Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Burung Kutilang atau Kutilang adalah sejenis burung pengicau dari suku
Pycnonotidae.

Orang

Sunda

menyebutnya

cangkurileung,

orang

Jawa

menamainya ketilang atau genthilang, mengikuti bunyi suaranya yang khas.


Dalam bahasa Inggris burung ini disebut Sooty-headed Bulbul, sementara nama
ilmiahnya adalah Pycnonotus aurigaster; mengacu pada bulu-bulu di sekitar
pantatnya yang berwarna jingga. Burung yang berukuran sedang, panjang tubuh
total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 20 cm. Sisi atas tubuh
(punggung, ekor) berwarna coklat kelabu, sisi bawah (tenggorokan, leher, dada
dan perut) putih keabu-abuan. Bagian atas kepala, mulai dari dahi, topi dan
jambul, berwarna hitam. Tungging (di muka ekor) nampak jelas berwarna putih,
serta penutup pantat berwarna jingga. Iris mata berwarna merah, paruh dan kaki
hitam.
Burung kutilang kerap mengunjungi tempat-tempat terbuka, tepi jalan,
kebun, pekarangan, semak belukar dan hutan sekunder, sampai dengan ketinggian
sekitar 1.600 m dpl. Sering pula ditemukan hidup meliar di taman dan halamanhalaman rumah di perkotaan. Burung kutilang acapkali berkelompok, baik ketika
mencari makanan maupun bertengger, dengan jenisnya sendiri maupun dengan
jenis merbah yang lain, atau bahkan dengan jenis burung yang lain. Seperti
umumnya merbah, makanan burung ini terutama adalah buah-buahan yang lunak.
Burung kutilang sering menjengkelkan petani karena kerap melubangi buah
pepaya dan pisang yang telah masak di kebun. Namun sebaliknya burung ini
menguntungkan petani karena juga memangsa pelbagai jenis serangga, ulat dan
aneka hewan kecil lainnya yang menjadi hama tanaman. Burung kutilang dapat
dijadikan hewan peliharaan yang lucu dan menggemaskan. Jika dipelihara dengan
baik terlebih dari anakan, burung kutilang akan sangat jinak seperti kucing
peliharaan yang manja. Burung kutilang tergolong binatang yang setia kepada
tuannya apabila sering diperhatikan Jika sudah jinak burung kutilang ketika
dilepas maka dia akan kembali lagi ke sarangnya jika dipanggil tuannya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Morfologi
Kaki pada burung kutilang, jari kakinya panjang dan semua jari terletak
pada satu bidang datar untuk bertengger di ranring pohon.
Bentuk paruh :
Ciri-ciri fisik burung kutilang diantaranya adalah memiliki ukuran yang
sedang dengan ukuran sekitar 20 cm (dari paruh hingga ujung ekor), pada bagian
punggung dan ekor berwarna cokelat kelabu, pada bagian tenggorokan, leher,
dada dan perut berwarna putih keabu-abuan. Bagian atas kepala, mulai dari dahi,
topi dan jambul, berwarna hitam, sedangkan bagian tungging berwarna putih,
serta penutup pantat berwarna jingga, Iris mata berwarna merah, paruh dan
kakiberwarna hitam.
Habitat kutilang terdapat di tempat-tempat terbuka, seperti tepi jalan,
kebun, pekarangan, semak belukar dan hutan sekunder. Burung Kutilang juga
sering ditemukan hidup secara liar di taman dan halaman-halaman rumah di
perkotaan.

Karakter

burung

Kutilang

diantaranya

adalah

biasa

hidup

berkelompok, baik saat mencari makanan maupun bertengger, dengan jenisnya


sendiri maupun dengan jenis merbah (familia Pycnonotidae) yang lain, atau
bahkan dengan jenis burung yang lain.
Burung Kutilang juga kerap terbang sembari bersiul atau mengeluarkan
suara ribut secara berulang-ulang, begitupun saat burung ini bertengger. Burung
Kutilang sangat menyukai air untuk mandi maupun minum. Karena sering minum,
burung kutilang tergolong burung yang sering membuang kotoran.
Sarang burung Kutilang berbentuk cawan dari anyaman daun rumput,
tangkai daun atau ranting yang halus. Burung Kutilang biasa bertelur 2-3 butir,
berwarna kemerah-jambuan berbintik ungu dan abu-abu. Burung ini akan
bersarang sepanjang tahun kecuali November, dengan puncaknya AprilSeptember.

