Anda di halaman 1dari 46

1

Pendahuluan

A. Awal Berdirinya Bani Abbasiyah


Pada awalnya Muhammad bin ali, cicit dari abbas menjalankan
kampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada
keluarga Bani Hasyim di parsi pada masa pemerintahan Khalifah
umar bin abdul aziz. Selanjutnya pada masa pemerintahan Khalifah
marwan II, pertentangan ini semakin memuncak dan akhirnya pada
tahun

750,abu al-abbas

al-saffah berhasil

meruntuhkan

Daulah

Umayyah dan kemudian dilantik sebagai khalifah.


Bani

Abbasiyah

kekhalifahan selama

tiga

berhasil
abad,

memegang

kekuasaan

mengkonsolidasikan

kembali

kepemimpinan gaya islam dan menyuburkan ilmu pengetahuan dan


pengembangan budaya timur tengah. Tetapi pada tahun 940
kekuatan kekhalifahan menyusut ketika orang-orang non-arab,
khususnya orang turki (dan kemudian diikuti oleh Mamluk di Mesir
pada pertengahan abad ke13), mulai mendapatkan pengaruh dan
mulai memisahkan diri dari kekhalifahan2.
Meskipun begitu, kekhalifahan tetap bertahan sebagai simbol
yang menyatukan umat islam. Pada masa pemerintahannya, Bani
Abbasiyah mengklaim bahwa dinasti mereka tak dapat disaingi.
Namun kemudian, said bin husen, seorang muslim syiah dari dinasti
fatimyah mengaku

dari

keturunan

anak

perempuannya

Nabi

muhammad, mengklaim dirinya sebagai Khalifah pada tahun 909,


sehingga timbul kekuasaan ganda di daerah afrika utara. Pada
awalnya ia hanya menguasai marok, aljazair,tunisia dan libya.
Namun kemudian, ia mulai memperluas daerah kekuasaannya
sampai ke mesir dan palestina, sebelum akhirnya Bani Abbasyiah
1
2

berhasil merebut kembali daerah yang sebelumnya telah mereka


kuasai, dan hanya menyisakan Mesir sebagai daerah kekuasaan
Bani Fatimiyyah. Dinasti Fatimiyyah kemudian runtuh pada tahun
1171.Sedangka bani ummayiah bisa bertahan dan terus memimpin
komunitas muslim di spanyol, kemudian mereka mengklaim kembali
gelar Khalifah pada tahun 929, sampai akhirnya dijatuhkan kembali
pada tahun 1031.
Kekhalifahan

Abbasiyah

Abbasiyah adalah kekhalifahan

atau Bani

kedua Islam yang

berkuasa

di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang


pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan
dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani
dan Persia. Kekhalifahan ini berkuasa setelah merebutnya dari Bani
Umayyah dan menundukkan semua wilayahnya kecuali Andalusia.
Bani

Abbasiyah

dirujuk

kepada

keturunan

dari

paman Nabi

Muhammad yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul-Muththalib (566652), oleh karena itu mereka juga termasuk ke dalam Bani Hasyim.
Berkuasa

mulai

tahun

750

dan

memindahkan

ibukota

dari Damaskus ke Baghdad. Berkembang selama dua abad, tetapi


pelan-pelan meredup setelah naiknya bangsaTurki yang sebelumnya
merupakan bahagian dari tentara kekhalifahan yang mereka bentuk,
dan dikenal dengan nama Mamluk. Selama 150 tahun mengambil
kekuasaan memintas Iran, kekhalifahan dipaksa untuk menyerahkan
kekuasaan

kepada

dinasti-dinasti

setempat,

yang

sering

disebut amir atau sultan. Menyerahkan Andalusia kepada keturunan


Bani

Umayyah

yang

melarikan

kepada Aghlabid danFatimiyah.

diri, Maghreb dan Ifriqiya

Kejatuhan

totalnya

pada

tahun 1258 disebabkan

serangan

dipimpin Hulagu Khan yang

menghancurkan Baghdad dan tak

menyisakan

sedikitpun

dari

pengetahuan

bangsa Mongol yang


yang

dihimpun

di

perpustakaan Baghdad. Keturunan dari Bani Abbasiyah termasuk

suku

al-Abbasi

saat

ini

banyak

bertempat

tinggal

di timur

laut Tikrit, Iraq sekarang.3


Kekuasaan

Dinasti

Bani

Abbasiyah

adalah

melanjutkan

kekuasaan Dinasti Bani Umayyah. Dinamakan Daulah Abbasiyah


karena para pendiri dan penguasa Dinasti ini adalah keturunan
Abbas, paman nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah didirikan
oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn alAbbass. Dia dilahirkan di Humaimah pada tahun 104 H. Dia dilantik
menjadi Khalifah pada tanggal 3 Rabiul awwal 132 H. Kekuasaan
Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung dari tahun 750-1258 M
(Syalaby,1997:44).

