Anda di halaman 1dari 46

Laporan Praktikum UOP 2

Modul WETTED WALL COLUMN

Kelompok 10:
Agil Ramadhan
Aisyah Nur
Jupiter Eresta

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA

TUJUAN
1.

Menentukan besarnya koefisien perpindahan massa rata-rata dari


lapisan tipis air ke dalam aliran udara.

2.

Mengamati karakteristik perpindahan massa air-udara pada suatu


dinding kolom yang terbasahi.

3.

Mengamati dan memahami hubungan antara kelembaban udara


relative (HR) dan absolut (H) terhadap laju alir fluida di kolom dinding
terbasahi (Wetted Wall Column).

4.

Mengamati dan memahami laju alir fluida terhadap koefisien


perpindahan massa (kG) dari lapisan tipis air ke dalam aliran udara.

5.

Memahami hubungan antara bilangan Sherwood terhadap koefisien


perpindahan massa (kG) air ke udara dalam WWC.

Difusi

merupakan peristiwa mengalirnya atau berpindahnya suatu zat


dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang
berkonsentrasi rendah secara konstan.

Perbedaan konsentrasi yang ada pada dua larutan disebut


gradien konsentrasi.

Difusi akan terus terjadi hingga seluruh partikel tersebar luas


secara merata atau mencapai keadaan kesetimbangan dimana
perpindahan molekul tetap terjadi walaupun tidak ada
perbedaan konsentrasi.

Mekanisme difusi
Difusi dapat terjadi melalui dua mekanisme, yaitu:
difusi molekular (molecular diffussion) adalah mekanisme yang
sering terjadi pada fluida yang tidak mengalir.
konveksi (mass transfer convection) adalah mekanisme
perpindahan yang melibatkan adanya konveksi paksaan untuk
meningkatkan laju perpindahan.

Hukum Fick Pertama

Laju perpindahan massa A dalam arah z per-satuan luas (flux A0)


disefinisikan sebagai berikut:

J A D AB

C A
C A
CD AB
z
z

Persamaan diatas disebut hukum ficks pertama. Hukum Fick Pertama


didasarkan adanya pemahaman mengenai gradien konsentrasi antara
dua titik akibat terjadinya difusi molekular (molecular diffusion), yang
dapat didefinisikan sebagai proses perpindahan atau gerakan
molekul-molekul secara individual yang terjadi secara acak.

Hukum Fick kedua

Pada persamaan Hukum Fick kedua mekanisme perpindahan


massa konveksi mulai diperhitungkan karena fluida mengalami
pergerakan sehingga mempengaruhi proses difusi

cA
dx A
N A ( N A N B ) cDAB
c
dz

Perpindahan Massa Pada


Dinding Kolom Yang Terbasahi
Proses difusi dalam percobaan ini
berlangsung pada daerah antar muka
(interface) antara aliran udara dan aliran
air. Aliran air yang menyusuri dinding kolom
diusahakan membentuk lapisan tipis atau
film yang kemudian akan kontak dengan
aliran udara yang mengalir di tengah
kolom.
Percobaan ini divariasikan:
Laju alir udara
Laju alir air (laminer, transisi, dan turbulen)

Neraca Massa WWC

kG . P
1
dy
1

ln

G
(1 yi ) (1 y )( yi y ) (1 yi )

yi y A 0

yi y AL

1 y AL


1 y AO

Bilangan Sherwood

Bilangan Reynold

Bilangan Schmidt

PERALATAN

PERALATAN

Kompresor
untuk mengalirkan udara ke dalam sistem

Termometer
mencatat temperatur udara masukan, temperature udara keluaran baik dry maupun
wet.

Relative Humidity Display


sebagai pencatat nilai humidity

Kolom udara
sebagai tempat terjadinya proses kontak antara air dan udara

Sumber air
berasal dari lab POT yang dialirkan ke alat melalui selang

PROSEDUR
1.
2.

3.

4.

5.

