Anda di halaman 1dari 17

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PELITA HARAPAN


Format Laporan Pendahuluan

Nama Mahasiswa : Daralila Santika


Ruangan : Asoka RS. DR. Sitanala Tangerang
A. TINJAUAN TEORITIS MEDIS
Judul (nama penyakit/diagnosa medis)
Fibro Adenoma Mamae
Definisi Penyakit (minimal dari 2 sumber)
Fibroadenoma adalah suatu neoplasma berbatas tegas, padat, berkapsul dan lesi payudara terlazim dalam wanita berumur di bawah 25 tahun.
Sebagian besar (80 persen tiunggal). Biasanya neoplasma tampil sebagai massa payudara yang dapat digerakan, tidak ada nyeri tekan, kenyal
seperti karet berukuran 1-4cm. Ia tergantung hormon dan bisa berfluktuasi dalam diameter sebanyak 1 cm dibawah pengaruh esterogen haid
normal, kehamilan, laktasi, atau penggunaan kontrasepsi oral. (Sabiston, David C, 1995)

Fibroadenoma Mammae (FAM) adalah tumor jinak tidak berbahaya yang bisa timbul pada payudara remaja dan wanita berusia <30
tahun. Benjolan biasanya kecil, solid, kenyal, bulat elastis dengan batas tepi yang jelas. Diduga penyebabnya adalah kelebihan hormon
estrogen. Tumor ini dapat membesar menjelang menstruasi atau pada saat kehamilan. (www.cancerhelps.co.id)
Fibroadenoma mammae adalah tumor jinak yang paling sering terjadi pada wanita. Tumor ini terdiri dari gabungan antara kelenjar
glandula dan fibrosa. Secara histologi:
intracanalicular fibroadenoma; fibroadenoma pada payudara yang secara tidak teratur dibentuk dari pemecahan antara stroma fibrosa
yang mengandung serat jaringan epitel.
pericanalicular fibroadenoma; fibroadenoma pada payudara yang menyerupai kelenjar atau kista yang dilingkari oleh jaringan epitel
pada satu atau banyak lapisan.
Tumor ini dibatasi letaknya dengan jaringan mammae oleh suatu jaringan penghubung.

Fibroadenoma mammae timbul akibat pengaruh kelebihan hormon estrogen.


Fibroadenoma mammae dibedakan menjadi 3 macam:
Common Fibroadenoma
Giant Fibroadenoma umumnya berdiameter lebih dari 5 cm.
Juvenile fibroadenoma pada remaja.
Etiologi

Fibroadenoma ini terjadi akibat adanya kelebihan hormon estrogen. Biasanya ukurannya akan meningkat pada saat menstruasi atau
pada saat hamil karena produksi hormon estrogen meningkat.
Manifestasi klinik

1. Secara makroskopik : tumor bersimpai, berwarna putih keabu-abuan, pada penampang tampak jaringan ikat berwarna putih, kenyal
2. Ada bagian yang menonjol ke permukaan
3. Ada penekanan pada jaringan sekitar
4. Ada batas yang tegas
5. Bila diameter mencapai 10 15 cm muncul Fibroadenoma raksasa ( Giant Fibroadenoma )
6. Memiliki kapsul dan soliter
7. Benjolan dapat digerakkan
8. Pertumbuhannya lambat
9. Mudah diangkat dengan lokal surgery
10. Bila segera ditangani tidak menyebabkan kematian
Anatomi dan Fisiologi

Seluruh susunan kelenjar payudara berada di bawah kulit di daerah pektoral. Terdiri dari massa payudara yang sebagian besar
mengandung jaringan lemak, berlobus-lobus (20-40 lobus), tiap lobus terdiri dari 10-100 alveoli, yang di bawah pengaruh hormon
prolaktin memproduksi air susu. Dari lobus-lobus, air susu dialirkan melalui duktus yang bermuara di daerah papila / puting. Fungsi
utama payudara adalah laktasi, dipengaruhi hormon prolaktin dan oksitosin pascapersalinan.
Kulit daerah payudara sensitif terhadap rangsang, termasuk sebagai sexually responsive organ.
Patofisiologi (buat dalam bentuk Pat Flow, dari etiologi sampai masalah keperawatan)