Pada

diseluruh

Pemberontakan

negeri.

abad

ketujuh

terjadi

yang

paling

pemberontakan
dahsyat

dan

merupakan puncak dari segala pemberontakan yakni perang antara


pasukan Abbul Abbas melawan pasukan Marwan ibn Muhammad
(Dinasti Bani Umayyah). Yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan
Abbul Abbas. Dengan jatuhnya negeri Syiria, berakhirlah riwayat
Dinasti

Bani

Umayyah

dan

bersama

dengan

itu

bangkitlah

kekuasaann Abbasiyah. Dari sini dapat diketahui bahwa bangkitnya


Daulah Abbasiyah bukan saja pergantian Dinasti akan tetapi lebih
dari itu adalah penggantian struktur sosial dan ideologi. Sehingga
dapat dikatakan kebangkitan Daulah Bani Abbasiyah merupakan
suatu revolusi. Menurut Crane Brinton dalam Mudzhar (1998:84),
ada 4 ciri yang menjadi identitas revolusi yaitu :

1. Bahwa pada masa sebelum revolusi ideologi yang berkuasa


mendapat kritik keras dari
penderitaan

masyarakat

masyarakat disebabkan kekecewaan


yang

di

sebabkan

ketimpangan dari ideologi yang berkuasa itu.


3

ketimpangan-

2. Mekanisme pemerintahannya tidak efesien karena kelalaiannya


menyesuaikan lembaga-

lembaga sosial yang ada dengan

perkembangan keadaan dan tuntutan zaman.


3. Terjadinya penyeberangan kaum intelektual dari mendukung
ideologi yang berkuasa pada wawasan baru yang ditawarkan oleh
para kritikus.
4. Revolusi itu pada umumnya bukan hanya di pelopori dan
digerakkan oleh orang-orang lemah dan kaum bawahan, melainkan
dilakukan oleh para penguasa oleh karena halhal tertentu yang
merasa tidak puas dengan sistem yang ada. Sebelum daulah Bani
Abbasiyah berdiri, terdapat 3 tempat yang menjadi pusat kegiatan
kelompok Bani Abbas, antara satu dengan yang lain mempunyai
kedudukan

tersendiri

dalam

memainkan

peranannya

untuk

menegakkan kekuasaan keluarga besar paman nabi SAW yaitu


Abbas Abdul Mutholib (dari namanya Dinasti itu disandarkan). Tiga
tempat itu adalah Humaimah, Kufah dan Khurasan. Humaimah
merupakan kota kecil tempat keluarga Bani Hasyim bermukim, baik
dari kalangan pendukung Ali maupun pendukung keluarga Abbas.
Humaimah terletak berdekatan dengan Damsyik. Kufah merupakan
kota yang penduduknya menganut aliran Syiah pendukung Ali bin
Abi Tholib. Ia bermusuhan secara terang-terangan dengan golongan
Bani Umayyah. Demikian pula dengan Khurasan, kota

yang

penduduknya mendukung Bani Hasyim. Ia mempunyai warga yang


bertemperamen pemberani, kuat fisiknya, tegap tinggi, teguh
pendirian tidak mudah terpengaruh nafsu dan tidak mudah bingung
dengan

kepercayaan

yang

menyimpang.

Disinilah

diharapkan

dakwah kaum Abbassiyah mendapatkan dukungan.


Di bawah pimpinan Muhammad bin Ali al-Abbasy, gerakan
Bani Abbas dilakukan dalam dua fase yaitu : 1) fase sangat rahasia;
dan 2) fase terang-terangan dan pertempuran (Hasjmy, 1993:211).

Selama Imam Muhammad masih hidup gerakan dilakukan sangat


rahasia.

