Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pendidikan merupakan sarana yang sangat strategis dalam melestarikan sistem
nilai yang berkembang dalam kehidupan. Proses pendidikan tidak hanya memberikan
pengetahuan dan pemahaman peserta didik, namun lebih diarahkan pada pembentukan
sikap, perilaku dan kepribadian peserta didik, mengingat perkembangan komunikasi,
informasi dan kehadiran media cetak maupun elektronik tidak selalu membawa
pengaruh positif bagi peserta didik.
Tugas pendidik dalam konteks ini membantu mengkondisikan pesera didik pada
sikap, perilaku atau kepribadian yang benar, agar mampu menjadi agents of
modernization bagi dirinya sendiri, lingkungan, masyarakat dan siapa saja yang
dijumpai tanpa harus membedakan suku, agama, ras dan golongan. Pendidikan
diarahkan pada upaya memanusiakan manusia, atau membantu proses hominisasi dan
humanisasi, maksudnya pelaksanaan dan proses pendidikan harus mampu membantu
peserta didik agar menjadi manusia yang berbudaya tinggi dan bernilai tinggi
(bermoral, berwatak, bertanggungjawab dan bersosialitas). Untuk mewujudkan capaian
tersebut, implementasikan pendidikan harus didasarkan pada fondasi pendidikan yang
memiliki prinsip learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live
together.
Guna mencapai semua itu maka dalam pelaksanaan tugas pendidik perlu adanya
supervise, maksud dari supervisi di sini adalah agar pendidik mengetahui dengan jelas
tujuan dari pekerjaannya dalam mendidik, mengenai apa yang hendak dicapai dari
pelaksanaan pendidikan tersebut. Serta mengetahui pula fungsi dari pekerjaan yang
pendidik lakukan. Ini tidak lain membantu pendidik agar lebih fokus pada tujuan yang
ingin dicapai dalam pendidikan dan menghindarkan dari pelaksanaan pendidikan yang
tidak relevan dengan tujuan pendidikan.
Setiap pelaksanaan program pendidikan memerlukan adanya pengawasan atau
supervisi. Pengawasan bertanggung jawab terhadap keefektifan program itu. Oleh
karena itu, supervisi haruslah meneliti ada atau tidaknya kondisi-kondisi yang akan
memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. Setelah kita mengetahui realita
yang terjadi seperti yang sudah tersebut di atas, maka diperlukan sebuah penjelasan
secara rinci dan mendetail tentang supervisi pendidikan agar para pendidik dapat
memahami betapa perlu dan pentingnya supervisi pendidikan itu.
Walaupun kegiatan supervisi dititik beratkan pada perbaikan mutu kegiatan
belajar-mengajar di kelas, namun kesuksesan pekerjaannya secara tidak langsung

sangat berhubungan dengan lingkungan sekolah. Menurut Hoy sebelum supervisor


melakukan tugasnya terlebih dahulu mereka harus dilihat kondisi konteks atau
lingkungannya. Menciptakan iklim lingkungan ini menurut Hoy melalui dua tahap.
Tahap pertama supervisor harus secara aktif melibatkan diri bersama kepala sekolah di
dalam mengembangkan iklim sekolah yang kondusif. Tahap kedua supervisor harus
melibatkan diri dengan guru-guru di dalam menyiapkan dirinya untuk disupervisi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Supervisi


Sebagai salah satu dari fungsi manajemen, pengertian supervisi telah berkembang
secara khusus. Secara umum yang dimaksud dengan supervisi adalah melakukan
pengamatan secara langsung dan berkala oleh atasan terhadap pekerjaan yang
dilaksanakan oleh bawahan untuk kemudian apabila ditemukan masalah, segera
diberikan petunjuk atau bantuan yang bersifat langsung guna mengatasinya (Azwar,
1996).
Muninjaya (1999) menyatakan bahwa supervisi adalah salah satu bagian proses
atau kegiatan dari fungsi pengawasan dan pengendalian (controlling). Swanburg
(1990) melihat dimensi supervisi sebagai suatu proses kemudahan sumber-sumber
yang diperlukan untuk penyelesaian suatu tugas ataupun sekumpulan kegiatan
pengambilan keputusan yang berkaitan erat dengan perencanaan dan pengorganisasian
kegiatan dan informasi dari kepemimpinan dan pengevaluasian setiap kinerja
karyawan. Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kegiatan
supervisi adalah kegiatan-kegiatan yang terencana seorang manajer melalui aktivitas
bimbingan, pengarahan, observasi, motivasi dan evaluasi pada stafnya dalam
melaksanakan kegiatan atau tugas sehari-hari (Arwani, 2006).
Konsep supervisi modern dirumuskan oleh Kimball Wiles (1967) sebagai berikut :
Supervision is assistance in the devolepment of a better teaching learning situation.
Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik.
Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan situasi
belajar mengajar (goal, material, technique, method, teacher, student, an envirovment).
Situasi belajar inilah yang seharusnya diperbaiki dan ditingkatkan melalui layanan
kegiatan supervisi. Dengan demikian layanan supervisi tersebut mencakup seluruh
aspek dari penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran.
Konsep supervisi tidak bisa disamakan dengan inspeksi, karena inspeksi lebih
menekankan kepada kekuasaan dan bersifat otoriter, sedangkan supervisi lebih
menekankan kepada persahabatan yang dilandasi oleh pemberian pelayanan dan
kerjasama yang lebih baik diantara guru-guru, karena bersifat demokratis. Menurut
Arwani (2006), Istilah supervisi pendidikan dapat dijelaskan baik menurut asal usul
(etimologi), bentuk perkataannya (morfologi), maupun isi yang terkandung dalam
perkataan itu (semantik).
1. Etimologi

