Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

FORMULASI TEKHNOLOGI SEDIAAN STERIL


INJEKSI ASAM FOLAT 0,5%

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah


Praktikum Teknologi Formulasi Sediaan Steril

TanggalPraktikum
Nama
NIM
Kelas

:
:
:
:

27 Februari 2015
Andriana
31112076
Farmasi 3B

PRODI S1 FARMASI
STIKES BAKTI TUNAS HUSADA
TASIKMALAYA
2015

I.

TanggalPraktikum
27 Februari 2015

II.

TujuanPraktikum
Memahami proses pembuatan sediaan steril injeksi asam folat 0,5%
mulai dari penyediaan bahan baku awal hingga evaluasi sediaan dan
pengemasan akhir.

III.

Dasar Teori
Steril adalah suatu keadaan dimana suatu zat bebas
dari mikroba hidup, baik yang
penyakit)

maupun

patogen (menimbulkan

apatogen/non

patogen

(tidak

menimbulkan penyakit), baik dalam bentuk vegetatif (siap


untuk berkembang biak) maupun dalam bentuk spora dalam
keadaan

statis,

tidak

dapat

berkembang

biak,

tetapi

melindungi diridengan lapisan pelindung yang kuat). Tidak


semua mikroba dapat merugikan, misalnya mikroba yang
terdapat dalam

usus yang dapat membusukkan sisama

kanan yang tidak diserap oleh tubuh. Mikroba yang pathogen


misalnya Salmonella typhosa yang menyebabkan penyakit
typus.

Sterilisasi

adalah

suatu

proses

untuk

membuat

ruangan / benda menjadi steril.


Produk steril adalah sediaan terapetis dalam bentuk terbagi-bagi yang
bebas dari mikroorganisme hidup. Beberapamacam yang masukkedalam
produksterildiantaranyasediaanparentral, tetesmata, hidung, telinga, infus.
Sediaan parenteral merupakan sediaan yang unik diantara bentuk obat terbagibagi, karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa
kebagian dalam tubuh. Karena sediaan mengelakkan garis pertahanan pertama
dari tubuh yang paling efisien, yakni membran kulit dan mukosa, sediaan

tersebut harus bebas dari kontaminasi mikroba dan dari komponen toksik dan
harus mempunyai tingkat kemurniaan tinggi dan luar biasa. Semua komponen
dan proses yang terlibat dalam penyediaan produk ini harus dipilih dan
dirancang untuk menghilangkan semua jenis kontaminasi secara fisik, kimia
atau mikrobiologi.
Injeksi merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi, atau
serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum
digunakan secara parenteral, suntikan dengan cara menembus, atau merobek
jaringan ke dalam atau melalui kulit atau selaput lendir.
Pembuatan sediaan yang akan digunakan untuk injeksi harus
dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari kontaminasi mikroba
dan bahan asing. Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) mensyaratkan pula
tiap wadah akhir injeksi harus diamati satu persatu secara fisik. Selanjutnya
kita harus menolak tiap wadah yang menunjukkan pencemaran bahan asing
yang terlibat secara visual.
Bentuk suatu obat yang dibuat sebagai obat suntik tergantung pada
sifat obat sendiri dengan memperhitungkan sifat kimia dan fisika, serta
pertimbangan terapeutik tertentu. Pada umumnya, bila obat tidak stabil di
dalam larutan maka kita harus membuatnya sebagai serbuk kering yang
bertujuan dibentuk dengan penambahan pelarut yang tepat pada saat akan
diberikan. Cara lainnya adalah membuatnya dengan bentuk suspensi partikel
obat dalam pembawa yang tidak melarutkan obat. Bila obat tidak stabil
dengan adanya air maka pelarut dapat diganti sebagian atau seluruhnya
dengan pelarut yang tepat untuk obat untuk obat agar stabil. Bila obat tidak
larut dalam air maka obat suntik dapat dibuat sebagai suspensi air atau larutan
obat dalam pelarut bukan air, sperti minyak nabati. Seringkali dibutuhkan
kerja obat yang lebih panjang untuk mengurangi pengulangan pemberian
suntikan. Jenis suntikan dengan kerja yang panjang biasa disebut jenis sediaan
depot atau repository.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan obat suntik :

1. Pelarut dan pembawa


2. Cara pemberian
3. Partikel zat aktif dan bentuk polimorfisme
4. Zat pengawet
5. Bentuk sediaan
6. Tonisitas larutan obat suntik
7. pH obat suntik
8. Stabilitas
9. Volume obat suntik
10. Biofarmasetika
11. Gravitasi
12. Wadah dan penutup
IV.

