Anda di halaman 1dari 20

Port Timing

PEMBUKAAN DAN PENUTUPAN SALURAN


PADA MOTOR 2 TAK (PORT TIMING)
A. PENDAHULUAN
Pada motor 4 tak pembukaan dan penutupan saluran hisap maupun
saluran buang dengan silinder dilakukan oleh mekanisme katup.
Waktu dan lama pembukaan dan penutupan digambarkan dengan
valve timing diagrams. Motor 2 tak tidak memiliki katup, untuk
membuka dan menutup saluran masuk (bilas) dan saluran buang
dilakukan oleh piston, jadi piston berfungsi sebagai katup.
Saluran masuk dan saluran buang harus terbuka pada saat yang
tepat dengan lebar bukaan yang paling sesuai dengan karakteristik
aliran campuran bahan bakar yang masuk maupun aliran gas sisa
pembakaran ke knalpot. Ketepatan waktu pembukaan dan penutupan
saluran, arah dan sudut salulan bilas mempunyai pengaruh yang
sangat besar terhadap performa dan karakteristik mesin.
B. PORT TIMING
Waktu dan lama pembukaan dan penutupan saluran bilas dan saluran
buang digambarkan menggunakan port timing diagrams. Penggambar
port timing ada 2 macam yaitu:
1. Menggunakan sudut
2. Menggunakan jarak dari bibir silinder atas.
Port timing dengan menggunakan sudut merupakan penggambaran
port timing yang paling lazim digunakan, karena kita telah terbiasa
menggambar diagram katup pada motor 4 tak menggunakan sudut.
Selain itu metode menggambar port timing dengan sudut hasilnya
lebih akurat. Port timing menggunakan jarak dari bibir silinder atas
mempunyai kelebihan lebih praktis, metode ini sering digunakan oleh
modifikator motor 2 tak.
Untuk lebih jelasnya bagaimana menggambar port timing dengan
sudut dan dengan jarak dari bibir silinder atas dapat dipahami dari
contoh berikut ini.
Dari data buku pedoman service sepeda motor Kawasaki Ninja
diperoleh data timing scavenging buka 60 sebelum TMB, tutup 60
90

Port Timing

setelah TMB, Exhaust buka 95 sebelum TMB, menutup 95 Setelah


TMB. Dari data tersebut gambarkan port timing diagrams motor
Kawasaki Ninja

Gb. 4.1 Port timing diagrams tipe sudut


Lama atau durasi sepeda motor Kawasaki Ninja adalah:
Bilas (scavenging) = 120
Buang (Exhaust) = 190
Contoh port timing menggunakan jarak dari bibir atas atau TMA pada
Yamaha TZ 250 adalah sebagai berikut:

Gb. 4.2 Port timing diagrams tipe jarak dari TMA


91

Port Timing

Port timing diagrams tipe sudut dapat dikonversi ke tipe jarak atau
sebaliknya tipe jarak dikonvesi menjadi tipe sudut, menggunakan
rumusan:
Sk = (r + l ) MA

(26)

MA = Cos . l + Cos . r

(27)

dimana

Keterangan:
r = jari-jari engkol
l = panjang batang piston
Sk = jarak piston dari TMA
= Sudut engkol
= sudut batang piston
= r/l

Gb. 4.3 Jarak piston dari TMA


Gambarkan port timing diagram tipe jarak dari TMA dari data sebagai
berikut: Saluran buang terbuka 90 sebelum TMB dan tertutup 90
sebelum TMB, terdapat 2 buah saluran bilas bantu (auxilary port) dan
2 buah saluran bilas utama (main port) yang terbuka 60 sebelum
TMB dan tertutup 60 setelah TMB. Panjang langkah piston 60 mm,
sedangkan panjang batang piston 90 mm.
Solusi:
Panjang batang piston (l) = 90 mm
Jari-jari engkol (r) = L = x60 = 30 mm
Sudut buang ( ) = 90
Sudut bilas ( ) = 90

92

Port Timing

Gb. 4.4 Jarak saluran buang dari TMA


Langkah menentukan jarak saluran buang dari TMA, adalah:
1. Menentukan sudut batang piston () dengan cara:
r
= sin . l
sin = l/r = 90/30 = 3,333

