Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH KOMUNIKASI

KONSEP DIRI

DI SUSUN OLEH:
-

DHIESSA EKA N (1211C10)

SYAHIDA NUR ANNISA M (1212C1010)

SEKOLAH TINGGI ANALIS BAKTI ASIH BANDUNG


Jl. Padasuka Atas No. 233 Bandung 40192
2015

KATA PENGANTAR
Segala puji kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dengan adanya penyusunan
makalah seperti ini, pembaca dapat belajar dengan baik dan benar mengenai Konsep
Diri.
Penulis mengucapkan terimah kasih kepada pihak-pihak yang telah memberi sumbangsi
kepada kami dalam penyelesaian makalah ini. Dan tentunya penulis juga menyadari,
bahwa masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan pada makalah ini. Hal ini
Karena keterbatasan kemampuan dari penulis. Oleh karena itu, penulis senantiasa
menanti kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak guna
penyempurnaan makalah ini.
Semoga dengan adanya makalah ini kita dapat belajar bersama demi kemajuan kita dan
kemajuan ilmu pengetahuan.
Amien.

Bandung, Maret 2015

Penulis

Daftar Isi
Kata Pengantar.............................................................................................................ii
Daftar Isi.....................................................................................................................iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah....................................................................................1
1.2
Rumusan Masalah.............................................................................................2
1.3 Tujuan................................................................................................................3
BAB II
ISI
2.1
Pengertian Konsep Diri....................................................................................4
2.2
Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri.........................................................5
2.3
Pembagian Konsep Diri...................................................................................6
2.4
Aspek-Aspek Konsep Diri................................................................................7
2.5
Pembentukan dan Perkembangan Konsep Diri................................................9
2.6
Pentingnya Konsep Diri...................................................................................9
2.7
Jenis-Jenis Konsep Diri..................................................................................10
2.8
Ciri-Ciri Konsep Diri......................................................................................11
2.9
Dimensi Konsep Diri......................................................................................12
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan......................................................................................................14

Daftar Pustaka............................................................................................................17

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Komunikasi menjadi aktivitas yang tidak terelakkan dalam kehidupan seharihari. Komunikasi memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia. Hampir
setiap saat kita bertindak dan belajar dengan dan melalui komunikasi. Komunikasi
merupakan medium penting bagi pembentukan atau pengembangan pribadi untuk
kontak sosial. Melalui komunikasi seseorang tumbuh dan belajar, menemukan
pribadi diri sendiri dan orang lain, kita bergaul, bersahabat, bermusuhan,
mencintai atau mengasihi orang lain, membenci orang lain dan sebagainya.
Ada beberapa bentuk komunikasi yang saat ini kita kenal, salah satunya adalah
komunikasi antarpribadi. Sebagian besar komunikasi yang kita lakukan
berlangsung dalam situasi komunikasi antarpribadi. Situasi komunikasi
antarpribadi ini bisa kita temui dalam konteks kehidupan dua orang, keluarga,
kelompok maupun organisasi.
Komunikasi antarpribadi pada dasarnya merupakan jalinan hubungan
interaktif antara seorang individu dan individu lain di mana lambang-lambang
pesan secara efektif digunakan, terutama lambang-lambang bahasa. Penggunaan
lambang-lambang bahasa verbal, terutama yang bersifat lisan di dalam kenyataan
kerapkali disertai dengan bahasa isyarat terutama gerak atau bahasa tubuh (body
language), seperti senyuman tertawa, dan menggeleng atau menganggukan kepala.
Komunikasi antara pribadi umumnya dipahami lebih bersifat pribadi (private) dan
berlangsung secara tatap muka (face to face).
Komunikasi antarpribadi mempunyai berbagai macam manfaat. Melalui
komunikasi antarpribadi kita bisa mengenal diri sendiri dan orang lain,
mengetahui dunia luar dan dapat menjalin hubungan yang lebih bermakna.
Melalui komunikasi antarpribadi kita bisa melepaskan ketegangan, memperoleh
hiburan dan menghibur orang lain. Komunikasi antarpribadi juga dapat digunakan
untuk mengubah nilai-nilai dan sikap seseorang. Singkatnya komunikasi
antarpribadi mempunyai berbagai macam kegunaan.
Dalam kaitannya untuk mengenali diri sendiri dan orang lain, komunikasi
antarpribadi menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi konsep diri seseorang.
Terkait dengan pembentukannya, konsep diri mulai berkembang sejak masa bayi
dan akan terus berkembang sejalan dengan perkembangan individu itu sendiri.
Konsep diri individu terbentuk melalui imajinasi individu tentang respon yang
diberikan oleh orang lain melalui proses komunikasi.
Diri pribadi adalah suatu ukuran kualitas yang memungkinkan seseorang
untuk dianggap dan dikenali sebagai individu yang berbeda dengan individu
lainnya. Kualitas yang membuat seseorang memiliki kekhasan sendiri sebagai
manusia ini, tumbuh dan berkembang melalui interaksi sosial, yaitu
berkomunikasi dengan orang lain. Individu tidak dilahirkan dengan membawa
kepribadian. Pengalaman dalam kehidupan akan membentuk diri pribadi setiap
manusia, tetapi setiap orang juga harus menyadari apa yang sedang terjadi dan apa
1