Batch Sheet (Lembar Kerja)


1. Formula
Acidum folicum 5%
Obat suntik dalam vial 10 ml
2. Spesifikasi
A. Bahan berkhasiat
: Asam folat
a. Pemerian
: serbukmikrokristal berwarna kuning hingga oranye.
(Clarke's Analysis of Drugs and Poisons HTML, 2005)
b. Kelarutan
: Sangat sukar larut dalam air dingin; relatif larut dalam
asam asetat, fenol, dan piridin; Sukar larut dalam metanol, Agak kurang
larut dalam etanol dan butanol; Praktis tidak larut dalam aseton, benzena,
kloroform, dan eter. Larut dalam larutan alkali hidroksida dan karbonat,
menghasilkan larutan warna oranye-coklat; larut dalam asam klorida dan
asam sulfat, menghasilkan larutan kuning pucat. Larutan tidak aktif oleh
sinar UV; larutan alkali sensitif teroksidasi dan larutan asam sensitif
terhadap pemanasan. (Clarke's Analysis of Drugs and Poisons HTML,
2005)
c. Titiklebur
d. pKa/pKb
HTML, 2005)

:: 4,7 ; 6,9 ; 9,0 (Clarke's Analysis of Drugs and Poisons

B. Dosis
a. Dosis Lazim : im 15 mg/hari (FI III, 959)
b. Dosis maksimal : c. Perhitungan dosis : C. Daftar Obat
Obat keras : Sediaan injeksi (semua obat suntik termasuk obat keras)
D. Sediaan Obat
Pemerian : Larutan
Stabilitas :
OTT : Terhadap oksidator, reduktor, logam berat (Martindale, 1943)
pH : 8-11 (Clarke's Analysis of Drugs and Poisons HTML, 2005)
Pengawet : Antioksidan : Dinatrium edetas 0,05%
Zat tambahan : NaOH 0,1 N
Stabilisator : Dinatrii edetas (Chelating Agent)
E. Tonisitas
Kelengkapan :
Zat

tb

Natrium Folat

0,069

0,526

Dinatrii Edetas

0,132

0,05

a. Konsentrasi (C) natrium folat diperoleh dari perhitungan:


BM Nafolat
C = BM Asfolat C as. Folat
C=

464,4
441,4

0,5 = 0,526%

b. Perhitungan tonisitas

W=

0,52()
0,576

W=

0,52( ( 0,526.0,069 )+(0,132.0,05))


0,576

W = 0,828% (hipotonis) jika positif artinya hipotonis


Untuk membuat supaya larutan tersebut isotonis maka ditambahkan NaCl
sebanyak 0,828 % (b/v).
3. Formula Lengkap
Acidum Folicum
Natrii Chloridum
Dinatrii Edetas
Natrii Hidroxidum
Aqua pro injectionum
4. Penimbangan
Bahan

0,5%
0,8283%
0,05%
0,1N ad larut
ad 10 ml
SatuanDasar

Volume produksi

10 ml

100 ml

Acidum Folicum

50 mg

500 mg

NaCl

82,83 mg

828,3 mg

Dinatrii Edetas

5 mg

50 mg

Perhitungan Penimbangan
100
Acidum Folicum = 10 x 50 = 500 ml
NaCl =

100
10

EDTA =
5. Prosedur

100
10

x 82,83 = 828,3 mg
x 5 = 50 mg

Sediakan alat dan bahan


yang digunakan (alat-alat
dalam keadaan steril).
Timbang bahan-bahan
sesuai dengan jumlah
yang diperlukan.

Tambahkan
larutan
dinatrium EDTA
sampai
mencapai nilai
pH 9

Larutan
ditambahkan a.p.i
ad 50 ml. Larutan
disaring dan filtrat
pertama (beberapa
tetes) dibuang.

Tambahkan
larutan NaCl
kedalam
campuran
asam folat
dan NaOH.

Larutkan NaCl
dalam
sebagian a.p.i

Masukkan
larutan kedalam
vial, tiap vial
berisi 10,5 ml.

