Anda di halaman 1dari 13

DESKRIPSI WILAYAH STUDI

Gambaran umum tentang kondisi lokasi pekerjaan sangatlah berarti dalam


pelaksanaan kegiatan di lapangan. Hal ini akan memberikan gambaran ke pada
personil Konsultan sehingga akan mempermudah dalam menyusun rencana kerja dan
strategi yang akan dilakukan di lapangan.

BA
BA
B
B

II
II

Deskripsi Wilayah Studi ini digunakan untuk mengetahui lokasi dimana pekerjaan akan
dilaksanakan. Selain itu Deskripsi Wilayah Studi berguna untuk mengetahui bagaimana
metoda pelaksanaan yang tepat dan potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia
yang bisa dan tepat untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan.

2.1 Sejarah Kabupaten Kepulauan Riau


Kabupaten Kepulauan Riau dibentuk berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 1956 Jo UU Nomor
58 Tahun 1958. Pulau-pulau di Kepulauan Riau dahulunya dikenal dengan julukan
segantang lada yang tersebar di laut Cina Selatan lebih kurang 1.062 buah pulau, 345
buah diantaranya sudah dihuni dan 717 buah pulau kecil masih belum dihuni sama sekali.
Pulau besar tersebut, diantaranya yaitu:
1.

Kundur

2.

Karimun

3.

Bunguran

4.

Anambas

5.

Sugie

6.

Jemaja

7.

Singkep

8.

Lingga

9.

Bintan

10. Batam
11. dan pulau Rempang
Pada Tahun 1722 - 1911 di Kepulauan Riau terdapat 2 (dua) buah kerajaan penting yaitu
Kerajaan Riau Lingga yang berpusat di Daik Lingga dan Kerajaan Riau Lingga yang
berpusat di Pulau Bintan. Sebelum Treaty of London, kedua kerajaan ini bergabung
menjadi satu dimana daerah kekuasaannya meliputi Johor dan Malaka (Malaysia),
Singapura dan sebagaian kecil Indragiri Hilir sekarang. Ketika itu pulau Penyengat sebagai
pusat kerajaan. Setelah Sultan Riau Meninggal Dunia (1911) maka pemerintahan Hindia
Belanda menduduki Amir-amir sebagai Onder districk thoorden untuk daerah yang agak
kecil dan Districk thoorden untuk daerah yang lebih besar dan dianggap penting.
Selanjutnya pemerintah Hindia Belanda menyatukan wilayah Lingga Riau dengan Indragiri
Hilir untuk dijadikan sebuah keresidenan yang dibagi menjadi 2 (dua) Afdelling yaitu:

Laporan Final
Master Plan Drainase Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau

II-1

Gafa Multi Consultants

1.

Deskripsi Wilayah Studi

Afdelling Tanjungpinang meliputi wilayah Kepulauan Riau Lingga dengan Indragiri


dan Kateman yang berkedudukan di Tanjungpinang sebagai penguasa tunggal
dan penanggung jawabnya dalam afdelling adalah seorang Residen.

2.

Afdelling Indragiri yang berkedudukan di Rengat dan diperintah oleh Assisten


Residen (dibawah) pemerintahan residen. Dalam tahun 1940 keresidenan ini
dijadikan Residentie Riau dengan dicantumkan afdelling Bengkalis (Sumatera
Timur) dan Tahun 1945 - 1949 berdasarkan Besluit Gubernur General Hindia
Belanda, 17 Juli 1947 Nomor 9 di bentuk daerah Zelf Bestur (daerah riau).

Berdasarkan Surat Keputusan Delegasi Republik Indonesia Propinsi Sumatera Tengah 18


Mei 1950 Nomor 9/Depart/Ket.50, maka terhitung Tanggal 18 Maret 1950 daerah Riau
menggabungkan diri kedalam Republik Indonesia, dimana Kepulauan Riau mempunyai
status daerah otonom tingkat II yang dikepalai Bupati dan membawahi 4 (empat)
Kewedanan yaitu:
1.

Kewedanan

Tanjungpinang

meliputi

Kecamatan

Bintan

Selatan

(termasuk

Kecamatan Bintan Timur), Bintan Utara, Batam, dan Tambelan.


2.

Kewedanan Karimun meliputi Kecamatan Karimun, Kundur, Moro.

3.

Kewedanan Lingga meliputi Kecamatan Singkep, Lingga, Senayang.

4.

Kewedanan Pulau Tujuh Meliputi wilayah Siantan, Jemaja, Midai, Serasan,


Bunguran Barat, dan Bunguran Timur.

Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Nomor 26/SK/1965 dengan berpedoman instruksi


Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Riau tanggal 10 Pebruari 1964 Nomor Intruksi
03/II/1964 dan Intruksi Nomor 16/V/1964 dan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah
Tingkat I Riau tanggal 9 Agustus 1964 Nomor UP/247/5/565, Tanggal 15 Nopember Nomor
UP/255/5/1965 dan Tanggal 16 Nopember 1965 Nomor UP/256/5/1965 menetapkan
bahwa terhitung Tanggal 1 Januari 1966 semua daerah Kewedanan dalam Kabupaten
Kepulauan Riau. Berdasarkan dengan peraturan pemerintah Nomor 31 Tahun 1983 telah
dibentuk Kota Administratif Tanjungpinang. Dan dengan peraturan pemerintah nomor 34
tahun 1983 telah pula dibentuk Kota Madya Batam. Dengan adanya pengembangan
wilayah tersebut maka Kepulauan Riau membawahi 16 Kecamatan 1 Kota Administratif
Tanjungpinang yang membawahi 2 (dua) Kecamatan yaitu Kecamatan Tanjungpinang Barat
dan Kecamatan Tanjungpinang Timur.
Beralih ke tahun 80-an Batam yang pada mulanya masih berupa hutan, dan karenanya
jarang disebut-sebut orang, menjadi kekuatan baru yang digerakkan oleh Otorita.
Pembangunan fisik secara besar-besaran dilakukan disana, sehingga nama Kepulauan Riau
(baca

Tanjungpinang)

semakin

tenggelam.

Orang

lebih

tahu

Batam

ketimbang

Tanjungpinang. Padahal, dimasa lalu orang lebih mengenal Tanjungpinang ketimbang


Batam. Namun, dewasa ini, khususnya sejak dicanangkannya Batam-Bintan sebagai
Kawasan Industri dan Pariwisata, nama Kepulauan Riau mencuat kembali. Lobam dijadikan
kawasan industri, sementara Lagoi dijadikan kawasan pariwisata terbesar di Asia
Tenggara. Dan, masyarakat dari berbagai daerah pun berdatangan guna mengadu nasib,
Laporan Final
Master Plan Drainase Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau

II-2

Gafa Multi Consultants

Deskripsi Wilayah Studi

mengejar kehidupan yang lebih baik. Kepulaun Riau semakin dibicarakan orang ketika
tahun

1999

masyarakatnya

mengadakan

musyawarah

besar.

Musyawarah

yang

diselenggarakan di Hotel Royal Palace (15 Mei 1999) membuahkan tekad (keputusan)
bahwa Kepulauan Riau mesti dimekarkan, baik horizontal maupun vertical. Salah satu
alasannya adalah kondisi geografis yang pada gilirannya membuat rentang kendali
pemerintahan menjadi tidak efektif dan efisien. Pemekaran secara horizontal hampir
semuanya terpenuhi. Karimun yang pada mulanya hanya sebuah kecamatan, kini telah
menjadi sebuah Kabupaten, demikian juga Natuna. Kemudian Tanjungpinang yang pada
mulanya hanya sebuah Kota administratif, kini telah menjadi Kota Otonom. Sedangkan
pemekaran secara vertical (menjadi propinsi) sudah terwujud namun belum ada
penunjukan caretaker Gubernur. Diharapkan setelah pemilu 2004 ini semua yang
diharapkan segenap masyarakat kepri untuk mewujudkan sebuah provinsi utuh tercapai.

2.2 Letak Geografis


Secara geografis Kabupaten Kepulauan Riau terletak pada posisi 4 o15 Lintang Utara dan
0o48 Lintang Selatan, 103o10 Bujur Timur disebelah barat daya 109 o Bujur Timur
disebelah timur.

2.3 Akses Ke Lokasi


Untuk ke lokasi pekerjaan yang ada di Pulau Bintan yaitu Desa Bintan Buyu, Kecamatan
Teluk Bintan, dapat ditemput dengan menggunakan moda darat, laut dan udara. Secara
rinci lokasi pekerjaan dapat ditempuh dari Kota Bandung sebagai berikut:
1.

Dari Bandung ke Jakarta ditempuh dengan menggunakan moda darat.

2.

Dari Jakarta ke Batam ditempuh dengan menggunakan moda udara.

3.

Dari Batam ke Tanjungpinang dapat ditempuh dengan menggunakan moda laut.

4.

Dari Tanjungpinang ke lokasi pekerjaan dapat ditempuh dengan menggunakan


moda darat.

2.4 Batas Wilayah


Batas wilayah Kepulauan Riau adalah sebagai berikut:
1.

Utara

: Vietnam dan Kombo

2.

Selatan

: Sumatera Selatan dan Jambi

3.