Propaganda

dikirim

keseluruh

pelosok

negara,

dan

mendapat pengikut yang banyak, terutama dari golongan yang


merasa tertindas, bahkan juga dari golongan yang pada mulanya
mendukung Bani Umayyah. Setelah Muhammad meninggal dan
diganti oleh anaknya Ibrahim, maka seorang pemuda Persia yang
gagah berani dan cerdas bernama Abu Muslim al-Khusarany,
bergabubg dalam gerakan rahasia ini. Semenjak itu dimulailah
gerakan dengan cara terang-terangan, kemudian cara pertempuran.
Akhirnya bulan Zulhijjah 132 H Marwan, Khalifah Bani Umayyah
terakhir terbunuh di Fusthath, Mesir. Kemudian Daulah bani
Abbasiyah resmi berdiri.

B. Sistem Pemerintahan, Politik dan Bentuk Negara


Pada zaman Abbasiyah konsep kekhalifahan berkembang
sebagai sistem politik. Menurut pandangan para pemimpin Bani
Abbasiyah, kedaulatan yang ada pada pemerintahan (Khalifah)
adalah

berasal

diaplikasikan

dari

oleh

Allah,
Abu

bukan

Bakar

dari
dan

rakyat
Umar

sebagaimana
pada

zaman

khalifahurrasyidin. Hal ini dapat dilihat dengan perkataan Khalifah


Al-Mansur Saya adalah sultan Tuhan diatas buminya . Pada zaman
Dinasti

Bani

Abbasiyah,

pola

pemerintahan

yang

diterapkan

berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, ekonomi dan


budaya. Sistem politik yang dijalankan oleh Daulah Bani Abbasiyah I
antara lain :
a. Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri,
panglima, Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan
Persia dan mawali .

b. Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi


pusat kegiatan politik, ekonomi sosial dan kebudayaan.
c. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting
dan mulia .
d. Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya .
e. Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk
menjalankan tugasnya dalam pemerintah (Hasjmy, 1993:213-214).
Selanjutnya periode II , III , IV, kekuasaan Politik Abbasiyah sudah
mengalami penurunan, terutama kekuasaan politik sentral. Hal ini
dikarenakan negara-negara bagian (kerajaan-kerajaan kecil) sudah
tidak menghiraukan pemerintah pusat , kecuali pengakuan politik
saja . Panglima di daerah sudah berkuasa di daerahnya ,dan mereka
telah mendirikan atau membentuk pemerintahan sendiri misalnya
saja munculnya Daulah- Daulah kecil, contoh; daulah Bani Umayyah
di Andalusia atau Spanyol, Daulah Fatimiyah . Pada masa awal
berdirinya Daulah Abbasiyah ada 2 tindakan yang dilakukan oleh
para Khalifah Daulah Bani Abbasiyah untuk mengamankan dan
mempertahankan

dari

kemungkinan

adanya

gangguan

atau

timbulnya pemberontakan yaitu : pertama, tindakan keras terhadap


Bani Umayah . dan kedua pengutamaan orang-orang turunan persi.
Dalam menjalankan pemerintahan, Khalifah Bani Abbasiyah pada
waktu itu dibantu oleh seorang wazir (perdana mentri) atau yang
jabatanya disebut dengan wizaraat . Sedangkan wizaraat itu dibagi
lagi menjadi 2 yaitu: 1) Wizaraat Tanfiz (system pemerintahan
presidentil ) yaitu wazir hanya sebagai pembantu Khalifah dan
bekerja atas nama Khalifah. 2) Wizaaratut Tafwidl (parlemen
kabimet).

Wazirnya

berkuasa

penuh

untuk

memimpin

pemerintahan . Sedangkan Khalifah sebagai lambang saja . Pada


kasus lainnya fungsi Khalifah sebagai pengukuh Dinasti-Dinasti lokal
sebagai gubernurnya Khalifah (Lapidus,1999:180). Selain itu, untuk

membantu Khalifah dalam menjalankan tata usaha negara diadakan


sebuah dewan yang bernama diwanul kitaabah (sekretariat negara)
yang dipimpin oleh seorang raisul kuttab (sekretaris negara). Dan
dalam menjalankan pemerintahan negara, wazir dibantu beberapa
raisul diwan (menteri departemen-departemen). Tata usaha negara
bersifat sentralistik yang dinamakan an-nidhamul idary al-markazy.
Selain itu, dalam zaman daulah Abbassiyah juga didirikan
angkatan perang, amirul umara, baitul maal, organisasi kehakiman.,
Selama Dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan
berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, ekonomi dan
budaya.
Berdasarkan perubahan tersebut, para sejarawan membagi masa
pemerintahan Bani Abbasiyah menjadi 3 periode, yaitu :

