Anda di halaman 1dari 43

ORAL

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ilmu biofarmasetik dengan farmakokinetik obat dan produk
obat bermanfaat untuk memahami hubungan antara sifat sifat
fisikokimia dari produk obat dan efek farmakologi atau efek klinik.
Studi biofarmaseutika memerlukan penyelidikan berbagai
factor yang mempengaruhi laju dan jumlah obat yang mencapai
sirkulasi sistemik. Hal ini berarti biofarmaseutika melibatkan factor
factor yang mempengaruhi pelepasan obat dari suatu produk obat,laju
pelarutan dan akhirnya bioavailabilitas obat tersebut. Farmakokinetika
mempelajari kinetika absorbs obat, distribusi dan eliminasi (yakni
ekskresi dan metabolisme). Uraian dari distribusi dan eliminasi obat
sering diistilahkan sebagai disposisi obat.
Pada masa lalu, ahli farmakologi menilai availabilitas relatif obat
yang membandingkan respon farmakologik yang khas, respon klinik
dan kemungkinan respon toksik, sebagai contoh suatu obat seperti
isoproterenol dapat menyebabkan kanaikan kecepatan denyut jantung
jika diberikan secara oral pada dosis yang sama.

Pada saat ini terdapat berbagai metode analitik yang peka, teliti

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
dan tepat untuk pengukuran langsung obat dalam cuplikan biologik,
seperti

plasma

dan

urin.

Para

ahli

farmakokinetika

dapat

menggunakan cara pengukuran kadar ini ntuk menggambarkan


perbedaan bioavabilitas antara obat-obat dan produk-produk obat
dengan teliti.
Farmakokinetik adalah suatu ilmu yang mempelajari kinetika
absorbsi

obat,

distribusi,

dan

eliminasi

(yakni

eksresi

dan

metabolisme). Uraian dari distribusi dan eliminasi obat sering


diistilahkan sebagai disposisi obat.
Parameter farmakokinetik tidak ditentukan secara langsung,
tetapi ditentukan melalui percobaan dari sejumlah variabel tergantung
dan bebas, yang dikenal sebagai data. Dimana data ini, dapat
diperkirakan model farmakokinetiknya, kemudian di uji kebenarannya,
dan selanjutnya di peroleh parameter farmakokinetiknya.
Tujuan dari percobaan ini adalah :
1. Menentukan tetapan laju eliminasi atau (Ke), waktu paruh (t ),
dan

tetapan

laju

absorbsi

(Ka) dari

suatu

obat

dengan

menggunakan data contoh darah setelah pemberian dosis tunggal.


2. Menentukan volume distribusi (Vd)
3. Menentukan luas daerah di bawah kurva (Area Under Curve =
AUC).
1.2 Maksud Praktikum
Adapun maksud dari praktikum ini adalah menganalisis dan
HUSNUL KHATIMAH ULFA
15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
mempelajari parameter Farmakokinetik obat Paracetamol didalam
tubuh yang diberikan secara oral.
1.3 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan
parameter farmakokinetik dengan menggunakan obat paracetamol
secara oral pada hewan coba tikus (Rattus norvegicus).
1.4 Prinsip Praktikum
Penentuan parameter farmokinetik meliputi tetapan eliminasi
(k), waktu paruh, (t1/2), tetapan absorpsi (Ka), Volume distribusi (Vd),
Waktu yang dibutuhkan untuk obat melarut mencapai konsentrasi
maksimum (Tmaks), konsentrasi maksimum obat dalam plasma (Cp maks),
area di bawah kurva (AUC) dengan menggunakan obat paracetamol
oral pada hewan coba tikus (Rattus norvegicus).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II. 1. Teori Umum
Obat adalah semua zat baik kimiawi, hewani, maupun nabati,
yang dalam dosis layak dapat menyembuhkan, meringankan atau

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
mencegah penyakit atau gejala-gejalanya (Aznam, 2011).
Sebelum obat yang diberikan pada pasien yang tiba di dalam
tubuh obat mengalami banyak proses obat yang dapat dibagi dalam
tiga tingkatan yaitu fase biofarmasi, fase farmakokinetik, fase
farmakodinamik (Ganiswarna, 2005).
Respon biologis terhadap suatu obat, merupakan hasil interaksi
antara zat obat dengan molekul yang penting secara fungsional dalam
sistem hidup atau reseptor. Respon yang disebabkan oleh perobahan
dalam suatu proses biologis yang ada sebelum pemberian obat.
Besarnya respon yang berhubungan dengan konsentrasi obat yang
diberikan, besarnya absorbsi dan tribusi ke tempat tersebut laju dan
serta besarnya obat yang dieleminasi di dalam dari tubuh (Tjay,
2010 ).
Absorpsi, distribusi, biofarmasi (metabolisme) dan eliminasi
suatu obat dari tubuh merupakan proses yang dinamis yang kontinyu
dari suatu obat dimakan dan sampai semua obat tersebut hilang dari
tubuh. Laju dari terjadi proses-proses ini merupakan onset, serta
intensitasnya dan lama kerjanya obat dalam tubuh. Seluruh proses
ini disebut proses farmakokinetik (Ganiswarna, 2005).
Ilmu biofarmasetik dan farmakokinetik obat dan produk obat
bermanfaat untuk memahami hubungan antara sifat-sifat fisikokimia

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
dari produk obat dan efek farmakologik atau efek klinik (Shargel,
2005).
Study biofarmasetika memerlukan penyelidikan berbagai
faktor yang mempengaruhi laju dan jumlah obat yang mencapai
sirkulasi sistemik. Hal ini berarti, biofarmasetika melibatkan faktorfaktor yang mempengaruhi pelepasan obat dari suatu produk obat,
laju

pelarutan

dan

akhirnya

bioavailabilitas

obat

tersebut.

