Anda di halaman 1dari 4

PENGATURAN HUKUM JAMINAN

A. MENURUT KUH PERDATA


Menurut KUH Perdata, gadai adalah suatu hak kebendaan atas suatu benda yang bergerak
kepunyaan orang lain yang semata-mata diperjanjikan dengan menyerahkan kekuasaa atas benda
tersebut dengan tujuan untuk mengambil pelunasan suatu hutang dan pendapatan penjualan
benda itu, lebih dulu dari penagih-penagih lainnya (pasal 1150 KUH Perdata). Sifatnya sebagai
hak kebendaan (dapat dipertahankan terhadap tiap orang) nampak dari kekuasaan orang yang
memegang barang tanggungan untuk meminta dikembalikannya barang yang ditanggungkan
apabila barang itu hilang (pasal 1152 ayat 4) dan lebih nyata lagi dari kekuasaannya untuk
menjual barang itu dengan tidak usah meminta perantaraan hakim, untuk selanjutnya mengambil
pelunasan dari pendapatan penjualan itu dengan mengecualikan orang-orang lain.
Hak gadai termasuk sebagai hak accesoir, yaitu hak yang tergantung dari adanya suatu
perjanjian pokok yang berupa perjanjian hutang pitang yang dijamin dengan hak tersebut. Oleh
undang-undang hanya ditentukan bahwa orang yang memberi tanggungan cakap bertindak.
Penerima gadai tidak bertangungjawab terhadap kemungkinan bahwa penerima gadai tidak
berhak/tidak memiliki barang yang digadaikan kepada penerima gadai. Apabila memang terjadi
demikian menurut undang-undang hak gadai yang diperjanjikan tetap sah, karena penerima gadai
menurut undang-undang berhak menganggap orang itu sebagai pemilik (pasal 1152 ayat 4).
Menurut KUH Perdata, gadai itu dianggap lahir ketika ada penyerahan kekuasaan atas barang
yang dijadikan hak tanggungan itu pada penerima gadai. Penyerahan kekuasaan ini oleh undangundang dianggap sebagai syarat mutlak untuk lahirnya suatu gadai. Undang-undang juga
mengizinkan barang tanggungan itu ditaruh dibawah kekuasaan seseorang pihak ketiga atas
persetujuan kedua belah pihak yang berkepentingan. Jadi sebetulnya yang dikehendaki oleh
undang-undang itu adalah ditariknya barang itu dan kekuasaan orang yang memberikan
tanggungan.
Jika disimpulkan, hak-hak seorang penerima gadai adalah sebagai berikut:
1. menahan barang yang dipertanggungkan sampai pada waktu hutang dilunasi, baik
mengenai jumlah pokok maupun bunga.
2. mengambil pelunasan dari pendapat penjualan barang yang diga daikan, apabila orang
yang berhutang tidak menepati kewajibannya. Penjualan dapat dilakukan sendiri maupun
dengan perantaraan hakim. Oleh hakim dapat ditetapkan bahwa barang itu menjadi milik

orang yang menghutangkan sebagai pelunasan hutang seluruhya atau hanya untuk
sebagian saja.
3. minta ganti biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang tanggungan.
4. menggadaikan lagi barang tanggungan, apabila hak itu sudah menjadi kebiasaan seperti
halnya dengan penggadaian surat-surat obligasi.
Sebaliknya, seorang pemegang gadai juga memikul kewajiban-kewajiban sebagai berikut:
1. bertanggung jawab terhadap hilangnya atau kemunduran harga barang tanggungan, jika
itu disebabkan karena kelalaiannya.
2. memberitahukan pada orang yang berhutang apabila hendak menjual barang
tanggungannya.
3. memberikan perhitungan tentang pendapatan penjualannya, dan setelah mengambil
pelunasan hutangnya harus menyerahkan kelebihannya pada yang berhutang
4. mengembalikan barang tanggungan apabila hutang pokok, bunga dan biaya untuk
menyelamatkan barang tanggungan telah di bayar lunas
B. Uu No. 42 Tahun 1999 Tentang Fidusia Sebagai Jaminan
Berdasarkan PP No. 103 tahun 2000 tentang PERUM Pegadaian dalam Pasal 8, disebutkan
bah PERUM Pegadaian selain menyelenggarakan usaha penyaluran uang pinjaman atas dasar
hukum gadai, juga menyelenggarakan usaha penyaluran uang pinjaman berdasarkan jaminan
dusia, pelayanan jasa titipan, pelayanan jasa sertifikasi logam mulia, unit toko emas dan
industri perhiasan emas serta usaha-usaha yang dapat menunjang tercapainya maksud dan tujuan
Perusahaan, dengan persetujuan Menteri Keuangan.
Jaminan dusia telah digunakan di Indonesia Sejak zaman penjajahan Belanda sebagai suatu
bentuk jaminan yang lahir dari yurisprudensi. Bentuk jaminan ini digunakan secara luas dalam
transaksi pinjaman-meminjam karena proses pembebanannya dianggap sederhana, mudah, dan
cepat, tetapi tidak menjamin adanya kepastian hukum.

