Anda di halaman 1dari 43

Page | 1

INFEKSI GENITAL SPESIFIK


1. Urethritis Gonorrhoeae
PENDAHULUAN
Gonore merupakan salah satu PMS (Penyakit Menular Seksual) atau STD (Sexually
Transmitted Disease) yang dalam arti kata luas mencakup semua penyakit yang disebabkan
oleh infeksi gonococcus (Neisseria gonorrhoeae). Sampai saat ini diagnosis dan
penatalaksanaan gonore diberbagai Negara dan klinik belum ada keseragaman. Walaupun
demikian ada satu badan yang disebut Centers for Disease control (CDC) di Atlanta yang
secara teratur memberikan laporan mengenai jenis dan dosis obat yang dianjurkan dipakai
sebagai pegangan dalam pengobatan gonore.
Seringkali gonore disebut juga uretritis spesifik atau uretritis gonore (radang saluran
kemih khusus). Gejala penyakit ini bergantung pada situs infeksi, jenis kelamin dan umur
korban, lamanya menderita infeksi, serta terjadinya penyebaran sel-sel bakteri penyebabnya.
Meningkatnya insidens uretritis gonore ini dilihat dari segi medis antara lain disebabkan
semakin banyaknya jalur N. gonorrhoeae yang resisten terhadap beberapa jenis antibiotika
serta adanya jalur N. gonorrhoeae yang menghasilkan penisilinase (beta laktamase) yang
disebut Neisseria Gonorrhoeae penghasil penisilinase atau Penicillinase Producing
Neisseria Gonorrhoeae (PPGP).
Pada umumnya penularannya melalui hubungan kelamin yaitu secara genito-genital,
oro-genital dan ano-genital. Tetapi, disamping itu juga dapat terjadi secara manual melalui
alat-alat, pakaian, handuk, thermometer, dan sebagainya

ETIOLOGI 1,2
Gonore (GO) atau biasa disebut penyakit kencing nanah adalah penyakit menular
seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra,
leher rahim, rektum dan tenggorokan atau bagian konjungtiva mata (Konjungtivitis gonore).
Gonore adalah gonokokus yang ditemukan oleh NEISSER pada tahun 1879 dan baru
diumumkan pada tahun 1882. Yang termasuk dalam grup Neisseria dan dikenal ada 4 spesies,
yaitu Neisseria gonorrhoeae, Neisseria meningitidis, Neisseria catarrhalis, dan Neisseria
pharyngis yang sukar dibedakn kecuali dengan tes fermentasi.

Page | 2

Gonokokus termasuk diplokokus berbentuk biji kopi berukuran lebar 0,8 m dan
panjang 16 m, bersifat tahan asam. Karena selalu berpasangan, bakteri ini di sebut
diplokokus. Pada sediaan langsung dengan pewarnaan gram bersifat gram negative, terlihat
diluar dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati dalam keadaan
kering, tidak tahan suhu di atas 39 derajat celcius dan tidak tahan zat desinfektan.

Sumber : http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQG7JA0TX7o0dLTO

Secara morfologik gonokok ini terdiri dari 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai pili
yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunya pili dan bersifat nonvirulen.
Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang. Daerah yang
paling mudah terinfeksi ialah daerah dengan mukosa epitel kuboid atau lapis gepeng yang
belum berkembang, yakni pada vagina wanita sebelum pubertas.

EPIDEMIOLOGI 1,2
penyakit ini terjadi secara luas di seluruh dunia dengan porevalensi yang lebih tinggi
di berbagai Negara berkembang. Angka serangan paling tinggi pada 15-24 tahun yang tinggal
di kota, termasuk dalam social ekonomi rendah, tidak menikah, homoseksual, atau memiliki
riwayat PMS terdahulu.

Grafik perkembangan penyakit menular seksual, Sumber : http://www.lakartidningen.se/store/images/2/2704/large/05Kv1256.jpg

Page | 3

Penyakit ini sangat mudah ditularkan dengan angka infeksi 50% pada wanita dan 20%
pada pria setelah sekali terpajan vagina tanpa pelindung. Kira-kira 75% wanita asimtomatik,
dibanding hanya 5% pada pria heteroseksual. Lokasi infeksi ekstragenital termasuk orofaring,
mata, dan jaringan perihepatik; infeksi diseminta jarang terjadi. Insidensi meningkat secara
stabil antara tahun 1951 dan 1980, setelah itu insidensi menurun. Namun pada tahun-tahun
belakangan ini mulai meningkat lagi terutama pada pria homoseksual; kira-kira terdapat
12.000 kasus per tahun di inggris. Infeksi sistemik berat dab oftalmia neonatorum menjadi
jarang terjadi di Negara maju. Imunitas protektif tidak terbentuk dan reinfeksi umum terjadi
setelah pajanan ulang.

PATOFISIOLOGI 3,4
Pada umumnya infeksi primer dimulai pada epitel silindris dari uretra, duktus
periuretralis atau beberap kelenjar disekitarnya. Kuman juga dapat masuk lewat mukosa
serviks, konjugtiva atau rectum. Kuman menempel dengan pili pada permukaan sel epitel
mukosa. Pada hari yang ketiga, kuman mencapai jaringan ikat dibawah epitel, setelah terlebih
dahulu menembus ruang antar sel. Selanjutnya terjadi reaksi radang berupa infiltrasi leukosit
polimorfonuklear. Eksudat yang terbentuk dapat menyumbat saluran atau kelenjar sehingga
terjadi kista retensi dan abses. Penyebaran ke tempat-tempat lainnya lebih sering terjadi lewat
saluran getah bening daripada lewat saluran darah. Terjadinya kerusakan pada sel epitel oleh
gonokokus, menyebabkan terbentuknya celah pada mukosa, sehingga mempermudah dan
mempercepat masuknya kuman.

GEJALA KLINIK 1
Penularan gonore terutama terjadi lewat kontak seksual. Masa tunas sangat singkat rata-rata 4
hari. Kadang-kadang lebih lama dan hal ini disebabkan karena penderita telah mengobati diri
sendiri, tetapi dengan dosis yang tidak cukup atau gejala sangat samar sehingga tidak
diperhatikan oleh penderita. Pada wanita masa tunas sangat sulit ditentukan karena pada
umumnya asimptomatik.
Pada pria
1. Uretritis
Yang paling sering dijumpai adalah uretritis anterior akuta dan dapat menjalar ke
proksimal. Selanjutnya mengakibatkan komplikasi lokal, asendens, dan diseminata.
Keluhan subyektif berupa rasa gatal, panas di bagian distal uretra di sekitar orifisium

Page | 4

uretra ekstemum. Kemudian disusul disuria, pola- kisuria. keluar duh tubuh dari ujung
uretra yang kadang-kadang disertai darah, dan disertai perasaan nyeri pada waktu ereksi.
Pada pemeriksaan tampak orifisium uretra ekstemum eritematosa, edematosa, dan
ektropion. Tampak pula duh tubuh yang mukopurulen, dan pada beberapa kasus dapat
terjadi pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral atau bilateral.

Sumber : http://2.bp.blogspot.com/_zj3TSZg592M/RrVNkeg16mI/AAAADA/O8apBV1k3S4/s320/image004.jpg

2. Tysonitis
Kelenjar Tyson ialah kelenjar yang menghasilkan smegma. Infeksi biasanya terjadi
pada penderita dengan preputium yang sangat panjang dan kebersihan yang kurang baik.
Diagnosis dibuat berdasarkan ditemukannya butir pus atau pembengkakan pada daerah
frenulum yang nyeri tekan. Bila dukius tertutup akan timbul abses dan merupakan sumber
infeksi laten.
3. Parauretritis
Sering pada orang dengan orifisium uretra eksternum terbuka atau hipospadia. Infeksi
pada duktus ditandai dengan butir pus pada kedua muara parauretra.
4. Cowperitis
Bila hanya duktus yang tarkana biasanya tanpa gejala. Kalau Infeksi tarjadi pada kelenjar
Cowpar dapat tarjadi Keluhan berupa nyeri dan adanya benjolan pada daerah perineum
disertai rasa penuh dan panas, nyeri pada waktu dafekasi, dan disuria, Jika tidak diobati abses
akan pecah melalui kulit perineum, uretra, atau rektum dan mengakibatkan proktitis,
5. Prostatitis
Prostatitis akut ditandai dengan perasaan tidak enak pada daerah perineum dan
suprapubik, malase, demam, nyari kencing sampai hematurl, spasme otot uretra sehingga
terjadi retensi urln, tenesmus ani, sulit buang air besar, dan obstipasi. Pada pemeriksaan
teraba pembesaran prostat dengan konsistensi kanyal, nyarl tekan, dan didapatkan fluktuasi
bila telah tarjadi abses, Jika tidak diobati, abses akan pecah, masuk ke uretra posterior atau ka
arah rektum mengakibatkan proktitis. Bila prostatitis menjadi kronik, gejalanya ringan dan
intermiten, tetapi kadang-kadang menetap. Terasa tidak enak pada perineum bagian dalam
dan rasa tidak enak bila duduk terlalu lama. Pada pemarlkaaan prostat terasa kenyal,

Page | 5

berbentuk nodus, dan sedikit nyeri pada penekanan. Pemerlksaan dengan pengurutan prostat
biasanya sulit menamukan kuman dlplokok atau gonokok.
6. Vesikulitis
Vesikulitis Ialah radang akut yang mengenai vesikula seminalis dan duktus ejakulatoris,
dapat timbul menyertai prostatitis akut atau epididimitis akut. Gejala subyektif menyerupai gejala
prostatitis akut, berupa demam, polakisuria, hematuria terminal, nyeri pada waktu ereksi atau ejakulasi,
dan spasme mengandung darah. Pada pemeriksaan melalui rektum dapat diraba vesikula seminalis
yang membengkak dan keras seperti sosis, memanjang di atas prostat. Ada kalanya sulit menentukan
batas kelenjar prostat yang membesar.
7. Vas deferentitis atau funikulitis
Gejala berupa perasaan nyeri pada daerah abdomen bagian bawah pada sisi yang sama.
8. Epididimitis
Epididimitis akut biasanya unilateral, dan setiap epididimitis biasanya disertai deferentitis.
Keadaan yang mempermudah timbulnya epididimitis ini adalah trauma pada uretra posterior yang
disebabkan oleh salah penanganan atau kelalaian penderita sendiri. Faktor yang mempengaruhi keadaan
ini antara lain irigasi yang terlalu sering dilakukan, cairan irigator terlalu panas atau terlalu pekat. Instrumentasi yang kasar, pengurutan prostat yang berlebihan, atau aktivitas seksual dan jasmani yang
berlebihan.
Epididimitis dan tali spermatika membengkak dan teraba panas, juga testis, sehingga
menyerupai hidrokel sekunder. Pada penekanan terasa nyeri sekali. Bila me-ngenai kedua epididimis
dapat mengakibatkan sterilitas.
9. Trigonitis
Infeksi asendens dari uretra posterior dapat mengenai trigonum vesika urinaria. Tngonitis
menimbulkan gejala poliuria. disuria terminal, dan hematuria.
Pada wanita
Gambaran klinis dan perjalanan penyakit Pada wanita berbeda dengan pria. Hal ini disebabkan oleh
perbedaan anatomi dan fisiologi alat kelamin pria dan wanita. Pada Wanita baik penyakitnya akut
maupun kronik, tidak pernah didapati kelainan obyektif. Pada umumnya wanita datang kalau
sudah ada komplikasi. Sebagian besar penderita ditemukan pada waktu pemeriksaan
antenatal atau pemeriksaan keluarga berencana. Di samping itu wanita mengalami tiga masa
perkembangan :
1. masa prapubertas: epitel vagina dalam keadaan belum berkembang (sangat
tipis), sehingga dapat terjadi vaginitis gonore.
2. masa reproduktif : lapisan selaput lendir vagina menjadi matang, dan tebal dengan
banyak glikogen dan basil Doderlein. Basil Doderlein akan memecahkan glikogen
sehingga suasana menjadi asairv dan suasana ini tidak menguntungkan untuk
tumbuhnya kuman gonokok.

