Anda di halaman 1dari 80

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pendidikan

berguna

untuk

menyempurnakan

individu

dalam

menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap dan sebagainya. Menurut dictionary


of psychology (Metabid, 2010) pendidikan dapat berlangsung secara formal
dan non formal.
Pendidikan

merupakan

kegiatan

mobilitas

segenap komponen

pendidikan yang terarah pada pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses


pendidikan terdiri dari dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas
pengelolaannya. Pengelolaan proses pendidikan meliputi ruang lingkup
makro, meso dan mikro (Hartoto,2008).
Kebidanan merupakan ilmu yang terbentuk dari sintesa berbagai
disiplin ilmu yang terkait dengan pelayanan kebidanan, meliputi ilmu
kedokteran, ilmu keperawatan, ilmu sosial, ilmu perilaku, ilmu budaya, ilmu
kesehatan masyarakat dan ilmu manajemen u tuk dapat memberikan
pelayanan kepada ibu dalam masa prakonsepsi, masa hamil, iu bersalin, post
partum dan bayi baru lahir.
Program Diploma III Kebidanan Stikes Cirebon merupakan program
yang diselenggarakan dalam rangka memenuhi keutuhan pendidikan
professional untuk menjadi guru/dosen/pemiminng pada institusi pendidikan
keidanan (akademi keidanan) dan area praktek kebidanan. Oleh karena itu
untuk memenuhi kompetensi yang diutuhkan mahasiswa, maka mata ajar yang
diberikan meliputi sustansi kebidanan dan kependidikan.
Salahsatu program pembelajaran pada program ini adalah studi
lapangan untuk memenhi tugas dari 3 mata kuliah, yaitu administrasi
pendidikan, desain kurikulum, dan psikologi pendidikan. Studi lapangan
tersebut akan dilaksanakan pada institusi penyelenggara pendidikan keidanan
yang bidang pengamatannya adalah 3 bidang mata kuliah terseut di atas.

Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pemecahan


masalah (prolem solving) yang terdiri dari pengkajian, analisis kebutuhan dan
masalah,

prioritas

masalah,

rencana

alternatif

pemecahan

masalah,

implementasi dan evaluasi. Namun karena keterbatasan waktu, mahasiswa


hanya diwajikan melakukan kegiatan dan pengkajian sampai dengan
pembuatan rencana alternatif pemecahan masalah.
Dengan melihat penerapan desain kurikulum, psikologi pendidikan,
dan

administrasi

pendidikan

diharapkan

mahasiswa

akan

memiliki

pengalaman yang dapat diaplikasikan setelah bekerja di institusi pendidikan.


Di samping itu mahasiswa diharapkan dapat memberikan masukan-masukan
terkait dengan hal tersebut kepada institusi tempat studi lapangan.
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Setelah menyelesaikan praktek studi lapangan, mahasiswa mampu
menerapkan prinsip administrasi pendidikan, desain kurikulum dan
psikologi pendidikan.
2. Tujuan khusus
Setelah menyelesaikan praktek studi lapangan, mahasiswa mampu :
a. Melakukan pengkajian terkait dengan administrasi pendidikan, desain
kurikulum, dan psikologi pendidikan.
b. Mengidentifikasi kebutuhan dan masalah yang tekait dengan
administrasi pendidikan, desain kurikulum dan psikologi pendidikan
c. Menetapkan prioritas keutuhan dan masalah yang telah teridentifikasi
d. Menyusun tujuan dan rencana, alternatif dan pemenuhan kebutuhan
serta penyelesaian masalah
e. Mengusulkan alternative pemecahan dan penyelesaian masalah yang
bersifat teknis operasional bagi institusi tempat studi lapangan

C. Manfaat
Manfaat studi lapangan bagi mahasiswa program D IV bidan
pendidik Poltekes Bhakti Pertiwi Husada Cirebon adalah peningkatan kualitas
proses belajar mengajar yang melibatkan mahasiswa secara aktif dalam
kegiatan lapangan, sedangkan bagi lahan praktek atau institusi tempat studi
lapangan mahasiswa dapat memantu institusi yang bersangkutan dalam
bentuk usulan pemecahan yang bersifat teknis operasional dan aspek
administrasi pendidikan, desain kurikulum dan psikologi pendidikan.
D. Lingkup kegiatan studi lingkungan
Kegiatan studi lapangan meliputi pengelolaan aspek administrasi
pendidikan, desain kurikulum dan psikologi pendidikan yang mencakup :
1. Pengkajian
2. Perumusan Kebutuhan
3. Prioritas masalah
4. Alternatif pemecahan masalah
E. Waktu
Praktik studi lapangan ini dilaksanakan pada tanggal 23 Maret 2015 sampai
dengan 9 April 2015 di prodi D III Kebidanan Stikes Cirebon.
F. Langkah-langkah Pelaksanaan Studi Lapangan
1. Tahap orientasi umum
a. Perkenalan dengan civitas akademika Stikes Cirebon pada tanggal 23
Maret 2015
b. Diskusi dengan kepala prodi D III Kebidanan tentang mekanisme
kegiatannya
2. Tahap pengkajian
Pengumpulan data input, proses dan output untuk administrasi pendidikan,
desain kurikulum dan psikologi pendidikan tanggal 23 Maret 2015.

3. Tahap Identifikasi Masalah


Setelah melakukan pengumpulan data bersama ketua atau orang yang
ditunjuk kemudian mengidentifikasi masalah atau kebutuhan yang terkait
dengan administrasi pendidikan, desain kurikulum dan psikologi
pendidikan pada tanggal 23 Maret 2015.
4. Tahap perumusan alternatif pemecahan masalah dilaksanakan pada
tanggal 23 Maret 2015
5. Tahap presentasi
Presentasi dilakukan di Stikes Cirebon pada tanggal 9 April 2015
6. Tahap pemuatan laporan
Hasil laporan diserahkan kepada Poltekes Bhakti Pertiwi Husada Cirebon
dan institusi tempat studi lapangan.
G. Sistematika Penulisan
JUDUL
BAB I

PENDAHULUAN

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

BAB III HASIL PENELITIAN


a. Pengkajian
b. Perumusan Masalah
c. Prioritas Masalah
d. Alternatif pemecahan masalah
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori Administrasi Pendidikan
1. Pengertian Administrasi
Administrasi pendidikan adalah suatu proses keseluruhan, kegiatan
bersama

dalam

bidang

pendidikan

yang

meliputi

perencanaan,

pengorganisasian, pengarahan, pelaporan, pengkoordinasian, pengawasan,


pembiayaan dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang
tersedia baik personal, material maupun spiritual untuk mencapai tujuan
pendidikan yang efektif dan efisien.
Administrasi pendidikan adalah suatu proses yang berurusan
dengan penciptaan, pemeliharaan, stimulasi dan penyatuan tenaga-tenaga
dalam suatu lembaga pendidikan dalam usaha merealisasikan tujuantujuan yang telah ditentukan sebelum-sebelumnya.
Dalam suatu administrasi pendidikan suatu usaha orang-orang
yang terlibat di dalam suatu proses pencapaian tujuan terintegrasikan dan
terorganisasi secara efektif dan efisien.
2. Prinsip-prinsip Administrasi
a. Prinsip efisiensi
Menggunakan semua sumber dana tenaga dan fasilitas yang ada secara
efisien.
b. Prinsip efektifitas
Antara yang direncanakan dengan yang diharapkan sesuai, tepat waktu
dan tepat guna.
c. Prinsip pengelolaan
Untuk memperoleh hasil yang efektif dan efisien dengan cara
menggunakan system perencanaan, pengorganisasian, mengarahkan
dan melakukan pemeriksaan (pengontrolan)

d. Prinsip kerjasama
Mengembangkan kerjasama antara seluruh anggota baik secara
horizontal maupun vertical
e. Prinsip kepemimpinan efektif
Dengan memperhatikan hubungan yang baik antar manusia dan
berorientasi pada tugas yang sesuai dengan kebutuhan.
f. Prinsip pelimpahan wewenang
Semua kegiatan pendidikan harus berorientasi pada tujuan operasional
yang sudah dirumuskan dan untuk menjadi sandaran orientasi bagi
pelaksanaan kegiatan administrasi pendidikan di sekola~
3. Tujuan Administrasi
Tujuan utama administrasi pendidikan adalah untuk manajemen
efisiensi dan efektifitas pelayanan pendidikan, sebagaimana pelaksanaan
kebijakan

melalui

perencanan

pengambilan

keputusan,

perilku

kepemimpinan dan iklim organisasi yang kondusif serta menentukan


perubahan esensial fasilitas untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan
masyarakat di masa depan (Syah, 2010).
4. Manajemen dan Administrasi Pendidikan
a. Manajemen
Adalah semua kegiatan diselenggarakan oleh seorang atau
lebih dalam suatu kelompok atau organisasi ataulembaga untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan dalam organisasi atau lembaga.
Ini memberkarti manajemen merupakan kegiatan yang dilakukan
bersama dan seseorang atau kelompok dengan maksud
mencapai
manajemen

tujuan

organisasi.

merupakan

mengorganisasikan,

Stomer

serangkaian

menggerakkan,

mengemukakan
kegiatan

untuk
bahwa

merencanakan,

mengendalikan,

dan

mengembangkan segala upaya dalam mengatur dan mendayagunakan


sumber daya manusia, sarana dan prasarana secara efisien dan efektif
untuk mencapai suatu tujuan organisasi yang telah ditetapkan.

Fungsi pokok dan manajemen adalah planning, organizing,


directing, coordinating, reporting, dan budgeting (PODCRB).
b. Administrasi pendidikan
Hadari Nawawi mengatakan, "administrasi adalah rangkaian
kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama
sejumlah orang untuk mencapai tujuan pendidikan formal." Sehingga
dapat disimpulkan bahwa :
1) Administrasi pendidikan adalah kegiatan manusia atau sebagai
gejala sosial karena di dalamnya terjadi interaksi antar sejumlah
orang
2) Adrninistrasi pendidikan adalah proses aktivitas atau rangkaian
kegiatan yang dilakukan terus-menerus.
3) Rangkaian tujuan itu ditujukan untuk mencapai tujuan pendidikan
yang telah ditetapkan melalui pembagian tugas atau pekerjaan
yang jelas
4) Administrasi melibatkan banyak pihak diantaranya kepala sekolah,
Pembina, pengawas, penilik, dan pejabat senior di Lingkunga
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang memiliki tanggung
jawab pengelola pendidikan (budiyono, 2002)
5. Supervise Pendidikan
a. Pengertian
Supervise pendidikan adalah suatu usaha dari petugaspetugas
sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas lainnya dalam
memperbaiki

pengajaran

termasuk

menstimulasi,

menyeleksi

pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru serta merevisi


tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran dan metode serta evaluasi
pengajaran.
Supervise pendidikan adalah suatu usaha dalam menstimulasi,
mengkoordinasi dan membimbing secara continue pertumbuhan guruguru di sekolah baik secara individual maupun secara, kolektif agar
7

lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi


pengajaran.
b. Tujuan supervise pendidikan
Memberikan pelayanandan bantuan untuk meningkatkan
kualitas mengajar guru di kelas, yang pada gilirannya untuk
memperbaiki kemampuan mengajar tetapi juga untuk mengembangkan
potensi kualitas guru. Pendapat ini sesuai dengan pendapat Olive
bahwa sasaran (dominan) supervise pendidikan adalah :
1) Mengembangkan kurikuium yang sedang dilaksanakan di sekolah
2) Meningkatkan proses belajar mengajar di sekolah
3) Mengembangkan seluruh staf di sekolah
c. Prinsip supervise pendidikan
1) Prinsip ilmiah
a) Kegiatan supervise dilaksnakan berdasarkan data obyektif yang
diperoleh dalam kenyataan pelaksanaan dalam proses belaiar
mengajar
b) Memperoleh data perlu diterapkan alat perekam data seperti
angket, observasi, percakapan Pribadi, dan lain-lain
c) Kegiatan supervise dilaksanakan secara sistematis, berencana
dan continue
2) Prinsip demokratis
Servis

dan

bantuan

yang

diberikan

kepada

guru

berdasarkan hubungan kemanusiaan yang akrab dan kehangatan


sehingga guru merasa aman untuk mengembangkan tugasnya.
Demokratis mengandung makna menjunjung tinggi harga dirii dan
martabat guru bukan berdasarkan atasan tapi berdasarkan rasa
kesejawatan.
3) Prinsip kerjasama
Mengembangkan

usaha

bersama,

member

support,

mendorong, menstimulasi guru, sehingga mereka merasa tumbuh


bersama.
8

4) Prinsip konstruktif dan kreatif


Setiap

guru

mengembangkan

akan

potensi

merasa
kreativitas

termotivasi

dalam

supervise

mampu

menciptakan suasana kerja yang menyenangkan bukan melalui


cara-cara menakutkan.
d. Faktor yang mempengaruhi
1) Lingkungan mas4rakat yang menjadi tanggung jawab kepada
sekolah
2) Besar kecilnya sekolah yang menjadi tanggung jawab kepala
sekolah
3) Tingkat dan jenis sekolah
4) Keadaan guru-guru yang tersedia
5) Kecakapan dan keahlian kepala sekolah itu sendiri
e. Teknik supervise
1) Teknik perseorangan
a) Mengadakan kunjungan kelas
Yaitu

kunjungan

yang

dilakukan

sewaktu-waktu

yang

dilakukan oleh supervisor untuk melihat dan mengamati guru


yang sedang mengajar
b) Mengadakan kunjungan observasi
Guru-guru di suatu sekolah sengaja ditugaskan untuk
mengamati guru yang sedang mendemonstrasikan cara mengjar
suatu mata pelajaran tertentu. Cara menggunakan alat atau
media baru, cara mengajar dan metode tertentu
c) Membimbing guru-guru dalam hal yang berhubungan dengan
pelaksanaan kurikulum
d) Membimbing guru tentang cara mempelajari pribadi siswa dan
mengatasi problem yang dihadapi siswa
2) Teknik kelompok
Adalah supervise yang dilakukan kelompok meliputi :
a) Mengadakan rapat atau pertemuan
9

10

b) Mengadakan diskusi kelompok


c) Mengadakan penataran
3) Fungsi supervise
a) Fungsi utama yaitu ditujukan kepada perbaikan dan kualitas
pengajaran
b) Fungsi utama supervise modern yaitu menilai dan memperbaiki
faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran peserta didik
Fungsi menurut Sweringan, yaitu :
a) Mengkoordinasi semua usaha sekolah
b) Melengkapi kepemimpinan sekolah
c) Memperluas penglaman guru-guru
d) Menstimulasi usaha-usaha sekolah yang kreatif
e) Memberikan fasilitas dan penilaian secara terus-menerus
melalui penelitian
f) Menganalisis situasi belajar mengajar
g) Melengkapi setiap anggota staf dengan pengetahuan baru dan
ketrampilan yang baru pula
h) Memadukan dan menyelaraskan dari tujuan-tujuan pendidikan
dan membentuk kemampuan-kemampuan
4) Peranan supervise pendidikan
Supervise berfungsi membantu (assisting), memberi support
(supporting), dan mengajak, mengikutsertakan (sharing). Seorang
supervisor dapat berperan sebagai :
a) Coordinator
b) Konsultan
c) Pemimpin kelompok
d) Evaluator

10

11

6. Komponen Administrasi Pendidikan


a. Ketenagaan dan personel
Manajemen personel pendidikan mencakup segenap penataan personel
di pendidikan yaitu orang-orang yang bertugas menjalankan program
pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan, melipti :
1) Struktur organisasi yang jelas sehingga setiap personel mempunyai
tugas dan tanggung jawab sesuai dengan jabatan yang diterima
2) Ketua
3) Pembantu ketua
4) Dosen dalam dan dosen luar "
5) Dosen pembimbing praktek
6) Staf atau karyawan
b. Kemahasiswaan
Yaitu semua

kegiatan

mahasiswa

yang

berhubungan dengan

pendidikan
c. Sarana dan prasarana
Sarana adalah semua peralatan yang berhubungan secara langsung
untuk mencapai tujuan pendidikan. Prasarana adalah alat-alat yang
tidak berhubungan langsung dengan proses pendidikan. Keduanya
harus berjalan bersama untuk mencapai tujuan pendidikan yang
optimal. Sarana dan prasarana tersebut adalah :
1) Kantor
2) Kelas
3) Laboratorium
4) Perpustakaan
5) Toilet
6) Lapangan
d. Pembiayaan
Untuk mencapai tujuan pendidikan yang harus efektif memiliki
perencanaan strategic dan tahunan yang dipatuhi dan diketahui oleh
masyarakat pendidikan, Kepemilikan pendidikan, strategic pendidikan
11

12

membantu mengarahkan dinamika orientasi sekolah yang dibimbing


visi, misi, kejelasan prioritas program, sasaran dan indicator
keberhasilannya.