Fibroadenoma merupakan tumor jinak payudara yang sering ditemukan pada masa reproduksi yang disebabkan oelh beberapa
kemungkinan yaitu akibat sensitivitas jaringan setempat yang berlebihan terhadap estrogen sehingga kelainan ini sering digolongkan
dalam mamary displasia.
Fibroadenoma biasanya ditemukan pada kuadran luar atas, merupakan lobus yang berbatas jelas, mudah digerakkan dari jaringan di
sekitarnya. Pada gambaran histologis menunjukkan stroma dengan proliferasi fibroblast yang mengelilingi kelenjar dan rongga kistik
yang dilapisi epitel dengan bentuk dan ukuran yang berbeda. Pembagian fibroadenoma berdasarkan histologik yaitu :
1. Fibroadenoma Pericanaliculare
2.

Yakni kelenjar berbentuk bulat dan lonjong dilapisi epitel selapis atau beberapa lapis.
Fibroadenoma intracanaliculare
Yakni jaringan ikat mengalami proliferasi lebih banyak sehingga kelenjar berbentuk panjang-panjang (tidak teratur) dengan lumen
yang sempit atau menghilang.
Pada saat menjelang haid dan kehamilan tampak pembesaran sedikit dan pada saat menopause terjadi regresi.

Penatalaksanaan dan Pengobatan Medis

Karena FAM adalah tumor jinak maka pengobatan yang dilakukan tidak perlu dengan pengangkatan mammae. Yang perlu
diperhatikan adalah bentuk dan ukurannya saja. Pengangkatan mammae harus memperhatikan beberapa faktor yaitu faktor fisik dan
psikologi pasien. Apabila ukuran dan lokasi tumor tersebut menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman pada pasien maka diperlukan
pengangkatan.
Fibroadenoma seringkali berhenti tumbuh atau bahkan mengecil dengan sendirinya. Pada kasus seperti ini, tumor biasanya tidak
diangkat. Jika fibroadenoma terus membesar, maka harus dibuang melalui pembedahan
1. Pembekuan Cryoablation
Teknik baru operasi tumor jinak payudara dilakukan dengan teknik beku cryoablation (Visica Treatment System). Dengan teknik baru
ini, selain tanpa perlu dibius umum (narkose), sayatan yang dibuat pun tak perlu lebar, cukup sekadar untuk memasukkan semacam
instrumen jarum khusus yang ditusukkan mencapai lokasi tumornya. Sayatannya itu mungkin cuma 3 milimeter saja.
Agar jarum yang dimasukkan ke dalam jaringan payudara lebih akurat mencapai sasaran tumornya, memasukkan arah jarumnya perlu
dipandu dengan bantuan USG (Ultrasonography). Pada saat ujung jarumnya sudah menyentuh bagian tumornya, instrumen tersebut
melakukan proses pembekuan (cryoablation) terhadap tumornya, sehingga jaringan tumornya menjadi hancur. Oleh karena yang
berlangsung proses membekuan jaringan (freezing), tentu tak terasakan nyeri apa pun. Setelah jaringan tumornya hancur, instrumen

kemudian dicabut, dan oleh karena sayatannya hanya minimal, bekas sayatan tak memerlukan jahitan sebagaimana lazimnya
pembedahan umumnya, melainkan cukup diberi plester khusus untuk merapatkan kembali bekas luka sayat yang minimal itu. Proses
operasi dengan teknik ini rata-rata menghabiskan waktu sekitar 30 menit saja.
Jaringan tumor yang sudah hancur oleh proses pembekuan dibiarkan tak dikeluarkan dari dalam payudara. Diharapkan dalam
beberapa bulan kemudian sisa-sisa jaringan tumor yang hancur itu akan diserap sendiri oleh tubuh tanpa bersisa.
2. Teknik Pemanasaan (heating)
Teknik pemanasaan (heating) memakai alat ultrasound yang dipandu oleh MRI (Magnetic Resonance Imaging). Teknik ini dinamakan
Magnetic Resonance guided Focus Ultrasound Therapy (RgFUS). Dengan teknik ini malah sama sekali tidak memerlukan sayatan
pada payudara, namun perlu waktu operasi sampai 2-3 jam.
Dengan pemidaian MRI, selain untuk melihat di mana persis lokasi jaringan tumor payudaranya, juga untuk mengetahui apakah pada
jaringan tumornya sudah berlangsung proses pemanasan yang dilakukan oleh efek ultrasound. Cara pemanasan ini yang akan
menghancurkan jaringan tumornya. Sama halnya dengan teknik cryoablation, jaringan tumor yang sudah dihancurkan itu juga akan
diserap sendiri oleh tubuh.
Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium & Diagnostik)