Page | 6

3. masa menopause : selaput lendir vagina menjadi atrofi, kadar glikogen menurun, dan
basil Doderlein juga berkurang, sehingga suasana asam berkurang dan suasana ini
menguntungkan untuk pertumbuhan kuman gonokok, jadi dapat terjadi vaginitis
gonore.
Pada mulanya hanya serviks uteri yang terkena infeksi. Duh tubuh yang mukopurulen dan
mengandung banyak gonokok mengalir ke Iur dan menyerang uretra, duktus parauretra,
kelenjar Bartholin, rektum, dan dapat juga naik ke atas sampai pada daerah kandung telur.
1. Uretritis
Gejala utama ialah disuria, kadang- kadang poliuria. Pada pemeriksaan, orifisium uretra
eksternum tampak merah, edematosa dan ada sekret mukopurulen.

Sumber : http://www.consultantlive.com/image/image_gallery?img_id=1406884&t=1240424884574

2. Parauretritis/Skenitis
Kelenjar parauretra dapat terkena, tetapi abses jarang terjadi. :
3. Servisitis
Dapat asimtomatik, kadang-kadang menimbulkan rasa nyeri pada punggung bawah.
Pada pemeriksaan, serviks tampak merah dengan erosi dan sekret mukopurulen. Duh tubuh
akan terlihat lebih banyak, bila terjadi servisitis akut atau disertai vaginitis yang disebabkan
oleh Trichomonas vaginalis.
4. Bartholinitis
Labium mayor pada sisi yang terkena membengkak, merah dan nyeri tekan. Kelenjar
Bartholin membengkak, terasa nyeri sekali bila penderita berjalan dan penderita sukar duduk.
Bila saluran kelenjar tersumbat dapat timbul abses dan dapat pecah melalui mukosa atau
kulit. Kalau tidak diobati dapat menjadi rekuren atau menjadi kista.
5. Salpingitis
Peradangan dapat bersifat akut, subakut atau kronis. Ada beberapa faktor predisposisi,
yaitu:
1. masa puerperium (nifas)
2. dilatasi setelah kuretase
3. pemakaian IUD, tindakan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim).
Cara infeksi langsung dari serviks melalui tuba Fallopii sampai pada daerah sal- ping
dan ovarium sehingga dapat menimbulkan penyakit radang panggul (PRP). Infeksi PRP ini

Page | 7

dapat menimbulkan kehamilan ektopik dan sterilitas. Kira-kira 10% wanita dengan gonore
akan berakhir dengan PRP. Gejalanya terasa nyeri pada daerah abdomen bawah, duh tubuh
vagina, disuria, dan menstruasi yang tidak teratur atau abnormal.
Harus dibuat diagnosis banding dengan beberapa penyakit lain yang menimbulkan
gejala hampir sama, misalnya : kehamilan di luar kandungan, apendisitis akut, abortus septik, endometriosis, Ileitis regional, dan diver- tikulitis. Untuk menegakkan diagnosis dapat
dilakukan pungsi kavum Douglas dan dilanjutkan kultur atau dengan laparoskopi mikroorganisme. Selain mengenai alat-alat genital, gonore juga menyebabkan infeksi nongenital yang
akan diuraikan berikut ini:
6. Proktitis
Proktitis pada pria dan wanita pada umumnya asimtomatik. Pada wanita dapat terjadi
karena kontaminasi dari vagina dan kadang- kadang karena hubungan genitoanal seperti pada
pria. Keluhan pada wanita biasanya lebih ringan daripada pria, terasa seperti terbakar pada
daerah anus dan pada pemeriksaan tampak mukosa eritematosa, edematosa, dan tertutup pus
mukopurulen.
7. Gonore diseminata
Kira-kira 1% kasus gonore akan berlanjut menjadi gonore diseminata. Penyakit ini
banyak didapat pada penderita dengan gonore asimto- matik sebelumnya, terutama pada
wanita. Gejala yang timbul dapat berupa: artritis (terutama mono- artritis), miokarditis,
endokarditis, perikarditis, meningitis, dan dermatitis.

DIAGNOSIS 1, 7
Diagnosis ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan pembantu
yang terdiri atas 5 tahapan.
A. Sediaan langsung
Pada sediaan langsung dengan pewarnaan gram akan ditemukan gonokokus negatif-gram,
intraselular dan ekstra selular. Bahan duh tubuh pada pria diambil dari daerah fosa
navikularis, sedangkan pada wanita di ambil dari uretra, muara kelenjar bartholin, serviks,
dan rektum.
B. Kultur
Untuk identifikasi bakteri penyebab perlu dilakukan kultur (pembiakan). Dua macam
media yang dapat digunakan ialah media transport dan media pertumbuhan.
1. Media transpor, yang pertama adalah media Stuart dimana hanya untuk transpor
saja, sehingga perlu ditanam kembali pada media pertumbuhan. Dan yang kedua
adalah media transgrow yaitu media yang selektif dan nutritive untuk N.
gonorrhoeae dan N. meningitides. Media ini merupakan modifikasi media Thayermartin dengan menambahkan trimetoprim untuk mematikan Proteus spp.

Page | 8

2. Media pertumbuhan, ada dua yaitu media Thayer-martin dan agar coklat McLeod.
Media Thayer-martin adalah media selektif untuk mengisolasi gonokokus.
Mengandung vankomisin untuk menekan pertumbuhan kuman positif-Gram,
kolimestat untuk menekan pertumbuhan bakteri negative-Gram, dan nistatin untuk
menekan pertumbuhan jamur. Sedangkan pada agar coklat Mcleod adalah media
yang dapat ditumbuhi kuman lain selain gonococcus.

Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/f/f5/Neisseria_gonorrhoeae_01.png

Pemeriksaan kultur ini mempunyai sensitivitas yang lebih tinggi yaitu 94-98%
pada duh uretra pria dan pada duh endoserviks 85-95%. Sedangkan spesivitas
keduanya sama yaitu 99%.
Tes definitive
1. Tes oksidasi
Reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-p-fenilendiamin
hidroklorida 1% ditambahkan koloni gonokokus pasien. Semua Neisseria
memberi reaksi positif dengan perubahan warna koloni yang semula bening
menjadi merah muda sampai merah lembayung.
2. Tes fermentasi
Tes oksidasi postif dilanjutkan dengan tes ferrnentasi memakai glukosa, maltose,
dan sukrosa. Kuman gonokokus hanya meragikan glukosa.
Tes beta-laktamase
Tes ini menggunakan cefinase TM disc. BBL 96192 yang mengandung chromogenic
cephalosporin. Apabila kuman mengandung enzim beta-laktamase, akan
menyebabkan perubahan warna koloni dari kuning menjadi merah.
Tes Thomson
Tes ini berguna untuk mengetahui sampai dimana infeksi sudah berlangsung. Pada tes
ini sebaiknya dilakukan pada pagi hari setelah bangun tidur, urin dibagi dalam 2 gelas,
dan tidak boleh menahan kencing dari gelas 1 ke gelas 2.

Page | 9

Tabel Hasil Pembacaan


Gelas 1
Jernih
Keruh
Keruh
Jernih

Gelas 2
Jernih
Jernih
Keruh
Keruh

Arti
Tidak ada infeksi
Infeksi uretritis anterior
Panuretritis
Tidak mungkin

PENATALAKSANAAN 5,6
a. Medikamentosa
1. Penisilin
Yang efektif ialah penisilin G prokain akua. Dosis 4,8 juta unit+1 gram probenesid.
Obat ini dapat menutupi gejala sifilis. Kontraindikasinya ialah alergi penisilin.
2. Ampisilin dan amoksisilin
Ampisilin dosisnya ialah 3,5 gram+1 gram probenesid, dan amoksisilin 3 gram+1
gram probenesid. Angka kesembuhannya lebih kurang di banding penisilin sehingga
obat ini tidak dianjurkan. Suntikkan ampisilin tidak dianjurkan. Kontraindikasinya
ialah alergi penisilin. Untuk daerah dengan Neisseria gonorrhoeae penghasil
Penisilinase (N.G.P.P) yang tinggi, penisilin, ampisilin, dan amoksisilin tidak
dianjurkan.
3. Sefalosporin
Seftriakson (generasi 3) cukup efektif dengan dosis 250mg i.m. sefoperazon dengan
dosis 0,50 samapai 1,00 gram secara i.m. sefiksim 400mg per oral dosis tunggal
member angka kesembuhan >95%.
4. Spektinomisin
Dosisnya ialah 2 gram i.m. baik untuk penderita yang alergi penisilin, yang
mengalami kegagalan pengobatan dengan penisilin, dan terhadap penderita yang juga
tersangka menderita sisilis karena obat ini tidak menutupi gejala sifilis.
5. Kanamisin
Dosisnya 2 gram i.m. angka kesembuhannya sekita 85%. Baik untuk penderita alergi
penisilin, gagal dengan pengobatan penisilin dan tersangaks sifilis.
6. Tiamfenikol
Dosisnya 3,5 gram, secara oral. Angka kesembuhannya sekitar 97,7%. Tidak di
anjurkan pemakaiannya pada ibu hamil karena efek sampingnya.
7. Kuinolon
Dari golongan kuinolon, obat yang menjadi pilihan adalah ofloksasin 400mg,
siprofloksasin

250-500mg,

dan

norfloksasin 800

mg

secara

oral. Angka

kesembuhannya cukup tinggi sekitar 100%. Mengingat beberapa tahun terakhir ini
resistensi terhadap siprofloksasin dan ofloksasin semakin tinggi, maka golongan

P a g e | 10

kuinolon yang dianjurkan adalah levofloksasin 250mg per oral dosis tunggal. Obat
dengan dosis tunggal yang tidak efektif lagi adalah tetrasiklin, streptomisin dan
spiramisin.
b. Non Medikamentosa
Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan tentang:
-

Bahaya penyakit menular seksual


Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya
Hindari hubungan seksual sebelum sembuh dan memakai kondom jika tidak dapat

dihindari.
Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa yang akan datang.

KOMPLIKASI 1
komplikasi gonore sangat erat hubungannya dengan susunan anatomi dan faal genitalia.
Komplikasi local pada pria biasanya berupa tisonitis (radang kelenjar Tyson), parauretritis,
littritis (radang kelenjar Littre), dan cowperitis (radang kelenjar cowper). Selain itu, infeksi
dapat pula menjalar ke atas (ascendens), sehingga terjadi prostatitis, vesikulitis, funikulitis,
epididimitis, dan trigonitis dengan gejala disuria, poliuria, dan hematuria yang dapat
menimbulkan infertilitas.
Pada wanita, infeksi pada serviks (servitis gonore) dapat menimbulkan komplikasi
salpingitis, atau pun penyakit radang panggul sehingga dapat berakibat infertilitas atau
kehamilan ektopik. Jika mengenai uretra dapat terjadi parauretritis, sedangkan pada kelenjar
Bartholin akan menyebabkan terjadinya bartolinitis.
Komplikasi diseminata pada pria dan wanita dapat berupa arthritis, miokarditis,
endokarditis, perikarditis, meningitis, dan dermatitis. Kelainan yang timbul akibat hubungan
kelamin selain cara genitor-genital, pada pria dan wanita dapat berupa infeksi nongenital,
yaitu orofaringitis, proktitis, dan konjungtivitis.

PREVENTIF
Pencegahan Pasien dengan Gejala Gonore :
1. Tidak melakukan hubungan seksual baik vaginal, anal dan oral dengan orang yang
terinfeksi.
2. Pemakaian Kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat menghilangkan sama sekali
risiko penularan penyakit ini

P a g e | 11

3. hindari hubungan seksual sampai pengobatan antibiotik selesai.


