Anda di halaman 1dari 6

PEMBAHASAN

NB : Pik yang tulisan merah tu aku gak ngerti maaf tapi aku carik tau dulu yaaaaa

5.1. Pembuatan Larutan NaOH 0,1 N


Natrium hidroksida juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium hidroksida, adalah
sejenis basa logam kaustik. Natrium Hidroksida terbentuk dari oksida basa Natrium Oksida
dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika
dilarutkan ke dalam air. Dalam kegiatan praktikum penentuan kadar parasetamol dalam
sampel tablet, NaOH difungsikan sebagai pelarut untuk melarutkan sampel parasetamol.
Dalam kegiatan praktikum, larutan NaOH yang dibuat memiliki konsentrasi 0,1 N dimana
prosedur pembuatannya adalah dengan melarutkan 2 gram NaOH padat yang kemudian
dilarutkan dalam 500 mL aquades atau air suling bebas CO 2. Penggunaan air suling bebas
CO2 dimaksudkan untuk menghindari terjadinya reaksi antara NaOH dengan CO 2 yang dapat
membentuk senyawa (Na2CO3 2 NaOH + CO2 Na2CO3 + H2O) yang dapat menjadi
pengotor dalam proses analisis parasetamol.
5.2 Pengukuran Panjang Gelombang Maksimum Parasetamol
Pada umumnya analisa kuantitatif yang menggunakan instrument spektrofotometer
membutuhkan penentuan panjang gelombang maksimum, dimana panjang gelombang
maksimum merupakan panjang gelombang yang memberikan absorbansi maksimal terhadap
kompleks warna yang terbentuk dari analit. Penentuan panjang gelombang maksimal
dilakukan dengan membuat kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang
dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu. Dalam kegiatan praktikum penentuan
panjang gelombang maksimal , terlebih dahulu diasumsikan absorban larutan adalah pada
0,434 sehingga dapat ditentukan konsentrasi larutan yang akan dibuat dengan menggunakan
persamaan lambert beer yang mana didapatkan konsentrasi larutan yang dapat memberikan
absorbansi 0,434 adalah 6,5 g/mL. Sehingga dari larutan stok baku yang dibuat dilakukan
pemipetan sebanyak 6,5 mL yang selanjutnya dilarutkan dengan aquadest hingga volume 10
mL yang kemudian diukur dengan panjang gelombang 220 300 nm dan didapatkan panjang
gelombang maksimum pada 241 nm, sehingga dalam penentuan kadar parasetamol
digunakan panjang gelombang tersebut. Penggunaan panjang gelombang maksimal dalam
analisa kuantitatif dengan spektrofotometer merupakan hal yang penting, hal ini
dikarenakan :

a.

Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena pada panjang
gelombang maksimal tersebut perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah

yang paling besar.


b. Di sekitar panjang gelombang maksimal bentuk kurva absorbansi datar , dan pada kondisi
tersebut hokum Lambert Beer akan terpenuhi.
c. Jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang disebabkan oleh pemasangan ulang
panjang gelombang akan kecil sekali ketika digunakan panjang gelombang maksimal.
5.3 Pembuatan Larutan Standar Untuk UJi Linieritas
Didalam membuat kurva standar perlu dibuat beberapa konsentrasi larutan dari larutan stok
baku parasetamol 0,01 mg/ml. Menurut Gandjar dan Rohman dalam bukunya yang berjudul
Kimia Farmasi Analisis dicantumkan bahwa rentang absorbansi yang memberikan kesalahan
terkecil pada metode validasi adalah 0,2 0,8 A. Oleh sebab itulah dalam pembuatan kurva
standar ini digunakan beberapa konsentrasi yang memberikan rentang absorbansi antara 0,2
sampai 0,8 A. Dan setelah diketahui bahwa rentang absorbansi yang memberikan kesalahan
terkecil adalah 0,2 0,8 A. Dimana, didalam pembuatan larutan ini, digunakan aquadest
sebagai pelarutnya.
Setelah diketahui bahwa absorbansi maksimumnya 0,8 dan minimumnya 0,2 A, selanjutnya
dihitung konsentrasi larutan yang harus dibuat dengan menggunakan rumus :
A = a.b.c