B. Klasifikasi
Nama Indonesia

: Kutilang

Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Class

: Aves

Order

: Passeriformes

Family

: Pycnonotidae

Genus

: Pycnonotus

Species

: P.aurigaster

C. Sistem Pencernaan
Pada prinsipnya sistem pencernaan burung kutilang dibagi menjadi 3
macam yaitu :
1. Sistem Pencernaan Secara Mekanis
Secara Mekanis dirongga mulut bahan pakan didorong secara mekanis
oleh lidah menuju kerongkongan (oesophagus) disini bahan pakan tersebut
menuju tembolok, selanjutnya didorong menuju empedal dan didalam empedal
(ampela) bahan makanan mengalami proses pengecilan partikel secara mekanis
agar luas permukaan serapannya menjadi lebih luas atau lebar dan enzim
pencernaan dapat melakukan penetrasi lebih dalam.
2. Sistem Pencernaan Secara Enzimatis
Kelenjar yang banyak didalam tubuh burung kutilang mempu mencerna
pakan secara enzimatis, di dalam rongga mulut bahan makanan dicerna oleh
amilase ptyalin untuk mengubah pati menjadi karbohidrat yang lebih sederhana.
Di dalam lambung, pakan yang dalam proses pencernaan (ingesta) diasamkan
oleh keberadaan asam khlorida (HCI) atau asam lambung. Asam ini sangat
penting untuk mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin yang sangat dibutuhkan
untuk mencerna protein menjadi pepton (senyawa protein yang lebih sederhana)
sehingga dapat diserap oleh usus halus.
Kemudian ingesta didorong menuju usus halus yang terdiri dari 3 bagian
yaitu duodenum, jejunum dan illeum. Pada dinding doudenum ini terdapat
pangkreas yang menghasilkan beberapa enzim seperti amilase dan lipase. Amilase

untuk mencerna pati menjadi karbohidrat yang lebih sederhana. Lipase penting
untuk mencerna lemak menjadi asam lemak yang akan diserap oleh usus halus.
Kemudian mengalami absorbsi nutrien dalam usus halus , ingesta selanjutnya
didorong menuju usus besar dan disini sedikit mengalami absorbsi nutrien.
3. Sistem Pencernaan Secara Biologis
Secara biologis sistem pencernaan ini dilakukan oleh mikroba sehingga
proses pencernaan ini kemudian disebut pencernaan secara mikro-biologis. Proses
pencernaan secara mikro-biologis terjadi ketika ingesta tertahan didalam usus
besar, seperti sekum dan usus besar
D. Sistem Pernapasan
Terdiri dari :
a. Lubang Hidung Luar
b. Lubang Hidung Dalam
c. Celah Tekak
d. Trakea
e. Siring
f.

Paru-paru

E. Sistem Ekskresi
Burung kutilang memiliki ginjal dengan tipe metanefros. Burung tidak
memiliki kandung kemih sehingga urine dan fesesnya bersatu dan keluar melalui
lubang kloaka. Urine pada burung diekskresikan dalam bentuk asam urat.
Metabolisme burung sangat cepat. Dengan demikian, sistem ekskresi juga harus
memiliki dinamika yang sangat tinggi. Peningkatan efektivitas ini terlihat pada
jumlah nefron yang dimiliki oleh ginjal burung. Setiap 1 mm 3 ginjal burung,
terdapat 100500 nefron. Jumlah tersebut hampir 100 kali lipat jumlah nefron
pada manusia. Jenis burung laut juga memiliki kelenjar ekskresi garam yang
bermuara pada ujung matanya. Hal tersebut untuk mengimbangi pola makannya
yang memangsa ikan laut dengan kadar garam tinggi.

F. Sistem Sirkulasi
Alat sirkulasi darah berupa jantung yang terdiri dari 4 ruang dengan sekat
sempurna, arteri dan vena. Sistem sirkulasi darah Aves sama dengan sirkulasi
darah pada manusia. Alur sirkulasi darah pada Aves. Darah dari vena kava masuk
ke atrium kanan, lalu ke ventrikel kanan. Kemudian, darah dipompa ke paru-paru
melalui arteri pulmonalis. Darah dari paru-paru kembali ke atrium kiri melalui
vena pulmonalis, lalu menuju ventrikel kiri. Di ventrikel kiri darah dipompa ke
seluruh tubuh melalui aorta
1). Proses Inspirasi
a) Pengambilan udara adalah dimulai dari adanya pergerakan tulang rusuk ke
arah depan bawah.
b) Rongga dada membesar tetapi tekanan udara mengecil.
c) Diikuti mengembangnya paru-paru dan mengecilnya tekanan di dalam
rongga paru-paru.
d) Akibatnya udara

masuk

ke

dalam

paru-paru

melalui

saluran

pernapasan antara lain lewat lubang hidung luar, lubang hidung dalam,
celah tekak, trakea, siring, dan terakhir udara masuk ke paru-paru.
e) Setelah udara masuk ke paru-paru, udara akan masuk

ke

dalam parabronkus.
f) Di dalam parabronkus terjadi pertukaran O2 dan CO2 semua udara yang
masuk sebagian udara masuk ke dalam paru-paru dan sebagian udara
lainnya masuk ke kantong udara.
2).

Proses Ekspirasi Saat Istirahat


a) Tulang rusuk kembali ke posisi semula.
b) Otot-otot dada bekerja dengan

mengecilkan

sedangkan tekanan rongga dada menjadi besar.


c) Ruangan dari paru-paru menjadi tertekan

rongga

sehingga

dada,
menjadi

sempit sedangkan tekanan dalam ruang paru-paru menjadi besar.


d) Udara ke luar dari kantong udara dan paru-paru.
e) Saat udara melewati paru-paru terjadi difusi O2 dan CO2 lagi.

b.

Pernapasan Saat Terbang


Pada saat terbang pernapasan burung tidak menggunakan paru-

paru, melainkan kantong udara antartulang korakoid, prosesnya sebagai berikut.

1) Pada

saat

burung

terbang

mengangkat

sayapnya,

maka

mengakibatkan kantong udara antartulang korakoid terjepit tetapi kantong


udara yang terletak di bawah ketika mengembang.
2) Udara masuk ke kantong udara yang berada di bawah ketiak.
3) Terjadi proses masuknya udara (inspirasi) yang ditandai dengan terjadinya
difusi O2 dan CO2 dalam paru-paru.
4) Pada saat burung menurunkan sayapnya mengakibatkan kantong
udara yang berada di bawah ketiak terjepit sehingga menyebabkan
kantorng udara antartulang korakoid mengembang.
5) Kemudian udara masuk ke dalam kantong udara antartulang korakoid.
6) Sehingga terjadilah ekspresi yang juga ditandai terjadinya difusi O 2 dan
CO2.
G. Sistem Koordinasi
Sistem syaraf pada Kutilang merupakan satu kesatuan yang dapat
mengontrol semua fungsi pada tubuh. Rangsangan syaraf akan disampaikan
melalui sistem syaraf yang terdiri dari sel-sel syaraf ke beberapa pusat syaraf,
yang terdapat pada otak, sumsum tulang dan ganglia (terdapat pada tubuh). Sistem
syaraf dibagi menjadi dua bagian, yaitu sistem syaraf otak atau somatik yang
bertanggung jawab terhadap gerakan tubuh pada kondisi sadar dan sistem syaraf
otonom yang bertanggung jawab dalam koordinasi gerak dibawah sadar seperti
pada gerakan alat pencernaan, pembuluh darah dan kelenjar hormon (Nesheim et
al., 1979).
H. Sistem Reproduksi
Kelompok burung merupakan hewan ovipar. Walaupun kelompok burung t
idak memiliki alat kelamin luar, fertilisasi tetap terjadi di dalam tubuh. Hal ini dila
kukan dengan cara saling menempelkan kloaka.
1. Sistem Genitalia Jantan.
a. Testis berjumlah sepasang, berbentuk oval atau bulat, bagian permukannya
licin, terletak di sebelah ventral lobus penis bagian paling kranial. Pada
musim kawin ukurannya membesar. Di sinilah dibuat dan disimpan
spermatozoa.

b. Saluran reproduksi. Tubulus mesonefrus membentuk duktus aferen dan


epididimis. Duktus wolf bergelung dan membentuk duktus deferen. Pada
burung-burung kecil, duktus deferen bagian distal yang sangat panjang
membentuk sebuah gelendong yang disebut glomere. Dekat glomere bagian
posterior dari duktus aferen berdilatasi membentuk duktus ampula yang
bermuara di kloaka sebagai duktus ejakulatori. Duktus eferen berhubungan
dengan epididimis yang kecil kemudian menuju duktud deferen. Duktus
deferen tidak ada hubungannya dengan ureter ketika masuk kloaka.
2. Sistem Genitalia Betina.
a. Ovarium. ovarium kutilang yang berkembang hanya yang kiri, dan terletak
di bagian dorsal rongga abdomen.
b. Saluran reproduksi, oviduk yang berkembang hanya yang sebelah kiri,
bentuknya panjang, bergulung, dilekatkan pada dinding tubuh oleh
mesosilfing dan dibagi menjadi beberapa bagian; bagian anterior adalah
infundibulum yang punya bagian terbuka yang mengarah ke rongga selom
sebagai ostium yang dikelilingi oleh fimbre-fimbre. Di posteriornya adalah
magnum yang akan mensekresikan albumin, selanjutnya istmus yang
mensekresikan membrane sel telur dalam dan luar. Uterus atau shell gland
untuk menghasilkan cangkang kapur.
3. Proses Fertilisasi
a) Pada burung betina hanya ada satu ovarium, yaitu ovarium kiri.
b) Ovarium kanan tidak tumbuh sempurna dan tetap kecil yang disebut
rudimenter.
c) Ovarium dilekati oleh suatu corong penerima ovum yang dilanjutkan oleh
oviduk.
d) Ujung oviduk membesar menjadi uterus yang bermuara pada kloaka.
e) Pada burung jantan terdapat sepasang testis yang berhimpit dengan ureter
dan
bermuara di kloaka.
f) Fertilisasi akan berlangsung di daerah ujung oviduk pada saat sperma masuk
ke dalam oviduk. Ovum yang telah dibuahi akan bergerak mendekati
kloaka. Saat perjalanan menuju kloaka di daerah oviduk, ovum yang telah
dibuahi sperma akan dikelilingi oleh materi cangkang berupa zat kapur.
g) Telur dapat menetas apabila dierami oleh induknya.

h) Suhu tubuh induk akan membantu pertumbuhan embrio menjadi anak


burung.
i) Anak burung menetas dengan memecah kulit telur dengan menggunakan
paruhnya.
j) Anak burung yang baru menetas masih tertutup matanya dan belum dapat
mencari makan sendiri, serta perlu dibesarkan dalam sarang.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ciri-ciri fisik burung kutilang diantaranya adalah memiliki ukuran yang
sedang dengan ukuran sekitar 20 cm (dari paruh hingga ujung ekor), pada bagian
punggung dan ekor berwarna cokelat kelabu, pada bagian tenggorokan, leher,
dada dan perut berwarna putih keabu-abuan. Bagian atas kepala, mulai dari dahi,
topi dan jambul, berwarna hitam, sedangkan bagian tungging berwarna putih,
serta penutup pantat berwarna jingga, Iris mata berwarna merah, paruh dan
kakiberwarna hitam.
Habitat kutilang terdapat di tempat-tempat terbuka, seperti tepi jalan,
kebun, pekarangan, semak belukar dan hutan sekunder. Burung Kutilang juga
sering ditemukan hidup secara liar di taman dan halaman-halaman rumah di
perkotaan.
Pada prinsipnya sistem pencernaan burung kutilang dibagi menjadi 3
macam yaitu :
1. Sistem Pencernaan Secara Mekanis
2. Sistem Pencernaan Secara Enzimatis
3. Sistem Pencernaan Secara Biologis
Burung kutilang memiliki ginjal dengan tipe metanefros. Burung tidak
memiliki kandung kemih sehingga urine dan fesesnya bersatu dan keluar melalui
lubang kloaka.

DAFTAR PUSTAKA
Alikodra, H. S. 1980. Dasar-Dasar Pembinaan Marga Satwa. Bogor: Fakultas
Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Indriyanto. 2008. Ekologi Hutan. Bumi Aksara. Jakarta.

10

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.


Karena dengan rahmat dan karunia-Nya penulis mampu
menyelesaikan tugas ini. Dan terima kasih kepada dosen pembimbing
yang telah ikut serta dalam membimbing penulis sampai saat
sekarang. Penulis menyadari bahwa tugas ini masih banyak
kekurangan dan kejanggalan, maka penulis mengharapkan kritik dan
saran dari pembaca.
Oleh karena itu, penulis tidak lupa meminta maaf kepada
pembaca dan kepada Tuhan penulis memohon ampun. Penulis
mengharapkan kritik dan saran agar kiranya tugas ini bisa sempurna
dan berguna bagi pembaca.

Padangsidimpuan, Mei
201
5

PENULIS

11

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................
i
DAFTAR ISI.......................................................................
ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................
1

BAB II PEMBAHASAN.........................................................
2

A. Morfologi...............................................................................
B. Klasifikasi ............................................................................
C. Sistem Pencernaan.................................................................
D. Sistem Pernapasan..................................................................
E. Sistem Ekskresi.....................................................................
F. Sistem Sirkulasi.....................................................................
G. Sistem Koordinasi..................................................................
H. Sistem Reproduksi.................................................................

2
3
3
4
4
5
5
6

BAB III PENUTUP..............................................................

DAFTAR PUSTAKA............................................................ 10

12