Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur marilah kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena
atas ridho dan karuniaNya lah kami dapat menyelesaikan makalah matakuliah
Sedimentologi Kelautan ini.
Dalam penyusunan makalah ini mungkin kami mengalami kesulitan dan
kendala yang disebabkan oleh keterbatasan kemampuan, pengetahuan, dan
wawasan serta pola pikir kami. Namun berkat keyakinan, keinginan, dan usaha
akhirnya hambatan itu dapat diatasi.
Kami menyadari sedalam-dalamnya bahwa saya sebagai manusia tidaklah
sempurna dalam pembuatan makalah ini. Dengan demikian kami berharap dengan
dibuatkannya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca umumnya dan
khususnya bagi kami. makalah ini ditujukan untuk memenuhi persyaratan dalam
matakuliah Sedimentologi Kelautan.
Jatingangor, Mei 2015
Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara geografis terletak pada 10450 sampai 10930
Bujur Timur dan 050 sampai 410 Lintang Selatan.Batas-batas wilayah Provinsi Kep.
Bangka Belitung, sebelah Barat dengan Selat Bangka, sebelah Timur dengan Selat Karimata,
sebelah Utara dengan Laut Natuna, dan sebelah Selatan dengan Laut Jawa.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki Iklim Tropis yang dipengaruhi angin musim
yang mengalami bulan basah dan kering. Pada tahun 2011 musim penghujan dan musim
kemarau tidak mengikuti pola umum yang biasanya terjadi dalam setahun, sepanjang tahun
2011 bulan kering hanya terjadi selama 3 (tiga) bulan, yaitu bulan Juli, Agustus dan
September yang ditandai dengan curah hujan di bawah 200 mm. Sebaliknya bulan basah
terjadi selama pada bulan Januari hingga Juni kemudian berlanjut bulan Oktober sampai
Desember dengan curah hujan 228,5 hingga 356,2 mm per bulan.

Keadaan topografi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagian besar merupakan dataran
rendah, lembah (96 persen) dan sebagian kecil pegunungan dan perbukitan (4persen).
Ketinggian dataran rendah sekitar 0-50 meter di atas permukaan laut dan ketinggian daerah
pegunungan sekitar 300-700 meter antara lain untuk gunung Maras di Kabupaten Bangka
mencapai 699 meter, gunung Tajam di Kabupaten Belitung Timur kurang lebih 500 meter,

bukit Menumbing di Kabupaten Bangka Barat mencapai 445 meter dan bukit Mangkol di
Kabupaten Bangka Tengah dengan ketinggian mencapai 395 meter di atas permukaan laut.
Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terbagi menjadi wilayah daratan dan wilayah
laut dengan total luas wilayah mencapai 81.725,23 km, terdiri dari luas daratan lebih kurang
16.424,23km atau 20 persen dari total wilayah dan luas laut lebih kurang 65.301,00km atau
80 persen dari total wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Luas wilayah
Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah : 1. Kabupaten Bangka
2.950,69km, 2. Kabupaten Belitung 2.293,69km, 3. Kota Pangkalpinang 118,80 km, 4.
Kabupaten Bangka Selatan 3.607,08 km, 5. Kabupaten Bangka Tengah 2.126,36 km, 6.
Kabupaten Bangka Barat 2.820,61 km, 7. Kabupaten Belitung Timur 2.507,00 km.
Pulau Bangka Belitung merupakan pulau yang sangat menarik apabila kita melihat dari segi
letak geografisnya dan daya tarik akan hasil alam yaitu Timah Pulau Bangka yang
merupakan salah satu penghasil Timah terbesar di Indonesia yang merupakan salah satu
andalan bagi pemasukan devisa dalam negeri selain hasil tambang lainnya. Batuan
batuannya yang sangat unik serta sedimentasi atau pengendapan mineral yang terjadi di
pulau Bangka Belitung sangat menarik untuk diteliti.
1.2 Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk memberikan informasi dan wawasan kepada pembaca
mengenai sedimentasi di Pulau Bangka Belitung.