Istilah supervisi diambil dalam perkataan bahasa Inggris Supervision artinya


pengawasan di bidang pendidikan. Orang yang melakukan supervisi disebut
supervisor.
2. Morfologis
Supervisi dapat dijelaskan menurut bentuk perkataannya. Supervisi terdiri dari
dua kata, yaitu Super yang berarti atas, lebih dan Visi yang berarti lihat, tilik,
awasi. Seorang supervisor memang mempunyai posisi di atas atau mempunyai
kedudukan yang lebih dari orang yang disupervisinya.
3. Semantik
Pada hakekatnya isi yang terandung dalam definisi yang rumusanya tentang
sesuatu tergantung dari orang yang mendefinisikan. Wiles secara singkat telah
merumuskan bahwa supervisi sebagai bantuan pengembangan situasi belajar agar
lebih baik. Adam dan Dickey merumuskan supervisi sebagai pelayanan, khususnya
menyangkut perbaikan proses belajar mengajar. Sedangkan Depdiknas (1994)
merumuskan supervisi sebagai berikut : Pembinaan yang diberikan kepada
seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk
mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik . Dengan demikian,
supervisi ditujukan kepada penciptaan atau pengembangan situasi belajar mengajar
yang lebih baik. Untuk itu ada dua hal (aspek) yang perlu diperhatikan :
a. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar
b. Hal-hal yang menunjang kegiatan belajar mengajar
Karena aspek utama adalah guru, maka layanan dan aktivitas kesupervisian harus
lebih diarahkan kepada upaya memperbaiki dan meningkatkan kemampuan guru
dalam mengelola kegiatan belajar mengajar. Untuk itu guru harus memiliki yakni: 1)
kemampuan personal, 2) kemampuan profesional 3) kemampuan sosial (Depdiknas,
1982).
Atas dasar uraian diatas, maka pengertian supervisi dapat dirumuskan sebagai
berikut serangkaian usaha pemberian bantuan kepada guru dalam bentuk layanan
profesional yang diberikan oleh supervisor (Pengawas sekolah, kepala sekolah, dan
pembina lainnya) guna meningkatkan mutu proses dan hasil belajar mengajar. Karena
supervisi atau pembinaan guru tersebut lebih menekankan pada pembinaan guru
tersebut pula Pembinaan profesional guruyakni pembinaan yang lebih diarahkan
pada upaya memperbaiki dan meningkatkan kemampuan profesional guru. Supervisi
dapat kita artikan sebagai pembinaan. Sedangkan sasaran pembinaan tersebut bisa

