Anda di halaman 1dari 18

VARIASI SOMAKLONAL

MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teknik Khusus Pemuliaan Tanaman
Dosen Pengampu : Dr. Noer Rahmi Ardiarini, SP., M.Si.

Disusun Oleh:
Kelompok 2 Kelas A
Nur Irma R.

(12504020011055)

Rizky Rubiyanto

(125040200111059)

Hana Rizkyningtyas

(125040200111099)

Intan Erika Julianti

(125040200111144)

Idayanti

(125040200111174)

Sherly Fitri Van Anas

(125040200111200)

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wataala,
karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul
Variasi Somaklonal. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah
Teknologi Khusus Pemuliaaan Tanaman.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah
ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan
bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan
bagi kita semua.

Malang, 8 Mei 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i
DAFTAR ISI ...........................................................................................................ii
1. PENDAHULUAN...............................................................................................1
1.1 Latar Belakang.............................................................................................1
1.2 Tujuan...........................................................................................................2
2. TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................3
2.1 Variasi Somaklonal.......................................................................................3
2.2 Penyebab Variasi Somaklonal......................................................................4
2.3 Teknik Mendapatkan Variasi Somaklonal....................................................7
2.4 Variasi Somaklonal pada Tanaman.............................................................10
3. KESIMPULAN.................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................15

1. PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Penyediaan benih atau bibit dalam pengembangan suatu tanaman atau
dalam suatu proses produksi merupakan salah satu aspek yang sangat penting.
Proses produksi skala besar seperti perkebunan akan memerlukan bibit dalam
jumlah besar, bibit dari varietas unggul, seragam, bebas dari hama dan
penyakit, serta penyediannya kontinyu.
Varietas

unggul

yang

dihasilkan

pemuliaan

tanaman

secara

konvensional membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mendapatkannya,


sedangkan pertumbuhan manusia dan kebutuhannya akan pangan teru
menerus bertambah. Kemajuan teknologi yang ada saat ini dapat sangat
membantu usaha pembentukan varietas unggul tersebut dan relatif lebih
cepat. Kultur jaringan tanaman merupakan teknologi yang memungkinkan
membantu para pemulia tanaman dalam memperbanyak tanaman (Karp,
1995).
Dengan berkembangnya teknik kultur jaringan, kendala dalam
multiplikasi untuk beberapa jenis tanaman dapat diatasi. Teknik kultur
jaringan ini pada mulanya ditujukan untuk membuktikan kebenaran teori
totipotensi, yang selanjutnya berkembang untuk penelitian dibidang fisiologi
tanaman, dan biokimia.
Pada hakekatnya teori totipotensi ini tidak salah tetapi pada
kenyataannya telah dapat dibuktikan adanya penyimpangan dari pembelahan
sel, dampak yang diperoleh dari kejadian tersebut adalah terjadinya variasi
kromosom didalam jenis tanaman yang sama, jumlah kromosom yang
berkurang, somatik yang menyusut dan subtitusi kromosom. Akibat dari
kejadian-kejadian inilah yang menyebabkan terjadinya variasi somaklonal.
Variasi somaklonal digunakan untuk memperoleh tanaman potensial dengan
sifat-sifat yang diinginkan. Variasi somaklonal ada yang diwariskan (stabil)
dan ada yang tidak diwariskan. Variasi somaklonal yang stabil merupakan
salah suatu peluang untuk mendapatkan keragaman genotipe tanaman tanpa
harus melakukan persilangan.