dimana nilai A adalah absorbansi yang ingin dicapai

, a bernilai 668 x 100 m/ gr cm dan b

adalah 1. Dari sini kita dapat menentukan konsentrasi berapakah dari absorbansi maksimum
dan minimum.
Setelah dilakukan perhitungan, didapat bahwa absorbansi maksimum, didapat pada
konsentrasi 0, mg/ml, sedangkan absorbansi minimum pada konsentrasi 0, mg/ml. Sehingga
dari hasil ini didapat bahwa konsentrasi larutan standar yang dibuat adalah ...................
Untuk membuat larutan standar tersebut dilakukan pemipetan dari larutan stok yang telah
disediakan. Untuk mengetahui jumlah larutan stok yang akan dipipet, digunakanlah rumus
pengenceran V1 x M1 = V2 x M2. Didapatkan volume larutan stok yang akan dipipet yaitu
sebesar 3 ml, 4 ml, 5 ml, 6 ml, 7 ml, 8 ml, 9 ml, dan 10 ml. Kemudian masing masing
larutan tersebut ditambahkan aquadest sampai volumenya 10 ml kecuali untuk larutan standar
10 ml hanya menggunakan larutan stok sebanyak 10 ml. Setelah didapat larutan standar

dengan berbagai konsentrasi tersebut, selanjutnya dipindahkan masing masing larutan


tersebut kedalam masing masing botol vial dan diberi label sesuai konsentrasi larutan
standar.
5.4 Pembuatan kurva Kalibrasi
Pembuatan kurva kalibrasi atau kurva standar bertujuan untuk mengetahui linieritas
hubungan antara konsentrasi larutan standar dengan absorbansinya, sehingga praktikan tahu
apakah langkah kerja yang dilakukan telah sesuai atau tidak. Agar memperoleh hasil akurat
dalam penentuan absorbansi parasetamol pada sampel. Didalam pembuatan kurva kalibrasi,
digunakanlah hasil pengukuran absorbansi dari masing masing larutan standar yang telah
dibuat dengan menggunakan spektrofotometer Merck SHIMADZU Uv mini-1240, pada
panjang gelombang maksimum, yaitu 241 nm. Didalam pengukuran dengan menggunakan
spektrofotometer ini, digunakan kuvet yang terbuat dari kuarsa yang berbentuk persegi
panjang. Dimana kuvet ini merupakan kuvet yang paling bagus untuk pengukuran absorbansi.
Didalam pengukuran absorbansi ini, perlu dilakukan pembilasan pada kuvet dengan larutan
yang akan diukur dan pastikan bagian kuvet yang berwarna bening bersih dengan Tissue
kering dan jangan sampai tersentuh dengan tangan. Karena hal tersebut dapat mempengaruhi
absorbansi.
Setelah didapat absorbansi dari masing masing konsentrai larutan, dilakukan pembuatan
kurva dengan memplot antara konsntrasi ( sumbu x) dan absorbansi sampel ( sumbu y), lalu
titik tersebut dihubungkan dengan garis lurus. Selanjutnya ditentukan kelinieritasnya dengan
menggunakan koefisien korelasi. Dimana kurva tersebut dapat dikatakan linear, jika nilai
koefisien korelasinya mendekati satu (1).
Dan setelah diplot dalam kurva, didapat hasil bahwa kurvanya hampir linier, dimana
koefisien korelasinya mendekati satu, namun garis yang terbentuk tidak lurus. Penyimpangan
dari garis lurus ini dapat disebabkan oleh adanya kekuatan ion yang tinggi, perubahan suhu,
serta reaksi ikutan yang terjadi. Setelah data absorbansi dan konsentrasi dimasukkan dalam
persamaan garis linier, diperoleh kurva yang membentuk garis lurus, dimana menyatakan
bahwa kurva standar yang dibuat telah linier atau hubungan antara konsentrasi dan absorbansi
sudah linier.
5.5 Ekstraksi Dan Penetapan Kadar Parasetamol dari Tablet
Proses preparasi diawali dengan penimbangan bobot tablet paracetamol sebanyak satu tablet.
seharusnya pada praktikum menggunakan 10 tablet paracetamol karena penggunaan satu

