Anda di halaman 1dari 19

DEFINISI

Hidrokel adalah penumpukan cairan yang berlebihan di rongga


antara lapisan parietal dan viseral tunika vaginalis (cavum vaginalis).
Dalam keadaan normal, terdapat produksi cairan di cavum vaginalis
yang diimbangi oleh reabsorbsi sistem limfatik sekitarnya. Kelainan
ini ditemukan pada 80-90% bayi laki-laki, 90 -95% di antaranya akan
menghilang spontan sebelum usia 2 tahun. Hanya sekitar 6% kasus
hidrokel memiliki gejala klinis. Hidrokel juga ditemukan pada satu
dari seratus laki-laki dewasa, biasanya terjadi setelah dekade kedua
kehidupan.
Etiologi
Hidrokel yang terjadi pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena: (1)
belum sempurnanya penutupan prosesus vaginalis sehingga terjadi aliran
cairan peritoneum ke prosesus vaginalis (hidrokel komunikans) atau (2)
belum sempurnanya sistem limfatik di daerah skrotum dalam melakukan
reabsorbsi cairan hidrokel.
Pada orang dewasa, hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan
sekunder. Penyebab sekunder terjadi karena didapatkan kelainan pada
testis atau epididimis yang menyebabkan terganggunya sistem sekresi
atau reabsorbsi cairan di kantong hidrokel. Kelainan pada testis itu
mungkin suatu tumor, infeksi, atau trauma pada testis/epididimis.
Gambaran klinis
Pasien mengeluh adanya benjolan di kantong skrotum yang tidak nyeri.
Pada pemeriksaan fisis didapatkan adanya benjolan di kantong skrotum
dengan konsistensi kistus dan pada pemeriksaan penerawangan
menunjukkan adanya transiluminasi. Pada hidrokel yang terinfeksi atau
kulit skrotum yang sangat tebal kadang-kadang sulit melakukan
pemeriksaan ini, sehingga harus dibantu dengan pemeriksaan

ultrasonografi. Menurut letak kantong hidrokel terhadap testis, secara


klinis dibedakan beberapa macam hidrokel, yaitu (1) hidrokel testis, (2)
hidrokel funikulus, dan (3) hidrokel komunikan. Pembagian ini penting
karena berhubungan dengan metode operasi yang akan dilakukan pada
saat melakukan koreksi hidrokel.

Pada hidrokel testis, kantong hidrokel seolah-olah

mengelilingi testis sehingga testis tak dapat diraba. Pada


anamnesis, besarnya kantong hidrokel tidak berubah
sepanjang hari.
Pada hidrokel funikulus, kantong hidrokel berada di

funikulus yaitu terletak di sebelah kranial dari testis, sehingga


pada palpasi, testis dapat diraba dan berada di luar kantong
hidrokel. Pada anamnesis kantong hidrokel besarnya tetap
sepanjang hari.
Pada hidrokel komunikan terdapat hubungan antara
prosesus vaginalis dengan rongga peritoneum sehingga
prosesus vaginalis dapat terisi cairan peritoneum. Pada
anamnesis, kantong hidrokel besarnya dapat berubah-ubah
yaitu bertambah besar pada saat anak menangis. Pada
palpasi, kantong hidrokel terpisah dari testis dan dapat
dimasukkan ke dalam rongga abdomen.