1.2

Tujuan
1. Untuk mengetahui keragaman yang disebabkan oleh variasi somaklonal
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya variasi
somaklonal
3. Untuk mengetahui teknik mendapatkan variasi somaklonal
4. Untuk mengetahui variasi somaklonal yang terjadi pada beberapa tanaman

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Variasi Somaklonal
Kultur jaringan tanaman merupakan teknologi yang membantu para
pemulia tanaman dalam memperbanyak tanaman (Karp, 1995). Teknik ini
juga digunakan untuk meningkatkan kecepatan atau efisiensi proses
pemuliaan, meningkatkan aksesibilitas terhadap plasma nutfah, dan
mengkreasi variasi baru untuk perbaikan tanaman (Scowcroft et al., 1985).
Hal tersebut termasuk mikropropagasi, kultur anther (Karp, 1995), seleksi in
vitro (Moon et al., 1997), penyelamatan embrio (embryo rescue), variasi
somaklonal (Maralappanavar et al., 2000), hibridisasi somatik (Thrope,
1990), dan transformasi (Walden dan Wingender, 1995). Dalam hal ini,
variasi somaklonal menduduki posisi yang unik, karena keuntungan dan
kerugiannya dalam sistem kultur jaringan (Riduan, 2007).
Variasi somaklonal pertama kali dikemukakan oleh Larkin dan
Scowcroft, yang didefinisikan sebagai keragaman genetik dari tanaman yang
dihasilkan melalui kultur sel, baik sel somatik seperti sel daun, akar, dan
batang, maupun sel gamet. Variasi tersebut dapat berasal dari keragaman
genetik eksplan yang digunakan atau yang terjadi dalam kultur jaringan.
Variasi somaklonal yang terjadi dalam kultur jaringan merupakan hasil
kumulatif dari mutasi genetik pada eksplan dan yang diinduksi pada kondisi
in vitro. Variasi somaklonal merupakan perubahan genetik yang bukan
disebabkan oleh segregasi atau rekombinasi gen, seperti yang biasa terjadi
akibat proses persilangan. Thrope (1990) menggunakan istilah pre-existing
cellular genetic, yaitu keragaman yang diinduksi oleh kultur jaringan.
Keragaman ini dapat muncul akibat penggandaan dalam kromosom (fusi,
endomitosis), perubahan jumlah kromosom (tagging dan nondisjunction),
perubahan struktur kromosom, perubahan gen, dan perubahan sitoplasma
(Yunita, Rossa. 2009).
Dasar variasi somaklonal belum sepenuhnya dimengerti dengan baik,
tetapi dicurigai bahwa perubahan kromosom, aktifitas tronsposon, perubahan
status metilasi DNA, dan mutasi titik merupakan faktor-faktor penyebabnya
(Thrope, 1990). Variasi somaklonal yang terjadi pada kultur jaringan

ditenggarai oleh sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap variasi yang


dihasilkan dan seberapa banyak variasi yang dihasilkan.
2.2

Penyebab Variasi Somaklonal


Variasi somaklonal pada dasarnya terjadi akibat peristiwa mutasi, yaitu
perubahan suatu karakter yang diwariskan yang disebabkan oleh berubahnya
pembawa sifat menurun (inherited trait) baik pada tingkat DNA atau gen
yang disebut juga mutasi kecil atau mutasi titik, maupun pada tingkat
kromosom yang disebut juga mutasi besar. Oleh karena itu, mekanisme
kejadiannya hampir sama dengan efek mutagenesis konvensional (radiasi),
yakni bersifat acak dan keragaman yang dihasilkan nya dapat bermanfaat atau
kurang bermanfaat, bahkan mungkin rnerugikan.
Faktor- faktor yang mempengaruhi variasi somaklonal menurut Karp
(1995) adalah :
1. Tingkat pertumbuhan awal organ meristematik
Pertumbuhan di dalam kultur dapat terjadi dari meristem yang
sudah dibentuk atau dari bentuk yang tidak teratur sebagai kalus yang
dihasilkan, dari embriogenesis somatik atau organogenesis. Tingkat
pertumbuhan awal organ merupakan elemen kunci dalam variasi
somaklonal, diduga bahwa dalam pertumbuhan yang tidak teratur, terjadi
penahanan

(pengurangan)

pembatasan

yang

bertindak

untuk

mengeleminasi variasi genetik dalam meristem normal atau karena adanya


mekanisme induksi ketidakstabilan genetik. Di pihak lain, semakin besar
tingkat pertumbuhan organ dan semakin lama waktu yang digunakan
tumbuh di media,maka semakin besar perubahan yang terjadi sebagai hasil
variasi somaklonal.
2. Konstitusi genetik material awal
Banyak bukti mengindikasikan

bahwa

variasi

somaklonal

tergantung pada genotipe tanaman darimana eksplan berasal. Pada tahun


1982, McCoy telah meneliti pengaruh faktor genetik eksplan pada dua
kultivar oat, dimana salah satu kultivar memberikan frekuensi keragaman
jumlah kromosom yang lebih tinggi dibanding dengan kultivar lainnya.
Genotipe merupakan faktor penting di dalam menimbulkan variasi
4

somaklonal, karena genotipe dapat mempengaruhi frekuensi regenerasi


dan frekuensi variasi somaklonal yang terjadi. Elemen genotipik
merupakan aspek penting untuk identifikasi, karena pemulia tanaman yang
menggunakan variasi somaklonal sebagai alat dalam galur atau kultivar
tertentu dan untuk mengetahui apakah genotipe sebagai penentu
variabilitas.
Beberapa genom dapat lebih tidak stabil dibanding tanaman yang
lainnya. Perbandingan suspensi sel diploid, tetraploid, hexaploid gandum
memperlihatkan bahwa sel yang diploid lebih stabil dan yang heksaploid
paling rendah kestabilannya. Selanjutnya genom yang membawa elemen
loncat (transposable elements) diperkirakan lebih tidak stabil dalam kultur
dibanding yang tidak membawa elemen tersebut. Bukti tentang perubahan
aktivitas transposon sebagai hasil kultur jaringan telah dilaporkan oleh
Peschke et al. (1991), tetapi tidak semua perubahan yang terjadi pada
kultur jaringan tanaman (yang mempunyai transposon) dicirikan oleh
perpindahan transposon.
3. Zat pengatur tumbuh di dalam medium kultur
Banyak bukti menunjukkan bahwa variasi somaklonal dipengaruhi
oleh pemilihan jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh di dalam media.
Kemungkinan zat pengatur tumbuh tersebut bertindak seperti mutagen.
Konsentrasi garam-garam nutrien yang tinggi seperti kalsium dan EDTA
pada media kultur tampaknya meningkatkan ketidaknormalan kromosom
pada kultur sel. Selanjutnya, konsentrasi sukrosa yang tinggi (10 atau 20
sampai 30 g L-1) dapat menginduksi poliploidisasi sel kalus yang
dihasilkan dari lini dihaploid dan tetraploid. Auksinsintetik, 2,4-D (2,4dichlorophenoxyacetic acid) mampu meningkatkan mutasi sistem stamen
pada Tradescantia dan erat kaitannya dengan keragaman tanaman
regenerasi pada. Demikian pula penggunaan 2,4-D dan NAA dalam media
kultur kentang juga meningkatkan frekuensi tanaman abnormal. Kondisi
kultur dengan media yang mengandung auksin kuat dapat mengimbas
proses dedifirensiasi, sehingga kromosom menjadi tidak stabil dan
mengganggu siklus mitosis serta replikasi DNA. Ketidakstabilan ini

diduga karena benang-benang (spindle) kromosom tidak normal sehingga


terjadi keragaman kromosom dalam jenis tanaman yang sama.
Zat pengatur tumbuh mempengaruhi variasi somaklonal selama fase
kultur melalui efeknya pada pembelahan sel, tingkat pertumbuhan yang
tidak beraturan (fase pengkalusan), dan proliferasi selektif sel spesifik.
Dalam hal ini terdapat hubungan yang erat antara keberadaan zat pengatur
tumbuh dengan lamanya periode kultur, yaitu fase kalus.
4. Sumber Jaringan atau Eksplan
Sumber eksplan merupakan sumber yang sangat penting dalam
menginduksi variasi somaklonal. Karena jaringan yang berbeda dapat
menimbulkan frekuensi variasi somaklonal. Semakin tua atau semakin
khusus suatu jaringan, maka akan semakin besar variasi yang diperoleh
dari tanaman yang diregenerasikan. Penggunaan daun, tangkai daun atau
batang kentang melalui fase kalus dapat meningkatkan keragaman
somaklonal.Pada tanaman Solanum brevidens mendapatkan 70% tanaman
yang diregenerasikan dari kotiledon dan 20% dari potongan daun adalah
tetraploid. Pada Chrysanthemum, tanaman yang diregenerasikan dari petal
lebih mampu berbunga dan lebih tinggi ketidaknormalannya daripada
tanaman yang dihasilkan dari pedikel. Eksplan yang berasal dari daun atau
bagian daun memberikan keragaman genetik yang lebih besar daripada
eksplan dari bagian tanaman lainnya. Dari pengujian lapang pendahuluan
di Gabon menunjukkan bahwa tanaman ubi rambat (Ipomoea batatas L.)
yang berasal dari kultur protoplas menghasilkan variabilitas genetik yang
besar dalam pertumbuhan dan pembentukan umbinya dibandingkan
tanaman hasil kultur eksplan.
Tanaman kentang yang berbeda mempunyai tingkat ploidi yang
berbeda pula. Perbedaan tersebut terjadi karena enderoduplikasi pada
beberapa bagian tanaman sehingga menghasilkan polisomatik. Dari hasil
penelitian menunjukkan bahwa frekuensi mutasi pada tanaman kentang
yang diregenerasikan tanpa mutagen dari eksplan tangkai dan daun
mencapai sekitar 12,3% sampai 50,3%.
5. Lamanya planlet dalam kultur In Vitro

Telah diyakini secara luas bahwa masa kultur in vitro yang lama
dapat menyebabkan jumlah kromosom beragam. Semakin lama periode
kultur akan menyebabkan frekuensi aberasi kromosom akan semakin
meningkat. Meningkatnya abnormalitas kromosom tersebut karena tidak
terorganisasinya pertumbuhan kalus. Tanaman Avena sativa mengalami
peningkatan frekuensi tanaman yang abnormal sitogenetik secara dramatis
dengan bertambahnya periode kultur, karena terjadi pematahan kromosom,
kehilangan kromosom, perubahan dalam kromosom, dan aneuploidi.
Korelasi antara lamanya kultur in vitro dan akumulasi perubahan
kromosom pertama kali ditemukan pada Daucus carota, di mana kultur sel
berisi banyak sel-sel abnormal dan dapat beregenerasi menjadi tanaman.
2.3

Teknik Mendapatkan Variasi Somaklonal


Ada tiga cara untuk mendapatkan tanaman somaklonal yaitu :
regenerasi langsung, kultur sel tunggal, kultur protoplasma.
1. Regenerasi Langsung
Teknik regenerasi tanaman melalui kultur jaringan berdasar pada
konsep totipotensi yang diajukan oleh Haberlandt pada tahun 1902.
Percobaan awal adalah untuk menumbuhkan potongan bagian tanaman,
termasuk kultur akar (White, 1934) dan kultur ujung batang (shoot tip)
atau kuncup ketiak (axillary bud) untuk mikropropagasi. Percobaan
setelahnya

adalah

regenerasi

seluruh

bagian

tanaman

melalui

embriogenesis somatik dari kultur jaringan kallus wortel, serta regenerasi


seluruh bagian tanaman dari sel tunggal tembakau.
Pada waktu yang sama Miller (1955) melaporkan bahwa
penambahan rasio auksin dan sitokinin yang tepat dalam nutrisi medium
dapat menginduksi regenerasi tanaman dalam kultur. Musharagie dan
Skoog (1962) mengembangkan formulasi nutrisi mineral yang telah
disempurnakan berdasar pada analisis komposisi daun tembakau, yang
dapat mendukung pertumbuhan dan pembelahan sel dan jaringan
tembakau. Saat ini medium tersebut dikenal dengan nama MS, dan telah
memberikan kontribusi yang sangat besar pada teknik kultur jaringan
tanaman.
7

Dalam perkembangan selanjutnya, ditemukan teknik transfer gen


dan regenerasi tanaman transgenik yang dimediasi oleh Agrobacterium,
yang terbukti sangat berguna dalam proses introduksi sifat agronomis yang
diinginkan pada tanaman transgenic. Penemuan tersebut mempertegas
pentingnya pemanfaatan teknik kultur jaringan tanaman dalam berbagai
penelitian, sejalan dengan usaha pemuliaan tanaman menggunakan
bioteknologi.
Pada cara ini pemilihan eksplan dan media memegang peranan
penting. Pemilihan eksplan untuk mendapat keragaman genetic juga
penting didalam proses morfogenesis, media terutama untuk menghasilkan
tunas atau embrio somatik. Pada tanaman kentang eksplan yang berasal
dari daun lebih banyak memberikan keragaman genetic dari bagian
eksplan lainnya. Keragaman somaklonal dapat ditingkatkan dengan
pemberian mutagen pada eksplan, baik secara fisik maupun secara kimia.
Pemberian mutagen pada eksplan akan menghasilkan mutan utuh (solid
mutan) sedangkan pemberian mutagen pada kalus akan menghasilkan
mutan parsial (chimeric mutan), pemuliaan in vitro dengan cara regenerasi
langsung relative lebih mudah dibandingkan cara in vitro lainnya. Cara ini
dapat dilakukan pada berbagai jenis bunga seperti : mawar, garbera,
dianthus, anthurium, petunia, dll.
2. Kultur Sel Tunggal
Kultur sel adalah sel yang dapat hidup secara in vitro dan masih
mempunyai sifat-sifat mirip dengan sel intak/sel asalnya. Lepas dari
pengaruh sistemik, sel-sel tertentu mengadakan proliferasi tetapi masih
dalam keadaan tidak terdiferensiasi. Kultur sel dapat dipakai untuk
bermacam

penelitian,

misalnya

antara

lain

antivitas

intraseluler,

intraseluler flux, ekologi sel, dan interaksi antar sel.


Prosedur seleksi melalui kultur sel dimulai dari penanaman dan
pemilihan eksplan, induksi kalus, isolasi sel, penebaran sel, induksi tunas
adventif, dan pemindahan kelapangan, genotip dan umur tanaman untuk
dijadikan eksplan sangat menentukan proses selanjutnya ( pembentukan
kalus dari regenerasi tunas). Selain factor eksplan, factor media sangat
8

menentukan keberhasilan organogenesis. Mulai dari penanaman eksplan


sampai perakaran tunas terdapat enam macam media, yang terutama
berbeda di dalam komposisi ZPT.
Seleksi dengan mempergunakan kultur sel ini adalah cara yang
diinginkan pada seleksi in vitro tanaman bunga. Kultur sel mirip dengan
kultur protoplasma tapi jauh lebih sederhana dari kultur protoplasma.
3. Kultur Protoplasma
Kultur protoplasma merupakan salah satu cara untuk memperbaiki
major gen atau poligen yang defektif pada kultivar yang ada. Sifat-sifat
dari major gen itu berupa ketahanan terhadap penyakit, toleransi terhadap
stress dan sifat-sifat morfologi tertentu.
Cara ini dilakukan untuk memperbaiki sifat beberapa jenis tanaman,
terutama pada tanaman kentang, petunia, dan tomat, Sifat-sifat yang
diperbaiki pada tanaman kentang berupa ketahanan terhadap penyakit,
toleransi terhadap stress, bentuk dan warna kulit umbi serta sifat
morfologis lainnya. Protoplas adalah sel yang telah dihilangkan dinding sel
secara ensimatik atau sel telanjang.
Urutan di dalam kerja protoplas adalah :
-

Penyiapan eksplan

Isolasi dan purifikasi protoplas

Penebaran protoplas

Rebenerasi protoplas kalus

2.4

Variasi Somaklonal pada Tanaman


1. Stroberi
Salah satu cara mengembangkan kultivar stroberi di daerah tropis
dengan menginduksi variasi somaklonal dan seleksi varian yang stabil
(heritable). Pada penelitian Biswas et al. (2009), untuk menginduksi
variasi somaklonal stroberi digunakan teknik kultur jaringan yang berbedabeda.
a. Teknik Kultur Jaringan
Untuk persediaan bahan tanam Biswas et al. (2009) melakukan
pemilihan tanaman stroberi (Fragaria x ananassa Duch.) yang
memiliki pertumbuhan yang baik sebagai bahan untuk kultur jaringan.
Kemudian dilakukan teknik kultur jaringan yang berbeda-beda
diantaranya adalah kultur meristem, subkultur 2 kali, subkultur 12 kali,
organogenesis langsung, kultur kalus, dan Somatik embriogenesis (SE).
Selanjutnya tanaman hasil kultur jaringan ditanam di lahan dan
dilakukan pemilihan terhadap variasi somaklonal yang terbentuk.
Tahapan yang dilakukan Biswas et al., 2009 meliputi induksi variasi
somaklonal melalui kultur jaringan, pemilihan somaklon di lapangan,
perbanyakan somaklon, perbanyakan somaklon, pemilihan somaklon
terbaik dan stabil, perbanyakan di lapangan, dan uji molecular RAPD.
Pada teknik kultur jaringan lainnya, Mohamed (2007) menggunakan
ujung tunas dari stolon yang di subkultur pada umur satu bulan untuk
menginduksi variasi somaklonal. Pada penelitian Kumar et al., (1999)
induksi variasi somaklonal menggunakan stroberi frigo memberikan
hasil vigor yang lebih rendah. Nehra et al., (1994) menemukan 2
kultivar stroberi memiliki pertumbuhan yang berbeda melalui kultur
kalus yang berasal bukan dari jaringan meristem.

b. Somaklon Dari Kultur Jaringan


Berdasarkan hasil penelitian Biswas et al., (2009), dalam
kebanyakan kasus somaklon lebih vigor dari pada kontrol. Tangkai
daun lebih pendek dan tebal dan lamina relatif lebih besar dari kontrol.
Sebagian besar daun berwarna hijau muda dan jumlah daun lebih
10

sedikit dari kontrol. Berdasarkan tabel 3, tanaman regenerasi dari SE


memiliki ukuran kanopi lebih besar dari kontrol secara signifikan.
Semua tanaman invitro berbunga lebih lambat dari pada kontrol (tabel
1). Namun, sebagian besar tanaman memiliki jumlah bunga per
tanaman dan jumlah buah yang lebih banyak dari 9 pada kontrol.
Tandan bunga somaklon lebih bercabang dari pada kontrol tetapi
jumlah tandan per tanaman lebih sedikit dari pada kontrol. Variasi lain
yang dapat dibedakan terdapat pada SE yang menghasilkan buah lebih
besar dari somaklon lain dan kontrol. Sebagian besar somaklon
menghasilkan buah dengan tekstur yang berbeda dibandingkan dengan
kontrol (gambar 1. O-U).
Tabel 1. Data pertumbuhan klon dari kultur jaringan di lapangan
Metode
Kultur
meristem
Subkultur 2
kali
Subkultur 12
kali
Organogenesis
langsung
Kultur kalus
SE
Kontrol

Ukuran
kanopi
(cm)
24,83
0,87bc
24, 33
0,80bc
25,33
0,84b
22,17
0,95c
22,33
0,67c
30,83
0,98a
24,50
1,18bc

Jumlah
stolon

Umur
berbunga

7,50
0,76a
7,67
0,76a
7,83
0,70a
3,83
0,91b
4,83
0,83b
5,67
0,71ab
3,67
0,88b

79,50
3,41b
78,83
2,48b
78,83
1,91b
88,17
3,20a
89,67
1,91b
84,00
2,99ab
65,17
2,36c

Jumlah
bunga per
tanaman
29,67
1,20a
28,50
2,64a
27,17
1,30a
29,33
2,40a
28,17
2,39a
21,50
0,76b
22,00
0,82b

Jumlah
buah per
tanaman
9,33
0,56a
9,17
0,70a
9,17
0,48a
8,83
0,95a
8,50
0,85a
5,50
0,76b
9,50
0,67a

Rata-rata
bobot per
buah
19,39
1,67a
19,74
2,43a
19,82
1,82a
18,45
2,11a
19,39
1,94a
18,70
1,82a
12,20
1,64b

Persentase
hidup
51,67
2,03a
53,67
1,45a
54,50
2,35a
33,67
3,44b
36,00
2,31b
35,83
1,40b
38,33
2,12b

Pada tabel 2 hasil dari evaluasi di lahan menunjukkan bahwa


frekuensi struktur daun tertinggi terdapat pada subkultur 12 kali dan SE.
Variasi tandan bunga dan variasi ukuran buah tertinggi terdapat pada
subkultur ke-12. Secara keseluruhan, variasi terbanyak terdapat pada
subkultur ke-12 yaitu sebanyak 120 varian. Dari pemilihan dilapangan
berdasarkan sifat-sifat unggul yang terkait dengan produksi, dipilih 25.
Hasil dari performa lapangan dari somaklon terpilih mengungkapkan 20%
(5 dari 25) somaklon tidak dapat bertahan di lapangan dalam berbagai
kondisi iklim, 32% ( 8 dari 25) klon memiliki pertumbuhan yang buruk,

11

36% (9 dari 25) kembali pada fenotip asalnya, dan 12% (3 dari 25)
memiliki pertumbuhan yang baik.
Tabel 2. Frekuensi varian fenotipe pada populasi tanaman regenerasi
Metode

Jumlah
tanaman
regeneras
i

Variasi
struktur
daun

Variasi
tandan
bunga

Variasi
ukuran
buah

Total
variasi

Jumlah
somaklo
n terpilih

568

15(2,64)

4(0,70)

33(5,81)

52(9,15)

Kultur
meristem
Subkultur 2
kali
Subkultur 12
kali
Organogenesis
langsung
Kultur kalus
SE

943

9(0,95)

4(0,42)

23(2,44)

36(3,82)

1154

22(1,91)

19(1,65)

79(6,85)

120,
(10,40)

10

543

8(1,47)

7(1,29)

25(4,60)

40(7,37)

673
745

11(1,63)
19(2,55)

7(1,04)
11(1,48)

34(5,05)
49(6,58)

52(7,37)
79(10,60)

2
6

Total

4626

84(1,82
)

62(1,34
)

243(5,25
)

389(8,41)

25

*Angka yang ada didalam tanda kurung merupakan persentase dari variasi somaklonal.

Gambar 1. Sifat kuantitatif somaklon.


Pada tahap pemilihan ke-2, somaklon yang terpilih yaitu kultur
meristem, subkultur 12 kali, dan somatik embriogenesis (SE), selanjutnya
diperbanyak melalui kultur jaringan untuk mengetahui kestabilan genetiknya
dan selanjutnya dievaluasi lagi dilapangan. Kemudian 3 somaklon tersebut
diperbanyak menggunakan stolon selama 2 generasi.
Untuk induksi variasi somaklonal, konsentrasi BAP yang tinggi
diberikan untuk menumbuhkan tunas adventif dari eksplan. Dalam jumlah
12

yang tinggi, BAP menyebabkan variasi dan telah banyak digunakan untuk
menginduksi variasi somaklonal pada tanaman yang berbeda. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa tanaman regenerasi memiliki bobot per buah, ukuran
buah dan persen bertahan hidup lebih tinggi dari pada kontrol (Tabel 3).
Beberapa variasi kembali kesifat aslinya, pada generasi berikutnya
menunjukkan sifat epigenetiknya. Pada penelitian Biswas et al. (2009),
dihasilkan 3 somaklon yang memiliki sifat-sifat unggul dan bersifat stabil
diantaranya adalah somaklon yang berasal dari kultur meristem, subkultur 12
kali, dan SE.
Tabel 3. Pertumbuhan 3 somaklon dari 6 populasi
Klon

Asal klon

varian 1

kultur meristem
subkultur 12
kali
SE

varian 2
varian 3
kontrol

18a

Jumlah
buah per
tanaman
11b

16b

10b

18,63b

82%

12b
20a

8c
13a

21,29a
10,87c

81%

Jumlah bunga
per tanaman

Rata-rata
bobot buah

Persentase
hidup

12,18c

79%

Gambar 2. Perbedaan fenotipe dari 3 variasi somaklonal terpilih dan


kontrol
13

3. KESIMPULAN
Variasi somaklonal pertama kali dikemukakan oleh Larkin dan Scowcroft
(1981) dalam Kadir (2007), yang didefinisikan sebagai keragaman genetik dari
tanaman yang dihasilkan melalui kultur sel, baik sel somatik seperti sel daun,
akar, dan batang, maupun sel gamet. Ada tiga cara untuk mendapatkan tanaman
somaklonal yaitu regenerasi langsung, kultur sel tunggal, kultur protoplasma.
Variasi somaklonal dalam kultur jaringan terjadi akibat penggunaan zat pengatur
tumbuh dan tingkat konsentrasinya, lama fase pertumbuhan kalus, tipe kultur yang
digunakan (sel, protoplasma, kalus jaringan), serta digunakan atau tidaknya media
seleksi dalam kultur in vitro.

14

DAFTAR PUSTAKA
Biswas, M.K., M. Dutt, U.K. Roy. R. Islam, M. Hossain. 2009. Development and
evaluation of in vitro somaclonal variation in strawberry for improved
horticultural traits. Scientia Horticulturae 122: 409416.
Karp, A. 1995. Somaclonal variation as a tool for crop improvement. Euphytica
85: 295-302.
Kumar, Mohan B., Reed E. Barker, and Barbara M. Reed. 1999. Morphological
and molecular analysis of genetic stability in micropropagated Fragraria x
ananassa cv. Pocahontas. In Vitro Cell. Dev. Biol. Plant 35 : 254-258.
Mohamed, Adel El-Sawy. 2007. Somaclonal variation in micropropagated
strawberry detected at the molecular level. International Journal of
Agrculture & Biology 9(5): 721725.
Moon, D. H., L. M. M. Oftoboni, A. P. Souza, S. T. Silbov, M. Gaspar dan P.
Arruda. 1997. Somaclonal variation induced aluminum sensitive mutant
from an aluminum inbreed maize tolerant line. Plant Cell Reports 16.
Riduan, Ahmad. 2007. Variasi Somaklonal Sebagai Salah Satu Sumber
Keragaman Genetik Untuk Perbaikan Sifat Tanaman. Jurnal Agronomi, 11
(2) : 107112
Thrope, T. A. 1990. The Current Status of Plant Tissue Culture. Elsevier Science
Publishers, Amsterdam.
Yunita, Rossa. 2009. Pemanfaatan Variasi Somaklonal dan Seleksi In Vitro dalam
Perakitan Tanaman Toleran Cekaman Abiotik. Jurnal Litbang Pertanian, 28
(4) : 142148

15