Anda di halaman 1dari 6

1.

Spesiasi Alopatrik (Allopatric speciation)


Spesiasi menurut teori alopatrik terjadi sebagai berikut: bermula, hanya
ada satu spesies dengan distribusi geografi yang berkesinambungan.
Kemudian, karena penyebab tertentu, beberapa anggotanya terisolasi secara
geografis dari yang lain, barangkali karena sebidang daratan memisahkan
spesies yang tadinya berhubungan secara berkesinambungan oleh sungai.
Daratan baru atau sungai baru adalah kejadian yang langka dan gerakan
organisme itu sendiri mungkin merupakan penyebab yang lebih lazim
daripada pemisahan geografis. Beberapa individu secara kebetulan terisolasi
setelah bermigrasi jauh dari populasi induknya. Tetapi, apapun alasannya
suatu populasi yang berkesinambungan bisa mengalami percabangan. Tahap
selanjutnya, dari spesiasi alopatrik adalah dua populasi mengalami perubahan
evolusi yang berbeda dalam lingkungan yang berbeda (keduanya terpisah).
Jika perpisahan itu cukup besar jaraknya, kedua populasi dapat digolongkan
sebagai ras geografis yang berlainan, dan oleh karena itu sebagai spesies yang
berbeda (Ridley, 1991).
Apabila suatu populasi menjadi alopatrik, kemungkinan terjadinya
spesiasi sangat besar karena kumpulan gen yang terisolasi itu akan
mengakumulasikan perbedaan genetik yang disebabkan dengan mikroevolusi.
Akan tetapi, populasi yang terisolasi yang berukuran kecil lebih mungkin
untuk mengalami perubahan yang cukup besar untuk menjadi spesies baru
dibandingkan dengan populasi yang berukuran besar. Bukti untuk spesiasi
alopatrik adalah sangat luas yaitu terutama melalui studi variasi geografi.
Spesiasi yang beranekaragam secara geografis dari seluruh karakter dapat
menghalangi pertukaran gen antara spesies simpatrik. Sering terjadi, populasi
secara geografis dapat lebih betul-betul terisolasi oleh kemandulan atau
perbedaan ethologi (ketika diuji secara eksperimen) dibanding terhadap
populasi berdekatan. Populasi yang terisolasi itu mungkin tidak dapat
melakukan interbreeding jika mereka datang ke dalam untuk melakukan
kontak yang digambarkan oleh kasus circular overlap, dimana suatu rantai ras
yang dipercaya dapat melakukan interbeeding, sedemikian karena bentuknya

yang sangat menyimpang (divergen) dan kemudian masuk ke dalam simpatrik,


namun tidak terjadi inbreeding.
Contoh spesiasi alopatrik:
1. Sekitar 50.000 tahun yang lalu selama zaman es daerah sekarang dikenal
sebagai death valley di kalifornia dan Nevada memiliki iklim dengan
curah hujan yang tinggi dan memiliki sistem danau dan sungai yang saling
berhubungan. Daerah tersebut mulai dilanda kekeringan sejak 10.000
tahun silam dan sekitar 4.000 tahun yang lalu daerah itu telah menjadi
gurun. Saat ini semua yang tersisa dari jaringan danau dan sungai yang
pernah ada menjadi sumber mata air terpisah yang tersebar di gurun yang
sebagian besar terdapat di bagian dalam celah diantara dinding bebatuan.
Mata air terseebut sangat bervariasi suhu dan salinitas airnya. Dalam
beberapa mata air itu hidup ikan-ikan kecil, yang disebut dengan Pupfish
dari genus Cyprinodon masing-masing mata air yang ditempati seringkali
berdiameter tidak lebih dari beberapa meter merupakan tempat tinggal
bagi spesies Pupfish yang unik dan telah beradaptasi dengan kolam
tersebut dan tidak ditemukan di tempat lain. Berbagai macam Pupfish
mungkin diturunkan dari satu spesies tertua yang sama, yang daerah
tinggalnya terpisah-pisah ketika daerah itu menjadi kering, sehingga
mengisolasi beberapa populasi kecil yang selanjutnya memisah satu sama
lain.
2. Grand Canyon sangat mudah diseberangi oleh burung elang atau burung
lain, namun merupakan sawar yang tidak dapat dilewati oleh populasi
hewan pengerat kecil yang lingkungan hidupnya terbatas di salah satu sisi
utara atau selatan ngarai tersebut. Memang spesies burung yang sama
menempati kedua ngarai lembah tetapi masing-masing sisi ngarai, ngarai
itu memiliki spesies Rodensia yang unik.
3. Spesiasi alopatrik juga dialami oleh tupai antelope di Grand Canyon. Di
mana