1. Biopsi
2. Pembedahan
3. Hormonal
4. PET ( Positron Emision Tomografi )
5. Mammografi
6. Angiografi
7. MRI
8. CT Scan
9. Foto Rontqen ( x ray )
10. Blood Study
2. a. Laboratorium
LED meningkat.
Serum alkali pospalse meningkat.

Hipercalsemia.
b. Rontgen thorax dan alat lain
Untuk menentukan apakah sudah ada metastase atau belum.
Contoh pemeriksaan yang dilakukan adalah:
1. SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)
a. Berdiri di depan cermin, perhatikan payudara. Dalam keadaan normal, ukuran payudara kiri dan kanan sedikit berbeda. Perhatikan
perubahan perbedaan ukuran antara payudara kiri dan kanan dan perubahan pada puting susu (misalnya tertarik ke dalam) atau
keluarnya cairan dari puting susu. Perhatikan apakah kulit pada puting susu berkerut.
b. Masih berdiri di depan cermin, kedua telapak tangan diletakkan di belakang kepala dan kedua tangan ditarik ke belakang. Dengan
posisi seperti ini maka akan lebih mudah untuk menemukan perubahan kecil akibat kanker. Perhatikan perubahan bentuk dan kontur
payudara, terutama pada payudara bagian bawah.
c. Kedua tangan di letakkan di pinggang dan badan agak condong ke arah cermin, tekan bahu dan sikut ke arah depan. Perhatikan
perubahan ukuran dan kontur payudara.
d. Angkat lengan kiri. Dengan menggunakan 3 atau 4 jari tangan kanan, telusuri payudara kiri. Gerakkan jari-jari tangan secara
memutar (membentuk lingkaran kecil) di sekeliling payudara, mulai dari tepi luar payudara lalu bergerak ke arah dalam sampai ke
puting susu. Tekan secara perlahan, rasakan setiap benjolan atau massa di bawah kulit. Lakukan hal yang sama terhadap payudara
kanan dengan cara mengangkat lengan kanan dan memeriksanya dengan tangan kiri. Perhatikan juga daerah antara kedua payudara
dan ketiak.
e. Tekan puting susu secara perlahan dan perhatikan apakah keluar cairan dari puting susu. Lakukan hal ini secara bergantian pada
payudara kiri dan kanan.
f. Berbaring terlentang dengan bantal yang diletakkan di bawah bahu kiri dan lengan kiri ditarik ke atas. Telusuri payudara kiri dengan
menggunakan jari-jari tangan kanan. Dengan posisi seperti ini, payudara akan mendatar dan memudahkan pemeriksaan. Lakukan hal
yang sama terhadap payudara kanan dengan meletakkan bantal di bawah bahu kanan dan mengangkat lengan kanan, dan penelusuran
payudara dilakukan oleh jari-jari tangan kiri.
Pemeriksaan d dan e akan lebih mudah dilakukan ketika mandi karena dalam keadaan basah tangan lebih mudah digerakkan dan kulit
lebih licin.
(www.medicastore.com 2004)
2. Mamografi