= 19,49
2. Menentukan panjang MA, dngan cara:
MA = cos . l
= cos 19,47 x 90 = 84,85 mm
3. Menentukan jarak lubang buang dari TMA adalah:
Sk = (r + l ) MA
= ( 30 + 90) 84,85 = 35,15 mm

93

Port Timing

Gb. 4.5 Jarak saluran bilas dri TMA


Langkah menentukan jarak saluran bilas dari TMA adalah:
1. Menentukan sudut batang piston () dengan cara:
BC

= r . sin

BC

= l . sin .

l . sin = r . sin
sin

= r/ l . sin
= 30/ 90 x sin 60 = 0,288
= 16,77

2. Menentukan panjang AD, dengan cara:


AD = AC CD
= l . cos - r . cos
= 90 cos 16,77 - 30 cos 60
= 86,17 - 15 = 71,17 mm
3. Menentukan jarak lubang bilas dari TMA adalah:
Sk = (r + l ) AD
94

Port Timing

= ( 30 + 90) 71,17 = 48, 83 mm


Dari data tersebut dapat dibuat port timing diagram tipe jarak dari TMA
sebagai berikut:

Gb. 4.6 Timing port motor


Lama atau durasi pembukaan dan penutupan saluran (port timing)
tergantung dari karakteristik motor yang dikehendaki. Hubungan
kapasitas silinder, penggunaan, putaran dan durasi adalah sebagai
berikut:
Tabel 6. Hubungan durasi dengan penggunaan mesin
Kapasitas
silinder (cc)
2 x 62
1 x 80
1 x 80
1 x 80
1 x 100
1x 100
1x 125

Penggunaan
Road race
Moto X
Moto X
Road race
Moto X
Gokart
Moto X

Putaran mesin
(rpm)
13500
11000
12000
13000
12200
10800
10000

Durasi
buang
206-208
196-198
202-204
205-207
198-200
176-178
190-192

95

Port Timing

1x 125
1x 125
Kapasitas
silinder (cc)
1x 125
2 x 125
4 x 125
1 x 175
1 x 175
2 x 175
1 x 250
1 x 250
1 x 250
1 x 400
1 x 400

Moto X
Road race
Penggunaan
Road race
Road race
Road race
Enduro
Enduro
Road race
Enduro
Moto x
Road race
Enduro
Moto x

11000
12000
Putaran mesin
(rpm)
12500
12000
11500
9000
9500
11200
8000
8500
10500
7000
7500
Sumber :

196-198
202-204
Durasi
buang
203-205
202-204
200-202
184-186
186-188
198-200
180-182
183-185
194-196
175-177
176-178
Graham Bell

C. RC VALVE (REVOLUTIONARY EXHAUST CONTROL VALVE)


RC valve merupakan sistem yang berfungsi untuk mengontrol lebar
pembukaan saluran buang sehingga tenaga mesin lebih optimal di
segala putaran dan endapan karbon pada ruang bakar dapat
dieleminir.
Prinsip kerja RC valve adalah pada saat putaran mesin naik, lubang
exhaust pada posisi High sehingga lubang terbuka lebar, pada posisi
ini performa mesin yang dihasilkan akan tinggi. Saat putaran mesin
menengah lubang eexhaust akan diturunkan atau Low position,
sehingga performa mesin pada posisi ini juga baik.
Pada putaran rendah yaitu beban ringan atau kondisi stasioner,
lubang exhaust terbuka lebar, hal ini untuk menghindari pembakaran
tidak rata (intermitten combustion) sebagai akibat tercemarnya
campuran bahan bakar yang masuk dengan gas buang. Hal ini
merupakan sumber endapan karbon pada ruang bakar.

96

Port Timing

Gb. 4.7 RC valve pada Honda NSR 150R


Komponen RC Valve antara lain:
1. Control Unit
Control Unit berfungsi sebagai microcomputer yang mengontrol
kerja servo motor sesuai dengan putaran mesin. Input data control
unit untuk menentukan putaran mesin diperoleh dari
signal
pengapian.
2. Servo Motor
Servo motor merupakan motor yang menggerakan RC valve, untuk
mengatur tinggi pembukaan saluran buang sesuai dengan putaran
mesin. Gerakan servo motor ke RC valve menggunakan kabel.
Prinsip kerja RC valve
Saat kunci kontak diputar ke posisi ON maka RC Valve akan
bergerak dari posisi Hi ke posisi Low. Bila mesin dihidupkan
maka RC Valve akan bergerak dari posisi Low ke posisi Hi, namun
apabila putaran mesin di atas 2000 Rpm, maka RC Valve akan
bergerak dari posisi Hi ke posisi Low kembali.
Saat putaran mesin telah mencapai 6000 rpm, secara berlahan RC
Valve akan bergerak dari posisi Low ke posisi Hi sampai putaran
mesin 8500 rpm. Diatas putaran 8500 rpm RC Valve akan terbuka
penuh atau posisi Hi.