Menghidupkan kompresor untuk mengisi persediaan udara pasokan


Mengalirkan udara ke dalam kolom. Lalu mengatur kecepatan aliran yang
sesuai dengan menggunakan katup jarum. Mencatat temperatur, tekanan
udara dalam kolom.
Mengalirkan air ke dalam kolom sesuai dengan kecepatan yang diinginkan
(laminer, transisi, atau turbulen) dan menjaganya supaya seluruh kolom
dapat terbasahi secara merata.
Membiarkan keadaan ini berlangsung sampai keadaan steady tercapai.
Kemudian mencatat temperatur udara masuk, udara keluar, air masuk, air
keluar, tekanan operasi dan kelembaban relatif udara keluar.
Mengulangi percobaan dengan mengubah laju alir sebanyak dua kali yaitu
untuk aliran transisi dan turbulen, masing-masing dengan perubahan laju
alir udara sebanyak enam kali. Mencatat senua data yang diperlukan seperti
pada poin empat.

DATA PERCOBAAN
laminar

transisi

turbulen

Q
Twet T out Humidi
v (m/s)
Re
delta P Tin (C)
(m3/s)
(C)
dry (C) ty (%)
0,00003
844,856
32
0,017509981
1
25
27
28
76
2
6
0,00003
844,856
32
0,017509981
2
25
27,5
28
76
2
6
0,00003
844,856
32
0,017509981
3
25
27,5
28
76
2
6
Q
Q
Twet
Tdry Humidi
v (m/s)
Re
delta P Tin (C)
(cm3/s) (m3/s)
(C)
(C)
ty (%)
3168,21
120 0,00012 0,06566243
1
26
28,3
28,6
76
2
3168,21
120 0,00012 0,06566243
2
26
28,2
28,6
76
2
3168,21
120 0,00012 0,06566243
3
26
28
28,3
76
2
Q
Q
Twet
Humidit
v (m/s)
Re
delta P Tin (C)
Tdry (C)
(cm3/s) (m3/s)
(C)
y (%)
4224,28
160
0,00016 0,08755
1
26
28,5
28,7
76
3
4224,28
160
0,00016 0,08755
2
26
28,6
28,7
76
3
4224,28
160
0,00016 0,08755
3
26
28,1
28,3
76
3

Q (cm3/s)

ALGORITMA
PENGOLAHAN DATA
1. Mencari Tbulk dan Tint

7. Menghitung kecepatan udara (vudara)

2. Menghitung HA0, HAL, dan Haint


dengan menggunakan
psychromethric calculator
3. Menghitung fraksi mol uap air
(YA0, YAL, YAi)

8. Menghitung laju alir massa udara


(G)
9. Menghtung koefisien perpindahan
massa (kG)

4. Menghitung tekanan parsial


(PA0, PAL, PAi)

11. Menghitung PBM

5. Menghitung densitas udara


(udara)
6. Menghitung laju alir volumetrik
dari udara (Qudara)

10. Menghitung difusivitas air di udara


(DAB)
12. Menghitung Sh, Re, dan Sc untuk
udara

Mencari Tbulk dan Tint


laminar
delta P
1
2
3

Tbulk (C)
26,5
26,5
26,5

transisi
delta P
1
2
3

Tbulk (C) Tint (C)


27,3
27,797
27,3
27,74757
27,15
27,57282

Tint (C)
26,74922
26,99691
26,99691

turbulen
delta P
1
2
3

Tbulk (C) Tint (C)


27,35
27,92105
27,35
27,97034
27,15
27,62228

Menghitung HA0, HAL, dan Haint


HA0: kelembaban absolut aliran udara masuk
HAL: kelembaban absolut aliran udara keluar
HAint: kelembaban absolut aliran udara pada suhu interface
Satuan dalam gr H2O/gr udara

LAMINAR

TRANSISI

Ha0
HaL
(gr/gr) (Gr/gr)

Haint
(gr/gr)

Ha0
HaL
Haint
(gr/gr) (Gr/gr) (gr/gr)

0,0248 0,0243
0,0238 0,0237
0,0238 0,0237

0,026
0,0258
0,0258

0,029 0,0276 0,0258


0,0282 0,0274 0,0283
0,0278 0,027 0,0279

TURBULEN
Ha0 HaL Haint
(gr/gr (Gr/gr (gr/gr
)
)
)
0,02830,02790,0284
0,02880,02810,0289
0,027 0,0271 0,028