Barat

: Malaysia dan Singapura

4.

Timur

: Inhil dan Kampar

Kabupaten Kepulauan Riau terdiri dari 7 (tujuh) desa, dimana dari ke tujuh desa tersebut
dibagi dalam 3 (tiga) kecamatan, yaitu:
1.

Kecamatan Teluk Bintan

Laporan Final
Master Plan Drainase Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau

II-3

Gafa Multi Consultants

Deskripsi Wilayah Studi

Desa Bintan Buyu


2.

Kecamatan Gunung Kijang

Desa Tuapaya (sebagian)


Desa Malang Rapat (sebagian)
3.

Kecamatan Teluk Sebong

Desa Berakit
Desa Pengundang
Dengan tiga kecamatan ini Kabupaten Kepulauan Riau mempunyai luas wilayah sebesar
24.000 Ha yang dibatasi oleh beberapa wilayah sebagai berikut:
1.

Utara

: Kecamatan Teluk Sebong dan Laut Cina Selatan

2.

Selatan

: Desa Tembeling dan Kecamatan Gungung Kijang

3.

Barat

: Kecamatan Bintan Utara

4.

Timur

: Kecamatan Gunung Kijang dan Laut Cina Selatan

Selain batas-batas wilayah yang telah disebutkan di atas, Kabupaten Kepulauan Riau
secara fisik dibatasi oleh:
1.

Utara

: Wilayah pesisir mulai dari Desa Pengudang sampai ke Tg. Lokan.

2.

Selatan

: Perairan Teluk Bintan (antara Tembeling dan Gisi).

3.

Barat

: Sungai Pengundang, Jl. Simpang Berakit, Jl. Raya Pinang-Uban,


dan Jl. Sekuning

4.

Timur

: Anak Sungai Kangboi, Sungai Mati, Anak Sungai Kawal,


Sungai Teluk Lingka dan Pesisir Timur dari Teluk Lingka sampai
Tg. Lokan.

2.5 Kondisi Fisik


Wilayah yang termasuk dalam kawasan Ibukota Kabupaten Riau memiliki karakteristik
alamiah yang beragam, karena secara fisik wilayahnya terbagi menjadi wilayah daratan
dan wilayah perairan.

2.5.1 Kondisi Fisik Daratan


Wilayah daratan Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau membentang dari utara ke selatan
membagi Pulau Bintan menjadi dua yaitu barat dan timur.

1. Topografi
Kondisi topografi Wilayah Ibukota Kepulauan Riau dapat dilihat pada kondisi topografi
Pulau Bintan pada umumnya, karena kondisi topografi tidak berubah dalam jangka
waktu yang sangat lama. Secara umum kondisi topografi di Pulau Bintan cenderung
tidak rata atau berbukit-bukit dengan dominasi kemiringan lahan sekitar 0% sampai
40%.

Laporan Final
Master Plan Drainase Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau

II-4

Gafa Multi Consultants

Deskripsi Wilayah Studi

2. Geologi
Kondisi geologi Wilayah Ibukota Kepulauan Riau dapat dilihat pada kondisi geologis
Pulau Bintan pada umumnya, karena kondisi geologis tidak berubah dalam jangka
waktu yang sangat lama. Secara umum bentuk batuan di Pulau Bintan termasuk
antara akhir poleozoikum dan tersier. Batuan tertua terdiri dari bahan senyawa yang
berasal dari gunung berapi dan deposit sedimen plastis yang sedikit mengalami
metamorfosa yang dapat dikorelasi dengan pahang vulkanik series Malaysia. Batuan
muda terdiri dari batuan pasir serpih konglomerat yang dapat dikorelasikan dengan
plateau dari pesisir Kalimantan dan terbentuk pada umur tersier bawah. Batuanbatuanya kebanyakan merupakan batuan-batuan metamorf dan batuan beku yang
berumur dari pra tersier, sedangkan penyebaran batuan sedimen sangat terbatas.

3. Jenis dan Komposisi Tanah


Jenis dan komposisi tanah di Wilayah Ibukota Kepulauan Riau juga dapat dilihat dari
jenis dan komposisi tanah di Pulau Bintan pada umumnya, karena jenis dan komposisi
tanah cenderung tetap dan sukar untuk mengalami perubahan. Tanah di Pulau Bintan
didominasi oleh komposisi jenis tanah Hapludox-Kandiuduit-Dystropets. Lebih spesifik
pada daerah Berakit dan Sungai Kawal didominasi oleh jenis tanah HapludoxKandiuduit, di pesisir Teluk Bintan jenis Sulfaquents-Hydraquents-Tropaquepts, Teluk
Bintan bagian darat didominasi jenis tanah Hapludox-Dystropets-Tropaquepts, dam di
daerah pegunungan (termasuk Gn. Bintan) jenis tanahnya adalah KandiuduitDystropets-Tropaquepts.