1. Periode Pertama (750-847 M)


Pada periode ini, seluruh kerajaan Islam berada di dibawah
kekuasaan para Khalifah kecuali di Andalusia. Adapun para Khalifah
yang memimpin pada ini sebagai berikut :
a. Abul Abbas as-saffah (750-754 M)
b. Abu Jafar al mansyur (754 775 M)
c. Abu Abdullah M. Al-Mahdi bin Al Mansyur (775-785 M)
d. Abu Musa Al-Hadi (785786 M)
e. Abu Jafar Harun Ar-Rasyid (786-809 M)
f. Abu Musa Muh. Al Amin (809-813 M)
g. Abu Jafar Abdullah Al Mamun (813-833 M)

h. Abu Ishak M. Al Mutashim (833-842 M)


i. Abu Jafar Harun Al Watsiq (842-847 M)
j. Abul Fadhl Jafar Al Mutawakkil (847-861)

2. Periode kedua (232 H/847 M - 590 H/1194 M)


Pada periode ini, kekuasaan bergeser dari sistem sentralistik
pada system desentralisasi, yaitu ke dalam tiga negara otonom :
a. Kaum Turki (232-590 H)
b. Golongan Kaum Bani Buwaih (334-447 H)
c. Golongan Bani Saljuq (447-590 H)
Dinasti-Dinasti

di

atas

pada

akhirnya

melepaskan

diri

dari

kekuasaan Baghdad pada masa Khalifah Abbassiyah.

3. Periode ketiga (590 H/1194 M - 656 H/1258 M)


Pada periode ini, kekuasaan berada kembali ditangan Khalifah,
tetapi

hanya

di

baghdad

dan

kawasan-kawasan

sekitarnya.

Sedangkan para ahli kebudayaan Islam membagi masa kebudayaan


Islam di zaman daulah Abbasiyah kepada 4 masa, yaitu :
1. Masa Abbasy I, yaitu semenjak lahirnya Daulah Bani Abbasiyah
tahun 750 M, sampai meninggalnya Khalifah al-Wasiq (847 M).
2. Masa Abbasy II, yaitu mulai Khalifah al-Mutawakkal (847 M),
sampai berdirinya daulah Buwaihiyah di Baghdad (946 M).
3. Masa Abbasy III, yaitu dari berdirinya daulah Buwaihiyah tahun
(946 M) sampai masuk kaum Seljuk ke Baghdad (1055 M).

4. Masa Abbasy IV, yaitu masuknya orang-orang Seljuk ke Baghdad


(1055 M), sampai jatuhnya Baghdad ke tangan Tartar di bawah
pimpinan Hulako (1268 M). Dalam versi yang lain yang, para
sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbasiyah
menjadi lima periode :

1. Periode pertama (750847 M)


Pada

periode

pertama

pemerintahan

Bani

Abbasiyah

mencapai masa keemasannya. Secara politis, para Khalifah betulbetul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan
agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai
tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi
perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Masa
pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri Dinasti ini sangat singkat, yaitu
dari tahun 750 M sampai 754 M. Karena itu, pembina sebenarnya
dari Daulah Abbasiyah adalah Abu Jafar al-Mansur (754775 M).
Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekatn Kufah.
Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara
yang baru berdiri itu, al-Mansur memindahkan ibu kota negara ke
kota yang baru dibangunnya, yaitu Baghdad, dekat bekas ibu kota
Persia,

Ctesiphon,

tahun

762

M.

Dengan

demikian,

pusat

pemerintahan Dinasti bani Abbasiyah berada ditengah-tengah


bangsa Persia. Di ibu kota yang baru ini al-Mansur melakukan
konsolidasi dan penertiban pemerintahannya. Dia mengangkat
sejumlah personal untuk menduduki jabatan di lembaga eksekutif
dan yudikatif. Di bidang pemerintahan dia menciptakan tradisi baru
dengan mengangkat wazir sebagai koordinator departemen. Jabatan
wazir yang menggabungkan sebagian fungsi perdana menteri
dengan menteri dalam negeri itu selama lebih dari 50 tahun berada
di tangan keluarga terpandang berasal dari Balkh, Persia (Iran).