Menghitung YA0, YAL, YAi

MA: berat molekul air (18 g/mol)

MB: berat molekul udara (29 g/mol)


Y yang dihitung sesuai dengan H yang digunakan

laminar
Ya0
0,03842
0,036928
0,036928

YaL
0,037675
0,036779
0,036779

Yai
0,040205
0,039908
0,039908

transisi
Ya0
0,044637
0,043459
0,042869

YaL
0,042574
0,042278
0,041687

Yai
0,039908
0,043606
0,043016

turbulen
Ya0
0,043606
0,044343
0,041687

YaL
0,043016
0,043311
0,041835

Yai
0,043754
0,04449
0,043164

Menghitung PA0, PAL, PAi

Pt merupakan tekanan total (1 atm)

Nilai P yang dihitung sesuai dengan


H yang digunakan (dalam satuan atm)

laminar
Pa0 (atm) PaL (atm)
0,038423 0,037678
0,036934 0,036784
0,036937 0,036787
transisi
Pa0 (atm)
0,04464
0,043465
0,042878

Pai (atm)
0,040208
0,039914
0,039917

PaL (atm)
0,042577
0,042284
0,041696

Pai (atm)
0,039911
0,043613
0,043026

turbulen
Pa0 (atm) PaL (atm)
0,043609 0,04302
0,044349 0,043318
0,041696 0,041844

Pai (atm)
0,043757
0,044496
0,043174

Menghitung udara

udara (g/l)
delta P
laminar transisi
1
2
3

turbule
n

1,1866 1,1829 1,1829


1,1869 1,1829 1,1829
1,187 1,1831 1,183

Menghitung Q dan v
Q laju alir volumetrik udara (ml/s).
Dihitung dengan Grafik kalibrasi manometer
V kecepatan udara (cm/s) = Q/A

delta
1
2
3

Q
P
lamina
(ml/s)
r
950 51,983
1350 73,87
101,22
1850
9

v (cm/s)
transisi
51,983
73,87
101,229

turbul
en
51,983
73,87
101,22
9

Menghitung G dan kG

laminar
delta
P
1
2
3

transisi

turbulen

kG
kG
kG
G
G
G
(mol/cm
(mol/cm
(mol/cm
(mol/s)
(mol/s)
(mol/s)
2satm)
2satm)
2satm)
0,0389 0,000772 0,0387
0,0552 0,000154 0,005
0,0757 0,000211 0,0754

0,00127
0,00692
0,00948

0,0387 0,003568
0,055 0,006557
0,0755 0,000455

Menghitung DAB

delta P

DAB (cm2/s)
laminar

transisi

turbulen

22389253204 22572343229 22594076401

22430795979 22562013864 22601040625

22429134008 22529758072 22538412080

Menghitung PBM
PBL = PT PAL
PBi = PT PAi
delta P
1
2
3

PBM

PBL PBi
PBL

ln
PBi

Pbm
laminar
transisi
turbulen
0,96113077 0,95882973 0,95668584
9
9
8
0,96179827 0,95719952
8
9
0,95624107
0,96186954 0,95786123 0,95771347
6
7
4

Menghitung bilangan Sh, Re, dan Sc untuk


aliran udara

delta
P
1
2
3

laminar
Sh

Re

transisi
Sc

Sh

Re

turbulen
Sc

Sh

Re

Sc

3,507E- 1644, 4,47E- 5,935E- 1639,


1,67E- 1639,1 4,43E4E-17
15
6
17
15
1
14
6
17
7,034E- 2337, 4,46E- 3,223E- 2329,
3,07E- 2329,5 4,42E4E-17
16
3
17
14
5
14
1
17
9,641E- 3203, 4,46E- 4,395E- 3192,
2,11E- 3192,5 4,44E4E-17
16
2
17
14
5
15
3
17