Program-program

tersebut

didukung

oleh

pembiayaan yang memadai dengan sumber-sumber anggaran yang


handal dan permanen. Dalam kondisi seperti itu akontabilitas
kelembagaan

pendidikan

baik

yang

dilakukan

melalui

self

assessement/internal monitoring maupun melaui eksternal evaluation


akan

berkembang

berkepentingnan

secara
mendapat

sehat

karena

tempatnya

semua
dalam

pihak
setiap

yang
aspek

penembangan pendidikan. Tujuan dan administrasi pembiayaan adalah


perencanaan dan pengawasan dari proses tersebut, yaitu sumber dana
dan penggunaan dana harus terekomendasi dan jelas.
e. Hubungan dengan masyarakat
Disamping

memberdayakan

secara

optimal

staf

yang

dimilikinya, sekolah yang efektif dan menaruh perhatian yang


sungguh-sungguh pula. Hal ini akan diwujudkan dengan cara
menyediakan wadah yang memungkinkan mereka yaitu pihak-pihak
yang berkepentingan ikut terlibat dalam memikirkan, membahas,
membuat kegutusan dan mengontrol Pelaksanaan sekolah. Wadah
seperti itu dalam penyelenggaraan sekolah-sekolah di Australia dikenal
sebagai "school council" yang di Indonesia diusulkan komite sekolah,
orang tua murid, anggota masyarakat, dan refresntatif staf dari
Depdiknas setempat.
B. Tinjauan teori desain kurikiulum
1. Pengertian
Kurikulum adalah suatu dokumen atau rencana tertulis mengenai
kualitas pendidikan yang harus dimiliki oleh peserta didik melalui suatu
pengalaman belajar. Pengertian ini mengandung arti bahwa kurikulum
harus tertuang dalam satu atau rencana tertulis.

12

13

Dokumen atau rencana tertulis itu berisikan pertanyaan mengenai


kualitas yang harus dimiliki seorang peserta didik yang mengikuti
kurikulum tertulis tersebut. Aspek lain dari kurikulum adalah pengalaman
belajar. Pengalaman belajar disini adalah pengalaman belajar yang dialami
oleh peserta didik.
Pengalaman peserta didik tersebut adalah konsekuensi lanngsung
dari dokumen tertulis yang dikembangkan oleh dosen atau instruktur atau
pendidik. Dokumen tertulis yang dikembangkan oleh dosen ini dinamakan
rencana perkuliahan atau satuan pembelajaran. Pengalaman belajar ini
memberikan dampak langsung terhadap hasil belajar mahasiswa. Oleh
karena itu, jika pengalaman belajar ini tidak sesuai dengan rencana tertulis
maka hasil belajar yang diperoleh peserta didik tidak dapat dikatakan
sebagai hasil kurikulum.
2. Dimensi pengembangan kurikulum pendidikan tinggi
Dimensi pengembangan kurikulum pendidikan tinggi terdiri dari :
a. Pengembangan ide dasar untuk kurikulum
b. Pengembangan program
c. Rencana perkuliahan/satuan pembelajaran
d. Pengalaman belajar
e. Penilaian
f. Hasil belajar
3. Dimensi dalam 3 kategori
a. Perencanaan kurikulum
Perencanaan kurikulum berkenaan dengan pengembangan pokok
pikiran atau ide kurikulum dimana wewenang menentukan ada pada
pengambil kebijakan untuk suatu lembaga pendidikan
b. Implementasi kurikulum
Implementasi kurikulum berkenaan dengan pelaksanaan kurikulum di
lapangan (lembaga pendidikan) dimana yang menjadi pengembangan
dan penentu adalah dosen atau tenaga kependidikan

13

14

c. Evaluasi kurikulum
Evaluasi kurikulum merupakan kategori ketiga dimana kurikulum
dinilai apakah kurikulum memberikan hasil yang sesuai dengan apa
yang sudah dirancang ataukah keseluruhannya. Dalam konteks ini
evaluasi kurikulum dilakukan oleh tim di luar tim pengembang
kurikulum dan dilaksanakan setelah kurikulum menganggap cukup
waktu untuk menunjukkan kinerja dan prestasinya.
4. Kurikulun; pendidikan tinggi berdasarkan SK Mendiknas 232
Surat

Keputusan

Menteri

Pendidikan

Nasional

Nomor

2321CT/2000 menetapkan pedoman penyusunan kurikulum pendidikan


tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa. Dalam surat keputusan
tersebut dikemukakan struktur kurikulum berdasarkan tujuan belajar
lerning to kno-v!, learning to do, learning to live together and learning to
be. Berdasarkan pemikiran tentang tujuan belajai- tersebut maka mata
kuliah dalam kurikulum perguruan tinggi dibagi atas lima kelompok, yaitu
: mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), mata Kuliah Keilmuan
dan Ketrampilan (MKK), mata Kuliah Keahlian Berkarya (TAKB), Mata
Kuliah Perilaku Bbberkarya (MPB), dan Mata Kuliah Berkehidupam
ermasyarakat (MBB).
Dalam ketentuan umum dikemukakan dskripsi setiap kelompok
mata kuliah dalam kurikulum ini dan pada pasal 9 berkenaan dengan
kurikulum institusional. Dengan mengambil rumusan pada ketentuan
umum, deskripsi tersebut adalah seagai berikut : "Keputusan Mendiknas
yang dituangkan dalam SK Nomor 232 Tahun 2000 diatas jelas
menunjukkan arah kurikulum berbasis kompetensi kompetensi walaupun
secara eksplisit tidak dinyatakan demikian".
Empat pilar (the four Pillars of UNESCO) dalam Kepmenkes No.
232/U/2000, bahwa seseorang yang kompeten harus dapat memenuhi
persyaratan :
a. Landasan kemampuan pengembangan kepribadian

14

15

b. Kemampuan penguasaan ilmu dan ketrammpilan (know how and know


why) dan kemampuan (know to dc)
c. Kemampuan mensikapi dan berperilaku dalam berkarya sehingga
dapat mandiri, menilai dan mengambil keputusan secara bertanggung j
awab
d. Dapat hidup bermasyarakat dengan bekerjasama, saling menghormati
dan menghargai nilai-nilkai pluralism dan kedamaian (to live together)
5. Kurikulum

pendidikan

tinggi

berdasarkan

surat

keputusan

Mendiknas No. 045/UU/2002


Surat keputusan Mendiknas No. 045/U/2002 tentang kurikulum
inti

perguruan

tinggi

mengemukakan

bahwa

kompetensi

adalah

seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seorang


sebagai svarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam
melaksanakan raps-tugas di bidang pekerjaan tertentu.
Kurikulum berasis kompetensi adalah kurikulum yang pada tahap
perencanaan terutama dalam tahap pengembangan ide akan dipengaruhi
oleh kemungkinan-kemungkinan pendekatan, kompetensi dapat menjawab
tantangan yang muncul. Artinya, pada waktu mengembangkan atau
mengadosi pemikiran kurikulum berbasis kompetensi maka pengembang
kurikulum harus mengenal benar landasan filosofi, kekuatan dan
kelemahan pendekatan kompetensi dalam menjawab tantangan, serta
jangkauan validitas pendekatan tersebut ke masa depan. Harus diingat
bahwa kompetensi bersifat terus berkembang sesuai dengan tuntutan dunia
kerja aiau dunia profesi maupun dunia ilmu.
SK Mendiknas No. 45 Tahun 2002 ini memperkuat perlunya
pendekatan KBK dalam pengembangan kurikulum pendidikan tinggi.
Bahkan dalam SK Mendiknas 45 pasal 2 ayat (2) dikatakan bahwa kelima
kelompok mata kuliah yang dikemukakan dalam SK No. 232 adalah
merupakan elemen kompetensi.
Selanjutuya keputusan tersebut menetapkan pula arah program
yang dinamakan dengan kurikulum inti dan kurikulun institusional. Jika
15

16

diartikan melalui keputusan maka kurikulum inti berisikan kompetensi


utama sedangkan kurikulum institusional berisikan kompetensi pendukung
dan kompetensi lainnya.
Berdasarkan SK Mendiknas Nomor 045 :
a. Kurikulum inti yang merupakan penciri kompetensi utama ersifat :
1) Dasar untuk mencapai kompetensi lulusan
2) Acuan buku minimal mutu penyelenggaraan program studi
3) Berlaku secara nasional dan internasional
4) Lentur dan akomodatif terhadap peruahan yang sangat cepat di
masa mendatang
5) Kesepakatan institusional bersama antara kalangan perguruan
tinggi, masyarakat profesi dan pengguna lulusan
b. Kurikulum institusional berisikan kompetensi pendukung serta
kompetensi lain yang bersifat khusus dan gayut dengan kompetensi
utama
6. Implementasi kurikulum
Dalam rangka implementasi KBK di perguruan Tinggi, maka
hendaknya kita memperlakukan kelima kelompok mata kuliah tersebut
sebagai kelompok kompetensi. Dengan demikian maka setiap mata kuliah
harus menjaarkan kompetensi yang dikembangkan mata kuliah tersebut
sehingga setiap mata kuliah memiliki matriks kompetensi. Setelah itu
dapat dikembangkan matriks yang menggambarkan again setiap mata
kuliah terhadap kelima kategori kompetensi.
7. Penilaian
Dengan kurikulum berbasis kompetensi maka system penilaian
hasil belajar haruslah berubah. Ciri utama perubahan penilaiannya adalah
terletak pada pelaksanaan penilaian yang berkelanjutan serta komprehensif
yang mencakup aspek-aspek berikut :
a. Penilaian hasil belajar
b. Penilaian pross belajar mengajar
c. Penilaian kompetensi mengajar dosen
16

17

d. Penilaian relevansi kurikulum


e. Penilaian daya dukung sarana dan fasilitas
f. Penilaian program (akreditasi)
Strategi yang dapat digunakan adalah :
a. Mengartikulasi

standard

dan

desain

kemampuan

dosen

penilaian

di

lingkungan

pendidikan tinggi
b. Mengembangkan

untuk

melakukan

dan

memanfaatkan proses pembelajran


c. Mengembangkan kemampuan subjek didik untuk memanfaatkan hasil
penilaian dalam meningkatkan efektifitas belajar mereka
d. Memantau menilai dampak jangka panjang terhadap proses dan hasil
belajar
e. Perubahan yang mendasar juga terjadi pada kriteria lulusan dan tidak
lulus (menguasai kompetensi dan tidak)
8. Komponen yang terlibat serta peranannya
Untuk mengembangkan dan mengimplementasikan KBK ini
dengan baik sejumlah komponen perlu terlibat secara inten dan
memberikan perannya masing-masing sesuai dengan kapasitasnya, antara
lain :
a. Visi dan misi kelembagaan dan kepemimpinan yang berorientasi
kualitas dan akuntabilitas serta peka terhadap dinamika pasar
b. Partisipasi seluruh civitas akademika dalam bentuk share vision dan
mutual commitment untuk optimasi kegiatan pembelajaran
c. Iklim dan kultur akademik yang kondusif untuk proses pengembangan
yang berkesinambungan
d. Keterlibatan kelompok masyarakat pemrakarsa serta masyarakat
pengguna lulusan itu sendiri

17

18

9. Struktur kurikulum nasional pendidikan Diploma III kebidanan 2002


(Kepmendiknas 232/2000)
a. Beban studi

110 SKS

Teori

50 SKS (45,5%)

Praktik

45 SKS (40,9%)

Praktik klinik kebidanan

18 SKS (13,6%)

b. Proporsi teori : praktik


Teori : praktik (P+K) = 50 SKS : 60 SKS
c. Untuk masa studi 6-10 semester (1 semester = 16-19 minggu)
d. Metodologi pembelajaran
1) Teori yaitu kuliah, diskusi, seminar, dan penugasan
2) Praktik yaitu dapat dilakukan di laboratorium kelas atau
laboratorium klinik atau lapangan untuk melatih ketrampilan yang
berfokus pada integrasi ilmu dan teknologi dalam melakukan
praktik
3) Praktik Klinik Keidanan (PKK) yaitu kegiatan pemelajaran di
lahan praktek yang terbagi dalam 3 tahap :
PKK I

kegiatan praktik klinik berfokus pada kasus normal


dengan bimingan penuh

PKK II

kegiatan praktik klinik berfokus pada kasus normal


dengan bimingan penuh

PKK III

tahap awal fberfokus pada askeb. kasus normal


secara mandiri, dan kasus bermasalah dengan
bim$bingan
melakukan

sewaktu,
askeb

pada

dilanjutkan
kasus

dengan

normal

dan

bermasalah secara mandiri sebagai kandidat bidan

18

19

10. Satuan acara pembelajaran (SAP)


a. Pengertian
Adalah program pengajaran yang meliputi satu atau bebberapa pokok
bahasan untuk diajarkan selama satu kali atau beberapa kali
pertemuan.
b. Komponen SAP
1) Identitas Mata kuliah
2) Tujuan, yang meliputi tujuan instruksional umum dan khusus
3) Standar kompetensi
4) Indikatior kompetensi
11. Silabus
a. Pengertian
Adalah penjabaran lebih lanjut dari standar kompetensi dasar yang
harus dicapai siswa.
b. Prinsip-prinsip pengembangan silabus
Beberapa prinsip yang mendasari pengembangan silaus antara lain :
1) Ilmiah, agar silabus yang dihasilkan valid
2) Memperhatikan perkembangan dan kebutuhan siswa dari sisi
cakupan, kedalaman, tingkat dan urutan penyajiannya
3) Sistematis, mengikuti suatu prosedur tertentu
4) Relevansi (keterkaitan, kesesuaian dengan kehidupan sehari-hari
5) Konsistensi keseluruhan komponen
6) Kecukupan,

cakupan

materi

memadai

untuk

mendukung

tercapainya standar kompetensi


7) Komponen silabus dan system penilaian

19

20

8) Komponen dan teknologi assessment unit

C. Tinjauan Teori Psikologi Pendidikan


Menurut Sarlito Wirawan psikologi adalah ilmu yang mempelajari
tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungan.
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, psikologi adalah ilmu yang
berkaitan dengan proses mental baik normal maupun abnormal dan pengaruh
pada perilaku, ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa.
Pendidikan adalah upaya sadar untuk menyiapkan peserta didik
melalui kegiatan bimblngan, pengajaran dan atau latihan bagi Peranannya di
masa yang akan datang (UU RI No. 2, 1998).
Psikologi belajar adalah studi tentang proses dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan proses belajar manusia.
20