4. Klimatologi
Secara umum Kabupaten Kepulauan Riau beriklim tropis basah dengan curah hujan
tinggi dan jumlah hari hujan 110 hari dalam waktu setahun. Suhu berkisar antara
22C sampai 25C dengan kelembaban udara 83% sampai 89%. Kondisi angin pada
umumnya dalam satu tahun terjadi empat kali perubahan angin. Bulan Desember
sampai Februari bertiup Angin Utara, bulan Maret sampai Mei bertiup Angin Timur,
bulan Juni sampai Agustus bertiup Angin Selatan dan bulan September sampai
Nopember bertiup Angin Barat. Angin dari arah Utara dan Selatan yang memiliki
pengaruh besar pada perubahan gelombang laut.

5. Hidrologi
Kondisi hidrologi Pulau Bintan pada umumnya terdiri dari rawa dan sungai. Sungaisungai di Pulau Bintan pada umumnya terdiri dari sungai-sungai kecil dan tidak
dimanfaatkan untuk sumber air bersih atau hanya dimanfaatkan untuk pembuangan
ke rawa-rawa tertentu.

Laporan Final
Master Plan Drainase Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau

II-5

Gafa Multi Consultants

Deskripsi Wilayah Studi

2.5.2 Kondisi Fisik Kelautan


Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau memiliki wilayah laut di bagian Timur, Utara dan
Selatan, yang memiliki karakter alam yang berbeda-beda. Secara umum daerah pesisir
timur sampai utara memiliki pantai pesisir putih dan sangat terpengaruh oleh aktivitas
angin pada musim utara, sehingga pada musim ini gelombang kuat dan arus juga
cenderung deras kecuali pada daerah Teluk Berakit yang terlindungi secara alamiah oleh
bentuknya yang seperti mata kail dan pada jalan masuk teluk terdapat satu pulau
pelindung yaitu Pulau Sumpat. Kondisi tersebut juga disebabkan bahwa pesisir timur dan
utara berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan yang dikenal karena memiliki
gelombang yang ganas. Kedalaman laut berkisar antara 1m sampai 20m, yang terbagi
menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu:
1.

1 5 meter pada daerah yang dekat dengan pesisir

2.

5 10 meter pada daerah Teluk Berkait yang terlindung

3.

10 20 meter dan > 20 meter yang berada pada jalur peraira internasional di
sebelah utara Pulau Bintan.

Pesisir Selatan Ibukota Kepulauan Riau hampir bertolak belakang kondisinya dengan
pesisir Timur dan Utara, karena selain terlindung oleh aktivitas angin (baik utara, barat,
timur dan selatan) yang bisa dibuktikan dengan tumbuh suburnya bakau atau mangrov di
sepanjang pesisir, perairannya juga tenang dan tidak terlalu diam sehingga sangat
potensial untuk pengembangan wisata mangrov.

2.6 Strategi Pengembangan Wilayah


Perumusan strategi pengembangan Kabupaen Kepulauan Riau didasarkan pada faktorfaktor yang mempengaruhi perkembangan kota, baik secara makro maupun mikro. Dalam
ilmu perencanaan, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kota disebut dengan
SWOT, Strengths, Weaknesses, Opportunities dan Threats.

2.6.1 Analisa SWOT


Analisa SWOT biasanya dipergunakan untuk mengenali potensi dan impotensi suatu kota
dalam perencanaan pembangunan sehingga pembangunan yang dilaksanakan dapat
memaksimalkan potensi dan meminimalkan impotensi kota. Analisa SWOT terdiri dari
Strength, Weaknesses, Opportunities dan Threats. Kedua faktor pertama (Strengths dan
Weaknesses) biasanya bersifat dari dalam kota itu sendiri sendangkan dua faktor terakhir
biasanya berasal dari luar kota tersebut. Analisa SWOT untuk Ibukota Kabupaten
Kepulauan Riau adalah sebagai berikut:

1. Strengths
Laporan Final
Master Plan Drainase Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau

II-6

Gafa Multi Consultants

1.

Deskripsi Wilayah Studi

Letak geografis Ibukota Kepulauan Riau yang strategis, berada di tengah-tengah


Pulau Bintan memotong dari utara ke selatan sehingga memudahkan pencapaian
dari segala arah.

2.

Pesisir bagian utara terletak pada perairan internasional dan dekat dengan
Negara Singapura dan Malaysia sehingga memungkinkan untuk pengembangan
pelayaran maritim.