yang telah terjadi pada diri pribadinya. Kesadaran terhadap diri pribadi ini pada
dasarnya adalah suatu proses persepsi yang ditujukan pada dirinya sendiri yang
kemudian kita sebut sebagai konsep diri.
Konsep diri sangat erat kaitannya dengan diri individu. Kehidupan yang sehat,
baik fisik maupun psikologi salah satunya di dukung oleh konsep diri yang baik
dan stabil. Konsep diri adalah hal-hal yang berkaitan dengan ide, pikiran,
kepercayaan serta keyakinan yang diketahui dan dipahami oleh individu tentang
dirinya. Hal ini akan mempengaruhi kemampuan individu dalam membina
hubungan interpersonal. Meski konsep diri tidak langsung ada, begitu individu di
lahirkan, tetapi secara bertahap seiring dengan tingkat pertumbuhan dan
perkembangan individu, konsep diri akan terbentuk karena pengaruh
ligkungannya. Selain itu konsep diri juga akan dipelajari oleh individu melalui
kontak dan pengalaman dengan orang lain termasuk berbagai stressor yang dilalui
individu tersebut. Hal ini akan membentuk persepsi individu terhadap dirinya
sendiri dan penilaian persepsinya terhadap pengalaman akan situasi tertentu.
Di era yang modern ini sangatlah penting bagi setiap individu untuk
memahami maupun mengenal konsep diri, terutama bagi kaum remaja yang
belum begitu stabil keadaan psikologisnya. Di tengah kehidupan sosial dan
kepungan media yang senantiasa menawarkan berbagai nilai, remaja harus dapat
memahami dengan baik konsep dirinya, karena melalui pemahaman terhadap
konsep diri, seorang remaja dapat mengenal siapa dirinya yang sebernarnya,
seperti apakah dia, dan bagaimana cara dia menjaga diri serta memperbaiki diri
menjadi lebih baik lagi. Masa remaja memang masa yang menyenangkan
sekaligus masa yang tersulit dalam hidup seseorang. Di masa ini seorang anak
mulai mencari jati diri mereka.
Umumnya anak terutama dalam fase usia remaja mulai mengalami kesulitan
dalam proses menemukan jati diri dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
Tidak jarang berbagai masalah dapat timbul, seperti kenakalan remaja, kekerasan,
penggunaan obat terlarang dan dan perilaku menyimpang lainnya. Dengan
keluarga yang lengkap sekalipun, seringkali juga seorang anak masih terganggu
proses pembentukan konsep diri positifnya, terlebih jika anak tersebut berasal dari
latar belakang keluarga yang kurang beruntung seperti anakanak broken home,
anak-anak dari keluarga yatim dan/atau piatu dan yang berasal dari ekonomi yang
tidak mampu. Rasa minder atau kurang percaya diri kerap kali menjadi hambatan
utama dalam cara menilai dirinya sendiri, belum lagi jika remaja tersebut tinggal
dalam lingkungan sosial yang kurang baik, seperti jalanan misalnya. Akan sangat
mudah bagi mereka terpengaruh dengan lingkungannya.
1.2

Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan konsep diri?
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi konsep diri?
3. Apa saja bagian-bagian konsep diri?
4. Apa saja aspek-aspek konsep diri?
5. Bagaimana pembentukan dan perkembangan konsep diri?
2

6.
7.
8.
9.

Apa pentingnya konsep diri?


Apa saja jenis-jenis dari konsep diri?
Apa saja yang menjadi ciri-ciri konsep diri?
Apa saja yang termasuk dimensi konsep diri?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konsep diri.
2. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi konsep diri.
3. Untuk mengetahui bagian-bagian konsep diri.
4. Untuk mengetahui asek-aspek konsep diri.
5. Untuk mengetahui pembentukan dan perkembangan konsep diri.
6. Untuk mengetahui pentingnya konsep diri.
7. Untuk mengetahui jenis-jenis konsep diri.
8. Untuk mengetahui ciri-ciri konsep diri.
9. Untk mengetahui dimensi kosep diri.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Pengertian Konsep Diri


