Anda di halaman 1dari 7

Gadis Arivia

Universitas Indonesia

Enam Pertanyaan untuk Ignas Kleden

Sastra Indonesia
dalam Enam Pertanyaan:
Esai-Esai Sastra dan Budaya

oleh Ignas Kleden


Jakarta, Freedom Institute dan Pustaka Utama Grafit, 2004
498 halaman + ix

Esei-esei sastra dan budaya Ignas Kleden menghasilkan enam pertanyaan bagi

penulisnya, akan tetapi di akhir bukunya, menyisakan ribuan pertanyaan bagi


pembacanya. Mungkin ini yang dikehendaki seorang sosiolog, filsuf, dan pemerhati
sastra dan budaya bernama Ignas Kleden. Pertanyaan yang menghasilkan pertanyaan
hingga akhir bukunya yang setebal 451 halaman─dan ia masih saja membombardir
pembaca dengan berbagai pertanyaan di halaman 449, dua halaman sebelum bukunya
berakhir. Buku yang berakhir dengan pertanyaan adalah buku yang terbuka untuk
dijelajahi, dan sangat patut untuk dibaca dan diperdebatkan. Di dalamnya kita
menemukan perspektif yang amat luas, pendasaran filosofis yang kuat. Tampaknya ia
ingin menghindari pengajaran sastra yang membosankan dan dungu (hlm. 31-32) yang
hanya mengandalkan kaidah-kaidah tata bahasa Indonesia yang baik dan benar
(mengindonesiakan sehabis-habisnya? Sampai tingkat kedunguan!). The limits of
language is the limits of knowledge, hal ini tidak terasa pada buku Kleden, malah ia
menawarkan sesuatu yang sangat lebih.
Di dalam ulasan ini saya ingin mengajukan enam pertanyaan lagi terhadap enam
pertanyaan yang diajukan Ignas Kleden mengenai kedudukan sastra.
Pertanyaan ke-1:
Ignas Kleden seorang skeptis?

APAKAH IGNAS KLEDEN SEORANG SKEPTIS atau tepatnya seorang skeptis yang kritis?
Seorang skeptis yang kritis selalu memilih posisi, ia seorang pengguna bahasa yang
benar-benar berbicara dan berpikir tentang apa yang ia katakana ia bicarakan dan
pikirkan: ia mendebat, berkomentar, berspekulasi, membuat hipotesa, dan sebagainya.
Seorang yang skeptis kritis selalu penuh kecurigaan, ada saja yang dipertanyakan tentang
totalitas pengetahuan, suatu kecurigaan yang terus-menerus muncul tidak semata-mata
karena keingintahuannya, tapi karena kegairahannya untuk masuk dalam pengalaman
bertanya, mengiluminasi dirinya dengan bahasanya.

Pertanyaan ke-2:
Pemikiran dikotomik?

SEORANG SKEPTIS KRITIS tidak bertanya apakah kita mengetahui A atau B, ia

mempertanyakan klaim mengetahui A atau B.