3.

Ketersediaan

lahan

yang

cukup

luas

dan

masih

kosong

untuk

dapat

dikembangkan untuk kegiatan kota.


4.

Pada Pesisir Selatan memiliki wilayah perairan yang tenang dan terlindung dari
musim utara dan barat sehingga mendukung peluang-peluang bisnis di bagian
selatan.

5.

Memiliki potensi wisata alam (pantai pesisir timur, hutan bakau/mangrov di


pesisir selatan, tanaman tahunan di kaki gunung bintan) dan sejarah budaya
(makam-makam dan gunung bintan).

6.

Tersedianya sumber air baku dari beberapa DAS dan waduk Bintan Buyu (DAM
Sekuning)

2. Weaknesses
1.

Belum adanya sarana dan prasarana penunjang.

2.

Pembangunan memerlukan biaya dan investasi yang besar mengingat kondisi


lokasi saat ini masih berupa semak belukar dan hutan.

3.

Sumberdaya manusia yang relatif masih rendah, baik dalam kualitas maupun
kuantitas.

3. Opportunities
1.

Dijadikan Pulau Bintan sebagai lokasi Ibukota Provensi Kepulauan Riau.

2.

Adanya minat investor untuk menanamkan modalnya di Wilayah Ibukota.

3.

Adanya arus relokasi kegiatan wisata (Lagoi dan Bintan Agro Resort) dan industri
(Lobam dan Galang Batang) dari manca negara yang berdekatan dengan Wilayah
Ibukota.

4.

Relokasi kegiatan bongkar muat dari Singapura, Malaysia dan Tanjungpinang

5.

Pemberlakuan pajak barang mewah dan pajak pertambahan nilai di Kota Batam
memberikan peluang pada Ibukota sebagai alternatif daerah investasi.

6.

Partisipasi masyarakat yang cukup besar dalam penyediaan lahan untuk


pembangunan Ibukota.

4. Threats
1.

Eksploitasi bakau oleh pemegang HPH dan pemegang ijin penambangan pasir
laut berdampak pada adanya bahaya kerusakan lingkungan.

2.

Perubahan iklim dan cuaca berupa gelombang laut yang tidak bersahabat pada
saat terjadi musim utara dan musim barat.

Laporan Final
Master Plan Drainase Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau

II-7

Gafa Multi Consultants

Deskripsi Wilayah Studi

2.6.2 Konsep Pengembangan


Konsep pengembangan Ibukota didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan sebagai
berikut:
1.

Pengembangan Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau sebagai Pusat Pertumbuhan


Regional dalam rangka mengantisipasi terwujudnya Provinsi Kepulauan Riau yang
beribukota di Pulau Bintan.

2.

Pengembangan kota, baik dari segi ruang, aktifitas ekonomi, sosial, maupun
budaya.

3.

Pengembangan ruang lebih dititik beratkan pada pengembangan fisik kota.

4.

Pengembangan sarana dan prasarana perlayanan secara terpadu.

5.

Keterpaduan pengembangan ruang darat, laut dan udara.

6.

Konsep pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan menjadi


pertimbangan utama dalam pengembangan Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau.

1. Penetapan Fungsi dan Peranan Kota


Disamping

penetapan

fungsi

Ibukota

sebagai

pusat

pemerintahan

Kabupaten

Kepulauan Riau juga diarahkan sebagai alternatif pusat Pemerintahan Provinsi


Kepulauan Riau, Karena Tanjungpinang yang telah ditetapkan sebagai Ibukota
Provensi mengalami kendala untuk berfungsi sebagai Ibukota Provensi Kepulauan
Riau, diantaranya karena lahan yang dimiliki oleh Pemerintahan Kota Tanjungpinang
sangant terbatas, disamping kepadatan bangunan di kota sudah sangat tinggi. Untuk
tujuan

tersebut,

konsep

pengembangan

ibukota

akan

diarahkan

pada

upaya

penciptaan kota yang modern dalam pengertian penyediaan sarana dan prasarana
kota sesuai dengan standart internasional.

2. Penduduk
Konsep pengembangan penduduk yang direncanakan untuk Ibukota Kabupaten
Kepulauan

Riau

adalah

mengandalkan

faktor

pertumbuhan

non-alamiah

yaitu

perpindahan penduduk ke Ibukota Kabupaten (migrasi-in). Sebagai motor penggerak


pertumbuhan penduduk di Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau, dibangun kawasan
perumahan pegawai negri sipil Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Riau yang
diharapkan dapat memberikan daya tarik untuk berpindah ke ibukota yang baru,
sedangkan strategi pengembangan penduduk adalah sebagai beriktu:
1.