Konsep Diri terdiri dari dua kata, konsep dan diri. Konsep adalah gambaran
mental dari objek (Depdikbud, 1994: 520), sedangkan Diri adalah orang
(Depdikbud, 1994: 236). Jadi definisi konseptual konsep diri adalah gambaran
mental seseorang. Definisi operasional konsep diri adalah pandangan dan
perasaan tentang diri sendiri (persepsi diri). Dalam pemikiran Burns konsep diri
merupakan konseptualisasi individu mengenai pribadinya sendiri, pandangan diri
dimata orang lain dan keyakinan diri terhadap hal-hal yang hendak dicapai
(Burns, 1993: 87).
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang
diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam
berhubungan dengan orang lain (Sutuart & Sudeen, 1998).
Menurut Zuyina konsep diri adalah perasaan seseorang tentang dirinya sebagai
pribadi yang utuh dengan karakteristik yang unik, sehingga akan mudah dikenali
sebagai sosok yang mempunyai ciri khas tersendiri (Zuyina, 2010: 13).
Pudjiyogyanti menjelaskan konsep diri adalah mencakup seluruh pandangan
individu akan dimensi fisik, karakteristik pribadinya, motivasi, kelemahan,
kepandaian dan kegagalannya (Pudjiyogyanti, 1995: 2).
Konsep diri yaitu melakukan pembayangan diri sendiri sebagai orang lain,
yang disebutnya sebagai looking-glass self (diricermin) seolah-olah kita
menaruh cermin dihadapan kita sendiri. Prosesnya dimulai dengan
membayangkan bagaimana kita tampak pada orang lain, kita melihat sekilas diri
kita seperti dalam cermin. Misalnya, kita merasa wajah kita menarik, atau tidak
menarik. Proses kedua, kita membayangkan bagaimana orang lain menilai
penampilan kita, apakah orang lain menilai kita menarik, cerdas, atau menarik.
Proses ketiga, kita kemudian mengalami perasaan bangga atau kecewa atas
percampuran penilaian diri kita sendiri dan penilaian orang lain. Jika penilaian
kita terhadap diri sendiri positif, maka kemudian mengembangkan konsep diri
yang positif. Namun sebaliknya, Penilaian orang lain terhadap kita negatif, dan
kita pun menilai diri kita negatif maka kemudian kita mengembangkan konsep
diri yang negatif (Savitri Rahmadani, 2008: 77).
Menurut Burns (1993) konsep diri adalah penghargaan diri, nilai diri atau
penerimaan diri yang meliputi semua keyakinan dan penilaian tentang diri
sendiri, hal ini akan menentukan siapa kita menurut pikiran sendiri, apa yang
dapat kita lakukan menurut pikiran sendiri dan menjadi apa menurut pikiran
sendiri. Konsep diri (self - concept) adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep
diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana
kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana menginginkan diri sendiri
menjadi manusia yang diharapkan. Konsep diri dapat digambarkan sebagai
sistem operasi yang menjalankan komputer mental yang mempengaruhi
kemampuan berpikir seseorang (Desmita, 2009: 164).
4

Mulkan mengemukakan konsep diri adalah suatu pemahaman mengenai siapa


dirinya dan seperti apa diri itu digambarkan oleh dirinya sendiri (Mulkan, 2002:
15). Patterson dalam Sangalang (1992:2) menggambarkan self diri , self
concept konsep diri , self structure struktur diri adalah persepsi mengenai
hubungan aku sebagai subjek dan aku sebagai objek. Dengan kata lain
berbagai aspek kehidupan bersama-sama dengan nilai-nilai yang berkaitan
dengan perkembangan tersebut yang terorganisasi menjadi satu kesatuan yang
kuat.
William Brooks dalam Jalaludin Rahmat (2007: 99) mengemukakan konsep
diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Persepsi tentang diri
kita ini boleh bersifat psikologis, sosial maupun fisik. Pudjiogyanti menjelaskan
bahwa konsep diri mencakup seluruh pandangan individu akan dimensi fisik,
karakteristik pribadinya, motivasi, kelemahan, kepandaian dan kegagalannya.
Konsep diri menurut Calhoun sebagai pandangan diri anda terhadap dii anda
sendiri, pengharapan anda tentang anda sendiri dan penilaian diri anda sendiri
(Calhoun, 1990: 67).
Dari berbagai pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri
merupakan keyakinan, pandangan, atau penilaian seseorang terhadap dirinya.
Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan
memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak berbuat sesuatu, tidak
kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik
terhadap kehidupan dan kesempatan yang dihadapinya. Sebaliknya seseorang
dengan konsep diri positif akan terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan
selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang
dialaminya, konsep diri positif akan mampu menghargai dirinya dan melihat halhal yang positif yang dapat dilakukan demi keberhasilan dimasa yang akan
datang.
2.2.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri


Menurut Stuart dan Sudeen ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan konsep diri. Faktor-faktor tersebut terdiri dari teori
perkembangan, Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat) dan
Self Perception (persepsi diri sendiri).
1. Teori Perkembangan
Konsep diri belum ada waktu lahir, kemudian berkembang secara
bertahap sejak lahir sampai mulai mengenal dan membedakan dirinya
dengan orang lain. Dalam melakukan kegiatan memiliki batasan diri
yang terpisah dari lingkungan dan berkembang melalui kegiatan
eksplorasi lingkungan melalui bahasa, pengalaman atau pengenalan
tubuh, nama pangilan, pengalaman budaya dan hubungan interpersonal,
kemampuan pada area tertentu yang dinilai pada diri sendiri atau
masyarakat serta aktualisasi diri dengan merealisasi potensi yang nyata.
2. Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat)
5

Dimana konsep diri dipelajari melalui kontak dan pengalaman dengan


orang lain, belajar diri sendiri melalui cermin orang lain yaitu dengan cara
pandangan diri merupakan interprestasi diri pandangan orang lain
terhadap diri, anak sangat dipengaruhi orang yang dekat, remaja
dipengaruhi oleh orang lain yang dekat dengan dirinya, pengaruh orang
dekat atau orang penting sepanjang siklus hidup, pengaruh budaya dan
sosialisasi.
3. Self Perception (persepsi diri sendiri)
Persepsi individu terhadap diri sendiri dan penilaianya, serta persepsi
individu terhadap pengalamanya akan situasi tertentu. Konsep diri dapat
dibentuk melalui pandangan diri dan pengalaman yang positif. Sehingga
konsep merupakan aspek yang kritikal dan dasar dari prilaku individu.
Individu dengan konsep diri yang positif dapat berfungsi lebih efektif
yang dapat dilihat dari kemampuan interpersonal, kemampuan intelektual
dan penguasaan lingkungan. Sedangkan konsep diri yang negatif dapat
dilihat dari hubungan individu dan sosial yang terganggu.
2.3.

