/
Bahan/Alat

Imtaq

Sumber:
Buku Fisika
yang relevan
(Mekanika)

Yunus 101

Bahan:
bahan
presentasi,
lembar kerja
Alat: media
presentasi,

Ar ruum 48

Standar Kompetensi:
3. Menerapkan konsep termodinamika dalam mesin kalor
Kompetensi Dasar :
3.2 Menganalisis perubahan keadaan gas ideal dengan menerapkan hukum termodinamika
Indikator

Materi Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran

Termodinamika
Mendeskripsikan usaha, kalor, dan
energi dalam berdasarkan hukum utama Hukum utama
termodinamika
termodinamika
Menganalisis proses gas ideal
Mesin Carnot
berdasarkan grafik tekanan-volume (PV)

Mendeskripsikan prinsip kerja mesin


Carnot

Menghitung usaha,
kalor, dan/atau
energi dalam dengan
menggunakan
prinsip hukum utama
termodinamika
dalam diskusi kelas
Menganalisis
karakteristik proses
isobarik, isokhorik,
isotermik, dan
adiabatik dalam
diskusi kelas
Menghitung efisiensi
mesin kalor dan
koefiseien
performans mesin
pendingin Carnot
dalam diskusi
pemecahan masalah

48

Metode

Penilaian

Diskusi,
informasi dan
percobaan

Penilaian
kinerja (sikap
dan praktik),
tes tertulis

Alokasi
Waktu

14 Jam

Sumber/
Bahan/Alat

Sumber:
Buku Fisika
yang relevan
(Mekanika)
Bahan:
bahan
presentasi,
lembar kerja
Alat: media
presentasi,

Imtaq

Anissa 162
Alam
Nasryroh 7
Al Hujurot 7