Anda di halaman 1dari 46

PENGELOLAAN AWAL PADA PENYAKIT INFEKSI PERNAFASAN

TBC,ASMA,FLU PADA KEHAMILAN


MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Dalam Mata Kuliah ASKEB IV (patologi kehamilan)

Disusun Oleh:
Ani Listiani
Diana
Novita Dewi Saputri
STIkes WIDYA DHARMA HUSADA
PRODI D3-KEBIDANAN
Jl. Surya Kencana No. 1 Pamulang
Tangerang Selatan Banten
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. karena limpahan


rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas kami.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas dalam mata
kuliah Askeb IV patologi kehamilan. Dengan adanya makalah ini diharapkan
dapat memberikan pengetahuan dan wawasan yang lebih baik kepada penulis
maupun kepada para mahasiswi kebidanan untuk lebih mengetahui
bagaimana cara pengelolaan awal pada penyakit infeksi pernafasan pada
kehamilan.
Dalam Makalah ini, penulis tidak lepas dari dukungan serta
pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis
ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu Siti Novy Romlah,SST selaku Kepala Program Studi D3
KebidananSTIkes Widya Dharma Husada Pamulang,yang telah memberi
dukungannya dalam penyusunan makalah ini.
2. Ibu Maria Ulfah,SST selaku Dosen Pembimbing dalam mata kuliah Askeb IV
patlogi kehamilan ,yang telah memberi banyak pengarahan dan pengajaran
dalam penyusunan makalah ini.
3. Bapak dan Ibu tercinta terima kasih atas dukungan, perhatian, pengorbanan,
kasih sayang, dan doa-nya kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini.
4. Serta teman-teman maupun semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini terdapat
kekurangan baik dari segi materi maupun teknik penulisan. Oleh karena itu
penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun. Segala
keterbatasan dan kekurangan dalam bentuk apapun yang mungkin ada dalam

makalah ini, penulis memohon maaf dan kiranya dapat dimaklumi dengan
bijaksana.

Pamulang, Maret 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.i
DAFTAR ISI...i
BAB I PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang...............................................

1.2.

1
Identifikasi Masalah.......................................

1.3.

2
Pembatasan Masalah

1.4.

2......................................................................
Manfaat penulisan..........................................

................................

3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Pengertian TBC..............................................

2.2.
2.3.

5
Etiologi dan faktor predisposisi.....................4
Tanda dan gejala............................................

2.4.

5
Patofisiologi TBC..........................................

2.5.

7
Deteksi dini....................................................

2.6.

8
Diagnosis........................................................

2.7.
2.8.
2.9.

8
Komplikasi pada ibu dan janin......................9
Penatalaksanaan TBC pada kehamilan..........11
Pencegahan TBC............................................

2.10. Prognosis
2.11. Pengertian Asma
2.12. Etiologi
2.13. Faktor presdiposisi

14
........................................................................14
........................................................................15
........................................................................15
........................................................................16
3

2.14. Tanda dan gejala


........................................................................17
2.15. Fatofisiologi `
........................................................................18
2.16. Komplikasi pada ibu dan janin............................................................18
2.17. Diagnosis asma bronkial.....................................................................21
2.18. Penatalaksanaan asma pada kehamilan...............................................21
2.19. Pencegahan
........................................................................22
2.20. Prognosis
........................................................................23
2.21. Pengertian flu
........................................................................23
2.22. Tanda dan gejala
........................................................................23
2.23. Cara penularan penyakit influenza......................................................24
2.24. Pencegahan penyakit influenza...........................................................24
2.25. Etiologi
........................................................................25
2.26. Faktor presdiposisi
........................................................................25
2.27. Tanda dan gejala
........................................................................26
2.28. Komplikasi
........................................................................27
2.29. Pencegahan
........................................................................27
BAB III PEMBAHASAN
3.1.

Asuhan kebidanan pada klien dengan TBC,Asma,


dan Infuenza

30

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

........................................................................40
........................................................................41

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang
Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh

basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit


saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis
masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya
mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon.
Penularan tuberculosis terjadi karena penderita TBC membuang ludah
dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan atau dibersinkan keluar.
Dalam dahak dan ludah penderita terdapat basil TBC-nya, sehingga basil ini
mengering dalam bentuk spora lalu diterbangkan angin. Kuman yang terbawa
angin dan jatuh ketanah maupun lantai rumah yang kemudian terhirup oleh
manusia melalui paru-paru dan bersarang serta berkembangbiak di paru-paru.
Penyakit ini perlu diperhatikan dalam kehamilan, karena penyakit ini
masih merupakan penyakit rakyat; sehingga sering kita jumpai dalam
kehamilan. TBC paru ini dapat menimbulkan masalah pada wanita itu sendiri,
bayinya dan masyarakat sekitarnya.
Kehamilan tidak banyak memberikan pengaruh terhadap cepatnya
perjalanan penyakit ini, banyak penderita tidak mengeluh sama sekali.
Keluhan yang sering ditemukan adalah batuk-batuk yang lama, badan terasa
lemah, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, kadang-kadang ada
batuk darah, dan sakit sekitar dada.
Tingginya angka penderita TBC di Indonesia dikarenakan banyak faktor,
salah satunya adalah iklim dan lingkungan yang lembab serta tidak semua
penderita mengerti benar tentang perjalanan penyakitnya yang akan
mengakibatkan kesalahan dalam perawatan dirinya serta kurangnya informasi
tentang proses penyakitnya dan pelaksanaan perawatan dirumah kuman ini
menyerang pada tubuh manusia yang lemah dan para pekerja di lingkungan
yang udaranya sudah tercemar asap, debu, atau gas buangan.

Pada penderita yang dicurigai menderita TBC paru sebaiknya dilakukan


pemeriksaan tuberkulosa tes kulit dengan PPD (purified protein derivate) 5u
dan bila hasilnya positif diteruskan dengan pemeriksaan foto dada. Perlu
diperhatikan dan dilindungi janin dari pengaruh sinar X. Pada penderita
dengan TBC paru aktif perlu dilakukan pemeriksaan sputum, untuk membuat
diagnosis secara pasti sekaligus untuk tes kepekaan. Pengaruh TBC paru pada
ibu yang sedang hamil bila diobati dengan baik tidak berbeda dengan wanita
tidak hamil. Pada janin jarang dijumpai TBC kongenital, janin baru tertular
penyakit setelah lahir, karena dirawat atau disusui oleh ibunya.
Asma pada Kehamilan dan persalinan akan menimbulkan perubahan
yang luas terhadap sebagian besar pada fisiologi organ-organ tubuh
sehubungan dengan rahim yang membesar bersama dengan tuanya kehamilan
sehingga rongga dada menjadi sempit dan gerakan paru akan terbatas untuk
mengambil O2 selama pernapasan, ini akan mengakibatkan gangguan
pernapasan yaitu Asma. Dalam penatalaksanaannya pun juga akan berbeda
antara Asma dalam kehamilan dan persalinan dengan asma pada wanita yang
tidak sedang hamil atau bersalin.
1.2.
Identifikasi masalah
1. Apa tanda gejala infeksi pernafasan pada kehamilan?
2. Bagaimana tanda gejala TBC,Asma,Flu?
3. Bagaimana cara deteksi dini penyakit pernafasan pada ibu hamil?
4. Apa saja yang terjadi komplikasi pada kehamilan?
1.3.
Pembatasan masalah
Makalah ini hanya mencakup pembahasan tentang infeksi pernafasan
pada ibu hamil, dan penanganannya.
1.29.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui bagaimana cara pengelolaan awal penyakit
infeksi pernafasan pada ibu hamil.
1.29.2 Tujuan khusus
Untuk mengetahui :
a. Memenuhi tugas mata kuliah Askeb IV patologi kehamilan.
b. Mengetahui pengelolaan awal pada penyakit infeksi pernafasan

1.4.

pada kehamilan.
c. Menambah wawasan terhadap mahasiswi maupun ibu hamil.
Manfaat penulisan

1. Bagi Pelayanan Kesehatan


Di harapkan makalah ini dapat digunakan untuk ilmu
pengetahuan kebidanan terutama dalam pelayanan kebidanan.
2. Bagi Ilmu Pengetahuan
Memberikan tambahan referensi ilmu patologi kebidanan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Pengertian TBC

Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan


oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit
saluran pernafasan bagian bawah karena sebagian besar basil tuberkolus
masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection. Di Indonesia sendiri
belum ada data prevalensi TB pada perempuan Hamil sedangkan menurut
beberapa penelitian yang dilakukan menurut PPTI tahun 2006-2007 terdapat
0,2 % perempuan hamil dengan TB dan penelitian Prawirohadjo dan
Sumoharto frequensi TB 1,6 % dan ini jauh lebih tinggi dinegara berkembang
yang kurang makmur dan sejahtera tetapi sebagai gambaran dari 4300 ibu
hamil yang bersalin di RSUPNCM jumlahnya sekitar 3.48 % atau 150 orang
(1989-1999).
2.2. Etiologi dan faktor predisposisi
Penyakit dari TBC adalah mycrobacterium tuberculosis dan
myomabacterium bavis.
a. Faktor predisposisi
Pada ibu
Sumber penularan penyakit tuberculosis adalah penderita
TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, penderita
menyebarkan kuman keudara dalam bentuk Droplet (percikan
Dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan diudara
pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi bila
droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama
kuman TB masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan,
kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru kebagian tubuh
lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran
limfe,saluran napas, atau penyebaran langsung kebagian-nagian
tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan
oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin
tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular
penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak
terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak

menular.Kemungkinan seseorang terinfeksi TB ditentukan oleh


konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara

tersebut.
Pada janin
Tuberkulosis dapat ditularkan baik melalui plasenta di
dalam rahim, menghirup atau menelan cairan yang terinfeksi saat
kelahiran, atau menghirup udara yang mengandung kuman TBC

2.3.

setelah lahir.
Tanda dan gejala
a. Tanda dan gejala pada ibu
1) Demam ringan,

8) Nyeri otot
9) Batuk: pada awal non

berkeringat waktu
2)
3)
4)
5)
6)
7)

produktif
10) Sputum bercampur darah
11) Sputum mukopurulen
12) Krekels/rales di atas

malam.
Sakit kepala
Takikardi
Anoreksia
Penurunan berat badan
Malaise
Keletihan

apeks paru
13) Nyeri dada

b. Pada bayi:
14) Abortus, terhambatnya pertumbuhan janin, kelahiran
prematur dan terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi
cairan amnion (disebut TB congenital). Gejala TB congenital biasanya
sudah bisa diamati pada minggu ke 2-3 kehidupan bayi,seperti prematur,
gangguan napas, demam, berat badan rendah, hati dan limpa membesar.
Penularan kongenital sampai saat ini masih belum jelas,apakah bayi
tertular saat masih di perut atau setelah lahir.
2.4.

Patofisiologi TBC
15)

Penyeb

aran kuman Mikrobacterium tuberkolusis bisa masuk melalui tiga tempat


yaitu saluran pernafasan, saluran pencernaan dan adanya luka yang terbuka
pada kulit. Infeksi kuman ini sering terjadi melalui udara (airbone) yang cara
penularannya dengan droplet yang mengandung kuman dari orang yang

terinfeksi sebelumnya. Penularan tuberculosis paru terjadi karena penderita


TBC membuang ludah dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan
atau dibersinkan keluar. Dalam dahak dan ludah ada basil TBC-nya,
sehingga basil ini mengering lalu diterbangkan angin kemana-mana. Kuman
terbawa angin dan jatuh ketanah maupun lantai rumah yang kemudian
terhirup oleh manusia melalui paru-paru dan bersarang serta
berkembangbiak di paru-paru. Pada permulaan penyebaran akan terjadi
beberapa kemungkinan yang bisa muncul yaitu penyebaran limfohematogen
yang dapat menyebar melewati getah bening atau pembuluh darah. Kejadian
ini dapat meloloskan kuman dari kelenjar getah bening dan menuju aliran
darah dalam jumlah kecil yang dapat menyebabkan lesi pada organ tubuh
yang lain. Basil tuberkolusis yang bisa mencapai permukaan alveolus
biasanya di inhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari 1-3 basil. Dengan
adanya basil yang mencapai ruang alveolus, ini terjadi dibawah lobus atas
paru-paru atau dibagian atas lobus bawah, maka hal ini bisa membangkitkan
reaksi peradangan. Berkembangnya leukosit pada hari hari pertama ini di
gantikan oleh makrofag. Pada alveoli yang terserang mengalami konsolidasi
dan menimbulkan tanda dan gejala pneumonia akut. Basil ini juga dapat
menyebar melalui getah bening menuju kelenjar getah bening regional,
sehingga makrofag yang mengadakan infiltrasi akan menjadi lebih panjang
dan yang sebagian bersatu membentuk sel tuberkel epitelloid yang
dikelilingi oleh limfosit, proses tersebut membutuhkan waktu 10-20 hari.
Bila terjadi lesi primer paru yang biasanya disebut focus ghon dan
bergabungnya serangan Kelenjar getah bening regional dan lesi primer
dinamakan kompleks ghon. Kompleks ghon yang mengalami pencampuran
ini juga dapat diketahui pada orang sehat yang kebetulan menjalani
pemeriksaan radiogram rutin. Beberapa respon lain yang terjadi pada daerah
nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas kedalam bronkus dan
menimbulkan kavitas. Pada proses ini akan dapat terulang kembali dibagian
selain paru-paru ataupun basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga
tengah atau usus. Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa adanya

10

pengobatan dan dapat meninggalkan jaringan parut fibrosa. Bila peradangan


mereda lumen bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut
yang terdapat dengan perbatasan rongga bronkus. Bahan perkejuan dapat
mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung,
sehingga kavitas penuh dengan bahan perkijauan dan lesi mirip dengan lesi
berkapsul yang tidak lepas. Keadaan ini dapat tidak menimbulkan gejala
dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan
menjadi tempat peradangan aktif. Batuk darah (hemaptoe) adalah batuk
darah yang terjadi karena penyumbatan trakea dan saluran nafas sehingga
timbul sufokal yang sering fatal. Ini terjadi pada batuk darah masif yaitu
600-1000cc/24 jam. Batuk darah pada penderita TB paru disebabkan oleh
terjadinya ekskavasi dan ulserasi dari pembuluh darah pada dinding kapitas.
Deteks

2.5.

i Dini
16)

Deteksi dini pada kehamilan TB dilakukan dengan

beberapa pemeriksaan untuk mendiagnosa adanya TB pada tubuh ibu hamil


yaitu dengan beberapa test laboratorium maupun test langsung ataupun oleh
bidan yaitu: pemeriksaan darah,pemeriksaan sputum,test mantoux (uji
tuberculin).
2.6. Diagnosis
17)

Diagnosis TB paru pada orang dewasa yakni dengan

pemeriksaan sputum atau dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan


dinyatakan positif apabila sedikitnya 2 dari 3 spesimen SPS BTA hasilnya
positif. Apabila hanya 1 spesimen yang positif maka perlu dilanjutkan
dengan rontgen dada atau pemeriksaan SPS diulang. Pada orang dewasa, uji
tuberkulin tidak mempunyai arti dalam diagnosis, hal ini disebabkan suatu
uji tuberkulin positif hanya menunjukkan bahwa yang bersangkutan pernah
terpapar dengan Mycobacterium tubeculosis. Selain itu, hasil uji tuberkulin
dapat negatif meskipun orang tersebut menderita TB. Misalnya pada
penderita HIV (Human Immunodeficiency Virus), malnutrisi berat, TB
milier dan morbili. Sementara diagnosis TB ekstra paru, tergantung pada
organ yang terkena. Misalnya nyeri dada terdapat pada TB pleura (pleuritis),
11

pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan


pembengkakan tulang belakang pada Sponsdilitis TB. Seorang penderita TB
ekstra paru kemungkinan besar juga menderita TB paru, oleh karena itu
perlu dilakukan pemeriksaan dahak dan foto rontgen dada.
18)

2.7.

Gejala-gejala yang timbul adalah:

a. Infiltrat dengan pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal


b. Milier
c. Atelektasis/kolaps konsolidasi
d. Konsolidasi (lobus)
e. Reaksi pleura dan atau efusi pleura
f. Kalsifikasi
g. Bronkiektasis
h. Kavitas
i. Destroyed lung
Komplikasi pada ibu dan janin
19)
Adapun beberapa komplikasi yang disebabkan adanya
kuman tuberculosis didalam tubuh manusia terutama yang menginfeksi
pada paru paru adalah Radang Pleura, Efusi Pleura,
Bronkopneumonia,Menurunnya imunitas tubuh.
1. Efek tuberculosis terhadap kehamilan
20)
kehamilan dan tuberculosis merupakan dua stressor
yang berbeda pada ibu hamil. Stressor tersebut secara simultan
mempengaruhi keadaan fisik mental ibu hamil. Lebih dari 50
persen kasus TB paru adalah perempuan dan data RSCM pada
tahun 1989 sampai 1990 diketahui 4.300 wanita hamil,150
diantaranya adalah pengidap TB paru . Efek TB pada kehamilan
tergantung pada beberapa factor antara lain tipe, letak dan
keparahan penyakit, usia kehamilan saat menerima pengobatan
antituberkulosis, status nutrisi ibu hamil, ada tidaknya penyakit
penyerta, status imunitas, dan kemudahan mendapatkan fasilitas
diagnosa dan pengobatan TB. Status nutrisi yang jelek,
hipoproteinemia, anemia dan keadaan medis maternal merupakan
dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas maternal.Usia
kehamilan saat wanita hamil mendapatkan pengobatan
antituberkulosa merupakan factor yang penting dalam menentukan