97

Port Timing

Gb. 4.8 Hubungan putaran dan pembukaan RC Valve


D. INTAKE CHAMBER
Pada saat putaran rendah kevakuman pada ruang bak engkol (crank
case), masih rendah sehingga aliran campuran bahan bakar kerung
engkol kurang stabil, untuk itu dibuat intake chamber, yang berfungsi
untuk menyerap campuran bahan bakar saat reed valve tertutup, dan
mensuplaikan campuran yang ditampung saat reed valve terbuka.
Saat mesin putaran tinggi dan reed valve tertutup maka campuran
bahan bakar akan membentur reed valve dan kembali ke karburator.
Adanya aliran kembali tersebut akan menghalangi campuran bahan
bakar yang akan masuk saat reed valve terbuka, sehingga jumlah
yang masuk menjadi lebih kecil, performa motor menurun dan banyak
campuran bahan bakar menyembur ke saringan bahan bakar,
saringan cepat kotor dan bahan bakar boros.
Mengatasi kelemahan tersebut dipasang intake chamber, dengan
adanya peralatan tersebut maka campuran bahan bakar yang
membentur reed valve saat menutup akan ditampung pada intake
chamber dan akan dialirkan ke bak engkol saat reed valve terbuka.
98

Port Timing

Dengan demikian stabilitas aliran campuran lebih baik dan performa


motor meningkat, bahan bakar lebih hemat.

Gb. 4.9 Intake Chamber


Pada motor Yamaha intake chamber disebut YEIS ( Yamaha Energy
Induction System).

Gb. 4.10 Sistem induksi udara pada Yamaha

99

Port Timing

Gb. 4.11 Sistem Induksi udara pada Kawasaki


E. SISTEM PEMBILASAN
Pada motor 4 tak proses pembuangan dilakukan lebih dari satu
langkah, dan saat langkah buang piston bergerak dari TMB menuju
TMA sehingga gas buang keluar ke knalpot karena tekanan
pembakaran dan dorongan piston saat menuju TMA. Pada motor 2
tak proses pembuangan mengandalkan tekanan sisa pembakaran
sehingga peluang sisa gas hasil pembakaran tertinggal diruang bakar
sangat tinggi, akibatnya gas baru yang masuk ke dalam silinder
berkurang, gas sisa bercampur bercampur dengan gas baru, efisiensi
volumetric rendah, tekanan hasil pembakaran rendah, performa
kendaraan rendah.
Sistem pembilasan berfungsi untuk memasukkan gas baru masuk ke
dalam silinder dan mendorong gas bekas keluar dari silinder, untuk
memasukkan gas baru ke dalam silinder diperlukan pompa bilas,
pada sepeda motor 2 tak bak engkol difungsikan sebagai ruang
pompa dan piston sebagai pompa bilas.
Terdapat beberapa model sistem pembilasan ditinjau dari tipe katup
masuk pompa bilas:

100

Port Timing

1. Tipe Piston (Piston Type)


Piston berfungsi sebagai katup masuk dan katup buang pompa bilas.
Saat piston di TMB saluran masuk tertutup piston, namun saat piston
bergerak ke TMA saluran masuk terbuka semakin lebar, ruang bak
engkol membesar maka campuran bahan bakar masuk ke dalam bak
engkol.

Gb. 4.12 Campuran masuk ke bak engkol


Saat piston bergerak dari TMA ke TMB, saluran masuk tertutup oleh
piston, campuran bahan bakar dikompresi, saat saluran bilas (transfer
port) terbuka campuran masuk ke dalam silinder untuk mendorong
gas sisa pembakaran (proses pembilasan).