21

1. Prinsip Psikologi dalam Pendidikan


2. Seleksi penerimaan murid baru
3. Perencanaan pendidikan
4. Penyusunan kurikulum
5. Penelitian kependidikan
6. Administra si kependidikan
7. Pemilihan materi pembelajaran
8. Interaksi belajar mengajar
9. Pengukuran dan evaluasi
10. Bimbingan dan Konseling
1. Pengertian bimbingan
Adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang
ahli kepada individu dengan menggunakan berbagai prosedur, cara dan
bahan agar individu tersebut dengan mandiri dalam memecahkan masalah
yang dihadapi.
Unsur-unsur pokok bimbingan sebagai berikut :
a. Pelayanan bimbingan merupakan suatu proses Pelayanan bimbingan
bukan sesuatu yang sekali jadi, melainkam melalui liku-liku tertentu
sesuai

dengan dinamika

yang

terjadi

dalam

pelayanan

dan

membutuhkan waktu yang relative lama.


b. Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan
Bantuan disini tidak diartikan sebagai bantuan materil (uang hadiah,
sumbangan, dll), melainkan bantuan yang bersifat menunjang bagi
pengembangan pribadi bagi individu yang dibimbing seperti motivasi.
c. Bantuan itu diberikan kepada individu, baik perorangan maupun
kelompok. Sasaran dari bimbingan adalah orang yang diberi bantuan,
baik orang perorangan secara indivisu atau secara kelompok baik yang
bermasalah maupun yang tidak bermasalah.
d. Pemecahan masalah dan bimbingan dilakukan oleh dan atas kekuatan
klien sendiri. Tujuan bimbingan yaitu mengembangkan kemampuan
21

22

klien

untuk

dapat

mengatasi

sendiri

masalah-masalah

yang

dihadapinya dan akhirnya dapat mencapai kemandirian.


e. Bimbingan dilaksanakan dengan menggunakan berbagai bahan
interaksi, nasihat ataupun gagasan.
f. Bimbingan tidak hanya diberikan untuk kelompok-kelompok umur
tertentu saja tetapi meliputi semua usia, mulai anak-anak, remaja dan
dawasa termasuk lanjut usia.
g. Bimbingan diberikan oleh orang-orang ahli, yaitu orang-orang yang
memiliki kepribadian yang terpilih dan telah memperoleh pendidikan
serta latihan yang memadai dalam bidang bimbingan dan konseling
h. Pembimbing tidak selayaknya memaksa keinginan kepada klien,
karena klien mempunyai hak dan kewajiban untuk menentukan arah
dan jalan hidupnya sendiri sepanjang dia tidak mencampuri hak-hak
orang lain.
i. Bimbingan

dilaksanakan

sesuai

dengan norma

yang

berlaku

Berdasarkan butir-butir pokok tersebut, maka yang dimaksud


bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh
orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa individu baik anakanak, remaja atau dewasa agar orang yang dibimbingg dapat
mengembangkan kemempuan individu dan sarana yang ada dan dapat
dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
2. Pengertian konseling
Adalah pemberian bantuan yang didasarkan pada prosedur
wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu (klien)
yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Unsur-unsur dalam konseling :
a. Rumusan yang lebih awal lebih menekankan pada masalah-masalah
kognitif
b. Rumusan yang lebih awal mengidentifikasi konseling sebagai
hubungan empat mata (antara seorang konselor dengan seorang klien)
atau hubungan / komunikasi langsung
22

23

c. Semua rumusan baik langsung atau tidak menyatakan bahwa konseling


adalah suatu proses
d. Rumusan-rumusan itu pada umumnya memperlihatkan bahwa
hubungan dalam konseling itu ditandai oleh adanya kehangatan,
pemahaman, penerimaan, kebebasan dan keterbukaan
e. Konselor sebagai ahli, sebagai orang yang lebih tua, sebagai orang
yang lebih matang, sebagai orang yang memiliki pengetahuan. Klien
sebagai

orang

yang

sudah

mengalami

gangguan,

masalah,

kebingungan, dan frustasi


f. Hampir semua rumusan konseling menyatakan bahwa pengaruh dari
konseling adalah perbuatantingkah laku klien kearah kemandirian
3. Tujuan bimbingan dan konseling
Untuk dapat membantu individu mengembangkan diri secara
optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang
dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya) dengan
berbagai latar belakang yang ada serta sesuai dengan tuntutan positif
lingkungannya. Untuk membantu individu menjadi insane yang berguna
dalam kehidupannva dengan memiliki berbagai wawasan, pandangan,
interpretasi, pilihan, penyesuaian dan ketrampilan yang tepat berkenaan
dengan diri sendiri dan lingkungannya. Tujuan bimbingan konseling di
sekolah tidak terlepas dari tujuan pendidikan dan pengajaran yang
tercantum dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 1954 dalam Bab 2 pasal 3
yang berbunyi, tujuan pendidikan dan pengajaran adalah membentuk
manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta
bertanggungjawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.
Dengan demikian maka tujuan bimbingan dan konseling di sekolah adalah
mambantu tercapainya tujuan pendidikan dan pengajaran serta membantu
individu untuk mencapai kesejahteraan. Tujuan pelayanan bimbingan dan
konseling bagi mahasiswa antara lain membantu mahasiswa untuk
mengembangkan pemahaman dirinya sesuai dengan kecakapan, minat,
pribadi, hasil belajar dari kesempatan yang ada, membantu proses
23

24

sosialisasi dan sensifitas kepada kebutuhan orang lain. Menyesuaikan diri


secara maksimal terhadap masyarakat dan membantu di dalam memahami
tingkah laku manusia, membantu mahasiswa untuk hidup dalam
kehidupan yang seimbang dalam berbagai aspek fisik, mental dan sosial.
4. Prinsip-prinsip berkenaan dengan Program Layanan Bimbingan dan
Konseling
a.

Bimbingan konseling merupakan bagian integral dan proses


perrdidikan dan pengembangan. Oleh karena itu program bimbingan
konseling harus disusun dan dihadukan sejalan dengan program
pendidikan dan pengembangan secara menyeluruh.

b.

Program bimbingan dan konseling harus fleksibel, disesuaikan


dengan kondisi lembaga, kebutuhan individu dan masyarakat

c.

Program bimbingan konseling disusun dan diselenggarakan secara


kesinambungan kepada anak-anak sampai dengan orang dewasa,
sekolah misalnya dari jenjang TK sampai PT.

d.

Terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling hendaknya diadakan


penilaian yang teratur unruk mengetahui sejauh mana hasil dan
manfaat yang diperoleh serta mengetahui kesesuaian antara program
yang direncanakan dan pelaksanaannya.

5. Kesalahpahaman bimbingan dan konseling dalam pelaksanaannya


Kesalahpahaman tersebut pertama-tama perlu untuk dicegah
penyebarannya dan kedua untuk diluruskan apabila gerakan pelayanan
bimbingan konseling pada umumnya dapat berjalan dan berkembang
dengan baik sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan dan praktik
penyelenggaraannya. Kesalahpahaman yang sering dijumpai dilapangan
antara lain :
a. BK disamakan saja atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan
b. Konselor di sekolah dianggap sebagai polisi sekolah
c.

BK dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat

d.

BK dibatasi hanya pada menangani masalah yang bersifat incidental


24

25

e.

BK dibatasi hanya untuk klien-klien tertentu saja

f.

BK melayani "orang sakit" dan atau "kurang normal"

g.

BK bekerja sendiri

h.

Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain pasif

i.

Menganggap pekerjaan BK dapat dilakukan oleh siapa saja

j.

Pelayanan BK berpusat pada keluhabn pertama saja

k.

Menyamakan pekerjaan BK dengan pekerjaan dokter atau psikiater

l.

Menganggap hasil pekerjaan BK harus segera dilihat

m. Menyamaratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien


n.

Memusatkan usaha BK hanya pada penggunaan instrumentasi BK


(missal tes, inventori, angket dan alat pengungkap lainnya)

o.

BK dibatasi hanya menangani maslah-maslah yang ringan saja

6. Jenis-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling


a. Konseling
b. Sarana dan prasarana
c. Program kerja
d. Layanan orientasi
Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang dilakukan untuk
memperkenalkan mahasiswa baru dan atau seseorang terhadap
lingkungan yang dimasukinya. Pemberian layanan ini bertitik tolak
dari anggapan bahwa memasuki lingkungan yang baru bukanlah hal
yang selalu dapat berlangsung dengan mudah dan menyenangkan bagi
setiap orang.
e. Layanan orientasi di sekolah
Bagi

mahasiswa

ketidakkenalan

atau

ketidaktahuannya

terhadap lembaga pendidikan disekolah yang baru dimasukinya dapat


menghambat kelancaran proses belajarnya kelak. Bahkan dari itu dapat
membuatnya tidak mencapai hasil belajar yang diharapkan. Oleh
karena itu mahasiswa perlu diperkenalkan dengan berbagai hal yang
berkaitan dengan lembaga pendidikan yang baru tersebut. Kegiatan
yang dapat dilaksanakan :
25

26

1) Kunjungan ke sekolah asal


2) Pertemuan dengan orangtua
3) Staf konselor bertemu dengan dosen membicarakan mahasiswa
baru
f. Layanan orientasi di luar sekolah
Selain mahasiswa, adapula individu-individu yang memasuki
lingkungan baru dari luar memerlukan orientasi tentang lingkungan
barunya. Cara penyajian orientasi di luar sekolah sangat tergantung
pada jenis orientasi yang diperlukan dan siapa yang memerlukan.
g. Layanan informasi
Layanan informasi bermaksud memberikan pemahaman pada
individu yang berkepentingantentang berbagai hal yang diperlukan
untuk menjalani tugas atau kegiatan unt~nentulcan arah suatu tujuan
atau rencana yang dikehendaki. Layanan ini dapat menunjang
pelaksanaan fungsi BK dalam kaitannya dengan bahan orientasi dan
informasi dengan permasalahan individu.
h. Layanan penempatan dan penyaluran
Individu sering mengalami kesulitan dalam menentukan
pilihan. Sehingga tidak sedikit individu yang bakat kemampuan, minat
dan hobinya tidak tersalurkan dengan baik. Individu seperti ini tidak
mencapai perkembangan secara optimal. Mereka memerlukan bantuan
atau bimbingan dan orang dewasa terutama konselor dalam
menyalurkan potensi dan mengembangkan dirinya.
1) Penempatan dan penyaluran mahasiswa di sekolah, meliputi
penempatan di dalam kelas, penempatan dan penyaluran ke dalam
kelompok belajar, ke dalam kegiatan co ekstrakurikuler dan ke
dalam jurusan / program studi.
2) Penempatan dan penyaluran lulusan, meliputi penempatan dan
peraluran ke dalam pendidikan lanjutan dan ke dalam jabatan atau
pekerjaan.
i. Layanan Bimbingan Belajar
26

27

Merupakan salah satu bentuk layanan bimbingan yang penting


diselenggarakan di sekolah. Pengalaman

menunjukkan bahwa

kegagalan yang dialami mahasiswa dalam belajar tidak selalu


disebabkan oleh kebodohan atau rendahnya intelegensi.
Kegagalan sering disebabkan oleh karena mereka tidak
mendapatkan layanan bimbingan yang memadai. Layanan bimbingan
belajar dilaksanakan melalui tahapan-tahapan :
1) Pengenalan siswa yang mengalami masalah belajar dengan melalui
prosedur pengungkap yang berupa tes hasil belajar, tes kemampuan
dasar, skala sikap dan kebiasaan belajar, diagnostic, dan analisa
hasil belajar atau karya
2) Upaya membantu siswa yang mengalami masalah belajar antara
lain pengajaran perbaikan, kegiatan pengayaan, peningkatan
motivasi belajar dan pengembangan sikap dan kebiasaan belajar
yang baik
j. Layanan konseling perseorangan
Konseling ini dimaksudkan sebagai konseling khusus dalam hubungan
langsung tatap muka antara konselor dengan klien. Dalam hubungan
ini masalah klien dicermati dan diupayakan pengentasannya sedapatdapatnya dalam kekuatan itu sendiri dalam kaitan itu dianggap sebagai
upaya layanan yang paling utama dalam pelaksanaan fungsi
pengentasan masalah klien.
k. Layanan bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan informasi
kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun rencana
dan keputusan yang tepat.
l. Layanan konselling kelompok
Konseling kelompok pada dasarnya adalah layanan konseling
perseorangan yang dilaksanakan dalam suasana kelompok. Tujuan
konseling kelompok ini adalah terpecahkannya masalah-masalah oleh
27

28

para anggota kelompok. Konseling kelompok menghendaki agar para


anggota dapat mengungkapkan dan mengemukakan keadaan diri dari
masing-masing individu.
m. Bimbingan akademik
Adalah bimbingan dalam hal menemukan cara belajar yang tepat,
dalam memilih program studi yang sesuai dalam mengatasi kesukaran
kesukaran yang timbul berkaitan dengan tuntutan belajar di suatu
instansi pendidikan.
n. Bimbingan karier
Adalah bimbingan dalam mempersiapkan diri menghadapi pekerjaan,
dalam memilih lapangan pekerjaan atau jabata/profesi tertentu serta
membekali diri supaya siap memangku jabatan iiu, dan dalam
menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dari lapangan pekerjaan
yang telah dimasuki.
o. Bimbingan pribadi
Berarti bimbingan dalam!Lt menghadapi keadaan batinnya sendiri dan
mengatasi pergumulan-pergumulan dalam hatinya sendiri, dalam
mengatur dirinya sendiri di bidang kerohanian, perawatan j asmani,
pengisian wakttu luang, penyaluran nafsu seksual dan sebagainya.
p. Bimbingan sosial
Merupakan bimbingan dalam membina hubungan kemanusiaan
dengan sesama di berbagai lingkungan (pergaulan sosial).
q. Instrumentasi imbingan konseling
Merupakan salahsatu sarana yang perlu dikembangkan agar pelayanan
BK terlaksana secara lebih cermat dan bberdasarkan data empiris.
Termasuk ke dalam instrument yang dimaksudkan itu adalah berbagai
tes, inventori, angket dan fonnat isian. Sedangkan untuk pemahaman
yang "lebih luas" dapat digunakan berbagai brosur, leaflet, selebaran
model, contoh, dll. Instrumen bimbingan dan konseling digunakan dan
dikembangkan berbagai instrument, berupa instrumentasi tes maupun
non tes: Yang termasuk dalam instrument :
28