Terapi

Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 1 tahun
dengan harapan setelah prosesus vaginalis menutup, hidrokel akan
sembuh sendiri; tetapi jika hidrokel masih tetap ada atau bertambah besar
perlu difikirkan untuk dilakukan koreksi.
Tindakan untuk mengatasi cairan hidrokel adalah dengan aspirasi dan
operasi. Aspirasi cairan hidrokel tidak dianjurkan karena selain angka
kekambuhannya tinggi, kadang kala dapat menimbulkan penyulit berupa
infeksi.
Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada hidrokel adalah: (1)
hidrokel yang besar sehingga dapat menekan pembuluh darah, (2)
indikasi kosmetik, dan (3) hidrokel permagna yang dirasakan terlalu berat
dan mengganggu pasien dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari.
Pada hidrokel kongenital dilakukan pendekatan inguinal karena seringkali
hidrokel ini disertai dengan hernia inguinalis sehingga pada saat operasi
hidrokel, sekaligus melakukan herniorafi. Pada hidrokel testis dewasa
dilakukan pendekatan skrotal dengan melakukan eksisi dan marsupialisasi
kantong hidrokel sesuai cara Winkelman atau plikasi kantong hidrokel
sesuai cara Lord. Pada hidrokel funikulus dilakukan ekstirpasi hidrokel
secara in toto
Penyulit
Jika dibiarkan, hidrokel yang cukup besar mudah mengalami trauma dan
hidrokel permagna bisa menekan pembuluh darah yang menuju ke testis
sehingga menimbulkan atrofi testis.

Patofisiologi
Hidrokel adalah pengumpulan cairan pada sebagian prosesus vaginalis
yang masih terbuka. Kantong hidrokel dapat berhubungan melalui saluran
mikroskopis dengan rongga peritoneum dan berbentuk katup. Dengan demikian
cairan dari rongga peritoneum dapat masuk ke dalam kantong hidrokel dan sukar
kembali ke rongga peritoneum.4 Pada kehidupan fetal, prosesus vaginalis dapat
berbentuk kantong yang mencapai scrotum. Hidrokel disebabkan oleh kelainan
kongenital (bawaan sejak lahir) ataupun ketidaksempurnaan dari prosesus

vaginalis tersebut menyebabkan tidak menutupnya rongga peritoneum


dengan prosessus vaginalis. Sehingga terbentuklah rongga antara tunika
vaginalis dengan cavum peritoneal dan menyebabkan terakumulasinya
cairan yang berasal dari sistem limfatik disekitar. Cairan yang seharusnya
seimbangan antara produksi dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di
sekitarnya. Tetapi pada penyakit ini, telah terganggunya sistem sekresi
atau reabsorbsi cairan limfa. Dan terjadilah penimbunan di tunika
vaginalis tersebut.Akibat dari tekanan yang terus-menerus, mengakibatkan
Obstruksi aliran limfe atau vena di dalam funikulus spermatikus. Dan
terjadilah atrofi testis dikarenakan akibat dari tekanan pembuluh darah
yang ada di daerah sekitar testis tersebut. 5
Hidrokel dapat ditemukan dimana saja sepanjang funikulus spermatikus, juga
dapat ditemukan di sekitar testis yang terdapat dalam rongga perut pada
undensensus testis. Hidrokel infantilis biasanya akan menghilang dalam tahun
pertama, umumnya tidak memerlukan pengobatan, jika secara klinis tidak disertai
hernia inguinalis. Hidrokel testis dapat meluas ke atas atau berupa beberapa
kantong yang saling berhubungan sepanjang processus vaginalis peritonei.
Hidrokel akan tampak lebih besar dan kencang pada sore hari karena banyak
cairan yang masuk dalam kantong sewaktu anak dalam posisi tegak, tapi
kemudian akan mengecil pada esok paginya setelah anak tidur semalaman.5
Pada orang dewasa hidrokel dapat terjadi secara idiopatik (primer) dan
sekunder. Penyebab sekunder terjadi karena didapatkan kelainan pada testis atau
epididimis yang menyebabkan terganggunya sistem sekresi atau reabsorpsi cairan
di kantong hidrokel. Kelainan tersebut mungkin suatu tumor, infeksi atau trauma
pada testis atau epididimis. Dalam keadaan normal cairan yang berada di dalam
rongga tunika vaginalis berada dalam keseimbangan antara produksi dan
reabsorpsi dalam sistem limfatik.1
F. Diagnosa
1. Anamnesis
Pada anamnesis keluhan utama pasien adalah adanya benjolan di kantong
skortum yang tidak nyeri. Biasanya pasien mengeluh benjolan yang berat dan
besar di daerah skortum. Benjolan atau massa kistik yang lunak dan kecil pada
pagi hari dan membesar serta tegang pada malam hari. Tergantung pada jenis dari
hidrokel biasanya benjolan tersebut berubah ukuran atau volume sesuai waktu
tertentu.2
Pada hidrokel testis dan hidrokel funikulus besarnya kantong hidrokel tidak
berubah sepanjang hari. Pada hidrokel komunikan, kantong hidrokel besarnya
dapat berubah-ubah yang bertambah besar pada saat anak menangis. Pada riwayat
penyakit dahulu, hidrokel testis biasa disebabkan oleh penyakit seperti infeksi atau
riwayat
trauma
pada
testis.4