12

kesehatan maternal dalam kehamilan dengan TB. Kehamilan dapat


berefek terhadap tuberculosis dimana peningkatan diafragma
akibat kehamilan akan menyebabkan kavaitas paru bagian bawah
mengalami kolaps yang disebut pneumo-peritoneum. Pada awal
abad 20, induksi aborsi direkomondasikan pada wanita hamil
dengan TB. Selain paru-paru, kuman TB juga dapat menyerang
organ tubuh lain seperti usus, selaput otak, tulang, dan sendi, serta
kulit. Jika kuman menyebar hingga organ reproduksi, kemungkinan
akan memengaruhi tingkat kesuburan (fertilitas) seseorang.
Bahkan, TB pada samping kiri dan kanan rahim bisa menimbulkan
kemandulan. Hal ini tentu menjadi kekhawatiran pada pengidap TB
atau yang pernah mengidap TB, khususnya wanita usia reproduksi.
Jika kuman sudah menyerang organ reproduksi wanita biasanya
wanita tersebut mengalami kesulitan untuk hamil karena uterus
tidak siap menerima hasil konsepsi. Harold Oster MD,2007
mengatakan bahwa TB paru (baik laten maupun aktif) tidak akan
memengaruhi fertilitas seorang wanita di kemudian hari. Namun,
jika kuman menginfeksi endometrium dapat menyebabkan
gangguan kesuburan. Tapi tidak berarti kesempatan untuk memiliki
anak menjadi tertutup sama sekali, kemungkinan untuk hamil
masih tetap ada. Idealnya, sebelum memutuskan untuk hamil,
wanita pengidap TB mengobati TB-nya terlebih dulu sampai
tuntas. Namun, jika sudah telanjur hamil maka tetap lanjutkan
kehamilan dan tidak perlu melakukan aborsi.
2. Efek tuberculosis terhadap janin
21)
Menurut Oster,2007 jika kuman TB hanya
menyerang paru, maka akan ada sedikit risiko terhadap janin.Untuk
meminimalisasi risiko,biasanya diberikan obat-obatan TB yang
aman bagi kehamilan seperti Rifampisin, INH dan Etambutol.
Kasusnya akan berbeda jika TB juga menginvasi organ lain di luar
paru dan jaringan limfa, dimana wanita tersebut memerlukan
perawatan di rumah sakit sebelum melahirkan. Sebab kemungkinan
13

bayinya akan mengalami masalah setelah lahir. Penelitian yang


dilakukan oleh Narayan Jana, KalaVasistha, Subhas C Saha,
Kushagradhi Ghosh, 1999 tentang efek TB ekstrapulmoner
tuberkuosis, didapatkan hasil bahwa tuberkulosis pada limpha tidak
berefek terhadap kahamilan, persalinan dan hasil konsepsi. Namun
juka dibandingkan dengan kelompok wanita sehat yang tidak
mengalami tuberculosis selama hamil mempunyai resiko
hospitalisasi lebih tinggi (21% : 2%), bayi dengan APGAR skore
rendah segera setelah lahir (19% : 3%), berat badan lahir rendah
(<2500 ) Selain itu, risiko juga meningkat pada janin, seperti
abortus, terhambatnya pertumbuhan janin, kelahiran prematur dan
terjadinya penularan TB dari ibu ke janin melalui aspirasi cairan
amnion (disebut TB congenital). Gejala TB congenital biasanya
sudah bisa diamati pada minggu ke 2-3 kehidupan bayi,seperti
prematur, gangguan napas, demam, berat badan rendah, hati dan
limpa membesar. Penularan kongenital sampai saat ini masih
belum jelas,apakah bayi tertular saat masih di perut atau setelah
lahir.
Penatalaksanaan TBC pada kehamilan

2.8.

22)

Pengobatan tuberculosis aktif pada kehamilan hanya

berbeda sedikit dengan penderita yang tidak hamil. Ada 11 obat tuberkulosis
yang terdapat di Amerika Serikat, 4 diantaranya dipertimbangkan sebagai
obat primer karena kefektifannya dan toleransinya pada penderita, obat
tersebut adalah isoniazid, rifampisin, ethambutol dan streptomycin. Obat
sekunder adalah obat yang digunakan dalam kasus resisten obat atau
intoleransi terhadap obat, yang termasuk adalah paminasalisilic acid,
pyrazinamide, cycloserine, ethionamide, kanamycin, voimycin dan
capreomycin.
23)

Pengobatan selama setahun dengan isoniazid diberikan

kepada mereka yang tes tuberkulin positif, gambaran radiologi atau gejala

14

tidak menunjukkan gejala aktif. Pengobatan ini mungkin dapat ditunda dan
diberikan pada postpartum. Walaupun beberapa penelitian tidak menunjukkan
efek teratogenik dari isoniazid pada wanita postpartum. Beberapa
rekomendasi menunda pengobatan ini sampai 3-6 bulan post partum.
Sayangnya, penyembuhannya akan membawa waktu yang sangat lama.
24)

Isoniazid termasuk kategori obat C dan ini perlu

dipertimbangkan keamanannya selama kehamilan. Alternatif lain dengan


menunda pengobatan sampai 12 minggu pada penderita asimtomatik. Karena
banyak terjadi resistensi pada pemakaian obat tunggal, maka sekarang
direkomendasikan cara pengobatan dengan menggunakan kombinasi 4 obat
pada penderita yang tidak hamil dengan gejala tuberkulosis. Ini termasuk
isoniazid, rifampisin, pirazinamide atau streptomycin diberikan sampai tes
resistensi dilakukan. Beberapa obat tuberkulosis utama tidak tampak
pengaruh buruknya terhadap beberapa janin. Kecuali streptomycin yang
dapat menyebebkan ketulian kongenital, maka sama sekali tidak boleh
dipakai selama kehamilan.
25)

The center for disease control (1993) merekomendasikan

resep pengobatan oral untuk wanita hamil sebagai berikut :


26) 1. Isoniazid 5mg/kg, dan tidak boleh lebih 300 mg per hariberdsama
pyridoxine 50 mg per hari
27) 2. Rifampisin 10 mg/kg/hari, tidak ebih 600 mg sehari
28) 3. Ethabutol 5-25 g/kg/harridan tidak lebih dari 2,5 gram sehari (biasanya
25 mg/kg/hari selama 6 minggukemudian diturunkan 15 mg/kg/hari.
29)

Pengobatan ini diberikan minimal 9 bulan, jika resisten

terhadap obat ini dapat dipertimbangkan pengobatan dengan pyrazinamide.


Selain itu pyrazinamide 50 mg/hari harus diberikan untuk mencegah neuritis
perifer yang disebabkan oleh isoniazid. Pada tuberkulosis aktif dapat
diberikan pengobatan dengan kombinasi 2 obat biasanya digunakan isoniazid

15

5 mg/kg/hari (tidak lebih 300 mg/hari) dan ethambutol 15 mg/kg/hari.


Pengobatan dilanjutkan sekurang-kurangnya 17 bulan untuk mencegah
relaps. Pengobatan ini tidak dianjurkan jika diketahui penderita telah resisten
terhadap isoniazid. Jika dibutuhkan pengobatan dengan 3 obat atau lebih,
dapat ditambah dengan rifampisin tetapi stretomycin sebaiknya tidak
digunakan. Terapi dengan isoniazid mempunyai banyak keuntungan (manjur,
murah, dapat diterima penderita) dan merupakan pengobatan yang aman
selama kehamilan.
30)

Efek Samping dari tiap-tiap obat tersebut ialah:

1. Isoniazid :
Hepatotoksik maka tes fungsi hati seharusnya dilakukan dan diulang

secara periodic
Reaksi hipersensitif
Neurotoksik yang sering adalah neuropati perifer yang dapat
dicegah dengan pemberian vitamin B6, selain itu kadang dapat
terjadi kejang , neuritis optic dan ataksia, stupor, enselopati toksik

yang paling jarang terjadi


Gangguan saluran pencernaan

31) 2. Rifampisin

: sindrom flu

32) 3. Pyrazinamide

: hepatooksik, hiperuresemia

33) 4. Streptomicin

: nefrotoksik, gangguan N.VIII cranial

34) 5. Ethambutol

: neuritis optika, nefrotoksik, skin rash/ dermatitis

35) 6. Etionamid

: hepatotosik, gangguan saluran cerna, teratogenik

36) 7. P.A.S

: hepatotoksik dan gangguan saluran cerna

37) Penatalaksanaan dan asuhan kebidanan pada kasus tbc:

Sekarang direkomendasikan di inggris bahwa semua ibu hamil yang


baru masuk ke inggris dan anak anak berusia kurang dari 11 tahun

16

mendapatkan tes mantoux ;bidan harus memastikan pada saat

pemeriksaan bahwa tes mantoux ini telah dilakukan.