Pembagian Konsep Diri


Konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian. Pembagian konsep diri tersebut
dikemukakan oleh Stuart & Sudeen (1991), yang terdiri dari :
1. Gambaran Diri (body image)
Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar
dan tidak sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang
ukuran, bentuk, fungsi penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa
lalu yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan pengalaman
baru setiap individu (Stuart & Sudeen, 1991).
Sejak lahir individu mengeksplorasi bagian tubuhnya, menerima
stimulus dari orang lain, kemudian mulai memanipulasi lingkungan dan
mulai sadar dirinya terpisah dari lingkungan (Keliat, 1992).
Gambaran diri berhubungan dengan kepribadian. Cara individu
memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek
psikologisnya. Pandangan yang realistik terhadap dirinya menerima dan
mengukur bagian tubuhnya akan lebih rasa aman, sehingga terhindar dari
rasa cemas dan meningkatkan harga diri (Keliat, 1992).
2. Ideal Diri
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus
berprilaku berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau penilaian personal
tertentu (Stuart & Sudeen, 1991).
Ideal diri mulai berkembang pada masa kanak-kanak yang dipengaruhi
orang yang penting pada idrinya yang memberikan keuntungan dan
harapan pada masa remaja, ideal diri akan dibentuk melalui proses
identifikasi pada orang tua, guru dan teman. Agar individu mampu
berfungsi dan mendemonstrasikan kecocokan antara persepsi diri dan
ideal diri. Ideal diri ini hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi, tetapi
6

masih lebih tinggi dari kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan
masih dapat dicapai (Keliat, 1992).

3. Harga Diri
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan
menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri (Stuart & Sudeen,
1991).
Frekuensi tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga
diri yang tinggi. Jika individu sering gagal, maka cenderung harga diri
rendah. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Aspek utama
adalah dicintai dan menerima penghargaan dari orang lain (Keliat,1992).
4. Peran
Peran adalah sikap dan prilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari
seseorang berdasarkan posisinya dimasyarakat (Keliat, 1992).
Peran yang ditetapkan adalah perran dimana seseorang tidak punya
pilihan, sedangkan peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau
dipilih oleh individu sebagai aktualisasi diri. Harga diri yang tinggi
merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan
ideal diri (Keliat, 1992).
5. Identitas
Identitas adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari
observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep
diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh (Stuart & Sudeen, 1991).
Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan
memandang dirinya berbeda dengan orang lain. Kemandirian timbul dari
perasaan berharga (aspek diri sendiri), kemampuan dan penyesuaian diri.
Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya. Identitas
diri terus berkembang sejak masa kanak-kanak bersamaan dengan
perkembangan konsep diri. Hal yang penting dalam identitas adalah jenis
kelamin (Keliat, 1992).
2.4. Aspek-Aspek Konsep Diri
Konsep diri pada hakekatnya meliputi empat aspek dasar
yang terdiri dari :
1. Bagaimana orang mengamati dirinya sendiri
2. Bagaimana orang berfikir tentang dirinya sendiri
3. Bagaimana orang menilai dirinya sendiri
4. Bagaimana orang berusaha dengan berbagai cara untuk menyempurnakan
dan mempertahankan diri (Muntholiah, 2002:29).
Sementara itu Fitts dalam Nashori (2000: 31) menyatakan bahwa ada lima
aspek kategori umum dalam konsep diri yaitu :
1. Konsep diri fisik.
7

2.

3.

4.

5.

Konsep ini berarti pandangan, pikiran, dan penilaian remaja terhadap


fisiknya sendiri. Individu disebut memiliki konsep diri fisik apabila ia
memandang secara positif penampilannya, kondisi kesehatan, kulitnya,
ketampanan atau kecantikan, serta ukuran tubuh yang ideal. Individu
dipandang memiliki konsep diri negatif apabila memandang secara
negatif hal-hal diatas.
Konsep diri pribadi.
Konsep ini berarti pandangan, pikiran, dan perasaan remaja terhadap
pribadinya sendiri.Seseorang digolongkan memiliki konsep diri pribadi
positif apabila memandang dirinya sebagai orang yang bahagia, optimis,
mampu mengontrol diri, dan memiliki berbagai kemampuan. Sebaliknya
dianggap memiliki konsep diri pribadi negatif apabila memandang dirinya
sebagai orang yang tidak bahagia, pesimis, tidak mampu mengontrol diri,
dan memiliki berbagai macam kekurangan.
Konsep diri sosial.
Konsep ini berati pandangan, pikiran, penilaian, perasaan remaja
terhadap kecenderungan sosial yang ada pada dirinya sendiri. Konsep diri
sosial berkaitan dengan kemampuan berhubungan dengan dunia diluar
dirinya, perasaan mampu dan berharga dalam lingkup interaksi sosial.
Seseorang digolongkan memiliki konsep diri sosial positif apabila
memandang dirinya sebagai orang yang berminat pada orang lain,
memahami orang lain, merasa mudah akrab dengan orang lain, merasa
diperhatikan, menjaga perasaan orang lain, dan aktif dalam dalam
kegiatan sosial. Sebaliknya seseorang dikatakan memiliki konsep diri
sosial negatif jika memandang dirinya sebagai orang yang acuh tak acuh
terhadap orang lain, sulit akrab dengan orang lain, tidak memberi
perhatian terhadap orang lain, dan tidak aktif dalam kegiatan sosial.
Konsep diri moral etik.
Konsep ini berarti pandangan, pikiran, perasaan, dan penilaian remaja
terhadap moralitas diri sendiri. Konsep ini berkaitan dengan nilai dan
prinsip yang berarti memberi arti dan arah bagi kehidupan seseorang.
Seseorang digolongkan memiliki konsep diri moral etik positif apabila
memandang dirinya sebagai orang yang berpegang teguh pada nilai-nilai
etik moral. Sebaliknya digolongkan memiliki konsep diri moral etik
negatif apabila seseorang memandang dirinya sebagai orang yang
menyimpang dari standar nilai moral yang seharusnya diikutinya.
Konsep diri keluarga.
Konsep ini berarti pandangan, pikiran, penilaian, dan pikiran remaja
terhadap keluarganya sendiri. Konsep diri keluarga berkaitan dengan
keberadaan diri seseorang dalam keluarga. Seseorang digolongkan
memiliki konsep diri keluarga positif apabila memandang dirinya
mencintai dan dicintai keluarga, bahagia bersama keluarga, bangga
dengan keluarga banyak mendapat bantuan dan dorongan dari keluarga.
Sebaliknya jika digolongkan memiliki konsep diri keluarga negatif jika
8