2. Pemeriksaan Fisik
Pada inspeksi Skrotum akan tampak lebih besar dari yang lain. Palpasi pada
skrotum yang hidrokel terasa ada fluktuasi, dan relatif kenyal atau lunak
tergantung pada tegangan di dalam hidrokel, permukaan biasanya halus. Palpasi
hidrokel seperti balon yang berisi air. Bila jumlah cairan minimum, testis relatif
mudah diraba. Sedangkan bila cairan minimum, testis relatif mudah diraba. Juga
penting dilakukan palpasi korda spermatikus di atas insersi tunika vaginalis.
Pembengkakan kistik karena hernia atau hidrokel serta padat karena tumor.
Normalnya korda spermatikus tidak terdapat penonjolan, yang membedakannya
dengan hernia skrotalis yang kadang-kadang transiluminasinya juga positif. Pada
Auskultasi dilakukan untuk mengetahui adanya bising usus untuk menyingkirkan
adanya hernia.
Langkah diagnostik yang paling penting adalah transiluminasi massa hidrokel
dengan cahaya di dalam ruang gelap. Sumber cahaya diletakkan pada sisi
pembesaran skrotum.Struktur vaskuler, tumor, darah, hernia, penebalan
tunika vaginalis dan testis normal tidak dapat ditembusi sinar. Trasmisi
cahaya sebagai bayangan merah menunjukkan rongga yang mengandung
cairan serosa, seperti hidrokel. Hidrokel berisi cairan jernih, strawcolored dan mentransiluminasi (meneruskan) berkas cahaya.

Gambar 6. Pemeriksaan Transiluminasi


Hidrokel biasanya menutupi seluruh bagian dari testis.Jika hidrokel muncul
antar 18 35 tahun harus dilakukan aspirasi. Massa kistik yang terpisah dan
berada di pool atas testis dicurigai spermatokel. Pada aspirasi akan didapatkan
cairan kuning dari massa skortum. Berbeda dengan spermatokel, akan didapatkan
cairan berwarna putih, opalescent dan mengandung spermatozoa.

3.

Pemeriksaan Penunjang
Ultrasonografi dapat mengirimkan gelombang suara melewati skrotum dan
membantu melihat adanya hernia, kumpulan cairan (hidrokel atau spermatokel),
vena abnormal (varikokel), dan kemungkinan adanya tumor.

G. Diagnosis Banding
Secara umum adanya pembengkakan skrotum memberikan gejala yang
hampir sama dengan hidrokel, sehingga sering salah terdiagnosis. Oleh karena itu
diagnosis banding hidrokel adalah :
1. Varikokel
Adalah varises dari vena pada pleksus pampiniformis akibat gangguan aliran
darah balik vena spermatika interna.7
Gambaran klinis :
a. Anamnesa
1. Pasien biasanya mengeluh belum mempunyai anak setelah beberapa tahun
menikah.
2. Terdapat benjolan di atas testis yang tidak nyeri.
3. Terasa berat pada testis
b. Pemeriksaan Fisik : (Pasien berdiri dan diminta untuk manuver valsava).
Inspeksi dan Palpasi terdapat bentukan seperti kumpulan cacing di dalam kantung,
yang letaknya di sebelah kranial dari testis, permukaan testis licin, konsistensi
elastis.
2. Torsi Testis
Adalah keadaan dimana funikulus spermatikus terpuntir sehingga terjadi
gangguan vaskularisasi dari testis yang dapat berakibat terjadinya gangguan aliran
darah daripada testis.1
Gambaran klinis :
a. Anamnesa
1. Timbul mendadak, nyeri hebat dan pembengkakan skrotum.
2. Sakit perut hebat, kadang mual dan muntah.