29

1) Tes
a) Menurut cara pelaksanaannya, meliputi tes tertulis dan tes lisan
b) Menurut isi dan tujuannya, meliputi tes hasil belajar, tes
diagnostic dan tes psikologi
c) Menurut pembuatannya, meliputi tes buatan guru dan tes baku
2) Non tes
3) Catatan anekdot
4) Daftar chek/ checklist\
5) Skala penilaian
6) Wawancara
7) Biografi/autobiografi
8) Sosiometri
9) Himpunan data (buku pribadi)
Data yang meliputi :
Data pribadi siswa
a) Identitas pribadi
b) Latar belakang rumah tanggal
c)

Kemampuan mental, bakat dan kondisi kepribadian

d) Sejarah pendidikan, hasil belajar dan nilai-nilai mata kuliah


e)

Hasil tes diagnostic

f)

Sejarah kesehatan

g) Pengalaman ekstrakurikuler dan kegiatan luar sekolah


h) Minat dan cita-cita pendidikan serta pekerjaan/jabatan
i)

Prestasi khusus yang pernah diperoleh

Data kelompok
a) Gambaran umum cita-cita pendidikan dan jabatan
b) Masalah-masalah yang dialami
c) Penyebaran prestasi belajar
29

30

d) Sikap dan kebiasaan belajar


e) Hubungan sosial antar anggota kelompok
f) Konferensi kasus
Tujuan :
1) Diperoleh gambaran yang jelas, mendalam dan menyeluruh
tentang permasalahan siswa
2) Terkomunikasinya penanganan masalah sehingga upaya
penanganan itu lebih efektif dan efisien
Pihak-pihak yang berpartisipasi :
1) Pihak yang berperan dalam menentukan siswa yang
bermasalah seperti orang tual wali/ dosen
2) Pihak yang diharapkan dapat ikut memberikan kemudahan
bagi penanganan masalah mahasiswa
3) Pihak yang diharapkan dapat memberikan keterangan
maupun masukan
10) Kunjungan rumah
Tujuan :
a) Memperoleh

data

tambahan

tentang permasalahan

siswa khususnya yang bersangkutan dengan keadaan rtunah


atau orangtua.
b) Menyampaikan kepada orangtua tentang permaslahan anaknya
Dalam kunjungan rumah konselor lebih dulu menyampaikan
perlunya kunjungan rumah dan menyusun rencana serta agenda
yang konkrit dan menyampaikannya kepada orangtua yang
akan dikunjungi.
c) Alih tangan
Alih tangan meliputi :
(1) Jalur kepada konselor, konselor menerima kiriman klien
dari pihak lain

30

31

(2) Jalur dan konselor, mengalih tangankan klien kepada pihak


yang keahliannya diragukan
(3) Konsellor membicarakan permasalahannya klien kepada
calon ahli tempat alih tangan tanpa persetujuan klien
(4) Konselor menyebutkan nama klien kepada calon ahli
tempat alih tangan
7. Jenis jenis masalah yang dialami oleh mahasiswa
a. Masalah belajar
1) Tidak tahu cara belajar yang efektif
2) Tidak dapat berkonsentrasi dalam belajar
3) Tidak tahu tujuan belajar
4) Tidak ada semangat dalam belajar
5) Sering membolos
6) Takut mengalami kegagalan
7) Tidak senang terhadap guru
8) Merasa takut terhadap guru
9) Guru kurang menarik dalam mengajar
10) Keterlambatan akademik
11) Ketercepatan dalam belajar
12) Sangat laman dalam belajar
13) Bersikap and berkebiasaan buruk dalam belajar
b. Maslah karier
1) Ragu-ragu dalam menentukan pilihan pekerjaan
2) Gejala dalam mempunyai jurusan atau pekerjaan yang diinginkan
yaitu tidak terpenuhinya atau kegagalannya dalam mempengaruhi
dorongan

kebutuhan

yaitu

menempati

pekerjaan

yang

diinginkannya
3) Ragu-ragu antara sekolah atau ekerja
4) Ketakutan atau kecemasan tidak mendapat pekerjaan
5) Kesulitan mencari pekerjaan
6) Tidak tertarik kepada jurusan atau pekerjaan
31

32

7) Ertentangan dengan orangtua tentang jurusan atau pekerjaan yang


diinginkan
c. Masalah pribadi
1) Terlalu memikirkan sendiri
2) Takut berbuat salah
3) Tidak dapat mengambil keputusan sendiri
4) Kurang percaya diri
5) Sering bingung
6) Sering melamun
7) Malas Mudah marah
d. Masalah sosial
1) Sukar menyesuaikan diri dengan kehidupan sekolah, keluarga serta
masyarakat
2) Sukar bergaul dengan kelamin lain
3) Sulit memikirkan pacar
4) Mudah tersinggug
5) Merasa rendah diri
6) Konflik dengan orangtua
8. Problem solving dalam manajemen institusi pendidikan
Langkah-langkah pemecahan masalah menurut Chang dan Kelly (2003)
adalah sebagai berikut :
a. Definisikan masalah
Ada dua hal mendefinisikan masalah, antara lain:
1) Susun pernyataan masalah
Pernyataan masalah harus obyektif dan dituiis dengan kalimat jelas
dan sederhana.
2) Identifikasikan keadaan yang diinginkan/tujuan
Bila masalah telah teridentifikasikan, maka akan memudahkan
mengidentifikasi maslah yang mereka inginkan sehingga bisa
memberikan

fokus

dan

arahan.

Tujuan

yang

terukur

memungkinkan untuk mengikuti perkembangan pada saat masalah


32

33

sedang dipecahkan, juga memuat evaluasi efektifitas solusi ajakan


merjadi lebih muda.
b. Prioritas masalah
Dari berbagai masalah yang ditemukan tidak mungkin seluruhnya
dapat ditanggulangi, untuk itu perlu adanya prioritas masalah. Metode
untuk penentuan prioritas masalah dapat menggunakan ;
1) Metode Dhelpi
Kelompok masalah yang akan diprioritaskan dengan cara
diskusi, masalah diambil dan distratifikasi. Metode ini diterapkan
terutama bila dihadapi masalah yang kompleks, sementara data
kuantitatif yang mendukung kejelasan masalah tersebut tidak
tersedia. Setiap anggota kelompok penilai diminta pendapatnya
untuk tiap masalah yang kemudian tiap penilai tadi menetapkann
kategori masalah tadi menjadi berat sekali (skor 5), berat (skor 4),
sedang (skor 3), ringan (skor 2), ringan sekali (skor 1). Kemudian
hasil

penilaian

untuk

masalah

tadi

dikumpulkan

untuk

mendapatkan skor total untuk setiap maslah. Skor total inilah yang
dipakai untuk menetapkan prioritas maslah.
2) Metode Delberg
a) Menentukan faktor yang dapat menentukan tinggi rendahnya
nilai permasalahan, sehingga maslah yang satu dengan yang
lainnya dapat dibedakan
b) Mengkaji apakah criteria tersebut dapat dipakai untuk dapat
menilai suatu permasalahan
c) Menentukan bobot dari suatu criteria
d) Menentukan skala nilai misalnya 1-10
e) Menentukan prioritas masalah
3) Metode Hanlon
Menurut Hanlon dalam Winarni (2000) menyebutkan bahwa
Hanlon terdiri dari :
a) Hanlon Kuantitatif
33

34

Prinsip dasarnya adalah mengidentifikasi faktor-faktor dan luar


yang dapat diikutsertakan dalam proses penentuan masalah
untuk mengubah faktor dan nilali sesuai dengan kebutuhannya.
Hanlon kualitati
b) Prinsip dasarnya adalah membandingkan pentingnya masalah
satu dengan masalah lainnya dengan cara matching untuk tiaptiap masalah.
c. Analisis sebab-sebab potensial
Yaitu tempat pemecahan masalah ke tempat mana pernyataan
perlu diajukan dan informasi perlu dikumpulkan dan disaring. Analisis
sebabsebab pemecahan masalah dapat dilakukan dengan langkahlangkah :
1) Identifikasi sebab potensial
Sebab potensial bisa dikategorikan dengan berbagai cara,
misalnya bahan (materialis), metode, mesin, dan orang atau dengan
system 4S yaitu surrounding (lingkaran), suppliers (pemasok),
system (system), dan skills (ketrampilan). Penggunaannya
tergantung situasi :
Diagram sebab akibat

Dari diagram kita bisa melihat bahwa kotak diujung panah


mencantumkan akibat atau masalah aktualnya. Seluruh kategori
dari sebab-sebab potensial menyusuri garis mendatar atau tulang
belakang dari diagram tulang ikan.
Diagram sebab akibat

34

35

Diagram sebab akibat tidak mungkin membangkitkan jumlah


gagasan seperti sumbang saran tetapi pendekatannya lebih
teatruktur.
Dalam menggunakan kategori akan membawa suatu tim menjadi
lebih dekat kepada klarifikasi sebab-sebab potensial.
2) Menentukan sebab-sebab potensial
Gunakan peranrikat semacam bagan pareto atau kesepakatan tim
untuk

mengidentifikasi

sebab-sebab

mana

yang

paling

memungkinkan, sebab-sebab yang member andil paling besar pada


maslah. Bagan pareto membantu menghindari jebakan yang
memusatkan pada bidang-bidang yang mudah dipermasalahkan. Di
dalamnya juga menggunakan kaidah 80/20 (disebut juga dengan
Hukum Pareto) yang menyatakan bahwa 80% dari akibat biasanya
dapat didistribusikan kepada 20% penyebab. Untuk membantu
mengorganisasi sebab-sebab yang paling memungkinkan yang
merupakan langkah selanjutnnya dalam proses menyelesaikan
masalah.
d. Identifikasi akar penyebab
Analisis kenali sebab-sebab yang paling memungkinkan untuk
mengidentifikasi

akar

penyebab

dan

mengatakan

"mengapa"?

beberapa kali. Teknik lain adalah membangun suatu aliran proses kerja
di belakang sebab yang teridentifikasi. Teknik ini membantu apa yang
sedang terjadi.

e. Identifikasi kemungkinan solusi

35

36

Bila sebab permasalahan telah teridentifikasi maka perlu


membuat gagasan dan alternative untuk memecahkan maslah. Ini
merupakan

tahapan

dalam

proses

pemecahau

maslah

yang

mensyaratkan tingkat kreatifitas maksimum. Identifikasi solusi


merupakan proses yang terdiri dari tiga bagian, yaitu :
1) Membuat daftar kemungkinan solusi
2) Menentukan sollusi yang terbaik
3) Memilih solusi yang terbaik
Langkah-langkah untuk menyeleksi solusi terbaik bagi maslah :
1) Mengembangkan dan memberlbobot pada criteria
2) Mengimplementasi criteria
3) Memilih solusi terbaik
4) Susun rencana tindakan
5) Membagi solusi menjadi tugas berurutan, mencatat orang yang
bertanggung

jawab,

menjadwalkan

untuk

memulai

dan

menyelesaikan
6) Menyusun rencana kemungkinan. Dengan rencana kemungjkinan
sebagai cadangan, bisa menjaga semangat tetap berjalan.
7) Implementasi solusi dan mengevaluasi perkembangan
Langkah-langkah untuk membuat tahapan masalah ini berhasil :
1) Mengumpulkan data sesuai rencana tindakan
Melalui system pemantauan yang mapan, menentukan apakah
tugastugas khusus dilaksanakan atau tidak, target jangka pendek
tercapai sebagaimana direncanakan apa tidak. Tonggak penting
yang sudah ada diidentifikasi dan system control yang disertai
pemantauan target seharusnya diikuti dan diperbaharui secara
regular.
2) Implementasikan rencana kemungkinan
Sebagaimana kondisi berubah selama pemantauan dan evaluasi
rencana tindakan. Implementasikan rencana kemungkinan yang
36

37

diperlukan untuk terus menggerakkan kita menuju keadaan yang


diinginkan.
3) Evaluasi akhir
Ulangi proses enam tahap tersebut untuk menunjukkan perhatian
pada berbagai maslah bilamana diperlukan.

