Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KASUS

Penyakit Paru Obstruktif Kronis Eksaserbasi


Akut
No. ID Peserta
:
Nama Peserta
: dr. Intan Sari Simbolon
No. ID Wahana
:
Nama Wahana
: RSUD Brigjen Haji Hasan Basry
Topik
: Penyakit Paru Obstruktif Kronis
Tanggal Kasus
:
Nama Pasien
: Ny. Salamiah
No. Rekam Medis
: 127230
Tanggal Presentasi :
Nama Pendamping : dr. Isa Ansari, Sp.P
Tempat Presentasi
: RSUD Brigjen Haji Hasan Basry
Obyektif Presentasi :
Keilmuan
Keterampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus
Bayi
Anak
Remaja
Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi
: Membahas manajemen pada kasus PPOK eksaserbasi akut
Tujuan
: Mengetahui prinsip penanganan sesak napas pada kasus PPOK
Bahan Bahasan
: Tinjauan
Riset
Kasus Audit
Cara Membahas

Pustaka
Diskusi

Presentasi dan Diskusi

DATA PASIEN
Nama : Ny. Salamiah
Umur : 56 tahun
Nama Klinik : RSUD BHHB
Telp :
Data Utama Untuk Bahan Diskusi:
Keluhan utama: sesak napas

E-mail

Pos

No RM : 127230
Terdaftar Sejak :

Pasien datang dengan keluhan sesak napas, disertai batuk berdahak putih, tanpa panas badan.
Pasien menggunakan kayu bakar untuk memasak selama 40 tahun lebih. Pada pemeriksaan
fisik ditemukan takipnea, pursed lip breathing, retraksi interkostal dan epigastrium, serta
wheezing pada kedua lapang paru.
Pada hasil pemeriksaan foto X-Ray toraks ditemukan gambaran bronkitis kronis.
Daftar Pustaka:
1. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease Revised 2011.
2. Kumar V, Abbas AK, Fausto N, Aster JC, editors. Robbins and Cotran Pathologic Basis
of Disease. 7th ed. Philadelphia: Saunders; 2005.
1

Hasil Pembelajaran:
1. Definisi PPOK
2. Faktor Risiko PPOK
3. Patogenesis PPOK
4. Gambaran Klinik PPOK
5. Diagnosis Banding PPOK
6. Penilaian PPOK
7. Penatalaksanaan PPOK Stabil
8. Penatalaksanaan Eksaserbasi PPOK
9. Komorbiditas PPOK
Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio:
1. Subyektif:
Keluhan Utama: sesak napas
Anamnesis Khusus:
Pasien datang dengan keluhan sesak napas yang semakin memburuk sejak 1 hari
SMRS. Keluhan disertai batuk berdahak putih, batuk tidak berdarah. Pasien juga
merasa lemas. Keluhan tidak disertai panas badan. Keluhan serupa telah dialami
pasien sejak beberapa bulan SMRS, keluhan hilang timbul, sesak timbul terutama saat
beraktivitas fisik (naik tangga, dll). Pasien menggunakan kayu bakar untuk memasak
selama 40 tahun lebih. Riwayat pengobatan OAT/6 bulan tidak ada. Riwayat asma,
penyakit jantung, penyakit ginjal, maupun kencing manis tidak ada.
2. Objektif:
Keadaan umum
: tampak sakit sedang, sesak
Kesadaran
: Kompos Mentis
Tanda-tanda vital :
Tekanan Darah : 180/100 mmHg
Nadi
: 92 x/menit, regular
Respirasi
: 34 x/menit, regular
Suhu
: 36,7 0C
Kulit
: Tidak ada kelainan
Kepala
: normosefal
Wajah
: simetris
Mata
: konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Hidung
: Pernafasan cuping hidung ( - )
Mulut
: pursed lip breathing ( + )
Telinga
: Sekret -/Leher
: Pembesaran KGB (-), retraksi suprasternal (-)
Dada
: Bentuk dan gerak simetris, retraksi interkostal +/+
Paru
: Vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (+/+)
Jantung
: Bunyi jantung reguler; S1, S2 (+); murmur (-)

Abdomen
Ekstremitas

: supel, retraksi epigastrium (+)


Bising Usus (+) normal
Hepar / lien tidak teraba
: Akral hangat, Capillary refill time < 2
Edema dorsum pedis (-/-), edema pretibial (-/-)