3. Nyeri dapat menjalar ke daerah inguinal.


b. Pemeriksaan Fisik :
1. Inspeksi
Testis bengkak, terjadi retraksi testis ke arah kranial, karena funikulus
spermatikus terpuntir dan memendek, testis pada sisi yang terkena lebih tinggi dan
lebih horizontal jika dibandingkan testis sisi yang sehat.
2. Palpasi teraba lilitan / penebalan funikulus spermatikus.
3. Spermatokel
Adalah benjolan kistik yang berasal dari epididimis dan berisi sperma.7
Gambaran klinis :
Anamnesa : Benjolan kecil, tidak nyeri
Pemeriksaan fisik : - teraba masa kistik
- Mobile
- Lokasi di cranial dari testis
- Transiluminasi (+)
- Aspirasi : cairan encer, keruh keputihan.
4. Hematokel
Adalah penumpukan darah di dalam tunika vaginalis, biasanya didahului oleh
trauma.7
Gambaran klinik : benjolan pada testis
Pemeriksaan Fisik :
- Masa kistik
-Transiluminasi (-)
5. Hernia Inguinalis Lateral
Gambaran klinis :6
a. Anamnesa :
Benjolan di daerah inguinal/skrotal yang hilang timbul. Timbul saat mengedan,
batuk, atau menangis, dan hilang bila pasien tidur.
b. Pemeriksaan fisik :
Terdapat benjolan di lipat paha/ skrotum pada bayi saat menangis dan bila pasien
diminta untuk mengedan. Benjolan menghilang atau dapat dimasukkan kembali
ke rongga abdomen.
Transiluminasi (-)
6. Tumor Testis
Keganasan pada pria terbanyak usia antara 15-35 tahun.1
Gambaran klinis :
Anamnesa : Keluhan adanya pembesaran testis yang tidak nyeri.
Terasa berat pada kantong skrotum
Pemeriksaan Fisik :

Benjolan pada testis yang padat, keras, tidak nyeri pada palpasi.
Transiluminasi (-)
H. Terapi
Hidrokel biasanya tidak berbahaya dan pengobatan biasanya baru dilakukan
jika penderita sudah merasa terganggu atau merasa tidak nyaman atau jika
hidrokelnya sedemikian besar sehingga mengancam aliran darah ke testis.8
Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 1
tahun dengan harapan setelah prosesus vaginalis menutup, hidrokel akan
sembuh sendiri; tetapi jika hidrokel masih tetap ada atau bertambah besar
perlu dipikirkan untuk dilakukan koreksi.
Pengobatannya bisa berupa aspirasi (pengisapan cairan) dengan bantuan
sebuah jarum atau pembedahan. Tetapi jika dilakukan aspirasi, kemungkinan
besar hidrokel akan berulang dan bisa terjadi infeksi. Setelah dilakukan aspirasi,
bisa disuntikkan zat sklerotik tetrasiklin, natrium tetra desil sulfat atau urea untuk
menyumbat/menutup lubang di kantung skrotum sehingga cairan tidak akan
tertimbun kembali. Hidrokel yang berhubungan dengan hernia inguinalis harus
diatasi dengan pembedahan sesegera mungkin. Hidrokel pada bayi biasanya
ditunggu hingga anak mencapai usia 1 tahun dengan harapan setelah prosesus
vaginalis menutup, hidrokel akan sembuh sendiri, tetapi jika hidrokel masih tetap
ada atau bertambah besar perlu dipikirkan untuk dilakukan koreksi.8
Beberapa indikasi untuk melakukan operasi pada hidrokel adalah :
(1) Hidrokel yang besar sehingga dapat menekan pembuluh darah
(2) Indikasi kosmetik
(3) Hidrokel permagna yang dirasakan terlalu berat dan mengganggu pasien
dalam melakukan aktivitasnya sehari-hari.
Tindakan pembedahan berupa hidrokelektomi. Pengangkatan hidrokel bisa
dilakukan anestesi umum ataupun regional (spinal).
Hidrokelektomi
Pada hidrokel kongenital dilakukan pendekatan inguinal karena seringkali
hidrokel ini disertai dengan hernia inguinalis sehingga pada saat operasi hidrokel,
sekaligus melakukanherniografi. Pada hidrokel testis dewasa dilakukan
pendekatan scrotal dengan melakukan eksisi dan marsupialisasi kantong hidrokel
sesuai cara Winkelman atau plikasi kantonghidrokel sesuai cara Lord. Pada
hidrokel funikulus dilakukan ekstirpasi hidrokel secara in toto. Pada hidrokel
tidak ada terapi khusus yang diperlukan karena cairan lambat laun akan diserap,
biasanya menghilang sebelum umur 1 tahun.
Teknik Operasi