Ibu hamil pengidap TB harus mendapatkan asuhan terpadu dari
spesialis TB, dokter obsterti( terutama di klinik terpadu), bidan dan

dokter umum
Pastikan kepatuhan terhadap terapi melalui kunjungan antenatal yang

rutin
Jika masuk keruangan antenatal, klien perlu di tempatkan di ruang

tunggal.
Jika TB resisten terhadap multi obat klien perlu berada di pusat

spesialis yang menawarkan ruangan bertekanan negative.


Pencegahan TBC

2.9.

38) Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah :


1. Menutup mulut bila batuk.
2. Membuang dahak tidak di sembarang tempat. Buang dahak pada
wadah tertutup yang diberi lysol 5% atau kaleng yang berisi pasir 1/3
3.
4.
5.
6.
7.

dan diberi lysol.


Makan makanan bergizi.
Memisahkan alat makan dan minum bekas penderita.
Memperhatikan lingkungan rumah, cahaya dan ventilasi yang baik.
Untuk bayi diberikan imunisasi BCG (Depkes RI,1998).
Bagi para ibu yang sudah terkena TBC dan akan Memiliki buah hati,
lebih baiknya mengobati terlebih dahulu TB nya sehingga mengurangi
adanya faktor resiko untuk janin. Namun jika sudah terlanjur, harus
lebih tanggap dan rajin kontrol ke pihak medis. Serta teratur minum

obat yang sesuai resep dokter.


2.10. Prognosis
39)
Pada wanita hamil dengan tuberculosis aktif yang diobati
secara adekuat, secara umum tuberculosis tidak memberikan pengaruh
yang buruk terhadap kehamilan, masa nifas dan janin. Prognosis pada
wanita hamil sama dengan prognosis wanita yang tidak hamil, abortus
2.11.

terapeutik Sekarang tidak dilakukan lagi.


Pengertian Asma

17

40)

Asma adalah radang kronis pada jalan nafas yang berkaitan

dengan obstruksi reversible dari spasme, edema, dan produksi mucus dan
respon yang berlebihan terhadap stimuli. (Varney, Helen. 2003)
41)

Asma adalah keadaan klinis yang ditandai oleh masa

penyempitan bronkus yang reversibel, dipisahkan oleh masa di mana


ventilasi jalan nafas terhadap berbagai rangsang. (Sylvia Anderson (1995 :
149)
42)

Asma dalam kehamilan adalah gangguan inflamasi kronik

jalan napas terutama sel mast dan eosinofil sehingga menimbulkan gejala
periodik berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat, dan batuk yang
ditemukan pada wanita hamil. Asma yang terkendali dengan baik tidak
memiliki efek yang berarti pada wanita yang hamil, melahirkan ataupun
menyusui. Asma mungkin membaik, memburuk atau tetap tidak berubah
selama masa hamil, tetapi pada kebanyakan wanita gejala-gejalanya
cenderung meningkat selama tiga bulan terakhir dari masa kehamilan.
Dengan bertumbuhnya bayi dan membesarnya rahim, sebagian wanita
mungkin mengalami semakin sering kehabisan nafas. Tetapi ibu-ibu yang
tidak menderita asmapun mengalami hal tersebut karena gerakan
diafragma/sekat rongga badan menjadi terbatas. Adalah penting untuk
memiliki sebuah rancang tindak asma dan ini harus ditinjau kembali secara
teratur selama masa kehamilan.
2.12. Etiologi
43)

Sebagian besar penyempitan pada saluran nafas disebabkan

oleh semacam reaksi alergi. Alergi adalah reaksi tubuh normal terhadap
allergen, yakni zat-zat yang tidak berbahaya bagi kebanyakan orang yang
peka. Alergen menyebabkan alergi pada orang-orang yang peka. Allergen
menyebabkan otot saluran nafas menjadi mengkerut dan selaput lendir
menjadi menebal. Selain produksi lendir yang meningkat, dinding saluran
nafas juga menjadi membengkok. Saluran nafas pun menyempit, sehingga

18

nafas terasa sesak. Alergi yang diderita pada penderita asma biasanya
sudah ada sejak kecil. Asma dapat kambuh apabila penderita mengalami
stres dan hamil merupakan salah satu stress secara psikis dan fisik,
sehingga daya tahan tubuh selama hamil cenderung menurun, daya tahan
tubuh yang menurun akan memperbesar kemungkinan tersebar infeksi dan
pada keadaan ini asma dapat kambuh. (Ilmu Penyakit Dalam)
2.13. Faktor Predisposisi
44)

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan serangan asma

bronkiale atau sering disebut sebagai faktor pencetus adalah :


1) Alergen
45)

Alergen adalah sat-zat tertentu bila dihisap atau di

makan dapat menimbulkan serangan asthma, misalnya debu


rumah, tungau debu rumah (Dermatophagoides pteronissynus)
spora jamur, serpih kulit kucing, bulu binatang, beberapa makanan
laut dan sebagainya.
2) Infeksi saluran nafas
46)

Infeksi saluran nafas terutama oleh virus seperti

influenza merupakan salah satu faktor pencetus yang paling sering


menimbulkan asthma bronkiale. Diperkirakan dua pertiga
penderita asthma dewasa serangan asthmanya ditimbulkan oleh
infeksi saluran nafas (Sundaru, 1991).
3) Stress
47)

Adanya stressor baik fisik maupun psikologis akan

menyebabkan suatu keadaan stress yang akan merangsang HPA


axis. HPA axis yang terangsang akan meningkatkan adeno
corticotropic hormon (ACTH) dan kadar kortisol dalam darah.
Peningkatan kortisol dalam darah akan mensupresi immunoglobin
A (IgA). Penurunan IgA menyebabkan kemampuan untuk melisis
19

sel radang menurun yang direspon oleh tubuh sebagai suatu bentuk
inflamasi pada bronkhus sehingga menimbulkan asma bronkiale.
4) Olah raga / kegiatan jasmani yang berat
48)

Sebagian penderita asthma bronkiale akan

mendapatkan serangan asthma bila melakukan olah raga atau


aktifitas fisik yang berlebihan. Lari cepat dan bersepeda paling
mudah menimbulkan serangan asthma. Serangan asthma karena
kegiatan jasmani (Exercise induced asthma /EIA) terjadi setelah
olah raga atau aktifitas fisik yang cukup berat dan jarang serangan
timbul beberapa jam setelah olah raga.
5) Obat-obatan
49)

Beberapa pasien asthma bronkiale sensitif atau

alergi terhadap obat tertentu seperti penicillin, salisilat, beta


blocker, kodein dan sebagainya.
6) Polusi udara
50)

Pasien asthma sangat peka terhadap udara berdebu,

asap pabrik / kendaraan, asap rokok, asap yang mengandung hasil


pembakaran dan oksida fotokemikal, serta bau yang tajam.
7) Lingkungan kerja
51)

Diperkirakan 2 15% pasien asthma bronkiale

pencetusnya adalah lingkunagn kerja (Sundaru, 1991).


2.14.

Tanda dan Gejala


52)

Keluhan yang biasanya dirasakan saat terjadi asma, yaitu :

1) Nafas pendek
2) Nafas terasa sesak dan yang paling khas pada penderita asma
adalah terdengar bunyi wising yang timbul saat menghembuskan
nafas.

20

3) Kadang-kadang batuk kering menjadi salah satu penyebabnya


4) Pada kehamilan, biasanya serangan asma akan timbul pasa usia
kehamilan 24 minggu sampai 36 minggu dan pada akhir
kehamilan serangan jarang terjadi.
Patofisiologi
53) Asma adalah peradangan kronik saluran nafas dengan

2.15.

herediter utama. Peningkatan respon saluran nafas dan peradangan


berhubungan dengan gen pada kromosom 5, 6,11, 12, 14 & 16 termasuk
reseptor Ig E yang afinitasnya tinggi, kelompok gen sitokin dan reseptor
antigen Y Cell sedangkan lingkungan yang menjadi alergen tergantung
individu masing-masing seperti influenza atau rokok.
54) Asma merupakan obstruksi saluran nafas yang reversible
dari kontraksi otot polos bronkus, hipersekresi mukus dan edem mukosa.
Terjadi peradangan di saluran nafas dan menjadi responsive terhadap
beberapa rangsangan termasuk zat iritan, infeksi virus, aspirin, air dingin
dan olahraga. Aktifitas sel mast oleh sitokin menjadi media konstriksi
bronkus dengan lepasnya histamine, prostalgladine D2 dan leukotrienes.
Karena prostagladin seri F dan ergonovine dapat menjadikan asma, maka
penggunaanya sebagai obat-obat dibidang obstetric sebaiknya dapat
2.16.

dihindari jika memungkinkan.