BAB II
ISI
2.1 Sejarah Geologi
Pada zaman Paleozoikum P. Bangka Belitung dan laut di sekitarnya merupakan daratan.
Selanjutnya pada zaman Karbon-Trias berubah menjadi laut dangkal. Orogenesa kedua
terjadi pada masa mesozoikum, P. Bangka dan Riau muncul ke permukaan. Intrusi granit
menerobos batuan sedimen seperti batupasir, batulempung, dlll pada Trias-Yura atas. Pada
batas antara sedimen dan granit terjadi metamorfosa sentuh. Bersamaan intrusi granit ini
terjadi proses pneumotolitik yang menghasilkan kasiterit. Proses ini dengan proses
hydrotermal yang menghasilkan kasiterit yang mengisi rekahan-rekahan pada granit. Erosi
intensif terjadi pada kenozoikum dimana lapisan yang menutupi granit terkikis habis
sehingga batuan granit tersingkap.
Selanjutnya diikuti oleh proses pelapukan, transportasi, dan pengendapan di lembah-lembah.
Suasana daratan bangka berlanjut sampai Tersier. Pencairan es pada kala Pliostosen
mengakibatkan beberapa daerah di Bangka menjadi laut dangkal seperti sekarang ini. Erosi
berlanjut membentuk P. Bangka Belitung menjadi daratan hampir rata seperti sekarang ini.
P. Bangka Belitung merupakan daerah dengan stadia erosi tingkat lanjut, hal ini dicirikan
dengan keadaan yang umumnya relative datar dan adanya bukit-bukit sisa erosi
(monadrock). Bukit-bukit sisa erosi tersebut tersusun atas batuan beku granit yang
umumnya menempati bagian tepi P. Bangka Belitung.
Di bagian utara : Granit Klabat, yang berrrientasi barat-timur melewati teluk Klabat,granit
yang ada disekitarnya terdiri atas granit Pelangas, granit Menumbing, granit Mangkol.
Sedangkan di bagian selatan : Tersusun atas pluton yang lebih kecil yaitu,Pluton Koba,
Pluton Bebuluh, Pluton Permis, dan granit Toboali, serta pluton yang lain yang terletak
diantaranya.
Daerah pedataran menempati 80 % luas seluruh daerah. Daerah inilah merupakan tempat
endapan alluvial yang mengandung konsentrasi bijih Timah. Umumnya sungai-sungai yang
ada mengalir di atas endapan-endapan muda (Plistosen/Pliosen), kecuali pada hulu-hulu
sungai /dekat pada daerah perbukitan.

2.2 Pembentukan Pulau Bangka dan Pulau Belitung


Pada zaman Kuarter, terdapat perbedaan mencolok pada kondisi geografis antara Pulau
Bangka dan Belitung. Perbedaan ini sangat berpengaruh dalam intensitas pelapukan,
erosi, dan transportasi yang terjadi. Pada zaman Kuarter Pulau Bangkadiduga tersusun
dari sejumlah daratankecil yang terpisah satu sama lain dan dihubungkan oleh perairan
(SutedjoSujitno, Personal Communication,2008). Hal ini disimpulkan berdasarkanpola
penyebaran rawa-rawa pada masasekarang, interpolasi dari letak sungai-sungai utama
sekarang, dan penelitianmengenai batas pantai tua Pulau Sumatera pada zaman Kuarter.