Gb. 4.13. Proses pembilasan

101

Port Timing

Keuntungan sistem pembilasan tipe piston adalah konstruksi


sederhana, sehingga banyak digunakan pada motor penggerak serba
guna. Kelemahan tipe ini adalah:
a. Bila piston aus maka kevakuman bak engkol menurun,
tekanan pemompaan menurun, pada putaran tinggi kebororan
tekanan pembakaran ke saluran masuk sehingga campuran
bahan bakar menyembur keluar
b. Bergesernya posisi lubang masuk mempengaruhi timing port
motor dan karakteristin motor .
2. Tipe Katup Harmonika (Reed Valve Type)
Reed valve merupakan katup satu arah, dipasang antara karburator
dengan bak engkol. Reed valve berfungsi sebagai katup masuk
pompa bilas, katup keluar tetap menggunakan piston. Saat piston
bergerak dari TMB ke TMA ruang bak engkol membesar sehingga
kevacuman bak engkol meningkat.

Gb. 4.14
Tipe katup
harmonika
Perbedaan
tekanan
antara bak
engkol
dengan
udara luar
menyebabkan reed valve terbuka sehingga campuran bahan bakar
masuk ke dalam bak engkol.
Saat piston bergerak dari TMA ke TMB, volume bak engkol mengecil,
tekanan meningkat sehingga reed valve menutup. Saluran bilas
(transfer port) terbuka sehingga campuran bahan bakar didorong
masuk ke dalam silinder.

102

Port Timing

Gb. 4.15 Konstruksi reed valve


Keuntungan model ini adalah :
a. Timing port dapat dikontrol secara otomatis berdasarkan
perubahan tekanan di bak engkol,
b. Kunstruksi mesin lebih rapi, karena reed valve dapat
ditempatkan di bak engkol maupun di dinding silinder.
Kelemahannya adalah:
a. Tenaga untuk membuka reed valve diperoleh dari perbedaan
tekanan bak engkol dengan udara luar, sehingga dapat
menurunkan efisiensi pemasukan.
b. Reed valve harus dapat membuka dengan tenaga seringan
mungkin dan menutup dengan rapat.
Bahan reed valve yang banyak digunakan antara lain:
a. Stainless steel reed valve terbuat dari stainlees steel,
keuntungan daya tutup lebih kuat, namum mempunyai
beberapa kelemahan yaitu defleksi terbatas sehingga perlu
stopper, gaya membuka lebih besar sehingga mengurangi
efisiensi pemasukan, pada putaran tinggi terjadi getaran
sehingga penutupan kurang rapat sehingga karburator
menyembur keluar.
b. Resin reed valve terbuat dari bahan resin, keuntungan daya
tutup lebih kuat dan gaya untuk membuka lebih ringan
sehingga efisiensi pengisian meningkat, getaran saat putaran
tinggi dapat dikurangi sehingga cocok untuk putaran tinggi.

103

Port Timing

3. Reed valve and Piston Combination Type


Pada tipe ini mengkombinasikan antara kelebihan piston type dengan
reed valve type. Keuntungan dengan kombinasi ini adalah efisiensi
pengisian untuk putaran rendah dan tinggi lebih optimal.
Saat putaran rendah reed valve terbuka lebih awal, kemudian piston
dan menutup lebih cepat dari piston. Dengan mengkombinasikan
kedua katup tersebut berarti waktu pembukaan atau pemasukan ke
bak engkol lebih lama.
Saat putaran tinggi reed valve terbuka hampir mendekati waktu
pembukaan saluran piston (piston port), namun waktu penutupan
reed valve jauh sesudah saluran piston, sehingga pemasukan ke
ruang engkol pada putaran tinggi lebih banyak.

Gb. 4.16 Reed valve and Piston Combination Type


104

Port Timing

4. Torque Induction Reed Valve Type


Torque Induction Reed Valve merupakan penggabungan antara reed
valve type dengan piston type. Perbedaan dengan reed valve and
piston combination type adalah lubang aliran dipasang secara seri
dan pemasukan tambahan langsung ke ruang bakar dengan
memanfaatkan induksi pada lubang ke 7. Masuknya campuran akibat
inersia aliran saat pembuangan.