Mamografi adalah suatu pemeriksaan untuk mammae (payudara) dengan menggunakan sinar x-ray dosis rendah. Dipakai untuk
mendeteksi dini tumor payudara pada wanita, tanpa disertai keluhan atau yang disertai keluhan. Keluhan seperti adanya benjolan pada
payudara, cairan yang tidak normal keluar dari puting payudara atau adanya nyeri pada payudara (sebelum atau sesudah menstruasi untuk menyingkirkan bahwa nyeri yang ditimbulkan bukan dikarenakan sindroma pre menstrual). Skrining mamografi biasanya
direkomendasi untuk setiap wanita diatas 40 tahun atau dibawah usia 40 tahun jika mempunyai faktor resiko terkena kanker payudara.
a. Indikasi :
1. Skrining pada wanita yang mempunyai faktor resiko tinggi untuk mendapat kanker payudara (ada 10 faktor resiko, lihat
pembahasan diatas)
2. Jika massa / benjolan yang teraba pada payudara tidak jelas.
3. Jika dokter meraba adanya benjolan pada kelenjar getah bening aksila (ketiak) dan supra klavikula (diatas tulang klavikula / leher)
walaupun tidak disertai terabanya massa / benjolan pada payudara .
4. Untuk usia 40 - 50 tahun dilakukan 2 tahun sekali, sedangkan lebih dai 50 tahun dilakukan setahun sekali.
b. Pada waktu melakukan mamografi :
1. Jangan memakai deodorant pada ketiak, talk / bedak pada ketiak atau payudara dan sekitarnya. Karena dapat mengaburkan hasil
pemeriksaan, berupa spots / bintik Kalsium
2. Beritahu semua keluhan / gejala yang dirasakan pada ahli yang melakukan mamografi
3. Tanyakan dengan jelas apa yang didapat dari hasil pemeriksaan mamografi
4. Jangan memakai perhiasan atau baju diatas pinggang, Pasien akan mengenakan pakaian khusus yang telah disediakan
c. Keuntungan Mamografi :
1. Pemeriksaan mamografi tergantung pada operator / ahli yang melakukan pemeriksaan. Apakah bisa mendeteksi tumor payudara
yang kecil tergantung dari kemampuan operator. Idealnya yang melakukan pemeriksaan mamografi adalah dokter yang sebelumnya
telah melakukan pemeriksaan terhadap payudara pasien sehingga hasilnya lebih akurat.
2. Jika pemeriksaan mamografi di lakukan oleh yang benar-benar ahli, maka mamografi dapat mendeteksi adanya jenis tumor ductal
carcinoma in situ (DCIS) - jenis tumor yang paling tidak membahayakan , yang pada pemeriksaan fisik tidak akan bisa terdeteksi.
d. Kerugian Mamografi :
1. Tidak boleh dilakukan jika hamil
2. Banyak yang mengalami false positive, artinya pada pemeriksaan mamografi hasilnya positif (berarti pasien yang bersangkutan
mengidap kanker), ternyata pada pemeriksaan lanjutan yaitu biopsi (pemeriksaan dengan mengambil sedikit jaringan tersangka kanker
untuk diperiksa di Lab.Patologi Anatomi) hasilnya negatif (pasien yang bersangkutan tadi tidak mengidap kanker payudara). Biopsi ini