Wazir yang pertama adalah Khalid bin Barmak, kemudian digantikan


oleh anaknya, Yahya bin Khalid. Yang terakhir ini kemudian
mengangkat anaknya, Jafar bin Yahya, menjadi wazir muda.
Sedangkan anaknya yang lain, Fadl bin Yahya, menjadi Gubernur
Persia Barat dan kemudian Khurasan.
Pada masa tersebut persoalan-persoalan administrasi negara
lebih banyak ditangani keluarga Persia itu. Masuknya keluaraga non
Arab ini ke dalam pemerintahan merupakan unsur pembeda antara
Daulah Abbasiyah dan Daulah Umayyah yang berorientasi ke Arab.
Khalifah al-Mansur juga membentuk lembaga protokol negara,
sekretaris negara, dan kepolisian negara di samping membenahi
angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abd al-Rahman
sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang
sudah

ada

sejak

masa

Dinasti

Bani

Umayyah

ditingkatkan

peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar


untuk

mengantar

surat,

pada

masa

al-Mansur,

jawatan

pos

ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah


sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para
direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku Gubernur
setempat kepada
menaklukan

Khalifah. Khalifah al-Mansur juga

kembali

daerah-daerah

yang

berusaha

sebelumnya

membebaskan diri dari pemerintahan pusat, dan memantapkan


keamanan di daerah perbatasan. Di pihak lain, dia berdamai dengan
kaisar Constantine V dan selama genjatan senjata 758-765 M,
Bizantium

membayar

upeti

tahunan.

Pada

masa

al-Mansur

pengertian Khalifah kembali berubah. Konsep khilafah dalam


pandangannya dan berlanjut ke generasi sesudahnya merupakan
mandat dari Allah, bukan dari manusia, bukan pula sekedar pelanjut
nabi sebagaimana pada masa al Khulafa al-Rasyidin. Popularitas
Daulah Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman Khalifah Harun alRasyid (786-809 M) dan putranya al-Mamun (813-833 M). Kekayaan

yang banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial,


rumah sakit, lembaga pendidikan dokter dan farmasi didirikan.
Tingkat kemakmuran paling tinggi terwujud pada zaman Khalifah ini.
Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan
kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya.
Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai
negara terkuat dan tak tertandingi (Yatim, 2003:52-53). Dengan
demikian telah terlihat bahwa pada masa Khalifah Harun al-Rasyid
lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam
dari pada perluasan wilayah yang memang sudah luas. Orientasi
kepada pembangunan peradaban dan kebudayaan ini menjadi unsur
pembanding lainnya antara Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Umayyah.
Al-Makmun, pengganti al-Rasyid dikenal sebagai Khalifah yang
sangat

cinta

kepada

ilmu.

Pada

masa

pemerintahannya,

penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Ia juga mendirikan


sekolah,

salah

satu

karya

besarnya

yang

terpenting

adalah

pembangunan Bait al-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi


sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar.
Pada masa al-Makmun inilah Baghdad mulai menjadi pusat
kebudayaan

dan

ilmu

pengetahuan.

Al-Muktasim,

Khalifah

berikutnya (833-842 M) memberi peluang besar kepada orangorang


Turki untuk masuk dalam pemerintahan. Demikian ini di latar
belakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia
pada masa al-Mamun dan sebelumnya. Keterlibatan mereka dimulai
sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa Daulah
Umayyah,

Dinasti

Abbasiyah

mengadakan

perubahan

sistem

ketentaraan. Praktek orang-orang Muslim mengikuti perang sudah


terhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit
profesional.

Dengan

demikian,

kekuatan

militer

Dinasti

Bani

Abbasiyah menjadi sangat kuat. Dalam periode ini, sebenarnya


banyak gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari

kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Gerakan-gerakan itu


seperti gerakan sisa-sisa Dinasti Umayyah dan kalangan intern Bani
Abbas dan lain-lain semuanya dapat dipadamkan. Dalam kondisi
seperti itu para Khalifah mempunyai prinsip kuat sebagai pusat
politik dan agama sekaligus. Apabila tidak, seperti pada periode
sesudahnya, stabilitas tidak lagi dapat dikontrol, bahkan para
Khalifah sendiri berada dibawah pengaruh kekuasaan yang lain.

2. Periode kedua (847-945 M)


Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan
besar yang dicapai Dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah
mendorong para penguasa untuk hidup mewah, bahkan cenderung
mencolok. Kehidupan mewah para Khalifah ini ditiru oleh para
hartawan dan anak-anak pejabat. Demikian ini menyebabkan roda
pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin. Kondisi ini
memberi peluang kepada tentara profesional asal Turki yang semula
diangkat oleh Khalifah al-Mutasim untuk mengambil alih kendali
pemerintahan.

