Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM KKE

KOMPRESSOR

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 6
RINALDY SURANTA / 1106009495
FAHRI ALI IMRAN / 1106015831
FAIZAL RISWANDI / 1106015674
GEMA RAMADHAN A.W / 1106006215
KEVIN IRDYAN H. / 1106004531
SEKAR SINARINGATI / 1106008795
ASISTEN: GENDI PATIH
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2014

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Alhamdulillah, merupakan satu kata yang sangat pantas penulis ucakan kepada
Allah SWT, yang karena bimbingan-Nya maka penulis bisa menyelesaikan Laporan
Praktikum KKE Kompressor ini.
Laporan ini dibuat dengan berbagai observasi dan setelah melakukan praktikum dalam jangka
waktu tertentu sehingga menghasilkan karya yang bisa dipertanggungjawabkan hasilnya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak terkait yang telah membantu penulis dalam
menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada laporan ini.
Oleh karena itu penulis mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang
bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Terima kasih, dan semoga laporan ini bisa memberikan manfaat positif bagi kita semua.

Jakarta, 18 Mei 2014

Rinaldy Suranta

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................ii
DAFTAR ISI...............................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................1
1.1 Latar
Belakang....................................................................................1
1.2 Tujuan Praktikum...............................................................................1
BAB II DASAR TEORI..................................................................................2
2.1 Teori Umum........................................................................................2
2.2 Data Teori...........................................................................................3
2.3 Data Teknik.........................................................................................4
2.4 Aspek-Aspek Teoritis Tambahan.........................................................9
BAB III PENGOLAHAN DATA....................................................................12
3.1 Analisa Massa Udara.........................................................................12
3.2 Compression Ratio............................................................................12
3.3 Temperature Ratio............................................................................13
3.4 Indeks Politropis................................................................................13
3.5 Kerja Politropis..................................................................................14
3.6 Efisiensi Volumetris...........................................................................15
3.7 Kerja Isothermal................................................................................16
3.8 Kerja Mekanis....................................................................................16
3.9 Input Daya Motor Listrik....................................................................17
3.10 Data dan Grafik................................................................................17
BAB IV ANALISIS.......................................................................................19
4.1 Analisa Alat........................................................................................19
4.2 Analisa Percobaan.............................................................................19
4.3 Analisa Hasil.......................................................................................20
4.4 Analisa Grafik.....................................................................................20
4.5 Analisa Kesalahan..............................................................................20
BAB V KESIMPULAN.................................................................................21
LAMPIRAN...............................................................................................22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Memenuhi aspek praktikum dari perkuliahan KKE.


Memenuhi keingintahuan penulis mengenai cara kerja sebuah kompressor torak
tingkat pertama dan tingkat kedua.

1.2 Tujuan Praktikum

Mendalami pengetahuan penulis tentang teori-teori Termodinamika.

Menyelidiki sifat-sifat kompressor torak bertingkat ganda atau lebih.