Pada zaman Kuarter lebar Pulau Sumater atidak seperti sekarang, melainkan lebih
sempit. Berdasarkan bukti-bukti dan penelitian yang telah dilakukan, pada masa
Kerajaan Sriwijaya, Kota Palembang terletak di pinggir pantai. Pada masa sekarang kita
bisa melihat Kota Palembang berada sekian kilometer dari pantai barat Pulau Sumatera.
Dapat diperkirakan adanya peristiwa penurunan muka air laut yang sangat besar dan
transport sedimen yang sangat intensif. Jika Sumatera saja mengalami hal seperti ini
pada masa itu, bagaimana jika kita bandingkan dengan Pulau Bangka yang jauh lebih
kecil? Besar kemungkinan pada masa itu Pulau Bangka hanyalah kumpulan daratan-

daratan kecil yang menjulang tinggi menyerupai pegunungan karena berlitologikan


granit. Kemudian laut-laut kecil yang menghubungkan daratan-daratan ini menerima
transport sedimen yang berasal dari pelapukan dan erosi dari daratan-daratan tersebut.
Sebegitu intensifnya pelapukan, erosi, dan transportasi yang terjadi sampai-sampai
granit berbutir kasar yang harusnya berada jauh di bawah permukaan bumi tersingkap
di permukaan pada topografi cukup tinggi sekarang. Dan laut-laut kecil yang tadinya
menghubungkan daratan-daratan, berubah menjadi rawa-rawa dan flood plain. Deposit
timah primer yang tadinya berada dekat dengan granit, mengalami transportasi ke
tempat yang lebih jauh, berupa cebakan sekunder. Letak geografis Pulau Bangka pada
masa itu adalah tepat di sebelah Cekungan Busur Belakang Sumatera (Sumateras
Back Arc Basin).
Pada masa itu Pulau Bangka ibarat puncak gunung yang berada tepat di sebelah
cekungan

sedimentasi.

Proses pengikisan

yang

terjadi

sangatlah intensif, karena

morfologi Pulau Bangka mendekati gunung jika dibandingkan dengan dengan Cekungan
Busur Belakang Sumatera. Faktor iklim, dan litologi sangat berperan dalam intensitas
pelapukan yang terjadi, sedangkan kemiringan lereng, dan gravitasi berpengaruh pada
erosi dantransportasi yang terjadi. Dapat diperkirakan pada waktu itu intensitas erosi
dan transportasi di Pulau Bangka lebih tinggi daripada Pulau Belitung yang terletak di
sebelah timur Pulau Bangka, dan berjarak lebih jauh dengan Cekungan Belakang Sumatera.
Berbeda halnya dengan Pulau Belitung, dimana

pada zaman tersebut pulau ini

kemungkinan besar telah terbentuk dan tidak terpisah-pisah seperti Pulau Bangka. Hal
ini disimpulkan berdasarkan sedikitnya daerah rawa-rawa, dan pola aliran sungai yang
tersebar hampir merata di seluruh pulau. Pada zaman kuarter peristiwa yang terjadi
adalah peneplainasi, yaitu proses terbentuknya peneplain yang sekarang meliputi
dari luas keseluruhan pulau ini. Di masa lalu, Pulau Belitung hampir seluruhnya sudah
menyatu dan tidak terpotong oleh selat-selat, sehingga proses erosi dan transportasi
terjadi tidak seintensif seperti di Pulau Bangka.

2.3 Asal Muasal Timah di Pulau Bangka Belitung


Secara fisiografi, Pulau Bangka termasuk ke dalam Sunda Land dan merupakan bagian
terangkat dari peneplain Sunda. Bila ditinjau dari sudut geologi, penyebaran bijih timah di
Indonesia masih merupakan kelanjutan dari Granite Belt yang berumur Yura Kapur yang
membentang mulai dari Birma, Muangthai, Malasyia, Kepulauan Riau (Pulau Singkep,
Pulau Karimun dan Pulau Kundur), pulau Bangka dan Pulau Belitung hingga Pulau
Karimata. Granite Belt sendiri merupakan deretan formasi batuan granite kaya akan
mineral cassiterite yang kemudian dikenal dengan sebutan The Tin Belt.
Pulau - pulau dari The Tin Belt diinterpretasikan merupakan sisa bagian resisten dari
gunung yang muncul pada masa terbentuknya Sunda Shelf. Pupili (1973) menyatakan bahwa
Malaysia, Kepulauan Riau dan Bangka berada dalam kelompok elemen tektonik yang sama.
Evolusi tektonik di wilayah ini telah dimulai sejak Paleozoikum Bawah dimana
berdasarakan Teori Tektonik Lempeng bahwa daerah penunjaman (subduction zone) berada
di bagian timur Malysia dan pada Mesozoikum Bawah tengah menghasilkan busur gunung
api (magmatic arc) dalam bentuk deretan Pulau Kundur, Pulau Singkep, Pulau Bangka,
Pulau Belitung dan sebagian dari Kalimantan Barat.