Meningkatnya kualitas Sumber Daya Manusia yang terampil dan memiliki daya
saing yang tinggi.

2.

Meningkatkan dan memperluas kesempatan kerja yang diimbangi dengan


peningkatan produktifitas tenaga kerja dan lapangan kerja.

3.

Pengaturan kepadatan penduduk, untuk mengantisipasi terkonsentrasinya pada


suatu wilayah tertentu.

3. Ekonomi, Sosial dan Budaya


Laporan Final
Master Plan Drainase Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau

II-8

Gafa Multi Consultants

Deskripsi Wilayah Studi

Pembangunan perekonomian Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau bertitik berat pada


sektor pariwisata, perdagangan dan jasa yang mendukung sektor pariwisata.
Pariwisata yang akan dikembangkan yaitu pariwisata alam dan sejarah, diantaranya
yaitu:
1.

Pengembangan wisata sejarah melayu dengan membangun satu prototype


perkampungan melayu.

2.

Pembangunan wisata agro, misalnya wisata pada tanaman tahunan (buahbuahan) milik masyarakat pada kaki gunung bintan pada saat musim buahbuahan, wisata kebun buah dengan buah-buahan khas daerah bintan dan
sekitarnya terutama yang sudah/hamir penuh, wisata cagar alam.

3.

pembangunan wisata alam, misalnya pantai dengan pasir puith di trikora, wisata
mangrove/bakau di pesisir selatan ibukota.

4.

pengembangan wisata bahari, seperti menyelam, memancing, jetsky, selancar


dan lain-lain.

5.

di teluk bagian dalam Berakit di samping pembangunan pelabuhan bongkar muat


dapat dikembangkan pelabuhan marina yaitu tempat berdasar kapal pesiar
pribadi. Hal ini dilakukan untuk manarik arus wisatawan pengguna jasa sejenis
dari Singapura dan Malaysia.

Untuk mendukung sektor pariwisata sektor di atas direncanakan dibangun pelabuhan


ferry di Gisi sebagai jalan masuk bagi wisatawan, selain jalan masuk lainnya seperti
dari pelabuhan ferry Tanjungpinang dan Lagoi. Selain itu dikambangkan Central
Business District yang berjarak kurang labih 1km dari pelabuhan ferry yang
merupakan suatu pusat perdagangan dan jasa modern. Sedangkan perdagangan dan
jasa yang berada pada kawasan-kawasan wisata di atas dengan berkonsepkan alam
semula jadi (nature).
Untuk menciptakan lingkungan kehidupan perkutaan yang lebih berbudaya, kota ini
perlu didukung oleh saran penunjang kegiatan sosial budaya antara lain: pusat
pengkajian dan pelestarian budaya melayu, gedung perpustakaan, museum, theater,
gedung pertunjukan dengan sarana penunjang yang modern.
Selain dikambangkan sektor perdagangan dan jasa, untuk mendukung sektor
pariwisata juga akan dikambangkan sektor industri rumah tangga yang memproduksi
handycraft

dan

makanan

khas

melayu.

Pengembangan

sektor

pariwisata

ini

kemajuannya sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah tarhadap sektor tersebut.

4. Fisik dan Ruang


Pengembangan ruang Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau berdasarkan unsur fisik
lebih ditekankan pada kecenderungan pemanfaatan ruang yang akan datang

Laporan Final
Master Plan Drainase Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau

II-9

Gafa Multi Consultants

Deskripsi Wilayah Studi

(perencanaan) karena pemanfaatan ruang saat ini sebagai masih berupa lahan
kosong. Pemanfaatan lahan direncanakan terdiri dari fungsi lindung dan fungsi
budidaya.
Pemanfaatan

ruang

untuk

Fungsi

Lindung maliputi

daerah sempadan pantai,

sempadan daerah aliran sungai dan danau, pelestarian vegetasi hutan bakau dan
tanaman tahunan di lereng Gunung Bintan.
Pemanfaatan ruangan untuk fungsi budidaya antara lain dimanfaatkan untuk
pemerintah,

permukiman,

perdagangan

dan

jasa,

pusat

pelayanan

maritim,

pariwisata dan ruang terbuka publik.


Secara hierarki, pusat pengembangan ibukota melintang dari utara ke selatan di
tengah-tengah pulau bintan. Pusat pemerintah (Desa Bintan Buyu) sebagai titik pusat
yang didukung dengan keberadaan CBD dan kawasan wisata mangrove (Pesisir Gisi)
dan agrowisata (Lereng Gunung Bintan) di bagian selatan dan pusat pelayanan
maritim (Berakit) dan kawasan wisata pantai (Pantai Trikora) di bagian utara.