Secara singkat tehnik dari hidrokelektomi dapat dijelaskan sebagai berikut:


Dengan pembiusan regional atau umum.
Posisi pasien terlentang (supinasi).
Desinfeksi lapangan pembedahan dengan larutan antiseptik.
Lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril.
Insisi kulit pada raphe pada bagian skrotum yang paling menonjol lapis demi
lapis sampai tampak tunika vaginalis.
Dilakukan preparasi tumpul untuk meluksir hidrokel, bila hidrokelnya besar
sekali dilakukan aspirasi isi kantong terlebih dahulu.
Insisi bagian yang paling menonjol dari hidrokel, kemudian dilakukan:
Teknik Jaboulay: tunika vaginalis parietalis dimarsupialisasi dan bila diperlukan
diplikasi dengan benang chromic cat gut.
Teknik Lord: tunika vaginalis parietalis dieksisi dan tepinya diplikasi dengan
benang chromic cat gut.
Luka operasi ditutup lapis demi lapis dengan benang chromic cat gut.
Komplikasi pasca bedah ialah perdarahan dan infeksi luka operasi.
I. Komplikasi
1. Kompresi pada peredaran darah testis
2. Jika dibiarkan, hidrokel yang cukup besar mudah mengalami trauma dan hidrokel
permagna bisa menekan pembuluh darah yang menuju ke testis sehingga
menimbulkan atrofi testis.
3. Perdarahan yang disebabkan karena trauma dan aspirasi.
4. Sekunder Infeksi.

Panduan Penatalaksanaan Hidrokel


Hidrokel pada bayi biasanya ditunggu hingga anak mencapai usia 1224 bulan dengan harapan prosesus vaginalis dapat menutup, dan
hidrokel akan sembuh dengan sendirinya. Jika hidrokel masih ada atau
bertambah besar, disebut juga dengan hidrokel persisten, maka perlu
dipikirkan untuk dilakukan koreksi.
Prinsip utama penatalaksanaan hidrokel adalah dengan
mengatasi penyebab yang mendasarinya. Terdapat beberapa indikasi
dilakukannya intervensi: ukuran hidrokel yang semakin membesar dan
dapat menekan pembuluh darah, adanya tanda-tanda infeksi, adanya
keluhan tidak nyaman/nyeri dan juga indikasi kosmetik. Berbagai

macam tindakan intervensi digunakan untuk mengobati penyakit


hidrokel, baik invasif maupun minimal invasif.
Salah satu metode minimal invasif pada terapi hidrokel yaitu
metode aspirasi-skleroterapi. Pada metode ini, dilakukan aspirasi
cairan hidrokel dan disuntikkan zat sklerotik (tetrasiklin, natrium tetra
desil sulfat atau urea) agar mukosa menjadi kering dan terjadi
perlengketan. Metode ini mudah dan aman dilakukan, namun
efektivitas dan kepuasan pasien terhadap terapi lebih rendah
dibandingkan tindakan pembedahan.
Hidrokelektomi merupakan tindakan baku emas pada hidrokel.
Hidrokelektomi dapat dilakukan dengan berbagai metode seperti yang
akan dijelaskan pada artikel ini.