4. Sarankan juga pasangan seksual kita untuk diperiksa guna mencegah infeksi lebih
jauh dan mencegah penularan
5. wanita tuna susila agar selalu memeriksakan dirinya secara teratur, sehingga jika
terkena infeksi dapat segera diobati dengan benar
6. Pengendalian penyakit menular seksual ini adalah dengan meningkatkan keamanan
kontak seks dengan menggunakan upaya pencegahan.

PROGNOSIS
Gonore jika didiagnosis dini dan pengobatan tepat dan segera menghasilkan prognosis baik,
tetapi bila telah sampai pada tahap lanjut memberikan prognosis buruk.

2. Kandidosis
PENDAHULUAN
Infeksi jamur dapat dibagi menjadi infeksi superfisial dan dalam. Infeksi superfisial
yang sering ditularkan melalui hubungan seksual adalah infeksi olah Candida spp. Sedangkan
infeksi dalam mungkin disebabkan oleh keganasan jamur sendiri atau karena penurunan
resistensi host, khususnya pada gangguan kekebalan tubuh. Timbulnya infeksi oleh jamur
oportunistik makin meningkat, antara lain akibat penggunaan antibiotika spektrum luas dan
imunosupresif, kemajuan dalam bedah transplantasi dan katup jantung, peningkatan
penggunaan cannulae intravena jangka panjang khususnya untuk nutrisi parenteral.
Adanya organisme yang termasuk genus Candida dalam atau pada tubuh dikenal
sebagai kandidiasis atau kandidosis, digunakan untuk menunjukkan status nonpatogenik atau

P a g e | 12

komensal. Tempat yang paling umum terdapat Candida spp. adalah mulut, saluran anorektal,
saluran kelamin dan kuku (dalam lingkungan terbatas). Cara penularan terutama adalah
kontak langsung orang ke orang, dengan frekuensi tinggi pada kelompok usia seksual aktif.
Sumber infeksi antara lain saluran pencernaan, penderita kambuhan, atau transmisi seksual.
Sekitar 20% pria pasangan dari wanita dengan kandidiasis vagina kambuhan menunjukkan
kolonisasi kandida pada penis, khususnya pada pria tidak dikhitan pada daerah/ sulcus corona
(biasanya asimtomatik); 4x lebih banyak pada pria pasangan wanita yang terinfeksi daripada
pria pasangan wanita yang bebas infeksi. Sebenarnya wanita memiliki mekanisme pertahanan
alami vagina, antara lain sistem humoral, fagositosis, imunitas yang dimediasi sel, dan yang
penting flora vagina yaitu melalui mekanisme kompetisi untuk nutrisi dan bakteriosid yang
menghambat pertumbuhan dan germinasi ragi.
Infeksi jamur merupakan infeksi yang paling utama dari infeksi vagina dan C.
albicans merupakan penyebab utama kandidiasis genital di samping T. glabrata. Kandidiasis
vulvovagina (VVC) atau vaginitis kandida khususnya di daerah tropis dan subtropis sangat
umum. Hampir 85-90% jamur yang terdapat pada vagina adalah strain Candida albicans dan
Torulopsis glabrata. Organisme kandida bersifat dimorfik dan terdapat pada manusia dalam
berbagai fase fenotip. Untuk kolonisasi Candida spp. pada epitel vagina, mula-mula harus
melekat pada sel epitel dan sumber infeksinya terutama berasal dari daerah perianal.
Vaginitis kandida terutama banyak pada wanita usia subur, khususnya pada status
sosio-ekonomi rendah dan selama kehamilan. Kolonisasi mungkin simtomatik/
asimtomatik yang biasanya ditentukan oleh perubahan lingkungan vagina yang menginduksi
efek patologis.
ETIOLOGI
Tubuh yang normal mempunyai berbagai jenis mikroorganisme termasuk bakteri dan
jamur. Beberapa mikroorganisme memberikan keuntungan dan beberapa ada yang merugikan
bagi manusia.1
Lebih dari 150 spesies candida yang dapat menginfeksi manusia. Yang tersering sebagai
penyebab ialah Candida albicans yang dapat diisolasi dari kulit, mulut, selaput mukosa
vagina, dan feses orang normal. Candida albicans adalah mikroorganisme komensal yang
terdapat di sekitar area genital perempuan sehat. Sebagai penyebab endokarditis kandidosis
ialah Candida parapsilosis dan penyebab kandidosis septikemia adalah Candida tropicalis.1
Genus Candida merupakan sel ragi uniseluler yang termasuk ke dalam Fungi imperfecti
atau Deuteromycota, kelas Blastomycetes yang memperbanyak diri dengan cara bertunas,
famili Cryptococcaceae. Genus ini terdiri lebih dari 80 spesies, yang paling patogen adalah
C. albicans diikuti berturutan dengan C. stellatoidea, C. tropicalis, C. parapsilosis, C. kefyr,

P a g e | 13

C. guillermondii dan C. krusei. Namun, Candida tropicalis, Candida parapsilosis, Candida


guilliermondi, Candida krusei, Candida kefyr, Candida zeylanoides dan Candida glabrata
(formerly Torulopsis glabrata) termasuk spesies yang jarang menyebabkan penyakit pada
manusia.
EPIDEMIOLOGI
Sobel dkk melaporkan bahwa pada 20 -55 % wanita sehat usia reproduksi, dijumpai
candida pada traktus genitalis bersifat asimtomatik. Pada 29,8% wanita dengan
vulvovaginitas simptomatik dapat diisolasi jamur candida. Rata-rata 70-75% wanita dewasa
pernah satu kali menderita kandidiasis vagina selama hidupnya dan 40-50% mengalamai dua
kali atau lebih.22,25 Soll dkk melaporkan pada wanita yang mana dapat diisolasi jamur candida,
80% strain candida di genital sama dengan yang terdapat di anus dan 62% strain candida
dimulut sama dengan yang yang terdapat di genital.
Sobel dkk melaporkan prevalensi kandidiasis vagina di klinik Keluarga Berencana
mencapai 5-15%. Rahman dkk melaporkan pada pemakai suatu kontrasepsi lebih sering
didapatkan pertumbuhan candida dari pada bukan pemakai kontrasepsi. Barus IG (1997)
melaporkan di PKBRS RSUD Pringadi Medan selama tahun 1996-1997 dijumpai keputihan
karena infeksi kandida 17% pada akseptor AKDR, 11% pada akseptor KB pil dan 0% pada
akseptor KB suntik.27 Hanafiah TM (1981) melaporkan di PKBRS RSUD Pringadi Medan
selama tahun 1980-1981 dijumpai keputihan karena kandida 13,75% pada akseptor AKDR,
18,5% pada akseptor KB pil dan 14,0% pada akseptor KB suntik. Mahadi IDR (1982)
melaporkan di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Pringadi Medan pada 100 orang penderita
fluor albus ada 13% akseptor KB yaitu 5% akseptor pil dan 8% akseptor AKDR.
PATOGENESIS 1,2,10
Manifestasi kandidiasis vagina merupakan hasil interaksi antara patogenitas kandida
dengan mekanisme pertahanan tuan rumah, yang berkaitan dengan faktor predisposisi.
Patogenesis penyakit dan bagimana mekanisme pertahanan tuan rumah terhadap kandida
belum sepenuhnya dimengerti.
Pada keadaan normal, candida dapat ditemukan dalam jumlah sedikit di vagina, mulur
rahim dan saluran pencernaan. Kandida hidup sebagai saprofit tanpa menimbulkan keluhan
atau gejala (asimptomatis). Jamur ini dapat tumbuh dengan variasi pH yang luas, tetapi
pertumbuhan optimal pada pH 4,5 - 6,5.
Bersama dengan kandida, pada keadaan normal di vagina juga didapatkan basil
Lactobasilus Doderlein yang hidup sebagai komensal. Keduanya mempunyai peranan
penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem di dalam vagina. Doderlein berfungsi

P a g e | 14

mengubah glikogen menjadi asam laktat yang berguna untuk mempertahankan pH vagina
dalam suasana asam (pH 4-5).
Pada semua kelainan yang mengganggu flora normal vagina, dapat menjadikan
vagina tempat yang sesuai bagi kandida untuk berkembang biak. Belum dapat dipastikan
apakah kandida menekan pertumbuhan basil Doderlein atau pada keadaan basil Doderlein
mengalami gangguan lalu diikuti dengan infeksi dari jamur. Kenyataannya pada keadaan
infeksi, dijumpai hanya sedikit koloni Doderlein.
Infeksi kandida dapat terjadi secara endogen maupun eksogen atau secara kontak
langsung.4 Infeksi endogen lebih sering karena sebelumnya memang kandida sudah hidup
sebagai saprofit pada tubuh manusia. Pada keadaaan tertentu dapat terjadi perubahan sifat
jamur tersebut dari saprofit menjadi patogen sehingga oleh karena itu jamur kandida disebut
sebagai jamur oportunistik.
Jamur kandida bersifat dimorfik, sehingga jamur kandida pada tubuh manusia
mungkin ditemukan dalam bentuk yang berbeda sesuai dengan phasenya. 22 Bentuk
blastopsora (Blastoconida) merupakan bentuk yang berhubungan dengan kolonisasi yang
asimptomatik. Pada koloni asimptomatik jumlah organisme hanya sedikit, dapat ditemukan
bentuk blaspora atau budding tapi tidak ditemukan bentuk pseudohypa. Bentuk filamen
kandida merupakan bentuk yang biasanya dapat dilihat pada penderita dengan gejala-gejala
simptomatik.
Bentuk filamen kandida dapat menginvasi mukosa vagina dan berpenetrasi ke sel-sel
epitel vagina. Germinasi kandida ini akan meningkatkan kolonisasi dan memudahkan invasi
ke jaringan. Sobel dkk menunjukan secara invivo jamur kandida yang tidak mengalami
germinasi atau membentuk tunas, tidak mampu menyebabkan kandidiasis vaginalis.22
Belum banyak diketahui bahwa enzim proteolitik, toksin dan enzim phospholipase
dari jamur kandida dapat merusak protein bebas dan protein sel sehingga memudahkan invasi
jamur ke jaringan. Jamur kandida dapat timbul didalam sel dan bentuk intraseluler ini sebagai
pertahanan atau perlindungan terhadap pertahanan tubuh.
Adanya faktor-faktor predisposisi menyebabkan pertumbuhan jamur kandida di
vagina menjadi berlebihan sehingga terjadi koloni simptomatik yang mengakibatkan
timbulnya gejala gejala penyakit kandidiasis vagina.
Sampai saat ini apakah perubahan koloni asimptomatik menjadi simptomatik
disebabkan karena perubahan pada faktor tuan rumah atau yeastnya itu sendiri masih belum
jelas.
FAKTOR PREDISPOSISI
1. Kehamilan : selama kehamilan vagina menunjukkan peningkatan kerentanan terhadap
infeksi Candida spp. Sehingga prevalensi kolonisasi vagina dan vaginitis sirntomatik

P a g e | 15

meningkat, khususnya dalam trimester ketiga. Diduga estrogen meningkatkan perlekatan


Candida spp. pada sel epitel vagina dan secara langsung meningkatkan virulensi ragi.
2. Kontrasepsi : Kontrasepsi oral (hormonal), khususnya yang berkadar estrogen tinggi dan
AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim).
AKDR

PERUBAHAN

KANDIDIASIS

KOLONISASI JAMUR

VAGINA

DUH VAGINA/
KEPUTIHAN

ASIMPTOMATIS MENJADI

3. Diabetes mellitus : frekuensi kolonisasi lebih tinggi (merupakan faktor predeposisi bila
tidak dikontrol).
4. Antibiotika : timbulnya VVC simptomatik sering terjadi selama pemakaian antibiotika oral
sistemik khususnya dengan spektrum luas seperti tetrasiklin, ampisilin dan sefalosporin;
karena eliminasi flora bakteri vagina yang bersifat protektif seperti laktobasilus.
5. Lainnya dan : pakaian yang ketat rapat dengan celana dalam dari bahan nilon dapat
meningkatkan kelembaban dan suhu daerah perineal sehingga insiden VVC meningkat.
GEJALA KLINIS 1
Gejalanya bervariasi, tergantung kepada bagian tubuh yang terkena, disini khusus hanya
akan di bahas mengenai infeksi pada genitalia yaitu :
Vulvovaginitis
Infeksi/ radang pada vulva dan vagina (vulvovaginitis) dapat terjadi karena pertumbuhan
berlebihan sel-sel jamur. Kondisi yang memudahkan pertumbuhan jamur antara lain:
kehamilan (karena penimbunan glikogen dalam epitel vagina), pemakaian kontrasepsi oral
kombinasi, pemakaian antibiotika berlebihan, menstruasi, diabetes mellitus (karena kadar
gula darah dan air seni yang tinggi), penyakit yang menurunkan daya kekebalan tubuh,
kebiasaan irigasi/bilas vagina, cairan pembersih/ pewangi vagina, vaginal jeli, atau
pemakaian celana dalam yang ketat dengan ventilasi yang kurang.5 Gejalanya berupa
keluarnya cairan kental berwarna putih atau kuning dari vagina disertai rasa panas, gatal dan
kemerahan di sepanjang dinding dan daerah vulva dan luar vagina, berbau sangat tajam dan
disertai dengan rasa gatal akibat cairan keputihan sudah mengiritasi dan membuat lecet vulva.

P a g e | 16

Sumber : http://www.usc.edu/student-affairs/Health_Center/adolhealth/images/b3stis3_clip_image025.jpg

Pada yang berat atau pada ibu hamil terdapat pula rasa panas, nyeri sesudah BAK, dan
nyeri saat senggama. Pada pemeriksaan yang ringan, tampak kemerahan di bibir vagina dan
vagina terutama 1/3 bagian bawah. Sering pula terdapat kelainan yang khas ialah bercakbercak putih kekuningan. Pada kelainan yang berat juga terdapat bengkak pada bibir vagina
dan luka yang dangkal pada bibir vagina dan sekitar vagina. Keputihan pada kandidosis
vagina berwarna kekuningan. Tanda yang khas ialah disertai gumpalan-gumpalan seperti
kepala susu berwarna putih kekuningan. Gumpalan tersebut berasal dari bagian yang terlepas
dari dinding vagina terdiri atas sel-sel yang mati, sel-sel epitel, dan jamur.6
Balanitis atau balanopostitis
Infeksi penis (balanitis atau balanopostitis) sering terjadi pada penderita diabetes atau pria
yang kontak seksual dengan wanita yang menderita vulvovaginitis. Biasanya infeksi
menyebabkan lesi berupa luka yang dalam, lenting berisi nanah dengan dindingnya yang
tipis, ruam merah bersisik (kadang menimbulkan nyeri) pada bagian bawah penis, kepala
penis dan preputium (kulit penis).1

Sumber : http://www.onmedica.com/newsarticle.aspx?id=d301a8d2-948e-4eb8-b9de-3f8ebe54e9f9

DIAGNOSIS 1

P a g e | 17

Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan sekret


vagina atau biakan.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Bahan-bahan klinis yang dapat digunakan untuk pemeriksaan adalah kerokan kulit, urin,
bersihan sputum dan bronkus, cairan serebrospinal, cairan pleura dan darah, dan biopsi
jaringan dari organ-organ visceral. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain :
1

1. Pemeriksaan langsung : Merupakan cara paling mudah dan metode yang paling efektif
untuk mendiagnosis, tapi tidak cukup untuk menyingkirkan bukti klinis yang lain. Kerokan
kulit atau usapan mukokutan (selaput lendir dan kulit) diperiksa dengan larutan KOH 10%
atau dengan pewarnaan Gram, terlihat sel ragi, blastospora, atau hifa semu. 1 Uji amine whiff,
penentuan pH vagina dan kultur dapat mendiagnosis kandidiasis vulvovaginitis.7

Gambar 3. Pewarnaan Gram, sumber : http://i1.ytimg.com/vi/TIyOk21TVRA/hqdefault.jpg


2. Pemeriksaan biakan/ kultur : Kultur dari pustula yang utuh, biopsi jaringan kulit, atau
deskuamasi kulit dapat membantu untuk mendukung diagnosis. Bahan yang akan diperiksa,
ditanam dalam agar dektrosa glukosa Sabouraud, dapat pula agar ini dibubuhi antibiotik
(kloramfenikol) untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Perbenihan disimpan dalam suhu
kamar atau lemari suhu 37C, koloni tumbuh setelah 24-48 jam, berupa yeast like colony. Ini
adalah ciri khas dari koloni berupa lapisan putih krim yang halus dengan permukaan tak
berambut, seperti lilin.7 Identifikasi Candida albicans dilakukan dengan membiakkan
tumbuhan tersebut pada corn meal agar.1

P a g e | 18

Gambar 4. Koloni khas dari Candida


3. Pemeriksaan mikrosokopik : Preparat kerokan kulit dengan rantai calcofluor putih
merupakan cara yang sederhana untuk mendeteksi adanya jamur dan pseudohifa dari
Candida albicans. Candida albicans berikatan tidak spesisfik dengan polisakarida dinding sel
jamur dan menghasilkan warna yang terang dan jelas sebagai karakteristik organisme ketika
dilihat di bawah mikroskop flouresens.14,17
4. Serologi : Macam-macam prosedur pemeriksaan serologi direncanakan untuk mendeteksi
adanya antibodi Candida yang berkisar pada tes immunodifusi yang lebih sensitif seperti
counter immunoelectrophoresis (CIE), enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), and
radioimmunoassay (RIA). Produksi empat atau lebih garis precipitin dengan tes CIE telah
menunjukkan diagnosis kandidiasis pada pasien yang terpredisposisi.17
5. Pemeriksaan histologi : Didapatkan bahwa spesimen biopsi kulit dengan pewarnaan
periodic acid-schiff (PAS) menampakkan hifa tak bersepta. Hifa tak bersepta yang
menunjukkan kandidiasis kutaneus. Ini dapat membedakannya dari tinea.8,17

Gambar 5. Pemeriksaan Histologi

P a g e | 19

6. Uji sensitifitas secara cepat dan tepat berdasarkan PCR dari DNA dapat juga digunakan
untuk mengidentifikasi patogenitas candida dalam jaringan.7
PENATALAKSANAAN 1
Pemberian Obat Anti Jamur
Pengobatan kandidiasis vagina dapat dilakukan secara topikal maupun sistemik. Obat
anti jamur tersedia dalam berbagai bentuk yaitu : gel, krim, losion, tablet vagina, suppositoria
dan tablet oral.
1. Derivat Rosanillin
Gentian violet 1-2 % dalam bentuk larutan atau gel, selama 10 hari.
2. Povidone iodine
Merupakan bahan aktif yang bersifat antibakteri maupun anti jamur.
3. Derivat Polien
Nistatin 100.000 unit krim/tablet vagina selama 14 hari.
Nistatin 100.000 unit tablet oral selama 14 hari.
4. Drivat Imidazole
Topikal
- Mikonazol 2% krim vaginal selama 7 hari
100 mg tablet vaginal selama 7 hari
200 mg tablet vaginal selama 3 hari
1200 mg tablet vaginal dosis tunggal
- Ekonazol 150 mg tablet vaginal selama 3 hari
- Fentikonazol 2% krim vaginal selama 7 hari
200 mg tablet vaginal selama 3 hari
600 mg tablet vaginal dosis tunggal
- Tiokonazol 2% krim vaginal selama 3 hari
6,5 % krim vaginal dosis tunggal
- Klotrimazol 1% krim vaginal selama 7 14 hari
10% krim vaginal sekali aplikasi
100 mg tablet vaginal selama 7 hari
500 mg tablet vaginal dosis tunggal
- Butokonazol 2% krim vaginal selama 3 hari
- Terkonazol 2% krim vaginal selama 3 hari
Sistemik
- Ketokanazol 400 mg selama 5 hari
- Itrakanazol 200 mg selama 3 hari atau 400 mg dosis tunggal
- Flukonazol 150 mg dosis tunggal
PENCEGAHAN
Usaha pencegahan terhadap timbulnya kandidiasis vagina meliputi penanggulangan
faktor predisposisi dan penanggulangan sumber infeksi yang ada. Penanggulangan faktor
predisposisi misalnya tidak menggunakan antibiotika atau steroid yang berlebihan, tidak
menggunakan pakaian ketat, mengganti kontrasepsi pil atau AKDR dengan kontrasepsi lain
yang sesuai, memperhatikan higiene. Penanggulangan sumber infeksi yaitu dengan mencari
dan mengatasi sumber infeksi yang ada, baik dalam tubuhnya sendiri atau diluarnya.

P a g e | 20

3. Trikomoniasis
PENDAHULUAN
Trikomoniasis pada saluran urogenital dapat menyebabkan vaginitis dan sistitis. Walaupun sebagian
besar tanpa gejala, akan tetapi dapat menimbulkan masalah kesehatan yang tidak kurang pentingnya,
misalnya perasaan dispareunia, kesukaran melakukan hubungan seksual yang dapat menimbulkan
ketidakserasian dalam keluarga. Pada pria dapat menyebabkan uretritis dan prostatitis yang kira-kira
merupakan 15% kasus uretritis nongonore.
DEFINISI 1
Trikomoniasis merupakan infeksi saluran urogenital bagian bawah pada wanita maupun pria, dapat
bersifat akut atau kronik, disebabkan oleh Trichomonas vaginalis dan penularannya biasanya melalui
hubungan seksual.
ETIOLOGI 1
Penyebab trikomoniasis ialah T. vaginalis yang pertama kali ditemukan oleh DONNE pada tahun
1836. Merupakan flagelaat berbentuk filifor- mis, berukuran 15-18 mikron, mempunyai 4 flagela, dan
bergerak seperti gelombang. Parasit ini berkembang biak secara belah pasang memanjang dan dapat
hidup dalam suasana pH 5-7,5. Pada suhu 50C akan mati dalam beberapa menit, tetapi pada suhu 0C
dapat bertahan sampai 5 hari. Ada dua spesies lainnya yang dapat ditemukan pada manusia, yaitu T.
tenax yang hidup di rongga mulut dan Pentatrichomonas hominis yang hidup dalam kolon, yang pada
umumnya tidak menimbulkan penyakit.
INSIDENS 1
Penularan umumnya melalui hubungan kelamin, tetapi dapat juga melalui pakaian, handuk, atau
karena berenang. Oleh karena itu trikomoniasis ini terutama ditemukan pada orang dengan
aktivitas seksual tinggi, tetapi dapat juga ditemukan pada bayi dan penderita setelah
menopause. Penderita wanita lebih banyak dibandingkan dengan pria.
PATOGENESIS 1
T. vaginalis mampu menimbulkan peradangan pada dinding saluran urogenital dengan
cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan su- epitel. Masa tunas rata-rata 4 hari sampai
3 minggu. Pada kasus ang lanjut terdapat bagian- bagian dengan jaringan granulasi yang
jelas. Nekrosis dapat ditemuka di lapisan subepitel yang menjalar sampai di permukaan

P a g e | 21

epitel. Di dalam vagina dan uretra parasit hidup dari sisa-sisa sel, kuman-kuman, dan benda
lain yang terdapat dalam sekret.

Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/be/Trichomoniasis_01.png

GEJALA KLINIS 1
1. Trikomoniasis pada wanita
Yang diserang terutama dinding vagina, dapat bersifat akut maupun kronik. Pada
kasus akut terlihat sekret vagina seropurulen berwarna kekuning-kuningan, kuning-hijau,
berbau tidak enak (malodorous), dan berbusa. Dinding vagina tampak kemerahan dan
sembab. Kadang-kadang terbentuk abses kecil pada dinding vagina dan serviks, yang
tampak sebagai granulasi berwarna merah dan dikenal sebagai strawberry appearan- ce
dan disertai gejala dispareuria, perdarahan pascakoitus. dan perdarahan intermenstrual.
Bila sekret banyak yang keluar dapat timbul iritasi pada lipat paha aatu di sekitar geniatlia
ekstema. Selain vaginitis dapat pula terjadi uretritis. Bar- tholitis, skenitis, dan sistitis
yang pada umumnya tanpa keluhan. Pada kasus yang kronik gejala lebih ringan dan
sekret vagina biasanya tidak berbusa.

P a g e | 22

Sumber : http://3.bp.blogspot.com/_MjLFrlB47RE/TQtE1LcEXYI/AAAAAAAAAD4/LYDw9meso-Y/s320/triko.JPG

2. Trikomoniasis pada laki-laki


Pada laki-laki yang diserang terutama uretra, kelenjar prostat, kadang-kadang
preputium, vesikula seminalis, dan epididimis. Pada umumnya gambaran klinis lebih
ringan dibandingkan dengan wanita. Bentuk akut gejalanya mirip uretritis nongonore,
misalnya disuria, poliuria, dan sekret uretra mukoid atau mukopurulen. Urin biasanya
jernih, tetapi kadang-kadang ada benang-benang halus. Pada bentuk kronik gejalanya
tidak khas; gatal pada uretra, disuria, dan urin keruh pada pagi hari.
DIAGNOSIS 1
Selain pemeriksaan langsung dengan mikroskopik sediaan basah dapat juga dilakukan
pemeriksaan dengan pewarnaan Giemsa, akridin oranye, Leishman, Gram dan
Papanicolau. Akan tetapi pengecatan tersebut dianggap sulit karena proses fiksasi dan
pengecatan diduga dapat mengubah morfologi kuman.
Pada pembiakan pemilihan media merupakan hal penting, mengingat banyak jenis
media yang dignakan. Media modifikasi Diamond, misanya In Pouch TV digunakan
secara luas dan menurut penelitian yang dilakukan media ini yang paling baik dan mudah
didapat.

Sumber : http://4.bp.blogspot.com/-JUDF-oMUSoE/Tve37FI6VHI/AAAAAAAAADY/0r6LqM6BiHQ/s1600/Trichomonas+vaginalis.1.jpg

PENGOBATAN 1
Pengobatan dapat diberikan secara topikal atau sistemik.

P a g e | 23

Secara topikal, dapat berupa: Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hidrogen peroksida 12% dan larutan asam laktat 4%. Bahan berupa supositoria, bubuk yang bersfiat
trikomoniasidal. Jel dan krim, yang berisi zat trikomoniasidal.
Secara sistemik (oral), Obat yang sering digunakan tergolong derivat nitromidazol seperti
:
Metronidasol
: dosis tunggal 2 gram atau 3 x 500 mg per hari selama 7 hari
Nimorazol
:
dosis tunggal 2 gram
Tinidazol
:
dosis tunggal 2 gram
Omidazol
:
dosis tunggal 1,5 gram
Pada waktu pengobatan perlu beberapa anjuran pada penderita :
Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual untuk mencegah jangan terjadi
fenomena "pingpong. Jangan melakukan hubungan seksual selama pengobatan dan
sebelum

dinyatakan

sembuh.

Hindari

pemakaian

barang-barang

menimbulkan transmisi.

INFEKSI GENITAL NONSPESIFIK


1. CHLAMYDIASIS

yang

mudah

P a g e | 24

PENDAHULUAN 1
Chlamydia merupakan salah satu penyakit menular seksual yang memiliki insiden
tinggi diantara penyakit menular seksual (PMS) lainnya. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri
Chlamydia trachomatis, yang biasanya dikenal sebagai Nonspesific Genital Infection
(NSGI). Meskipun gejala chlamydia biasanya ringan atau tidak ada, komplikasi serius yang
menyebabkan kerusakan ireversibel, termasuk infertilitas, bisa terjadi "diam" sebelum
seorang wanita pernah mengakui masalah. Chlamydia trachomatis hanya ditemukan
pada manusia. Penyakit ini dapat merusak mata dan alat reproduksi manusia, seperti leher
rahim, rahim, saluran indung telur dan saluran kencing. Penyakit ini menyerang pria, wanita
dan neonatus.
ETIOLOGI 1
Chlamydia trachomatis adalah spesies yang paling penting dari chlamydia. Strain
yang berbeda beda sebagai agen penyebab yang terlibat di dalam sejumlah sindrom klinis.
Chlamydia merupakan bakteri obligat intraselular, hanya dapat berkembang biak di dalam sel
eukariot hidup dengan membentuk semacam koloni atau mikrokoloni yang disebut Badan
Inklusi (BI). Chlamydia membelah secara benary fision dalam badan intrasitoplasma. 7-12
C. trachomatis berbeda dari kebanyakkan bakteri karena berkembang mengikuti suatu
siklus pertumbuhan yang unik dalam dua bentuk yang berbeda, yaitu berupa Badan Inisial.
Badan Elementer (BE) dan Badan Retikulat (BR) atau Badan Inisial. Badan elementer
ukurannya lebih kecil (300 nm) terletak ekstraselular dan merupakan bentuk yang infeksius,
sedangkan badan retikulat lebih besar (1 um), terletak intraselular dan tidak infeksius.
Morfologi inklusinya adalah bulat dan terdapat glikogen di dalamnya. C. trachomatis peka
terhadap sulfonamide dan

memiliki plasmid. Chlamydia trachomatis diklasifikasikan

menjadi 15 group serotypes antara lain :


Tipe A, B, Ba, dan C, berhubungan dengan trachoma yang merupakan agen penyebab
kebutaan di dunia.
Tipe D K, yang menyebabkan nongonococcal urethritis dan mucopurulent cervicitis
pada orang dewasa serta conjuctivitis dan pneumonia pada neonatus.
Tipe L1, L2, dan L3, yang menyebabkan lymphogranuloma venereum (LGV).

P a g e | 25

Badan elementary dari Chlamydia, sumber : www.chlamydia.com

EPIDEMIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO 8,9


Chlamydia adalah infeksi bakteri yang paling umum menular seksual di negara
Amerika Serikat. CDC (Center for Disease and Control Prevention) memperkirakan bahwa
2,8

juta infeksi chlamydia baru terjadi setiap tahun di Amerika Serikat. Prevalensi

Chlamydia adalah tinggi di kalangan remaja putri dan perempuan muda dari semua ras, dan
Afrika-Amerika perempuan 15 sampai 19 tahun adalah yang paling banyak terkena, dengan
tingkat infeksi yang jauh melebihi dari perempuan kulit putih muda sekitar 40% dari kasus
infeksi klamidia.
Angka paling tinggi pada perempuan yang aktif secara seksual, dengan kisaran antara
5% sampai 13% dalam program pemeriksaan penyaring, bergantung pada tempat dan daerah.
Pada tahun 1996 dan 1997 dilakukan pemeriksaan penyaring infeksi klamidia terhadap
13.204 perempuan calon taruna sebagai usaha untuk mengidentifikasi faktor resiko yang
akan digunakan untuk memilih populasi yang akan disaring. Hasil pemeriksaan tersebut
mengungkapkan bahwa prevalensi adalah 9,2% dengan puncak 12,2% pada calon berusia 17
tahun.
Lebih tingginya angka klamidia pada perempuan disebabkan oleh lebih besarnya
kerentanan dan usaha penyaringan. Perempuan berisiko dua kali lipat terjangkit klamidia
setelah pajanan karena konsentrasi ejakulat yang terinfeksi yang tertahan di vagina sehingga
pemajanan memanjangFaktor sosial ekonomi seperti diskriminasi, kemiskinan, dan
kurangnya akses ke pelayanan kesehatan berkualitas memberikan kontribusi ke tingkat lebih
tinggi di antara perempuan Afrika-Amerika. Sementara klamidia mudah didiagnosis dan
diobati, banyak kasus terjadi tanpa gejala dan tidak terdeteksi dan diobati. 7-12
Selain itu chlamydia juga lebih gampang berjangkit pada mereka yang sudah
memiliki penyakit menular seksual lain sebelumnya, dan berisiko tinggi pula pada mereka
yang pasangan seksnya sudah positif mengidap salah satu penyakit STD. Bahkan, CDC

P a g e | 26

memperkirakan bahwa separuh dari infeksi baru terdiagnosis setiap tahun. Ini merupakan
masalah kesehatan masyarakat yang utama karena 10% -20% infeksi klamidia yang tidak
diobati dalam penyelesaian perempuan terhadap penyakit radang panggul (PID) 250.000500.000, yang dapat menyebabkan kehamilan ektopik dan infertilitas sedangkan
250.000 kasus epididimitis terjadi pada laki laki sehingga infertilitas. 7-12
PATOGENESIS 8,9
Chlamydia trachomatis yang terisolasi kurang lebih 50% dari pasien ini akan
menderita ketiga penyakit diatas. Dipercaya bahwa manifestasi pada mata dan jaringan lunak
adalah reaksi hipersensivitas yang dipicu dari infeksi ini.
C. trachomatis bersifat dimorfik yaitu, organisme ini terdapat dalam dua bentuk.
Dalam bentuk infeksiosa, C. Trachomatis merupakan sferoid berukuran kecil, tidak aktif
secara metabolis, dan mengandung asam deoksiribonukleat (DNA) dan asam ribonukleat
(RNA) serta disebut badan elementer (EB). Sferoid sferoid ini memperoleh akses ke sel
pejamu melalui endositosis dan, setelah bearada di dalam, berubah menjadi organisme yang
secara metabolis aktif yang bersaing dengan sel pejamu memperebutkan nutrien. Organisme
ini memicu timbulnya siklus replikasi dan, setelah kembali memadat menjadi EB sampai sel
pejamu pecah, terjadi pembebasan ratusan EB untuk menginfeksi sel sel di sekitarnya: C.
Trachomatis memiliki afinitas terhadap epitel uretra, serviks, dan konjungtiva mata. 7-12
Pada laki laki, uretritis, epididimitis, dan prostatitis adalah manisfestasi infeksi
yang tersering. Pada perempuan, yang tersering adalah servisitis, diikuti oleh uretritis,
bartolinitis, dan akhirnya penyakit radang panggul (PID). C. Trachomatis dapat menginfeksi
faring dan rektum orang yang melakukan hubungan seks oral atau anal reseptif. Bayi dapat
terinfeksi sewaktu dilahirkan dan mengalami konjungtivitis dan pneumonia. Infeksi oleh C.
Trachomatis tidak menimbulkan imunitas terhadap infeksi di kemudian hari.7-12

GEJALA KLINIS 8,9


Pada perempuan adalah pengeluaran mucopurulent, inflamasi cervix, dan ditemukan
lebih dari 30 sel polymorphonuclear leukosit per lapang padang yang berasal dari pap smear
cairan eksudate cervix, ektopi, edema dan rapuhnya serviks. Pada laki laki, uretritis dengan

P a g e | 27

atau tanpa sekret. Infeksi uretra pada laki laki atau perempuan dapat menyebabkan disuria,
walaupun hal ini lebih sering terjadi pada laki laki.

Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/3/3a/SOA-Chlamydia-trachomatis-female.jpg

Proktitis, yaitu peradangan rektum, mungkin timbul pada orang yang melakukan
hubungan seks melalui anus. 50% laki laki dan 75% wanita tidak memperlihatkan gejala.
Kelompok orang asimtomatik tetapi infeksiosa ini yang ternyata menyebabkan penularan
berlanjut. Kelompok ini juga yang menjadi alasan dilakukannya program program
pemeriksaan penyaring skala besar untuk populasi beresiko tinggi. Infeksi asimtomatik juga
menggaris bawahi pentingnya anamnesis seksual yang cermat agar pemeriksaan dan
diagnosis infeksi C. Trachomatis dapat dilakukan dengan memadai.