BAB II
DASAR TEORI

2.1 Teori Umum


Kompresor udara Bertingkat Ganda terdiri dari GT 102 (tingkat pertama0 dan
GT 102/2 (tingkat kedua) yang masing-masingnya terpasang pada sebuah lori yang
terpisah.
Tingkat pertama dapat digunakan secara terpisah atau tersendiri tanpa tingkat
kedua, sedangkan bila dinginkan sebuah kompressor bertingkat ganda, maka dengan pipa
udara (hoses) tingkat pertama dapat dihubungkan pada tingkat kedua secara tepat.
Sehingga akan terbentuk sebuah kompressor bertingkat ganda lengkap dengan
intercooling.
TINGKAT PERTAMA (GT 102)
Tingkat pertama ini mempunyai dua silinder dengan sistem pendinginan udara.
Digerakkan oleh DC Dynamometer Motor yang kecepatannya dapat diatur untuk
meneruskan putaran moto kepada k0mpressor V-belt dengan perbandingan kecepatan
3,57:1.
Kecepatan kompressor dapat diukur dengan tachometer listrik dan dapat juga
dibaca langsung pada panel instrumen. Suatu pegas pengimbang dipasang untuk
mengukur Momen Torsi Motor, sedang Daya Listrik dapat siukur dengan instrument
yang terpasang pada kontrol kabinet. Sebuah orifice dipasang untuk mengukur jumlah
aliran massa udara dari kompressor.
Temperatur dapat diukur pada setiap titik yang dikehendaki dalam siklus dengan
menggunaan Multi Point Temperatur dan Thermocouple. Temperatur tabung kering
dan tabung basah digunakan untuk mengukur kelembaban udara sebelum dan sesudah
kompresi.
TINGKAT KEDUA (GT 102/2)
Kedua ini juga digerakkan oleh sebuah DC Dynamometer Motor yang
kecepatannya dapat diatur seperti pada tingkat pertama. Putaran motor diteruskan kepada
kompressor dengan menggunakan V-belt dengan perbandingan 3,57:1.
Tingkat kedua ini mempunyai 2 (dua) silinder yang mempunyai ukuran yang
lebih kecil dari silinder tingat pertama. Di sini tidak dibutuhkan receiver. Pemakaian
daya tekanan dan temperatur pada setiap titik dalam siklus diukur dengan peralatan yang
sama dengan peralatan pada tingkat pertama.

Pada tingkat kedua ini dipasang sebuah intercooler dengan pendingin air. Udara
bertekanan dari tingkat pertama dilewatkan melalui intercooler sebelum memasuki
tingkat kedua atau dapat langsung memakai tingkat kedua tanpa harus melewati
intercooler. Sebuah instrument dipasang untuk mengukur flowrate dari air pendingin
serta temperatur masuk dan keluar udara dan air.
Sebagai alat tambahan pada tiap tingkat dipasang penunjuk tekanan Maihak
Indicator yang berguna untuk pembuatan P-V diagram. Alat ini dipasang di kepala
silinder dari setiap kompressor dan digerakkan oleh suatu mekanisme yang dihubungkan
pada bagian crank case.
Setiap motor dilengkapi dengan panel kontro yang berisi variable transformer
dan rectifier serta dilengkapi pula dengan alat pengatur putaran. Kobtrol unit kabinet
hanya dapat dihubungkan dengan arus listrik satu fase pada tegangan 220-240 Vot dan
frekuensi 50-60 Hz. Pemakaian daya maksimum pada setiap tingkat tidak akan melebihi
2,2 kW.

2.2 Data Teori


Instrument yang dibutuhkan sebagai berikut
Tingkat Pertama (GT 102)
Motor:
a. Spring balance untuk menghitung momen
b. Voltmeter
c. Ammeter
Kompressor: Electrical Tachometer
Tekanan Udara:
a. Bourdon gauge untuk delivery pressure
b. Manometer untuk inlet pressure
Massa udara yang mengalir:
a. Sharp edged orifice
b. Dua manometer untuk orifice differential dan down stream pressure
Temperatur:
Thermocouple dengan multi point indicator yang berfungsi sebagai pemungut:

Temperatur dari udara yang akan masuk ke dalam kompressor

Temperatur dari udara yang keluar

Temperatur udara yang masuk ke dalam orifice

Humidity: Thermometer tabung kering dan tabung basah untuk inlet dan delivery
Tingkat Kedua (GT 102/2)
Motor:
a. Spring balance untuk menghitung momen
b. Voltmeter
c. Ammeter
Kompressor: Electrical Tachometer
Tekanan Udara: Bourdon gauge untuk delivery pressure
Intercooler: Rotameter untuk water flow
Temperatur:
Thermocouple dengan multi point indicator yang berfungsi sebagai pemungut:

Temperatur udara masuk intercooler

Temperatur udara keluar intercooler

Temperatur air masukintercooler

Temperatur air keluar intercooler

Temperatur udara masuk kompressor

Temperatur udara keluar kompressor

2.3 Data Teknik


Tingkat Pertama (GT 102)
Number of Cylinder

: 2 (dua)

Bore

: 66,7 mm (2 5/8)

Stroke

: 63,5 mm (2 )

Swept Volume

: 374 Ltr/menit (13,2 ft3/menit) pada putaran 850 rpm

Compressor Speed Range

: 425 850 rpm

Max. Delivery Pressure

: 10,3 bar (150 psig)

Drive Belt Ratio

: 3,57:1

Motor Power

: 2,2 kW

Free Air Delivery

: 262 Ltr/menit (up to 9,25 ft3/menit)

Air Receiver Volume

: 107 Liter (3,37 ft3)

Tingkat Kedua (GT 102/2)


Number of Cylinder

: 2 (dua)

Bore

: 50,8 mm (2)

Stroke

: 50,8 mm (2)

Swept Volume

: 156 Ltr/menit (6,1 ft3/menit) pada putaran 850 rpm

Compressor Speed Range

: 425 850 rpm

Max. Delivery Pressure

: 10,3 bar (150 psig)

Drive Belt Ratio

: 3,57:1

Motor Power

: 2,2 kW

Motor Speed Ranger

: 0 3000 rpm

Free Air Delivery

: 262 Ltr/menit (up to 9,25 ft3/menit)

Air Receiver Volume

: 107 Liter (3,37 ft3)

Intercooler Water Flow

: 200 Ltr/jam (44 gph)

GABUNGAN TINGKAT PERTAMA DAN KEDUA (TINGKAT GANDA)


Dimension

Electrical Supply

: Long

= 1450 mm (55)

Wide

= 610 mm (24)

Height

= 1780 mm (70)

: 220 240 Volt, 50 60 Hz


Single Phase 2,2 kW for cash stager

Weight

: GT 102/2 = 182 kg (400 lb)


Dalam operasinya, Reciprocating Air Compressor (RAC) ataupun sebuah

kompressor adalah mengisap sejumlah udara dengan volume tertentu masuk ke dalam
silinder. Udara yang diisap di dalam silinder kemudian ditekan secara politropis,
sehingga mengakibatkan suatu kenaikan tekanan dan temperatur. Lalu tekanan ini
mengalir melalui Spring Loaded Out Disc Valve menuju discharge system.
Udara akan keluar secara kontinyu sampai piston mencapai titik mati bawah
(TMB), sejumlah udara berikutnya akan terisap melalui Spring Loaded Disc Valve dan
proses akan berulang kembali. Dari P-V diagram yang idela untuk kompressor satu
tingkat di bawah ini dapat dilihat siklus yang dijalani oleh udara tersebut.

Gambar 1. Digram P-V Kompressor Ideal

Dari suatu siklus kompressor, proses penekanan dan pengembangan tidak


mengikuti proses adiabatis ataupun isotermal. Hal ini menunjukkan indeks politropis
untuk proses penekanan dan pengembangan (n) terletak di antara 1,0 dan 1,4 dimana PV n
= konstan. Kerja politropis Vpi = yang ditunjukkan oleh luas diagram P-V adalah:

Vpi= P dw=

n
=P2 V 2=P1 V 1
n1

Persamaan tersebut juga dapat ditulis:


W p 1=m 2 RT 1

(n)
n1
( p
2)
n1
n

Diagram di bawah ini memperlihatkan bentuk dari diagram P-V aktual yang jeas
berbeda dibandingkan diagram P-V ideal, yang terlihat seperti pada gambar terlihat titiktitik di bagian ujung mempunyai bentuk yang membulat.

Gambar 2. Diagram P-V Kompressor Aktual dan Perhitungan Kerja

Dari diagram dan perhitungan diatas dapat pula didapatkan W1 dengan


mengkalikan Pm, Ap, Ls, dan N. Diagram ini memperlihatkan sebuah diagram P-V yang
ideal dari sebuah kompressor bertingkat ganda. Di sini penekanan berlangsung dalam
dua tingkat, yang mana akan ada suatu tekanan perantara (P 1) yang terletak diantara P1
dan P2. Dalam hal ini dianggap tidak ada tekanan yang hilang diantara tingkat tersebut.

Gambar 3. Diagram P-V Kompressor Tingkat Ganda

Dengan menggunakan persamaan (1) untuk siklus penekanan didapatkan:

)(

n1

n 1

n
n
P1 n 1 +ma RT 1 (
) P2 n 1
n1
n1

W p=m' a RT 1

W p=m' a RT 1

( )(

n1

) (

n1

n
P n 1 +T 1 P n 1
n1
1

Salah satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam pembahasan kompressor adalah
mengenai efisiensi, yang mana efisiensi volumetris praktis sebuah kompressor. Efisiensi
volumetris adalah perbandingan antara besarnya massa udara yang dikeluarkan
sebenarnya dengan harga maksimum secara teoritis.
Efisiensi volumetris dapat didefinisikan sebagai berikut:

vol=

V a V d
Vs

Karena Vs = Va, maka persamaan (4) dapat juga ditulis sebagai berikut:

vol=

V a V d V s +V c V d
Vc Vd
=
=1
1
Vs
Vs
V s Vc

Vc
Karena: PdVd = PcV , maka: vol=1
Vs
n

n
c

Karena: Pc/Pd = p, maka: vol=1

Vc
Vs

[( ) ]
Pc
Pd

1/ n

[( ) ]
1
1
p
n

Dari persamaan (5) di atas dilihat bahwa apabila tekanan naik akan
menyebabkan efisiensi volumetris turun. Oleh karena itu untuk mendapatkan nilai
perbandingan efisiensi volumetris yang tinggi pada umumunya digunakan kompressor
tingkat ganda atau lebih. Hal ini akan lebih menyempurnakan jumlah udara yang
diberikan pada suatu nilai perbandingan dan dapat mengurangi jumlah daya yang
dibutuhkan untuk mencapai nilai perbandingan tertentu.

2.4 Aspek-Aspek Teoritis Tambahan


Berikut ini adalah ringkasan teori yang berhubungan dengan teori psikometris dan
juga suatu analisa termodinamika dari sebuah intercooler.
SPESIFIKASI HUMIDITY
Udara dalam keadaan tekanan normal terdiri dari sejumlah uap air. Kandungan
uap air tersebut banyaknya tergantung pada keadaan atmosfer. Dalam suatu proses
penekanan serta kemudian dianjurkan dengan perbandingan pada eadaan normal, maka
perbandingan campuran itu dapat berubah. Spesific Humidity adalah:

W=

Massa Uap Air


Massa Udara Kering

atau W =

m 'a V a
=
ma V v

Dimana: Va dan Vv memiliki volume spesifik


Bila dianggap uap air mempunyai sifat sebagai gas ideal, kemudian dengan
hukum Dalton dari Partai Pressure diketahui:
Pv = mv . Rv . Tv
Untuk Ta = Tv, maka:

dan

Pa . V = ma . Ra . Ta

W=

Pv . R a
R
=0,622
Pa. R
Po P v

Dimana: Ra = Gas konstan untuk udara kering = 0,2871


Rv = Gas konstan untuk uap air

= 0,14615

KJ/kg K
KJ/kg K

Bila uap air dalam keadaan jenuh, Pv hanya merupakan fungsi naik, maka
prosentase kandungan uap air menjadi kurang dan pengurangan didapat dari
pengembunan.
RELATIVE HUMIDITY
Q=

Tekanan Parsial dari uap air Pv dariT 1


Tekanan parsial dari uap air dalam udara jenuh pada T 1

Q=

Pv
mv
( V v ) sat
=
=
Vv
( Pv ) sat ( mv ) sat
Dengan menggunakan sistem termometer tabung kering dan tabung basah,

pengurangan relatif dari temperatur tabung basah terhadap tabung kering bisa
didapatkan. Dan dari tabel yang diberikan, nilai Relative Humidity dapat ditentukan.
PEMBAHASAN INTERCOOLER
Intercooler adalah tabung perpindahan panas, dimana temperatur udara yang
keluar dari tingkat pertama didinginkan sampai mencapai harga terendah.
Panas yang diambil oleh air:
Q' w =mw . Q pw (T 26T 24 )
Panas yang diberikan oleh udara:
Q' a=m' a . Q p a (T 23T 24 )
Karena thermocouple yang digunakan untuk mendapatkan harga-harga dari T23
T24 dipasang dekat intercooler, maka akibatnya terdapat kehilangan panas yang sangat
kecil dan tidak dapat dihitung. Secara umum:
Q' a=Q ' w + Losses
Sehingga efisiensi termalnya adalah:
th =

Q' w
Q' a

Dalam hal ini sangat sulit untuk menghitung jumlah panas yang sebenarnya
diberikan oleh udara dikarenakan losses yang tidak terhitung. Maka di sini yang
terpenting untuk diketahui dari sebuah heat exchanger adalah Thermal Ratio yang
didefinisikan sebagai berikut:
=

Temperatur drop pada bagian yang panas


Temperatur drop maksimum yang dapat terjadi

T 23 T 24
T 23 T 25

BAB III
PENGOLAHAN DATA
3.1 Analisa Massa Udara
m' a=6,574

Dimana

P . P 3
T3

(kg/s)

= Orifice Diferential Head (mmH20)

P3

= Orifice plate down stream pressure (Bar abs)


= 9,8. 10-5. P3 + P0

P3

= Penunjukan pada manometer (mmH20)

P0

= Tekanan Atmosfir (Pa abs)

T3

= T3 + 273 (K)
m a=6,574

0.0000981 .0.0012753 kg
301
s

( )

= 0,0001340254072 kg/s

3.2 Compression Ratio


Tingkat Pertama :

p1

P12
P 11

P ' 12 + P0
P ' 11 + P0

p1

P12
P 11

0.4
0.034323275

= 11,65389958

Tingkat Kedua :

p2 =
p2

P22
P21
=

P ' 22 + P0
P ' 21 + P0
P22
P21

0,2+ 0,4
0.4

= 1,5

3.3 Temperature Ratio


Tingkat Pertama :

T1

T 12
T 11

T ' 12+ 273


T ' 11 +273

T1

T 12
T 11

339
306

T ' 22+273
T ' 21+273

= 1.107843137

Tingkat Kedua :

T2

T 22
T 21

T1

T2

T3

T4

T5

T6

Temperatur Ratio

(bar)
2
2.5
3
3.5
4
4.5
5

(0oC)
32
33
33
33
34
34
35

(0oC)
31
32
32
32
32
32
32

(0oC)
41
42
43
44
45
46
47

(0oC)
30
31
31
31
31
31
31

(0oC)
30
30
30
30
30
30
30

(0oC)
60
60
60
60
60
60
60

Tingkat 2
1,091803279
1,088235294
1,088235294
1,088235294
1,084690554
1,084690554
1,081168831

3.4 Indeks Politropis (n)


Bila: P1.Vn1 = P2.Vn2 dan P1

= (T2/T1)n/n-1 . P2

Dengan cara menurunkan rumus diatas maka akan diperoleh harga n, yaitu:

log p
log p +log T

n1
P
(bar
)
2
2.5
3
3.5
4
4.5
5

log 11,65389958
log 11,65389958 +log 1.107843137

= 0.9599637338

T1

T2

T3

T4

T5

T6

Index Politropis

(0 C)

(0 C)

(0 C)

(0 C)

(0 C)

(0 C)

Tingkat 2

32
33
33
33
34
34
35

31
32
32
32
32
32
32

41
42
43
44
45
46
47

30
31
31
31
31
31
31

30
30
30
30
30
30
30

60
60
60
60
60
60
60

0,971054738
0,972103393
0,972103393
0,972103393
0,973150883
0,973150883
0,974197216

3.5 Kerja Politropis (Wp 1)


Wp1

= ma.RT1(

Dimana: ma

Wp1

n1
n
)( n -1)(kW)
p
n1

= Aliran massa udara (kg/s)

= Konstanta gas = 0.2871 (kJ/kg/K)

T1

= Temperature udara masuk (K)

= Index Politropis

= Pressure Ratio

= 0,000134025. 0,2871 . 306 (

11,65389958

0.9599637338 1
0.9599637338

0.9599637338
)(
0.95996373381

1 )

= 120,0252853 . -23,97735417 . -0,09734513258


= 0,02748256436 kW
P

T1

T2

T3

T4

T5

T6

Kerja Politropis

(bar)
2
2.5
3
3.5
4
4.5

(0oC)
32
33
33
33
34
34

(0oC)
31
32
32
32
32
32

(0oC)
41
42
43
44
45
46

(0oC)
30
31
31
31
31
31

(0oC)
30
30
30
30
30
30

(0oC)
60
60
60
60
60
60

Wp2 (kW)
0.573061252
0.575868357
0.575868357
0.575868357
0.5786805
0.5786805

35

32

47

31

30

60

0.581497677

3.6 Efisiensi Volumetris


vol

induced volume flow


swept volume flow

Aliran massa udara yang sebenernya


aliran massa yang seharusnya terbawa pada kondisi yang sama

Aliran massa udara yang sebenarnya : ma


Untuk Kompressor tingkat pertama:
Swept air mass flow = 0,0091. 10-3. N1 (kg/s)
Untuk Kompressor tingkat Kedua:

Swept air mass flow = 1,1964. 10-3.

p 21
T 21

. N2 (kg/s)

Pada persamaan (20), besarnya temperature dan tekanan adalah penting, selama
tingkat kedua mempunyai udara masuk dengan tekanan P21 dan temperature T21.
Maka, efisiensi volumetris:
Untuk tingkat pertama:

vol

m' a
3
0,0091. 10 . N 1

vol

0,000134025
0,0091. 103 . 400

x 100 %
x 100 % = 3,682005495 %

Untuk tingkat kedua:

vol

m' a
1,1964 .103 . P 21 . N 1

x 100 %

vol

0,000134025
3
1,1964 .10 . 0,4 . 400

x 100 % = 0,07001494443 %

3.7 Kerja Isothermal (WIs)


Untuk tingkat pertama:
Wis

= ma . RT11 . In . P1

Wis

= 0,000134025 . 0,2871 . 306 . 2,5 . 0.9599637338 . 11,65389958


= 0,3293112302 W

Untuk tingkat kedua


Wis

= ma . RT21 . In . P2

T1

T2

T3

T4

T5

T6

Kerja Isothermal

(bar)
2
2.5
3
3.5
4
4.5
5

(0oC)
32
33
33
33
34
34
35

(0oC)
31
32
32
32
32
32
32

(0oC)
41
42
43
44
45
46
47

(0oC)
30
31
31
31
31
31
31

(0oC)
30
30
30
30
30
30
30

(0oC)
60
60
60
60
60
60
60

Tingkat 2 (W)
0,042735996
0,042922416
0,042922416
0,042922416
0,043109088
0,043109088
0,04329601

3.8 Kerja Mekanis


Wmech

Dimana : N

Jadi :

= Putaran Motor Listrik =

21. N .Tq
1000
3,53. N 1
60

atau (3.533 x N2)

Tq

= Momen Puntir (N-m) = F . R

= Penunjukan spring balance (N)

= Broke arm radius = 160 mm = 0.160 m

Wmech1

= 0.00019768 . N1 . F1 (kW)

= 0.00019768 . 400 . 6
= 0.474432 kW
= 0.00019768 . N2 . F2 (kW)
= 0.00019768 . 400 . 4
= 0.316288 kW

Wmech2

3.9 Input Daya Motor Listrik


Suplai daya listrik total =

Daya listrik tingkat 1

Daya listrik tingkat 2

Armature power + Field power

V.A
1000

130 . 2.5
1000

0.413 Watt

220.0,4
1000

V.A
1000

115 .2.5
1000

0.3755 Watt

220.0,4
1000

220.0,4
1000

220.0,4
1000

3.10 Data dan Grafik

1 TINGKAT
N = 400 rpm

Data Pengujian Kompresor 1 Tingkat


V
(volt)
130

A (ampere)
2,5

T1

T2

T3

(0C)
33

(0C)
66

(0C)
28

P1 (mmH20)

P2 (mmH20)

P (mmH20)

P3 (mmH20)

350

4078, 8648

13

F
(N)
6

2 TINGKAT
N = 400 rpm

Data Pengujian Kompresor 2 Tingkat


P

T1

T2

T3

T4

T5

T6

P1

P2

P HT

(bar)
2
2.5
3
3.5
4
4.5
5

(0C)
32
33
33
33
34
34
35

(0C)
31
32
32
32
32
32
32

(0C)
41
42
43
44
45
46
47

(0C)
30
31
31
31
31
31
31

(0C)
30
30
30
30
30
30
30

(0C)
60
60
60
60
60
60
60

(volt)
115
115
115
115
115
115
115

(ampere)
2.5
2.5
2.5
2.5
2.5
2.5
2.5

(bar)
0.4
0.4
0.4
0.4
0.4
0.4
0.4

(bar)
0.2
0.2
0.2
0.2
0.2
0.2
0.2

(bar)
1.2
1.2
1.2
1.2
1.2
1.2
1.2

Grafik Perbandingan Tekanan dengan Temperatur


70
60
Tekanan 2 bar
50

Tekanan 2,5 bar


Tekanan 3 bar

40

Tekanan 3,5 Bar


Tekanan 4 bar

Temperatur (oC)

Tekanan 4,5 bar

30

Tekanan 5 bar
20
10
0

F (N)
4
4
4
4
4
4
4

BAB 4
ANALISIS
4.1 Analisa Alat
Alat yang digunakan pada percobaan kompressor ini adalah kompressor
torak bertingkat ganda yang terdiri dari GT 102 untuk tingkat satu dan GT 102/2 untuk
tingkat dua. Sayangnya, beberapa komponen tidak dapat bekerja dengan baik, seperti
pengukur pengukur tekanan P1 (tekanan pada saat masuk torak) pada kompressor tingkat
satu serta pengukur tekanan pada orifice (P dan P3). Hal ini kemungkinan besar terjadi
karena kompressor sudah berumur cukup tua. Selain itu alat penggambar grafik diagram
P-V bekerja namun hanya menghasilkan guratan-guratan buram bahkan sampai
melubangi kertas. Selain itu, tidak adanya indikator penunjuk temperatur dan tekanan
untuk kondisi ruangan praktikum juga menyulitkan penentuan nilai temperatur dan
tekanan lingkungan sehingga menyebabkan hasil yang didapat menjadi semakin tidak
akurat.

4.2 Analisa Percobaaan


Pada percobaan, variabel yang diatur oleh praktikan adalah putaran N1 serta N2
pada kompresor unit tingkat 1 maupun tingkat 2. Saat kompresor bekerja, udara masuk
ke dalam suatu vessel. Setelah beberapa waktu, penunjuk tekanan P 2 pada unit tingkat 2
akan menunjukkan angka sesuai dengan nilai yang praktikan inginkan, yaitu 2 bar, 2.5
bar,3 bar, 3.5 bar, 4 bar, 4.5 bar, dan 5 bar. Bukaan keran diatur sedemikian hingga agar
penunjukkan angka diatas dapat dijaga nilainya. Dalam keadaan ini, parameter-parameter
lainnya yang ingin didapat seperti gaya, beda potensial, arus, dan temperatur dapat
diukur melalui alat ukur yang tersedia. Namun dalam pengukuran untuk mendapatkan
data standar pada tingkat 1 ada sedikit masalah pada vessel yaitu mengalami kebocoran
sehingga tekanan tidak mencapai 2 bar, pada akhirnya praktikan terpaksa mencata data
pada kondisi tekanan maksimum yang dapat dicapai atau minimal yang tercatat pada
barometer.

4.3 Analisa Hasil


Dari hasil yang didapat melalui percobaan, didapat parameter seperti temperatur,
gaya motor kompressor tingkat 1 maupun tingkat 2, tegangan, dan arus. Dari parameterparameter ini, temperatur merupakan parameter yang ikut meningkat seiring dengan
kenaikan tekanan P2 pada kompressor unit 2. Hal ini jelas menunjukkan bahwa
meningkatnya tekanan udara akibat kerja kompresor juga menaikkan temperatur udara
tersebut.

4.4 Analisa Grafik


Grafik

diagram

P-V

yang

didapat

dari

hasil

penggambaran

mesin

kompressor (gambar grafik ada di lampiran) terlihat tidak begitu presisi. Hal ini mungkin
disebabkan karena umur alat yang sudah tua, sehingga penggambaran grafik P-V pada
kertas tidak baik yaitu hanya berupa guratan-guratan buram. Seharusnya grafik yang
tergambar tidak terlihat seperti garis lurus. Grafik harusnya tergambar agak melengkung
keatas seperti grafik-grafik P-V semestinya. Selain itu grafik diagram P-T yang dibuat
berdasarkan perbandingan tekanan dan temperatur pada kompressor unit 2 menunjukkan
bahwa walaupun temperatur in meningkat tetapi temperatur out akan tetap keluar 60oC.

4.5 Analisa Kesalahan


Pada analisa proses percobaan telah dibahas mengenai kondisi untuk
menjalankan percobaan yang masih jauh dari sempurna. Kondisi instrumen dan
lingkungan jelas mempengaruhi kualitas hasil yang diperoleh. Selain itu kesalahan dalam
pengkonversian data saat perhitungan juga rawan menjadi poin kesalahan besar. Proses
pembacaan hasil ukur yang dilakukan pada kondisi yang tidak stabil pun juga
mempengaruhi besar kesalahan dari hasil yang diperoleh.

BAB V
KESIMPULAN

Praktikum dilakukan dengan menggunakan dua unit kompressor, tingkat satu dan

tingkat dua beserta intercooler.


Parameter yang dihitung melingkupi massa udara kompressor, tekanan masuk dan
keluar kompressor, temperatur di beberapa titik kompresor, temperatur masuk dan

keluar baik air maupun udara serta debit air intercooler , serta daya listrik kompresor.
Besar massa udara yang dapat dikerjakan kompresor sebesar 0,0001340254072 kg/s
dengan rasio kompresi untuk kompresor tingkat pertama sebesar 11,65389958 dan 1,5

untuk kompresor tingkat kedua pada tekanan 2, 2.5, 3, 3.5, 4, 4.5, dan 5 bar.
Rasio temperatur untuk kompresor tingkat pertama dan tingkat kedua berturut-turut
adalah sebesar 1,107843137 dan 1,086723. Sedangkan untuk indeks politropis,
untuk kompresor tingkat pertama sebesar 0,9599637338 dan untuk kompresor tingkat

kedua sebesar 0,97255199.


Beberapa indikator kerja yang digunakan antara lain kerja politropis, kerja isothermal,

dan kerja mekanis.


Nilai efisiensi yang didapatkan adalah efisiensi volumetrik.
Dari diagram P-T yang didapat diketahui bahwa walaupun suhu masuk kompressor
beragam pada tekanan yang berbeda namun suhu keluarnya akan tetap sama
tergantung daripada spesifikasi kompressor torak tersebut.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Gambar Kompressor Torak Tingkat Satu

Lampiran 2. T1 pada Kompressor Torak Tingkat Satu

Lampiran 3. T2 pada Kompressor Torak Tingkat Satu

Lampiran 4. T3 pada Kompressor Torak Tingkat Satu

Lampiran 5. Penunjuk Torsi Kompressor Torak Tingkat Satu

Lampiran 6. Gambar Kompressor Torak Tingkat Dua

Lampiran 7. Kertas Penanda Diagram P-V pada Kompressor Torak Tingkat Satu

Lampiran 8. Suhu Tertera pada Kompressor Torak Tingkat Dua

Lampiran 9. Hasil Pencatatan Diagram P-V Kompressor Torak Tingkat Satu

Lampiran 10. Hasil Pencatatan Diagram P-V Kompressor Torak Tingkat Dua