Gambar 2. Pilihan penatalaksanaan hidrokel

Hidrokelektomi Pada Dewasa


Pendekatan pembedahan melalui skrotum
Pada tindakan pembedahan dengan pendekatan skrotum, insisi dapat
dilakukan di samping mediana raphe secara vertikal (pararaphe) atau
insisi transversal. Teknik hidrokeletomi memiliki berbagai macam
variasi dan nama, secara garis besar hidrokeletomi dibagi menjadi dua
teknik yaitu dengan teknik eksisi dan teknik dengan plikasi. Teknik-

teknik hidrokelektomi tersebut yang populer dilakukan adalah teknik


Jaboulay (eksisi) dan teknik plikasi Lord.
Pada teknik Jaboulay, dilakukan eksisi pada kantong hidrokel
secara tipis dengan meninggalkan sisa lapisan kantong yang cukup
banyak sehingga dapat dijahit bersamaan setelah dlakukan eversi
kantong kebelakang testis dan funikulus spermatikus. Teknik ini
sangat berguna untuk kantong hidrokel yang lebar, berat dan tipis.
Teknik plikasi Lord dapat digunakan pada dinding hidrokel
yang tipis namun tidak dianjurkan untuk digunakan pada kantong
yang lebar, panjang dan tebal karena teknik ini akan meninggalkan
ikatan-ikatan lipatan dari jaringan yang diplikasi pada skrotum.
Prinsip teknik Lord dilakukan dengan membuka kantong hidrokel,
mengeluarkan testis dari kantong, menjahit tepi kantong hidrokel dan
dengan menggunakan jahitan interrupted, secara radial dijahit untuk
plikasi kantong.

Gambar 3. Pendekatan skrotal:


A. teknik Jaboulay, B. teknik plikasi Lord
Langkah-langkah pendekatan pembedahan melalui skrotum:
-

1.

Insisi dilakukan di paramediana raphe, sepanjang 6-10 cm pada permukaan anterior

skrotum diatas bagian dari hidrokel.


-

2.

Insisi lapis demi lapis dari kulit, lapisan otot dartos, fasia cremaster hingga tampak

lapisan parietal dari tunica vaginalis dimana lapisan ini adalah dinding luar dari kantong
hernia.

3.

Insisi dinding luar hidrokel, cairan hidrokel dievakuasi dengan menggunakan suction

4.

Kantong hidrokel dipisahkan dari skrotum, setelah lalu dibuka secara utuh sehingga

tampak jelas bagian funikulus spermatikus dan testis..


-

5.

Pada teknik Jaboulay, dinding kantong hidrokel dipotong dengan gunting dengan hanya

menyisakan batas dinding sekitar 2 cm dari testis, epididimis dan funikulus


spermatikus tepi dinding hidrokel yang tersisa lalu dijahitkan dibelakang testis dan
funikulus

spermatikus

dengan

jahitan interrupted atau

dapat

menggunakan

jahitan continues(untuk meminimalisir rembesan darah dari tepi luka), sehingga bagian
kantong hidrokel tereversi.
-

6.

Pada teknik plikasi Lord, dilakukan jahitan plikasi (terbentuknya lipatan-lipatan seperti

plika) di sekitar dinding hidrokel dengan jahitan interupted


-

Dilakukan kontrol perdarahan untuk mencegah terjadinya hematoma,


7. Testis

dan funikulus spermatikus ditempatkan kembali pada skrotum secara hati-hati

untuk menghindari pluntiran, bila perlu dilekatkan ke bagian dasar dinding skrotum
dengan satu hingga dua jahitan absorbable.
-

8. Fasia

dartos ditutup dengan jahitan interupted absorbable. Lalu dipasang drainase

Penrose pada celah insisi yang telah dibuat (jika diperlukan), untuk mengurangi resiko
terjadinya hematom
-

9.