pada

tebing

selatan

hidup

tupai

Antelope

harris

(Ammospermophillus harris). Beberapa mil dari daerah itu pada sisi tebing
utara hidup tupai antelope berekor putih harris (Ammospermophillus
leucurus), yang berukuran sedikit lebih kecil dan memiliki ekor yang lebih

pendek dengan warna putih di bawah ekornya. Ternyata di situ semua


burung-burung dan organisme lain dapat dengan mudah menyebar
melewati ngarai ini, tetapi tidak dapat dilewati oleh kedua jenis tupai ini.
2.

Spesiasi Parapatrik/semi geografik (Parapatric Speciation)


Spesiasi Parapatrik merupakan spesiasi yang terjadi karena adanya
variasi frekuensi kawin dalam suatu populasi yang menempati wilayah yang
sama. Pada model ini, spesies induk tinggal di habitat yang kontinu tanpa ada
isolasi geografi. Spesies baru terbentuk dari populasi yang berdekatan. Suatu
populasi yang berada di dalam wilayah tertentu harus berusaha untuk
beradaptasi dengan baik untuk menjamin kelangsungan hidupnya, dan usaha
itu dimulai dengan memperluas daerah ke daerah lain yang masih berdekatan
dengan daerah asalnya. Apabila di area yang baru ini terjadi seleksi, maka
perubahan gen akan terakumulasi dan dua populasi akan berubah menjadi
teradaptasikan dengan lingkungan barunya. Jika kemudian mereka berubah
menjadi spesies lain (spesies yang berbeda), maka perbatasan ini akan diakui
sebagai zona hibrid. Dengan demikian, dua populasi tersebut akan terpisah,
namun secara geografis letaknya berdekatan sepanjang gradien lingkungan.
Jika seleksi menyokong dua hal berbeda yang berdekatan atau
parapatrik, frekuensi sudah dapat ditetapkan. Dengan cukupnya seleksi pada
suatu lokus yang berkontribusi terhadap isolasi reproduktif, populasi dapat
membedakan kepada spesies yang terisolasi secara reproduktif. Zona bastar
yang biasanya menandai untuk dapat terjadinya kontak sekunder sebenarnya
sudah muncul secara in situ (melalui perbedaan populasi parapatrik dan
spesies yang muncul juga parapatrik).
Di dalam spesiasi parapatrik tidak ada barier ekstrinsik yang spesifik
untuk gen flow. Populasi berlanjut, tetapi populasi tidak kawin secara acak,
individu lebih mudah kawin dengan tetangganya secara geografis dari pada
individu di dalam cakupan populasi yang berbeda. Artinya bahwa individu
lebih mungkin untuk kawin dengan tetangganya daripada dengan individu
yang ada dalam cakupan. Di dalam gaya ini, penyimpangan boleh terjadi

karena arus gen dikurangi di dalam populasi dan bermacam-macam tekanan


pemilihan ke seberang cakupan populasi.
3.