Usaha

mereka

berhasil,

sehingga

kekuasaan

sesungguhnya berada di tangan mereka, sementara kekuasaan Bani


Abbas di dalam Khilafah Abbasiyah yang didirikannya mulai pudar,
dan ini merupakan awal dari keruntuhan Dinasti ini, meskipun
setelah itu usianya masih dapat bertahan lebih dari empat ratus
tahun. Khalifah Mutawakkil (847-861 M) yang merupakan awal dari
periode ini adalah seorang Khalifah yang lemah. Pada masa
pemerintahannya orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan
dengan cepat. Setelah Khalifah al-Mutawakkil wafat, merekalah
yang

memilih

dan

mengangkat

Khalifah.

Dengan

demikian

kekuasaan tidak lagi berada di tangan Bani Abbas, meskipun


mereka tetap memegang jabatan Khalifah. Sebenarnya ada usaha
untuk melepaskan diri dari para perwira Turki itu, tetapi selalu

gagal. Dari dua belas Khalifah pada periode kedua ini, hanya empat
orang yang wafat dengan wajar, selebihnya kalau bukan dibunuh,
mereka diturunkan dari tahtanya dengan paksa. Wibawa Khalifah
merosot tajam. Setelah tentara Turki lemah dengan sendirinya, di
daerah-daerah

muncul

tokoh-tokoh

kuat

yang

kemudian

memerdekakan diri dari kekuasaan pusat, mendirikan DinastiDinasti kecil. Inilah permulaan masa disintregasi dalam sejarah
politik Islam. Adapun faktor-faktor penting yang menyebabkan
kemunduran Bani Abbas pada periode ini adalah sebagai berikut:
a. Luasnya wilayah kekuasaan Daulah Abbasiyah yang harus
dikendalikan, sementara komunikasi lambat. Bersamaan dengan itu,
tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana
pemerintahan sangat rendah.
b. Dengan profesionalisasi tentara, ketergantungan kepada mereka
menjadi sangat tinggi.
c. Kesulitan keuangan karena beban pembiayaan tentara sangat
besar. Setelah Khalifah merosot, Khalifah tidak sanggup memaksa
pengiriman pajak ke Baghdad.

3. Periode ketiga (945 -1055 M)


Pada
kekuasaan

periode
Bani

ini,

Buwaih.

Daulah

Abbasiyah

Keadaan

Khalifah

berada
lebih

di

bawah

buruk

dari

sebelumnya, terutama karena Bani Buwaih adalah penganut aliran


Syiah. Khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan
diberi gaji. Bani Buwaih membagi kekuasaannya kepada tiga
bersaudara : Ali untuk wilayah bagian selatan negeri Persia, Hasan
untuk wilayah bagian utara, dan Ahmad untuk wilayah Al- Ahwaz,
Wasit dan Baghdad. Dengan demikian Baghdad pada periode ini

tidak lagi merupakan pusat pemerintahn Islam karena telah pindah


ke Syiraz di masa berkuasa Ali bin Buwaih yang memiliki kekuasaan
Bani Buwaih. Meskipun demikian, dalam bidang ilmu pengetahuan
Daulah Abbasiyah terus mengalami kemajuan pada periode ini. Pada
masa inilah muncul pemikir-pemikir besar seperti al-Farabi, Ibnu
Sina, Al-Biruni, Ibnu Maskawaih, dan kelompok studi Ikhwan asSafa. Bidang ekonomi, pertanian, dan perdagangan juga mengalami
kemajuan. Kemajuan ini juga diikuti dengan pembangunan masjid
dan rumah sakit. Pada masa Bani Buwaih berkuasa di Baghdad,
telah terjadi beberapa kali kerusuhan aliran antara Ahlussunnah dan
Syiah, pemberontakan tentara dan sebagainya.

4. Periode keempat (1055-1199 M)


Periode ini ditandai dengan kekuasaan Bani Seljuk atas Daulah
Abbasiyah. KehadiraBani Seljuk ini adalah atas undangan Khalifah
untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaih diBaghdad. Keadaan
Khalifah memang membaik, paling tidak karena kewibawaannya
dala bidang agama kembali setelah beberapa lama dikuasai oleh
orangorang Syiah. Sebagaimana pada periode sebelumnya, ilmu
pengetahuan juga berkembang pada periode ini. Nizam al-Mulk,
perdana menteri pada masa Alp Arselan dan Malikhsyah, mendirikan
Madrasah Nizamiyah (1067 M) dan madrasah Hanafiyah di Baghdad.
Cabangcabang Madrasah Nizamiyah didirikan hampir di setiap kota
di Irak dan Khurasan. Madrasah ini menjadi model bagi perguruan
tinggi dikemudian hari. Dari madrasah ini telah lahir banyak
cendekiawan

dalam

berbagai

disiplin

ilmu.