untuk kepala sekolah, guru, pegawai tata usaha. Namun yang menjadi sasaran
supervisi diartikan pula pembinaan guru.
2.2. Langkah-langkah dalam supervise
Menurut Arikunto (2004), Supervisi dilakukan secara cermat sehingga hubungan
antara supervisor dengan klien bersifat sejajar dan terbuka. Untuk dapat memperoleh
hasil yang maksimal. Maka dilalui langkah-langkah sebagai berikut :
1. Pengawas bersama kepala sekolah sewilayah pembinaanya berdiskusi
menyusun rencana kerja untuk kurun waktu tertentu, misalnya satu tahun
kemudian di penggal-penggal menjadi rencana caturwulan dan bulan. Dalam
rencana tersebut tertuang:
a. Aspek yang menjadi titik pusat perhatian dalam program supervisi untuk
tahun tersebut. Karena supervisi pengamatan kelas meskipun cara tersebut
masih digunakan sebagai salah satu metode, dalam menyusun rencana
tersebut perlu disebutkan dengan jelas apa yang menjadi titik pusat
perhatian, paling tepat untuk saat tersebut.
b. Penjadwalan pelaksanaan yang mencakup lama kurun waktu dan
penggalan untuk setiap langkah kegiatan. Dalam langkah-langkah tersebut
disebutkan isi, pihak, dan sarana yang digunakan.
2. Perencanaan yang rinci dan disusun bersama antara pengawas dan kepala
sekolah, ini dimaksudkan untuk menciptakan koordinasi antara keduanya
sehingga pelaksanaan supervisi tidak simpang siur.
3. Pengawas dan kepala sekolah menelaah instrumen yang di perlukan. Jika
pengawas dan kepala sekolah bermaksud mengaktifkan bagian lain dari hal-hal
yang biasa disupervisi, tentu saja di buku pedoman supervisi belum tersedia
instrumen untuk memantaunya. Oleh sebab itu kepala sekolah perlu menyusun
sendiri instrumen pemantauan yang diperlukan.
4. Pengawas dan kepala sekolah menyelenggarakan rapat pleno guru untuk
menjelaskan langkah program yang disusun bersama pengawas. Dalam rapat
tersebut dibagikan blangko pada semua guru, berisi tawaran kepada guru yang
ingin

menggunakan

kesempatan

untuk

mengemukakan

masalah

dan

memerlukan pembinaan. Untuk ini guru diberi waktu yang cukup agar dapat
berpikir dengan sungguh-sungguh masalah apa saja yang perlu mendapatkan
pembinaan secara intensif, baik apa yang dilakukan sendiri, dilakukan bersama
pimpinan sekolah, atau pengawas dan orang tua siswa.
5. Kepala sekolah menyampaikan usulan guru tersebut kepada pengawas sehingga
di antara kedua petugas supervisi tersebut dapat mengadakan pembagian tugas.

6. Pengawas dan kepala sekolah menyusun rencana operasional untuk


melaksanakan supervisi.
7. Pengawas dan kepala sekolah menyusun laporan tentang pelaksanaan supervisi
untuk lingkup wilayah yang menjadi tanggung jawabnya kepada Dinas
Pendidikan tingkat kabupaten/kota.
2.3. Contoh Langkah-langkah Supervisi
Supervisi adalah suatu bentuk tindakan terhadap guru yang sedang dalam proses
interaksi dengan murid. Dengan demikian supervisi adalah suatu bentuk intervensi.
Kegiatan supervisi masuk ke dalam kegiatan belajar-mengajar (Arikunto, 1990)
Agar intervensinya dapat berjalan dengan efektif maka kegiatan supervisi tersebut
harus dilakukan melalui tahap-tahap diagnosis seperti tahap-tahap yang dilalui di
dalam proses pemecahan masalah pada umumnya. Menurut Arikunto (1990), Tahaptahap tersebut adalah:
1. Identifikasi masalah yaitu mengidentifikasikan celah antara keadaan yang
sekarang ada dengan keadaan yang diharapkan.
2. Diagnosis penyebab (diagnose causes) yaitu penelitian mengenai kemungkinan
sebab-sebab timbulnya masalah dengan cara menguji faktor-faktor penghambat
(kendali) maupun faktor-faktor penunjang.
3. Mengembangkan rencana kegiatan yaitu mengembangkan strategi untuk
bertindak dengan secara rinci menelaah alternatif yang ada, mengantisipasi
akibat-akibat yang mungkin timbul, mempertimbangkan untuk kemudian
memilih salah-satu untuk dilaksanakan.
4. Melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan dengan menerjemahkan setiap
langkah perencanaan dengan prosedur yang khusus.
5. Mengevaluasi rencana kegiatan yaitu melihat kembali keterlaksanaan dan nilainilai yang perlu di pertimbangkan di dalam pelaksanaan nanti.
Tujuan kegiatan supervise adalah menciptakan atau menjaga kondisi atau iklim
sekolah supaya berada dalam situasi yang kondusif untuk terjadinya pengembangan
pengajaran. Lalu bagaimanakah iklim sekolah yang kondusif itu? Kegiatan supervisi
dapat berlangsung secara efektif apabila suasana lingkungan sekolah dalam keadaan
tenang, tidak mencekam. Suasana yang tidak mencekam bagi pengembangan
pembelajaran adalah suasana di mana setiap personal yang terlibat di dalam kegiatan
pengajaran (guru, kepala sekolah, murid dan pegawai tata usaha) hatinya tentram,
pasrah, dapat saling berhubungan satu sama lain dalam suasana kekeluargaan dengan
bebas tanpa ada rasa takut. Masih tambah lagi satu syarat, yaitu bahwa setiap personal
yang terlibat dalam pengembangan tersebut berada dalam posisi terpenuhinya
kebutuhan pribadinya (Mulyasa, 2005).