Kulit ditutup dengan jahitan subkutan.

Gambar 4. Teknik operasi Jaboulay

Gambar 7. Teknik plikasi Lord


Beberapa teknik hidrokeletomi lainnya adalah sebagai berikut:

1.

Teknik Von Bergmann : tepi luka dinding hidrokele yang telah dieksisi dijahit

bersamaan namun tidak dilakukan penjahitan kebelakang testis (eversi) seperti teknik
Jaboulay
-

2. Teknik

Winkelmann : teknik ini sama dengan teknik Jaboulay, istilah ini biasa dipakai

di Jerman
-

3. Teknik

Andrew : dikenal dengan bloody technique dikarenakan dilakukan dengan cara

tunika vaginalis digunting, lalu dieversi mengeliling testis, namun tepi luka tidak dijahit.
Kemudia dimasukan kembali ke skrotum dan ditutup lapis demi lapis.

Pendekatan pembedahan melalui inguinal


Laki-laki yang didiagnosa dengan hidrokel, dimana dicurigai adanya
keganasan, sebaiknya dilakukan pembedahan dengan pendekatan
inguinal agar dapat mengendalikan funikulus spermatikus untuk
persiapan kemungkinan dilakukan orchiektomi.

Gambar 7. Pendekatan hidrokelektomi melalui inguinal (dewasa)


Langkah-langkah Teknik Inguinal Dewasa:

1. Insisi

pada kuadran bawah abdomen sepanjang 4-6 cm, ke arah lateral dari titik tepat di

atas tuberkulum pubikum.


-

2.

Insisi menembus kutis, subkutis, fascia camper, fascia scarpa. Aponeurosis musculus

obliqus externus terlihat.


-

Aponeurosis musculus obliqus externus telah diincisi, tampak kantung hidrokel dan

3.

spermatical

cord.

Spermatical

cord

dipreservasi

lalu

keluarkan

isi

kantong

hidrokel (cairan) dengan pungsi menggunakan spuit atau diberikan insisi pada dinding
kantong hidrokel lalu dimasukan suction.
-

4.

Kantong hidrokel yang telah dinsisi kemudian dapat dilanjutkan dengan penjahitan

yang digunakan pada teknik Jaboulay atau teknik Lord.


-

5. Testis

dan spermatic cord dikembalikan ke tempat awal.

6.

Aponeurosis musculus oblique externus dijahit, lapis demi lapis ditutup.

7.

Kulit dijahit dengan jahitan subcuticular.

Hidrokelektomi pada Anak


Pada beberapa penelitian , temuan intraoperasi pada anak usia di
bawah 10 tahun terbanyak adalah hidrokel komunikans dimana
merupakan indikasi dilakukan teknik ligasi tinggi. Hidrokel
komunikans kerap disertai dengan hernia inguinalis sehingga
diperlukan tindakan herniorafi . Sebaliknya, pada anak usia di atas 1012 tahun, 80-86% temuan intraoperasi adalah hidrokel
nonkomunikans sehingga pendekatan melalui skrotum sudah dapat
dilakukan. Tidak dianjurkan penanganan hidrokel pada anak dengan
menggunakan aspirasi-skleroterapi.
Langkah-langkah Teknik Inguinal (Ligasi Tinggi pada Anak):
-

1. Insisi

pada kuadran bawah abdomen sepanjang 2-4cm, ke arah lateral dari titik tepat di

atas tuberkulum pubikum.


-

2.
3.

Fascia superfisialis telah diinsisi. Aponeurosis musculus obliqus externus terlihat.


Aponeurosis musculus obliqus externus telah diinsisi, tampak kantung hidrokel dan

cord. Lalu keluarkan isi kantong hidrokel (cairan).


-

4.