Di

antara

para

cendekiawan Islam yang dilahirkan dan berkembang pada periode


ini adalah al-Zamakhsari, penulis dalam bidang Tafsir dan Ushul alDin (teologi), Al-Qusyairi dalam bidang tafsir, al-Ghazali dalam
bidang ilmu kalam dan tasawwuf, dan Umar Khayyam dalam bidang

ilmu perbintangan. Dalam bidang politik, pusat kekuasaan juga tidak


terletak di kota Baghdad. Mereka membagi wilayah kekuasaan
menjadi

beberapa

propinsi

dengan

seorang

Gubernur

untuk

mengepalai masing-masing propinsi tersebut. Pada masa pusat


kekuasaan

melemah,

masing

masing

propinsi

tersebut

memerdekakan diri. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi di


antara mereka melemahkan mereka sendiri, dan sedikit demi sedikit
kekuasaan politik Khalifah menguat kembali, terutama untuk negeri
Irak. Kekuasaan mereka tersebut berakhir di Irak di tangan
Khawarizm Syah pada tahun 590 H/ 1199 M.

5. Periode kelima (1199-1258 M)


Berakhirnya kekuasaan Dinasti Seljuk atas Baghdad atau
khilafah Abbasiyah merupakan awal dari periode kelima. Pada
periode

ini,

khilafah

Abbasiyah

tidak

lagi

berada

di

bawah

kekuasaan Dinasti tertentu, walaupun banyak sekali Dinasti Islam


berdiri. Ada di antaranya yang cukup besar, namun yang terbanyak
adalah Dinasti kecil. Para Khalifah Abbasiyah sudah merdeka dan
berkuasa kembali, tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Wilayah
kekuasaan Khalifah yang sempit ini menunjukkan kelemahan
politiknya. Pada masa inilah tentara Mongol dan Tartar menyerang
Baghdad. Baghdad dapat direbut dan dihancur luluhkan tanpa
perlawanan yang berarti. Kehancuran Baghdad akibat serangan
tentara Mongol ini awal babak baru dalam sejarah Islam, yang
disebut masa pertengahan. Sebagaimana terlihat dalam periodisasi

khilafah Abbasiyah, masa kemunduran dimulai sejak periode kedua.


Namun demikian, faktor-faktor penyebab kemunduran ini tidak
datang secara tiba-tiba. Benih-benihnya sudah terlihat pada periode
pertama, hanya karena Khalifah pada periode ini sangat kuat, benihbenih itu tidak sempat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan Bani
Abbas terlihat bahwa apabila Khalifah kuat, para menteri cenderung
berperan sebagai kepala pegawai sipil, tetapi jika Khalifah lemah,
mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan. Disamping
kelemahan Khalifah, banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah
Abbasiyah menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling
berkaitan satu sama lain. Beberapa di antara nya adalah sebagai
berikut:
a. Faktor Internal
1. Persaingan antar Bangsa
Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi
kekuasaan sudah dirasakan sejak awal Khalifah Abbasiyah berdiri.
Akan tetapi, karena para Khalifah adalah orang-orang kuat yang
mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat
terjaga. Setelah al-Mutawakkil, seorang Khalifah yang lemah, naik
tahta, dominasi tentara Turki tidak terbendung lagi. Sejak itu
kekuasaan Daulah Abbasiyyah sebenarnya sudah berakhir.

2. Kemerosotan Ekonomi
Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian
negara

morat-marit

Sebaliknya,

kondisi

ekonomi

yang

buruk

memperlemah kekuatan politik Dinasti Abbasiyah. Kedua faktor ini


saling berkaitan dan tak terpisahkan.
3. Konflik Keagamaan
Konflik yang melatarbelakangi agama tidak terbatas pada
konflik antara Muslim dan Zindik atau Ahlussunnah dengan Syiah
saja, tetapi juga antara aliran dalam Islam.
4. Perkembangan Peradaban dan Kebudayaan
Kemajuan besar yang dicapai Dinasti Abbasiyah pada periode
pertama telah mendorong para penguasa untuk hidup mewah, yang
kemudian ditiru oleh para haratawan dan anak-anak pejabat
sehingga menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat
menjadi miskin (Yatim, 2003:61-62).
b. Faktor Eksternal
1. Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode
dan menelan banyak korban.
2. Serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam.