adalah pemeriksaan invasif yang termasuk gold standard untuk pemeriksaan tumor payudara (dilakukan dengan jalan melakukan
tindakan / operasi) Kejadian false positif (hasil mamografi positif kanker tapi ternyata pada akhirnya tidak terbukti ganas), pada usia
40 - 49 tahun sebesar 30 % , sedangkan diatas usia 50 tahun, sebanyak 25 % . (sumber : American College of Radiology)
3. Tidak semua kanker payudara dapat tervisualisasi dengan baik lewat pemeriksaan Mamografi
4. Pemeriksaan mamografi dilakukan dengan cara menekan payudara. Untuk sebagian pasien, penekanan payudara dirasa sesuatu
yang tidak menyenangkan bahkan menyakitkan terutama bagi mereka yang sebelumnya mempunyai gejala nyeri pada payudara.
5. Hati-hati bagi pengguna payudara implant. Bagi wanita yang telah menjalani operasi implant payudara terbuat dari silikon atau
salin, maka jaringan payudara yang abnormal bisa tidak terdeteksi kalau jaringan implant tadi di letakkan diatas / di permukaan
jaringan payudara tersangka kanker. Bahkan dengan metode menekan payudara pada pemeriksaan mamografi ini dapat
mengakibatkan ruptur / pecahnya implant payudara yang terbuat dari silikon atau salin. Sehingga bagi wanita pemakai implant, harap
memberitahu sebelumnya kepada operator yang melakukan mamografi. Akhirnya, mengingat keterbatasan dari pemeriksaan
mamografi ini maka tidak setiap wanita wajib melakukan mamografi.
f. Prosedur :
Prosedur ini membutuhkan waktu sekitar 20 menit dan dapat dilakukan dibagian radiologi rumah sakit atau pada tempat-tempat
praktek pencitraan swasta. Skining mamografi dikombinasikan dengan pemeriksaan fisik.
1. Dilakukan dua posisi pemotretan untuk tiap payudara, yaitu kraniokaudal dan mediolateral. Untuk posisi kraniokaudal dosisnya
0,05 rad (radiation absorption dose) dan untuk posisi mediolateral 0,06 rad.
2. Setiap payudara dimampat dan diratakan yaitu dengan menekan dari atas ke bawah dan dari sisi ke sisi oleh alatan tertentu apabila
imej sinar-X diambil.
3. Pemotretan dengan sinar X sesuai dengan dosis radiasi mamografi yang dihitung adalah skin dose (dosis di permukaan kulit) seperti
diatas.
3. Biopsi
Biopsi bedah biasanya dilakukan di unit rawat jalan dibawah anastesi lokal. Biopsi mencakup eksisi lesi dan mengirimkannya ke
laboraturium untuk dilakukan pemeriksaan patologis.
Bila ukuran tumor tidak terlalu besar, maka semua benjolan diangkat dengan cara operasi yang dilakukan dalam pembiusan total,
disebut biopsi eksisi. Bila tumor ukurannya besar, biasanya diambil sampel atau contoh yaitu dengan mengambil sebagian kecil saja
dari benjolan yang ada, disebut biopsi insisi. Setelah dilakukan biopsi, jaringan tumor dikirim kepada seorang patolog, dan diperiksa ,
hasilnya berupa hasil pemeriksaan patologi anatomi (PA) . Hasil pemeriksaan PA ini biasanya membutuhkan waktu 4-7 hari.

Biopsi dilakukan untuk pemeriksaan histopatologik yang merupakan pemeriksaan jaringan. Kadang dilakukan pemeriksaan sitologi
untuk menentukan diagnosis . Hasil pemeriksaan PA inilah yang menjadi golden standart atau diagnosis pasti apakah suatu benjolan
itu jinak atau ganas (kanker).
Pada proses ganas terdapat penyusupan sel ganas ke jaringan sehat sekitarnya. Sedangkan pada proses jinak tidak terdapat penyusupan
ke jaringan sehat sekitarnya.
Tindakan biopsi itu sendiri dapat merupakan tindakan pengobatan. Bila hasil PA jinak maka dengan pengangkatan tumor berarti
pengobatan sudah selesai. Namun bila hasilnya adalah kanker , harus dilanjutkan oleh operasi kedua yaitu dengan tindakan bedah
kuratif.
Bedah kuratif yang mungkin dilakukan ialah mastektomi radikal (pengangkatan payudara dengan sebagian besar kulitnya,
m.pektoralis mayor dan minor, serta semua kelenjar ketiak sekaligus), bedah radikal yang diubah (m. Pektoralis mayor dan minor
dipertahankan jika tumor mamae jelas bebas dari otot tersebut), dan bedah konservatif yang merupakan eksisi tumor luas. Biasanya
badah konservatif selalu ditambah diseksi kelenjar aksila dan radioterapi pada (sisa) payudara tersebut. Ketiga tindakan tersebut
merupakan satu paket terapi yang harus dilaksanakan serentak.
Komplikasi

If the lump is left in place and carefully watched, it may need to be removed at a later time if it changes, grows, or doesn't go away.
In very rare cases, the lump may be cancerous and you may need further treatment.
Prognosis

Women with fibroadenoma have a slightly higher risk of breast cancer later in life. Lumps that are not removed should be checked
regularly by physical exams and imaging tests, following the doctor's recommendations
B. TINJAUAN TEORITIS KEPERAWATAN (sesuaikan dengan format pengkajian)