Farmakokinetika mempelajari kinetika absorpsi obat, distribusi dan


eliminasi (yakni, ekskresi dan metabolisme). Uraian dari distribusi
dan eliminasi obat sering diistilahkan sebagai disposisi obat (Shargel,
2005).
Tubuh

Obat

Absorbsi, transportasi, biotransformasi (Metabolisme), distribusi,


ekskresi. Tubuh

Kompartemen

Membran-membran Sel : Lapisan lipoprotein (lemak dan putih


telur) yang mengandung banyak pori-pori kecil, terisi dengan air.
Membran dapat di tembus dengan mudah oleh zat tertentu dilalui zat
lain

semi permeable

zat Lipofil > mudah hidrofil


Tujuan Biotransformasi
Obat

Berubah

mudah di ekskresi ginjal (Aznam, 2011).

Hidrofil
HUSNUL KHATIMAH ULFA
15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
Fase farmakokinetik berkaitan dengan masuknya zat aktif
dalam tubuh.Pemasukkan invivo tersebut secara keseluruhan
merupakan fenomena fisiko kimia yang terpadu didalam organ
penerima obat.Fase farmakokinetik ini merupakan salah satu unsur
penting yang menentukan profil keberadaan zat aktif pada tingkat
biofase dan yang selanjutnya menentukan aktifitas terapeutik obat
(Aiache, 1993).
Penelitian farmakokinetik suatu zat aktif merupakan penelitian
identifikasi dan kualitifikasi perjalanan obat dalam tubuh dan
penelitian ini memberikan arah

pembuatan model parametric

(Aiache, 1993).

Skema yang menunjukkan hubungan dinamik antara obat,


dan efek farmakologi (Shargel, 2005).
absorpsi
Obat dalam
Sirkulasi sistemik

Pelepasan obat
Dan pelarutan

Obat dalam
jaringan

Eliminasi
Ekskresi dan
metabolisme

Efek farmakologi
Atau klinis

Gambar 3.1 Skema yang menunjukkan hubungan dinamik antara


obat, produk obat dan efek farmakologi.

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
Secara skematis perjalanan obat dalam tubuh terdiri dari 4
tahap yaitu (Aiache, 1993) :
a.

Absorpsi (penyerapan)
Yang dimaksud dengan absorpsi atau penyerapan suatu zat aktif
adalah masuknya molekul-molekul obat kedalam tubuh atau
menuju keperedaran darah tubuh setelah melewati sawar
biologi.Penyerapan ini hanya dapat terjadi bila molekul zat aktif

berada dalam bentuk terlarut.


b. Distribusi (penyebaran)
Setelah molekul zat aktif masuk kedalam peredaran darah, maka
selanjutnya zat aktif tersebut akan disebarkan keselruh bagian
tubuh, sama halnya dengan molekul lain dalam fase aquous
mamapu menyaring secara ultra dan melewati sawar membrane.
Dalam penyebarannya, secara kualitatif dan kuantitatif sifat fisika
kimia zat aktif sangat menentukan afinitasnya, sedangkan
peredaran darah yang menyebar ke seluruh jangan tubuh
menunjukkan jalur penyebarannya.
c.
Metabolisme dan Ekskresi (pengeluaran)
Adanya molekul asing didalam tubuh yang memaksa organ tubuh
agar melenyapkan kolekul asing tersebut. Metabolisme terjadi
secara

kimiawi

dan

kinetic

metabolisme

dan

kinetic

pengeluarannya merupakan kinetic peniadaan. Pengeluaran dan


metabolism tidak perlu dipisahkan dalam hal kandungan hasil
invivo dari zat aktifnya, karena merupakan dua bagian dari satu
HUSNUL KHATIMAH ULFA
15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
macam proses. Peniadaan atau eliminasi adalah proses dinamika
yang kinetiknya meupakan ciri khas dari zat aktif yang berkaitan
dengan organ tubuh pada keadaan obat yang diberikan.
Adapun parameter farmakokinetik yang digunakan untuk
mengetahui bioavabilitas suatu obat adalah (Ganiswarna, 2005) :
1.

Daerah dibawah lurva (Area Under Curva) adalah


integritasi batas obat di dalam darah dari waktu t = o hingga t,
dimana besar AUC berbanding lurus dengan jumlah total obat
yang diabsorbsi. AUC merupakan salahsatu parameter untuk
menentukan bioavabilitas. Cara yang paling sederhana untuk
menghitung AUC adalah dengan metode trapezoid.

2.

Volume

distribusi

adalah

suatu

parameter

farmakokinetik yang menggambarkan luas dan intensitas


distribusi

obat

dalam

tubuh.

Volume

distribusi

bukan

merupakan vilume yang sesungguhnya dari ruang yang


ditempati obat dalam tubuh, tetapi hanya volume tubuh.
Besarnya

volume

distribusi

dapat

digunakan

sebagai

gambaran, tingkat distribusi obat dalam darah.


3.

Konsentrasi

Tinggi

Puncak

(Cpmax)

adalah

konsentrasi dari obat maksimum yang diamati dalam plasma


darah dan serum pemberian dosis obat. Jumlah obat biasanya

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
dinyatakan

dalam

batasan

konsentrasinya

sehubungan

dengan volume spesifik dari darah, serum dan plasma.


4.

Waktu Puncak (tmax) adalah waktu yang dibutuhkan


unsur

untuk mencapai level obat maksimum dalam darah

(tmax). serta parameter ini menunjukan laju absorsi obat dari


formulasi. Laju absorbsi obat, menentukan waktu diperlukan
untuk dicapai konsentrasi efektif minimum dan dengan
demikian untuk awal dari efek farmakologis yang dikendaki.
5.

Waktu paruh obat (t) adalah gambaran waktu


yang dibutuhkan untuk suatu level aktivitas obat dan menjadi
separuh dari leval asli atau level yang dikendaki

6.

Tetapan absorbsi (Ka) adalah parameter yang


mengambarkan laju absorbsi suatu obat, dimana agar suatu
obat diabsorbsi mula-mula obat harus larut dalam cairan pada
tempat absorbsinya

7.