seseorang memandang dirinya sebagai orang yang tidak nyaman dalam


situasi kekeluargaan, membenci keluarganya sendiri dan tidak pernah
adanya dorongan dari keluarganya sendiri (Ema, 2007: 22).
Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa aspek kategori umum
dalam konsep diri menurut Fitts dalam Nashori adalah konsep diri fisik,
konsep diri pribadi, konsep diri sosial, konsep diri moral etik, dan konsep
diri keluarga.
2.5.

Pembentukan dan Perkembangan Konsep Diri


Konsep diri berperan penting dalam menentukan perilaku seseorang guna
mengetahui diri kita sepenuhnya mengatasi konflik yang ada pada dirinya, dan
untuk menafsirkan pengalaman yang didapatnya. Oleh karena itu konsep diri
dperlukan seseorang untuk dijadikan sebagai acuan hidup (Muntholiah, 2002:
33).
Konsep diri seseorang bukan merupakan pembawaan sejak lahir melainkan
terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seseorang dari masa
kecil sampai dewasa. Selain itu konsep diri dihasilkan dari proses interaksi
individu dengan lingkungan secara terus menerus (Nashori, 2000: 28).
Konsep diri pada masa kanak-kanak biasanya berbeda dengan konsep diri
yang dimiliki ketika memasuki usia remaja. Konsep diri seorang anak bersifat
tidak realistis, tetapi kemudian konsep diri yang tidak realistis itu berganti
dengan konsep diri yang baru sejalan dengan penemuan tentang dirinya atau
pengalaman pada usia selanjutnya.
Biasanya pada usia remaja terjadi kekacauan konsep diri individu. Hal ini
disebabkan karena adanya perkembangan kognitif pada masa remaja. Menurut
Rahmawati perkembangan kognitif remaja tidak hanya tercermin dalam sikap
dan nilai terhadap orang tua maupun masyarakat. Akan tetapi terjadi juga pada
dirinya sendiri dan karakteristik kepribadiannya (Rahmawati, 2000: 5). Filberg
dalam Muntholiah (2002: 28) menjelaskan bahwa keluarga dan teman sebaya
memberikan sifat-sifat dasar sosial dalam pembentukan dan perkembangan
konsep diri seseorang.
Konsep diri berkembang melalui proses, pada umumnya individu
mengobservasi fungsi dirinya, selanjutnya individu menerima umpan balik
tentang siapa dirinya dari orang lain. Individu juga dapat melihat siapa dirinya
dengan melakukan perbandingan dengan orang lain (orang tuanya, teman sebaya,
dan masyarakat). Seringkali diri kita sendirilah yang menyebabkan persoalan
bertambah rumit dengan berfikir yang tidak-tidak terhadap sesuatu keadaan atau
terhadap diri kita sendiri. Namun dengan sikap yang dinamis , konsep diri dapat
mengalami perubahan yang lebih positif (Nashori, 2000: 29).
Dari hal ini, tentunya dapat disimpulkan bahwa konsep diri tidak terbentuk
dan berkembang dengan sendirinya melainkan didukung oleh adanya interaksi
individu dengan orang lain serta lingkungannya.

2.6.

Pentingnya Konsep Diri


9

Semenjak konsep diri mulai terbentuk, seseorang akan berperilaku sesuai


dengan konsep dirinya tersebut. Apabila perilaku seseorang tidak konsisten
dengan konsep dirinya, maka akan muncul perasaan tak nyaman dalam dirinya.
Inilah hal yang terpenting dari konsep diri. Pandangan seseorang tentang dirinya
akan menentukan tindakan yang akan diperbuatnya.
Apabila seseorang memiliki konsep diri yang positif, maka akan terbentuk
penghargaan yang tinggi pula terhadap diri sendiri, atau dikatakan bahwa ia
memiliki self esteem yang tinggi. Penghargaan terhadap diri yang merupakan
evaluasi terhadap diri sendiri akan menentukan sejauh mana seseorang yakin
akan kemampuan dirinya dan keberhasilan dirinya. Jadi, apabila ia memiliki
konsep diri yang positif yang ditunjukkan melalui self esteem yang tinggi. Segala
perilakunya akan selalu tertuju pada keberhasilan. Ia akan berusaha dan berjuang
untuk selalu mewujudkan konsep dirinya. Misalnya apabila seorang merasa
bahwa ia pandai maka ia akan belajar tekun dan bekerja keras untuk
membuktikan bahwa ia benar-benar pandai seperti keyakinannya. Ia juga tidak
akan mudah putus asa karena mempunyai keyakinan bahwa ia pasti berhasil
karena kepandaiannya.
Sebaliknya apabila seseorang mempunyai gambaran yang negatif tentang
dirinya maka akan muncul evaluasi negatif pula tentang dirinya. Segala informasi
tetang dirinya akan diabaikannya, dan informasi negatif yang sesuai dengan
gambaran dirinya akan disimpannya sebagai bagian yang memperkuat keyakinan
diinya.
Misalnya jika seorang anak percaya bahwa dia anak nakal maka ia akan
berperilaku sesuai keyakinan tersebut. Apabila suatu saat ia mendapat pujian
karena menolong teman, maka ia akan cenderung mengabaikan pujian tersebut
karena tidak sesuai dengan keyakinannya bahwa ia anak nakal. Pujian bahwa
ia anak baik membuatnya merasa tidak nyaman (Sulistyorini, 2004: 18).
2.7.

Jenis-Jenis Konsep Diri


Menurut Calhoun, dalam perkembangannya konsep diri
terbagi dua, yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif :
1. Konsep Diri Positif
Konsep diri positif menunjukkan adanya penerimaan diri dimana
individu dengan konsep diri positif mengenal dirinya dengan baik sekali.
Konsep diri yang positif bersifat stabil dan bervariasi. Individu yang
memiliki konsep diri positif dapat memahami dan menerima sejumlah
fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri sehingga
evaluasi terhadap dirinya sendiri menjadi positif dan dapat menerima
dirinya apa adanya.
2. Konsep Diri Negatif
Calhoun membagi konsep diri negatif menjadi dua tipe, yaitu:
Pandangan individu tentang dirinya sendiri benar-benar tidak teratur,
tidak memiliki perasaan, kestabilan dan keutuhan diri. Individu tersebut
10

benar-benar tidak tahu siapa dirinya, kekuatan dan kelemahannya atau


yang dihargai dalam kehidupannya.
Pandangan tentang dirinya sendiri terlalu stabil dan teratur. Hal ini bisa
terjadi karena individu dididik dengan cara yang sangat keras, sehingga
menciptakan citra diri yang tidak mengizinkan adanya penyimpangan dari
seperangkat hukum yang dalam pikirannya merupakan cara hidup yang
tepat (Renita Mulyaningtyas, 2006: 46).
Menurut Renita Mulyaningtyas (2006: 46) konsep diri terdiri dari empat sudut
pandang:
1. Konsep diri positif dan konsep diri negatif
Sudut pandang ini digunakan untuk membedakan apakah kita
memandang diri sendiri baik atau buruk.
2. Konsep diri fisik dan konsep diri sosial
Sudut pandang ini membedakan pandangan diri kita sendiri atas pribadi
kita dan pandangan masyarakat atas pribadi kita.
3. Konsep diri emosional dan konsep diri akademis
Dengan sudut pandang ini kita bisa membedakan pandangan diri sendiri
yang dipengaruhi oleh perasaan atau faktor psikologis dan secara ilmiah
bisa dibuktikan.
4. Konsep diri rill dan konsep diri ideal
Sudut pandang ini membedakan diri kita yang nyata atau sebenarnya dan
yang kita cita- citakan.
2.8.

Ciri Ciri Konsep Diri


1. Ciri Konsep Diri Positif
Orang yang memiliki konsep diri positif menurut Jalaluddin Rakhmat (2005:
105) memiliki ciri ciri sebagai berikut:
1. Yakin akan kemampuan mengatasi masalah.
2. Merasa setara dengan orang lain.
3. Menerima pujian tanpa rasa malu.
4. Peka terhadap orang lain bahwa setiap orang mempunyai berbagai
perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui
masyarakat.
5. Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek
aspek kepribadian yang tidak disenanginya, dan berusaha mengubahnya.
2. Ciri-ciri konsep diri negatif
Menurut William D. Brook dan Philip Emmer (dalam Jalaluddin Rakhmat,
2005: 105) adalah sebagai berikut:
1. Individu peka terhadap kritikan
Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya, dan mudah
marah.
2. Individu responsif sekali terhadap pujian
Orang ini sering merespon segala macam perkataan yang menunjang
harga dirinya menjadi pusat perhatiannya.
11

3. Sikap hiperkritis
Orang ini selalu mengeluh, mencela, atau meremehkan apapun dan
siapa pun. Individu ini tidak pandai dan tidak sanggup mengungkapkan
penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain.
4. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain
Orang ini menganggap orang lain sebagai musuhnya, sehingga tidak
dapat menjalin keakraban terhadap orang lain.
Bersikap pesimis terhadap kompetisi
5. Orang ini tidak ingin untuk bersaing dengan orang lain dalam
berprestasi bahwa ia menganggap tidak akan berdaya melawan
persaingan yang merugikan dirinya.
2.9.

Dimensi Konsep Diri


Fitts (1971) membagi konsep diri dalam dua dimensi, yaitu sebagai berikut:
1. Dimensi Internal
Dimensi internal atau yang disebut juga kerangka acuan internal
(internal frame of reference) adalah penilaian yang dilakukan individu
terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia di dalam dirinya. Dimensi
ini terdiri dari tiga bentuk :
Diri Identitas (Identity self)
Bagian diri ini merupakan aspek yang paling mendasar pada
konsep diri dan mengacu pada pertanyaan, Siapakah saya?
dalam pertanyaan tersebut tercakup label-label dan simbolsimbol yang diberikan pada diri (self) oleh individu-individu
yang bersangkutan untuk menggambarkan dirinya dan
membangun identitasnya.
Diri Pelaku (Behavioral self)
Diri pelaku merupakan persepsi individu tentang tingkah
lakunya yang berisikan segala kesadaran mengenai apa yang
dilakukan oleh diri.
Diri Penerimaan/Penilai (Judging self)
Diri penilai berfungsi sebagai pengamat, penentu standar, dan
evaluator. Kedudukannya adalah sebagai perantara (mediator)
antara diri dan identitas pelaku.
2. Dimensi Eksternal
Pada dimensi eksternal, individu menilai dirinya melalui hubungan dan
aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya, serta hal-hal lain di luar
dirinya. Dimensi eksternal terbagi atas lima bentuk yaitu :
Diri Fisik (physical self)
Diri fisik menyangkut persepsi seseorang terhadap keadaan
dirinya secara fisik. (cantik, jelek, menarik, tidak menarik,
tinggi, pendek, gemuk, kurus dan sebagainya).
Diri Etik-moral (moral-ethical self)
12

Bagian ini merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya


dilihat dari pertimbangan nilai moral dan etika. Hal ini
menyangkut persepsi seseorang mengenai hubungannya dengan
Tuhan, kepuasan seseorang akan kehidupan agamanya dan
nilai-nilai moral yang dipegangnya, yang meliputi batasan baik
dan buruk.
Diri Pribadi (personal self)
Diri pribadi merupakan perasaan atau persepsi seseorang
tentang keadaan pribadinya. Hal ini tidak dipengaruhi oleh
kondisi fisik atau hubungan dengan orang lain, tetapi
dipengaruhi oleh sejauhmana ia merasa dirinya sebagai pribadi
yang tepat.
Diri Keluarga (family self)
Diri keluarga menunjukkan perasaan dan harga diri seseorang
dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga. Bagian ini
menunjukkan seberapa jauh seseorang merasa dekat terhadap
dirinya sebagai anggota dari suatu keluarga.
Diri Sosial (social self)
Bagian ini merupakan penilaian individu terhadap interaksi
dirinya dengan orang lain maupun lingkungan di sekitarnya.
Seluruh bagian diri ini, baik internal maupun eksternal, saling berinteraksi dan
membentuk suatu kesatuan yang utuh.

13

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Konsep Diri terdiri dari dua kata, konsep dan diri. Konsep adalah gambaran mental
dari objek (Depdikbud, 1994: 520), sedangkan Diri adalah orang (Depdikbud, 1994:
236). Jadi definisi konseptual konsep diri adalah gambaran mental seseorang. Definisi
operasional konsep diri adalah pandangan dan perasaan tentang diri sendiri (persepsi
diri). Dalam pemikiran Burns konsep diri merupakan konseptualisasi individu mengenai
pribadinya sendiri, pandangan diri dimata orang lain dan keyakinan diri terhadap halhal yang hendak dicapai (Burns, 1993: 87).
Dari berbagai pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri
merupakan keyakinan, pandangan, atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Seseorang
dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika ia meyakini dan memandang bahwa
dirinya lemah, tidak berdaya, tidak berbuat sesuatu, tidak kompeten, gagal, malang,
tidak menarik, tidak disukai dan kehilangan daya tarik terhadap kehidupan dan
kesempatan yang dihadapinya. Sebaliknya seseorang dengan konsep diri positif akan
terlihat lebih optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala
sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya, konsep diri positif akan mampu
menghargai dirinya dan melihat hal- hal yang positif yang dapat dilakukan demi
keberhasilan dimasa yang akan datang.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri
1. Teori Perkembangan
2. Significant Other (orang yang terpenting atau yang terdekat)
3. Self Perception (persepsi diri sendiri)
Pembagian Konsep Diri
Konsep diri terbagi menjadi beberapa bagian. Pembagian konsep diri tersebut
dikemukakan oleh Stuart & Sudeen (1991), yang terdiri dari :
1. Gambaran Diri (body image)
2. Ideal Diri
3. Harga Diri
4. Peran
5. Identitas
Aspek-Aspek Konsep Diri
Konsep diri pada hakekatnya meliputi empat aspek dasar
yang terdiri dari :
1. Bagaimana orang mengamati dirinya sendiri
2. Bagaimana orang berfikir tentang dirinya sendiri
3. Bagaimana orang menilai dirinya sendiri
14

4. Bagaimana orang berusaha dengan berbagai cara untuk menyempurnakan dan


mempertahankan diri (Muntholiah, 2002:29).
Sementara itu Fitts dalam Nashori (2000: 31) menyatakan bahwa ada lima aspek
kategori umum dalam konsep diri yaitu :
1. Konsep diri fisik.
2. Konsep diri pribadi.
3. Konsep diri sosial.
4. Konsep diri moral etik.
5. Konsep diri keluarga.
Pembentukan dan Perkembangan Konsep Diri
Konsep diri berperan penting dalam menentukan perilaku seseorang guna
mengetahui diri kita sepenuhnya mengatasi konflik yang ada pada dirinya, dan untuk
menafsirkan pengalaman yang didapatnya. Oleh karena itu konsep diri dperlukan
seseorang untuk dijadikan sebagai acuan hidup (Muntholiah, 2002: 33).
Konsep diri seseorang bukan merupakan pembawaan sejak lahir melainkan terbentuk
melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seseorang dari masa kecil sampai
dewasa. Selain itu konsep diri dihasilkan dari proses interaksi individu dengan
lingkungan secara terus menerus (Nashori, 2000: 28).
Konsep diri berkembang melalui proses, pada umumnya individu mengobservasi
fungsi dirinya, selanjutnya individu menerima umpan balik tentang siapa dirinya dari
orang lain. Individu juga dapat melihat siapa dirinya dengan melakukan perbandingan
dengan orang lain (orang tuanya, teman sebaya, dan masyarakat). Seringkali diri kita
sendirilah yang menyebabkan persoalan bertambah rumit dengan berfikir yang tidaktidak terhadap sesuatu keadaan atau terhadap diri kita sendiri. Namun dengan sikap
yang dinamis , konsep diri dapat mengalami perubahan yang lebih positif (Nashori,
2000: 29).
Dari hal ini, tentunya dapat disimpulkan bahwa konsep diri tidak terbentuk dan
berkembang dengan sendirinya melainkan didukung oleh adanya interaksi individu
dengan orang lain serta lingkungannya.
Pentingnya Konsep Diri
Semenjak konsep diri mulai terbentuk, seseorang akan berperilaku sesuai dengan
konsep dirinya tersebut. Apabila perilaku seseorang tidak konsisten dengan konsep
dirinya, maka akan muncul perasaan tak nyaman dalam dirinya. Inilah hal yang
terpenting dari konsep diri. Pandangan seseorang tentang dirinya akan menentukan
tindakan yang akan diperbuatnya.
Apabila seseorang memiliki konsep diri yang positif, maka akan terbentuk
penghargaan yang tinggi pula terhadap diri sendiri, atau dikatakan bahwa ia memiliki
self esteem yang tinggi. Sebaliknya apabila seseorang mempunyai gambaran yang
negatif tentang dirinya maka akan muncul evaluasi negatif pula tentang dirinya. Segala
informasi tetang dirinya akan diabaikannya, dan informasi negatif yang sesuai dengan
gambaran dirinya akan disimpannya sebagai bagian yang memperkuat keyakinan
diinya.
Jenis-Jenis Konsep Diri
Menurut Calhoun, dalam perkembangannya konsep diri
15

terbagi dua, yaitu konsep diri positif dan konsep diri negatif :
1. Konsep Diri Positif
2. Konsep Diri Negatif
Menurut Renita Mulyaningtyas (2006: 46) konsep diri terdiri dari empat sudut pandang:
1. Konsep diri positif dan konsep diri negatif
2. Konsep diri fisik dan konsep diri sosial
3. Konsep diri emosional dan konsep diri akademis
4. Konsep diri rill dan konsep diri ideal
Ciri Ciri Konsep Diri
1. Ciri Konsep Diri Positif
Orang yang memiliki konsep diri positif menurut Jalaluddin Rakhmat (2005: 105)
memiliki ciri ciri sebagai berikut:
1. Yakin akan kemampuan mengatasi masalah.
2. Merasa setara dengan orang lain.
3. Menerima pujian tanpa rasa malu.
4. Peka terhadap orang lain bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan,
keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat.
5. Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspekaspek
kepribadian yang tidak disenanginya, dan berusaha mengubahnya.
2. Ciri-ciri konsep diri negatif
Menurut William D. Brook dan Philip Emmer (dalam Jalaluddin Rakhmat, 2005: 105)
adalah sebagai berikut:
1. Individu peka terhadap kritikan
2. Individu responsif sekali terhadap pujian
3. Sikap hiperkritis
4. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain
5. Bersikap pesimis terhadap kompetisi
Dimensi
Fitts (1971) membagi konsep diri dalam dua dimensi, yaitu sebagai berikut:
1. Dimensi Internal
Dimensi internal atau yang disebut juga kerangka acuan internal (internal frame of
reference) adalah penilaian yang dilakukan individu terhadap dirinya sendiri
berdasarkan dunia di dalam dirinya. Dimensi ini terdiri dari tiga bentuk :
Diri Identitas (Identity self)
Diri Pelaku (Behavioral self)
Diri Penerimaan/Penilai (Judging self)
2. Dimensi Eksternal
Pada dimensi eksternal, individu menilai dirinya melalui hubungan dan aktivitas
sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya, serta hal-hal lain di luar dirinya. Dimensi eksternal
terbagi atas lima bentuk yaitu :
Diri Fisik (physical self)
Diri Etik-moral (moral-ethical self)
Diri Pribadi (personal self)
16

Diri Keluarga (family self)


Diri Sosial (social self)

Daftar Pustaka

17

Anda mungkin juga menyukai