Menghitung k, a, b

Menghitung m dan c untuk Aliran Laminer

m1: -1,9875
m2: 801,85
m3: -0,0027
c1: -8,1897
c2: 0,9774
c3: 0,7466

Menghitung m dan c untuk Aliran Transisi

m1: 3,0383
m2: 858,66
m3: 0,0028
c1: -23,906
c2: 14028
c3: -16,363

Menghitung m dan c untuk Aliran Turbulen

m1: -3,0093
m2: -916,22
m3: 0,0036
c1: -3,8713
c2: -14998
c3: -16366

Menghitung k, a, dan b
k

laminar
a

0,0032 -12,278

transisi
a

2,404

858,7
6

turbulen
a

b
-3,29E0,916
03
2

Analisis Percobaan

Tujuan
Menentukan besarnya koefisien perpindahan massa rata-rata dari
lapisan tipis air yang mengalir secara turbulen ke dalam aliran udara
Mengamati karakteristik perpindahan massa air-udara pada suatu
dinding kolom yang terbasahi.

Fluida yang digunakan untuk dikontakkan adalah air dan udara.

Percobaan ini pada air aliran laminar, transisi, dan turbulen.

Variabel bebas adalah besar perbedaan tekanan (h), bernilai 1


cm, 2 cm, dan 3 cm. Tujuannya ialah untuk melihat pengaruh
perbedaan tekanan terhadap proses perpindahan massa.

Analisis Percobaan

Perbedaan konsentrasi pada dua fase mengakibatkan pergerakan molekul


dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah.

Kontak yang terjadi antara air dan udara merupakan peristiwa perpindahan
massa, yaitu perpindahan air dari kolom ke udara.

Saat udara dan air saling berkontak di dalam kolom, molekul-molekul air
berdifusi ke udara sehingga mengakibatkan kandungan air di udara
meningkat.

Saat air dan udara saling kontak di dalam kolom, sistem akan berusaha
mencapai kesetimbangan dengan difusi antara molekul yang berkontakkan.

Analisis Percobaan
Langkah yang dilakukan:
1.Kompresor dinyalakan untuk mengalirkan udara ke kolom.
2.Air dialirkan dari atas kolom hingga melapisi seluruh dinding kolom secara
merata dan membentuk suatu lapisan film pada kolom.
3.Aliran yang digunakan laminar, transisi, atau turbulen, bukaan valve untuk
mengalirkan air diatur bukaannya.
4.Hitung volume air yang keluar tiap detik dihitung sehingga dapat dihitung laju
alir air
5.Hitung besar bilangan Reynoldnya. Bilangan Reynold (Re) ini digunakan
untuk mengetahui jenis aliran air yang digunakan.

Analisis Percobaan
1.

Pada percobaan ini, variabel yang diamati adalah suhu udara masuk (Tin
dry), suhu udara keluar (Tout dry), Twet, dan kelembaban udara (H).

2.

Tin dry merupakan suhu udara kering sebelum berinteraksi dengan air
(masuk kolom) sedangkan Tout dry merupakan suhu udara setelah
berinteraksi dengan air (keluaran kolom).

3.

Twet merupakan suhu yang dianggap sebagai referensi dimana pada Twet,
kelembaban relatifnya diasumsikan bernilai 100% atau jenuh.

4.

Proses perpindahan massa yang terjadi diamati dari perubahan


kelembaban udaranya (H).

Analisis Hasil
Hubungan Laju Alir Udara terhadap Tin dry, Tout dry dan Twet
Dari data hasil percobaan T out dry > T wet > T in dry untuk setiap h yang berbeda
h merupakan nilai beda tekanan pada orifice antara kompresor dan kolom

Hubungan Laju Alir Udara terhadap Difusifitas


Pada data hasil pengamatan, semakin besar laju alir udaranya konstanta
difusifitasnya semakin kecil.
Dengan meningkatnya kecepatan udara maka waktu kontak antara udara
dengan air semakin cepat sehingga menyebabkan semakin sedikitnya air yang
akan berdifusi ke udara dan menyebabkan konstanta difusifitas yang semakin
kecil.

