Anda di halaman 1dari 10

Pekerja sosial

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Pekerja sosial adalah bidang keahlian yang memiliki kewenangan untuk
melaksanakan berbagai upaya guna meningkatkankemampuan orang dalam
melaksanakan fungsi-fungsi sosialnya melalui interaksi; agar orang dapat
menyesuaikan diri dengan situasi kehidupannya secara memuaskan.
[1] Kekhasan pekerja sosial adalah pemahaman dan keterampilan dalam
memanipulasi perilaku manusia sebagai makhluk sosial.[1]
Pekerja sosial dipandang sebagai sebuah bidang keahlian (profesi), yang berarti
memiliki landasan keilmuan dan seni dalam praktik (dicirikan dengan
penyelenggaraan pendidikan tinggi),[1] sehingga muncul juga definisi pekerja
sosial sebagai profesi yang memiliki peranan paling penting dalam domain
pembangunan kesejahteraan sosial.[2] Sebagai suatu profesi kemanusian,
pekerjaan sosial memiliki paradigma yang memandang bahwa usaha
kesejahteraan sosial merupakan institusistrategis bagi
keberhasilan pembangunan.[2]
Konteks perkembangan[sunting | sunting sumber]
Ada dua konteks berbeda akan perkembangan pekerja sosial, karakteristiknya,
dan model-modelnya.[3] Model pertama didasarkan pada pengaruh asli negaranegara maju di Dunia Pertama, yang secara umum diwakili oleh dua negara
industrialis, yaitu Inggris dan Amerika Serikat.[3] Model kedua dibentuk oleh
pengalaman banyak negara berkembang di Dunia Ketiga di beberapa wilayah
benua Asia, Afrika, dan Amerika Latin.[3] Menurut Ragab (1990) Perkembangan
pekerja Sosial di Dunia Ketiga mengambil sebuah jalan yang sepenuhnya
berbeda,[3] di mana ketimbang memberikan respon-respon menjadi diri sendiri
terhadap berbagai kebutuhan lokal, mereka telah menjadi produk-produk final
yang ditranspalasikan dari Negara-negara maju.[3]
Sejarah[sunting | sunting sumber]
Konteks kelahiran dan perkembangannya[sunting | sunting sumber]
Di Inggris dan Amerika Serikat, pekerja sosial muncul karena menanggapi
banyak dampak negatif yang disebabkan oleh keseluruhan proses industrialisasi
ekonomi danurbanisasi seperti kemiskinan dan penciptaan kelas-kelas pekerja.
[3] Sejarah awal pekerja sosial pada kedua negara industrialisasi tersebut
sebenarnya adalah sebuah sejarah tentang berbagai aktivitas kedermawanan
atau filantropis demi menolong rakyat miskin atau juga dikenal dengan istilah
penanganan kemiskinan(Hick 2003).[3] Aktivitas-aktivitas filantropis itu secara
resmi diturunkan dari undang-undang terkenal mengenai kemiskinan: yaitu
Undang-Undang kemiskinan Elizabeth yang keluar pada abad ke-17
(Barkerm1995).[3] Gerakan dari aktivitas kedermawanan ke arah sebuah profesi
modern disebabkan oleh suatu kenyataan bahwa jenis bantuan yang ada bagi

rakyat miskin memunculkan kesulitan-kesulitan besar.[3] Sebagian besar


hambatan tersebut adalah keterbatasan sumber daya, kurang koordinasi,
pelaksanaan yang diskriminatif, ketidakperdulian, kurangnya transparansi, dan
ketidakmampuan untuk memberikan pelayanan secara memadai (Midgley,1981).
[3] Awalnya, ada dua reaksi spesifik terhadap bentuk baru dalam meregulasi
kaum miskin sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Kemiskinan itu.
[3] Yang pertama adalah the Charity Organization Society (COS), dan
kedua Fabian Society, yang ditransformasikan langsung kepada sebuah
pendekatan the Settlement House Movement, adalah asal-muasal profesi pekerja
sosial, dan secara nyata adalah produk-produk industrialisasi dan urbanisasi
(Jhon 1995).[3]
Proses pekerjaan sosial[sunting | sunting sumber]
Setiap ahli memiliki pandangan yang beragam mengenai proses pekerjaan
sosial.[1] Latar belakang budaya, bidang garapan dan objek pekerjaan sosial
yang berbeda di antara para ahli tersebut sehingga menghasilkan proses
pekerjaan sosial yang berbeda.[1] Menurut Dean H. Hepworth & Jo Ann Larsen:
[1]
Eksplorasi, perencanaan penilaian[1]
Pelaksanaan pencapaian tujuan[1]
Evaluasi pelepasan[1]
Menurut Max Siporin.[1]
Pembuatan perjanjian dan kontrak[1]
Penilaian[1]
Perencanaan[1]
Intervensi[1]
Evaluasi dan terminasi[1]
Menurut Lawrance M. Bremmer.[1]
Membangun hubungan : masuk, klarifikasi, struktur, hubungan[1]
Memfasilitasi dengan tindakan positif: eksplorasi, konsolidasi, perencanaan,
pelepasan[1]
Nilai-nilai dasar[sunting | sunting sumber]
Nilai-nilai dasar pekerjaan sosial berdasarkan pada nilai-nilai masyarakat
demokratis, yang seperti dikemukakan oleh Helen Northen, mengandung makna
bahwa:
Setiap orang bebas untuk mengungkapkan dirinya sendiri.[1]

Setiap orang bebas untuk menjaga kerahasiaan dirinya.[1]


Setiap orang bebas berpartisipasi di dalam pembuatan keputusan yang
menyangkut kepentingan pribadinya.[1]
Setiap orang berkewajiban untuk mengarahkan kehidupan pribadinya secara
bertanggung jawab agar dapat bertindak secara konstruktif dalam kehidupan
masyarakat.[1]
Setiap individu dan kelompok punya tanggung jawab sosial untuk
meningkatkan kehidupan masyarakat.[1]
Prinsip-prinsip praktik[sunting | sunting sumber]
Penerimaan merupakan prinsip Pekerja Sosial yang fundamental, yaitu dengan
menunjukkan sikap toleran terhadap keseluruhan dimensi klien (plant,1970).[1]
Tidak memberikan penilaian, hal ini berarti Pekerja Sosial menerima klien dengan
apa adanya disertai prasangka atau penilaian.[1]
Individualisasi berarti memandang dan mengapresiasi sifat unik dari klien
(Bistek,1957).[1] Setiap klien memiliki karakteristik kepribadian dan pemahaman
yang unik, yang berbeda dengan setiap individu yang lain.[1]
Menentukan sendiri, ialah memberikan kebebasan mengambil keputusan oleh
klien.[1]
Tampil apa adanya, berarti Pekerja SOsial sebagai seorang manusia yang
berperan apa adanya, alami, tidak memakai topeng, pribadi yang asli dengan
segala kekurangan dan kelebihannya.[1]
Mengontrol keterlibatan emosional, berati Pekerja Sosial mampu
bersikap objektif dan netral.[1]
Kerahasiaan, Pekerja Sosial harus menjaga kerahasiaan informasi seputar
identitas, isi pembicaraan dengan klien, pendapat proffesional lain atau catatancatatan kasus mengenai diri klien.[1]
Sistem dasar[sunting | sunting sumber]
Sistem pelaksana perubahan
Sistem pelaksana perubahan adalah sekelompok orang yang tugasnya memberi
bantuan atas dasar keahlian yang berbeda-beda dan bekerja
dengan sistem yang berbeda-beda pula ukurannya. [2] Seorang pekerja sosial
dapat disebut sebagai pelaksana perubahan, sementara itu lembagalembaga kesejahteraan sosial yang memperkerjakannya disebut sebagai sistem
pelaksana perubahan. [2]
Sistem Klien

merupakan individu, kelompok, keluarga, organisasi atau masyarakat yang


meminta bantuan atau pelayanan kepada sistem pelaksana perubahan.
[2] Sistem Klien adalah yang bermanfaat bagi klien, yang seluruhnya berfokus
pada kekuatan dan sumber-sumber klien.
Sistem Sasaran
adalah pihak-pihak yang dapat dijadikan sasaran perubahan, atau
dijadikan media yang dapat mempengaruhi proses pencapaian tujuan
pertolongan. [2]
Sistem Kegiatan
menunjukkan pada orang-orang yang bekerjasama dengan pekerja sosial untuk
melakukan usaha-usaha perubahan melalui pelaksanaan tugas-tugas atau
program kegiatan. [2]
Fokus Praktik[sunting | sunting sumber]
adalah memberdayakan klien dan memantapkan hubungan pertolongan yang
kolaboratif.[4] Dalam praktik pekerjaan sosial berbasis-kekuatan, suatu
hubungan pertolongan kolaboratif dibentuk antara seorang profesional dan
seorang individu, atau keluarga, atau kelompok, atau sebuah organisasi, atau
suatu masyarakat dengan tujuan memberdayakan dan meningkatkan keadilan
sosial dan ekonomi.
Fokus Praktik Pekerja Sosial
Mikro adalah meningkatkan keberfungsian dan keberdayaan klien.
Fokus Praktik Pekerja Sosial Makro
adalah pada perubahan keorganisasian dan komunitas/ masyarakat.

Klien sukarela
adalah klien yang mencari pelayanan dari pekerja sosial atau badan-badan sosial
atas dasar keinginan sendiri karena mereka memang membutuhkan bantuan
yang berhubungan dengan sejumlah aspek kehidupannya sendiri.[4]
Klien tidak sukarela
adalah klien yang ditekan atau dipaksa untuk mencari bantuan oleh seseorang
yang mereka kenal dekat, bisa anggota keluarga ataupun bukan.[4] Mereka tidak
memperoleh mandat dari pengadilan atau hukum atau badan sosial untuk
memperoleh bantuan.[4]
Klien bukan sukarela
adalah yang memiliki mandat hukum untuk menerima pelayanan-pelayan.
[4] Mereka tidak memiliki pilihan lain untuk hal tersebut.[4]

Penelitian[sunting | sunting sumber]


Penelitian pekerja sosial adalah
suatu penelitian yang sistematis dan kritis terhadap persoalan-persoalan di
dalam praktik pekerjaan sosial, dengan maksud untuk memperoleh jawaban
terhadap masalah-masalah pekerjaan sosial, serta memperluas dan
menggenaralisasikan pengetahuan dan konsep pekerja sosial.[5]
Kaitan penelitian dengan praktiknya[sunting | sunting sumber]
Penelitian Pekerjaan Sosial diharapkan dapat mengembangkan konsep, teori atau
pengetahuan yang valid bagi keperluan Praktik Pekerja Sosial dalam bentuk
metoda-metoda praktik yang ilmiah yang memenuhi persyaratan standar ilmiah.
[5]
Para pekerja sosial dan pelaksana pelayanan pekerja sosial lainnya diharapkan
lebih memahami dan membaca berbagai hasil Penelitian Pekerja Sosial serta
menerapkan konsep, teori dan pengetahuan yang dikembangkan oleh peneliti
Pekerja Sosial, kedalam praktik-praktik pertolongan Pekerjaan Sosial.[5]
Sebagian dari kalian mungkin masih awam dengan yang namanya "Pekerjaan
Sosia". Karena itu, saya selaku orang yang menggeluki dunia ini sejak 2010 lalu
ingin membagi sedikit ilmu yang sudah saya dapatkan kepada teman- teman.
Terutama tentang sejarah adanya profesi pekerjaan sosial. Tanpa membuang
waktu saya akan memberi secara singkat sejarah profesi pekerjaan sosial.

SEJARAH PROFESI PEKERJAAN SOSIAL


Pakar ilmu pekerjaan sosial Charles Zastrow, membagi sejarah perkembangan
profesi pekerjaan sosial ke dalam tida tahap perkembangan, yakni : tahap
perkembangan pekerja sosial amal (charity social work), tahap pekerjaan sosial
kemanusiaan (philanthropy social work), dan tahap perkembangan pekerjaan
sosial professional (professional social work).

Tahap Pekerjaan Sosial Amal (charity social work)


Pada tahap ini bentuk praktik pekerjaan sosial masih bersifat sederhana. Secara
perkembangan pekerjaan sosial amal dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. pekerjaan sosial ada dan berkembang sejak awal tahun 1880-an sampai awal
tahun 1900-an. Pada saat itu para kelompok agamawan berlomba untuk
"berbuat kebajukan" untuk orang lain, dan tidak ada pelatihan formal bagaimana
memberi bantuan kepada kaum miskin. Dan hanya sedikit pemahamannya
tentang tingkah laku manusia.