Tetapan

eliminasi

adalah

parameter

yang

menggambarkan laju eliminasi suatu obat tubuh. Dengan


ekskresinya obat dan metabolit obat, aktivitas dan keberadaan
obat dalam tubuh dapat dikatakan berakhir.
Kurva kadar (level) dalam plasma- waktu
Kurva

kadar

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

dalam

plasma-waktu

dihasilkan

NUR FADILLA PIKRI

dengan

ORAL
mengukur konsentrasi obat dalam cuplikan plasma yang diambil
pada berbagai jarak waktu setelah pemberian suatu produk obat.
Konsentrasi obat dalam tiap cuplikan plasma digambar pada kordinat
kertas grafik rectangular tehadap waktu pengambilan cuplikan
plasma.

Selama

obat

mencapai

sirkulasi

umum

(sistemik),

konsentrasi obat dalam plasma akan naik sampai maksimum. Pada


umumnya

absorpsi

suatu

obat

terjadi

lebih

cepat

daripada

eliminasi.Selama obat diabsorpsi ke dalam sirkulasi sistemik, obat


didistribusikan ke semua jaringan dalam tubuh dan juga secara
serentak dieliminasi.Eliminasi suatu obat dapat terjadi melalui
ekskresi atau biotranformasi atau kombinasi dari keduanya (Shargel,
2005).
Hubungan kurva kadar obat-waktu dan berbagai parameter
farmakologik yaitu MEC (minimum effective concentration) dan MTC
(minimum

toxic

concentration)

masing-masing

menyatakan

konsentrasi efektif minimum dan konsentrasi toksik minimum suatu


obat. Dimana MEC mencerminkan konsentrasi obat yang diperlukan
oleh reseptor untuk menghasilkan efek farmakologik yang diinginkan.
Demikian pula, MTC menyatakan konsentrasi obat yang diperlukan
untuk mulai menghasilkan suatu efek toksik (Shargel, 2005).
Sebaliknya, ahli farmakokinetik dapatjuga menggambarkan

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
kurva kadar dalam plasma-waktu dalam istilah farmakokinetik seperti
kadar puncak dalam plasma, waktu untuk mencapai kadar puncak
dalam plasma dan area di bawah kurva, atau AUC. Waktu kadar
puncak dalam plasma adalah waktu yang diperlukan untuk mencapai
konsentrasi obat maksimum dalam plasma yang secara kasar
sebanding dengan laju absorpsi obat rata-rata. Kadar puncak dalam
plasma atau konsentrasi maksimum obat biasanya dikaitkan dengan
dosis dan tetapan laju absorpsi dan eliminasi obat.Sedangkan AUC
dikaitkan dengan jumlah obat yang terabsorpsi secara sistemik
(Shargel, 2005).

Makna pengukuran konsentrasi obat dalam plasma


Secara klinik, perbedaan individual dalam farmakokinetik obat
sering terjadi. Pemantauan konsentrasi obat dalam darah atau
plasma meyakinkan bahwa dosis yang telah diperhitungkan benarbenar telah melepaskan obat dalam plasma dalam kadar yang
diperlukan untuk efek terapetik.
Menurut kepustakaan, konsentrasi maksimum yang masih
aman dari obat tersebut adalah 15 g/ml (Shargel, 2005).
Dengan demikian pemantauan konsentrasi obat dalam plasma

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
memungkinkan untuk penyesuaian dosis obat secara individual dan
juga untuk mengoptimasi terapi (Shargel, 2005).
Model farmakokinetik
Suatu hipotesis atau model disusun dengan menggunakan
istilah matematik, yang member arti singkat dari pernyataan
hubungan kuantitatif.Berbagai model matematik dapat dirancang
untuk meniru laju absorpsi, distribusi, dan eliminasi obat (Shargel,
2005).
Jumlah parameter yang diperlukan untuk menggambarkan
model bergantung pada kerumitan proses dan rute pemberian obat.
dalam praktek, ada suatu batasan pada jumlah data yang mungkin
diperoleh. Bila jumlah parameter yang dinilai bertambah maka
ketelitian perhitungan parameter ini menjadi lebih sulit. Dengan
model farmakokinetik yang kompleks, dapat digunakan program
computer untuk menghitung semua parameter. Agar parameterparameter menjadi lebih sahih, jumlah titik-titik data seharusnya
selalu melebihi jumlah parameter dalam model (Shargel, 2005).
Model farmakokinetik berguna untuk (Shargel, 2005) :
1. Memprakirakan kadar obat dalam plasma, jaringan, dan urin pada
berbagai pengaturan dosis.
2. Menghitung pengaturan dosis optimum untuk tiap penderita secara
individual.
HUSNUL KHATIMAH ULFA
15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
3. Memperkirakan kemungkinan akumulasi obat dan/atau metabolitmetabolit.
4. Menghubungkan konsentrasi obat dengan aktivitas farmakologik
atau toksikologik
5. Menilai perubahan laju atau tingkat availabilitas antar formulasi
(bioekivalensi).
6. Menggambarkan

perubahan

faal

atau

penyakit

yang

mempengaruhi absorpsi, distribusi atau eliminasi obat.


7. Menjelaskan interaksi obat.
Oleh karena suatu model didasarkan atas hipotesis dan
penyederhanaan anggapan, yang menggambarkan system biologic
dalam istilah matematik, maka suatuperhatian pada tingkat tertentu
diperlukan bila pengandalan secara penuh model farmakokinetik
digunakan untuk memprakirakan aksi obat.Penting untuk selalu
disadari bahwa data farmakokinetik seharusnya tidak menggantikan
pengamatan klinik pada penderita dan keputusan klinis (Shargel,
2005).
Satuan dalam farmakokinetika
Agar suatu persamaan sahih, satuan atau dimensi harus
tetap.Dalam

farmakokinetika

beberapa

satuan

yang

berbeda

digunakan, Untuk suatu persamaan yang tepat, bilangan bulat dan


satuan-satuan harus imbang.Sebagai contoh, suatu pernyataan
umum untuk klirens tubuh total adalah (Shargel, 2005).

