Anda di halaman 1dari 6

Neurotransmitter pada psikiatri

1. Asetilkolin
Traktus kolinergik sistem saraf pusat. Sekelompok neuron kolinergik di
nukleus basalis Meynerti berjalan kekorteks serebral dan sistem limbik. Neuron
kolinergik tambahan di sistem retikularis berjalan ke korteks serebral, sistem limbik,
hipotalamus, dan talamus. Beberapa pasien dengan demensia tipe alzeimer atau
sindrom down tampak mengalami degenerasi spesifik pada neuron di dalam nukleus
basalis meynerti.
Sinapsis kolinergik. Asetilkolin disinteesis di dalam akson terminal kolinergik
dari asetilkoenzim A (Asetil-KoA) dan kolin oleh enzim kolin asetiltransferase.
Asetilkolin di metabolisme di celah sinaptik oleh asetilkolinesterase, dan kolin yang
dihasilkannya diambil kembali ke dalam neuron parasinaptik dan didaur ulang untuk
membuat molekul asetilkolin yang baru.
Reseptor kolinergik. Dua subtipe utama reseptor kolinergik adalah muskarinik
dan nikotinik. Terdapat empat tipe reseptor muskarinik yang dikenali dengan berbagai
efek pada turnover fosfoinositol, produksi cAMP dan cGMP,dan aktivitas saluran
ion kalium. Reseptor muskarinik adalah diantagonis oleh atropin. Reseptor nikotinik
adalah saluran ion bergerbang ligan yang mempunyai tempat reseptor secara langsung
pada saluran ion sendiri. Reseptor nikotinik sesungguhnya terdiri dari empat subunit
(, , , ). Reseptor nikotinik dapat bervariasi dalam jumlah masing-masing subunit
tersebut; jadi terdapat banyak subtipe reseptor nikotinik, yang didasarkan pada
konfigurasi spesifik dari subunit.
Asetilkolin dan obat. Penggunaan obat antikolinergik yang paling sering
dalam psikiatri adalah sebagai pengobatan kelainan motorik yang disebabkan oleh
penggunaan obt antipsikotik klasik (sebagai contoh, haloperidol). Kemanjuran obat
untuk indikasi tersebut ditentukan oleh keseimbangan antara aktivitas asetilkolin dan
aktivitas dopamin di dalam ganlia basalis. Penghamatan reseptor kolinergik
muskarinik adalah efek farmakodinamik yang umum dari banyak obat psikotropik.
Penghambatan reseptor tersebut menyebabkan efek samping yang sering dilihat,
seperti pandangan kabur, mulut kering, konstipasi, dan kesulitan memulai urinasi.
Penghambatan reseptor kolinergik sistem saraf pusat secara luas menyebabkan
konfusi dan delirium. Obat yang meningkatkan aktivitas kolinergik (sebagai contoh,
tacrine [cognex]) telah dilaporkan efektif dalam pengobatan demensia.

Asetilkolin dan psikopatologi. Hubungan yang paling sering dengan


asetilkolin adalah demensia tipe alzheimer dan tipe lainnya. Dengan identifikasi
terakhir tentang struktur protein dari berbagai reseptor muskarinik dan nikotinik,
banyak peneliti bekerja pada antagonis muskarinik dan nikotinik spesifik yang dapat
membuktikan manfaat dalam pengobatan demensia tipe alzheimer. Asetilkolin
mungkin juga terlibat dalam mood dan gangguan tidur (Kaplan).
Cummings dan Back menunjukkan bahwa defisit kolinergik dapat
berkontribusi pada gejala seperti psikosis, agitasi, apati, disinhibisi, dan perilaku
motorik menyimpang (Lancto, 2001). Defisit dalam sistem kolinergik terutama timbul
pada basal otak depan dan memproyeksikan ke korteks. Terdapat penurunan penanda
kolinergik kolin asetiltransferase (CHAT) dan asetilkolinesterase (ACHE) pada
korteks, khususnya korteks temporal; kehilangan bermakna dalam nukleus basalis
Meynerti; dan pengurangan densitas reseptor muskarinik 2 (M2) presinaptik.
Peningkatan reseptor M2 muskarinik kolinergik telah ditemukan pada korteks frontal
dan temporal pada pasien Demensia dengan gejala psikotik (Robert, 2005).
Gejala Defisit: Kurangnya inhibisi, Berkurangnya fungsi memori, Euphoria,
Antisosial, Penurunan fungsi bicara. Gejala Berlebihan: Over-inhibisi, Anxietas &
Depresi dan Keluhan Somatic