5. Lingkungan
Pelestarian lingkungan menjadi prioritas utama dalam pengembangan Ibukota
Kabupaten Kepulauan Riau sehingga jelas bahwa daerah alian sungai (DAS),
sempadan pantai dan vegetasi mangrove merupakan kawasan yang tidak boleh
dibangun. Selain itu untuk keperluan pembangunan industri yang bersifat rentan atau
membahayakan lingkungan diperlukan studi kelayakan khusus dan AMDAL.
Dalam hal ini pembangunan Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau akan bersifat
sustainable

development,

yakni

pembangunan

yang

berkelanjutan

dengan

memperhatikan kelestarian lingkungan.

2.6.3 Rencana Struktur Ruang Kota


Struktur ruang Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau terbentuk dari sistem pusat-pusat
pertumbuhan/pertumbuhan yang akan menjadi pemicu/lokomotif bagi perkembangan
Ibukota

Kabupaten

pertumbuhan

ini

Kapulauan Riau. Sebagai lokomotif


diharapkan

dapat

memacu

perkembangan

perkembangan

pada

pusat-pusat
pusat-pusat

perkembangan tersebut dan kemudian menjalarkan perkembangan tersebut (Trickling


Down Effecf) ke bagian lain dari wilayah ibukota. Adapun pusat-pusat pertumbuhan
strategis yang dimaksud di atas adalah sebagai berikut:

1. Pusat Pemerintah

Laporan Final
Master Plan Drainase Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau

II-10

Gafa Multi Consultants

Deskripsi Wilayah Studi

Pusat pemerintah Kabupaten Kepulauan Riau (kawasan perkantoran pemerintah)


didefinisikan sebagai pusat administrasi pemerintah yang menyelenggarakan segala
kegiatan administrasi (mengelola, mengurus, melayani, dan mengontrol kegiatan
administrasi pemerintah daerah). Kawasan ini juga harus berfungsi sebagai pusat
pelayanan kegiatan sosial budaya, dan sosial politik. Untuk itu kawasan ini harus
mampu menyediakan ruang untuk memenuhi fungsi-fungsi tersebut.
Kawasan perkantoran direncanakan menempati lahan seluas 121Ha, yang mana
100Ha merupakan tanah masyarakat yang diberikan kepada pemerintah daerah
Kabupaten Kepulauan Riau tanpa ganti rugi. Pada kawasan ini akan dibangun dinasdinas dan instansi-instasni vertikal lainnya.
Sebagai pusat pelayanan kegiatan sosial budaya, dan sosial politik di Kabupaten
Kepulauan Riau, kawasan perkotaan memiliki tingkat aksesibilitas tinggi, baik akses
darat maupun akses laut. Akses darat adalah bersinggungan dengan rencana jalan
lintas barat dan rencana jalan lintas tengah. Akses darat adalah sekat dengan rencana
pembangunan pelabuhan ferry di perairan Teluk Bintan.
Kondisi lahan kawasan perkantoran cenderung rata dan tersedia air yang mencukupi
yang berasal dari Waduk Bintan Buyu/DAM Sekuning. Selain itu kawasan perkantoran
ini dekat dengan pusat Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau (3km), tidak terlalu
jauh dari CBD (7km).

2. Pusat Perdagangan dan Jasa (CBD)


Pengembangan

kawasan

pusat

perdagangan

dimaksudkan

untuk

menampung

aktivitas perdagangan dan jasa yang mendukung pengembangan sektor pariwisata


alam dan budaya di Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau. Pada kawasan ini juga
diberikan fasilitas pendukung sekaligus penarik investor dari mancanegara. Pada
lokasi ini akan dikembangkan pelabuhan ferry, shoping center, hotel, sport centre,
renstaurant, cafe, playing center, dan sebagainya.
1.

Lokasi berada di pinggir perairan Teluk Bintan sehingga sesuai dikembangkan


dengan konsep waterfront city dengan tetap memperhatikan kelestarian hutan
bakau/vegetasi mangrove.

2.

Pesisir selatan dipilih karena aman dari erosi dan abrasi pantai serta gelombang
pada musim utara dan barat.

3.

Aksesibilitas tinggi, akses darat bersinggungan dengan rencana jalan lintas barat
dan rencana jalan poros tengah, akses laut, dekat dengan perairan Teluk Bintan.

4.

Ketersediaan lahan yang sesuai dan mencukupi untuk pengembangan dimasa


yang akan datang serta berakses tinggi menjadi penarik bagi investor untuk
menanamkan modalnya di CBD ini.