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
ClT = KVd
PARAMETER FARMAKOKINETIK ORAL
Waktu Paruh (t1/2) (Shargel, 2005).
Waktu paruh (t1/2) menyatakan waktu yang diperlukan oleh
sejumlah obat atau konsentrasi obat untuk berkurng menjadi
separuhnyaWaktu Paruh Reaksi Orde Kesatu.
Harga t1/2 untuk reaksi orde kesatu dapat diperoleh dengan
persamaan :

0,639
T1/2 =
K
Dari persamaan itu tampak bahwa untuk reaksi orde kesatu,
t1/2 adalah konstan.
Waktu paruh obat (t) adalah gambaran waktu yang
dibutuhkan untuk suatu level aktivitas obat dan menjadi separuh dari
leval asli atau level yang dikendaki (Ganiswarna, 2005).
T1/2 sering digunakan secara klinis untuk menyesuaikan interval
dosis, terutama karena dapat dilakukan dengan mudah diklinik atau
disamping tempat tidur penderita. T1/2 obat juga dapat digunakan
untuk menentukan waktu yang diperlukan untuk mencapai kadarkeadaan mantap: yaitu titik dimana jumlah obat yang diberikan
setara dengan jumlah obat yang diklirens dari tubuh. Setelah tiga

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
waktu paruh, dicapai 87,5 % kadar keadaan-mantap obat, setelah
empat waktu paruh, nilainya menjadi 93,8%, sedangkan setelah lima
waktu paruh, dapat mencapai 100%. Bila diintegrasikan dengan
strategi kadar sasaran, t obat sering digunakan untuk menentukan
interval pemberian obat (Wahab,1996).
Waktu Paruh Reaksi Orde Nol (Shargel, 2005).
T1/2 reaksi orde nol berjalan tidak tetap. Harga t 1/2 reaksi orde
nol adalah sebanding dengan jumlah ataukonsentrasi awal obat dan
berbanding terbalik dengan tetapan laju reaksi orde nol, Ko :
0,5 Ao
T1/2 =
Ko
Oleh karena t1/2 berubah secara berkaladengan berkurangnya
konsentrasi obat, maka t1/2 untuk reaksi orde nol ini hanya sedikit
kegunaannya.
Model Absorbsi Orde Nol (Shargel, 2005).
Pada model iniobat dalam saluran cerna

D GI diabsorbsi

secara sistemik pada suatu tetapan laju reaksi, Ko. Obat dieliminasi
dari tubuh oleh suatu proses orde kesatu dengan suatu tetapan laju
orde kesatu, K.
Laju eliminasi pada setiap waktu, dengan proses orde kesatu
adalah sama dengan DBK. laju masukan adalah Ko. Oleh karena itu,
perubahan persatuan waktu dalam tubuh dapat dinyatakan sebagai

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
berikut :
dDB
= Ko KDB
dt
Integrasi dari persamaan ini dengan subtitusi Vd Cp untuk D B :
Ko
Cp =
VdK

(1- e Kt)

(7.7)

Laju absorpsi obat adalah konstan dan berlanjut

sampai

jumlah obat dalam dinding usus, DGI habis. Waktu dimana absorpsi
obat berlangsung sama dengan D GI/ko. Setelah waktu iniobat tidak
tersedia lagi untuk diabsorpsi dari didnding usus dan persamaan 7.7
tidak berlaku. Konsentrasi obat dalam plasma akan menurun
menurut suatu proses laju eliminasi orde kesatu.
Model Absorbsi Order Kesatu (Shargel, 2005).
Model ini menganggap bahwa masukan orde kesatu adalah
orde kesatu dan suatu eliminasi juga order kesatu. Persamaan
diferensial yang menggambarkan laju peubahan obat dalam tubuh.
dDB
= FKa
DGI - KDB
dt
F adalah fraksi obat secara sistemik. Oleh karena obat dalam
saluran cerna juga mengikuti suatu proses penurunan order kesatu
9 yakni diabsorpsi melintasi dinding saluran cerna) jumlah obat
dalam saluran cerna sama dengan Do e Kat dDB= FKaDo e

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

Kat

- KDB

ORAL
(7.8)
dt
persamaan ini dapat diintegrasikan untuk memberikan persamaan
absorpsi oral secara umum, untuk perhitungan konsentrasi obat (Cp)
dalam plasma pada setiap waktu (t) ;
FKaDo
Cp =

( e-Kt e Kat)
(7.10)
Vd (Ka-K)
Konsentrasi maksimum Cpmaks dan waktu yang diperlukan

untuk mencapai konsentrasi maksimum adalah tmaks. Waktu yang


diperlukan untuk mancapai konsentrasi maksimum tidak bergantung
pada dosis, tetapi bergantung pada tetapan laju absorpsi (Ka) dan
eliminasi (K). pada konsentrasi maksimum, yang kadang-kadang
disebut konsentrasi punca, laju absorpsi obat sama dengan laju
eliminasi obat. Oleh karena itu, laju perubahan konsentrasi dapat
diperoleh dengan mendiferensialkan 7.10 :
dDB

KaDoF
=
=(Ke Kt + Ka e Kat ) = 0
Dt
Vd (Ka-K)
Dapat disederhanakan :
-Ke Kt + Ka e Kat = 0
Penetapan Tetapan Laju Absorbs Dari Data Absorbs Oral
(Shargel, 2005).
Metode residual. Dengan menganggap Ka K dalam
persamaan 7.10 harga eksponensial kedua akan menjadi kecil yang

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
tidak bermakna oleh waktu, oleh karena itu dapat dihilangkan. Pada
keadaan tersebut, absorpsi obat telah sempurna persamaan 7.10
menjadi persamaan ;
FKaDo
Cp =

e-Kt
Vd (Ka-K)
Dari persamaan ini juga dapat diperoleh ;
FKaDo
=A
Vd (Ka K)
A adalah tetapan. Jadi persamaan diatas menjadi :
Cp = AeKt
Persamaaan ini menyatakan eliminasi obat orde kesatu, akan
menghasilkan suatu gambar linear pada kertas semilog dengan slop
= -K/2,3. Harga Ka dapat diperoleh dengan metode residual atau
tekhnik feathering. Harga Ka diperoleh dengan meggunakan
prosedur berikut ;
1. Gambar konsentrasi obat vs waktu pada kerta semilog dengan
harga konsentrasi pada sumbu logaritma.
2. Dapatkan slop dari fase akhir dengan ekstrapolasi
3. Ambil beberapa titik pada bagian atas garis ( mis; x 1, x2, x3,)dan
jatuhkan

tegak

lurus

untuk

mendapatkan

tititk-titik

yang

berhubungan pada kurva (mis x1, x2, x3, )


4. Baca harga x1 dan x1, x2 dan x2, x3 dan x3 dan seterusnya. Gambar
harga-harga perbedaan tersebut pada titik-titik waktu yang

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
berhubungan

1, 2, 3,akan diperoleh suatu garis lurus

dengan slope Ka/2,3.


Bila digunakan metode residu, minimum tiga titik digunakan
untuk menetapkan garis lurus. Titik-titk data yang terjadi segera
setelah t1/2dapat tidak teliti karena absorpsi obat pada saat itu masih
berlangsung. Oleh karena bagian dari kurva ini mewakili fase pasca
absorpsi, hendaknya hanya titik-titik data dari fase eliminasi yang
digunakan untuk menetapkan laju absorpsi obat sebagai suatu
proses orde kesatu.
Jika obat diabsorpsi langsung setelah pemberian secara oral,
garis residual diperoleh derigan feathering kurva kadar plasma
waktu.
Eliminasi dari sebagian obat dari tubuh melibatkan dua proses
yaitu metabolisme (biotrasnformasi) dan ekskresi. Tetapan laju
eliminasi (K) adalah jumlah tetapan laju metabolisme orde kesatu
(Km) dan tetapan laju orde kesatu (Ke).
Km = KmA + KmB + KmC, +Km
Karena obat mengalami biotrasformasi menjadi beberapa
metabolit (misalnya metabolit a, metabolit B, metabolit c, dsb), maka
terdapat laju metabolism (Km) merupakan tetapan laju pembentukan
masing-masing metabolit tersebut.
K = Ke + Km

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
Hubungan pada persamaan ini dianggap bahwa proses
metabolisme adalah orde kesatu dan konsentrasi subtrat

(yakni

obat) adalah sangat rendah. Konsentrasi obat pada kadar terapetik


dalam plasma untuk sebagian besar obat adalah jauh lebih rendah
dari pada tetapan Michaelis-Menten dan tidak menyebabkan
kejenuhan enzim yang terlibat dalam metabolisme.
Karena laju eliminasi ini dianggap proses orde kesatu, maka
proses prosentasetotal obat metabolisme dapat diperoleh dari
pernyataan berikut :
Km
% obat termetabolisme =
K

x100

Tetapan laju ekskresi (Ke) untuk obat-obat yang terutama


diekskresikan lewat ginjal dengan mudah dapat dihitung. Eliminasi
obat non ginjal umumnya dapat dianggap merupakan bagian
terbesar metabolisme hepatic. Tetapan laju eliminasi (K m) sukar
diukur secara langsung dan umumnya didapat dari pebedaan K dan
Ke.
Km = K - K e
Volume Distribusi (Shargel, 2005).
Volume distribusi menyatakan suatu faktor yang harus
diperhitungkan dalam memperkirakan jumlah obat dalam tubuh dari

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
konsentrasi obat yang ditemukan dalam kompartemen cuplikan.
Volume distribusi juga dianggap sebagai volume (Vd) dimana obat
terlarut.
Harga volume distribusi tidak mengandung arti fisiologik yang
sebenarnya dari pengertian anatomik, maka digunakan istilah
apparent volume distribution yang selanjutnya disebut volume
distribusi.
Jumlah obat dalam tubuh tidak dapat ditentukan secara
langsung tetapi suatu cuplikan darah dapat diambil pada jarak waktu
secara berkala dan dianalisis konsentrasi obat tersebut. Vd berguna
untuk mengaitkan konsentrasi obat dalam plasma (Cp) dan jumlah
obat dalam tubuh (DB). seperti dalam persamaan berikut ;
DB = VdCp
Didasarkan pada konsentrasi obat dalam plasma, umtuk
penurunan obat dalam plasma ynag mengikuti ore kesatu.
-Kt
Log Cp =

+ log

2,3
Cp = konsentrasi obat dalam plasma pada waktu t dan

konsentrasi obat dalam plasma pada t = 0 dapat dinayatakan


sebagai :

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL

Cp =

e -kt
Sebagian besar obat memiliki volume distribusi lebih kecil

atau sama dengan massa tubuh. Untuk beberapa obat volume

distribusinya mungkin beberapa kali massa tubuh.

yang kecil akan

menghasilkan Vd yang besar apabila dosis yang diberikan konstan.

yang sangat kecil sering terjadi dalam tubuh sehubungan dengan


konsentrasi obat tersebut ada dalam jaringan perifer dan jaringanjaringan.
Obat dengan Vd yang lebih besar terpusat dalam jaringan
ekstravaskular dan sedikit dalam intravascular. Jika suatu obat terikat
dalam protein plasma dalam jumlah besar atau tinggal dalam

vascular, maka

menjadi lebih tinggi, yang mengakibatkan Vd yang

lebih kecil. Oleh karena itu, ikatan protein plasma atau jaringan
perifer secara bermakna akan mempengaruhi Vd.
Vd dapat dinyatakan sebagai suatu volume atau dalam istilah
porsen berat badan.
Cairan Kompartemen dalam Tubuh (Shargel, 2005).
HUSNUL KHATIMAH ULFA
15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
Cairan kompartemen
Plasma

Porsen berat badan Porsen cairan tubuh


total
7,5

4,5

Cairan

ekstraseluler 27,0

45,0

total
Cairan

intraseluler 33,0

55.0

total
Cairan tubuh total
Vd

merupakan

60,0
petunjuk

100,0
untuk

jumlah

obat

diluar

kompartemen cuplikan, (biasanya darah), maka makin besar Vd


makin besar pula jumlah obat dalam kompartemen ekstravaskular
atau jaringan.
Tiap obat mempunyai Vd yang konstan. Pada penyakit
tertentu Vd dapat berubah jika distribusi obat berubah.
Konsentrasi maksimum Cpmaks dan waktu yang diperlukan
untuk mencapai konsentrasi maksimum adalah t maks. Waktu yang
diperlukan untuk mancapai konsentrasi maksimum tidak bergantung
pada dosis, tetapi bergantung pada tetapan laju absorpsi (Ka) dan
eliminasi (K). pada konsentrasi maksimum, yang kadang-kadang
disebut konsentrasi puncak, laju absorbsi obat sama dengan laju
eliminasi obat. Oleh karena itu, laju perubahan konsentrasi dapat
diperoleh dengan mendiferensialkan 7.10 :
dDB KaDoF
=
=
( -Ke Kt + Ka e Kat ) = 0
HUSNUL KHATIMAH ULFA
15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
Dt Vd(Ka-K)
Dapat disederhanakan :
-Ke Kt + Ka e Kat = 0
Waktu obat mencapai konsentrasi maksimum, t maks hanya
tergantung pada tetapan laju Ka dan K. perhitungan C maks dan Cp maks
perlu dilakukan, oleh karena pengukuran langsung dari konsentrasi
obat tidak memungkinkan sehubungan dengan waktu pangambilan
cuplikan serum yang tidak tepat.
Penerapan dalam Farmasi. Volume distribusi akan beragam
untuk setiap pasien; oleh karena itu, parameter ini dapat digunakan
dalam penentuan dosis atau penyesuaian dosis untuk menghasilkan
kadar darah yang diharapkan pada setiap pasien (Ansel, 2004).
Tmaks Waktu yang diperlukan untuk mencapai konsentrasi
maksimum (Shargel, 2005).
Cmax dan Tmax dapat digunakan untuk menetapkan protokol
pengukuran kadar darah pada suatu keadaan klinis dalam
pengaturan dosis obat-obat seperti antibiotik aminoglikosida (Ansel :
2004).
AUC / Area Under Curve (Shargel, 2005).
waktu untuk mencapai kadar puncak dalam plasma dan area
di bawah kurva.
AUC diperkirakan dengan rumus trapezium.Metode ini teliti

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
jika ada data yang cukup. Area antara waktu dihitung sebagai
berikut) :
Cn-1 + Cn
=

(tn - tn-1)

2
Di mana Cn dan Cn-1 adalah konsentrasi.
Untuk mendapatkan

Secara sederhana tambahkan

semua potongan area di bawah kurva dari nol sampai tak terhingga
Total
trapezium,

adalah jumlah area yang didapat dengan rumus


yakni

[AUC]t0

dan

area

residu

[AUC]t,

seperti

digambarkan dalam pernyataan berikut:

FARMAKOKINETIK AMOXICILLIN
Absorpsi amoksisillin disaluran cerna jauh lebih baik dari pada
ampisillin. Dengan dosis oral yang sama, amoksisilin mencapai
kadar dalam darah yang tinggi kira-kira 2 kali lebih tinggi dari pada
yang dicapai oleh ampisilin, sedangkan masa paruh eliminasi kedua
obat ini hampir sama. Penyerapan ampisillin terhambat oleh adanya
makanan di lambung, sedangkan amoksisilin tidak. (Ganiswarna,
2005).
II. 2. Uraian Bahan
1.

Air suling (Ditjen POM,1979)

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
Nama resmi
Sinonim
RM/BM

: Aqua Destillata
: Air suling/ Aquades
: H2O/18,02

Pemerian

:Cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, tidak


mempunyai rasa.

Penyimpanan
Kegunaan
2.

: Dalam wadah tertutup rapat


: Sebagai pelarut

Alkohol (Ditjen POM,1979)


Nama resmi
: Aethanolum
Sinonim
: Alkohol
RM/BM
: C2H6OH/46,07
Pemerian
: Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap, dan
mudah bergerak, bau khas, rasa panas. Mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru yang
tidak berasap.
Kelarutan

: Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P


dan eter P.

Penyimpanan
Kegunaan

: Dalam wadah tertutup rapat, jauh dari api.


: Sebagai vasodilator.

3. Na. CMC (Ditjen POM, 1979)


Nama Resmi : NATRII CARBOXYMETHYLCOLLULOSUM
Nama Lain
: Natrium karboksimetilselulosa
RM/BM
: C23H46N2O6.H2SO4.H2O/694,85
Pemerian
:Serbuk atau butiran putih atau putih kuning
gading tidak berbau, higroskopik.

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
Kelarutan

:mudah mendispersi dalam air, membentuk suspense


koloidal, tidak larut dalam etanol (95%) P,

Penyimpanan
Kegunaan

dalam eter dan dalam pelarut organic


: Dalam wadah tertutup rapat.
: Sebagai kontrol

II.3. Uraian obat


1.

Parasetamol (Depkes RI, 2009)


Nama generik : Parasetamol
Rumus kimia
: 4 hydroxyacetanilidae
Pemerian
: Hablur kecil atau serbuk hablur putih berkilat, tidak

Kelarutan

berbau, tidak berasa, stabil diudara.


: Praktis larut dalam air, mudah larut dalam

Kelas terapi
Indikasi
Dosis

kloroform, larut dalam etanol


: Analgesik non narkotik
: Nyeri ringan sampai sedang dan demam.
:Dewasa dan anak > 12 tahun : oral 650 mg
atau

1 gram tiap 4 6 jam bila perlu

maksimum 4 g perhari.
Anak untuk tiap 4 6 jam < 4 bulan (2,7 5

Farmakologi

kg) 40 mg, 4 11 bulan (5 8 kg) 80 mg.


: Memiliki aktivitas sebagai analgetik dan

Kontaindikasi

antipiretik
: Hipersensitif terhadap parasetamolt atau
komponen sediaan lain , gangguan hati yang
jelas, dispnea, obstruksi saluran nafas, hamil,

Efek samping

ngantuk dan ataksia


: Efek samping dalam dosis terapi jarang kecuali

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
ruan kulit, kelainan darah, pankreatis, alat
pernah

dilaporkan

setelah

penggunaan

panjang.
Mekanisme aksi : Bekerja pada pengaturan panas di hipotalamus
dan menghambat sintesa prostaglandin di
sistem saraf pusat.
II.4. Uraian Hewan Coba
a. Klasifikasi (Ningsih, 2009)
Kingdom
: Animalia
Divisio
: Vertebrata
Class
: Mamalia
Ordo
: Rodentia
Famili
: Muridae
Genus
: Orytolagus
Spesies
: Rattus norvegicus
b. Karakteristik Hewan Coba (Ningsih, 2009)
Pubertas
: 4 bulan
Masa beranak
: Mei September
Masa hamil
: 28-36 hari
Jumlah sekali lahir : 5-6 ekor
Lama hidup
: 8 tahun
Masa tumbuh
: 4-6 bulan
Masa laktasi
: 3 -4
Frekuensi kelahiran : 38,5-39,5
Pertahun
Suhu tubuh ((C)
: 50(- 6 0(
Tekanan darah
:5

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL

BAB III
METODE KERJA
3.1 Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah
batang pengaduk, sendok tanduk, gelas kimia, timbangan analitik,
gunting, kanula, kater, spoit, tabung efendrof dan vial.
3.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah
aquades, Alkohol, Betadine, parasetamol, NaCMC dan tissue.
3.3 Cara Kerja
1. Penyiapan hewan coba
Dipilih hewan coba tikus (Rattus norvegicus) yang terlebih
dahulu dipuasakan selama 6-8 jam lalu ditimbang berat
badannya.
2. Penyiapan bahan
a. Penyiapan larutan obat Paracetamol

Disiapkan obat paracetamol

Digerus tablet paracetamol dengan seksama

Ditimbang tablet paracetamol dan dihitung rata


ratanya

Ditimbang paracetamol yg akan dipakai sebanyak mg


Disuspensikan dengan Na-cmc sedikit demi sedikit hingga
larut lalu dicukupkan volumenya hingga 20 ml
3. Perlakuan hewan coba

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
Hewan coba tikus (Rattus norvegicus) yang telah
dipuasakan selama 24 jam, lalu ditimbang berat badannya
Dilakukan pengambilan darah awal pada ekor tikus
sebagai darah blanko sebanyak 0.5 mL
Lalu darah yang sudah diambil dimasukkan kedalam
tabung effendor.
DIberikan obat paracetamol secara oral menggunakan
spoit dan kanula.
Setelah diberikan obat didiamkan selama 30 menit
Dilakukan lagi pengambilan darah pada menit ke 30,
60,dan 90
Disentrifuge untuk memisahkan antara serum dan plasma
darah pada kecepatan 10.000 rpm selama 10 menit
Kemudian diukur absorbansinya.
Dihitung parameternya

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Data pengamatan
1. Kurva baku
Konsentrasi

Absorban

0,471

0,721

0,935

1,425

10
2. Data Sampel

1,655

Waktu

Absorban

0,533

0.641

0,729

1,425

10

1,582

12

1,023

14

0,894

16

0,719

18

0,495

20

0,329

B. Perhitungan
1. Kurva baku
a = 0,119
b = 0,153
r = 0,9899

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL

Waktu
(jam)

Absorban
(/mL)

Konsentrasi
plasma

Log Cp

0,533

2,705

0,432

0.641

3,411

0,532

0,729

3,986

0,600

1,425

8,535

0,931

10

1,582

9,514

0,978

12

1,023

5,908

0,771

14

0,894

5,065

0,704

16

0,719

3,921

0,593

HUSNUL
18 KHATIMAH
0,495 ULFA
15020120092

20

0,329

2,451
1,372

NUR
FADILLA PIKRI
0,389

0,137

ORAL
Diregresikan

2. K
Orde 0
a= 14,051
b= -0,637
r= -0,996
Orde 1
a= 2,425
b= -0,114
r= -0,998158

data tersebut mengikuti orde 1


K = -b x2,3
K =-(-0,114)2,3 =0,262 jam-1
3. t1/2

4. Ka

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL

,684=1,741
T

Cp lama

Log cp

Cp

2,705

2,197

157,398 154,693

2,189

3,411

1,969

93,110

89,699

1,952

3,986
1,741
55,080 52,094
a = 2,430
b = -0,120
r = -0,999964703
Ka = -bx2,3= -(-0,120)x2,3=0,276 jam -1

1,708

Cp diff

Log cp diff

5. tmax
t max =

= 3,571 jam

6. Vd ( Volume Distribusi )
Vd =

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL

= 1069,537 ml

7. Cp max
Cp max= [A.

] [B.

= [Antilog 2,425 x
= [266,072 x

]
] [Antilog 2,430 x

] - [269,153 x

= [266,072x0,398] - [269,153x 0,373]


= 105,896 100,394
= 5,502 g/ml

Waktu (jam)

Absorban (/mL)

Konsentrasi
plasma

0,533

2,705

0.641

3,411

0,729

3,986

1,425

8,535

10

1,582

9,514

12

1,023

5,908

14

0,894

5,065

16

0,719

3,921

18

0,495

2,451

20

0,329

1,372

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

8. AUC
1.

NUR FADILLA PIKRI

ORAL

(tn-tn-1)

a.

(4-2) =6,116

b.

(6-4) =7,297

c.

(8-6) 12,521

d.

(10-8) =18,049

e.

(12-10) =15,422

f.

(14-12) =10,973

g.

(16-14) =8,986

h.

(18-16) = 6,372

i.

(20-18) = 3,8

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL

j.

(22-20) = 34,5

k.

(24-22) =29

l.

(26-24) =24,2

m.

(28-24) =20,4

= 59,1+75 + 82,2 +79,8 + 70,9+ 63,7 +59,1 + 47,9+ 40,8+

34,5+ 29 + 24,2 +20,4 = 676,44

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL

2.

3.

4. % AUC ekstrapolasi
% AUC ekstrapolasi =
<20%

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL

Pembahasan
Farmakokinetika mempelajari kinetika absorbsi obat, distribusi dan
eliminasi (yakni ekskresi dan metabolisme). Uraian dari distribusi dan
eliminasi obat sering diistilahkan sebagai disposisi obat.
Oleh karena itu penting bagi seorang praktian farmasi untuk
mengetahui dan mempelajari farmakokinetik dari suatu sediaan obat,
agar dapat mengetahui proses awal mula kerja awat sampai obat tidak
berefek dalam tubuh dan agar sediaan obat yang diberikan dapat
diketahui proses distribusi dan volume distribusinya secara intravena di
dalam tubuh.
Proses mulai dari masuknya obat ke dalam tubuh sampai
dikeluarkan kembali disebut farmakokinetik. Termasuk dalam proses
farmakokinetik ialah absorbsi, distribusi, biotransformasi / metabolisme
dan ekskresi obat. Untuk menghasilkan efek, suatu obat harus terdapat
dalam kadar yang tepat pada tempat obat itu bekerja. Unuk mencapai
tempat kerja, suatu obat harus melewati berbagai membran sel tubuh.
Parameter parameter farmakokinetika adalah sebagai berikut :
1) Minimum Effective Consentration (MEC)
2) Minimum Toxic Concentration (MTC)
3) Kadar puncak dalam plasma (Cpmaks)
4) Waktu kadar puncak dalam plasma (Tmaks)
5) Waktu paruh (t

6) Volume distribusi (Vd)


7) Waktu mula kerja obat (Onset)
8) Lama kerja obat (Durasi)
HUSNUL KHATIMAH ULFA
15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
9) Tetapan laju eliminasi (K atau Ke)
10) Tetapan laju absorbsi (Ka)
11) Klirens (Cl)
12) Area Under the Curve (AUC)
Hewan coba yang digunakan pada percobaan ini adalah Tikus
(Rattus norvegicus) karena tikus mempunyai fisiologi tubuh yang
hampir sama dengan manusia. Pada percobaan ini obat yang
digunakan adalah paracetamol tablet yang dilarutkan dengan NaCMC.
Langkah pertama yang dilakukan adalah tikus dibersihkan agar
mendapatkan sampel darah yang jelas saat dilakukan pengambilan
darah. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Dimasukkan
tikus dalam alat restrainer lalu digunting ujung ekor tikus kemudian
dimasukkan darah tikus dalam tabung eppendrof (sebagai darah awal).
Diberi obat paracetamol pada tikus secara oral sesuai dengan volume
pemberian Lalu diambil darah tikus pada menit 30, 60, 90.
Disentrifuge darah tikus pada menit 0 (darah awal), 30, 60, 90 dengan
kecepatan 10.000 rpm selama 10 menit dan ukur di spektrofotometer
untuk mendapatkan nilai absorban. Dicatat data dan hitung parameter
parameter farmakokinetiknya.
Berdasarkan hasil perhitungan dari data obat yang diberikan
secara oral, diperoleh parameter farmakokinetik sebagai berikut yaitu,
tetapan laju eliminasi (K) = 0,262 menit-1, waktu paruh (t ) = 2,645
menit, tetapan laju Absorbsi (Ka) = 0,469 menit-1, Tmax = 2,797 menit,

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
volume distribusi (Vd) = 3406,202 mL, AUC total = 92,497 g menit/mL
dan % AUC Ekstrapolasi = 5,6 %.
Karena hasil dari % AUC ektrapolasi tidak lebih dari 20% maka
bisa di anggap sebagai parameter karena tidak melebihi persyaratan
yang lebih kurang dari 20 % atau data tersebut valid.

DAFTAR PUSTAKA

Aiache, J.M. 1993. Farmasetika II Biofarmasi edisi 2.Airlangga


University Press : Surabaya. Hal : 6-8.
Ansel, H.C. 2004. Kalkulasi Farmasetik Panduan untuk Apoteker.
Penerbit buku kedokteran EGC: Jakarta. Hal: 125, 129.
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI . Jakarta.
Hal : 96, 65, 287.
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI . Jakarta.
Hal : 95.
Ganiswana, S.G. 2005. Farmakologi dan Terapi, Edisi V. Bagian
Farmakologi Fakultas Kedfokteran UI : Jakarta. Hal : 11,67, 673
Shargel, L. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan Edisi
HUSNUL KHATIMAH ULFA
15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL
II. Airlangga University Press: Surabaya. Hal : 17, 22, 24-26, 31-38,
52, 139-141, 144, 152
Tjay,T.H,dkk. 2010. Obat-Obat Penting. Edisi IV.Dirjen POM : Jakarta.
Hal : 4
Wahab, A.S. 1996. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15. Penerbit
Buku Kedokteran ECG: Jakarta. Hal 63.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Nurfina%20Aznam,%20SU.Apt.,Dr.
%20,%20Prof./Kimia%20Farmasi.pdf

LAMPIRAN
A. Daftar obat yang digunakan
1. Paracetamol tablet
B. Perhitungan dosis
Dik : Dosis obat 500 mg
Larutan stok 5 ml
Berat tikus: (I) 250 gram
(II)
Berat rata-rata obat 599,82 mg
Perhitungan dosis
Tikus 100 gram = 0,018 x 500 mg = 9 mg
tikus 100 g =

Perhitungan larutan stok

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI

ORAL

Perhitungan volume pemberian tiap tikus


1.
2. Perhitungan berat obat yang akan ditimbang

C. Skema Kerja
Tikus
Masukkan dalam alat destrener
Diambil darah tikus(sebagai darah awal)
Masukkan dalam tabung effendorf (diberi etiket menit 0)
Induksikan dengan obat Paracetamol yang telah dilarutkan dengan NaCMC

Oral (melalui mulut)


Diambil darah selanjutnya pada
(Menit 30 60 90 120)
Beri etiket
Centrfuge selama 10 menit dengan kecepatan 10000 rpm
Diukur nilai absorban pada alat spektro
Dihitung (Sesuai perhitungan)

HUSNUL KHATIMAH ULFA


15020120092

NUR FADILLA PIKRI