Mekanisme kerja neurotransmitter

Mekanisme Alzheimer

Halusin
asi
auditori
k

Lancto KL et al, 2001, Role of Serotonin in the BPSD, The Journal of Neuropsychiatry and
Clinical Neurosciences, 13, p.5-21.
Robert PH et al, 2005, Grouping for BPSD: clinical and biological aspects, European Psychiatry,
20: p.490496

Kaplan...

2. Norepinefrin
Norepinefrin dan obat. Obat yang paling berhubungan dengan noreepinefrin
adalah obat antidepresan klasik, obat trisiklik, dan inhibitor MAO (MAOIs). Obat
trisiklik menghambat ambilan norepinefrin dan (Serotonin) kembali ke neuron
prasinaptik dan MAOIs menghambat metabolisme norepinefrin (dan serotonin) di
dalam celah sinaptik. Karena antidepresan memerlukan waktu dua sampai empat
minggu untuk menunjukkan efek terapetiknya, adalah jelas bahwa bukan efek segera
yang menghasilkan efek bermanfaatnya. Tetapi, efek segera akhirnya dapat
menyebabkan suatu regulasi turun (down regulation) pada sejumlah reseptor
adrenergik pascasinaptik, dan regulasi turun tersebut pada reseptor adrenergik
pascasinaptik mungkin berhubungan dengan perbaikan klinis.
Sistem adrenergik juga terlibat dalam produksi beberapa peristiwa
merugikan yang dapat ditemukan pada banyak obat psikoterapeutik. Penghambatan
reseptor adrenergik 1 adalah sering disertai dengan sedasi dan hipotensi postural.
Obat lain yang mempengaruhi sistem adrenergik adalah clonidine (catapres), yang

merupakan suatu antagonis reseptor 2. Reseptor adrenergik 2 biasanya berlokasi di


neuron prasinaptik, dan aktivitasi neuron tersebut meregulasi turun produksi dan
pelepasan norepinefrin. Clonidine telah digunakan untuk berbagai gangguan
psikiatrik, termasuk putus opioid.
Antagonis adrenergik , seperti propanolol (inderal),juga telah digunakan
dalam psikiatri. Pada umumnya, reseptor adrenergik berlokasi di pascasinaptik,
dan inhibisi aktivitasnya menyebabkan penurunan pembentukan cAMP di neuron
pascasinaptik. Antagonis adrenergik telah digunakan untuk mengobati fobia sosial
(sebagai contoh kecemasan dalam memainkan musik), akathsia (suatu gangguan
pergerakkan yang berhubungan dengan senyawa antipsikotik), dan tremor yang
diinduksi lithium (Eskalith).
Noreepinefrin dan psikopatologi. Hipotesis amin biogenik untuk gangguan
mood didasarkan pada pengamatan bahwa obat trisikil dan MAOIs adalah efektif
dalam menghilangkan gejala depresi. Apa peranan relatif serotonin dan norepinefrin
dalam patologi depresi masih belum jelas. Obat yang mempengaruhi kedua
neurotransmitter adalah efektif, dan obat mempengaruhi terutama norepinefrin
sebagai contoh, desipramine (Norpramine) dan obat yang mempengaruhi terutama
serotonin sebagai contoh fluoxetine (prozac) adalah juga efektif. Tetapi, jika neuron
noradrenergik dihancurkan dalam model hewan percobaan, obat yang mempengaruhi
serotonin tidak mempunyai efeknya yang biasanya; dan jika neuron serotonergik
dihancurkan, obat yang mempengaruhi noreepinefrin tidak mempunyai efek biasanya.
Hasil percobaan tersebut menyatakan bahwa saling hubungan antara serotonin dan
norepinefrin adalah belum dimengerti dengan lengkap (kaplan).