Lembaga Jaminan Fidusia

memungkinkan kepada para pemberi fidusia untuk menguasai benda yang dijaminkan, untuk
melakukan kegiatan usaha yang dibiayai dari pinjaman dengan menggunakan jaminan dusia.
Pada awalnya, benda yang menjadi objek dusia terbatas pada kekayaan benda bergerak yang
berwujud dalam bentuk peralatan. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya, benda yang
menjadi objek dusia termasuk juga kekayaan benda bergerak yang tak berwujud, maupun benda
tak bergerak.

Seperti telah dijelaskan bahwa jaminan dusia memberikan kemudahan bagi para pihak yang
menggunakannya, khususnya bagi pemberi dusia. Namun karena jaminan dusia tidak
didaftarkan, hal ini dirasakan kurang menjamin kepentingan pihak yang menerima dusia.
Pemberi dusia mungkin saja menjaminkan benda yang telah dibebani dengan dusia kepada
pihak lain tanpa sepengetahuan penerima dusia. Sebelum Undang-undang Fidusia dibentuk,
pada umumnya benda yang menjadi objek jaminan dusia adalah benda bergerak yang terdiri
dari benda dalam persediaan (inventory), benda dagangan, piutang, peralatan mesin, dan
kendaraan bermotor. Oleh karena itu, guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang, maka menurut Undang-undang ini objek jaminan fidusia diberikan pengertian yang
luas yaitu benda bergerak yang berwujud maupun tak berwujud, dan benda tak bergerak yang
tidak dapat dibebani dengan hak tanggungan sebagaimana dltentukan dalam undang-undang
Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan.
Dalam Pasal 1 disebutkan bahwa fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas
dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut
dalam penguasaan pemilik benda. Sedangkan jaminan fidusia adalah hak jaminan atas benda
bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya
bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undangundang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan. Selanjutnya dalam Pasal 5 menentukan
bahwa pembebanan benda dengan jaminan dusia dibuat dengan akta notaris dalam bahasa
Indonesia dan merupakan akta Jaminan Fidusia Dan yang dibebani dengan jaminan dusia wajib
didaftarkan pada Pandaftaran Fidusia. Dalam Pasal 17 ditegaskan bahwa pemberi dusia
dilarang melakukan fidusia ulang terhadap benda yang menjadi objek jaminan fidusia yang
sudah terdaftar. Jika pemberi dusia tidak mampu melunasi utangnya maka pemberi wajib
menyerahkan benda yang menjadi objek jaminan fidusia dalam rangka pelaksanaan eksekusi
jaminan dusia.
C. Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 25/DSN-MUI/III/2002 Tentang Rahn
Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 25/DSN-MUI/III/2002, menentukan bahwa pinjaman
dengan menggadaikan barang sebagai barang jaminan hutang dalam
bentuk Rahn dibolehkan dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Murtahin (penerima barang) mempunyai hak untuk menahan Marhun (barang) sampai
semua hutang Rahin(yang menyerahkan barang) dilunasi.
2. Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik Rahin. Pada perinsipnya, Marhun tidak
boleh dimanfaatkanole Murtahin kecuali seijin Rahin, dengan tidak mengurangi nilai
Marhun dan pemanfaatannya itu sekedar mengganti biaya pemeliharaan dan
perawatannya.
3. Pemeliharaan dan penyimpanan Marhun pada dasarnya menjadi kewajiban Rahin, namun
dapat dilakukan juga oleh Murtahin, sedangkan biaya dan pemeliharaan penyimpanan
tetap menjadi kewajiban Rahin.
4. Besar biaya pemeliharaan dan penyimpanan Marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan
jumlah pinjaman.
5. Penjualan Marhun
a. Apabila jatuh tempo, Murtahin harus memperingatkan Rahin untuk segera
melunasi hutangnya.
b. Apabila Rahin tetap tidak dapat melunasi hutangnya, maka Marhun dijual
paksa/dieksekusi melalui lelang sesuai dengan syariah.
c. Hasil penjualan Marhun digunakan untuk melunasi hutang, biaya Pemelilharaan
dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penjualan.
d. Kelebihan hasil penjualan menjadi milik Rahin dan kekurangannya menjadi
kewajiban Rahin
6. Jlka salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di

antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase
Muamalah Indonesia (BAMUI) setelah tldak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.