Lebih dari separuh laki laki dengan infeksi klamidia tetap asimtomatik atau hanya
memperlihatkan gejala ringan. Pada laki laki, uretra adalah tempat infeksi tersering yang
disebabkan oleh C. Trachomatis. C. Trachomatis adalah penyebab 30% sampai 50% kasus
uretritis nongonokokus (NGU) dan dijumpai bersama dengan uretritis gonokokus pada sekitar
20% laki laki. Keluhan tersering pada laki laki dengan infeksi uretra adalah disuria dan

P a g e | 28

pengeluaran sekret yang berkisar dari jernih sampai nyata purulen. Gejala ini timbul setelah
7-10 hari kontak seksual dengan pasangan yang terinfeksius.

Sumber : http://www.consultant360.com/sites/default/files/Screenshot_40.jpg

DIAGNOSA 8,9
Dasar diagnosis berdasarkan anamnesis, gejala klinis, pemeriksaan laboratorium,
laboratorium sederhana, dan laboratorium lengkap. Pemeriksaan laboratorium singkirkan
kemungkinan mikroorganismespesifik: gonokok, Candida sp, Trichomonas vaginalis. Bahan:
sediaan apus duh tubuh dengan pewarnaan Gram :
Uretra: leukosit PMN >5/LPB
Serviks: leukosit PMN >30/LPB
Bila ada fasilitas dapat dilakukan pemeriksaan cara ELISA

Sumber : http://cdn2-b.examiner.com/sites/default/files/styles/image_content_width/hash/42/f4/42f4190e24d5bed7e5513d5c3c232f49.jpg?
itok=dKM4kgmH

PENATALAKSANAAN
Pengobatan Medika Mentosa8
Doksisiklin

: 2 x 100mg sehari dalam 7 hari

P a g e | 29

Eriromisin

: 4 x 500 mg sehari selama 7 hari


4 x 2500 mg sehari selama 14 hari (untuk ibu hamil)

Azitromisin

: 1 gr dosis tunggal

Spiramisin

: 4 x 500 mg sehari selama 7 hari

Oflosaksin

: 2 x 200 mg sehari selama 10 hari

Tetrasiklin HCL : 4 x 500 mg sehari selama 7 hari


4 x 2500 mg sehari selama 14 hari
Sulfa-trimetropin : 2 x 2 tab selama 7 14 hari

KOMPLIKASI 9
40% persen perempuan dengan infeksi klamidia yang tidak diobati akan mengalami
PID. Infeksi C. Trachomatis cenderung meluas ke atas dari endoserviks ke endometrium, tuba
fallopii, dan akhirnya keluar menuju rongga peritoneum. Gejala berkembang dari nyeri
serviks, uterus, dan adneksa yang ringan menjadi nyeri abdomen berat yang akhirnya
mendorong pasien berobat. Pada saat pengobatan dimulai, perempuan tersebut mungkin
sudah mengalami pembentukan jaringan parut, perlekatan, dan peyumbatan pada tuba
fallopiinya. 17% perempuan yang diobati untuk PID akan menjadi mandul, dan sejumlah
yang sama akan mengalami nyeri panggul kronik, dan 10% dari mreka yang akhirnya hamil
akan mengalami kehamilan ektopik.7-12
Perihepatitis (Fitz - Hugh - Curtis Syndrome) adalah infeksi C. trachomatis dapat
meluas dari serviks melalui endometrium ke tuba dan kemudian parakolikal menuju ke
diafragma kanan. Beberapa dari penyebaran ini menyerang permukaan anterior liver dan
peritoneum yang berdekan sehingga menimbulkan perihepatitis. Parenchym hati tidak
diserang sehingga tes fungsi hati biasanya normal. Bila tidak diobati, kendati tidak
menimbulkan keluhan berarti, penyakit bisa menjalar ke mana-mana bagian organ reproduksi
baik pria maupun wanita. Pengidap chlamydia juga lebih rentan untuk terserang HIV/AIDS
dibanding yang tidak mengidapnya. Diperkirakan yang positif chlamydia 3 sampai 5 kali
lebih berisiko terserang HIV/AIDS.7-12
Infeksi Chlamydia pada pria biasanya terbatas uretra tetapi kadang kadang menjalar
ke bagian prostat dan epididimis. Infeksi Epididymitis merupakan komplikasi dari

P a g e | 30

nongonococcal urethritis yang dapat mengakibatkan kemandulan. Reiters syndroms


merupakan gabungan dari arthritis, conjuctivitis, atau uveitis yang disertai lesi mucocutaneus,
1-4 minggu setelah onset dari urethritis.7-9
PROGNOSIS
Prognosis untuk infeksi nonspesifik genital ini baik asalkan dilakukan diagnosis yang
cepat dan di dukung oleh terapi aktif walaupun penyakit ini bisa kambuh. Klamidia adalah
penyakit yang dapat disembuhkan dan, walaupun secara nasional meningkat, daerah daerah
yang memiliki program penyaring dan terapi yang aktif memperlihatkan penurunan jumlah
infeksi.

2. VAGINOSIS BAKTERIALIS
PENDAHULUAN 1

P a g e | 31

Sejak GARDNER mengumumkan bahwa HaerrrophUus vaginalis yang sekarang


dikenal sebagai Gardnereila vaginalis merupakan penyebab penyakit yang disebut Vaginosis
Bakterial Y. B.). sampai sekarang sudah banyak makalah mengenai V.B. yang dipublikasikan,
termasuk penyelidikan mengenai bakteri tersebut, setengahnya telah dipublikasikan dalam
dekade yang terakhir. Hal mi menunjukkan bahwa perhatian terhadap penyakit V.B.
bertambah.
Peranan organisme itu sendiri sampai sekarang masih menimbulkan kontroversi di antara para penyelidik. Studi terakhir mengenai bakteriologi dan analisis kimia sekresi vagina
pada para penderita menunjukkan bahwa bakteri anaerob mempunyai peranan besar pada
patogenesis penyakit ini. Spesies Bactehoides dan Peptococcus merupakan organisme yang
paling sering dapat diisolasikan dalam jumlah yang besar, sehingga simbiosis antara G.
vaginalis dan bakteri anaerob bersama-sama menimbulkan sindrom klinis. Oleh karena itu
istilah sebelumnya sebagai vaginitis non-spesifik (V.N.S.) sukar diterima, karena keduanya
organisme tersebut selalu ditemukan, pi samping itu juga akan menimbulkan salah pengertian
dengan istilah uretritis nonspesifik.
Adanya respons yang baik terhadap pengobatan dengan metronidazol dan duh tubuh
yang berbau menunjukkan bahwa infeksi primer disebabkan oleh kuman anaerob, sehingga
beberapa masalah utama mengenai hubungan G.vaginalis dan vaginitis yang ditimbulkannya
masih perlu dipecahkan, demikian juga mengenai manifestasi klinis, metode pemeriksaan
laboratorium, dan terminologi penyakit.
Begitu banyak terminologi yang dipakai untuk vaginitis yang disebabkan oleh
G.vaginalis, misalnya Haemophilus vaginalis vaginitis, Corynebacterium vaginale vaginitis,
Gardnerella vaginalis vaginitis, Gardnerella vaginalis associated vaginitis, Gardners
vaginitis, clue cell vaginitis, nonpurulent vaginitis, nonspecific vaginitis, Gardnerella
vaginalis associated leukor- rhea, Gardnerella vaginalis syndrome, Gardnerella Dukes
diseases, anaerob vaginosis, dan nonspecific vaginosis.
EPIDEMIOLOGI 1
Penyakit V.B. lebih sering ditemukan pada wanita yang memeriksakan kesehatannya
dari pada vaginitis jenis lainnya. Frekuensi bergantung pada tingkatan sosial ekonomi
penduduk. Penyelidikan epidemiologi V.B. jarang dilakukan, sedangkan kriteria mikrobiologi
dan klinis yang tepat belum jelas. Pernah disebutkan bahwa 50% wanita aktif seksual terkena
infeksi G. vaginalis, tetapi hanya sedikit yang menyebabkan gejala. Sekitar 50% ditemukan
pada pemakai AKDR dan 86% bersama-sama dengan infeksi Trichomonas.
Terdapat hubungan antara infeksi G.vaginalis dengan ras, promiskuitas, stabilitas
marital, dan kehamilan sebelumnya. Pada penggunaan AKDR dapat ditemukan serta diikuti
infeksi G.vaginalis dan kuman anaerob negatif-Gram.
Hampir 90% laki-laki yang mitra seksual wanitanya terinfeksi G.vaginalis,
mengandung vaginalis dengan biotipe yang sama dalam uretra, tetapi tidak menyebabkan
uretritis. Pada suatu penyelidikan ditemukan adanya hubungan antara timbulnya rekurensi

P a g e | 32

setelah pengobatan dengan kontak seksual. Ditemukannya G.vaginalis sering diikuti dengan
infeksi lain yang ditularkan melalui hubungan seksual.
BAKTERIOLOGI G.VAGINALIS 1
Organisme ini mula-mula dikenal sebagai vaginalis kemudian diubah menjadi genus
Gardnerella atas dasar hasil penyelidikan mengenai fenotipik dan asam dioksi-ribonukleat.
Tidak mempunyai kapsul, tidak bergerak, dan ber- bentuk batang Gram-negatif atau variabelGram, tes katalase, oksidase, reduksi nitrat, ndole, dan urease semuanya negatif.
Kuman ini bersifat anaerob fakultatif, dengan produk akhir utama pada fermentasi
berupa asam asetat; banyak galur yang juga menghasilkan asam laktat dan asam format.
Ditemukan juga galur anerob obligat.
Untuk pertumbuhannya dibutuhkan tiamin, riboflavin, niasin, asam folat, biotin,
purin, dan pirimidin. Tumbuh pada media fermentable car- bohydrates dan protease pepton
No.3. Setelah inkubasi selama 48 jam pada suhu 37C dalam kelmbaban atmosfir 5%,
tumbuh koloni pada agar darah manusia dengan diameter sekitar 0,5 mm, bulat, opak, dan
halus. Timbul hemolisis beta pada darah manusia dan kelinci, tidak pada darah domba.
Untuk identifikasi yang penting adalah hemolisis beta pada darah manusia tidak pada
darah domba, reaksi katalase negatif, tes hidrolisis hipurat positif dengan glukosidase alfa,
bukan glukosidase beta, dan produksi asam dari maltosa dan glukosa bukan dari manitol.
Pembentukan asam dari maltosa atau kanji lebih cepat dan lengkap daripada glukosa. Dengan
tes presipitin telah ditentukan tujuh kelompok serologik G.va- ginalis. Isolat dapat
diklasifikasikan dalam 6 biotipe berdasarkan reaksi dengan lipase, hipurat, dan B
galaktosidase. Aktivitas endotoksin ditemukan dengan tes limulus amebacyte lysate human
yang protease A nya tidak terbentuk.
PATOGENESIS 1
Patogenesis V.B. sampai sekarang masih belum jelas. Sampai 50% wanita sehat,
ditemukan kolonisasi G. vaginalis dalam vagina dalam jumlah sedikit sehingga hal ini
menunjukkan bahwa kuman tersebut termasuk flora normal dalam vagina. Meskipun peranan
G.vaginalis pada patogenesis V.B. akhir-akhir ini dibantah oleh MC CORMACK dkk., tetapi
penyelidik lain menyatakan adanya hubungan erat antara V.B. dan G.vaginalis dan
mengusulkan peranan etiologik mungkin bersama-sama bakteri anaerob. G.vaginalis lebih
sering ditemukan pada para penderita V.B. daripada kelola atau wanita dengan bentuk infeksi
vaginitis lainnya. Ditemukan G.vaginalis dalam cairan vagina wanita dengan V.B. disertai
peningkatan jumlah kuman bacterioides sp dan Peptococcus sp. Pada suatu penelitian
ditemukan organisme berbentuk batang lengkung yang merupakan morfotipe Mobiluncus
spp, sekitar 53,7% dari 67 penderita V.B. (LIN/EN- GOOD III, 1990). Organisme ini tidak
ditemukan pada penderita V.B. yang sudah sembuh dari pengobatan. Spesifisitas organisme
bentuk ini yang juga bersifat anaerob pada V.B. dapat dipertimbangkan.
Setelah sembuh akan terjadi pengurangan yang bermakna atau menghilangkan G.
vaginalis dan kuman anaerob. CRISWELL dkk. berpendapat bahwa G. vaginalis merupakan

P a g e | 33

penyebab, analisis asam lemak dalam cairan vagina dengan gas liquid chromatography
menunjukkan bahwa pada wanita dengan V.B. perbandingan antara suksinat dan laktat naik
menjadi lebih besar atau sama dengan 0,4 bila dibandingkan dengan wanita normal atau
dengan yang menderita vaginitis oleh karena Candida albicans.
Sekret vagina pada V.B. berisi beberapa amin termasuk di dalamnya putresin,
kadaverin, metilamin, isobutilamin, fenetilamin, histamin, dan tiramin. Setelah pengobatan
berhasil, sekret akan menghilang. Basil anaerob mungkin mempunyai peranan penting pada
patogenesis V.B. karena setelah dilakukan isolasi, analisis biokimia sekret vagina dan efek
pengobatan dengan metroni- dazol, ternyata cukup efektif terhadap G.vaginalis, dan sangat
efektif untuk kuman anaerob.
Dapat terjadi simbiosis antara G.vaginalis sebagai pembentuk asam amino dan kuman
anaerob beserta bakteri fakultatif dalam vagina yang mengubah asam amino menjadi amin
sehingga menaikkan pH sekret vagina sampai suasana yang menyenangkan bagi
pertumbuhan G.vaginalis. Setelah pengobatan efektif, pH cairan vagina menjadi normal.
Beberapa amin diketahui menyebabkan iritasi kulit dan menambah pelepasan sel epitel dan
menyebabkan duh tubuh yang keluar dari vagina berbau.
Basil-basil anaerob yang menyertai V.B., di antaranya adalah Bacterioides bivins, B.
capil- losus, dan B.disiens yang dapat diisolasikan dari infeksi genitalia, menghasilkan
B.lactamase (KIRBY GEORGE dkk., *980) dan lebih dari setengahnya resisten terhadap
tetrasiklin. Faktor hospes manakah yang menentukan individu yang menimbulkan gejala,
tidak diketahui. Belum jelas juga, apakah penyakit ini endogen atau ditularkan melalui kontak
seksual.
G.vaginalis melekat pada sel-el epitel vagina in vitro, kemudian menambah
deskuamasi sel epitel vagina sehingga terjadi perlekatan duh tubuh pada dinding vagina.
Organisme ini tidak invasif dan respons inflamasi lokal yang terbatas dapat dibuktikan
dengan sedikitnya jumlah leukosit dalam sekret vagina dan dengan pemeriksaan
histopatologis. Tidak ditemukan imunitas.
Timbulnya V.B. ada hubungannya dengan aktivitas seksual atau pemah menderita
infeksi Trichomonas. G. vaginalis dapat diisolasikan dari darah wanita dengan demam
pascapartus dan pasca-abortus. Di samping itu dapat juga diisolasikan dari endometrium pada
8 di antara 42 wanita pasca partus dan merupakan isolat darah yang biasa ditemukan pada
pasien-pasien ini.
Kultur darah seringkali menunjukkan flora campuran, bakteriemia G.vaginalis
bersifat tran- sient dan tidak dipengaruhi oleh pengobatan an- timikrobial. Pemah dilaporkan
kasus-kasus fatal atau nonfatal pada neonatus. Pada 2 penyelidikan mengenai infeksi traktus
urinarius selama kehamilan, G. vaginalis dapat diisolasikan dari urin dengan cara aspirasi
suprapubik pada 15- 50% kasus. Penyakit ini biasanya menyerang laki-laki muda, dengan
gejala piuria, hematuria, disuria, polakisuria, dan nokturia. Adanya organisme ini dalam
uretra pria dapat terjadi tanpa gejala uretritis.
DAWSON dkk, mendapati bahwa pembawa kuman G.vaginalis lebih tinggi di antara
pria heteroseksual (14,5%) dibandingkan pria homoseksual (4,5%). KING HORN dkk.

P a g e | 34

( 1 9 8 2 ) menemukan G.vaginalis pada 7,2% di antara 194 pria yang datang ke klinik
Genitourinary Medicine. G.vaginalis lebih banyak ditemukan pada usapan prepusial daripada
usapan uretra. G. vaginalis ber- sama-sama Bacterioides sp. dapat menimbulkan
balanopostitis pada pria.
GEJALA KLINIS 1
Wanita dengan V.B. akan mengeluh adanya duh tubuh dari vagina yang ringan atau
sedang dan berbau tidak enak (amis), yang dinyatakan oleh penderita sebagai satu-saturjya
gejala yang tidak menyenangkan. Bau lebih menusuk setelah sanggama dan mengakibatkan
darah menstruasi berbau abnormal. Iritasi daerah vagina atau sekitar vagina (gatal, rasa
terbakar), kalau ditemukan, lebih ringan daripada yang disebabkan oleh Trichomonas
vaginalis atau C.albicans. Sepertiga penderita mengeluh gatal dan rasa terbakar, dan
seperlima timbul kemerahan dan edema pada vulva. Nyeri abdomen, dispareunia, atau nyeri
waktu kencing jarang terjadi, dan kalau ada karena penyakit lain. Di samping itu sekitar 50%
penderita V.B. bersifat asimtomatik.
Pada pemeriksaan sangat khas, dengan adanya duh tubuh vagina bertambah, warna
abu- abu homogen, viskositas rendah atau normal, berbau, dan jarang berbusa. Duh tubuh
melekat pada dinding vagina dan "terlihat sebagai lapisan tipis atau kilauan yang d'ifus, pH
sekret vagina berkisar antara 4,5-5,5. Gejala peradangan umum tidak ada. Terdapat eritema
pada vagina atau vulva atau petekie pada dinding vagina. Pada pemeriksaan'kolposkopi tidak
terlihat dilatasi pembuluh darah dan tidak ditemukan penambahan densitas pembuluh darah
pada dinding vagina. Gambaran serviks normal.

Sumber : http://www.vaginosis.com/bacterialVag1.jpg

DIAGNOSIS 1
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan :
1. Duh tubuh vagina berwarna abu-abu, homogen, dan berbau.
2. Pada sediaan basah sekret vagina terlihat leukosit sedikit atau tidak ada, sel epitel

P a g e | 35

banyak, dan adanya kokobasil kecil-kecil yang berkelompok. Adanya sel epitel vagina yang
granular diliputi oleh kokobasil sehingga batas sel tidak jelas, yang disebut clue cells, adalah
patognomotik. Ditemukannya clue cells sebagai kriteria diagnostik, dilaporkan sensitivitasnya. 70-90% sedangkan spesifisitas- nya 95-100%. Kombinasi sediaan basah dan
pewarnaan Gram usapan vagina lebih dapat dipercaya. Pada pewarnaan Gram dapat dilihat
batang-batang kecil negatif-Gram atau variabel-Gram yang tidak dapat dihitung jumlahnya
dan banyak sel epitel dengan kokobasil, tanpa ditemukan laktobasil.
Gambaran pewarnaan Gram duh tubuh vagina diklasifikasikan menurut modifikasi kriteria
SPIEGEL dkk. sebagai berikut:

Diagnosis vaginosis bakterial dapat ditegakkan kalau ditemukan campuran jenis


bakteria termasuk morfotipe Gardnerel- la dan batang positif-Gram atau negatifGram yang lain atau kokus atau keduanya. Terutama dalam jumlah besar, selain itu
dengan morfotipe Lactobacillus dalam jumlah sedikit atau tidak ada di antara flora
vaginal dan tanpa adanya bentuk-bentuk jamur.

Sumber : http://www.multi-mam.com/entity-file/entity/blog/field/image/instance/5/locale/1/download/0/blogpost/5

Normal kalau terutama ditemukan morfotipe Lactobacillus di antara flora vaginal

dengan atau tanpa morfotipe Gardnerella dan tidak ditemukan bentuk jamur.
Indeterminate kalau di antara kriteria tidak normal dan tidak konsisten dengan
vaginosis bakterial.

Pada pewarnaan Gram juga dievaluasi ada atau tidak ada bentuk batang lengkung
Mobiluncs spp.
3. Bau amin setelah diteteskan 1 tetes laruta KOH 10% pada sekret vagina. Tes ini disebut
juga tes Sniff (tes amin).
4. pH vagina 4,5-5,5
5. Pemeriksaan kromatografi Perbandingan suksinat dan laktat meninggi sedangkan
asam lemak utama yang dibentuk adalah asam asetat.
6. Pemeriksaan biakan

P a g e | 36

Biakan dapat dikerjakan pada media di antaranya : agar Casman, dan Protease
peptone starch agar; dibutuhkan suhu 37C selama 48- 72 jam dengan ditambah CO2
5%. Koloni sebesar 0,5-2 mm, licin, opak dengan tepi yang jelas, dan dikelilingi zona
hemolitikbeta. Sebagai media transpor dapat digunakan media transpor Stuart atau
Amies.
7. Tes biokimia
Reaksi oksidase, indol, dan urea negatif, menghidrolisis hipurat dan kanji. Untuk
konfirmasi harus disingkirkan infeksi karena T.vaginalis dan C.albicans.
KRITERIA DIAGNOSIS 1
GARONER dan DUKES (1980) menyatakan bahwa setiap wanita dengan aktivitas
ovum normal yang mengeluarkan duh tubuh vagina berwarna abu-abu, homogen, berbau
dengan pH 5-5,5, dan tidak ditemukan. T.vaginalis, kemungkinan besar menderita vaginitis
yang disebabkan oleh G.vaginalis.
WHO (1981) menjelaskan bahwa diagnosis dibuat atas dasar ditemukannya clue
cells, pH vagina lebih besar dari 4,5, tes amin positif, dan adanya G.vaginalis sebagai flora
vagina utama menggantikan laktobasilus. BLACKWELL (1982) menegakkan diagnosis
berdasarkan adanya duh tubuh vagina yang berbau amis dan ditemukannya clue cells tanpa
T.vaginalis. Tes amin yang positif serta pH vagina yang tinggi akan mem- perkuat diagnosis.
AMSEL (1983) berpendapat bahwa dengan ditemukannya 3 di antara 4 gejala, yakni: pH
vagina lebih besar dari 4,5; duh tubuh vagina yang homogen, putih dan melekat, tes amin
yang positif; dan adanya clue cells pada sediaan basah (sedikitnya pada 20% seluruh sel
epitel) sudah cukup untuk menegakkan diagnosis.