Spesiasi Simpatrik (Sympatric Speciation)


Spesiasi simpatrik adalah spesiasi tanpa isolasi geografik. Spesiasi akan
bersifat simpatrik jika suatu penghalang biologis untuk interbreeding muncul
di dalam populasi panmiktik, tanpa segregasi spasial spesies permulaan.
Dalam spesiasi simpatrik, spesies baru muncul di dalam lingkungan hidup
populasi tetua, isolasi genetik berkembang dalam berbagai cara, tanpa isolasi
geografis. Dalam spesiasi simpatrik, faktor intrinsik, seperti perubahan
kromosom (pada tumbuhan) dan perkawinan tidak acak (pada hewan),
mengubah aliran gen (gen flow) (Campbell, 2003).
Dalam isolasi reproduksi terdapat organisme simpatrik yaitu organisme
yang memiliki ciri-ciri morfologi, fisiologi dan perilaku yang hampir sama
dan berada dalam lingkungan yang sama tetapi tidak mampu melakukan
interbreeding/perkawinan silang. Populasi simpatrik akhirnya terisolasi secara
genetik meskipun daerah tinggalnya saling tumpang tindih (Campbell, 2003).
Model spesiasi simpatrik meliputi gradual dan spontan. Spesiasi
simpatrik berdasarkan model klasifikasi spesiasi Mayrs, termasuk dalam
kategori gradual speciation (sympatrik speciation), sedangkan berdasarkan
model Templetons termasuk dalam kategori divergence (habitat divergent
selection without isolation by distance). Sebagian besar model spesiasi
simpatrik masih dalam kontroversi, kecuali pada model spesiasi spontan dan
spesiasi poliploid yang terjadi pada tanaman.
Model-model spesiasi simpatrik didasarkan pada seleksi terpecah
(distruptive selection), seperti ketika dua homozigot pada satu atau lebih lokus
teradaptasi

dengan

sumber

yang

berbeda

dan

hal

itu

merupakan

suatu multiple-niche polymorphism. Contohnya pada serangga herbivora


bergenotip AA dan AA teradaptasi dengan spesies tumbuhan 1 dan 2, dimana
genotip AA tidak teradaptasi dengan baik. Masing-masing homozigot ingin
mempunyai fittes lebih tinggi jika dilakukan mating secara assortative dengan
genotip yang mirip dan tidak menghasilkan keturunan heterozigot yang tidak

fit. Assortative mating mungkin dipertimbangkan adanya lokus B yang dapat


mempengaruhi perilaku kawin maupun mendorong serangga untuk memilih
inang spesifik, yang pada tempat tersebut dapat ditemukan pasangan dan
kemudian dapat bertelur. Jika BB dan Bb kawin hanya pada inang 2,
perbedaan dalam pemilihan inang dapat mendasari terjadinya pengasingan/
isolasi reproduktif. Banyak dari serangga herbivora yang merupakan spesies
yang berkerabat dekat dibatasi oleh perbedaan inang, terutama untuk
pemenuhan kebutuhan makan, mating/kawin.
Contoh yang diterima secara luas sebagian besar spesiasi sympatric
adalah bahwa dari Cichlids danau Nabugabo di Afrika Timur, yang
diperkirakan karena seleksi seksual. Spesiasi SympatriK mengacu pada
pembentukan dua atau lebih spesies keturunan dari leluhur spesies tunggal
semua

menempati

lokasi

geografis

yang

sama.

Spesiasi

melalui

poliploidi, spesiasi poliploidi adalah mekanisme yang sering dikaitkan dengan


peristiwa spesiasi yang dapat menyebabkan beberapa di sympatry. Tidak
semua poliploidi secara reproduktif terisolasi dari tanaman induknya, sehingga
peningkatan jumlah kromosom tidak dapat mengakibatkan penghentian
lengkap terhadap aliran gen antara poliploidi baru dengan diploid orang tua
mereka (lihat juga spesiasi hibrida). Poliploidi diamati di banyak spesies
kedua tumbuhan dan hewan. Bahkan, telah diusulkan bahwa semua tanaman
yang ada dan sebagian besar pada hewan, poliploid tersebut telah mengalami
suatu kejadian polyploidization dalam sejarah evolusi mereka. Namun,
seringkali oleh reproduksi partenogenesis sejak hewan poliploid sering steril,
contohnya mamalia poliploid diketahui, dan paling sering mengakibatkan
kematian perinatal.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, at al. 2003. Biologi Jilid 2. Erlangga: Jakarta.

Ridley, M. 1991. Masalah-masalah Evolusi. UI PRESS: Jakarta.