Komplikasi pada ibu dan janin
55) Pada ibu:
1) Keguguran
2) Persalinan premature
3) Pertumbuhan janin terhambat
56)

Pada janin adalah :

1) Menurunnya aliran darah pada uterus


2) Menurunnya venous rekturn ibu
3) Kurva dissosiasi oksi ttb bergeser ke kiri
57) Sedangkan pada ibu yang hipoksemia, respon fetus yang terjadi :
1) Menurunnya aliran darah ke pusat
2) Meningkatya resistensi pembuluh darah paru dan sistemik
3) Menurunnya cardiac output

21

58)

Perlu diperhatikan efek samping pemberian obat-obatan

asma terhadap fetus, walaupun tidak ada bukti bahwa pemakaian obat
obat anti asma akan membahayakan asma.
1. Pengaruh Kehamilan terhadap Asma
59) Pengaruh kehamilan terhadap perjalanan klinis
asma, bervariasi dan tidak dapat disuga. Dispnea simtomatik
yang terjadi selama kehamilan, yang mengenai 60%-70% wanita
hamil, bisa memberi kesan memperberat keadaan asma.
60) Wanita yang memulai kehamilan dengan asma yang
berat, tampaknya akan mengalami asma yang lebih berat selama
masa kehamilannya dibandingkan dengan mereka yang dengan
asma yang lebih ringan. Sekitar 60% wanita hamil dengan asma
akan mengalami perjalanan asma yang sama pada kehamilankehamilan berikutnya.
61) Gluck& Gluck menyimpulkan bahwa peningkatan
kadar IgE diperkirakan akan memperburuk keadaan asma selama
kehamilan, sebaliknya penderita dengan kadar IgE yang menurun
akan membaik keadaannya selama kehamilan.
62) Eksaserbasi serangan asma tampaknya sering terjadi
pada trimester III atau pada saat persalinan, hal ini menimbulkan
pendapat adanya pengaruh perubahan faktor hormonal, yaitu
penurunan progesteron dan peningkatan prostaglandin, sebagai
faktor yang memberikan pengaruh.
63) Pada persalinan dengan seksio sesarea resiko
timbulnya eksaserbasi serangan asma mencapai 18 kali lipat
dibandingkan jika persalinan berlangsung pervaginam.
2. Pengaruh Asma Terhadap Kehamilan
64)

Pengaruh asma terhadap kehamilan bervariasi

tergantung derajat berat ringannya asma tersebut. Asma terutama


22

jika berat bisa secara bermakna mempengaruhi hasil akhir


kehamilan, beberapa penelitian menunjukkan adanya
peningkatan insidensi abortus, kelahiran prematur, janin dengan
berat badan lahir rendah, dan hipoksia neonatus. Beratnya derajat
serangan asma sangat mempengaruhi hal ini, terdapat korelasi
bermakna antara fungsi paru ibu dengan berat lahir janin. Angka
kematian perinatal meningkat dua kali lipat pada wanita hamil
dengan asma dibandingkan kelompok kontrol.
65)

Asma berat yang tidak terkontrol juga menimbulkan

resiko bagi ibu, kematian ibu biasanya dihubungkan dengan


terjadinya status asmatikus, dan komplikasi yang mengancam
jiwa seperti pneumotoraks, pneumomediastinum, kor pulmonale
akut, aritmia jantung, serta kelemahan otot dengan gagal nafas.
Angka kematian menjadi lebih dari 40% jika penderita
memerlukan ventilasi mekanik.
66)

Asma dalam kehamilan juga dihubungkan dengan

terjadinya sedikit peningkatan insidensi preeklampsia ringan, dan


hipoglikemia pada janin, terutama pada ibu yang menderita asma
berat.
67) Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan
penanganan penderita secara intensif, akan mengurangi serangan
akut dan status asmatikus, sehingga hasil akhir kehamilan dan
persalinan dapat lebih baik.
2.17.

Diagnosis Asma Bronchial


68) Diagnosis asma tidak sulit, terutama bila dijumpai gejala
yang klasik seperti sesak nafas, batuk dan mengi. Serangan asma dapat
timbul berulang-ulang dengan masa remisi diantaranya. Serangan dapat
cepat hilang dengan pengobatan, tetapi kadang-kadang dapat pula
menjadi kronik sehingga keluhan berlangsung terus menerus.

23

69) Adanya riwayat asma sebelumnya, riwayat penyakit alergik


seperti rinitis alergik, dan keluarga yang menderita penyakit alergik,
dapat memperkuat dugaan penyakit asma. Selain hal-hal di atas, pada
anamnesa perlu ditanyakan mengenai faktor pencetus serangan.
70) Penemuan pada pemerikasaan fisik penderita asma
tergantung dari derajat obstruksi jalan nafas. Ekspirasi memanjang,
mengi, hiperinflasi dada, takikardi, pernapasan cepat sampai sianosis
dapat dijumpai pada penderita asma dalam serangan. Dalam praktek
tidak sering ditemukan kesulitan dalam menegakkan diagnosis asma,
tetapi banyak pula penderita yang bukan asma menimbulkan mengi
sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang.
2.18.

Penatalaksanaan Asma pada Kehamilan


71) Dalam penanganan penderita asma dengan kehamilan, dan
tidak dalam serangan akut, diperlukan adanya kerja sama yang baik
antara ahli kebidanan dan ahli paru. Usaha-usaha melalui edukasi
terhadap penderita dan intervensi melalui pengobatan dilakukan untuk
menghindari timbulnya serangan asma yang berat.
72) Adapun usaha penanganan penderita asma kronik meliputi :

1) Bantuan psikologik menenangkan penderita bahwa kehamilannya


tidak akan memperburuk perjalanan klinis penyakit, karena keadaan
gelisah dan stres dapat memacu timbulnya serangan asma.
2) Menghindari alergen yang telah diketahui dapat menimbulkan
serangan asma
3) Desensitisasi atau imunoterapi, aman dilakukan selama kehamilan
tanpa adanya peningkatan resiko terjadinya prematuritas, toksemia,
abortus, kematian neonatus, dan malformasi kongenital, akan tetapi
efek terapinya terhadap penderita asma belum diketahui jelas.
4) Diberikan dosis teofilin per oral sampai tercapai kadar terapeutik
dalam plasma antara 10-22 mikrogram/ml, biasa dosis oral berkisar
antara 200-600 mg tiap 8-12 jam.

24

5) Dosis oral teofilin ini sangat bervariasi antara penderita yang satu
dengan yang lainnya.
6) Jika diperlukan dapat diberikan terbulatin sulfat 2,5-5 mh per oral 3
kali sehari, atau beta agonis lainnya.
7) Tambahkan kortikosteroid oral, jika pengobatan masih belum
adekuat gunakan prednison dengan dosis sekecil mungkin.
8) Pertimbangan antibiotika profilaksis pada kemungkinan adanya
infeksi saluran nafas atas.
9) Cromolyn sodium dapat dipergunakan untuk mencegah terjadinya
serangan asma, dengan dosis 20-40 mg, 4 kali sehari secara inhalasi.
73)
Penatalaksanaan dan asuhan bidan pada pasien asma:
Informasikan kepada ibu bahwa asma akut jarang

terjadidalam persalinan
Ibu harus melanjutkan pengobatan asma mereka dalam

persalinan
Ibu yang asmanya telah terkontrol dengan baik harus
mendapatkan asuhan resiko rendah dan persalinan yang

ditangani oleh secara normal oleh bidan


Pereda nyeri biasa dapat diberikan dan entonox dianggap

aman
Sintosinon adalah obat yang dipilih untuk penatalaksanaan

aktif di kala tiga persalinan.


2.19.
Pencegahan
1) Jangan merokok
2) Kenali faktor pencetus
3) Hindari flu, batuk, pilek atau infeksi saluran nafas lainnya. Kalau
tubuh terkena flu segera obati. Jangan tunda pengobatan kalu ingin
asma kambuh.
4) Bila tetap mendapat serangan asma, segera berobat untuk
5)
6)
7)
8)

menghindari terjadinya kekurangan oksigen pada janin


Hanya makan obat-obatan yang dianjurkan dokter.c,
Hindari faktor risiko lain selama kehamilan
Jangan memelihara kucing atau hewan berbulu lainnya.
Pilih tempat tinggal yang jauh dari faktor polusi, juga hindari
lingkungan dalam rumah dari perabotan yang membuat alergi.
Seperti bulu karpet, bulu kapuk, asap rokok, dan debu yang

menempel di alat-alat rumah tangga.