Sistem manajemen di dalam organisasi sosial seperti yang digambarkan tersebut


bersifat partisipatif, dan ditandai oleh kepemimpinan yang mendukung, motivasi yang
tinggi, hubungan antar pribadi sangat dekat, kerja sama yang baik,ada kesetiaan
kelompok, tanggung jawab atas tugas masing-masing, saling percaya, masing-masing
percaya pada diri sendiri dan mengarahkan kepada pencapaian tujuan yang tinggi
(Suhardan, 2005).
Ditinjau dari segi murid, di sekolah dengan iklim yang kondusif ditekankan pada
disiplin yang tinggi pada murid, masing-masing murid diketahui keadaannya (termasuk
kelainan-kelainannya). Hubungan antar murid akrab dan merasa bahwa mereka berada
di dalam satu keluarga yang sama yakni keluarga sekolah itu. Masing-masing murid
merasa tenteram dan puas karena terpenuhi segala kebutuhannya (Suhardan, 2005).
Ciri terakhir dari iklim sekolah yang baik yang tidak dilihat dan tinjauan personil
adalah bahwa sekolah tersebut secara keseluruhan mengharapkan tercapainya tujuan
akhir dari kegiatan organisasi sosial tersebut, yaitu peningkatan prestasi belajar siswa.
Dari sederetan ciri tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan utama dari
pengembangan iklim sekolah adalah terciptanya iklim sekolah dalam system yang
partisipatif, berorientasi pada pengontrolan terhadap murid secara manusiawi dan
ditekankan pada pencapaian tujuan akademik yang tinggi. Apa yang disebutkan itu
bukannya tujuan akhir sekolah, tetapi sesuatu yang mendukung terjadinya program
supervisi yang efektif (Suhardan, 2005).
Siklus diagnostik yang telah digambarkan di atas bukan hanya untuk memilih
alternative pendekatan supervisi atau pemecahan masalah saja, tetapi juga dapat
diterapkan di dalam program menciptakan iklim sekolah seperti yang sedang
dibicarakan. Apabila iklim sekolah belum berada pada kondisi yang diharapkan maka
dipandang bahwa iklim sekolah berada dalam keadaan yang bermasalah dan perlu
untuk segera dipecahkan (Mulyasa, 2005).
Pada bagian ini akan disampaikan contoh implementasi penggunaan siklus
pemecahan masalah dalam rangka meningkatkan iklim sekolah agar kondusif bagi
kegiatan supervisi yang efektif (Mulyasa, 2005).
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan

Supervisi adalah melakukan pengamatan secara langsung dan berkala oleh atasan
terhadap pekerjaan yang dilaksanakan oleh bawahan untuk kemudian apabila
ditemukan masalah, segera diberikan petunjuk atau bantuan yang bersifat langsung
guna mengatasinya (Azwar, 1996).
Langkah-langkah supervisi yaitu: pengawas dan kepala sekolah berdiskusi
menyusun rencana kerja untuk jangka waktu tertentu, pengawas dan kepala sekolah
menciptakan koordinasi yang baik dalam pelaksanaan supervisi agar tidak terjadi
kesalahpahaman, pengawas dan kepala sekolah menelaah instrumen yang diperlukan,
kepala sekolah mengadakan rapat pleno dengan guru, kepala sekolah menyampaikan
usulan dari guru ke pengawas, pengawas dan kepala sekolah menyusun rencana
operasional untuk melaksanakan supervisi, dan pengawas dan kepala sekolah
menyusun laporan tentang pelaksanaan supervisi untuk lingkup wilayah yang menjadi
tanggung jawabnya kepada Dinas Pendidikan tingkat kabupaten/kota

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan,
Jakarta: CV. Rajawali, 1990.

Arikunto, Suharsimi, Dasar-Dasar Supervisi, Jakarta: Rineka Cipta,2004.


Gunawan, Ary, Administrasi Sekolah ( Administrasi Pendidikan Mikro), Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2002.
Mulyasa, E., Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, 2005, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Dadang Suhardan, Supevisi Bantuan Profesional, 2006 , Bandung : Mutiara Ilmu.
Arwani. 2006. Makalah Supervisi. http//makalahsupervisi.pdf.

MAKALAH ADMINISTRASI PENDIDIKAN


LANGKAH-LANGKAH DALAM SUPERVISI

Disusun Oleh:
1. Leny aprianita (12 22 2057)
2. Malindawati (12 22 2066)
Dosen Pembimbing
Yustina Hapida, S.Pd, M.Si

PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG 2014