Laboratorium
DARAH
Hb

12,3 g/dL

P: 14-18; W: 12-16

Ht

40,2 %

P: 40-48; W: 37-43

Leukosit

7500 /L

5.000-10.000

Trombosit

227.000 /L

150.000-450.000

GDS

100 mg/dL

<200

SGOT

23U/L

P: <37; W: <31

SGPT

16 U/L

P: <41; W: <31

Ureum

19 mg/dL

17-43

Kreatinin

0,79

P: 0,7-1,1; W: 0,6-0,9

Foto Thoraks:
Pulmo: tampak penambahan corakan bronkovaskular membentuk pola retikular
dengan gambaran cuffing sign.
Kesan: Bronkitis Kronis.
3. Assessment :
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang maka
diagnosis pasien ini adalah penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) eksaserbasi akut.
Pada anamnesis, didapatkan pasien sesak napas yang semakin berat sejak 1 hari
SMRS, disertai batuk berdahak. Keluhan ini telah dialami pasien sejak beberapa bulan
SMRS, hilang timbul tanpa disertai panas badan. Pasien memiliki riwayat
menggunakan kayu bakar untuk memasak selamaa 40 tahun lebih. Hal ini mengarah
pada gambaran penyakit paru obstruktif kronis.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan takipnea, pursed lip breathing, retraksi
interkostal dan epigastrium yang mendukung anamnesis bahwa pasien mengalami
sesak napas. Selain itu pada auskultasi ditemukan wheezing pada kedua lapang paru

yang mendukung adanya penyempitan saluran napas.

Pada foto X-Ray toraks ditemukan gambaran bronkitis kronis yang merupakan
salah satu bentuk PPOK.
4. Plan :
- O2 2-4 L/menit
- IVFD RL : D5 = 2 : 1
- Nebulisasi Ventolin
- Inj biozim 2x1 amp (skin test dulu)
- Inj. Antrain 3x1/2 amp
- Inj. Tomit 2x1/2 amp
- Inj opigran 3x1
- Inj. Otozol 1x1

BAB I
PENDAHULUAN

Saat ini penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan masalah kesehatan

global. Data prevalensi, morbiditas dan mortalitas berbeda tiap negara namun secara umum
terkait langsung dengan prevalensi merokok dan pada beberapa negara dengan polusi udara
akibat pembakaran kayu dan bahan-bahan biomasa lain. Prevalensi PPOK cenderung
meningkat. Menurut the Latin American Project for the investigation of obstructive lung
disease (PLATINO) prevalensi PPOK stadium 1 dan yang lebih parah pada umur >60 tahun
antara 18,4%-32,1%. Di 12 negara asia pasifik prevalensi PPOK stadium sedang berat pada
umur >30 tahun 6,3%. PPOK merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas kronis ke 4
diamerika serikat. Global initiative for chronic obstruktive lung disease ( GOLD)
memperkirakan PPOK sebagai penyebab kematian ke 6 pada tahun 1990 dan akan
meningkat menjadi penyebab ke 3 pada tahun 2020 diseluruh dunia.
Penyakiut paru obstruktif kronik merupakan penyakit sistemik. Banyak bukti yang
menunjukkan PPOK ad hubungan dengan manifestasi ekstra pulmonal ( efek sistemik )
terutama pada pasien dengan penyakit berat. Weight loss sudah lama dikenal dalam
perjalanan klinik PPOK. Pada tahun 1960 an beberapa studi melaporkan bahwa berat badan
rendah dan penurunan berat badan merupakan faktor prediktif negatif survival pada PPOK.
Pada beberapa dekade lalu mengobati PPOK dianggap seperti mengerjakan hal yang
sia sia, sebab PPOK diasumsikan sebagai penyakit progesif, tidak sembuh dan tidak bisa
diobati. Saat ini pandangan para ahli telah berubah, pendekatan PPOK sama seperti
mendekati penyakit kronik lain

BAB II
PEMBAHASAN

DEFINISI
Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah keadaan terbatasnya aliran
udara secara persisten yang biasanya progresif dan terkait peningkatan respons
inflamasi kronis di saluran udara dan paru-paru pada partikel atau gas iritatif.
(Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease Revised 2011)
FAKTOR RISIKO
Faktor risiko genetik yang telah ditemukan adalah defisiensi bawaan
alpha-1 antitripsin. Faktor risiko lainnya:
Merokok tembakau
Polusi udara dalam ruangan, biasanya dari bahan bakar biomasa untuk
memasak dan pemanas di ruangan yang kurang ventilasi
Zat kimia dan debu okupasional (uap, iritan, asap)
Polusi udara luar ikut berkontribusi, namun dengan kontribusi yang lebih
sedikit pada PPOK

PATOGENESIS

GAMBARAN KLINIK

PPOK biasanya terjadi pada usia >40 tahun.


Gejala-gejala PPOK:
Sesak napas, yang bersifat:
- progresif
- bertambah parah dengan aktifitas fisik
- persisten
Batuk kronis, mungkin hilang timbul dan mungkin juga kering
Produksi sputum kronis
Riwayat terpapar faktor risiko
Riwayat PPOK pada keluarga
Pemeriksaan penunjang:
Spirometri: jika hasil FEV1/FVC < 0,70 setelah pemberian bronkodilator
menggambarkan keterbatasan aliran udara persisten (PPOK).

DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis
PPOK

Asma

Gagal Jantung Kongestif

Bronkiektasis

Tuberkulosis

Karakteristik
Awitan pada usia paruh baya.
Gejala progresif perlahan.
Riwayat merokok tembakau atau paparan pada asap
Awitan pada usia dini (keseringan kanak-kanak).
Gejala sangat bervariasi dari hari ke hari.
Gejala memburuk pada malam/dini hari.
Adanya alergi, rhinitis, dan/atau eczema.
Riwayat asma pada keluarga.
Foto X-ray toraks menunjukkan jantung membesar, edema paru.
Tes fungsi paru mengindikasikan restriksi volume, bukan
keterbatasan aliran udara.
Sputum purulen dengan volume yang banyak.
Biasanya disertai infeksi bakteri.
Foto X-Ray/CT toraks menunjukkan dilasi bronkial, penebalan
dinding bronkial.
Awitan segala usia.
X-ray toraks menunjukkan infiltrat paru.
Konfirmasi mikrobiologis.
Prevalensi lokal yang tinggi akan tuberkulosis.

PENILAIAN PPOK
Spirometri dibutuhkan untuk diagnosis klinis PPOK. Spirometri merupakan uji
sederhana untuk mengukur jumlah udara yang dapat dihembuskan, dan jumlah
waktu yang diperlukan.
8

FVC (Forced Vital Capacity): volume udara maksimum yang dapat diekshalasi
pada manuver terkuat.
FEV1 (Forced Expired Volume in one second): volume ekspirasi selama 1 detik
pertama pada ekspirasi maksimal setelah inspirasi maksimal.
FEV1/FVC: indeks klinis yang berguna menyangkut keterbatasan aliran udara.
Ratio FEV1/FVC adalah antara 0,70-0,80 pada orang dewasa normal. Nilai <0,70
mengindikasikan keterbatasan aliran udara (PPOK).

10

PENATALAKSANAAN PPOK STABIL


Non-farmakologis
Berhenti merokok: hal yang paling menentukan perjalanan alami PPOK
- konseling
- terapi penggantian nikotin (permen karet nikotin, inhaler, nasal spray,
transdermal patch, tablet sublingual, atau lozenge)
Pencegahan paparan polutan okupasional
Kurangi paparan polusi dalam ruangan (ventilasi dapur harus baik) dan luar
ruangan (kurangi keluar ruangan jika sedang polusi).
Rehabilitasi: program latihan fisik esensial untuk pasien kelompok B, C, D.
Program rehabilitasi setidaknya selama 6 minggu agar efektif.
Farmakologis
Bronkodilator
Kortikosteroid
Inhibitor phosphodiesterase-4
Methylxanthine
Antibiotik: tidak direkomendasikan kecuali pada eksaserbasi akibat infeksi
dan infeksi bakteri lainnya
Mukolitik: pasien dengan sputum kental
Vaksin influenza (pneumococcal polysaccharide vaccine)

11

Alpha-1 antitrypsin augmentation therapy: pada pasien dengan defisiensi


alpha-1 antitrypsin

EKSASERBASI PPOK
Eksaserbasi PPOK didefinisikan sebagai kejadian akut yang dicirikan dengan
perburukan gejala pernapasan pasien melebihi variasi normal hari ke hari dan
mengakibatkan berubahnya tatalaksana. (Global Initiative for Chronic Obstructive
Lung Disease Revised 2011)
Penyebab tersering dari eksaserbasi adalah infeksi saluran pernapasan (virus atau
bakteri). Adanya sputum purulen saat eksaserbasi merupakan indikasi untuk
memulai pemberian antibiotik empiris.
Pemeriksaan penunjang:
Darah Perifer Lengkap: dapat terjadi polisitemia atau perdarahan
Tes kimia darah: melihat adanya ketidakseimbangan elektrolit, diabetes
Analisis gas darah: melihat adanya gagal napas
EKG: melihat komorbiditas jantung
12

Foto X-Ray dada: menyingkirkan diagnosis banding


Spirometri tidak direkomendasikan saat eksaserbasi karena sulit dilakukan dan
hasilnya kurang akurat.
Penatalaksanaan:
Oksigen
Bronkodilator: inhalasi short-acting beta2-agonist dengan atau tanpa shortacting anticholinergics
Kortikosteroid sistemik: 30-40 mg prednisolon per hari selama 10-14 hari
Antibiotik pada pasien dengan:
- peningkatan sesak
- peningkatan volume sputum
- peningkatan purulensi sputum
Terapi suportif: sesuai kondisi klinis pasien. Keseimbangan cairan, nutrisi
cukup, berhenti merokok, pengobatan komorbiditas.
Rawat inap, indikasi:
- peningkatan intensitas gejala secara jelas
- penderita PPOK berat
- Awitan gejala/tanda baru
- Eksaserbasi tidak membaik dengan penatalaksanaan medis awal
- Adanya komorbiditas yang berat
- Eksaserbasi sering
- Usia lanjut
- Dukungan rumah/keluarga tidak cukup
KOMORBIDITAS PPOK
Penderita PPOK sering mengalami komorbiditas dengan:
Penyakit kadriovaskular (penyakit jantung iskemik, gagal jantung, fibrilasi
atrium, dan hipertensi)
Osteoporosis dan ansietas/depresi
Kanker paru-paru
Infeksi paru-paru
Sindroma metabolik dan diabetes

13

14