Aponeurosis oblique externus dijepit, memperlihatkan musculus cremaster dan fascia

spermaticus interna melapisi kantung dan cord.


-

5.

Kantung yang melalui canalis inguinalis dan annulus inguinalis externa dipisahkan dari

cord di bawahnya. Ujung distal telah dibuka sebagian. Ujung proximal akan dilakukan
high ligation pada leher kantung.
-

6.

Ujung proksimal kantung diangkat. Retroperitoneal fat pad yang selalu ada dan

merupakan indikasi titik untuk high ligation. Jahitan dilakukan pada leher kantung.

Setelah dijahit, jahitan kedua dilakukan pada distal dari jahitan pertama untuk
memastikan ligasi yang permanen.
-

7.

Aponeurosis musculus oblique externus dijahit, lapis demi lapis ditutup.

8.

Kulit dijahit dengan jahitan subkutis.

Gambar. Teknik hidrokelektomi pada Anak


Pilihan Jenis Anastesi pada Hidrokelektomi
Pilihan penggunaan anastesi pada hidrokelektomi dapat dilakukan
dalam anestesi umum, spinal maupun lokal sesuai kebutuhan. Pada
anak-anak dianjurkan untuk menggunakan anastesi umum untuk
mempermudah pengerjaan operasi. Sedangkan pada dewasa pada
umumnya dilakukan dengan anastesi spinal, namun pada keadaan
tertentu, seperti terbatasnya fasilitas dan adanya komorbiditas pada
pasien, dapat dilakukan anastesi lokal
Anastesi lokal dapat dilakukan dengan menyuntikan lidocain
pada daerah perbatasan antara inguinal dan skrotum dimana lidocain
akam masuk disekitar funikulus spermatikus. Suntikan dilakukan tiga

kali dengan arah sudut yang berbeda. Selain itu diberikan diazepam 510cc intramuskular 30 menit sebelum dilakukan insisi. Pilihan dari
ketiga macam anastesi tersebut tidak ada perbedaan bermakna
timbulnya nyeri pada intraoperasi maupun pascaoperasi, dimana
derajat nyeri pada ketiganya adalah minimal bahkan hingga nol.
Penatalaksanaan Post Operasi Hidrokel
Penyembuhan post-operasi hidrokel biasanya cepat, pasien dapat
dilakukan rawat jalan 4-6 jam pasca operasi. Namun beberapa kondisi
tertentu dapat dilakukan observasi di rawat inap 1-2 hari. Analgetik
lini pertama dapat digunakan untuk mengatasi nyeri post operasi.
Antibiotik diindikasikan pada kasus hidrokel yang disertai infeksi.
Apabila menggunakan drainase, dapat dilepas 48-72 jam pasca
operasi karena angka kejadian hematom pasca operasi rata-rata akan
munculi pada 48 jam pasca operasi. Pasca operasi, dapat
digunakan scrotal support untuk melindungi skrotum dari mobilisasi
yang berlebihan.
Pada prinsipnya, hidrokelektomi dapat dilakukan tanpa rawat
inap, pasien dapat kembali bekerja setelah tingkat kenyamanan
memungkinkan (biasanya 1-3 hari post-operasi). Sekitar 2 minggu
setelah operasi, posisi mengangkang (naik sepeda) harus dihindari
untuk mencegah perpindahan testis yang mobile keluar dari skrotum,
dimana dapat terjebak oleh jaringan ikat dan mengakibatkan
cryptorchidism sekunder. Pada dewasa, aktivitas olahraga harus
dibatasi selama 4-6 minggu.
Komplikasi
Komplikasi tersering pada operasi hidrokelektomi adalah hematoma.
Komplikasi pada hidrokeletomi terjadi pada 19% kasus. Komplikasi
yang dapat terjadi selain hematoma adalah infeksi, bengkak yang
persisten, rekurensi dan nyeri kronik. Tindakan skleroterapi dapat

berdampak negatif fertilitas sehingga pemilihannya harus dihindari


pada pasien yang masih produktif secara seksual.