37

38

BAB III
HASIL PENELITIAN
A. Pengkajian
Pengkajian data dilakukan pada tanggal 23 Maret s/d 9 april 2015
dengan metode wawancara, observasi tsserhadap kegiatan kesrj ayagn ada di
STIKes Cirebon dan pembagian kuisioner kepada mahassiswa D III
Kebidanan STIKes Cirebon. Setelah pengkajian data dilakukan maka
didaptakan hasil dari penelitian tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pengkajian data administrasi pendidikan
a. Ketenagaan atau personel
1) Struktur organisasi
Bagan struktur organisasi STIKes Cirebon terlampir dan untuk
susunan struktur organisasinya terdiri dari unsurunsur sebagai
berikut :
a) Senat akademik
b) Unsur pimpinan, yang terdiri atas :
Ketua Stikes

: Lily Yulaikhan, S/SiT. M. Keb

Puket I

Puket

: H. Mkasudi, SKM

Puket III

: Riyanto, S.Kep.NS

Ka. BAAK

Tedi S.SKom

Ka. BAUK

Dedy Y.ST

Uun Kurnasih

Ka. Prodi D III Kebidanan :


Sek. Prodi D III Kebidanan
c) Sistem penjaminan mutu internal
Proses peiaicsanaan penjaniinan mutu di tingkat program studi
dilakukan berdasarkan motivasi pengembangan pelaksanaan
akademik mulai dari kurikulum, proses belajar mengajar, studi
lanjut dosen, peningkatan ketrampilan mahasiswa maupun
dosen. Semua proses pelaksanaan ini dilakukan evaluasi agar
38

39

terlihat hasil yang dapat diukur oleh dasar keberhasilan


program pengembangan penjaminan mutu program studi.
d) Unit penunjang, terdiri dari :
(1) Perpustakaan
(2) Laboratorium Kesehatan
(3) Laboratorium Komputer
(4) Laboratorium bahasa
(5) Lembaga Jaminan Mutu
(6) Lembaga Peneliti Pengabdian Pengembangan Masyarakat
(LP3M)
e) Bagian Administrasi Umum dan Keuangan (BAUK)
f) Bagian Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK)
g) Bagian Hubungan Masyarakat
h) Program studi
(1) Profesi Ners
(2) S 1 Kesehatan Masyarakat
(3) S 1 Keperawatan
(4) D III Kebidanan
i) Fungsional Dosen
2) Karyawan
Ketua STIKes Cirebon selaku pimpinan di STIKes Cirebon
berlatar belakang magister kebidanan. STIKes memiliki 73 orang
dosen dan karyawan, dengan latar belakang pendidikan sebagian
besar dosen kebidanan masih berpendidikan D4 kebidanan dan 5
orang diantaranya sedang melanjutkan pendidikan S2 nya.
Sedangkan untuk masing-masing pembantu ketua STIKes Cirebon
(Puket) untuk Puket I STIKes Cirebon magister kesehatan
masyarakat, puket II sarjana kesehatan masyarakat, dan Puket II
sarjana keperawatan untuk profesi ners nya.. Sedangkan untuk Ka.
Prodi D III Kebidanan sarjana.kebidanan:

39

40

3) Rekruitment
Untuk penerimaan karyawan baru di STIKes Cirebon
dilakukan sesuai dengan kebutuhan yang ada di Stikes Cirebon itu
sendiri. Syarat-syarat untuk karyawan baru ditetapkan oleh ketua
yang kemudian diusulkan kepada yayasan.penambahan karyawan
dilakukan apabila terdapat jabatan atau formasi yang kosong.
Lowongan dapat terjadi karena :
a) Pemekaran organisasi
b) Volume pekerjaan yang makin meningkat
c) Ada karyawan yang berhenti
d) Ada karyawan yang diangkat dalam jabatan lain Penambahan
karyawan dalam hal terdapat lowongan, masih harus tetap
disesuaikan dengan kebutuhan di Stikes Cirebon. Dalam
pengangkatan Karyawan STIKes Cirebon tidak membedakan
suku, jenis kelamin, golongan maupun kepercayaan.
4) Job description
Untuk job description pegawai STIKes huhamaytk
disesuaikan dengan tugas pokoknya masing-masing..
5) Jam kerja dosen dan karyawan
Untuk jam kerja dosen dan karyawan tertulis dari hari senin
s/d Rabu mulai pukul 08.00-15.00 WIB.
6) Pengarahan (directing)
Rapat koordinasi dilakukan setiap akan melaksanakan
kegiatan dan pengarahan dilakukan setiap kepala koordinator yang
melibatkan seluruh karyawan.
7) Pengkoordinasian
Pengkoordinasian dilakukan setiap ada kegiatan pada
mahasiswa baik dalam kampus maupun di luar kampus. Contohnya
di saat pelaksanaan wisuda dibentuk panitia khusus.

40

41

8) Pelaporan (reporting)
Laporan

penyelenggaraan

pendidikan

disusun

setiap

semester (6 bulan), pelaporan dikumentasikan oleh setiap prodi


masing-masing kemudian dikirim ke pengurus Yayasan.
b. Kemahasiswaan
1) Mahasiswa
Saat ini program studi D III Kebidanan yang terdapat di Stikes
Cirebon membuka 1 jalur yaitu jalur regular. Total jumlah
mahasiswa regular sebanyak 294 mahasiswa, yang terdiri dari
semester I sebanyak 91 mahasiswa yang dibagi dalam 2 kelas,
untuk semester III sebanyak 71 mahasiswa yang dibagi dalam 2
kelas, dan untuk semester V sebanyak 132 mahasiswa yang terbagi
dalam 3 kelas. Dimana untuk latar belakang pendidikan dari semua
mahaiswa-mahasiswa tersebut adalah SMA, MA. SMK, SPK atau
sederajat.
2) Aktivitas
Aktivitas sosial yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa D III
kebidanan Stikes Cirebon mencakup :
a) Kegiatan akademik Perkuliahan (teori) dan praktek
b) Kegiatan non akademik
Bakti sosial mengikuti seminar dan pelatihan-pelatihan yang
berkaitan dengan kebidanan.
3) Kelulusan
STIKes Cirebon sampai dengan tahun 2013 sudah
meluluskan sejumlah mahasiswa 604 mahasiswa D III Kebidanan,
untuk tahun 2013 meluluskan 121 mahasiswa.
4) Sistem reward
Untuk mahasiswa yang berprestasi selain mendapat reward
dari Stikes Cirebon juga memungkinkan mendapat penghargaan.
Penghargaan diberikan dalam bentuk piagam dan beasiswa.
5) Recruitment mahasiswa baru
41

42

Prodi D III Kebidanan STIKes Cirebon dalam pelaksanaan


rekrutmen dan seleksi mahasiswa baru mengaacu pada petunjuk
Kepmenkes.
(1) Persayaratan calon mahasiswa baru
(a) Wanita
(b) Mendaftar secara langsung
(c) Warga Negara Indonesia
(d) SMU jurusan IPA/IPS/SPK atau sederajat
(e)

Tinggi badan minimal 150 cm

(f)

Fotocopy ijazah SMU atau sederajat atau ijazah terakhir


yang telah dilegalisir

(g)

Pas foto berwarna ukuran, 3x4, 4x6 maing-masing 4


lembar

(h)

Surat kelakuan baik dari kepolisisan atau sekolah

(i)

Fotocopy raport SMU/SMA

(j)

Membayar uang pendaftaran

(2) Pelaksanaan ujian SPMB


Dalam pelaksanaan ujian tulis di Stikes Cirebon untuk
soal berasal dari bank sekolah SMA: Pengawas disusun oleh
institusi, koreksi dari hasil ujian tulis yang telah dilaksanakan
dengan mengutus staf dari akademik sebagai petugas koreksi.
Setelah dilakukan koreksi kemudian ditentukan nominasi
peserta ujian berdasarkan rengking. Setelah dinyatakan lulus
seleksi ujian tulis maka peserta tersebut wajib untuk mengikuti
tes psikotes dan kemudian dilanjutkan dengan tes wawancara.
Setelah lulus tes wawancara mahasiswa wajib melakukan tes
kesehatan yang dilakukan di kampus STIKes Cirebon dengan
mendatangkan dokter yang dipilih oleh Dinas Kesehatan
Cirebon.
(3) Pengumuman

42

43

Pengumuman calon mahasiswa baru akan dilakukan di


STIKes Cirebon peserta yang akan menjadi calon mahasiswa
baru dengan syarat melakukan registrasi ulang dalam jangka
waktu yang telah ditentukan oleh institusi.
(4) Registrasi mahasiswa baru
Bersifat

wajib

dengan

membawa

penyelesaian

administrasi keuangan sesuai dengan ketentuan dan dengan


persyaratan yang telah ditentukan.
6) Penyelenggaraan kuliah
Mahasiswa diwajibkan mengikuti perkuliahan, seminar,
praktikum dan kegiatan akademik sejenisnya sesuai dengan
rencana studi secara tertib dan teratur menurut ketentuanketentuan
yang berlaku, jadwal kuliah dan praktikum diatur dibidang I
melalui :
a) Aturan sistem kredit Syarat sistem kredit
(1) Tersedianya buku pedoman, antara lain adanya kalender
akademik, jenis kedudukan mata kuliah, dan nilai kredit.
(2) Keterangan mata kuliah
(3) Syarat praktikum
(4) Sebaran mata kuliah tiap semester
(5) Adanya dosen penasehat akademi)
(6) Nomor Induk Mahasiswa (NIM).
(7)

Pelaksanaan administrasi sistem kredit

(8)

Pendaftaran an pengisian kartu rencana studi (KRS) diawal


semester baru

(9)

Kuliah, praktek, seminar dan sejenisnya

(10) Kartu hasil Ujian sementara dan pengumuman hasil ujian


(11) Pengadministrasian nilai
b) Registrasi mahasiswa lama
Bagi mahsiswa lama atau mahasiswa semester II dan
selanjutnya

wajib

melaksanakan

registrasi

administrasi
43

44

pendidikan dan pembayaran lainnya di awal semester sehingga


mahasiswa tersebut diijinkan untuk melakkukan pengisian
KRS untuk kredit mata kuliah yang akan diambil pada
semester berikutnya.
c) KHS dan KRS
Sebelum memulai proses pembelajaran di semester
baru mahasiswa wajib melakukan pengisian KRS, untuk
mendokumentasikan mata kuliah yang akan diambil pada
semester tersebut. Untuk mendapatkan KRS mahasiswa wajib
untuk melakukan registrasi administrasi dengan syarat-syarat
yang telah ditentukan oleh bagian akademis Stikes Cirebon. Di
akhir semester mahasiswa mendapatkan KHS dan KRS
dibagikan secara langsung kepada mahasiswa.
c. Sarana dan prasarana
Fasilitas yang mendukung dalam kegiatan belajar mengajar
yang terdiri dari sarana dan prasarana seperti OHP, LCD, white board,
raang kelas dengan AC, kabel sambung, Meja komputer, Kompuetr,
kursi kuliah, kursi dosen dan meja dosen.
Peralatan yang tersedia di Stikes Cirebon terdiri dari 19 ruang
kelas, 64 buah meja karyawan, 21 buah white board, 22 buah LCD, 8
buah komputer, 8 buah CPU komputer, 14 buah laptop, 8 buah OHP,
700 buah kursi kuliah, 82 buah AC, 6 buah TV, 2 buah Raidio/tape, 1
buah soundsystem, 6 buah kipas angin, jumlah laboratorium ada 3
yaitu laboratorium bahasa, laboratorium komputer, laboratorium
kebidanan.
Berdasarkan

hasil

kuesioner

yang

diberikan

pada

30

mahasiswa semester IV didapatkan hasil 20 % media perkuliahan yang


sering digunakan adalah OHP/OHT, 80 % menggunakan hand out
sebagai media perkuliahan, dan 0 % mengatakan media perkuliahan
modul diterima.

44

45

Berdasarkan

hasil

kuesioner

yang

diberikan

pada

30

mahasiswa semester IV didapatkan hasil 63,33 % mengatakan fasilitas


yang ada dikelas lengkap, 30 % mengatakan fasilitas di kelas kurang
lengkap, dan 6,67% mengatakan fasilitas di kelas tidak lengkap.
Berdasarkan

hasil

kuesioner

yang

diberikan

pada

30

mahasiswa semester didapatkan hasil 60 % mengatakan keadaan kelas


nyaman, 30 % mengatakan keadaan kelas kurang nyaman, dan 10 %
mengatakan keadaan kelas tidak nyaman.
Stikes Cirebon memiliki perpustakaan.
1) Laboratorium Kebidanan
Petugas pengelola laboratorium kebidanan STIKes Cirebon
ada 6 orang dan berlatar belakang pendidikan D-IV Kebidanan.
Jumlah alat kebidanan cutcup banyak. Pada ruangan
laboratorium dilengkapi tata tertib penggunaan laboratorium secara
tertuiis. 5etiap mahasiswa yang teiah menggunakan laboratorium
harus bertanggungjawab terhadap kebersihan alat, apabiia ada alat
yang rusaic aiganti oieh mahasiswa yang bersangkutan.
Berdasarkan hash knesioner yang diberikan pada 30
mahasiswa semester IV didapatkan hasil 56.67% mengatakan
fasilitas di laboratorium kebidanan sudah lengikap, 35,33%
mengatakan fasilitas di laboratorium kebidanan kurang iengkap,
dan 10 % mengatakan fasilitas di laboratorium kebidanan tidak
lengkap.
Berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan kepada 30
mahasiswa semester IV didapatkan hasil 53,34 % mengatakan
perlengkapan

peralatan

dilaboratorium

sudah

memenuhi

kebutuhan, 36,66 % mengatakan kurang memenuhi kebutuhan, 10


% mengatakan tidak memenuhi kebutuhan.
Berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan kepada 30
mahasiswa semester III, didapatkan hasil 73,34 mengatakan sudah

45

46

memanfaatkan fasilitas laboratorium kebidanan dengan maksimai,


26,66 % mengatakan kurang memanfaatkan.
Selain itu dinyatakan pula kepada mahasiswa mengenai
kenyamanan di laboratorinm kebidanan dan didapatkan hasil 76,66
% mengatakan nyaman, dan 10 % mengatakan kurang nyaman,
dan 13,3.3 % mahasiswa menyatakan tidak nyaman.
2) Laboratorium computer
Untuk laboratorium computer dikelola oleh 2 orang
petugas. Fasilitas yang ada laboratorium ini terdapat 43 unit
seperangkat komputer yang aktif dan fasilitas yang lainnya seperti
white board, ruang berAC, audio kontrol dan lemari arsip.
Mahasiswa bisa menggunakan laboratorium ini saat diperlukan
atau saat ada jam mata kuliah komputer.
3) Perpustakaan
Petugas yang ada diperpustakaan ada 1 orang yang berlatar
belakang pendidikan Sarjana Komputer. Jumlah buku yang ada di
perpustakaan sehanyak 7618 buah. Buku mata kuliah kebidanan
sebanyak 432 buah,buku ajar dan modul 5741 buah, karya tulis
ilmiah sebanyak 702 buah, study kasus sebanyak 817 buah,
proposal sebanyak 17 buah, KTI_ kebidanan referensi sebanyak 17
buah, majalah dan jurnal ilmiah sebanyak 357 buah. Skripsi PSIK
sebanyak 214 buah, Skripsi PSIKM sebanyak 118 buah, Tesis
referensi 8 buah, Skripsi referensi 28 buah KTI PSIK Referensi 4
buah, Pengadaan buku di perpustakaan ada 2, yaitu melalui
pembelian secara langsung dan sumbangan mahasiswa.
Sarana dan prasarana yang ada di perpustakaan terdiri dari
1 unit komputer, digunakan oleh karyawan untuk mengelola
perpustakaan dalam mengatur pemasukan dan pengeluaran buku,
data-data peminjaman buku, 4 unit AC untuk memberikn
kenyamanan pada pengunjung perpustakaan. Prosedur peminjaman
buku yaitu harus merupakan anggota perpustakaan, kartu anggota
46

47

harus dibawa pada saat meminjam buku, kartu tidak boleh


digunakan oleh orang lain. Banyaknya buku yang dipinjam
maksimal 3 buku, jangka waktu bagi peminjaman maksimal 6 hari,
apabila terjadi kehilangan atau kerusakan buku yang dipinjam
menjadi tanggung jawab peminjam. Apabila kartu hilang, pemilik
harus registrasi ulang dan bagi yang terlambat mengembalikan
buku deikenakan denda sebesar Rp.1000/hari/buku, dan apabila
menghilangkan atau merusak buku perpustakaan harus mengganti
dengan buku yang sama atau denda uang sebesar 3 kali harga
terbaru.
Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa
semester III prodi D III kebidanan, didapatkan hasil bahwa 70 %
mengatakan fasilitas di perpustakaan sudah lengkap, 20 %
mengatakan fasilitas di perpustakaan kurang lengkap dan 10 %
mengatakan fasilitas di perpustakaan tidak lengkap.
Mengenai sering atau tidaknya mahasiswa mengunjungi
perpustakaan dalam 1 bulan didapatkan hasil 50 % mengatakan
jarang mengunjungi perpustakaan karena minat baca yang masih
kurang, dan 50 % mengatakan sering mengunjungi perpustakaan.
Berdasarkan

kuesioner

yang

diberikan

kepada

30

mahasiswa semester III didapatkan hasil 63,33 % mengatakan jenis


buku yang ada diperpustakaan sudah mencukupi kebutuhan
mahasiswa, 23,33 % menyatakan jurang memenuhi, 13,33 %
mengatakan tidak memenuhi kebutuhan.
Sedangkan untuk masalah kenyamanan, sebanyak 63,33 %
mengatakan nyaman saat berada di perpustakaan, 23,33%
mengatakan kurang nyaman, dan 13,33 % mengatakan tidak
nyaman berada di perpustakaan.
4) Internet