Analisis Hasil
Hubungan Laju Alir Udara dengan Koefisien Pindah Massa
Meningkatnya kecepatan aliran udara akan menyebabkan proses
difusi semakin cepat dan interaksi air dan udara menjadi lebih cepat.
Proses kesetimbangan sulit untuk tercapai dan perpindahan massa air
dari fasa cair ke gas menjadi semakin sedikit.
Terjadi penurunan koefisien perpindahan massa seperti yang
ditunjukan pada hasil pengamatan.

Analisis Hasil
Hubungan dengan bilangan tak berdimensi
Bilangan Sherwood
menunjukkan besarnya kemampuan terjadinya perpindahan massa
melalui proses difusi, dapat dilihat bahwa terdapat perbandingan antar
koefisien transfer massa dengan nilai difusivitas dari air ke udara.
Nilai kG yang besar akan menyebabkan bilangan Sh yang besar.
Nilai dari koefisien perpindahan massa (kG) besar, menunjukkan bahwa
perpindahan massa yang terjadi pada sistem juga besar.

Analisis Hasil
Hubungan dengan bilangan tak berdimensi
Bilangan Reynold
Penentu karakteristik fluida yaitu fluida alir bersifat turbulen, transisi atau
laminar.
Mekanisme transfer massa yang terjadi karena bilangan reynold hanya
mengidentifikasikan karakteristik aliran fluida yang terjadi.
Untuk aliran mempunyai bilangan Reynold kecil dari 2100 disebut
fenomena aliran laminer.
Aliran transisi memiliki bilangan Reynold antara 2100 sampai 3000,
Untuk Re lebih besar dari 3000 dikatakan fenomena aliran turbulen.

Analisis Hasil
Hubungan dengan bilangan tak berdimensi
Bilangan Schmidt
Berbanding lururs dengan Re
Bilangan Schmidt berbanding terbalik dengan koefisien difusifitas.
Menunjukkan hubungan karakteristik fluida dengan kemampuannya berdifusi.
Aetika aliran udara semakin cepat maka waktu kontak antara air dan udara
semakin sedikit sehingga kemampuan berdifusi air ke udara semakin kecil
Dari data hasil percobaan, semakin besar laju alir udara akan meningkatkan nilai
bilangan Schmidt.
Dengan meningkatnya bilangan Reynold dan Schmidt maka bilangan
Sherwoodnya juga akan semakin meningkat sehingga dapat diketahui dengan
meningkatnya laju alir udara, bilangan Sherwoodnya juga akan cenderung semakin
meningkat.

Analisis Hasil

Dengan meningkatnya bilangan Reynold dan Schmidt maka bilangan


Sherwoodnya juga akan semakin meningkat yang berarti dengan
meningkatnya laju alir udara, bilangan Sherwoodnya juga akan
semakin meningkat.

Pada percobaan ini nilai K tidak dapat dihitung karena nilainya terlalu
kecil, disebabkan oleh data yang didapatkan pada saat percobaan
tidak terlalu baik.

Analisis Kesalahan

Kondisi steady state belum tercapai pada saat pengambilan


data sehingga data yang diperoleh belum menunjukan keadaan
yang setimbang

Kesulitan mengatur tinggi liquid pada manometer

Kesimpulan

Re semakin meningkat seiring dengan peningkatan laju alir udara.

Hal ini membuktikan bahwa peristiwa perpindahan terjadi karena


adanya perbedaan konsentrasi.

Bilangan Sherwood, Schmidt, dan Reynold berhubungan satu sama


lainnya melalui persamaan, dan hal ini dibuktikan dalam pengolahan
data.

Semakin besar kecepatan udara maka konstanta difusivitasnya


semakin kecil.

Saran

Tunggu 15 menit sebelum mnegambil data agar kondisi steady


Sebelum praktikum pastikan kapas pada thermometer sudah basah.
Waktu pengukuran antar aliran diperpanjang, agar setiap aliran dalam
keadaan steady saat diukur.

Daftar Pustaka

Treybal, Robert E. 1981. Mass Transfer Operation 3rd ed.


Tokyo: McGraw-Hill.
Perry, Robert H. & Don W. Green. 1999. Perrys Chemical
Engineers Handbook 7th ed. New York: McGraw-Hill.