V.

Jenis Evaluasi
Penampilan fisik wadah
Jumlah Sediaan
Kejrnihan sediaan
Keseragaman Volume
Brosur

Seragam
7 x 10,5 ml
Cukup Jernih
1 yang tidak seragam
Baik

Kemasan

Baik

Etiket

Baik

pH

Pembahasan

Tambahkan
larutan NaOH 0,1
N ke dalam
suspensi samapi
asam folat larut.
Dan hitung
berapa tetes
NaOH yang
ditambahkan.

Sterilkan dalam
otoklaf 115-116
C selama 30
menit

6. Evaluasi
No
1
2
3
4
5

Suspensika
n asam
folat dalam
sebagian
a.p.i

Panaskan sampai
mendidih 100 ml aqua
pro injectionum dalam
beacker glass selama 10
menit.

Penilaian

Praktikum kali ini dilakukan untuk membuat sediaan


steril berupa sediaan injeksi dengan bahan aktif berupa asam
folat. Asam folat memiliki khasiat untuk mengobati anemia
megaloblastik,

profilaksis

pada

status

hemolitikkronik,

profilaksisdefisiensifolatpadapasiencucidarah.
Hal pertama yang dilakukan adalah mencampurkan asam
folat dalam aqua pro injectionum, kemudian ditambahkan
larutan NaOH 0,1 N hingga asam folat larut. NaOH yang
ditambahkan hingga asam folat menja dilarut

20 tetes.

Penambahan NaOH tersebut berfungsi untuk membentuk


garam karena terjadi reaksi netralisasi antara asam folat
(bersifatasam) dengan NaOH (bersifat basa). Garam yang
terbentuk dapat larut dalam aqua pro injectionum. NaCl
dilarutkan

dalam

dicampurkan

sebagian

kedalam

aqua

larutan

pro

injectionum

asam

folat,

dan

kemudian

ditambahkan Dinatrii Edetas hingga terbentuk pH 9. NaCl


ditambahkan untuk membentuk larutan isotonis, karena NaCl
merupakan salah satu bahan pembantu untuk mengatur
tonisitas selain glukosa, sukrosa, KNO3 dan NaNO3. Isotonis
adalah kondisi di mana suatu larutan konsentrasinya sama
besar dengan konsentrasi dalam sel darah merah sehingga
tidak

terjadi

Penambahan
menunjukkan

pertukaran
NaCl

cairan

sebanyak

larutan

di

0,8283

hipotonis.

antara

keduanya.

mL

/100

Kemudian

yang

adanya

penambahan dinatrii edetas untuk mengubah pH larutan


menjadi

9,

hal ini sesuai dengan aturan pada pembuatan

injeksi asam folat jika pH injeksi asam folat harus memiliki pH


dalam rentang 8-11.

Dalam pembuatan suatu produk parenteral pelarut atau pembawanya


harus tepat dan harus mengikuti prosedur aseptik. Prosedur aseptik ini
diperlukan jika bahan produk parenteral yang akan dipakai harus bebas dari
mikroorganisme, mulai dari pelarut (air) dan bahan-bahan zat aktif hingga
bahan tambahan (material equipment). Pada proses pembuatan larutan
parenteral, melarutkan bahan-bahan yang diperlukan sesuai dengan CPOB
atau farmakope. Setelah mencampur beberapa zat aktif dengan bahan
tambahan menjadi bentuk larutan, kemudian kita menyaringnya sampai jernih
dengan menggunakan kertas saring. Sesudah penyaringan, pindahkan larutan
secepat mungkin dan sesedikit mungkin terjadi pemaparan mikroba dan
partikel ke dalam wadah akhir, lalu tutup dengan rapat.
Pada proses pembuatan bahan untuk sediaan parenteral, bahan yang
digunakan harus dilebihkan sebanyak 5%. Hal tersebut bertujuan untuk
mencegah terjadinya hilangnya volume bahan pada saat pembuatan sediaan
tersebut. Hal ini dilakukan karena dikhawatirkan adanya penguapan yang
terjadi pada waktu proses sterilisasi yang mana menggunakan sterilisasi uap
panas. Selain itu, hal ini juga dimaksudkan untuk mengganti kehilangan bahan
pada waktu proses pembuatan, yaitu pada waktu penyaringan atau adanya
bahan yang tertinggal pada alat-alat praktikum.
Pada pengemasan sediaan steril parenteral yang telah dibuat, digunakan
penutup dari karet dan di atasnya dilapisi penutup alumunium. Penutup karet
yang paling banyak digunakan dalam penutup sediaan parenteral volume kecil
adalah butil karet dengan silikon. Butil karet lebih disukai karena memiliki
sedikit bahan tambahan, mempunyai penyerapan uap air rendah. Silikonisasi
penutup karet dilakukan untuk memfasilitasi pergerakan karet melalui
peralatan sepanjang proses dan peletakan ke dalam vial. Hasil produk
parenteral ini disterilkan kembali dengan menggunakan autoklaf. Pemilihan

metode sterilisasi perlu diperhatikan, harus sesuai untuk mendapatkan produk


akhir.
Larutan injeksi ini mengalami sterilisasi akhir dengan autoklaf pada
suhu 1210C selama 15 menit. Tujuan sterilisasi adalah menjamin sterilitas
produk maupun karakteristik kualitasnya, termasuk stabilitas produk. Pada
saat sterilisasi uap (autoklaf) terjadi pemaparan uap jenuh pada tekanan
tertentu selama waktu dan suhu tertentu pada suatu objek sehingga terjadi
pelepasan energi laten uap yang mengakibatkan pembunuhan mikroorganisme
secara irreversibel akibat denaturasi atau koagulasi protein sel. Metode
sterilisasi ini merupakan metode yang paling efektif karena uap merupakan
pembawa (carrier) energi termal paling efektif dan semua lapisan pelindung
luar mikroorganisme dapat dilunakkan sehingga memungkinkan terjadinya
koagulasi, bersifat nontoksik dan relatif mudah dikontrol.
Persyaratan utama dari larutan yang diberikan secara parenteral ialah
kejernihan. Sediaan itu harus jernih berkilauan dan bebas dari semua zat-zat
khusus yaitu semua yang bergerak, senyawa yang tidak larut, yang tanpa
disengaja ada. Termasuk pengotoran-pengotoran seperti debu, serat-serat baju,
serpihan-serpihan gelas, kelupasan dari wadah gelas atau plastik atau tutup
atau zat lain yang mungkin ditemui, yang masuk ke dalam produk selama
proses pembuatan, penyimpanan dan pemberian.
Suatu sediaan parenteral harus steril karena sediaan ini unik yang
diinjeksikan atau disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam
kompartemen tubuh yang paling dalam. Sediaan parenteral memasuki
pertahanan tubuh yang memiliki efesiensi tinggi yaitu kulit dan

membran

mukosa sehingga sediaan parenteral harus bebas dari kontaminasi mikroba


dan bahan-bahan beracun dan juga harus memiliki kemurnian yang dapat
diterima.

Berdasarkan hasil evalusi dapat diketahui bahwa sediaan yang dibuat


memiliki keseragaman yang baik dan memenuhi syarat kejernihan dengan pH
sediaan yaitu 8.

VI.

Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat ditarik
kesimpulan bahwa, Suatu sediaan parenteral yang dibuat harus dalam
keadaan steril, dan memenuhi ketentuan CPOB dan Farmakope, % tonisitas dari
sediaan adalah 0,8283%, Secara visual, sediaan yang telah dibuat memenuhi
syarat kejernihan.

VII.

Daftar Pustaka
Agoes, Goeswien. 2009. Sediaan farmasi steril. Bandung : Penerbit ITB.
Lachman, Lieberman . 1994. Teori dan Praktek Farmasi
Industri. Jakarta : UI-Press.
Panitia Farmakope Indonesia. 1974. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta :
Depkes RI.
Panitia Farmakope Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta :
Depkes RI.
Textbook Martindale Volume 36 hal. 347

LAMPIRAN
A. Etiket dan Label
PABRIK FARMASI K2 PHARMACEUTICAL
Jl. Cilolohan No.36 Tasikmalaya
No. Batch : DH20150227

Tanggal : 27 Februari 2015

Vial 10 ml
Komposisi :
Acidum Folicum 0,5 %
Aqua pro injection ad 10 ml
Pemakaian : i.m
Exp. Date :
HARUS DENGAN RESEP DOKTER

B. Kemasan dan Brosur