Anda di halaman 1dari 3

Review Buku Roh dan Citra kota: Peran Perancangan Kota Sebagai Kebijakan Publik

Bagian VI Redupnya Kearifan Lokal


Oleh Kemal Ahmad Ridla (1206254605), Tri Bagus Utama (1206273806)

Masa reformasi merupakan titik awal munculnya budaya baru tata pemerintahan, tata
ekonomi, dan tata ruang di Indonesia. Perubahan kebijakan yang berorientasi pada keadilan
dan keseimbangan penyelenggaraan urusan publik mengharuskan pemerintah pusat membagi
kewenangannya kepada setiap daerah yang dinilai mampu mengurus pemerintahannya
sendiri. Perubahan ini dikukuhkan dengan hadirnya undang-undang tentang pemerintahan
daerah pada tahun 1999 yang mengatur proses otonomi pemerintahan. Implikasinya
kemudian adalah bergesernya arah kebijakan pemerintahan daerah dari sebelumnya kerja
sama sebagai satu negara kesatuan menjadi persaingan antar daerah.
Konsep otonomi daerah yang telah disepakati itu menyebabkan daerah-daerah otonom
menjadi individualistis, berlomba-lomba untuk membangun daerahnya dalam konteks
persaingan dengan daerah lainnya. Berbagai struktur dan infrastruktur dibangun sedemikian
rupa sehingga pembangunan daerah terlihat baik, dan secara ekstrinsik pemerintah daerah
dinilai sudah maju. Hal tersebut juga didukung dengan adanya berbagai reward bagi daerah
yang dinilai lebih baik daripada daerah lainnya, dari beberapa aspek. Oleh sebab itu,
kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah pun menjadi berorientasi pada
persaingan.
Gagasan ini memiliki dampak positif dan negatif. Dengan berorientasi pada
persaingan, pemerintah daerah akan lebih meningkatkan kapasitas dan kapabilitas
penyelenggaraan daerah. Peningkatan tersebut dapat berimplikasi pada percepatan
pertumbuhan ekonomi dari segi struktur dan infrastruktur, pendapatan daerah, maupun
pembangunan masyarakat. Akan tetapi, hal tersebut dapat menyebabkan egoisme pemerintah
untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan dengan mencoba menggunakan berbagai cara.
Misalnya, pengadaan teknologi dan desain tata kota yang meniru daerah di negara maju agar
pembangunan daerah juga sebaik itu. Akibatnya, nilai dan bentuk khas dari daerah semakin
lama semakin hilang, berbaur bahkan tergantikan oleh semua yang diadopsi dari negara lain.
Di dalam buku ini dibahas juga tentang sifat dan kesan dualistik perkembangan
bentuk dan tata ruang kota di masa Reformasi pertama adalah reklame. Disatu sisi reklame
memberikan lanskap kota yang menarik dan dapat memberikan keberhasilan penjualan

