Anda di halaman 1dari 3

Ketika Pendidikan Menjadi Komoditas

Tulisan ini terinspirasi dari spanduk yang saya lihat di suatu siang. Spanduk
tersebut berisikan promosi sebuah lembaga pendidikan, lebih tepatnya
lembaga bimbingan belajar, yang cukup ternama di negeri ini, atau
setidaknya kota ini.

Ingatan saya kembali kepada 7-8 tahun lalu, ketika saya masih siswa SMU,
dengan segala kenakalan dan idealisme yang mungkin ada. Ketika itu,
sebagian besar, atau bahkan hampir semua teman sekelas saya mengikuti
apa yang kami istilahkan sebagai “bimbel”. Kebetulan, tidak sampai 500
meter dari gerbang sekolah saya, ada bimbel yang cukup ternama. Hmm,
nampaknya bukan kebetulan bimbel tersebut hadir di situ.

Ketika sepulang sekolah, saya lebih memilih untuk nongkrong di kantin


sampai maghrib, sebagian besar teman saya kembali masuk ruang kelas.
Ruang kelas yang jauh lebih ekslusif daripada yang kami, saya dan mereka,
rasakan bersama-sama dari pagi sampai siang. Mereka ikut bimbel.

Kedua orangtua saya berkeras menyuruh saya ikut bimbel tersebut. Mereka
berpendapat, bimbel tersebut terbukti sukses membantu meningkatkan
prestasi belajar teman-teman saya. Sayangnya, seperti lumrahnya saya,
saya bersikeras tidak mau ikut bimbel tersebut. Bagi saya, bimbel hanyalah
siksaan tambahan, itulah alasan sebenarnya. Namun, di depan orang tua
saya, saya bilang: “bimbel itu cuman ngasih cara cepat ngerjain soal, ngasih
prediksi soal-soal ujian, tanpa menambah pemahaman saya akan substansi
materi yang diajarkan”.

Pada akhirnya, saya tetep ikut bimbel... karena gebetan saya ikut bimbel.
Setidaknya, saya masih bisa menikmati wajahnya lebih lama, meskipun
harus terkurung lebih lama di ruang kelas, yang meskipun ber-AC, tetap saja
tidak nyaman.

Cukup curhat tentang masa remaja saya.

Apa yang dulu saya jadikan pembenaran, mungkin menjadi pertanyaan


besar bagi saya sekarang. Apakah yang dulu saya bilang ke orangtua saya
cuma pembenaran? Well, saya tidak berminat menghakimi obyek tertentu.
Silahkan masing-masing dengan jawabannya sendiri-sendiri.

Sebuah tulisan besar dan mencolok di spanduk tersebut berbunyi kira-kira:


“buktikan keakuratan prediksi soal-soal ... kami”. Atau dalam spanduk yang
lain: “ingin kuliah di ... ? daftar ... sekarang!”.

Yang dari dulu sampai sekarang saya pahami adalah, ujian dan seleksi
merupakan ajang untuk mengukur, atau setidaknya memetakan
kemampuan, pemahaman, dan pengetahuan peserta didik akan materi yang
diajarkan di kelas-kelas. Lebih dari itu, proses pengajaran juga merupakan
ajang penanaman nilai-nilai kehidupan, bukan hapalan yang diucapkan
berulang kali, dipilih dalam jawaban soal-soal pilihan ganda, dll.

Jika, untuk meningkatkan kemungkinan lulus seorang siswa dari sebuah


proses yang bernama ujian atau seleksi, siswa tersebut harus berjibaku
dengan cara cepat, dengan akurasi prediksi soal,... lalu bagaimana dengan
kemampuan, pemahaman, pengetahuan, bahkan internalisasi siswa akan
materi yang diajarkan di kelas?

Lalu, siapa yang tahu cara cepat, siapa yang tahu soal yang kira-kira keluar,
merekalah yang berpeluang lebih besar untuk lolos dari ujian atau seleksi
tersebut, bukan begitu? Padahal, pesaing mereka, yang tidak tahu cara
cepat, yang tidak tahu prediksi soal yang keluar, adalah siswa yang
menerima materi yang sama di kelas, dengan kurikulum yang sama pula.

Tulisan ini tidak untuk menghakimi obyek atau subyek tertentu. Dalam
ekonomi, penawaran menciptakan permintaan, dan sebaliknya. Orang-orang
melihat kesempatan, sementara yang lain melihat pangsa pasar. Lalu
terciptalah penawaran, di mana permintaan sudah tersedia. Keduanya
berinteraksi secara simultan sampai tercipta titik ekuilibrium, di mana
transaksi terjadi, di situ harga tercipta.
Itulah mengapa, saya melihat pendidikan selayaknya komoditas. Komditas
yang diperdagangkan, dengan serangkaian prinsip dan hukum yang berlaku
dalam perdagangan..., tidak ada yang salah dengan itu, bukan begitu?