Laporan Final
Master Plan Drainase Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau

II-11

Gafa Multi Consultants

Deskripsi Wilayah Studi

3. Pusat Permukiman Perkotaan


Pada lokasi akan dikembangkan perumaha-perumahan yang dilengkapi dengan
kegiatan-kegiatan penunjang seperti perdagangan dan jasa, pendidikan, peribadatan,
kesehatan dan alun-alun yang berfungsi sebagai taman dan tempat berkumpul.
Sebagai

lokomotif

untuk

memacu

perkembangan/pertumbuhan

pada

pusat

permukiman perkotaan, pemerintah daerah Kabupaten Kepulauan Riau membangun


perumahan pegawai negeri sipil sebanyak 1.000 unit yang direncanakan dilengkapi
dengan sarana dan prasarana dasar untuk menunjang perumahan tersebut.
1.

Lokasi dekat dari pusat pemerintahan Kabupatan Kepulauan Riau (1,5km).

2.

Aksesibilitas tinggi, persinggungan dengan rencana jalan lintas barat dan lintas
tengah serta tak terlalu jauh dari CBD (6km).

3.

Lahan

sesuai,

cenderung

rata

dan

ketersediaan

lahan

mencukupi

untuk

pengembangan di masa yang akan datang.


4.

Ketersediaan air yang cukup banyak dari Sungai Bintan yang berada dilokasi
100Ha dan dari DAM Sakuning.

5.

Ketersediaan

lahan

yang

cocok

untuk

dikembangkan,

mencukupi

untuk

perkembangan dimasa yang akan datang dan berakses tinggi menarik investor
untuk menanamkan modalnya.

4. Pusat Pariwisata
Ada beberapa kawasan wisata yang direncanakan di Ibukota Kabupaten Kepulauan
Riau antara lain:
1.

Wisata Pantai (Pantai Trikora)


Kawasan ini terletak di Pesisir Utara Ibukota dengan alam berupa pasir putih, dan
pantai yang cendrung landai sehingga memungkinkan masyarakat untuk mandi
dan bermain di pantai ini. Dalam upaya memaksimalkan potensi yang dimiliki
pemerintah

daerah

hanya

tinggal

menyediakan

instrumen

peraturan

dan

manajemen di kawasan wisata ini.


2.

Wisata Mangrove (Hutan Bakau)


Vegetasi mangoreve (bakau) ada di sepanjang pesisir selatan, kawasan ini
direncnaakan untuk dijadikan kawasan wisata alam, dengan dilengkapi pelantar
untuk menyusuri hutan tersebut dan fasilitas pendukung lainnya.

3.

Wisata Agro
Kawasan wisata agro yang direncanakan berada di lereng Gunung Bintan. Pada
kawasan ini terdapat tanaman tahunan buah-buahan khas Pulau Bintan yang
dapat dinikmati pada musimnya. Selain tanaman tahunan yang sudah ada bisa
ditambah dengan jenis tanaman lain yang dapat dinikmati sepanjang tahun.

4.

Wisata Budaya

Laporan Final
Master Plan Drainase Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau

II-12

Gafa Multi Consultants

Deskripsi Wilayah Studi

Wisata budaya dimaksudkan untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan


budaya melayu pada dunia internasional. Direncanakan pembangunan suatu
perkampungan

melayu

yang

disebut

Kampong

Melayu

lengkap

dengan

masyarakat, tradisi dan adat instiadatnya. Selain itu ada beberapa tempat
bersejarah yang dianggap oleh masyarakat setempat sebagai tempat Kramat
yang bisa dikunjungi antara lain, makam para penguasa di Kerajaan Bintan dan
Leluhur Masyarakat Bintan.

5. Pusat Pelayanan Maritim


Pada lokasi ini akan dibangun pelabuhan bongkar muat, gudang, kantor bea cukai dan
syahbandar yang dilengkapi dengan ruang terbuka (Open Space).
1.

Lokasi di bagian utara di ibukota (Berakit) untuk memacu pertumbuhan bagi


utara ibukota.

2.

Gelombang dan angin besar di perairan Berakit dapat diatasi dengan teknologi
yaitu dengan pembuatan pemecah gelombang (Break Water).

3.

Perairan Berakit yang dangkal dapat dikeruk untuk memperdalam alur.

4.

Aksebilitas tinggi, akses darat bersinggungan dengan rencana jalan lintas tengah,
akses laut berada diperairan Tanjung Berakit yang berhadapan langsung dengan
perairan Internasional.

5.

Ketersediaan lahan yang sesuai dan mencukupi untuk pengembangan dimasa


yang akan datang dan memiliki akses yang tinggi menjadi penarik untuk investor
menanamkan modalnya di pelabuhan muat ini.

Laporan Final
Master Plan Drainase Ibukota Kabupaten Kepulauan Riau

II-13