produk yang dipasarkan, disisi lain keberadaan reklame yang berlebihan akan memberikan
suasana fisik dan psikis yang yang merugikan bagi masyarakat kota. Di masa Reformasi,
maraknya urbanisasi menyebabkan kebutuhan sarana dan prasarana kota meningkat. Hal ini
menyebabkan pembangunan dimana-mana salah satunya di daerah pemukiman masyarakat,
yang nantinya akan digusur untuk melakukan pembanguanan sarana dan prasarana tersebut.
Hal ini juga memiliki kesan dualistik yaitu pembangunan sarana prasarana memicu konfilk
antara masayarakat dengan pemerintah.
Kota besar pada masa orde baru dapat dicitrakan dari banyaknya superblok yang
dibangun. Superblok merupakan sarana kota yang terpadu yang memilki fungsi multiguna.
Namun, superblok ini sudah berubah dari prinsip aslinya, karena hanya kelompok tertentu
saja yang mengunjunginya yaitu masyarakat golongan ekonomi tinggi. Di Jakarta contoh
kawasan superblok ini adalah SCBD (Sudirman Central Business Distrct). Sifat dan kesan
dualistik lainnya adalah urbanisasi yang meningkatkan sector informal seperti pedagan
kakilima dan warung-warung. Hal ini membuat lanskap kota menjadi kurang bersih dan
kurang teratur, namun sector informal ini menunjang kehidupan sebagian masyarakat kota.
Urbanisasi yang tinggi ini juga membuat kebutuhan akan tempat tinggal meningkat. Oleh
karena itu pemerintah mebuat program sejuta rumah yaitu RUSUNAWA dan RUSUNAMI.
Namun program ini tidak dapat dilaksanakan tepat waktu.
Terdapat pola urbanisasi baru yang disebabkan oleh arus urbanisasi yang tinggi yaitu
U turn urbanization yaitu migrasi penduduk dari pinggiran kota kembali ke kawasan pusat
kota yang dilakukan oleh masyarakat golongan menengah dan tinggi. Fenomena ini
disebabkan oleh tersedianya sarana dan prasarana kota yang lengkap di pusat kota (kawasan
superblok). Pola urbanisasi ini juga memicu program revitalisasi kawasan kota tua. Konsep
revitalisasi ini dilakuakan dengan konsep adaptive use (merenovasi) dan re-use (mengadopsi
penggunaan kembali). Untuk menciptakan tata ruang kota yang layak huni pemerintah telah
mengeluarkan berbagai peraturan yang terbaru adalah UU No 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang Nasional. Di dalam UU ini terdapat berbagai instrumen-instrumen dalam
penataan tata ruang salah satunya adalah sanksi hukum pidana bagi masyarakat yang tidak
mematuhi peraturan tersebut. Dengan demikian UU Penataan Ruang ini akan memberi
paying bagi pembuatan tata ruang daerah serta penjabarannya.
Kesimpulan dari perkembangan bentuk kota-kota di Indonesia pada masa orde
Reformasi dapat dicirikan sebagai berikut: 1) menjamurnya superblock dan ruko, 2)
berubahnya kawasan pusaka kota, 3) berkurangnya kehijauan kota, 4) tumbuhnya

kesemrawutan lalu lintas, 5) tingginya tingkat polusi udara, 6) hilangnya identitas kota. Hal
ini tidak lepas dari implementasi perancangan kota yang yang tidak sesuai dengan visi, misi,
dan tujuan suatu kebijakan publik. Selain itu pemerintah merasa tugasnya selesai dalam
proses perencanaan dan perancangan, tetapi yang lebih penting lagi adalah pengawasan
selama pelaksanaan pembangunan kota. Dan yang terpenting adalah pemerintah maupun
swasta melupakan kearifan lokal, jatidiri dan tidk mempunyai nuansa tempat.
Sebuah paradigma baru dibutuhkan dalam merancang dan menata kota. Saat ini
pembangunan kota perhatiannya hanya tercurah kepada aspek fisik dan peningkatan
pendapatan kota saja. Kebutuhan sosial masyarakat kurang mendapat tempat, karna aspek
kehidupan sosial tidak kasat mata. Padahal prinsip dasar dari perancangan kota bukan
kegiatan fisik saja tetapi kegiatan nonfisik yaitu merancang kehidupan. Dengan demikian
pembangunan fisik harus memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani masyarakat baik psikis
maupun visual. Kebijakan penysusunan perencanaan kota masih bernuansa: 1) utopis serta
ambisius, 2) artifisial serta kolosal, 3) konsumtif serta elitis. Hal ini samasekali tidak
mencerminkan aspek nonfisik yaitu kebutuhan sosial dan tidak merancang kehidupan
masyarakat. Seharusnya kebijakan dalam perancangan kota: 1) humanis dan populis, 2)
ramah dan berkelanjutan, 3) terbuka dan partisipatif, 4) inovatif dan visioner, 5) bijak dan
arif. Kearifan lokal dalam hal ini adalah etika dan moral. Pemerintah harus memadupadankan
kearifan lokal ini dengan aspek global serta berpijak dengan etika dan moral.