Gb. 4.17 Piston induction type


Ciri utama sistem ini adalah:
a. Reed valve diletakkan pada dinding silinder
b. Dinding piston pada bagian yang mengarah ke saluran
masuk berlubang .
c. Terdapat pingulan (champer) pada saluran masuk yang
mengarah ke ruang bakar
Torque Induction Reed Valve banyak digunakan motor 2 tak sistim 5
lubang maupun 7 lubang. Sistem 5 atau 7 lubang artinya pada
dinding silinder terdapat 5 lubang atau 7 lubang. Lubang tersebut
adalah:
Tabel 7. Jumlah lubang pada motor 2 tak
Lubang

Sistem 5 lubang

Utama
Induksi
Buang
Utama
Transfer
Bantu

1 buah
1 buah
1 buah
2 buah

Masuk

Sistem 7 lubang
1 buah
1 buah
1 buah
2 buah
2 buah

105

Port Timing
Jumlah

5 buah

7 buah

Gb. 4.18 Torque Induction Reed Valve type dengan 7 lubang


Prinsip kerja:
Pemasukan dan kompresi

Gb. 4.19 Proses pemasukan


dan kompresi

Saat piston bergerak dari TMB


menuju TMA, maka didalam
silinder terjadi proses kompresi,
proses ini dimulai saat lubang
bilas dan buang tertutup piston,
gerakan piston menyebabkan
campuran bahan bakar yang
masuk
dikompresi
sehingga
tekanan dan temperatur naik.
Dibawah piston terjadi proses
pemasukan campuran bahan
bakar. Saat piston bergerak ke
TMA, maka ruang bak engkol
membesar sehinggga tekanan
turun
106

Port Timing

Turunnya tekanan di dalam bak engkol menyebabkan adanya


perbedaan tekanan diluar bak engkol dengan didalam bak engkol
sehingga campuran bahan bakar terhisap masuk ke bak engkol
dengan membuka katup harmonika (reed valve) dan melalui
dinding piston yang berlubang
Proses Pembilas dan induksi

Gb. 4.20 Proses pembilasan dan induksi


Saat piston semakin mendekati TMB tekanan di bak engkol semakin
besar, sementara itu lubang bilas terbuka, sehingga campuran bahan
bakar dari bak engkol mengalir ke dalam silinder. Didalam silinder gas
baru yang masuk mendorong gas buang ke luar sehingga silinder
benar-benar bersih dari gas buang dan mengisi silinder dengan gas
baru.
Adanya inersia gas buang dan aliran bahan bakar dari lubang bilas/
transfert port menyebabkan terjadi kevakuman pada lubang 7 atau
lubang induksi sehingga saat lubang induksi terbuka maka campuran
bakan bakar mengalir dari karburator menruju ruang bakar untuk
meningkatkan proses pembilasan
5. Rotary Valve Type
Rotary Valve Type menggunakan rotary valve yaitu plat stainlees steel
yang tipis sebagai katup saluran masuk. Saluran masuk berada
dinding bak engkol (crank case), rotary valve dipasang pada poros
107

Port Timing

engkol untuk menutup saluran masuk. Rotary valve terdapat bagian


yang dipotong, saat bagian yang dipotong tepat pada lubang maka
saluran masuk terbuka, dan saluran tertutup saat plat menutup
lubang.
Kelebihan dari rotary velve type adalah :
a. Timing port dapat diatur dengan mudah sesuai dengan
karakteristik yang dikehendaki
b. Pembukaan dan penutupan saluran masuk dapat dilakukan
pada titik yang paling optimal yaitu saat tekanan udara luar
hampir sama dengan tekanan di bak engkol, sehingga
efisiensi pengisian tinggi.

Gb.4.21 Rotary valve type


Sistem ini mempunyai kelemahan:
a. Tempat pemasangan rotary valve harus rapat sehingga celah
antara dudukan (bagian stasioner) dengan katup (bagian
yang berputar) kecil.
b. Selama motor hidup rotary valve berputar sehingga terjadi
gesekan dengan dudukan katup. Katup dan dudukan katup
akan cepat aus.

108

Port Timing

c.

Rotary valve terbuat dari plat yang tipis dan lebar sehingga
mudah bergelombang (run out berlebihan), bila terjadi run out
penutupan katup kurang rapat, katup bocor
d. Penempatan karburator terbatas karena penempatan rotary
valve di dinding bak engkol dekat tumpuhan poros engkol
e. Kesalahan pemasangan rotary valve menyebabkan mesin
tidak hidup sehingga harus diperhatikan tanda pemasangan.

Gb. 4. 22 Prinsip kerja rotary valve

109

Anda mungkin juga menyukai