2.4 Kerusakana Lingkungan di Pulau Bangka Belitung


Menurut data 2006, cadangan bijih timah di Indonesia mencapai 355.870 ton. Angka itu
terdiri atas 106.068 ton di darat dan 249.802 ton di lepas pantai dan sebagian besar cadangan
timah tersebut terletak di Pulau Bangka, tempat dimana kita berpijak. Tahun lalu, produksi
bijih timah PT Timah Tbk mencapai 58.086 ton. Mayoritasnya, yakni 46.078 ton ditambang
di darat dan hanya 12.008 ton yang digali dari lepas pantai. Karenanya, di tahun-tahun
mendatang PT Timah Tbk akan mengkonsentrasikan penambangan di daerah lepas pantai.
Akibat pengerukan timah di lepas pantai terjadi perubahan topografi pantai dari yang
sebelumnya landai menjadi curam. Hal ini akan menyebabkan daya abrasi pantai semakin
kuat dan terjadi perubahan garis pantai yang semakin mengarah ke daratan. Aktivitas
pengerukan dan pembuangan sedimen akan menyebabkan perairan di sekitar penambangan
mengalami kekeruhan yang luar biasa tinggi. Radius kekeruhan tersebut akan semakin jauh
ke kawasan lainnya jika arus laut semakin kuat. Karenanya, meskipun pengerukan tidak
dilakukan di sekitar daerah terumbu karang, namun sedimen yang terbawa oleh arus bisa
mencapai daerah terumbu karang yang bersifat fotosintetik sangat rentan terhadap
kekeruhan.
Tidak ada pertambangan yang tidak merusak lingkungan, baik di darat maupun di laut.
Kerusakan itu akan memberikan dampak untuk beberapa puluh tahun ke depan bahkan bisa
bersifat permanen. Penambangan timah lepas pantai yang membabi buta jelas-jelas telah
merusak terumbu karang, mengotori pantai, dan mengganggu perkembangan perikanan.
Penambangan di sekitar pantai obyek wisata akan memberangus pesona pantai yang bernilai
jual tinggi. Potensi besar dalam jangka panjang akan habis, hanya untuk memenuhi nafsu
mengeruk keuntungan yang sesaat.
Sebagai daerah kepulauan, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki potensi yang
sangat besar di sektor ekosistem pesisir terutama ekosistem terumbu karang. Namun sangat
disayangkan, hingga saat ini belum jelas informasi sebaran dan kondisi ekosistem terumbu
karang yang terdapat di kawasan Pulau Bangka. Kekeruhan perairan yang tinggi akibat
penambangan timah dilepas pantai akan menyebabkan penutupan polip-polip karang oleh
sediment yang terbawa ke pesisir. Hal ini akan menyebabkan kondisi karang menjadi
merana dan akhirnya mengalami kematian massal. Tak dapat dipungkiri, pertambangan
timah lepas pantai merupakan penyebab utama kerusakan ekosistem terumbu karang di

Pulau Bangka. Tidak hanya akibat aktivitas dari kapal keruk, tetapi juga oleh kapal hisap dan
TI Apung yang semakin marak.

Kerusakan Lingkungan akibat Akitivitas Penambangan Timah di Bangka Belitung


Terumbu karang yang sehat menyediakan tempat tinggal, tempat berlindung (Spawning
ground), tempat berkembang biak (Nursery ground) dan sumber makanan (Feeding ground)
bagi ribuan biota laut yang tinggal di dalam dan di sekitarnya, seperti di laut lepas, hutan
mangrove, dan padang lamun. Tidak ada wilayah laut lain yang mempunyai begitu banyak
jenis kehidupan dengan rantai makanan yang sangat produktif seperti terumbu karang.
Terumbu karang mampu mendukung kehidupan ribuan penduduk Pulau Bangka, khususnya
dalam sektor perikanan dan pariwisata. Dari 1 km2 terumbu karang yang sehat, dapat
diperoleh 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan 1.200 orang di wilayah pesisir
setiap tahun (Burke et al., 2002). Kerusakan terumbu karang akan kembali pulih seperti
semula setidaknya membutuhkan waktu sekitar 50 tahun tanpa ada lagi aktivitas
pengrusakan di lingkungan ekosistem terumbu karang tersebut.

2.5 Resume Jurnal

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung secara geografis terletak pada 10450 sampai 10930
Bujur Timur dan 050 sampai 410 Lintang Selatan.Batas-batas wilayah Provinsi Kep.
Bangka Belitung, sebelah Barat dengan Selat Bangka, sebelah Timur dengan Selat Karimata,
sebelah Utara dengan Laut Natuna, dan sebelah Selatan dengan Laut Jawa.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki Iklim Tropis yang dipengaruhi angin musim
yang mengalami bulan basah dan kering. Pada tahun 2011 musim penghujan dan musim
kemarau tidak mengikuti pola umum yang biasanya terjadi dalam setahun, sepanjang tahun
2011 bulan kering hanya terjadi selama 3 (tiga) bulan, yaitu bulan Juli, Agustus dan
September yang ditandai dengan curah hujan di bawah 200 mm. Sebaliknya bulan basah
terjadi selama pada bulan Januari hingga Juni kemudian berlanjut bulan Oktober sampai
Desember dengan curah hujan 228,5 hingga 356,2 mm per bulan.
Keadaan topografi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagian besar merupakan dataran
rendah, lembah (96 persen) dan sebagian kecil pegunungan dan perbukitan (4persen).
Ketinggian dataran rendah sekitar 0-50 meter di atas permukaan laut dan ketinggian daerah
pegunungan sekitar 300-700 meter antara lain untuk gunung Maras di Kabupaten Bangka
mencapai 699 meter, gunung Tajam di Kabupaten Belitung Timur kurang lebih 500 meter,
bukit Menumbing di Kabupaten Bangka Barat mencapai 445 meter dan bukit Mangkol di
Kabupaten Bangka Tengah dengan ketinggian mencapai 395 meter di atas permukaan laut.
Wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terbagi menjadi wilayah daratan dan wilayah
laut dengan total luas wilayah mencapai 81.725,23 km, terdiri dari luas daratan lebih kurang
16.424,23km atau 20 persen dari total wilayah dan luas laut lebih kurang 65.301,00km atau
80 persen dari total wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Luas wilayah
Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah : 1. Kabupaten Bangka
2.950,69km, 2. Kabupaten Belitung 2.293,69km, 3. Kota Pangkalpinang 118,80 km, 4.
Kabupaten Bangka Selatan 3.607,08 km, 5. Kabupaten Bangka Tengah 2.126,36 km, 6.
Kabupaten Bangka Barat 2.820,61 km, 7. Kabupaten Belitung Timur 2.507,00 km.
Kepulauan Bangka Belitung terdiri dari gugusan dua pulau besar yaitu Pulau Bangka dan
Pulau Belitung yang sekitarnya dikelilingi oleh pulau-pulau kecil dimana jumlah
keseluruhan mencapai 950 pulau (2 pulau besar dan 948 pulau kecil). Total pulau yang telah
bernama berjumlah 470 buah dan sisanya 480 buah belum bernama, sedangkan yang
berpenghuni hanya 50 pulau. Beberapa Sungai besar yang terdapat di Provinsi Kepulauan

Bangka Belitung, untuk di Pulau Bangka adalah S. Baturusa, S. Kotawaringin, S. Mancang,


S. Menduk, S. Selan, S. Kurau, S. Kepoh, S. Bangka Kota, S. Balar dan S. Rangkui,
sedangkan Sungai di Pulau Belitung diantaranya S. Cerucuk, S. Linggang, S. Balok dan S.
Manggar.
Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 522.53-958 Tahun 2010 tanggal 24
November 2010 tentang Penetapan Flora dan Fauna Identitas Daerah Provinsi, telah
ditetapkan Nyatoh Terong (Palaquium rostratum (Mig.) Burk) dan Tarsius Belitung/Mentilin
(Tarsius bancanussaltator Elliot) sebagai flora dan fauna identitas Provinsi Kepulauan
Bangka Belitung.
1. Flora
Di Kepulauan Bangka Belitung tumbuh bermacam-macam
jenis kayu berkualitas yang diperdagangkan ke luar daerah
seperti: Kayu Meranti, Ramin, Mambalong, Mandaru,
Bulin dan Rengas, meskipun saat ini keberadaannya
semakin berkurang. Tanaman hutan lainnya adalah:
Jelutung, Pulai, Gelam, Meranti rawa, Mentagor, Mahang,
Bakau dan lain-lain. Hasil hutan lainnya merupakan hasil
ikutan terutama madu alam dan rotan.Madu Kepulauan
Pohon nyatoh terong

Bangka Belitung terkenal dengan madu pahit.

2. Fauna
Fauna di Kepulauan Bangka Belitung lebih memiliki
kesamaan

dengan

fauna

di

Kepulauan

Riau

dan

semenanjung Malaysia daripada dengan daerah Sumatera.


Beberapa jenis hewan yang dapat ditemui di Kepulauan
Bangka Belitung antara lain : Mentilin, Rusa, Beruk,
Monyet, Lutung, Babi Hutan, Tringgiling, Musang, Elang,
Ayam Hutan, Pelanduk Kancil, beberapa jenis Ular dan
Biawak.

Pulau Bangka merupakan salah satu gugusan pulau di Indonesia yang mempunyai peranan
strategis bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pulau Bangka yang terbagi menjadi 5
daerah administrasi pemerintahan daearah Tingkat II yaitu Kotamadya Pangkal Pinang, Kab.
Bangka Induk, Kab. Bangka Selatan, Kab. Bangka Tengah, Kab. Bangka Barat dan luas
wilayah keseluruhannya adalah 11.534.231.4 Kilometer persegi, terkenal tidak hanya dari
catatan sejarahnya saja akan tetapi pulau Bangka itu terkenal akan hasil alam yaitu Timah
Pulau Bangka yang merupakan salah satu penghasil Timah terbesar di Indonesia yang
merupakan salah satu andalan bagi pemasukan devisa dalam negeri selain hasil tambang
lainnya.
Perubahan kontrol terhadap timah memberi akses kepada masyarakat untuk menambang
sehingga pertambangan di Bangka Belitung tumbuh tanpa terkendali. Dewasa ini,
penambangan timah terus berkembang pada penambangan timah lepas pantai. Masyarakat
ambil bagian dengan menggunakan ponton untuk melakukan penambangan yang biasa
disebut Tambang Inkonvensional (TI) Apung. Penelitian ini bertujuan mengkaji kandungan
logam di air, sedimen dan plankton di wilayah penambangan masyarakat. Hasil dari
penelitian, didapat kandungan Pb di air dan TSS telah melebihi Baku mutu sedangkan
kandungan logam berat Cd dan Zn pada air dan sedimen serta Pb di sedimen masih berada di
bawah baku mutu cemaran logam beradasarkan Kepmen No.51/MENLH/2004. Kandungan
logam Pb di air (<0,0001 (ttd)0,09260) ppm, logam Cd dan Zn di air <0,0001 (ttd) ppm.
Kandungan logam Pb di sedimen (0,09180,1897) mg/kg, logam Cd di sedimen ttd dan
kandungan logam Zn di sedimen (0,05650,1806) mg/kg.
Wilayah Penambangan TI Apung di perairan Batu Belubang telah mengalami penurunan
kualitas air dengan tingginya nilai TSS dan Logam Pb yang terlarut di air. Kandungan TSS
dan dan logam Pb di air tersebut telah melebihi baku mutu yang ditetapkan. Kandungan
logam Cd tidak terdeteksi di air, sedimen dan plankton. Kandungan Zn tidak terdeteksi di air
dan di sedimen masih berada di bawah baku mutu yang di keluarkan oleh Norwegia dan
Irlandia. Pengaruh penambangan TI Apung tidak memberikan pengaruh yang signifikan
terhadap kontaminasi logam berat di perairan dikarenakan kedalaman penggalian yang
dilakukan oleh masyarakat terbatas pada kelaman 2 12 m di dasar perairan. Adanya
kebijakan pemerintah dalam pembatasan lokasi penambangan juga membantu lingkungan
untuk memulihkan sendiri kondisi lingkungan.

232

Perlu diketahui juga bahwa status konsentrasi

226

pulau bangka. Telah dilakukan analisis kandungan

226

dan

Th

dan

Ra

Ra dalam sedimen pesisir


232

Th

di dalam sedimen

wilayah pesisir Bangka Barat dan Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data
226

dasar

Ra dan

232

Th

yang dapat digunakan untuk meperkirakan dampak dari

radionuklida tersebut terhadap kesehatan manusia. Tahapan penelitian meliputi pengambilan


sample di 62 lokasi pengamatan, preparasi sample dan analisis menggunakan gamma
232

spectrometer beresolusi tinggi. Radioisotop


212

(238,6 keV) dan

Pb

rerata konsentrasi

214

Pb

228

Ac

Th

ditetapkan dari rerata konsentrasi


226

(911,1 keV)[2]. Disisi lain

(351,9 keV) dan

menunjukkan Data dasar konsentrasi

226

214

Ra

Bi
dan

Ra

ditetapkan dari

(609,3 dan 1764 keV). Hasil analisis


232

Th

dalam sedimen di Pesisir

Pulau Bangka 18,69 627,17 Bq.Kg-1 dan 74,78 2333,50 Bq.Kg-1. Kontribusi tailing
hasil penambangan timah ikut berkontribusi pada konsentrasi

226

Ra

dan

232

Th
226

wilayah pesisir Pulau Bangka. Terdapat korelasi sebesar 50% antara konsentrasi
dan

232

Th

. Data dasar konsentrasi

226

Ra

dan

232

Th

di
Ra

dalam sedimen di Pesisir

Pulau Bangka 18,69 627,17 Bq.Kg-1 dan 74,78 2333,50 Bq.Kg-1. Kontribusi tailing
hasil penambangan timah ikut berkontribusi pada konsentrasi

226

Ra

dan

232

wilayah pesisir Pulau Bangka. Terdapat korelasi sebesar 50% antara konsentrasi

Th
226

di
Ra

dan 232
.
Th
Pada penelitia konsentrasi logam berat di air, sedimen dan biota di teluk kelabat, pulau
Bangka. Teluk Kelabat merupakan perairan semi terutup yang dapat dibagi ke dalam dua
bagian yaitu Teluk Kelabat bagian Luar (T Luar) yang berbatasan langsung dengan laut
Natuna dan Teluk Kelabat bagian Dalam (T Dalam) berhadapan pemukiman penduduk dan
lima muara sungai. Penelitian tentang kandungan logam dalam tiga komponen ekosistem
Teluk Kelabat (air, sedimen dan biota) dilakukan pada bulan Maret 2006 (musim barat) dan
Juli 2006 (musim tenggara). Analisis logam berat terlarut, di sedimen dan biota
menggunakan Spektofotometer Serapan Atom dengan nyala (Flame AAS). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa logam berat terlarut umumnya relatif rendah dengan kisaran sebagai
berikut, Pb (1,0 26,0 g L-1), Cd (<0,1 3,0 g L-1 ), Cu (12,0 g L-1) dan Zn (1,04,0
g L-1). Konsentrasi rata-rata logam berat dalam sedimen Pb (11.46 mg kg-1), Cd (0,10 mg
kg-1), Cu (2,50 mg kg-1) dan Zn (13,64 mg kg-1). Konsentrasi logam Pb, Cu dan Zn di

sedimen T Dalam dapat mencapai dua kali lipat lebih tinggi dibanding T Luar, namun
demikian ketiga konsentrasi logam tersebut tidak dipengaruhi oleh musim. Sebaliknya,
konsentrasi logam Cd cenderung merata di sedimen dan sangat dipengaruhi musim.
Konsentrasi logam Pb, Cd, Cu dan Zn pada ikan umumnya lebih rendah dibanding pada
jenis kerang-kerangan. Akumulasi Pb dan Cu tertinggi oleh siput gonggong Strombus
canarium, dan Cd dan Zn tertinggi oleh kerang darah Anadara sp.
Beradasarkan kriteria baku mutu laut nasional (KLH, 2004) dan ASEAN , konsentrasi logam
terlarut Pb, Cd. Cu dan Zn di Teluk Kelabat umumnya relatif rendah dan aman bagi
kehidupan biota. Konsentrasi Pb, Cu dan Zn di sedimen Teluk Kelabat bagian dalam dua
kali lipat lebih tinggi dibanding Teluk bagian luar, dan tidak dipengaruhi oleh faktor musim.
Sebaliknya, konsentrasi Cd di sedimen cenderung sama di seluruh sedimen Teluk Kelabat
dan sangat dipengaruhi musim. Konsentrasi residu logam berat pada jaringan siput
gonggong telah melampui batas maksimum residu Pb dan Cd, sedangkan kerang darah
melebihi batas maksimum residu Cd.
Penelitian berikutnya yaitu Deteksi dan Karakterisasi Akustik Sedimen Dasar Laut Dengan
Teknologi Seismik Dangkal Di Perairan Rambat, Bangka Belitung. Seismik refleksi dasar
yang beresolusi tinggi digunakan untuk mendeteksi lapisan-lapisan sedimen dasar laut dan
memudahkan dalam menginterpretasi data seismik secara geologi. Penelitian ini bertujuan
untuk mendeteksi dan mengkarakterisasi sedimen dasar laut di daerah Rambat, Kabupaten
Bangka Barat, Bangka Belitung. Akuisisi data lapangan dilaksanakan pada tanggal 10 - 24
Agustus 2012 pada koordinat 105.10000 105.50000 LU dan 1.700001.90000
BB. Pemrosesan data menggunakan beberapa metode seperti Geometry processing, Band
pass filter, Predictive deconvolution, dan Autocoralation Gain Control (AGC) untuk
mengurangi noise dan multiple untuk memudahkan interpretasi data. Penampang seismik
yang terdapat pada Cross Rambat (CRMBT) line 11 menunjukan adanya proses sedimentasi
yang menutupi dasar laut yang bersubstrat batuan, proses sedimentasi ini telah lama terjadi
yang diakibatkan oleh kegiatan penambangan secara legal maupun illegal.
Penampang seismik yang terdapat pada line CRMBT 11 terlihat adanya proses sedimentasi
yang menutupi dasar laut bersubstrat batuan dimana proses se-dimentasi ini telah lama
terjadi yang diakibatkan oleh faktor alam dan kegiatan penambangan secara legal maupun
illegal didearah tersebut. Dalam pengolahan data seismic single channel metode band pass
filter merupakan jenis filter yang sesuai untuk processing data karena band pass filter dapat

menapis noise. Sedangkan predictive deconvolution untuk memini-malisir multiple


permukaan sehingga dapat mempermudah dalam interpretasi data seismic single channel.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA