Anda di halaman 1dari 2

Masalah

Penuaan atau proses terjadinya tua adalah suatu proses menghilangnya secara
perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi
serta

memperbaiki

kerusakan

yang

diderita (Constantinides,

1994, dalam

Maryam, 2008). Menua bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan proses


yang berangsur-angsur mengakibatkan perubahan yang kumulatif, merupakan
proses menurunnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari
dalam dan luar tubuh yang berakhir dengan kematian (Nugroho, 2008).
Salah satu perubahan yang terjadi pada proses penuaan yaitu perubahan pada
sistem

gastrointestinal.

Perubahan-perubahan

yang

terjadi

pada

sistem

gastrointestinal tersebut yaitu termasuk perubahan struktur dan fungsi usus


besar. Pada lansia terjadi perubahan dalam usus besar termasuk penurunan
sekresi mukus, elastisitas dinding rektum, peristaltik kolon yang melemah gagal
mengosongkan rektum yang dapat menyebabkan konstipasi (Leueckenotte,
2000). Pada usus besar kelokan-kelokan pembuluh darah meningkat sehingga
motilitas kolon menjadi berkurang. Keadaan ini akan menyebabkan absorpsi
air

dan

elektrolit

meningkat

(pada

kolon

sudah

tidak

terjadi

absorpsi

makanan), feses menjadi lebih keras, sehingga keluhan sulit buang air besar
merupakan keluhan yang sering didapat pada lansia. Proses defekasi yang
seharusnya dibantu oleh kontraksi dinding abdomen juga seringkali tidak efektif
karena dinding abdomen sudah melemah (Darmojo & Martono, 2006).
Konstipasi secara luas didefinisikan sebagai frekuensi jarang atau kesulitan
pergerakan feses, feses kering (Leueckenotte, 2000). Konstipasi adalah suatu
penurunan frekuensi pergerakan usus yang disertai dengan perpanjangan
waktu dan kesulitan pergerakan feses (Stanley, 2007). Pada keadaan normal
kolon harus dikosongkan sekali dalam 24 jam secara teratur. Kontraksi otot kolon
akan mendorong tinja ini ke arah rektum. Pada lansia terjadi penurunan
motilitas kolon, penurunan peristaltik kolon sehingga menyebabkan transit tinja
dalam kolon menjadi lama. Keadaan ini akan menyebabkan absorpsi air dan
elektrolik pada tinja meningkat. Sehingga begitu mencapai

rektum,

tinja

akan

berbentuk padat karena sebagian besar airnya telah diserap. Tinja yang keras

dan

padat

menyebabkan

susahnya

proses defekasi.

Keadaan

ini

dapat

menyebabkan lansia rentan untuk mengalami konstipasi (Miller, 1995).


Pepaya mempunyai nama latin carica papaya. Meskipun buah pepaya termasuk
buah yang murah dan mudah didapat, namun jangan pernah memandang remeh
soal khasiatnya. Kandungan nutrisi buah pepaya vitamin A, B. Fosfort, kalium,
lemak. Buah pepaya mengandung enzim papaain dan serat yang dapat membantu
mengatasi masalah lambung dan gangguan pencernaan seperti susuah buang air
besar dan efektif untuk mencegah wasir. Penelitian juga membuktikan bahwa
kandungan papain dalam buah pepaya dapat membunuh parasit yang mengganggu
aktivitas pencernaan dalam usus.
Manfaat Enzim Papain Untuk Pencernaan
Enzim papain dapat membantu tubuh untuk memproduksi enzim pencernaan,
karena itu buah pepaya sangat baik bagi sistem pencernaan kita. Manfaat enzim
buah pepaya ini terutama sangat berguna untuk mencerna protein.
Keuntungan terbesar dari enzim papain bagi pencernaan adalah pada mereka yang
telah berusia diatas 50 tahun. Orang pada usia tersebut biasanya lebih sedikit
memproduksi enzim pencernaan, sehingga buah pepaya dapat dijadikan sebagai
solusi yang tepat. Namun ada satu hal yang harus diperhatikan. Enzim ini dapat
meningkatkan resiko pendarahan. Karena itu, bagi mereka yang mempunyai tukak
lambung atau luka dalam organ pencernaan sangat dilarang untuk mengkonsumsi
buah pepaya.

Dengan ini kita dapat memberikan jus pepaya seminggu 3 kali untuk membantu
melunakan pencernaan makanan sehingga dapat membantu melancarkan bab. Agar
lansian dapat merasa senang karena tidak ada lagi masalah konstipasi.
Pengaruh Pemberian Jus Pepaya Terhadap Penurunan Konstipasi Pada
Lansia

Beri Nilai