1. IDENTITAS
Meliputi identitas klien dan identitas penanggung jawab.
2. RIWAYAT KESEHATAN

a. Riwayat Kesehatan Dahulu


Kemungkinan klien pernah mendapat sinar radiasi pada buah dada. Ada kalanya klien pernah memperoleh terapi hormon untuk
mendapatkan anak.
b. Riwayat Keseahatan Sekarang
Klien dengan post FAM akan tersa nyeri karena prosedur pembedahan, aktifitas menurun, nafsu makan menurun, stres/ takut terhadap
penyakit dan harapan yang akan datang.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Walaupun FAM bukan penyakit turunan tetapi angka statistik akan menunjukan bahwa FAM sering ditemukan pada wanita yang
mempunyai hubungan keluarga.
3. RIWAYAT PSIKOSOSIAL
Klien akan merasa cemas denngan penyakitnya.
Kadang kala klien marah pada tim kesehatan terhadap tindakan operasi yang akan dilakukan.
Kadang kadang klien sering bertanya, mengapa saya yang yang sakit, mengapa tidak orang lain saja yang sakit.
Ada kalanya klien tidak mau ada orang yang menjenguknya.
4. RIWAYAT SPIRITUAL
Biasanya klien dengan FAM tidak mengalami gangguan dalam menjalani ibadah.
Pemeriksaan Fisik (head to toe)
Data Fokus ( kemungkinan ditemukan DO & DS )

a. Pengkajian
Inspeksi
Pasien telanjang dari kepala sampai sebatas pinggang dan duduk dalam posisi yang nyaman menghadapi pemeriksa. Yang perlu
diinspeksi adalah:
a. Payudara
Ukuran
Kesimetrisan
b. Kulit
Warna : eritema (kemerahan)
Pola venosa : menonjol
Edema : (-)

c. Puting susu : ulserasi, ruam, atau rabas puting susu dan adanya dimpling atau retraksi.
Palpasi
a. Seluruh payudara, dari parasternal ke arah garis aksila belakang, dan dari subklavikular ke arah paling distal.
b. Area aksilaris dan klavikularis
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
Nodus limfe
Nodus sentral, lateral, subskapular, dan pektoralis
Konsistensi jaringan
Nyeri tekan
Adanya massa
(Brunner & Suddarth, 2001 & Wiknjosastro, 1999)
C. ASUHAN KEPERAWATAN
Diagnosa

Sebelum penatalaksanaan
1. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit dan terapinya
2. Gangguan konsep diri ; harga diri rendah berhubungan dengan krisis situasi
Sesudah penatalaksanaan
1. Gangguan rasa nyaman ; Nyeri berhubungan dengan insisi pada daerah payudara
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan interupsi mekanis pada kulit/jaringan
N
DIAGNOSA
TUJUAN
INTERVENSI
RASIONAL
O.
KEPERAWATAN
1
Cemas berhubungan
setelah dilakukan
1. Bina Hub.
1. Mempermudah intervensi
dengan kurang
perawatan selama 2x24
Saling percaya
pengetahuan tentang
jam cemas ps hilang
2. Libatkan
2. Mengurangi kecemasan
penyakit dan terapinya atau berkurang. Ps
keluarga

mampu:
Mengungkapkan
cara mengatasi cemas
Mampu
menggunakan coping
Dapat tidur
Mengungkapkan
tidak ada penyebab
fisik yang dapat
menyebabkn cemas

2.

Gangguan ganbaran
diri (body image)
berhubungan dengan
tindakan pembedahan
ditandai dengan :
DS :
- Verbalisasi
perubahan
pola
hidup.
- Reaksi ketakutan

3. Jelaskan semua
Prosedur
4. Hargai
pengetahuan ps
tentang
penyakitnya
5. Bantu ps untuk
mengefektifkan
sumber support
6. Berikan
reinfocement
untuk
menggunakan
Sumber Coping
yang efektif

3. Membantu ps dalam
meningkatkan pengetahuan
tentang status kes dan
meningkatkan kontrol
kecemasan
4. Merasa dihargai
5. Dukungan akan
memberikan keyakinan thdp
peryataan harapan untuk
sembuh/masa depan
6. Penggunaan Strategi
adaptasi secara bertahap
( dari mekanisme pertahan,
coping, samapi strategi
penguasaan) membantu ps
cepat mengadaptasi
kecemsan