47

48

Terdapat area hotspot di sekitar kampus STIKes Cirebon


yang dapat mempermudah mahasiswa untuk mengakses jaringan
internet secara free.
Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa
semester III prodi D III Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 83,33
% mahasiswa mengatakan sudah memanfaatkan fasilitas internet,
16,67 % mengatakan kadang-kadang memanfaatkan fasilitas
internet.
d. Hubungan dengan masyarakat
STIKes

Cirebon bekerjasama dengan Dinas Kesehatan

menentukan daerah mana yang akan digunakan lahan PKMD,


Kegiatan akademik yang dilakukan STIKes Cirebon salah satunya
adalah PKMD yang dilaksanakan di Puskesmas Sindang, I,oh Bener,
Cantigi, Pasekan, Jatibarang.
Untuk kegiatan non akademik yang berhubungan dengan
masyarakat mahasiswa STIKes melakukan kegiatan seperti bakti
sosial, dengan mengadakan gratis, donor darah dan safari KB.
Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa
semester IV, didapatkan hasil bahwa 40 % mahasiswa mengatakan
pada setiap kegiatan kemahasiswaan seluruh mahasiswa turut terlibat,
50 % mahasiswa mengatakan kadang-kadang turut terlibat, dan 10 %
mengatakan tidak turut terlibat.
Disamping itu didapatkan hasil 70 % mahasiswa mengatakan
bahwa kegiatan organisasi kemahasiswaan sudah difasilitasi dengan
baik oleh STIKes Cirebon, 23,33 % mengatakan kadang-kadang, dan
6,67 % mengatakan tidak difasilitasi.
2. Pengkajian data desain kurikulum
a. Proses pembelajaran
1) Tahap perencanaan
a) Penyusunan kurikulum
b) Penyusunan distribusi mata kuliah
48

49

c) Pola pembelajaran
d) Menghubungi dosen dan pembagian silabus
e) Rapat dosen
2) Tahap pembelajaran
3) Tahap evaluasi
b. Aturan sistem kredit
Untuk pelaksanaan perkuliahan di prodi D III Kebidanan
Stikes Cirebon sistem kredit diberikan dengan sistem paket.
Mahasiswa menempuh total SKS sebanyak 118 SKS dari semester
sampai dengan VI dengan perbandingan total yang dimulai dari
semester I sampai dengan semester VI untuk mahasiswa reguler yaitu
56 SKS teori, 44 SKS praktek dan 18 SKS keterampilan. Adapur untuk
distribusi mata kuliahnya adalah sebagai berikut :
1) Semester I
Dalam semester ini mahasiswa harus menyelesaikan 22 SKS,
terdiri dari mata kuliah Pendidikan Agama Islam, Pendidikan
Kewarganegaraan, Anatomi Fisiologi, MikTobiologi, KDPK, dan
Konsep Kebidanan.
2) Semester II
Dalam semester ini mahasiswa harus menyelesaikan 23 SKS yang
meliputi mata kuliah : Biologi Refroduksi, Biokimia, 1~igika
Kesehatan, Gizi dalam Kesehatan Reproduksi, Psikologi, Asuhan
Kebidanan I, Kesehatan Reproduksi, KIP/K dan Ubstetri Fisiologi
3) Semester III
Dalam semester ini mahasiswa harus menyelesaikan 22 SKS yang
meliputi : rarmakoiogi, itmu iiesehatan AnaK, Asuhan Kebidanan
II, Asuhan

Kebidanan

III, Asuhan

Neonatus

dan

Bayi,

Dokumentasi Kebidanan, Etika Profesi hukum Kesehatan.


4) Semester IV
Dalam semester ini mahasiswa harus menyelesaikan 23 SKS yang
meliputi mata kuliah : Epidemioiogi, Asuhan Itebittanan IV,
49

50

Asuhan Kebidanan V, Pelayanan KB, Ilmu Kesehatan masyarakat,


kepribadian, kewirausahan, dan teknologi.
5) Semester V
Dalam semester ini mahasiswa harus menyelesaikan LZ SIKS
yang meliputi mata kuliah : Biostatitik, Mutu Pelayanan ltesehatan,
Asuhan Kebidanan 1V, Metodologi Penelitian, Urganisasi dan
Manajemen Kebidanan, Ilmu Komputer, dan Bahasa Indonesia,
PKK III.
6) Semester VI
alam semester ini mahasiswa harus menyeiesaikan penyusunan
KTI.
c. Aturan peniiaian
Sistem penilaian yang dilakukan di Stikes Cirebon menggunakan cara:
1) PAP ( penilaian Acuan patokan)
Untuk pengukuran penguasaan individu atau mahasiswa pada tiap
mata kuliah apabila dikatakan nilai mahasiswa tidak memenuhi
criteria PAY, maka atas kebijakan dosen membuat aturan penilaian
berdasarkan PAN (Penilaian Aeuan Normatif).
2) Pengelompokkan hasil dalam lembar dan nilai
Nilai Absolut
79-100
68-78
56-67
41-55
0-40

Angka Mutu
4
3
2
1
0

Huruf Mutu
A
B
C
D
E

Pengelolaan nilai :
a) UAS

30%

b) UTS

20%

c) Tugas

15%

d) Praktesk

35%

50

51

Kehadiran adalah syart untuk mengiktui UTS dan UAS yiatu >
80%
3) PAN (Penilaian Acuan Normatif)
Presentasi untuk perkuliahan di kelas di atur oleh dosen pengampu
mata kuliah masing-masing. Untuk praktek jika mahasiswa izin
atau sakit maka mahasiswa wajib mengganti satu hari ctan untulc
tidak masuk tanpa lceterangan (alpha) mahasiswa wajib mengganti
2 hari atau kelipatannya. Rekapan aiasen ciiaakukan tiap semester.
4) Stanciarci keiuiusan
Standard nilai kelulusan di STIKes Cirebon adalah 3,00
berdasarkan kuesianer yang diberikan pada 30 mahasiswa semester
III didapatkan hasil 76,66 % mengatakan sistem penilaian dosen
terhadap hasil UAS dan UTS sudah sesuai, 16,66 % mengatakan
kadang-kadang, dan 6,66 % mengatakan tidak sesuai.
Selain itu juga didapatkan hasil 63.33% mengatakan
mahasiswa mendapatkan informasi tentang cara penilaian tiap
mata kulah, 23,33% mengatakan kadang-Kadang; dan 13.33%
mengatakan tidak mendapatkan informasi tentang cara penitaian.
d. SILABUS, GBPP, dan SAP
Beberapa dosen ada yang tidak memberikan GBPP/silabus
pada awal perkuliahan kepada. mahasiswa. Dosen hanya menjelaskan
tuntunan GBPP/silabus pada saat mengajarkan mata kuliah tersebut.
Dosen mengembangkan GBPP menjadi SAP sebagai bahan ajar, dan
dalam mengajar mengembangkan pemakaian buKu dari taebagai
media untuk anenunjang materi dalam perkuliahan. Dosen membuat
catatan batas materi yang sudah diajarkan tiap kali tatap muka di kelas
atau di laboratarium, yang membuat SAP yaitu dosen dalam kampus.
e. Kalender Akademik
Tiap

semester

mempunyai

kalender

akademik

dan

disosialisasikan kepada mahasiswa dengan cara diberikan fotocopian


kalender akademik kepada setiap mahasiswa pelaksanaan tiap kegiatan
51

52

dalam kalender akademik bersifat fleksibel dengan memperhatikan


kaidah yang ada untuk menghindari bentrokan dengan jadwal kuliah
lainnya.
Berdasarkan kuesioner yang dibagikan kepada 30 mahasiswa
semester III didaptakan hasi bahwa 86.66% mengatkan mendapat
kalender akademik di awal masuk kuliah, 6.66% mengatakan kadangkadang mendaptakan kalender akademik di awal masuk kuliah, dan
3.33% mengatakan tidak mendaptakan kalender akademik di awal
masuk kuliah.
Untuk pelaksanaan proses pembelajaran itu sendiri didapatkan
hasil antara lain, sebanyak 73,33 % mahasiswa mengatakan sesuai
dengan kalender akademik, 20% kadang-kadang sesuai dan 6,66 %
mengatakan tidak sesuai dengan kalender akademik.
Selain itu untuk kesesuaian antara jadwal kuliah yang di
tetapkan oleh STIKes Cirebon dengan silabus didapatkan hasil
sebanyak 90 % mahasiswa mengatakan jadwal kuliah sudah sesuai
dengan silabus yang sudah ditetapkan, 10 % mengatakan tidak sesuai
dengan silabus yang sudah ditetapkan.
Sedangkan untuk jadwal yang sudah efektif didapatkan
sebanyak 76,66 % mahasiswa mengatakan jadwal kuliah sudah efektif,
10 % kadang-kadang tidak eLektit dan 13,34 % tidak efektif.
f. Sistem praktek lapangan
1) Praktek belajar lapangan (PBL)

Praktek beLajar iapangan pada mahasiswa dilakukan pada


semester II selama 4 minggu dengan ruang lingkup praktek pada
iceperawatan dasar untuk mencapai tujuan dari mata kuliah KDPK.
2) Praktek Klinik Kebidanan I (PKK I)
PKK I dilaksanakan pada semester III selama 4 minggu dengan
ruang lingkup kebidanan fisiologis.
3) Praktek Klinik Kebidanan II (PKK II)

52

53

PKK II Dilaksanakan pada semester IV selama 4 minggu dengan


ruang lingkup kebidanan patologis.
4) Praktek Klnik Kebidanan III (PKK III)
PKK III dilaksanakan pada semester V selama 3 bulan dengan
ruang iingkup komprehensit. Lokasi untuk mahasiswa melakukan
praktek klinik dibagi menjadi 3 tempat, yaitu :
a. Puskesmas
b. Bidan Praktek Mandiri (BPM)
g. Evaluasi
Proses evalkuasi akademik di STIKes Cirebon antara lain UTS,
UAS, Ujian institusi yang meliputi ujian tufts, ANC, phantom, OSCA
dan KTI. Bentuk soal ujian tulis fleksibel bisa multiple choice maupun
essay, pihak akademik hanya menetapkan nilai dan batasan waktu,
sedangkan yang bertanggung Jawab dalam pengoiahan niiaii adalah
dosen yang bersangkutan kemudian diserahkan kepada pihak
akademik (BAAK). Pendokumentasian haii evaluasi belajar siswa
dalam bentuk KHS yang dibuat rangkap 3 dan diberikan kepada
mahasiswa, dosen wali dan untuk arsip di BAAK.
Evaluasi hasil belajar siswa tidak hanya dilihat dari nilai ujian
mei~uinkan dari peniiaian siicap yang dilakcikan oleh pembimbing
akademik setelah proses pembelajaran selesai. Hasil evaluasi Belajar
mahasiswa (KHS) diberikan Kepada mahasiswa tiap semester, tetapi
kadang mengalami kelemahan dalam ketepatan waktu untuk
memerikan hasil K-35 kepada mahasiswa karena keterlambatan nilai
yang masuk ke akademik dari dosen luar.
3. Pengkajiau data psikologi pendidikan
a. Ketenagaan
Ketenagaan dari hasil test wawancara yang dilakukan dengan
dosen dalam, didapatkan hasil bahwa di STIKes Cirebon yang
bertugas sebagai konselor BK adalah masing-masing pembimbing

53

54

akademik (PA). Belum ada tenaga husus untuk menangani BK jadi


yang ada adalah PA yang merangkap dosen wali.
b. Sarana dan Yrasarana
Di STIKes Cirebon belum terdapat ruangan khusus BK, akan
tetapi untuk tempat pelaksanaan bimbingan dan konseling dilakukan di
ruangan dosen akademik.
c. Layanan dalam Bimbingan dan Konseling
1) Layanan Orientasi
Layanan orientasi di institusi ini diberikan pada awai mahasiswa
masuk kebidanan yaitu pada kegiatan P3T (pengenalan program
perguruan tinggi) / PPS ( Pengenalan Program Studi ).
2) Layanan Bimbingan Kelompok
Layanan bimbingan kelompok ini belum dilakukan seecara khusus
oleh tenaga bimbingan dan konseling. Layanan ini diselipkan
dalam pemberian mata kuliah yang diampu oleh tenaga bimbingan
dan konseling yaitu mata kuliah psikologi dan pemberian
bimbingan dalam waktu-waktu tertentu. 13erdasarkan kuesioner
yang diberik,an kepada 30 mahasiswa semester III didapatkan hasil
46,67 % mahasiswa me igatakan pihak BK pernah melakukan
bimbingan kelompok dengan mahasiswa, 53,33 % mahasiswa
mengatakan pihak BK tidak pernah melakukan bimbingan
kelompok dengan mahasiswa.
B. Perumusan Masalah
Perumusan Masalah Psikologi Pendidikan
Masalah
Pelaksanaan BK
optimal

Data Penunjang
belum a. Dari hasil wawancara dengan dosen di
STIKes Cirebon yang bertugas sebgai
konselor BK adalah pembimbing akademik
( PA )

54

55

b. Belum ada tenaga khusus untuk menangani


BK
c. Dari Hasil kuesioner didapatkan 40 %
mengatakan

pelaksanaan

BK

sudah

berjalan, 60 % mengatakan tidak berjalan


d. Selain itu juga dari hasil kuesioner
didapatkan 40% mahasiswa mengatakan
pernah

mendapatkan

mengenai

masalah

mengatakan

bimbingan
pribadi,

mengatakan

60

tidak

BK
%

pemah

mendapatkan:
e. Dari hasil kuesioner didapatkan bahwa
46,66 % pernah mendapatkan informasi
tentang pendayagunaan dan penempatan
kerja

setelah

lulus,

dan

53,34

mengatakan tidak pernah mendapatkan


informasi.
f. Dari hasil wawancara dengan mahasiswa
semester III, mengatakan bahwa tidak
pernah ke BK karena tidak mempunyai
masalah
Sarana dan prasarana BK a. Dari hasil wawancara dan observasi di
belum ada

STIKes Cirebon belum ada ruangan khusus


BK
b. Dari hasil wawancara dan observasi di
STIKes

Cirebon

belum

ada

struktur

organisasi SK

55

56

C. Prioritas Masalah
Berdasarkan dari hasil analisa data pengkajian data terdapat rumusan
masalah sebagai berikut :
MASALAH ASPEK PENILAIAN
Besar
Efek yang Sering
Pelaksanaan
BK

masalah
3

Bisa

Metode Total

ditimbulkan masalah dipecahkan


3
3
3

15

14

belum

optimal
Sarana dan

prasarana
BK

belum

ada
Keterangan : l = Ringan sekali
2 = Ringan
3 = Sedang
4 = Berat
5 = Berat sekali
Dari perumusan masalah keselurtihan dapai-diprioritaskan pada :
1. Proritas I : Pelaksanaan BK belum optimal
2. Prioritas II : Sarana dan prasarana BK belum ada
D. Identifikasi penyebab masalah
1. Pelaksanaan BK belum optimal

Keterangan :
56

57

1. PA disamakan dengan konselor BK


2. Belum ada tenaga khusus BK
2. Sarana dan Prasarana BK belum ada

Keterangan
1. Ruang BK belum ada
2. Belum ada struktur organisasi BK
E. Alternatif Pemecahan Masalah
ALTERNATIF
MASALAH
Pelaksanaan
belum Optimal

BK

PENYEBAB
I 1. IPA

PEMECAHAN

MASALAH
disamakan 1. Memberikan

dengan konselor BK
2. Belum ada tenaga
khusus BK

pelatihan BK pada
setian dosen PA
2. Mengadakan tenaga
khusus

untuk

mengenai BK dan
dosen psikologi
3. BK di bentuk untuk
memantau
perkembangan
mahasiswa

seperti

layanan

masalah

pribadi,

sosial,

belajar dan karier


Sarana dan prasarana 1. Ruang BK belum 1. Menyediakan ruang
57

58

BK belum ada

ada

khusus BK

2. Belum ada struktur 2. Dibentuk


organisasi BK

struktur

organisasi BK

58

59

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah mahasiswa D4 Bidan Pendidik melaksanakan studi lapangan di
STIkes Cirebon tanggal 26 Agustus - 19 September 2013 yang mencakup tiga
aspek yaitu administrasi pendidikan, desain kurikulum dan psikologi
pendidikan dengan menggunakan pendekatan problem solving. Kegiatan
dilakukan antara lain pengkajian sampai dengan pembuatan alternatif
pemecahan masalah. Dari kegiatan tersebut diperoleh beberapa kesimpulan
sebagai berikut :
1. Administrasi Pendidikan
STIKes Cirebon telah melaksanakan administrasi pendidikan yang baik
sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, oleh karena itu penelii tidak
menemukan adanya masalah dalam Administrasi Pendidikan..
2. Desain Kurikulum
STIKes Cirebon telah melaksanakan menajemen desain kurikulum dengan
baik. Oleh kerena itu, peneliti tidak menemukan adanya masalah dalam
manajemen desain kurikulum.
3. Psikologi pendidikan
STIKes Cirebon telah melaksanakan bimbingan konseling dengan
baik sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, hanya saja dalam
pelaksanaanya BK masih belum optimal, sarana dan prasarana BK belum
ada.
Alternatif pemecahan masalah untuk mengatasi masalah diatas
adalah memberikan pelatihan BK pada setiap dosen PA, mengadakan
tenaga khusus untuk menangani BK dan bekerja sama dengan dosen
psikologi, BK dibentuk untuk memantau perkembangan mahasiswa seperti
layanan masalah pribadi, sosial, belajar dan karier, pembimbing karier,
pembimbing akademik merangkap sebagai petugas BK menyediakan

59

60

ruangan khusus untuk BK yang terpisah dengan ruangan lainnya dan


dibentuk struktur organisasi BK.
B. Saran
1. Untuk Institusi
a. Hasi1 dari pelaksanaan PBL ini hendaknya buka.n disikapi sebagai
kritikan akan tetapi sebagai masukan yang bersifat positif sehingga
menjadi bahan pertimbangan dalam membuat kebijakan.
b. Diharapkan agar memberikan pelatihan BK pada setiap PA
c. Diharapkan agar mengadakan tenaga khusus untuk. menangani BK
d. Diharapkan agar menyediakan ruangan BK yang terpisah dengan
ruangan yang lainnya
e. Diharapkan dibentuk petugas yang khusus menangani BK
2. Untuk Staf dan Karyawan
Staf dan karyawan hendaknya mempertahankan pelayanan yang sudah
berjalan dengan baik
3. Untuk Mahasiswa
Diharapkan mahasiswa menggunakan fasilitas yang tersedia dengan
maksimal guna mengoptimalkan proses belajar mengajar

60

61

DAFTAR PUSTAKA

Aditama, Tjandra Yoga. 2000. Munajemen Administrasi Rumah. Sakit. Jakarta.


Ul press
Azwar, A.1996. Pengantar Administrasi Kesehutan. Jakarta. Bina Rupa Aksara

Daryanto, H.M. 1998. Admini.strasi pendidikan. Jakarta. Rineka Cipta


Depdikbud. 1991. Mateni Dasar Pendidikan Program Alda Mengajar V.
Teknologi Instruksional
Handako, Hanni, T. 1998. Manajemen, Edisi 2. Yogyakarta. BFFE
Kustiono. 2001. Media pembelajaran. Semarang
Prayitno, Ed dan Amti Erman. 1999. Da.rar-Dasar Bimbingun dan Konseling di
Sekolah. Jakarta. Rineka Cipta
Prayitno, Ed. 1999. Panduun Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Kanseling di
Sekolah. Jakarta. Rineka Cipta
Sugandi, A dan Haryanto. 2006. Teori Pembelajaran. Semarang. UPt MKK
Tappen, S.Ruth. 1995. Nursing Leadership and management, Conceps and
Practice, Third Edition. Philadelphia. Davis Company.
Team Pengembangan MKK IKIP semarang. 1989. Bimbingan Sekolah.
Semararrg. IKIP Semarang Press.
Terry, G.R dan Rue, I.W.2000. Dasar-dasar manjaemen. Jakarta. Bina Rupa
Aksara

61

62

KUESIONER
MAHASISWA SEMESTER III DI D III KEBIDANAN STIKES CIREBON
TAHUN AKADEMIK 2012/2013
PERTANYAAN UMUM
1. Nama

................................................

2. Umur

................................................

3. Semester

................................................

PERTANYAAN KHUSUS
Berikan tanda ( X ) pada setiap jawaban dibawah ini yang menurut anda paling
benar, selamat mengerjakan....
1. Apakah mahasiswa mendapatkan silabus setiap awaL pelajaran ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
2. Apakah dalam perkuliahan ini dosen memberikan materi sesuai dengan
silabus ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
3. Apakah mahasiswa mendapatkan kalender akademik setiap awal tahun
pelajaran ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
4. Apakah proses pembelajaran di kampus ini sudah sesuai dengan kalender
akademik ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
62

63

5. Apakah jadwal dan jam perkuliahan sesuai dengan silabus ?


a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
6. Apadah jadwal perkuliahan di kampus ini sudah efektif ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
7. Apakah ada jam kosong dalam jadwal perkuliahan di kampus ini ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
8. Apakah ada jam lain untuk mengisi materi bila dosen itu tidak datang?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
9. Apakah kedatangan dosen dalammengajar selalu tepat waktu ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
10. Media apakah yang tersering digunkan dalam proses pembelajaran ?
a. OHP/OHT
b. Modul
c. Hand out
11. Metode apakah yang tersering digunakan dalam proses pembelajaran ?
a. Ceramah
b. Seminar
c. diskusi
12. Apakah metode perkuliahan sudah sesuai ?
a. Ya
b. Tidak
63

64

c. Kurang
13. Apakah manfaat media pembelajaran sudah cukup ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
14. Apakah setiap perkuliahan dan setiap mata kuliah dilengkapi dengan jurnal?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
15. Apakah jurnal tersebut selalu diisi ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
16. Apakah dikampus ini sering terjadi perubahan jadwal kuliah ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
17. Apakah hubungan / komunikasi dosen dan mahasiswa akrab ?
a. Ya
b. Tidak
c. Biasa
18. Apakah sebelum mulai proses perkuliahan diadakan kontrak waktu ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
19. Apakah mahasiswa mengetahui tentang tata tertib kuliah ?
a. Ya
b. Tidak
20. Apakah tata rertib yang ada di kampus ini sudah berjalan ?
a. Ya
b. Tidak
64

65

c. Kadang-kadang
21. Apakah mahasiswa mendapatkan informasi tentang cara penilaian tiap mata
kuliah ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
22. Apakah sanksi yang sudah ditetapkan di kampus ini sudah diterapkan ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
23. Apakah sistem penilaian doses terhadap hasill UAS dan UTS sudah sesuai ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
24. Apakah cara mengajar dosen bisa meningkatkan motivasi belajar mahasiswa ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
25. Apakah mahasiswa dapat dengan mudah memahami materi yang diberikan
dosen ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
26. Apakah proses pembelajaran dalam perkuliahan ini menarik ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
27. Apakah fasilitas yang ada di dalam kelas sudah lengkap ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
65

66

28. Apakah mahasiswa merasa nyaman di dalam kelas ?


a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
29. Apakah fasilitas yang ada dilaboratorium sudah lengkap?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
30. Apakah nerlenQkanan neralatan van-a arla dilahnratnrinm cndah memennhi
kebutuhan ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
31. Apakah mahasiswa sudah memanfaatkan laboratorium dengan maksimal?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
32. Apakah keadaan dilaboratorium sudah nyaman ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
33. Apakah fasilitas perpustakaan sudah lengkap ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
34. Apakah mahasiswa sering berkunjung ke perpustakaan dalam waktu satu
bulan?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang

66

67

35. Apakah jenis buku yang ada di perpustakaan sudah mencukupi kebutuhan
mahasiswa ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
36. Apakah mahasiswa mengalami kesulitan dalam meminjam buku di
perpustakaan ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
37. Apakah mairasiswa sudah memanfaatkan fasilitas internet ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
38. Apakah masiswa merasa puas dan senang kuliah di STIKes Cirebon ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
39. Apakah keadaan toilet di kampus STIKes Cirebon bersih ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
40. Apakah ada lapangn yang bias digunakan dengan bebas di kampus STIKes
Cirebon ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
41. Apakah lahan praktek yang digunakan sudah memuaskan ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
67

68

42. Apakah selama mahasiswa melaksanakan praktek di lahan praktek


mendapatkan bimbingan ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
43. Apakah personal BK sudah menjalankan tugasnya secara optimal ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
44. Apakah personel BK sudah kompeten di bidangnya ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
45. Apakah fasilitas mushola yang ada di STIKes Cirben sudah baik ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
46. Apakah mahasiswa merasa puas kuliah di STIKes Cirebon
a. Ya
b. Tidak
c. Kurang
47. Apakah pelaksanaan BK sudah berjalan
a. Ya
b. Tidak
48. Apakah waktu pertama masuk menjadi mahasiswa diperkenalkan dengan
lingkungan kampus ?
a. Ya
b. Tidak
49. Apakah pernah mendapaikan bimbingan BK mengenai masalah pribadi ?
a. Ya
b. Tidak
68

69

50. Apakah pernah mendapatkan bimbingan BK mengenai masalah social ?


a. Ya
b. Tidak
51. Apakah pihak BK dan PA pernah memberikan informasi tentang
pendayagunaan dan penempatan kerja setelah lulus nanti ?
a. Ya
b. Tidak
52. Apakah pihak BK pernah melakukan bimbingan kelompok dengan
mahasiswa?
a. Ya
b. Tidak
53. Apakah perbandingan konselor dan mahasiswa sudah cukup ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
54. Apakah selama ini petugas BK sudah memberikan layanan bimbingan
belajar?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
55. Apakah mahasiswa pernah mendapatkan konseling kelompok ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
56. Apakah ada organisasi kemahasiswaan di kampus STIKes Cirebon ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
57. Apakah organisasi kemahasiswaan tersebut aktif ?
a. Ya
b. Tidak
69

70

c. Kadang-kadang
58. Apakah kegiatan mahasiswa sering dilakukan di STIKes Cirebon ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
59. Apakah dalam setiap kegiatan kemahasiswaan seluruh mahasiswa turut
terlibat ?
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang
60. Apakah kegiatan organisasi kemahasiswaan sudah difasiliasi dengan baik oleh
kampus STIKes Cirebon
a. Ya
b. Tidak
c. Kadang-kadang

70

71

HASIL KUESIONER
MAHASISWA SEMESTER III DI D-III KEBIDANAN STIKES CIREBON
TAHUN 2013
1. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan

hasil bahwa 90 % mahasiswa

mengatakan

mendapatkan silabus setiap awal pelajaran, dan 10 % mahasiswa mengatakan


kadang-kadang mendapatkan silabus pada awal pelajaran.
2. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 90 % mahasiswa mengatakan perkuliahan
sesuai dengan silabus, dan 10 % mahasiswa mengatakan kadang-kadang
perkuliahan sesuai dengan silabus.
3. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester Ill Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 86,66 % mahasiswa mengatakan
mendapatkan kalender akademik setiap awal tahun, 6,66 % mahasiswa
mengatakan kadang-kadang mendapatkan kalender akademik setiap awal
tahun, dan 3,34 % mahasiswa mengatakan tidak mendapatkan kalender
akademik setiap awal tahun.
4. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 73,33 % mahasiswa mengatakan proses
pembelajaran sesuai dengan kalender akademik, 20 % mahasiswa mengatakan
kadang-kadang proses pembelajaran sesuai dengan kalender akademik, 6,67
% mahasiswa mengatakan pelaksanaan proses pembelajaran tidak sesuai
dengan kalender akademik.
5. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 40 % mahasiswa mengatakan jam
perkuliahan sesuai jadwal dan silabus yang telah ditetapkan, 53,33 %
mahasiswa mengatakan kadang-kadang sesuai, dan 6,67 % mahasiswa
mengatakan tidak sesuai.
6. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 76,67 % mahasiswa mengatakan jadwal
71

72

perkuliahan yang diterima sudah efektif, 10 % mahasiswa mengatakan kurang


efektif, dan 13,33 % mahasiswa mengatakan perkuliahan yangditerima tidak
efektif.
7. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 40 % mengatakan jadwal kuliah sering
ada jam kosong, 33,33 % mahasiswa mengatakan jadwal kuliah kadangkadang ada jam kosong, dan 26,66 % mahasiswa mengatakan tidak ada jadwal
perkuliahan jam kosong.
8. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 66,67 % mahasiswa mengatakan ada jam
lain untuk mengganti materi dosen tidak datang, 33,33 % mengatakan tidak
ada jam lain untuk mengganti materi apabila dosen tidak dating.
9. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 26,66 % mahasiswa mengatakan
kedatangan dosen tepat waktu, 60% mahasiswa mengatakan kadang-kadang,
dan 3,33 % mahasiswa mengatakan tidak tepat waktu.
10. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 20% mahasiswa mengatakan media
perkuliahan yang sering diterima adalah UHP/UHT, 80 % mahasiswa
mengatakan media perkuliahan yang sering diterima adalah hand out.
11. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 13,33 % mahasiswa mengatakan metode
perkuliahan yang sering digunakan adalal; fceramah, 6,66 % mahasiswa
mengatakan met(de perkuliahan yang sering digunakan adalah seminar,
73,33%

mahasiswa mengatakan metode yang sering digunakan adalah

diskusi.
12. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 66,67 % mahasiswa mengatakan metode
perkuliahan sudah sesuai dengan yang diharapkan, 26,66 % mahasiswa
mengatakan metode perkuliahan kurang sesuai dengan yang diharapkan, 6,66