Wittgenstein mengimplikasikan bahwa “klaim atas pengetahuan tentang apa yang
kita gugat atau pertanyakan (atau ragukan atau membuat kita tercengang) tidak diatur
berdasarkan apa yang dimengerti sebagai ‘bukti’ atau ‘kebenaran’, tetapi sebagai
kriteria.” Tanpa adanya kontrol kriteria dalam mengaplikasikan konsep-konsep, kita tidak
akan dapat mengetahui “apa yang dihitung sebagai bukti klaim, atau untuk klaim apa
bukti dibutuhkan” (what counts as evidence for any claim, nor for what claims evidence
is needed) (Penjelasan Cavell atas Wittgenstein, Language, Therapy, and Perfectionism,
2001: 116).
Ignas Kleden sangat sadar akan pentingnya kriteria, pertanyaan pertama yang ia
ajukan dalam topik Sastra dan Bukan Sastra (hlm.7) adalah “Apakah yang membedakan
sebuah tulisan yang bersifat sastra dari jenis-jenis tulisan lainnya?” Menurutnya, sastra
adalah dialektik (pada berbagai tingkatnya) antara dunia luar-teks (yaitu peristiwa) dan
dunia dalam-teks (yaitu makna). Bila kita sudah mendapatkan kriteria-kriteria yang
mempertanyakan pertanyaan pertama, persoalan muncul pada apakah sastra dapat
menggambarkan realitas par excellence, dapatkah kita percaya pada penggambaran
realitas yang dilukiskan sastra? Ini pertanyaan lama Plato, apakah tulisan-tulisan bersifat
sastra atau tepatnya puisi dapat menggambarkan realitas par excellence? Apakah
dialektik antara dunia peristiwa dan dunia makna berjalan secara ajeg di dalam sastra
ataukah dunia peristiwa dalam perjalanannya hilang, bahkan tidak menggambarkan sama
sekali unsur realitas? Bagaimana mungkin sastra dapat dijadikan sebagai penuntun
kehidupan atau menjelaskan kehidupan? Sastra sebagai karya fiksi tidak dapat
berkontribusi dalam hal ini.
Secara baik Kleden mengedepankan karya-karya Umar Kayam yang ia yakini
mencari modus vivendi antara kedudukannya sebagai penulis sastra dan kedudukannya
sebagai seorang ilmuwan sosial (hlm. 65). Ia juga mengemukakan pendapat sastrawan
Leo Loewenthal dari Sekolah Frankfurt. Secara mudah Kleden memilah-milah dan
membagi-bagi kategori kedua bidang tersebut. Intinya, kesimpulan secara umum harus
didapat dalam bidang ilmu (ilmu sosial) sedangkan dalam bidang sastra, kesimpulan
khusus, unik, justru merupakan tanda keberhasilan tugas kesusastraan. Ia bergerak
menjabarkan konsep konotasi/denotasi dan prinsip kepaduan/prinsip kepenuhan (hlm.
109). Pola dikotomik ini kelihatannya menjadi kegemaran Kleden. Juga dalam bagian IV
“Dari Apologetik ke Dialog” dalam bab 20 tentang Fakta dan Fiksi, serta bab 21 soal
Godaan Subyektifitas, sekali lagi Kleden dengan jelas melabelkan apa yang disebut esei
dan non-esei. Kecenderungan Kleden untuk memakai pola pikir dikotomis terbaca
dengan jelas dalam sebagian besar bab-bab yang ia tulis.
Dalam beberapa bab tertentu, terutama ketika menjelaskan karya-karya Umar
Kayam, Putu Wijaya, Pramoedya Ananta Toer, dan Sutan Takdir Alisjahbana, penjelasan
dikotomik ini terasa memadai dan dengan mudah dapat diikuti. Namun, pada karya-karya
lain, seperti sajak Joko Pinurbo, Dorothea Rosa Herliany, dan Afrizal Malna, rasanya
tidak cukup dijelaskan dengan makna tekstual/makna referensi sekalipun banyak
menyinggung Ricoer, salah satu pemikir hermeneutik terkemuka di abad-20.
Barangkali Kleden, yang pada dasarnya mempunyai akar pemikiran dikotomis,
menepis sedikit dengan keakrabannya pada Ricoer. Lebih dari duapuluh halaman ia
dedikasikan kepada Ricoer yang sangat yakin akan hermeneutik sebagai art of
deciphering indirect meaning. Baginya, filsafat tetap berada di wilayah hermeneutik,
yakni, membaca makna yang tersembunyi di dalam teks (Ricoer, 1969). Inikah yang
menjadi acuan Kleden dalam membaca karya-karya sastra?

Pertanyaan ke-3:
Mengapa tidak hermeneutik radikal?

ADA SEGI POSITIF DARI HERMENEUTIK, ia berusaha untuk tetap lengket bersama

kesulitan-kesulitan hidup dan tidak mengkhianati dengan mengambil jalan pintas


metafisika. Hal ini yang dilakukan Heidegger dalam Being and Time dengan pertanyaan-
pertanyaannya yang radikal tentang Ada dan seterusnya mengagungkan Ada yang terus-
menerus hadir. Hermeneutik selalu menaruh kecurigaan untuk menghadapi hidup dengan
cara mencari jalan keluar yang mudah yaitu lewat jalan metafisika. Hermeneutik mulai
dengan radikalisasi. Husserl, misalnya, yang banyak disinggung Kleden merupakan tokoh
penting hermeneutic. Husserl tidak percaya adanya yang given, jatuh dari langit. Ia
bekerja dari bawah, melakukan formulasi-formulasi dan reduksi eidetis untuk sampai
pada esensi. Pada akhirnya esensi menjadi penting. Hal ini juga yang terbaca dalam
tulisan Kleden. Tidakkah Kleden ingin menguji ketangguhan esensi? Mendorongnya
sampai ke ujung, bahkan membuangnya dan mencicipi radikalisasi hermeneutik? Jelas
pada halaman 368 Kleden hendak mempertahankan pemahaman makna dan nilai
(understanding of meaning and value), masuk pada autentisitas manusia? Adakah
autentisitas?
Kleden mengambil posisi hermeneutical circle pada halaman 149, ia katakan
banyak keadaan dalam sejarah dan kebudayaan hanya bisa diterangkan dengan suatu
putaran. Bukankah Heidegger bahkan mengatakan bahwa apa yang memisahkan kita dari
masa lalu adalah produktif dan bukan destruktif? Ia menawarkan suatu modus dynamics
of dialogue. Namun, Derrida yang memberikan clue kepada kita akan pentingnya
mencurigai masa lalu, mencari teks demi teks “yang lain”, suatu ethic otherness─etika
diseminasi yang mempertanyakan konstelasi kekuasaan, sentralitas kontrol dan
manipulasi, secara sistematis mendominasi, mengatur, dan mengucilkan (disrupt
momentum, assert difference, preverse the right to dissent!).

Pertanyaan ke-4:
Adakah Standpoint dalam Simbolisme Kesusastraan?

RICHARD RORTY telah berargumentasi bahwa pada suatu saat kita harus mempunyai

common ground untuk semua komunitas karena ada prosedur-prosedur yang perlu
diperiksa. Padahal sastra sebagai bentuk kreatif bahasa tidak memproduksi konsep-
konsep yang diaplikasikan kepada dunia, akan tetapi malah “ide-ide aesthetic”, gambaran
dan simbol-simbol yang memprovokasi untuk melakukan refleksi pada hal-hal yang
transenden tanpa ada determinasi dan korespondensi. Hal ini membuat sastra mempunyai
kuasa untuk tidak diinterpretasikan secara final. Kleden, kesan saya, bolak-balik
mengeksplorasi problem ini. Berkali-kali ia katakan bahwa sastra harus dilihat sebagai
sesuatu yang simbolik. Namun, ketika dihadapkan pada kategori moral, keputusan estetik
tidak berlaku (hlm.392).
Apakah Kleden sangat berpihak pada Kant? Kant melihat asal pemahaman dunia
dan diri kita sebagai agen moral yang terikat pada hokum universal. Nietzche yang
menggugat hal ini: why should we think we can speak for others? Rorty menengahi
dengan mengatakan bukan masalah status pengetahuan dan kehidupan yang harus final,
tetapi bahwa seseorang harus mempunyai posisi yang final dalam pendapatnya (Rorty,
Contingency, Irony, Solidarity, 1989: 8). Membaca ulasan Kleden dalam bab 8 tentang
Catatan Pinggir Goenawan Mohamad memperlihatkan bahwa penuntutan posisi
pengarang haruslah jelas.

Pertanyaan ke-5:
Verifikasi dan falsifikasi karya?

ADAKAH SIKAP POSITIVISTIK Kleden dalam menghadapi karya-karya sastra? Betapapun

sangat membantu perumusan enam pertanyaan Kleden tentang sastra dan budaya
Indonesia, tetap terbersit pertanyaan mungkinkah Kleden berupaya melakukan verifikasi
dan falsifikasi karya-karya sastra untuk membuktikan teori-teorinya? Bahkan
membuktikan “kebenaran-kebenaran” makna sastra yang dikandung? Para pemikir post-
Nietzschean mengandaikan bahwa “kebenaran’ dan “realitas yang terdapat pada dirinya”
hanyalah ilusi karena realitas dikonstruksi lewat teks-bahasa. Rorty memberi tips bahwa
bila kita setuju tidak adanya pengandaian “kebenaran” maka kita harus terus-menerus
melihat hidup sebagai suatu eksperimen lepas dari keterikatan apa pun. Hanya ada satu
puisi yang tidak jelas mendapatkan verifikasi atau falsifikasi dalam buku Kleden, yakni
kumpulan sajak T. Mulya Lubis.

Pertanyaan ke-6:
Truth and Method of Ignas Kleden?

TRUTH AND METHOD Gadamer terutama memberi perhatian pada pergerakan tradisi.

Gadamer ingin menunjukkan bagaimana tradisi mengkomunikasikan kebaikan-kebaikan


dan mewariskan kekayaannya. Ia mendiskripsikan bagaimana sebuah horizon dibentuk
dan dibentuk lagi, lalu semakin meluas dan kaya. Ia sangat simpati pada kontinuitas
tradisi, proses merepetisi. Gadamer memberikan elaborasi yang mencerahkan tentang
klaim Heidegger dalam The Origin of the Work of Art di mana sebuah karya seni tidak
dipandang sebagai hanya obyek estetik akan tetapi lebih sebagai sebuah pengalaman
yang mentransformasi, memberikan pemahaman yang kaya tentang diri dan dunia kita.
Bagian buku Kleden yang paling banyak memberikan pencerahan dan pengayaan
adalah bab 2 “Sastra Indonesia dan Saya, Sebuah Perjumpaan untuk Leo Kleden,
mengenang 23 Juni 1979”. Leo Kleden di dalam teks menjadi sebuah misteri, namun bisa
dipastikan ia yang sedikit banyak mentransformasikan pengalaman sastra dan intelektual
Kleden. Perjalanan pribadinya dari sebuah seminari di lembah sejuk Flores Timur hingga
mendunia dan menghasilkan buah karya-akademis yang tidak sedikit dan sangat
diperhitungkan. Leo Kleden jelas memainkan peran yang besar dalam hidupnya, sebuah
fakta histories yang final.
Acuan
Kleden, Ignas. 2004. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan. Jakarta: Freedom
Institute dan Grafiti.
Rorty, Richard. 1989. Contingency, Irony, and Solidarity. Cambridge: Cambridge
University Press.