PENATALAKSANAAN

Rejimen Utama
Metronidazole 2 x 500 mg (7 hari) (efektivitas 95%, hindari alkohol)
Rejimen alternatif

Metronidazole 2 gram/ dosis tunggal (efektivitas 84%)

P a g e | 37

9 Flagyl

Klindamisin

2 x 300 mg (7 hr) - Dalacin

Augmentin

3 x 500 mg (7 hr)

Sefaleksin

4 x 500 mg (7 hr)

Ampisilin / amoksisilin 4 x 500 mg/hari per oral selama 5 hari

Klindamisin krim 2%, intra vag. + aplikator 5g (7 hr)

Metronidazole gel 0,75%, intra vag. + aplikator 5 g (7 hr)

Perawatan Feminine Hygiene

3. Ureaplasma urealyticum dan Mycoplasma hominis 1


PENDAHULUAN
Ureaplasma urealyticum merupakan 25% sebagai penyebab U.N.S. dan sering bersamaan dengan
Chlamydia trachomatis. Dahulu dikenal dengan nama T-strain mycoplasma. Mycoplasma

P a g e | 38

hominis juga sering bersama-sama dengan Ureaplasma urealyticum. Mycoplasma hominis


sebagai penyebab U.N.S. masih diragukan, Karena kuman ini bersifat komensal yang dapat menjadi
patogen dalam kondisi-kondisi tertentu. Ureaplasma urealyticum merupakan mikroorganisme paling
kecil, Gram- negatif. dan sangat pleomorfik karena tidak mempunyai dinding sel yang kaku.
GEJALA KLINIS 1
Pria
Gejala baru timbul biasanya setelah 1-3 minggu kontak seksual dan umumnya tidak seberat gonore.
Gejalanya berupa disuria ringan, Perasaan tidak enak di uretra, sering kencing, dan keluarnya duh
tubuh seropurulen. Dibandingkan dengan gonore perjalanan penyakit lebih lama karena masa
inkubasi yang lebih lama dan ada kecenderungan kambuh kembali. Pada beberapa keadaan
tidak terlihat keluarnya cairan duh tubuh, sehingga menyulitkan diagnosis. Dalam keadaan
demikian sangat diperlukan pemeriksaan laboratorium. Komplikasi dapat terjadi berupa
prostatitis, vesikulitis, epididimitis, dan striktur uretra.

Sumber : http://depts.washington.edu/handbook/images/nongonococcal.png

Wanita
Infeksi lebih sering terjadi di serviks dibandingkan dengan di vagina, kelenjar Bartholin, atau
uretra sendiri. Sama seperti pada gonore, umumnya wanita tidak menuniukkan gejala
Sebagian kecil dengan keluhan keluarnya duh tubuh vagina, disuria ringan, sering kencing,
nyeri di daerah pelvis, dan disparenia. Pada pemeriksaan serviks dapat dilihat tanda-tanda
servisitis yang disertai adanya folikel- folikel kecil yang mudah berdarah. Komplikasi dapat
berupa Bartholinitis, proktitis, salpingitis, dan sistitis. Peritonitis dan perihepatitis juga pernah
dilaporkan.
DIAGNOSIS 1

P a g e | 39

Diagnosis secara klinis sukar untuk membedakan infeksi karena gonore atau nongonore.
Menegakkan diagnosis servisitis atau uretritis oleh klamidia, perlu pemeriksaan khusus untuk
menemukan atau menentukan adanva C. trachomatis. Pemeriksaan laboratorium yang umum
diguna- kan sejak lama adalah pemeriksaan sediaan sitologi langsung dan biakan dari
inokulum yang diambil dari spesimen urogenital. Baru pada tahun 1980-an ditemukan
teknologi pemeriksaan terhadap antigen dan asam nukleat C. trachomatis.
Pemeriksaan sitologi langsung dengan pewarnaan Giemsa memiliki sensitivitas tinggi untuk
konjungtivitis (95%), sedangkan untuk infeksi genital rendah (pria 15%, wanita 41%).
Sitologi dengan Papancolou sensitivitasnya juga rendah yaitu 62%. Hingga saat

ini

pemeriksaan biakan masih dianggap baku emas pemeriksaan klamidia. Spesifisitasnva


mencapai 100%, tetapi sensitivitasnya bervariasi bergantung pada laboratorium yang
digunakan (berkisar antara 75-85%). Prosedur, tehnik, dan biaya pemeriksaan biakan ini
tinggi serta perlu waktu 3-7 hari.
Untuk tehnik mendeteksi antigen ada beberapa cara :
1. Direct fluorescent antibody (DFA)
Tes tersebut menggunakan antibodi mono- klonal atau poliklonal dengan mikroskop
imuno- fluoresen (I.F.). Tampak badan elementer (BE) atau retikuler (BR) CT, hasil
positif bila ditemukan BE > 10. Waktu pemeriksaan diperlukan kurang lebih 30 menit,
perlu tenaga terlatih dan biaya lebih murah. Sensitivitasnya berkisar antara 80-90%
dan spesifisitasnya 98-99%.
2. Enzyme immuno assay/enzyme linked immuno sorbentassay (EIA/ELISA)
Pemeriksaan tersebut mulai dikembangkan pada akhir tahun 1980-an, menggunakan
antibodi monoklonal atau poliklonal dan alat spektrofotometri, lama tes 3 sampai 4
jam. Metode Elisa Chlamydiazyme sensitivitasnya 92,3% dan spesifisitasnya 99,8%
terhadap biakan. Di samping itu dikenal juga metode ELISA yang membutuhkan
waktu 30 menit atau kurang, yang dikenal dengan istilah rapid test, dan dapat
dikerjakan di tempat praktek. Beberapa rapid test yang dikenal adalah Clearview
Genix* One step CT test strip (AmeriTek) dan OuickStripe Chlamydi Ag.
Sensitivitas lebih rendah dibandingkan dengan ELISA Chlamydiazyme.
Metode yang terbaru adalah dengan cara mendeteksi asam nukleat C. trachomatis.
1. Hibridisasi DNA Probe, dikenal dengan istilah Gen Probe

P a g e | 40

Metode tersebut mendeteksi DNA CT, lebih sensitif dibandingkan dengan cara
ELISA, karena dapat mendeteksi DNA dalam jumlah kecil melalui proses hibridisasi.
Sensitivitasnya tinggi (85%) dan juga spesifisitasnya (98-99%).
2. Amplifikasi asam nukleat
Termasuk dalam katagori tersebut tes Polimerase Chain Reaction (PCR) dan Ligase
Chain Reaction (LCR). PCR mempunyai ggngitifita.g 90% dan spesivisitas 99-100%.
sedangkan LCR sensitifitas 94% dan spesifisitas 99-100%.
PENATALAKSANAAN 1
Obat yang paling efektif adalah golongan tetrasiklin dan eritromisin. Di samping itu dapat
juga dengan gabungan sulfa-trimetoprim, spiramisin, dan kuinolon.
Dosisnya :
Tetrasiklin HCl: 4 x 5 mg sehari selama 1 minggu atau 4 x 250 mg sehari selama 2
minggu
Doksisiklin : 2 x 100 mg sehari selama 7 hari
Eritromisin : untuk penderita yang tidak tahan tetrasiklin, wanita hamil, atau berusia
kurang dari 12 tahun, 4 x 500 mg sehari selama 1 minggu atau 4 x 250 mg sehari
selama 2 minggu.
Azitromisin : 1 gram dosis tunggal
Spiramisin : 4 x 500 mg sehari selama seminggu
Ofloksasin : 2 x 200 mg sehari selama 10 hari
PROGNOSIS
Kadang-kadang tanpa pengobatan, penyakit lambat laun berkurang dan akhirnya
sembuh sendiri (50-70% dalam waktu kurang lebih 3 bulan). Setelah pengobatan sekitar 10%
penderita akan mengalami eksaserbasi/rekurens.

Kesimpulan

Penyebab

Vaginitis

Vaginitis

Vaginosis

Trikomoniasis

Kandidiosis

Bakterialis

Vaginitis

Vaginitis

C. trachoma

Gonore

Trichomonas

Candida

Gardnella

Chlamydia

Neisseria

vaginalis

albicans

vaginalis yang

trachomatis

gonorrhoeae

diduga ada
interaksi
dengan bakteri

P a g e | 41

anaerob
Sekret

Hijau

Putih dan

Abu-abu, putih

Flour albus

Warna nanah

kekuningan,

seperti dadih

encer,

ringan, warna

atau

berbuih,

susu kalau

homogen,

seperti susu dan

mukopurulent

sekretnya

sudah parah

berbau amis,

berlendir nyeri

yang kuning

banyak dan

warnanya

sekretnya

abdomen

kehijauan.

tergenang pada

kekuningan,

melapisi

bagian bawah,

forniks vagina,

sekretnya

dinding vagina,

jumlah sedikit.

berbau

mungkin

dan jumlah

maqlodorous

encer tetapi

sekret sedikit.

khasnya
kental,
berbau,
jumlah sekret
tidak
sebanyak
Trichomonas
Keluhan dan

Pruritus, nyeri

Pruritus, luka- Bau yang amis

Nyeri saat

Biasanya

Gejala lain

saat miksi,

luka pada

miksi, uretritis

asimptomatik,

uretritis dan

vagina, nyeri

dan dispareuria

kalau sudah

dispareuria

saat urinisasi,

parah, gatal,

uretritis dan

berbau dan

dispareuria

uretritis.

Vulva

dan lembab

Vestibula dan

Vulva dan

Biasanya

Kalau sudah

Kalau sudah

labia minora

kulit sekitar

normal

parah kulit

parah kulit

berwarna

mengalami

mengalami

mengalami

merah

inflamasi

edema dan

edema dan

sampai

rapuh akan

rapuh akan

membangkak

draintase dari

draintase dari

mukopurulent

mukopurulent

P a g e | 42

Mukosa

Tampak merah

Sering kali

Biasanya

Di bagian

Tampak

Vagina

yang difus

berwarna

normal

serviks tampak

kemerahan, Gl.

dengan bintik

merah dengan

folikel-folikel

Bartholini dan

bintik

bercak sekret

kecil yang

skene

granuler kecil

putih yang

mudah

mengalami

yang merah

lengket.

berdarah.

pembengkakan.

atau petekie
pada forniks
posterior.
Pada kasus
yang ringan
terlihat normal.

Mukosa akan

Pada kasus yang

berdarah

ringan terlihat

ketika

normal.

dikerok.
Pada kasus
yang ringan
terlihat
normal.

Masa Tunas

4 hari 4

2-3 hari

4 hari

minggu

2 hari -

4 hari

3minggu

Evaluasi

Tes dengan

Pemeriksaan

Tes dengan

Deteksi asam

Pewarnaan

Laboratoriu

sedian Saline

KOH untuk

sedian Saline

nukleat seperti

gram, biakan

untuk

melihat hifa

untuk melihat

PCR dan LCR,

pada media

Trichomonas

Candida

sel-sel stipple

biakan, kultur

Thayer martin

borders dan tes

dan pewarnaan

agar.

Whiff

gram

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda A, Hamzah M, Alsah S. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi 6; cetakan 2.
Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2011. Hal 366-85.
2. Naber KG, Bergman B, Bishop MC, Johansen TEB, Botto H, Lobel B. European
Association of Urology : Guidelines on Urinary and Male Genital Tract Infections. 2nd
edition. China: Saunders Elsevier Inc. 2001. Hal 892-99.
3. Price SA, Wilson LM. Patafisiologi; konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi 6;
Vol. 2. Jakarta: Penerbit Buku Kodokteran EGC. 2006. Hal 133-143.

P a g e | 43

4. Underwood JCE. Patologi umum dan sistemik. Edisi 2; Vol. 2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 2000. Hal 842-843.
5. Ganiswarna SG, dkk. Farmakologi dan terapi. Edisi 4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
2005. Hal 622-50.
6. Chiwel, Asuhan Keperawatan Pasien dengan Penyakit Gonore, 11
Agustus 2008, diunduh dari :
http://wulandspirit.blogspot.com/2011/04/makalah-penyakitgonore.html, 30 Januari 2014
7. Chan ECS, Pelczar MJ. Dasar-dasar mikrobiologi II. Jakarta:UI-Press. 2001. Hal 78494.
8. Center for Disease Control and Prevention. Chlamydia. 28 Januari 2011 [disitasi 25
April 2011]. Tersedia dari URL: http://www.cdc.gov/std/treatment/2010/Chlamydia
-infections.htm
9. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. Ilmu penyakit kulit kelamin. Jakarta: Pusat FKUI;
2010.h.106-385.
10. Scheinfeld, Noah S. Candidiasis Cutaneous. 2008, diunduh dari :
URL:http://www.emedicine.com, 30 Januari 2008