Anda di halaman 1dari 4

Aliran Estetika modern, posmodern

Aliran Modernisme
Modernisme dipandang sebagai gerakan penghapusan dan pembongkaranseni yang telah
berjalan beberapa dekade. Sejak akhir abad ke-18, gerakan modernisme telah membongkar
konsep-konsep seni rupa klasik. Bagi seniman modernis, konsep seni rupa klasik bahwa seni
rupa harus indah, seni rupa harus menghadirkan sensasi menyenangkan mata, harus memiliki
subjek penggambaran (subject matter), seni rupa harus merupakan produk magis dari aura
sang seniman dan seterusnya, selangkah demi selangkah mulai dicampakkan. Seniman
modernis mencampakkan keindahan sebagai faktor ideal dalam seni rupa, misalnya terlihat
pada penggambaran wanita secara kubistis oleh Pablo Picasso pada lukisan Les Demoiselles
d Avignon.
Paham aliran ini lebih menegaskan pentingnya penggunaan akal sebagai sarana berpikir
dalam menjelaskan masalah keindahan. Ciri penting yang menandai pemikiran estetika aliran
modernisme ini ialah sifatnya yangsangat rasional. Selain itu segala sesuatu harus dapat
dijelaskan dengan menggunakan data atau fakta yang bersifat empiris. Aliran pemikiran
estetika modern menggunakan pendekatan induktif dalam melihat persoalan keindahan.
Artinya suatu keindahan adalah hasil rampatan atau generalisasi atas data atau fakta-fakta
empirik yang diperoleh melalui suatu proses pengamatan seperti layaknya yang terjadi dalam
tradisi ilmu pengetahuan ilmiah. Dalam paham ini keindahan didekati dan dijelaskan secara
ilmiah dengan menggunakan ilmu-ilmu pengetahuan ilmiah seperti ilmu Psikologi, Sosiologi,
Antropologi, Sejarah dan bahkan ada yang mendekatkan dan penjelasan ilmu Matematika.
Implikasi menggunakan pendekatan atau cara pandang keilmuan ini, maka konsep keindahan
akan menampakkan standar, sifat, nilai atau penjelasan yang berbeda sesuai dengan
kebenaran disiplin masing-masing ilmu tersebut.
Secara umum aliran estetika modernisme mengembangkan narasi-narasi besar dalam bentuk
isme-isme yang berkembang antara lain rasionalisme, kapitalisme, individualisme, kubisme,
realisme, abstrakisme, ekspresionisme, dan sebagainya yang berdampak terjadinya
dehumanisasi yaitu kehidupan dan kreativitas yang terkotak-kotak, diplot-plot dan kaku
seakan kebenaran itu bersifat tunggal hanya yang berada di wilayah narasi-narasi besar ini.
Ideologi modernisme bersemangat melakukan kooptasi yaitu semacam upaya untuk
mengarahkan segala sesuatu menurut standar atau ukuran yang sudah ada atau baku
(universalisme).
Adanya pandangan dualistic yang membagi seluruh kenyataan menjadi subjek dan objek,
spiritual-material, manusia-dunia dan sebagainya, telah mengakibatkan objektivisasi alam
secara berlebihan dan pengurasan alam semena-mena. Hal ini kita tahu telah mengakibatkan
krisis ekologis.
Pandangan modern yang bersifat objektivistis dan positivisme akhirnya cenderung
menjadikan manusia seolah objek juga, dan masyarakat pun direkayasa bagai mesin. Akibat
dari hal ini adalah bahwa masyarakat cenderung menjadi tidak manusiawi.
Dalam modernisme ilmu-ilmu positif-empiris mau tak mau menjadi standar kebenaran
tertinggi. Akibat dari hal ini adalah bahwa nilai-nilai moral dan religius kehilangan wibawanya.
Alhasil timbulah disorientasi moral-religius, yang pada gilirannya mengakibatkan pula
meningkatnya kekerasan, keterasingan, depresi mental dan sebagainya.
Lebih lanjut Herbert marcuse menekankan masyarakat industri modern adalah masyarakat
yang tidak sehat karena masyarakat tersebut merupakan masyarakat yang berdimensi satu;
segala segi kehidupannya diarahkan pada satu tujuan saja yakni keberlangsungan dan
peningkatan sistem yang telah ada, yang tidak lain adalah sustem kapitalisme. Masyarakat
tersebut bersifat represif dan totaliter karena pengarahan pada satu tujuan itu berarti
menyingkirkan dan menindas dimensi-dimensi lain yang tidak menyetujui atau tidak sesuai
dengan sistem tersebut.

Aliran Estetika Posmodernisme


Post Modern bila diartikan secara harafiah kata-katanya terdiri atas Post yang artinya masa
sesudah dan Modern yang artinya Era Modern maka dapat disimpulkan bahwa Post Modern
adalah masa sesudah era Modern ( era diatas tahun 1960 an ) .Post Modernism sendiri
merupakan suatu aliran baru yang menentang segala sesuatu kesempurnaan dari Modernism,
bahkan tak jarang menentang aturan yang ada dan mencampurkan berbagai macam gaya .
Post Modernism tidak hanya di bidang arsitektur tetapi meliputi segala bidang kehidupan
seperti sosial ,politik , dan budaya .
Era posmodern diawali dengan konsep adanya suatu wilayah yang tidak lagi dibatasi oleh
satu negara, melainkan sistem informasi dan komunikasi yang dapat menembus dinding
geografis dan politik. Postmodern menunjuk kepada suasana intelektual dan sederetan wujud
kebudayaan yang meragukan ide-ide, prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang dianut oleh
modernisme.
Postmodernisme merupakan konsep periodiasi yang berfungsi untuk menghubungkan
kemunculan bentuk-bentuk formal baru dalam sendi kultural dengan kelahiran sebuah tipe
kehidupan sosial dan sebuah orde ekonomi yang baru; apa yang secara eufismistis disebut
sebagai modernisasi masyarakat pasca industri atau konsumer, masyarakat media atau
tontonan atau kapitalisme multinasional.
Bila perupa modernis mencari hal-hal yang bersifat universal, maka perupa posmodernis
malahan berupaya mengidentifikasikan perbedaan. Kalau modernis percaya pada
kemungkinan seni sebagai komunikasi universal, posmodernis justru tidak percaya bahwa
seni mampu mengemban misi sebagai bahasa komunikasi universal. Mereka bukan mencari
hal-hal yang bersifat universal seperti yang dilakukan perupa modernis melainkan mencari
perbedaan spesifik dan khusus dengan memperlihatkan pluralisme pandangan, provisional,
variabel, pergeseran dan perubahan. Gerakan modernisme kurang menghargai atau
memandang rendah nilai keagungan budaya, mereka merasa terpisah dari peristiwa nyata di
tengah masyarakat dan peradaban. Sementara gerakan posmodernisme, kendati memiliki
sikap skeptis dan kritis terhadap zamannya, tetapi sangat aktif merespons situasi sosial dan
politik.
Medium dalam seni posmodern yang terjadi adalah anything goes, yaitu segala material bisa
dijadikan sebagai media dalam berkarya, berbagai materi menjadi simbol untuk menemukan
petanda-petanda yang baru. Implikasinya hasil karya seni rupa cenderung bisa menusuk
tatanan yang telah dibakukan dan cenderung tidak lazim dan aneh bahkan membingungkan
dalam menafsirkan.
Postmodern sering didefinisikan sebagai krisis modernisme atau krisis yang disebabkan oleh
modernisasi. Postmodern muncul karena budaya modern menghadapi suatu kegagalan dalam
strategi visualisasinya. Kegagalan modernisasi bukan terletak pada tekstualitasnya tetapi
pada strategi visualisasinya yang seragam dan membosankan. Jika sebelumnya budaya
barat didominasi oleh budaya verbal maka kini budaya visual menggantikannya. Program
aplikasi komputer yang sebelumnya banyak menggunakan bahasa verbal dan sulit dihafal,
kini bahasa gambar atau ikon banyak digunakan sebagai pengganti bahasa tersebut dan
ternyata mudah dipahami.
Kelemahan dalam postmodernisme ialah mencampurkan gramatika dan tata bahasa visual
yang tidak proporsional, contoh yang paling kentara adalah suguhan acara media tayang
televisi yang menawarkan berbagai hal tanpa mencermati subjek, hierarki sosial ataupun
budaya masyarakat, terlihat pada tayangan iklan rokok dilihat oleh anak-anak ataupun
peristiwa serius dapat menjadi dagelan konyol ketoprak humor.

Perbedaan mendasar antara Modernisme dan Post-Modernisme adalah runtuhnya ide-ide yang
sebelumnya, pada masa Modern, bersifat Universal menjadi Plural.
Tokoh pada masa ini antara lain Jean Francois Lyotard dan Jean Baudrillard.
Konsep kunci dari buku The Postmodern Condition: A Report on Knowledgeadalah MetaNaratif/Grand-Narative/Narasi
Besar
yaitu
ide-ide
yang
diasumsikan
bersifat
menyeluruh/total/komplit. Menurut Lyotard Meta-Naratif tidak lagi dapat dipertahankan
karena adanya kemajuan teknologi, maka runtuhlah narasi-narasi besar. Narasi Besar tersebut
runtuh/berubah sesuai zaman karena pada dasarnya tidak ada teori yang sifatnya kekal, yang
ada hanyalah kebenaran-kebenaran kecil. Contohnya manusia membutuhkan tubuh untuk
berkomunikasi, hal ini sudah tidak relevan lagi karena berkembangnya teknologi dan media.
Pada masa Post Modernism terjadi pergeseran arti Kebenaran. Yang sebelumnya benar untuk
selama-lamanya menjadi benar untuk suatu konteks kebudayaan, benar untuk sekarang dan
akan berubah seiring waktu.
Post Modernism menerobos batasan-batasan antara seni dengan industri, seni dengan budaya
popular, seni dengan komik, pengalaman keseharian yang remeh temeh dan membosankan
dengan pengalaman estetis yang menggugah dan istimewa.
KRITIK TERHADAP MODERNITAS. Sejak tragedi Perang Dunia II, para pemikir filsafat mulai
merenung secara mendalam tentang makna modernitas yang dicapai, dimana kecanggihan
teknologi dan ilmu pengetahuan ternyata hanya menciptakan keruntuhan peradaban yang
telah dibangunnya. Dalam situasi seperti inilah muncul penggagas estetika yang
memberontak dan mempertanyakan kembali makna kehidupan. Menurut Albert Camus,
seniman merupakan seseorang yang berkreasi melalui seni dengan logika tersendiri yang
berbeda dengan logika bidang lainnya, dimana logika seni didasarkan pada nilai keindahan.
Seniman mengalami pengalaman estetis yang tersusun atas empat hal yaitu obyek, intuisi,
pengetahuan dan pengalaman. Sedangkan Paulo Freire mengatakan bahwa seni dan nilai
estetik kerap hanya dilihat sebagai usaha mengekspresikan kreativitas melalui media seni.
Tema pokok gagasannya, untuk dapat melihat kaitan ideologi dengan kebudayaan dalam
perubahan sosial yang intinya mengacu pada visi proses memanusiakan manusia, serta
melihat kebudayaan sebagai bagian dari sistem masyarakat yang justru menjadi pelanggeng
proses dehumanisasi yang menganalisis tentang kesadaran (magical consciousness, naifal
consciousness dan critical consciousness) atau pandangan hidup masyarakat terhadap diri
mereka sendiri. Bagi Herbert Marcuse, masyarakat industri modern adalah masyarakat yang
segala segi kehidupannya diarahkan pada satu tujuan saja yaitu keberlangsungan dan
peningkatan sistem yang telah ada (sistem kapitalisme). Karya seni tidak lagi
menggambarkan dan menunjukkan dimensi hidup yang lain tetapi justru merupakan
pendukung wacana yang mapan. Karya estetik jatuh menjadi komoditas. Menurutnya, karya
seni yang sungguh-sungguh memenuhi fungsinya ada pada masa sebelum rasionalitas
teknologi menguasai seluruh segi kehidupan seperti sekarang ini.
POSMODERNITAS YANG RETAK-RETAK. Posmodernisme bukan hanya mengikuti Modernisme,
tapi juga mengkritiknya. Ketika Modernisme sangat mengagungkan orisinalitas dalam kreasi
seni, seniman Posmodern lebih suka mengambil karya seni yang sudah ada untuk
dikembangkan dalam pola dan lingkup baru. Seniman Posmodern mencakup bidang yang
sangat luas dalam menggubah karya seni. Komunitas ini cenderung menjadi eklektik dengan
sumber inspirasi mencakup bidang yang luas, yang kebanyakan dari budaya populer. Seniman
Posmodern memberontak terhadap tendensi seni modern utnuk mencari nilai-nilai universal.
Ideologi budaya Posmodern adalah keragaman dalam implementasi yang sangat luas. Pada
seni modern, terdapat kecenderungan membatasi penikmat seni sebagai akibat keyakinannya
bahwa nilai estetis sebuah karya seni bersifat obyektif dan setiap orang harus sampai pada
penilaian estetis yang sama, sehingga tidak banyak yang mampu melakukannya. Sedangkan
pada Posmodern, karya seni dianggap sebagai sesuatu yang terbuka dan setiap orang berhak
memahami sesuai dengan keputusannya sendiri. Derida menyatakan bahwa runtuhnya
makna karena tanda, aturan dan norma sehingga apapun yang berkaitan dengan obyek
ataupun subyek, kehadirannya tak lagi memiliki dasar. Keruntuhan makna terjadi ketika
masing-masing
peradaban
melakukan
tekstualisasi
atas
peradaban
lain
dan
meminggirkannya.

Post modernisme adalah aliran seni yang menentang modernisme. Pada era modernisme,
segala sesuatu dilihat secara tunggal, sedangkan pada era post modernisme terjadi
pluralisme. Pada hubungannya dengan seni, post modern memiliki ciri khasnya sendiri. Dapat
kita lihat dari karya-karya yang dihasilkan oleh seniman pada zaman itu. Karya-karya
modernisme mayoritas menggambarkan sesuatu yang bersifat religius dan teknik
pembuatannya realis, menunjukan skill dari seniman tersebut. Sedangkan, hal yang jauh
berbeda terjadi dalam seni post-modern. Dalam postmoderism, seniman-seniman
menghasilkan karya yang beragam dari adanya peran teknologi sehingga karya-karya
tersebut dibuat tidak menggunakan keahlian murni dari seniman tersebut. Mereka lebih
memanfaatkan teknologi yang ada dalam memproduksi karya-karya mereka.

Sumber :
http://vivinjolanda.blogspot.com/
http://daqoiulmisbah.blogspot.com/2012/04/aliran-aliran-dalam-estetika.html
https://www.academia.edu/2342432/POSTMODERNISME_VERSUS_MODERNISME
http://idowhatiliketodo.blogspot.com/2014/01/estetika-post-modern.html