b. sekitar tahun 1820 di masyarakat berdiri organisasi yang bergerak di bidang


pelayanan kesejahteraan sosial. Organisasi yang pertama berdiri dirintis oleh
tuan jhon Gricon.
c. pada pertengahan tahun 1877 bermunculan lembaga- lembaga bantuan
sosial yang dikelolah oleh swasta. Organisasi sosial tersebut di kenal sebagai
organisasi amal masyarakat (the charity organization society).
d. pada akhir tahun 1886 di kota London berdiri organisasi yang disebut
"Toynbee Hall" yakni semacam rumah penampungan bagi para kaum miskin.
Metode pelayanan yang digunakan pada saat itu, yakni social grup work, social
action, dan community organization.
Tahap Pekerjaan Sosial Kemanusiaan (philanthropy social work)
Maksud dari tahap ini yaitu pemberian bantuannya dengan cara memanusiakan
manusia.
a. Tahap perkembangan pekerjaan sosial kemanusiaan (philanthropy) berrawal
dengan di bukanya New York School of Philanthropy (1898).
b. Tahun 1905, Richard Cabot, memperkenalkan pekerjaan sosial medis ke dalam
pelayanan rumah sakitumum di Massachusetts.
c. Tahun 1907, Marry Richmond, menerbitkan apa yang disebut "diagnosis
social", suatu naskah yang menyajikan pertama kali teori dan metodologi
pekerjaan sosial.
d. Tahun 1920-an teori- teori perkembangan kepribadian dan therapy berperan
dalam praktek pekerjaan sosial oleh karena itu pekerjaan sosial menekankan dari
"pertumbuhan kembali" (reform) ke "penyembuhan" (therapy).
e. Tahun 1960-an kembali pada pendekatan sosiologis. pekerjaan sosial pada
saat itu merangkul keda- duany, baik pendekatan pembentukan maupun therapy.
Belum sampai akhir Perang Dunia I, pekerjaan sosial mulai dikenal sebagai suatu
profesi tersendiri.
Tahap Perkembangan Pekerjaan Sosial Professional (professional social work)
Dan ditahap terakhir ini merupakan tahap dimana pekerjaan sosial sudah
dilandasi dengan pendidikan.
a. Tahun 1955 Asosiasi Nasional Pekerjaan Sosial dibentuk di Amerika. Tujuan
Asosiasi ini ialah untuk memperbaiki kondisi- kondisi sosial di masyarakat dan
meningkatkan kualitas yang tinggi dan efektifitas dalam praktek pekerjaan
sosial.
b. Perklembanagn selanjutnya adalah suatu registasi atau lisensi bagi para
pekerjaan sosial wajib memiliki ijin resmi atau sertifikat sebelum praktek.
c. September 1977 telah ada sekitar 22 negara bagian yang memiliki undangundang tentnag pekerjaan sosial.
d. Perkembangan selanjutnya, pekerjaan sosial sebagai satu profesi juga yang
telah memenuhi syarat profesi.

Nilai dan Etika Pekerjaan Sosial


Definisi
Nilai (value) berasal dari bahasa Latin, yaitu valere yang artinya, menjadi kuat,
atau menjadi terhormat (Reamer, 1999:10). Pada dasarnya, nilai memiliki
pengertian yang berbeda-beda disesuaikan dengan konteksnya. Soetarso
(1968:32-33) mengatakan bahwa nilai adalah kepercayaan, pilihan, atau asumsi
tentang yang baik untuk manusia. Nilai bukan menyangkut keadaan dunia ini
atau apa yang diketahui pada saat ini, tetapi bagaimanakah seharusnya atau
sebaiknya dunia ini. Sarah Banks (2001:6) mengungkapkan dalam kehidupan
sehari-hari, nilai dapat berarti agama, politik atau prinsip-prinsip ideologi,
keyakinan atau sikap. Namun, apabila dihubungkan dengan pekerjaan sosial,
maka nilai yang dimaksud disini adalah seperangkat prinsip etik/moral yang
fundamental dimana pekerja sosial harus berkomitmen. Misalnya, dalam
pekerjaan sosial ada nilai untuk menghargai keunikan dan perbedaan, privacy,
menjaga kerahasiaan, dan perlindungan (dalam Huda, 2009:135-136).
Jika nilai berbicara tentang sesuatu yang baik dan buruk maka etika (ethics)
terkait benar (right) atau salah (wrong). Jadi, etika bersifat eksplisit dan konkret.
Secara bahasa, etika memiliki pengertian yang sama dengan moralitas. Menurut
Keraf (1998:14), moralitas berasal dari kata Latin mos, (jamaknya mores) yang
artinya adat istiadat atau kebiasaan. Sedangkan etika sendiri berasal dari
kata ethos (jamaknya ta etha) yang juga berarti adat istiadat atau kebiasaan.
Perbedaannya adalah dalam konteks tertentu etika dapat dipahami secara lebih
luas daripada moralitas. Sebab etika dapat dipahami sebagai filsafat moral, yaitu
suatu ilmu yang membahas dan mengkaji nilai dan norma. Magnis (1987:14)
menyebutkan bahwa etika adalah sebuah ilmu dan bukan ajaran. Sebagai
sebuah ilmu, etika mempunyai bidang kajian yang luas dibandingkan dengan
moralitas. Etika berisikan nilai dan norma-norma konkret yang menjadi pedoman
dan pegangan hidup manusia dalam seluruh kehidupannya. Pedoman dan
penganhan hidup tersebut dapat berupa perintah maupun larangan yang
bersifat tegas dan konkret. Karena itulah dalam konteks profesi (seperti halnya
pekerjaan sosial) ada sebuah aturan dan norma yang mengikat yang disebut
sebagai kode etik (dalam Huda, 2009:136-137).
Sejarah dan Perkembangan
Dalam sejarah dan perkembangannya, nilai dalam pekerjaan sosial menapaki
beberapa tahapan perkembangan (Reamer, 1999:5; dalam Huda, 2009:138-141):
Pertama, dimulai pada akhir abad XIX (Abad 19) suatu masa ketika pekerjaan
sosial belum resmi disebut sebagai profesi. Selama masa ini pekerjaan sosial
cenderung fokus tentang apa yang dianggap bermoral dan tidak bermoral dari
seorang klien ketimbang fokus kepada moral atau etika profesi dan praktisi.
Kedua, tahapan ini dimuali pada awal abad XX suatu era progresif dalam
pekerjaan sosial yang ditandai dengan berdirinya settlement house pada akhir