72

73

% mahasiswa mengatakan metode perkuliahan yang diterima tidak sesuai


dengan yang diharapan.
13. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 73,33 % mahasiswa mengatakan
pemanfaatan media pembelajaran sudak cukup, 13,33 % mahasiswa
mengatakan pemanfaatan media pembelajaran kurang cukup, dan 6,66 %
mahasiswa mengatakan pemanfaatan media pembelajaran tidak cukup.
14. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 36,66 % mahasiswa mengatakan setiap
mata kuliah disertai dengan jurnal, 40 % mahasiswa mengatakan kadangkadang setiap mata kuliah disertai dengan jurnal, dan 23,33 % mahasiswa
mengatakan setiap mata kuliah tidak disertai dengan jurnal.
15. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 46,66 % mahasiswa mengatakan jurnal
tersebut selalu diisi, 23,33 % mahasiswa mengatakan kadang-kadang jurnal
tersebut diisi, dan 30 % mahasiswa mengatakan jurnal tesebut tidak diisi.
16. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 60 % mahasiswa mengatakan sering
terjadi perubahan jadwal, 3,33% mahasiswa mengatakan kadang-kadang
terjadi perubahan jadwal, 3,33 mahasiswa mengatakan tidak pernah terjadi
perubahan j adwal.
17. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 56,66 % mahasiswa mengatakan
hubungan / komunikasi antara mahasiswa dan dosen akrab, 30 % mahasiswa
mengatakan hubungan / komunikasi antara mahasiswa dan dosen biasa saja,
dan 13,34 % mahasiswa mengatakan hubungan / komunikasi antara
mahasiswa dengan dosen kurang akrab.
18. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 93,33 % mahasiswa mengatakan sebelum
mulai proses belajar mengajar diadakan kontrak waktu dosen dengan
mahasiswa, 3,33 % mahasiswa mengatakan kadang-kadang sebelum mulai
73

74

proses belajar mengajar diadakan kontrak waktu dosen dengan mahasiswa,


dan 3,33% mahasisa mengatakan tidak bahwa sebelum mulai proses belajar
mengajar diadakan kontrak waktu dosen dengan mahasiswa.
19. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 100 % mengatakan mengetahui tata tertib
kuliah.
20. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 86,66 % mahasiswa mengatakan tata
tertib selalu berjalan, dan 13,34% mahasiswa mengatakan tata tertib sebagian
berjalan.
21. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 63,33 % mahasiswa mengatakan
mendapatkan informasi tentang cara penilaian tiap mata kuliah oleh dosen,
23,33% mahasiswa mengatakan kadang-kadang mendapatkan informasi
tentang cara penilaian tiap mata kuliah oleh dosen, dan 13,33% mahasiswa
mengatakan tidak mendapatkan informasi tentang cara penilaian tiap mata
kuliah oleh dosen.
22. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapa :kan hasil bahwa 56,66 % mahasiswa mengatakan sanksi
yang ditetapkan sudah diterapkan,3U % mahasiswa mengatakan sanksi yang
ditetapkan kadang-kadang diterapkan, dan 13,33% mahasiswa mengatakan
sanksi yang ditetapkan tidak diterapkan
23. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 76,66 % mahasiswa mengatakan sistem
penilaian dosen terhadap hasil UTS dan UAS sudah sesuai, 16,66 %
mahasiswa mengatakan sistem penilaian dosen terhadap hasil UTS dan UAS
kurang sesuai,6,66 mahasiswa mengatakan sistem penilaian dosen terhadap
hasil UTS dan UAS tidak sesuai
24. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 66,66 % mahasiswa mengatakan cara
mengajar dosen bisa meningkatkan motivasi belajar, 16,66 % mahasiswa
74

75

mengatakan cara mengajar dosen kadang-kadang meningkatkan motivasi


belajar, 6,56 % mahasiswa mengatakan cara mengajar dosen tidak bisa
meningkatkan motivasi belajar
25. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 50 %mahasiswa mengatakan dapat
memahami materi yang diberikan dosen dengan mudah, 50 % mahasiswa
mengatakan kadang-kadang dapat memahami materi yang diberikan doseu
dengan mudah.
26. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 40 % mahasiswa mengatakan proses
belajar selama ini menarik, 53,33 mahasiswa mengatakan proses belajar
selama ini kadang kadang menarik, 6,66 % mahasiswa mengatakan proses
belajar selama ini tidak menarik.
27. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 63,33 % mahasiswa mengatakan fasilitas
yang ada dikelas sudah lengkap, 30 % mahasiswa mengatakan fasilitas yang
ada dikelas kurang lengkap, dan 6,66 % mahasiswa mengatakan fasilitas yang
ada di kelas tidak lengkap.
28. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Pradi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa mahasiswa 60 % mengatakan keadaan di
kelas nyaman, 30 % mahasiswa mengatakan keadaan di kelas kurang nyaman,
dan 10 % mahasiswa mengatakan keadaan di kelas tidak nyaman.
29. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 56,67 % mahasiswa mengatakan fasilitas
yang ada dilaboratorium kebidanan sudah lengkap,33,33 % mahasiswa
mengatakan fasilitas yang ada dilaboratorium kebidanan kurang lengkap, dan
10 % mahasiswa mengatakan fasilitas yang ada dilaboratorium kebidanan
tidak lengkap
30. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 53,33 % mahasiswa mengatakan
kelengkapan peralatan di laboratorium sudah memenuhi kebutuhan, 36,67 %
75

76

mahasiswa mengatakan kelengkapan peralatan di laboratorium kurang


memenuhi kebutuiian, dan 10 % mahasiswa mengatakan kelengkapan
peralatan di laboratorium tidak memenuhi kebutuhan
31. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III ProdiKebidanan, didapatkan hasil bahwa 73,34 % mahasiswa mengatakan sudah
memanfaatkan

laboratorium

dengan

maksimal,

26,6

mahasiswa

mengatakan krang memanfaatkan laboratorium dengan maksimal.


32. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 76,66 % mahasiswa mengatakan keadaan
laboratorium nyaman, 10 % mahasiswa mengatakan keadaan laboratorium
kurang nyaman, 13,34 % mahasiswa mengatakan keadaan laboratorium tidak
nyaman.
33. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 70 % mahasiswa mengatakan fasilitas di
perpustakaan sudah lengkap, 20 % mahasiswa mengatakan fasilitas di
perpustakaan kurang lengkap, 10 % mahasiswa mengatakan fasilitas di
perpustakaan tidak lengkap.
34. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 50 % mahasiswa mengatakan sering
berkunjung ke perpustakaan setiap bulannya, dan 50 % mahasiswa
mengatakan kadang-kadang berkunjung ke perpustakaan setiap bulannya
35. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 63,33 % mahasiswa mengatakan jenis
buku diperpustakaan sudah mencukupi kebutuhan mahasiswa, 23,33 %
mahasiswa mengatakan jenis buku diperpustakaan kurang mencukupi
kebutuhan mahasiswa, dan 13,33 % mahasiswa mengatakan jenis buku
diperpustakaan tidak mencukupi kebutuhan mahasiswa
36. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 33,34 % mahasiswa mengatakan
mengalami kesulitan dalam meminjam buku perpustakaan, 33,33 %
mahasiswa

mengatakan

kadang-kadang

mengalami

kesulitan

dalam
76

77

meminjam buku perpustakaan, dan 33,33 % mahasiswa mengatakan tidak


mengalami kesulitan dalam meminjam buku perpustakaan.
37. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 83,34 % mahasiswa mengatakan sudah
memanfaatkan fasilitas internet, 16,66 % mahasiswa mengatakan kadangkadang memanfaatkan fasilitas internet.
38. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 80 % mahasiswa mengatakan puas kuliah
di STIKes Cirebon, 16,66 % mahasiswa mengatakan kurang puas kuliah di
STIKes Cirebon, 3,34 % mahasiswa mengatakan tidak puas kuliah di STIKes
Cirebon.
39. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 53,34 % mahasiswa mengatakan keadaan
toilet di kampus STIKes Cirebon sudah bersih, 33,33 % mahasiswa
mengatakan keadaan toilet di kampus STIKes Cirebon kurang bersih,dan
13,33 % mahasiswa mengatakan keadaan toilet di kampus STIKes Cirebon
tidak bersih
40. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester ill Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 53,34 % mahasiswa mengatakan di
STIKes Cirebon terdapat lapangan yang bisa di manfaatkan dengan
bebas,46,66 % mengatakan di STIKes Cirebon tidak terdapat lapangan yang
bisa di manfaatkan dengan bebas.
41. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 70 % mahasiswa mengatakan lahan
praktek yang digunakan selama ini memuaskan,23,34 % mahasiswa
mengatakan lahan praktek yang digunakan selama ini kurang memuaskan dan
6,66 % mahasiswa mengatakan lahan praktek yang digunakan selama ini tidak
memuaskan.
42. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan

hasil bahwa 80 % mahasiswa

mengatakan

77

78

mendapatkan bimbingan penuh dari lahan praktek, dan 20 % mahasiswa


mengatakan tidak mendapatkan bimbingan penuh dari lahan praktek
43. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 63,34 % mahasiswa mengatakan personal
BK sudah menjalankan tugasnya secara optimal, 23,33 % mahasiswa
mengatakan personal BK kurang dalam menjalankan tugasnya secara optimal,
13,33 % mahasiswa mengatakan personal BK tidak menjalankan tugasnya
secara optimal.
44. Berdasarkan kuesicner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 73,34 % mahasiswa mengatakan personal
BK sudah kompeten di bidangnya, 20 % mahasiswa mengatakan personal BK
kurang kompeten di bidangnya, 6,66 % mahasiswa mengatakan personal BK
tidak kompeten di bidangnya
45. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 50 % mahasiswa mengatakan keadaan
fasilitas cii mushola yang ada di STIKes Indramayu sudah baik, 30 %
mahasiswa mengatakan keadaan fasilitas di mushola yang ada di STIKes
Cirebon kurang baik, 20 % mahasiswa mengatakan keadaan fasilitas di
mushola yang ada di STIKes Cirebon tidak baik
46. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 66,67 % mahasiswa mengatakan puas
kuliah di STIKes Cirebon,23,33 mahasiswa mengatakan kurang puas kuliah di
STIKes Cirebon, dan 10 % mahasiswa mengatakan tidak puas kuliah di
STIKes Cirebon.
47. Berdasarkan k-uesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 40 % mahasiswa mengatalcan
pelaksanaan BK sudah berjalan sebagaimana mestinya, 60 % mahasiswa
mengatak,un pelaksanaan BK tidak berjalan sebagaimana mestinya

48. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 73,33 % mahasiswa mengatakan waktu
pertama kali masuk menjadi mahasiswa diperkenalkan dengan lingkungan
78

79

kampus. 26,67 % mahasiswa mengatakan waktu pertama kali masuk menjadi


mahasiswa tidak diperkenalkan dengan lingkungan kampus
49. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Yrodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 40 % mahasiswa mengatakan pernah
dibimbing oleh BK mengenai masalah pribadi, 60 % mahasiswa mengatakan
tidak pernah dibin .bing oleh BK mengenai masalah pribadi
50. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 30 % mahasiswa mengatakan pernah
dibimbing oleh BK mengenai masalah sosial, dan 70 % mahasiswa
mengatakan tidak pernah dibimbing oleh BK mengenai masalah social
51. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 46,66 % mahasiswa mengatakan PA atau
BK pernah memberikan informasi tentang pendayagunaan dan penempatan
kerja setelah lulus nanti, 53,34 % mahasiswa mengatakan PA atau BK tidak
pernah memberikan informasi tentang pendayagunaan dan penempatan kerja
setelah lulus nanti.
52. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 46,67 % mahasiwa mengatakan Bh
pernah melakukan bimbingan kelompok dengan mahasiswa,53,33 %
mahasiwa mengatakan BK tidak pernah melakukan bimbingan kelompok
dengan mahasiswa.
53. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 56,66 % mahasiswa mengatakan
perbandingan konselor dan mahasiswa sudah cukup, 43,34 % mahasiswa
mengatakan perbandingan konselor dan mahasiswa tidak cukup
54. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 60 % mahasiswa mengatakan selama ini
petugas $K sudah memberikan layanan bimbingan belajar, 30 % mahasiswa
mengatakan selama ini petugas BK kadang-kadang memberikan layanan
bimbingan belajar, 10 % mahasiswa mengatakan selama ini petugas BK tidak
memberikan layanan bimbingan belajar
79

80

55. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 60 % mahasiswa mengatakan pernah
mendapatkan konseiing kelompok, 40 % mahasiswa mengatakan tidak pernah
mendapatkan konseling kelompok
56. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester 11I Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 83,33 % mahasiswa mengatakan ada
organisasi kemahasiswaan di STIKes Cirebon, dan 16,67 % mahasiswa
mengatakan tidak ada organisasi kemahasiswaan di STIKes Cirebon
57. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 80 % mahasiswa mengatakan organisasi
kemahasiswaan tersebut aktif,16,67 % mahasiswa mengatakan organisasi
kemahasiswaan tersebut kurang aktif, 3,33 % mahasiswa mengatakan
organisasi kemahasiswaan tersebut tidak aktif
58. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 83,34 % mahasiswa mengatakan kegiatan
mahasiswa sering dilakukan di STIKes Cirebon, 16,66 % mahasiswa
mengatakan kegiatan mahasiswa tidak dilakukan di STIKes Cirebon
59. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 40 % mahasiswa mengatakan pada set.iap
kegiatan kemahasiswaan seluruh mahasiswa turut terlibat, 50 % mahasiswa
mengatakan pada setiap kegiatan kemahasiswaan seluruh mahasiswa kadangkadang turut terlibat, 10 % mahasiswa mengatakan pada setiap kegiatan
kemahasiswaan seluruh mahasiswa tidak turut terlibat
60. Berdasarkan kuesioner yang dibagikan pada 30 mahasiswa semester III Prodi
Kebidanan, didapatkan hasil bahwa 70 % mahasiswa mengatakan kegiatan
kemahasiswaan sudah difasilitasi dengan baik oleh STIKes Cirebon, 30 %
mahasiswa mengatakan kegiatan kemahasiswaan tidak difasilitasi dengan baik
oleh STIKes Cirebon.

80