9) Hindari stress dan ciptakan lingkungan psikologis yang tenang
25

10) Sering sering melakukan rileksasi dan mengatur pernafasan


11) Lakukan olahraga atau senam asma, agar daya tahan tubuh makin
2.20.

kuat sehingga tahan terhadap faktor pencetus.


Prognosis
74) Efek kehamilan pada asma tidak dapat diprediksi.
Perubahan fisiologis, yang diinduksi oleh kehamilan, tidak membuat
wanita hamil lebih rentan terhadap serangan asma. Asma
meningkatkan insiden aborsi dan persalinan premature, tetapi kanin
sendiri tidak terpengaruh. Pada kasus-kasus yang berat, asma dapat
mengancam kehidupan wanita hamil. Pada kebanyakan kasus
prognosis baik pada ibu dan janin.

2.21.

Pengertian flu
75) Influenza (atau flu) disebabkan oleh infeksi virus
influenza A, B, dan lebih jarang, C. Penyakit ini terutama berdampak
terhadap tenggorok dan paruparu, tetapi juga dapat mengakibatkan
masalah jantung dan bagian lain tubuh, terutama di kalangan penderita
masalah kesehatan lain. Virus-virus influenza tetap berubah, dan
mengakibatkan wabah setiap musim dingin di NSW. Setelah beberapa
dasawarsa, jenis influenza baru akan muncul yang mengakibatkan
wabah (atau pandemi) yang parah dan meluas.

2.22.

Tanda gejala
a. Tanda dan Gejala biasanya timbul satu sampai tiga hari setelah
infeksi, dan mungkin termasuk yang berikut secara mendadak:

a.
b.
c.
d.

demam
sakit kepala
sakit otot dan sendi
sakit tenggorok

e. batuk
f. hidung beringus atau
tersumbat
g. lelah parah.

26

h. Kebanyakan penderita sembuh dalam waktu seminggu.


Dibandingkan dengan banyak infeksi lain (misalnya pilek), influenza
cenderung mengakibatkan gejala dan komplikasi yang lebih parah.
Komplikasi dapat termasuk pneumonia, kegagalan jantung atau
semakin parahnya penyakit lain.
i. Sekonyong-konyong penderita mendapat serangan demam,
kepala bagian muka terasa nyeri, lebih di bagian belakang biji mata,
tulang belakang, tulang lengan dan tunkai terasa pegal. Sering
penderita mengeluh karena tenggorokan terasa nyeri, batuk, dan dari
rongga hidung keluar cairan. Kalau keadaan baik, maka dalam waktu
satu minggu, penderita sudah sembuh kembali. Demikian gejala
Influenza pada umumnya yang digambarkan secara singakt. Gejala
dapat pula ringan saja, suhu badan tiak meninggi, rasa pegal pada
tulang tidak seberapa, sehingga gejala lebih menyerupai gejala salesma
saja. Yang keras sekalipun ada, hingga dapat mengakibatkan kematian.
Baiklah tentang gejala ini jangan dipusingakn benar-benar. Yang perlu
diketahui adalah apa yang harus dikerjakan, bila terserang penyakit
tersebut. Anjuran yang baik dan patut dituruti adalah: pergilah ke
dokter! Setelah itu tinggallah di rumah, jangan pergi ke sekolah dan
beristirahatlah sebaiknya. Kalau tinggal di rumah, maka kemungkinan
menularkan penyakit tersebut pada kawan di sekolah dan orang lain
tidak ada.
2.23.

Cara Penularan Penyakit Influenza


j. Penularannya adalah melalui udara; pada waktu penderita
batuk, berbicara, atau bersin, getah dari hidung dan mulut yang
mengandung virus influenza disemprotkan ke dalam udara. Jadi suatu
droplet infection.

2.24.

Pencegahan Penyakit Influenza


k. Pencegahannya adalah sedapat mungkin menjauhkan
sumber penularannya (orang sakit Influenza) dan mempertinggi
pertahanan alam. Tambahan: obat yang khusus terhadap penyakit

Influenza hingga kini tidak ada. Obat seperti tablet Influenza, acetosal,
aspro, aspirin, A.P.C., thermagon, dan lainnya sifatnya hanya
simtomatis saja, yakni mengurangi penderitaan. Sekalipun demikian
obat itu perlu juga. Hampir seluruh kepulauan Indonesia sedang
diserang penyakit Influenza. Di Jepang, Filipina, Malaysia, Australia,
dan lain-lain. Mengingat luasnya daerah yang diserang dan
berjangkitnya dalam waktu yang singkat, maka Influenza yang
berjangkit ini disebut pandemic. Ada anjuran, supaya orang banyak
makan buah-buahan/ makanan yang banyak mengandung vitamin C.
memang vitamin ini mempunyai sifat anti infeksi, tetapi bukan suatu
jaminan akan bebas dari penyakit tersebut. Sekalipun daya partahanan
tubuh sudah optimum, artinya sudah setingginya orang masih dapat
pula diserang Influenza, tetapi biasanya ringan saja.
2.25.

Etiologi
l. Penyebab penyakit influenza adalah virus spesifik yang
mempunyai masa tunas sampai 3 hari. Komplikasi timbul akibat
infeksi bakteri patogen biasanya pneumococcus, streptococcus dan
pada anak kecil influenza dan streptococcus masa tunas 1-2 hari. (IKA
UI, 1985 : 604)
m. Penyakit influenza juga bisa disebabkan oleh lebih dari
100 jenis virus, yang diketahui dapat menyebabkan batuk pilek. Cara
penularan biasanya disebarkan dari satu tangan ke tangan lainnya.
Masa inkubasi dari virus ini adalah 1-4 hari. Batuk pilek bisa terjadi 310 hari, tetapi pada anak kecil batuk pilek dapat bertahan lebih lama.
(Eveline dan Djamaludin. 2010: 511)

2.26.

Faktor Predisposisi
n. Kelelahan, gizi buruk, anemia dan kedinginan dapat
mempermudah bayi atau anak maupun dewasa terkena penyakit batuk
pilek. Walaupun umur bukan faktor yang menentukan daya rentan,
namun infeksi sekunder purulen lebih banyak pada anak kecil.

Penyakit ini sering dijumpai pada waktu pergantian musim.(IKA UI,


1985 : 604)
o. Terkena penyakit batuk pilek yang disebabkan oleh virus
dari salah satu orang tidak membuat bayi/ ibu hamil imun terhadap
penyakit batuk pilek yang disebabkan oleh virus orang lain, karena
bayi belum mempunyai kesempatan untuk membangun daya tahan
terhadap virus selanjutnya tersebut. Sehingga mungkin saja bayi
terserang batuk pilek lain begitu ia sembuh dari batuk pilek
sebelumnya. (Eveline dan Djamaludin. 2010: 512)
p. 2.27. Tanda dan Gejala
a. Hidung berair, awalnya pengeluarannya encer, kemudian mengental
b.
c.
d.
e.

dan kekuningan
Bersin
Hidung tersumbat
Batuk kering yang bertambah parah ketika bayi berbaring
Anak akan merasa tidak enak badan, sedikit demam atau bisa juga

f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

demam tinggi.
Tenggorokan gatal
Keletihan
Hilangnya selera makan (Eveline dan Djamaludin. 2010: 510)
Sakit tenggorokan
Demam terutama pada saat awal bayi terkena batuk pilek
Sakit kepala
Berkurangnya selera makan untuk sementara waktu (Satyanegara

dan Purwoko. 2006: 147)


m. Nyeri otot dan sendi (Sonson dan Subandi. 2008: 201)
q.
2.28.

Komplikasi
1. Sinusitis paranasal
r. Terjadi pada anak besar karena pada bayi dan anak kecil sinus
paranasal belum tumbuh.
s. Gejala umum :
a. Nyeri kepala
b. Rasa nyeri dan nyeri tekan biasanya di daerah sinus frontalis dan
maksilaris
t. Gejala kronik :

a. Cepat lelah
b. Sukar berkonsentrasi pada anak besar
c. Kadang-kadang disertai sumbatan hidung
d. Nyeri kepala hilang dan timbul
e. Bersin yang terus-menerus disertai sekret purulen
2. Penutupan tuba eustachii
u.

Gejala :

a. Tuli
b. Infeksi dapat menembus langsung ke daerah telinga tengah
menyebabkan otitis media akut (OMA).
v.Gejala OMA :
a. Pada anak kecil dan bayi disertai suhu badan yang
tinggi atauhiperpirexia
b. Menyebabkan kejang demam
c. Anak sangat gelisah
d. Pada bayi dapat diketahui dengan menekan telinga bayi dan
2.29.

biasanya bayi akan menangis keras.


Penanganan
w. Tidak ada pengobatan yang diketahui, tetapi jika perlu
gejalanya dapat dirawat dengan perawatan sebagai berikut.:
a. Menyedot keluat lendir dengan bola penyedot. Jika lendir sudah
mengeras, lunakkan dulu dengan pemberian teter hidung saline
yang dapat anda beli bebas di apotek. Ini mungkin perlu dilakukan
untuk membantu agar bayi bisa makan dan tidur.
b. Gunakan alat pelembab udara untuk melembabkan udara,
mengurangi penyumbatan hidung dan mempermudah bayi untuk
bernapas.
c. Membiarkan bayi tidur tertelungkup bukan terlentang, dengan
kepala ditinggikan menggunakan bantal atau pendukung lain yang
diletakkan dibawah kasur untuk mempermudah pernapasan.
d. Dekongestan, jika diperlukan untuk mempermudah bayi makan dan
tidur, tetapi hanya dengan persetujuan dokter.
e. Obat tetes hidung untuk meredakan penyumbatan jika dianjurkan
oleh dokter. Ikuti cara penggunaannya dengan seksama, penggunaan
selama lebih dari beberapa hari dapat menyebabkan reaksi
sebaliknya dan bayi akan merasa lebih tidak enak.

f. Jelly petroleum atau vaselin atau salep sejenis dioleskan tipis di


bagian luar dan bagian hidung untuk mencegah kulit memerah dan
pecah. Tetapi harus berhati-hati agar vaselin tidak masuk kedalam
lubang hidung, dimana ia dapat terhirup atau menghambat
pernapasan.
g. Obat batuk, tetapi hanya untuk meredakan batuk kering yang
mengganggu tidur dan hanya jika diberi resep oleh dokter. Obat
penekan batuk biasanya tidak diberikan untuk bayi. Antibiotik tidak
akan menolong dan tidak boleh digunakan kecuali terjadi infeksi
sekunder oleh bakteri.
h. Isolasi, menahan bayi di dalam rumah dan jauh dari orang lain
selama 3 hari pertama, ini tidak akan mempercepat penyembuhan
tetapi akan mengurangi penyebaran penyakit kepada orang lain.
i. Cukup makanan bervitamin C. Memang masih dipertentangkan
apakah vitamin C dapat mencegah batuk pilek atau tidak, tetapi
beberapa penelitian menunjukkan bahwa vitamin C dapat
mengurangi keparahan gejalanya. Jadi tambahkan air jeruk atau
minuman lain yang banyak mengandung vitamin C.
j. menggendong bayi atau memberikan mainan dan peralatan makan
bayi. (Eveline dan Djamaludin. 2010: 511-512)
x. Untuk batuk pilek tanpa komplikasi diberikan pengobatan
simtomatis misalnya ekspektoransia untuk mengatasi batuk,
sedatifa untuk menenangkan pasien dan antipiretik untuk menurunkan
demam. Cara yang paling mudah untuk mengeluarkan sekret sebagai
berikut:
a. Dengan membaringkan bayi tengkurang.
b. Pada anak besar dapat diberikan tetes hidung larutan efedrin 1%.
c. Batuk yang produktif tidak boleh diberikan antitusif misalnya
kodering karena menyebabkan depresi pusat batuk dan pusat
muntah, penumpukan sekret hingga dapat menyebabkan
bronkopneumonia.
y.
z.
aa.

ab.
ac.
ad.
ae.
af.
ag.
ah.
ai.
aj.
ak.
al.
am.
an.
ao.
ap.
aq.
ar.
as.
at.
au.
av.
aw.
ax.
ay.
az. BAB III
ba. PEMBAHASAN
3.1.

Asuhan kebidanan pada klien usia kehamilan 30 minggu G1P0A0


dengan TBC

bb.

No. Register

: 238665779

bc.

Nama Pengkaji

: bd.Ani

bd.

Tanggal/jam

: 29- 03-2015

be.

Tempat

: BPS bunda

bf.

Pukul

: 11.30 WIB

bg.

1.

DATA SUBJEKTIF

bh.

A.

IDENTITAS

bi.

Nama Istri

: Ny. D

Nama suami : Tn. A

bj.

Umur

: 30 tahun

Umur

: 35 Tahun

bk.

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

: PNS

bl.

Pendidikan

: SMA

Pendidikan

: SI

bm.

Suku/Bangsa : sunda/indonesia

Suku/Bangsa :

jawa/indonesia
bn.

Agama

: islam

Agama

: islam

bo.

Alamat

: pamulang

Alamat

: pamulang

bp.

Gol. Darah

:B

Gol. Darah

:A

bq.

No. Telp

: 0896789086789

No. Telp

098757890798
br.

B.

Alasan Datang
bs. C.

: Periksa Kehamilan

Keluhan Utama

Ibu mengeluh batuk terus hingga

sesak napas, nyeri dada, keringat malam, nafsu makan


menurun,susah tidur dan panas. Ibu mengatakan pernah menderita
TBC ketika masih SMA dan dalam keluarga satu rumah sedang ada
yang menderita TBC.

bt.

D.

Riwayat Mentruasi

bu.

Menarche

: usia 13 tahun

bv.

Siklus

: 28 hari

bw.

Lama haid

: 7 hari

bx.

Sifat darah

: encer

by.

Disminore.

: tidak ada

bz.

Banyaknya

: 3x ganti penbalut

ca.

E.

Riwayat Kehamilan Sekarang.

cb.

G PA

: G1P0A0

cc.

HPHT

: 20-08-2014

cd.

TP

: 27-05-2015

ce.

Pergerakan Janin Pertama Kali

cf.

obat yang dikonsumsi (jamu) : tidak pernah

cg.

Imunisasi TT

ch.

Tanda bahaya/penyulit

ci.

F.

Riwayat Kehamilan, Persalinan, Nifas yang lalu:

cj.

G.

Riwayat Kesehatan Penyakit

ck.

Riwayat kesehatan sekarang

cl.

Diabetes Militus

: Tidak ada

cm.

Hipertensi

: Tidak ada

cn.

Jantung Koroner

: Tidak ada

: 20 minggu

: TT1, dan TT2


: tidak ada
tidak ada

co.

Asma

: Tidak ada

cp.

TBC

: ada

cq.

HIV/AIDS

: Tidak ada

cr.

Malaria

: Tidak ada

cs.

Anemia

: Tidak ada

ct.

Penyakit lainnya

cu.

cv.

Diabetes Militus

: Tidak ada

cw.

Hipertensi

: Tidak ada

cx.

Jantung Koroner

: Tidak ada

cy.

Asma

: Tidak ada

cz.

TBC

: Ada

da.

HIV/AIDS

: Tidak ada

db.

Malaria

: Tidak ada

dc.

Anemia

: Tidak ada

dd.

Penyakit lainnya

: Tidak ada

de.

df.

Diabetes Militus

: Tidak ada

dg.

Hipertensi

: Tidak ada

dh.

Jantung Koroner

: Tidak ada

di.

Asma

: Tidak ada

: Tidak ada

Riwayat kesehatan lalu

Riwayat kesehatan keluarga

dj.

TBC

: ada

dk.

HIV/AIDS

: Tidak ada

dl.

Malaria

: Tidak ada

dm.

Anemia

: Tidak ada

dn.

Penyakit lainnya

: Tidak ada

do.

H.

Riwayat Psikososial

dp.

Status Pernikahan

: suami yang ke

: satu

dq.

Istri yang ke

: satu

dr.

Lamanya Pernikahan : 1 tahun

ds.

Respon ibu/keluarga terhadap Kehamilan

: sangat

dt.

Jenis kelamin yang Diharapkan

: laki-laki

du.

Bentuk dukungan keluarga

: keluarga

dv.

Adat istiadat yang berhubungan dengan kehamilan : tidak ada

dw.

Pengambilan keputusan dalam keluarga

dx.

I.

Riwayat Kontrasepsi : tidak pernah

dy.

J.

Aktivitas Sehari-hari

dz.

a.

Nutrisi :makan nasi dengan sayur dan lauk

senang

senang

3kali/hari
ea.

: suami

Frekuensi :

eb. b.Minum :

air putih dan susu

: Frekuensi : 10 gelas/hari

susu 2gelas/hari
ec.

c. Eliminasi

ed.

BAK : 4x/hari

ee.

BAB : 1x/hari

ef.

keluhan : tidak ada

eg.

d. Istirahat

eh.

Tidur Siang : 2jam/hari

ei.

Tidur Malam :. 6 jam/hari

ej.

keluhan : tidak ada

ek.

e.Kebiasaan Hidup sehari-hari :

el.

Obat-obatan/jamu

: tidak pernah

em.

Merokok

: tidak pernah

en.

Minuman Berakohol

: tidak pernah

eo.

f.

Aktivitas Sehari-hari : ibu sehari hari melakukan kegiatan

mengurus rumah tangga


ep.

g.

Hubungan Seksual

: 1minggu 1kali

eq.

h.

Personal Hygine

es.

II.

DATA OBJEKTIF

et.

1.

Keadaan Umum

: Baik

eu.

kesadaran

: Composmentis

: mandi 3x/hari

er.

Keluhan : tidak ada

ew.

fb.

ev.

Keadaan emosi

2.

Tanda-tanda Vital

ex.

TD

: 120/80 MmHg

ey.

: 100x/menit

ez.

: 30x/menit

fa.

: 36,90C

3.

Antropometri

fc.

: Stabil

BB sebelum hamil

: 47Kg

fd.

BB saat hamil

: 50Kg

fe.

TB

:156cm

ff.

IMT

: 19,34

LILA

: 25cm

fg.
fh.

4.

Pemeriksaan Fisik

fi.

1)

Kepala

fj.

Rambut
Muka
Mata
Hidung

pengeluaran sekret
Telinga: Bentuk : simetris, Kebersihan : bersih, tidak ada pengeluaran

serumen
Mulut

:
:
:
:

Bersih, warna hitam


Oedema : tidak ada
Bentuk : simestris, Konjungtiva : Pucat, Sklera :Putih
Bentuk : simetris, Kebesihan:Bersih, tidak ada

: Kebersihan : bersih, berwarna merah muda


Caries gigi : tidak ada

fk.

2)

Leher

: Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening,

kelenjar tiroid, dan tidak ada peningkatan vena jugulari


fl.

3)

Payudara

: Bentuk : simetris, Warna :hyperpigmentasi,

Areola: menonjol, Pengeluaran : Tidak ada


fm.

4)

Abdomen

Luka Bekas operasi : Tidak ada


TFU : 28cm
DJJ : 143x/menit
Leopold I : Teraba bulat, lunak (bokong janin)
Leopold II :
fn.

Kanan Ibu : Teraba keras memanjang seperti papan (punggung

janin)
fo.

Kiri Ibu : Teraba bagian terkecil janin (ekstremitas janin)

Leopold III : Teraba bulat, keras, melenting (kepala janin)


Leopold IV : Belum dilakukan, karena kehamilan belum cukup bulan
fp.

fq.

5)

Ekstremitas atas dan bawah :

Ekstremitas atas : Bentuk : simetris, Kulit : bersih, berwarna sawo

matang, Kuku : tidak pucat, Oedema : Tidak ada


Ekstermitas bawah : Bentuk : simetris, Kulit : bersih, berwarna sawo
matang, Kuku : tidak pucat, Oedema : tidak ada, Varices tungkai : tidak
ada, Reflek Patella : +/+

fr.

6)

Pemeraiksaan genetalia

Varices : Tidak ada


Luka : Tidak ada
Kemerahan : Tidak ada
Perineum : Bekas Luka/Luka Parut : Tidak ada

fs.

5.

ft.

Hasil pemeriksaan lab:

fu.

USG

: tidak dilakukan

fv.

HB

: 9 gram%

fw.

Protein urin

: tidak dilakukan

fx.

Glukosa urin : tidak dilakukan

fy.

III.

fz.

Pemeriksaan Penunjang

ASSESMENT
Ny D usia 30tahun G1P0A0 usia kehamilan 30 minggu dengan

TBC janin tunggal hidup intrauterin letak presentasi kepala.


ga.

Diagnosis Potensial

gb.

Berpotensi terjadinya hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas

bawah), kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru, penyebaran infeksi ke


organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya, insufisiensi
Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).

Status nutrisi yang buruk


Anemia
Menyebabkan kecacatan dan kematian pada ibu dan janin

gc.

Kolaborasi: Kolaborasi dengan dokter spesialis paru-paru.

gd.

Rujukan: RSUD

ge.

IV.

PENATALAKSANAAN

Memberitahu Ibu hasil pemeriksaan bahwa ibu mengalami TBC dalam

kehamilan
gf. ( ibu mengetahui keadaannya)
Menjelaskan kepada ibu untuk banyak istirahat makan yang teratur dan
minum obat sesuai anjuran dokter

gg. (ibu mengerti saran yang di jelaskan bidan)


Memberitahukan kepada ibu bahwa keadaan janinnya baik baik saja
gh. (ibu mengetahui keadaan janinnya baik baik saja dan ibu merasa
senang)
Memberitahu ibu untuk selalu rutin minum obat jangan sampai

tertinggal
gi. (ibu bersedia untuk rutin minum obat)
Anjurkan ibu untuk makan sayur sayuran dan buah buahan
gj. (ibu mengerti apa yang bidan jelaskan dan mau melaksanakannya)
Anjurkan ibu di rumah untuk selalu membuka ventilasi udara supaya

keadaan suhunya tidak lembab.


gk. (ibu mengerti apa yang bidan jelaskan dan mau melaksanakannya)
Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu yang akan datang,

terutama apabila ada keluhan ibu harus segera datang ke tenaga


kesehatan
gl. (ibu mengerti anjuran bidan dan mau melaksanakannya)
gm.
gn.
go.
gp.
gq.
gr.
gs.
gt.
gu.
gv.
gw.
gx. BAB IV
gy. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
gz.

Tingginya angka penderita TBC di Indonesia dikarenakan

banyak faktor, salah satunya adalah iklim dan lingkungan yang


lembab serta tidak semua penderita mengerti benar tentang perjalanan
penyakitnya yang akan mengakibatkan kesalahan dalam perawatan
dirinya serta kurangnya informasi tentang proses penyakitnya dan
pelaksanaan perawatan dirumah kuman ini menyerang pada tubuh

manusia yang lemah dan para pekerja di lingkungan yang udaranya


sudah tercemar asap, debu, atau gas buangan. Karena prevalensi TBC
paru di Indonesia masih tinggi, dapat diambil asumsi bahwa
frekuensinya pada wanita akan tinggi. Diperkirakan 1% wanita hamil
menderita TB paru. Menurut Prawirohardjo dan Soemarno (1954),
frekuensi bertambahnya jumlah penduduk tiap tahunnya, dapat
diperkirakan penyakit ini juga mengalami peningkatan berbanding
lurus dengan tingkat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
ha.

Pada umumnya, penyakit paru-paru tidak mempengaruhi

kehamilan dan persalinan nifas, kecuali penyakitnya tidak terkonrol,


berat, dan luas yang wanita hamil yang menderita TB paru di
Indonesia yaitu 1,6%. Dengan disertai sesak napas dan hipoksia.
Walaupun kehamilan menyebabkan sedikit perubahan pada sistem
pernapasan, karena uterus yang membesar dapat mendorong
diafragma dan paru-paru ke atas serta sisa udara dalam paru-paru
kurang, namun penyakit tersebut tidak selalu menjadi lebih parah.
TBC paru merupakan salah satu penyakit yang memerlukan perhatian
yang lebih terutama pada seorang wanita yang sedang hamil, karena
penyakit ini dapat dijumpai dalam keadaan aktif dan keadaan tenang.
Karena penyakit paru-paru yang dalam keadaan aktif akan
menimbulkan masalah bagi ibu, bayi, dan orang-orang
disekelilingnya.
4.2 Saran
hb. Perlu penanganan khusus untuk ibu hamil yang menderita penyakit
pernafsan seperti TBC,Asma, Influenza terutama penyakit menular
yang berefek untuk kesehatan ibu dan anak.
hc.
hd.
he.

hf.
hg.
hh.
hi.
hj.
hk.
hl.
hm.
hn.
ho.
hp.
hq.
hr.
hs. DAFTAR PUSTAKA
ht.
hu.

InfluenzaNSW.Goverment.Health.Http.www.Health.NSW.Gov.Au/factsheets/infe
ctious/influenza.html.diaskes pada tanggal 29-03-2015 pukul 08.39 WIB
hv.

Maharani_2009 Profil Perempuan Hamil Penderita TB Dipoliklinik TB

Persatuan Pemberantas TB Indonesia Baladewa Jakarta pusat FKUI Jakarta


hw.

Martin, Reader. Griffin-Konick. (2011). Keperawatan Maternitas


Kesehatan Wanita,Bayi& keluarga .Edisi.18.Jakarta.EGC

hx.

Mochtar, rustam.2002. Sinopsis Obstetri Jilid 1. Jakarta: EGC.

hy.

Patologi pada kehamilan:manajemen& asuhan kebidanan S.Elizabeth

Robson,jasonwaugh;edisi bahasa Indonesia,-EGC,2011


hz.

Prawirohardjo,Sarwono.2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka


Sarwono Prawiharjo.

ia.

Stein.(2007). Panduan Klinik Ilmu Penyakit dalam. edisi 3. Jakarta: EGC.

ib.

Suriyatini,Dkk. 2009. Asuhan Patologi Kebidanan. Jogyakarta: nuha


medika.

ic.

Warouw Najoan Nan, 2007 Manajemen TBC Dalam Kehamilan FKUI

Sam Ratulangi/RSU. Prof.Dr.R.D.kandau,manado


id.

ie. LAMPIRAN
if.