abad XIX. Settlement house adalah suatu organisasi sosial yang bergerak lebih
humanis untuk mereformasi lingkungan dan sistem daripada melakukan
perbaikan terhadap manusianya. Nilai yang berkembang dalam tahapan ini pun
bergeser dari masalah moral menyangkut klien kepada kebutuhan untuk
melakukan reformasi sosial yang disesain untuk mengurangi berbagai
permasalahan sosial. Misalnya, berkaitan dengan perumahan, perawatan
kesehatan, sanitasi, pengangguran, kemiskinan, dan pendidikan.
Ketiga, tahapan ini dimulai pada akhir tahun 1940-an dan awal 1950-an. Nilai
yang berkembang pada masa ini cenderung mengedepankan nilai-nilai atau
etika yang berkaitan dengan profesionalisme pekerjaan sosial. hal ini berbeda
jika dibandingkan dengan masa sebelumnya yang cenderung menonjolkan nilai
dan moralitas yang berkaitan dengan klien. Ini adalah pergeseran penting yang
terjadi dalam sejarah perkembangan nilai dalam pekerjaan sosial. kondisi ini
dapat dimengerti karena pada masa ini pekerjaan sosial telah menjadi profesi
tersendiri, sehingga aktivitas pertolongan dilakukan dengan memegang pronsipprinsip profesionalisme tertentu. Pada masa ini juga pekerjaan sosial muali
mengadopsi kode etik, yaitu sebuah prinsip-prinsip nilai dan etika yang harus di
pegang dan dipatuhi oleh para pekerja sosial. adapaun nilai-nilai yang
berkembang pada periode ini misalnya, martabat dan kehormatan, keunikan,
harga diri seseorang, self-determination, keadilan, dan persamaan.
Terakhir, pada tahun 1960-an nilai yang berkembang pada masa ini
menonjolkan konstruk etik tentang keadilan sosial, hak, dan reformasi. Setting
kehidupan sosial dan ekonomi global yang makin kompleks menuntut pergeseran
nilai yang harus ditegakkan oleh profesi pekerjaan sosial. Maka dari itu, nilai
tentang persamaan sosial, hak kesejahteraan, hak asasi manusia, diskriminasi,
dan penindasan menjadi tema-tema nilai dominan yang berkembang pada masa
ini. Tetapi bukan berarti pergeseran nilai ini menghapuskan nilai-nilai yang ada
pada tahapan sebelumnya, sebab sifat perkembangan nilai dalam hal ini adalah
saling melengkapi satu sama lain.
Peran Nilai dan Etika dalam Pekerjaan Sosial
Pentingnya peranan nilai dan etika dalam pekerjaan sosial menjadikan keduanya
sebagai salah satu fondasi pengetahuan mendasar yang harus dimiliki oleh
pekerja sosial. tidak mungkin aktivitas pertolongan dapat menjadi suatu profesi
spesialis tanpa adanya pengetahuan bahwa menolong orang adalah nilai yang
baik. Ketika menolong orang dianggap sebagai suatu nilai yang baik, maka
secara etis perilaku digerakka untuk menolong seseorang yang membutuhkan
karena itu adalah kebenaran. Keyakinan-keyakinan tentang sesuatu yang baik
menuntut pekerja sosial untuk melakukannya karena perbuatan tersebut adalah
benar. Sebaliknya, keyakinan-keyakinan mengenai sesuatu yang buruk
mencegah pekerja sosial sehingga menghindarinya karena perbuatan tersebut
adalah salah. Nilai dan etika pada akhirnya menjadi kunci petunjuk terhadapa
perbuatan baik buruk atau benar salah. Keyakinan tentang nilai yang benar juga
berperan sebagai petunjuk bagi pekerja sosial untuk memutuskan suatu perkara

ketika terjadi dilema etis dalam melakukan intervensi sosial (dalam Huda,
2009:141-142).
Bentuk Nilai dan Etika dalam Pekerjaan Sosial
Ada bermacam-macam nilai dan etika dalam pekerjaan sosial. Namun, secara
umum dapat dilihat dari kode etik NASW (National Association of Social Worker)
antara lain (Reamer, 1999:26-27; dalam Huda, 2009:142-145):
Pelayanan (nilai)
Prinsip etiknya adalah pekerja sosial harus mengutamakan tujuan untuk
membantu masyarakat yang membutuhkan dan memusatkan pada
permasalahan sosial. prinsip pelayanan diletakkan diatas kepentingan pribadi
maupun kepentingan golongan. Melayani klien baik individu, keluarga, kelompok,
maupun masyarakat merupakan kewajiban dari pekerja sosial yang harus
diutamakan. Tanpa prinsip pelayanan, pekerjaan sosial tidak memiliki aktivitas
profesional
Keadilan Sosial (nilai)
Prinsip etik dari nilai ini adalah pekerja sosial wajib untuk menentang
ketidakadilan sosial. Tujuan inti pekerjaan sosial adalah menuju perubahan sosial
yang lebih humanis dan mengarah kepada kesejahteraan sosial. ketidakadilan
sosial maupun penindasan yang terjadi dalam masyarakat menjadi tanggung
jawab pekerja sosial untuk mengubah keadaan tersebut.
Harkat dan Martabat Seseorang (nilai)
Prinsip etik dari nilai ini adalah pekerja sosial menghormati harkat dan martabat
seseorang. Pekerjaan sosial merupakan profesi yang melibatkan diri langsung
baik dalam setting individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat. Oleh sebab
itu, setting keterlibatan langsung ini menuntut dari para peker sosial untuk
memiliki modal nilai yang menghargai orang lain dalam melakukan interaksi
sosial.
Mementingkan Hubungan Kemanusiaan (nilai)
Prinsip etik dari nilai ini adalah pekerja sosial mengakui dan mengutamakan
hubungan kemanusiaan. Hubungan kemanusiaan (human relationship) adalah
unsur yang sangat penting di dalam proses perubahan sosial. maka dari itu,
menjunjung tinggi hubunga kemanusiaan dan kemasyarakatan harus dilakukan
untuk mendukung perubahan sosial agar berjalan secara positif. Hubunga
kemanusiaan adalah bagian dari proses pertolongan.
Integritas (nilai)
Prinsip etik dari nilai ini adalah pekerja sosial harus mempunyai perilaku yang
dapat dipercaya. Dalam batas tertentu, profesi pekerja sosial adalah seperti
dokter, mengobati dan menyembuhkan individu, keluarga, kelompok atau
masyarakat yang sedang sakit. Tanpa adanya perilaku yang dapat dipercaya,

pekerja sosial tidal dapat menjalankan profesi tersebut dengan baik. Integritas
setidaknya ditunjukkan dengan konsistensi pekerja sosial dengan misi
profesional, nilai, dan prinsip etika, dan standar etika dalam aktivitas pertolonga
yang dilakukannya.
Kompetensi (nilai)
Prinsip etik dari nilai ini adalah pekerja sosial harus mempraktikkan keahlian
profesionalismenya dalam proses pertolongan yang dilakukan. Dalam hal ini
pengetahuan dan skill yang memadai harus dimiliki oleh pekerja sosial untuk
menunjang kompetensi dari pekerja sosial. tanpa adanya kompetensi tersebut
menjadikan pekerja sosial tidak dapat profesional dan mencapai tujuannya
dengan baik. Sehingga adanya pengetahuan dan keahlian yang memadai juga
menjadi dasar kepemilikan yang sangat penting dalam profesi pekerjaan sosial.