Gambaran diri
Independent :
berkembang secara
1. Diskusi
dengan 1.
positif dengan kriteria :
klien
tentang
- Mengerti tentang
diagnosa
dan
perubahan
pada
tindakan
guna
tubuh.
membantu
klien
- Menerima situasi
agar dapat aktif
yang terjadi pada
kembali
sesuai
dirinya.
ADLs.
- Mulai

Menerima
dam
mengerti tentang hal-hal
yang
dilakukan
merupakan awal proses
penyelesaian masalah.

dan
menolak
perubahan
pada
bagian tubuh.
Tidak
dapat
menerima
perubahan struktur
dan fungsi tubuh.
Perasaan/pandanga
n negatif terhadap tubuh
Mengungkapkan
keputus asaan.
Mengungkapkan
ketakutan ditolak
Mengungkapkan
kelemahan

DO :
- Menolak
untuk
melihat
dan
menyentuh bagian
tubuh yang berubah
- Mengurangi kontak
sosial
- Pre okupasi dengan
bagian tubuh/fungsi
tubuh yang hilang
- Menolak penjelasan
perubahan tubuh
- Tidak mau turut
bertanggung jawab

mengembangkan
2. Review/antisipasi
2.
mekanisme koping
efek samping kaitan
pemecahan
dengan
tindakan
masalah.
yang
dilakukan
Menunjukkan
termasuk efek yang
penyesuaian
mengganggu
terhadap
aktivitas seksual.
perubahan.
Dapat
menerima 3. Dorong
untuk 3.
realita.
melakukan diskusi
Hubungan
dan
menerima
interpersonal
pemecahan masalah
adekuat.
dari efek yang
terjadi.

Antisipasi dini dapat


menolong klien untuk
mengawali
proses
adaptasi
dalam
mempersiapkan hal-hal
yang dapat terjadi.

4. Beri
informasi/ 4.
konseling sesering
mungkin.

Validasi
tentang
kenyataan
perasaan
klien dan berikan tehnik
koping
sesuai
kebutuhan.
Klien dengan gangguan
neoplasma
kanker
membutuhkan support
tambahan
selama
periode tersebut.

5. Beri
dorongan/ 5.
support psikologis.

6. Gunakan sentuhan 6.
perasaan
selama
melakukan
interaksi

Dimungkinkan
dapat
menolong menurunkan
masalah
dengan
keterlibatan
sehingga
dapat
menerima
tindakan
yang
dilakukan.

Penghargaan
dan
perhatian
merupakan
hal
penting
yang
diharapkan klien guna

dalam
diri

perawatan

(pertahankan
kontak mata).
Kolaborasi :
7. Refer klien pada 7.
kelompok program
tertentu.

8. Refer
pada 8.
sumber/ahli
lain
sesuai indikasi.
3

Nyeri akut
berhubungan dengan
kerusakan jaringan
syaraf, suplay
vaskularisasi atau efek
samping
therapy/tindakan,
ditandai dengan :
DS :
- Klien mengeluhkan
rasa nyeri
- Meringis
karena
nyeri (facial mask
of pain)
- Lemah dan istirahat
kurang
DO :

menurunkan perasaan
klien akan keraguan /
ketidaknyamanan.
Grup support biasanya
sangat bermanfaat bagi
klien
dengan
meningkatkan kontak
dengan
klien
lain
dengan masalah sama.
Mungkin berguna untuk
mempertahankan
struktur psikososial.

Nyeri berkurang/dapat Independent :


teratasi dengan
1. Kaji riwayat nyeri 1. Informasi
merupakan
kriteria :
seperti
lokasi;
data
dasar
untuk
- Melaporkan
rasa
frekwensi ; durasi
evaluasi atau efektifitas
nyeri yang sudah
dan
intensitas
intervensi
yang
teratasi (rasa nyeri
(skala 1 10) dan
dilakukan. Pengalaman
berkurang)
upaya
untuk
nyeri setiap individu
- Dapat mongontrol
mengurangi nyeri.
bervariasi
karena
ADLs seminimal
mengganggu fisik dan
mungkin.
psikologi.
- Dapat
mendemontrasikan 2. Beri kenyamanan 2. Menolong
dan
keterampilan
dengan mengatur
meningkatkan relaksasi
relaksasi
dan
posisi klien dan
dan refokus
aktivitas
aktivitas
diversional sesuai
diversional.
situasi individu.

Gangguan
tonus
otot
Gangguan prilaku
Respon autonomic

3. Dorong
3. Melibatkan
dan
penggunaan stress
memberikan partisipasi
management seperti
aktif
untuk
tehnik
relaksasi,
meningkatkan kontrol
visualisasi,
komunikasi
therapeutik melalui
sentuhan.
4. Evaluasi/Kontrol
4. Tujuan umum/maksimal
berkurangnya rasa
mengomtrol
tingkat
nyeri.
Sesuaikan
nyeri dan minimum ada
pemberian
keterlibatan
dalam
medikasi
sesuai
ADLs.
kebutuhannya

Kolaborasi :
5. Kembangkan
5. Rencana
terorganisasi
rencana
dan
meningkatkan
management
kesempatan
dalam
penanganan sakit
mengontrol rasa sakit.
dengan klien dan
Klien
harus
dokter
berpartisipasi
aktif
dalam perawatan di
rumah.
6. Beri
analgetik 6. Nyeri
merupakan
sesuai indikasi dan
dampak/komplikasi
dosis yang tepat.
suatu tindakan atau
keadaan penyakit serta

perbedaan
individu.

4.

Resiko tinggi gangguan


integritas jaringan/kulit
berhubungan dengan
efek treatment.

Integritas jaringan/kulit
adekuat dengan kriteria
:
- Indentifikasi
intervensi
pada
kondisi-kondisi
khusus.
- Partisipasi
aktif
dalam tehnik guna
pencegahan
komplikasi
/
meningkatkan
penyembuhan.

respon

Independent :
1. Kaji kondisi kulit 1. Efek-efek reaksi kulit
dari efek samping :
dapat berupa kemerahan,
robekan,
gatal,
kering,
penyembuhan
kelembaban berkurang,
lambat.
hiperpigmentasi, koloid,
cikatriks.
2. Dorong klien untuk 2. Mencegah trauma /
tidak
menggaruk
gesekan pada kulit.
area yang terkena
gangguan.
3. Sarankan
klien 3. Iritasi / reaksi pada kulit
untuk menghindari
dapat meningkat.
pemakaian cream
kulit, salep dan
powder jika bukan
order/ijin
dari
dokter
atau
perawatnya.
4. Atur posisi sesuai 4. Meningkatkan sirkulasi
kebutuhan.
dan pencegahan tekanan
pada jaringan / kulit.

Kolaborasi :
5. Administrasi
5. Mengurangi kerusakan
pemberian antidote
jaringan pada area /
sesuai indikasi.
lokal.
6. Berikan
therapi 6. Intervensi yang berbeda
kompres hangat dan
ini tergantung pada
dingin
sesuai
jenis-jenis agen yang
petunjuk.
digunakan.
C. DAFTAR PUSTAKA (minimal 3 text book)

Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran
EGC. Jakarata.
Carpenito, Lynda Juall. (2000.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Doenges, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Engram, Barbara. (1998). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.
Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Long, Barbara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan). Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan
Pajajaran. Bandung.

Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius.
(1994). Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Bedah. Fakultas Kedokteran Unair & RSUD dr Soetomo Surabaya
Sabiston, David C,.(1995).Buku Ajar Bedah. Jakarta : EGC
http://www.cancerhelps.co.id/Tumor/fibroadenoma-mammae-fam.html (diakses pada 10 sept 2012)
http://health.nytimes.com/health/guides/disease/fibroadenoma-breast/overview.html (diakses pada 10 sept 2012)

http://id.shvoong.com/medicine-and-health/medicine-history/2187708-dx-keperawatan-cemas-status-kesehatan/#ixzz2641zLeyu
(diakses pada 10 sept 2012)