tablet parasetamol belum dapat mewakili kadar parasetamol pada sebagian besar tablet
karena tidak pasti antara satu tablet dengan tablet yang lain mengandung jumlah parasetamol
yang sama. Berat dari satu tablet adalah sebanyak 0, 5383 gram. Tablet yang telah ditimbang
tersebut digerus hingga homogen. Kemudian ditimbang sebanyak 0,05383 g dan dilarutkan
dengan 100 ml aquadest. Dalam labu ukur lalu dikocok atau dihomogenkan selama 10 menit
untuk mengoptimalkan proses pelarutan paracetamol dengan aquadest. Larutan paracetamol
hasil ekstraksi disaring dan dipipet sebanyak 0,5 ml kemudian diencerkan dengan aquadest
dalam labu ukur 25 ml sampai tanda batas. Dalam praktikum ini dibuat 3 sampel dengan cara
pengerjaan yang sama dalam sampel parasetamol yang sama sehingga mendapat dua data hasil
pengukuran. .Larutan sampel parasetamol diukur absorbansinya pada panjang gelombang 241
nm dan diperoleh hasil absorbansi:
1.
2.
3.

Sampel I
Sampel II
Sampel III

: 0,641
: 0,641
: 0,590

Dari nilai absorbansi ini dapat dihitung kadar paracetamol dengan menggunakan persamaan
regresi linear yang diperoleh pada kurva kalibrasi larutan standar paracetamol.

Hal hal yang harus diperhatikan


Didalam praktikum kali ini, ada beberapa hal yang hendaknya perlu diperhatikan, agar hasil
yang didapat merupakan kondisi yang sesungguhnya dari sampel yang diperiksa , yaitu :

Haluskan sampel parasetamol satu tablet secara sempurna, baru ditimbang sesuai kebutuhan,

dengan tujuan agar hasil yang dihasilkan representative.


Gunakan peralatan yang bersih, bebas dari pengotor atau kontaminan serta dipastikan benar

benar kering bila perlu dibilas terlebih dahulu dengan larutan kerja
Teliti didalam melakukan penimbangan maupun pemipetan
Gunakan kuvet yang bersih dan dibilas sebelumnya dengan larutan yang akan diukur

absorbansinya
Beri label pada masing masing larutan untuk mencegah terjadinya tertukarnya sampel.
Pastikan sktrofotometer yang digunakan telah dipanaskan sebelumnya untuk
mengoptimalkan kerja alat itu sendiri.

BAB VI
KESIMPULAN
6.1 Kesimpulan
1.

Pada praktikum ini hubungan konsentrasi dan absorbansi parasetamol dinyatakan dalam
bentuk kurva, dimana diperoleh garis lurus yang menyatakan hubungan linier antara

konsentrasi parasetamol dan absorbansi pada panjang gelombang maksimum, yaitu 241 nm.
2. Persamaan regresi yang diperoleh pada praktikum ini berdasarkan Hukum Lambert-Beer
3.

adalah y = ..................
Kadar parasetamol pada sampel yang diperiksa pada praktikum ini adalah ............ mg/ml.
hasil ini diperoleh dengan menggunakan persamaan regresi diatas.

DAFTAR PUSTAKA
Yoni, Ode. 2013. Penentuan Kadar Parasetamol. Online.
http://odeyoni.blogspot.com/2013/07/penentuan-kadar-parasetamol.html (diakses 5 Mei
2015)
Gandjar, I.G., dan A. Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar