Anda di halaman 1dari 20

Kekuatan Hukum Yang Berlaku Di Indonesia

Dan Aplikasi Kekuatan Hukum Di Indonesia

Oleh : Kelompok 3
1. Tri Nugroho
2. Sri Purwandari
3. Niaputri Nilam Sari
4. Fitria Khusnul
Fadila
5. Yeyen Retno
Maulida
6. Iwan Fauzi

Apa itu hukum?


Menurut Mr. E.M. Mayers, hukum adalah semua aturan yang
mengandung pertimbangan kesusilaan ditinjau kepada tingkah laku
manusia dalam masyarakat dan yang menjadi pedoman penguasapenguasa negara dalam melakukan tugasnya.
Plato, dilukiskan dalam bukunya
Republik. Hukum adalah sistem
peraturan-peraturan yang teratur
dan tersusun baik yang mengikat
masyarakat.

Macam-macam Hukum
di Indonesia

1. Hukum Perdata
Hukum perdata Indonesia merupakan Salah satu bidang hukum yang
mengatur hak dan kewajiban yang dimiliki pada subyek hukum dan
hubungan antara subyek hukum. Hukum perdata disebut pula hukum
privat atau hukum sipil sebagai lawan dari hukum publik.
Hukum perdata yang berlaku di Indonesia adalah hukum perdata barat
(Belanda) yang pada awalnya berinduk pada Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata yang aslinya berbahasa Belanda atau dikenal dengan
Burgerlijk Wetboek dan biasa disingkat dengan B.W. Sebagian materi
B.W. sudah dicabut berlakunya & sudah diganti dengan Undang-Undang
RI.
Dalam Hukum perdata terdapat 2 kaidah, yaitu :
1. Kaidah tertulis
Kaidah-kaidah hukum perdata yang terdapat di dalam peraturan
perundang-undangan, traktat, dan yurisprudensi.
2. Kaidah tidak tertulis
Kaidah-kaidah hukum perdata yang timbul, tumbuh, dan berkembang
dalam praktek kehidupan masyarakat (kebiasaan)

Keadaan Hukum Perdata di Indonesia


Kondisi Hukum Perdata di Indonesia dapat dikatakan masih bersifat
majemuk yaitu masih beranekaragam. Penyebab dari keaneka ragaman ini
ada 2 faktor yaitu:
Faktor Ethnis, disebabkan keanekaragaman Hukum Adat Bangsa
Indonesia, karena negara kita Indonesia ini terdiri dari berbagai suku
bangsa.
Faktor Hostia Yuridis, yang dapat kita lihat, yang pada pasal 163.I.S.
yang membagi penduduk Indonesia dalam tiga Golongan, yaitu:
Golongan Eropa dan yang dipersamakan
Golongan Bumi Putera (pribumi / bangsa Indonesia asli) dan yang
dipersamakan.
Golongan Timur Asing (bangsa Cina, India, Arab).

2. Hukum Pidana
Hukum Pidana adalah semua aturan yang mempunyai perintah dan
larangan yang memakai sanksi (ancaman) hukuman bagi mereka yang
melanggarnya.
Hukum pidana indonesia terbagi atas 2 macam, yaitu :
a. Hukum pidana materiil, mengatur tentang penentuan tindak pidana,
pelaku tindak pidana, dan pidana (sanksi). Di Indonesia, pengaturan
hukum pidana materiil diatur dalam kitab undang-undang hukum
pidana (KUHP).
b. Hukum Pidana Formil, mengatur tentang pelaksanaan hukum pidana
materiil. Di Indonesia, pengaturan hukum pidana formil telah disahkan
dengan UU nomor 8 tahun 1981 tentang hukum acara pidana
(KUHAP).

Sumber sumber Hukum pidana :


Sumber hukum tertulis dan terkodifikasi
a. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)
b. Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
. Sumber hukum tertulis dan tidak terkodifikasi
a. Undang-undang Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika
b. Undang-undang Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika
c. Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi

3. Hukum Tata Negara


Hukum tata negara adalah hukum yang mengatur tentang negara, yaitu
antara lain dasar pendirian, struktur kelembagaan, pembentukan
lembaga-lembaga negara, hubungan hukum (hak dan kewajiban) antar
lembaga negara, wilayah dan warga negara.
Hukum tata negara mengatur mengenai negara dalam keadaan diam
artinya bukan mengenai suatu keadaan nyata dari suatu negara tertentu
(sistem pemerintahan, sistem pemilu, dll dari negara tertentu) tetapi lebih
pada negara dalam arti luas.
Asas-asas hukum tata tenaga :
a. Asas pancasila
b. Asas negara hukum dan demokrasi
c. Asas kesatuan
d. Asas pembagian kekuasaan dan check balances
e. Asas Legalitas

4. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN)


Hukum Acara PTUN (administrasi negara) adalah seperangkat peraturanperaturan yang memuat cara bagaimana orang harus bertindak terhadap dan
dimuka pengadilan, serta cara pengadilan bertindak satu sama lain untuk
menegakkan peraturan HAN (materiil).
Sengketa tata usaha negara dikenal dengan 2 macam cara, antara lain :
1. Melalui Upaya Administrasi (pasal 48 jo pasal 51 ayat 3 UU no. 5
tahun 1986).
a. Banding Administratif, yaitu penyelesaian upaya administrasi yang
dilakukan oleh instansi atasan atau instansi lain dari yang mengeluarkan
Keputusan yang bersangkutan.
b. Keberatan, yaitu penyelesaian upaya administrasi yang dilakukan sendiri
oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan Keputusan
itu.
2. Melalui Gugatan (pasal 1 angka 5 jo pasal 53 UU no. 5 tahun 1986)
Apabila di dalam ketentuan perundang-undangan yang berlaku tidak ada
kewajiban untuk menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara tersebut melalui
Upaya Administrasi, maka seseorang atau Badan Hukum Perdata tersebut
dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara.

5. Hukum Acara Perdata Indonesia


Menurut Prof. Dr. Sudikno mertokusumo, SH . Hukum Acara
Perdata adalah peraturan Hukum yang mengatur bagaimana cara
ditaatinya Hukum perdata materiil dengan peraturan hakim. Hukum
Acara Perdata mengatur tentang bagaimana caranya mengajukan tuntutan
hak, memeriksa, memutuskan, dan pelaksanaan daripada putusannya.
Asas Hukum Acara Perdata :
1.Hakim bersifat menunggu
Dalam perkara perdata, inisiatif untuk mengajukan perkara kepengadilan
sepenuhnya terletak pada pihak yang berkepentingan.
2. Hakim dilarang menolak perkara
Bila suatu perkara sudah masuk ke pengadilan, hakim tidak boleh
menolak untuk memeriksa dan mengadili perkara tersebut, dengan alasan
hukumnya tidak atau kurang jelas.
3. Hakim bersifat aktif
Hakim membantu para pencari keadilan dan berusaha sekeras-kerasnya
untuk mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk tercapainya peradilan
yang sederhana, cepat dan biaya ringan.

4. Persidangan yang terbuka


Asas ini dimaksudkan agar ada kontrol sosial dari masyarakat atas
jalannya sidang peradilan sehingga diperoleh keputusan hakim yang
obyektif, tidak berat sebelah dan tidak.
5. Kedua belah pihak harus didengar
Dalam perkara perdata, para pihak harus diperlakukan sama dan
didengar bersama-sama serta tidak memihak.
6. Putusan harus disertai alasan
Bila proses pemeriksaan perkara telah selesai, maka hakim memutuskan
perkara tersebut yang memuat alasan-alasan yang menjadi dasar untuk
mengadilinya.
7. Sederhana, cepat dan biaya ringan
Sederhana yaitu acara yang jelas, mudah dipahami dan tidak berbelit-belit.
8. Obyektivitas
Hakim tidak boleh bersikap berat sebelah dan memihak. Para pihak dapat
mengajukan keberatan, bila ternyata sikap hakim tidak obyektif.
9. Hak menguji tidak dikenal
Hakim Indonesia tidak mempunyai hak menguji undang-undang. Hak ini
tidak dikenal oleh UUD.

6. Hukum Acara Pidana Indonesia


HAP (Hukum Acara Pidana) adalah bagian dari keseluruhan hukum yang
berlaku disuatu negara yang memberikan dasar-dasar dan aturan-aturan
yang menentukan dengan cara apa dan prosedur macam apa, ancaman
pidana yang ada pada suatu perbuatan pidana dapat dilaksanakan apabila
ada sangkaan bahwa orang telah melakukan perbuatan pidana. Hukum
acara pidana di Indonesia diatur dalam UU nomor 8 tahun 1981.
Tujuan Hukum Acara Pidana meliputi 3 hal :
1. Mencari dan mendapatkan kebenaran
2. Melakukan penuntutan
3. Melakukan pemeriksaan dan memberikan putusan
. Peristiwa Hukum
Jalur diketahui adanya tindak pidana (TP)
1. Pengaduan (Pasal 1 Butir 24 KUHP)
2. Laporan (Pasal 1 Butir 25 KUHP)
3. Tertangkap tangan (pasal 1 butir 19 KUHP)
4. Informasi Khusus

Asas-asas Hukum Acara Pidana


a. Asas Praga Tidak bersalah (presumption
of
b. Asas Peradilan Cepat
c. Asas Hak Ingkar
d. Asas pemeriksaan pengadilan terbuka
untuk Umum
e. Asas pengadilan
f. Asas Equal Before the law (Perlakuan
Yang sama didepan
g. Asas Bantuan Hukum
h. Asas pemeriksaan hakim yang langsung
dan lisan
i. Asas ganti Rugi dan rehabilitasi
j. Asas Pengawasan dan pengamatan
pelaksanaan putusan pengadilan
k. Asas kepastian jangka waktu

plikasi Kekuatan Hukum Indonesi

ragaman tradisi Hukum menciptakan Kompleksitas


Berdampak pada isu isu Aksebilitas dan Keadilan
Walaupun Konstitusi Indonesia secara gamblang menyatakan
Indonesia sebagai negara kesatuan yang berdasarkan pada
hukum, kerangka normatifnya memperbolehkan adanya hukum
negara, agama, dan adat yang dapat menjadi saling tumpang
tindih. Beberapa studi menyiratkan bahwa di mana terdapat
perbaikan kinerja lembaga penegakan hukum, dikarenakan
berbagai faktor, hukum tersebut tetap tidak dapat diakses oleh
sebagian besar masyarakat Indonesia.
Adanya aktor penyelesaian sengketa lokal, termasuk aparat desa
serta pemimpin adat dan agama, mengisi kekurangan tersebut
dengan adanya aksesibilitas dan legitimasi, namun acapkali
mengorbankan keadilan. Mereka memiliki keterbatasan soal
bagaimana menghadapi perempuan dan kelompok rentan,
termasuk di antaranya minoritas etnis. Batasan kewenangannya
juga tidak jelas.

Penguatan mekanisme
akuntabilitas, termasuk dalam
struktur pemerintahan lokal.
Pemberantasan korupsi terus menjadi platform
agenda pembangunan Indonesia. Adanya
peningkatan berarti pada pengeluaran publik di
level daerah setelah desentralisasi membutuhkan
mekanisme akuntabilitas yang kuat untuk
menjamin efektivitas pendayagunaan sumber
daya. Studi mengenai korupsi di tingkat lokal dan
berkaca pada pengalaman beberapa program
seperti PNPM, menunjukkan pentingnya peran
komunitas dan masyarakat sipil untuk memantau
kinerja pemerintah. Namun, masih terdapat
keterbatasan kapasitas, khususnya dalam hal
investigasi pelanggaran korupsi, pemahaman dan
pemantauan proses hukum, serta untuk
mengatasi ketimpangan relasi kekuasaan di

Kesadaran hukum dan akses


informasi hukum.
Nampaknya masyarakat miskin masih menghadapi
keterbatasan pemahaman soal isu-isu hukum,
termasuk kaitannya dengan hak-hak mereka. Hal
ini menyebabkan kemampuan mereka untuk
memperoleh dokumen-dokumen hukum pokok,
seperti akta kelahiran, KTP, dan surat nikah, serta
akses pelayanan pemerintah, seperti kesehatan
dan pendidikan, menjadi terbatas.

Memajukan pengembangan
kepastian hukum dan kebijakan
berbasis
pengalaman
Interaksi rumit
antara sistem
negara dan non-negara serta
menjamurnya peraturan perundang-undangan di tingkat
daerah dan nasional pasca desentralisasi mengakibatkan
terjadinya ketidakpastian pada kerangka hukum. Sebagai
contoh, kira-kira sebanyak 8% peraturan daerah yang
ditelurkan pada 2007 ditemukan tidak sesuai dengan
hukum nasional, yang mana Menteri Keuangan
memperkirakan adanya persentase yang lebih tinggi lagi
terhadap peraturan daerah yang terkait dengan pajak dan
retribusi. Karena itu, ada sebuah kebutuhan untuk
mendukung
harmonisasi, baik lintas level pemerintah maupun antara
mekanisme negara dengan non-negara. Untuk itu,
dibutuhkan pemahaman analitis yang kuat terhadap isu-isu
tersebut dan kumpulan bukti-bukti di lapangan, termasuk
mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan dan kendalakendala pada level lokal yang menjadi dasar bagi
pengembangan kebijakan.

Silahkan Bertanya