C. Perkembangan Intelektual
Perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai
puncak kejayaan pada masa pemerintahhan Harun ar-Rasyid ,
kemajuan intelektual pada waktu itu setidaknya dipengaruhi oleh
dua hal yaitu:
1. Terjadinya Asimilasi antara bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain
yang

lebih

dahulu

mengalami

perkembangan

dalam

ilmu

pengetahuan. Pengaruh Persia pada saat itu sangat penting


dibidang pemerintahan. selain itu mereka banyak berjasa dalam

perkembangan ilmu filsafat dan sastra. Sedangkan pengaruh Yunani


masuk melalui terjemah-terjemah dalam banyak bidang ilmu,
terutama Filsafat.

2. Gerakan Terjemah.Pada masa daulah ini usaha penerjemahan


kitab-kitab asing dilakukan dengan giat sekali. Pengaruh gerakan
terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum
terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia dan
sejarah. Dari gerakan ini muncullah tokoh-tokoh Islam dalam ilmu
pengetahuan, antara lain ;
a. Bidang filsafat: al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Bajah, Ibnu Tufail, Ibnu
Sina, al-Ghazali,Ibnu Rusyid.
b. Bidang kedokteran: Jabir ibnu Hayan , Hunain bin Ishaq, Tabib bin
Qurra ,Ar-Razi.
c. Bidang Matematika: Umar al-Farukhan , al-Khawarizmi.
d. Bidang astronomi: al-Fazari, al-Battani, Abul watak, al-Farghoni
dan sebagainya.
Pengaruh dari kebudayaan bangsa yang sudah maju tersebut,
terutama melalui gerakan terjemahan, bukan saja membawa
kemajuan di bidang ilmu pengetahuan umum, tetapi juga ilmu
pengetahuan agama. Dalam bidang tafsir, sejak awal sudah dikenal
dua

metode,

penafsiran

pertama,

tafsir bi

al-ma'tsur,

yaitu

interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan


para sahabat. Kedua, tafsir bi al-ra'yi, yaitu metode rasional yang
lebih banyak bertumpu kepada pendapat dan pikiran daripada
hadits

dan

pendapat

sahabat.

Kedua

metode

ini

memang

berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi jelas

sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra'yi, (tafsir rasional),


sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu
pengetahuan. Hal yang sama juga terlihat dalam ilmu fiqh dan
terutama dalam ilmu teologi. Perkembangan logika di kalangan
umat Islam sangat memengaruhi perkembangan dua bidang ilmu
tersebut. Imam-imam madzhab hukum yang empat hidup pada
masa

pemerintahan

Abbasiyah

pertama. Imam

Abu

Hanifah

Rahimahullah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya


dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah, kota yang
berada

di

tengah-tengah

kebudayaan Persia yang

hidup

kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih


tinggi. Karena itu, mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran
rasional daripada hadits. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu
Yusuf, menjadi Qadhi al-Qudhat pada zaman Harun Ar-Rasyid.
Berbeda dengan Imam Abu Hanifah, Imam Malik Rahimahullah (713795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat
Madinah.

Pendapat

dua

tokoh

mazhab

hukum

itu

ditengahi

oleh Imam Syafi'i Rahimahullah (767-820 M), dan Imam Ahmad ibn
Hanbal Rahimahullah (780-855 M) yang mengembalikan sistem
madzhab dan pendapat akal semata kepada hadits Nabi serta
memerintahkan para muridnya untuk berpegang kepada hadits Nabi
serta pemahaman para sahabat Nabi. Hal ini mereka lakukan untuk
menjaga dan memurnikan ajaran Islam dari kebudayaan serta adat
istiadat orang-orang non-Arab. Di samping empat pendiri madzhab
besar tersebut, pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak para
mujtahid lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan
mendirikan madzhab-nya pula. Akan tetapi, karena pengikutnya
tidak berkembang, pemikiran dan mazhab itu hilang bersama
berlalunya

zaman. Aliran-aliran sesat yang

sudah ada

pada

masa Bani Umayyah, seperti Khawarij, Murji'ah dan Mu'tazilah pun


ada. Akan tetapi perkembangan pemikirannya masih terbatas.

Teologi rasional Mu'tazilah muncul di ujung pemerintahan Bani


Umayyah. Namun, pemikiran-pemikirannya yang lebih kompleks
dan sempurna baru mereka rumuskan pada masa pemerintahan
Bani Abbas periode pertama, setelah terjadi kontak dengan
pemikiran Yunani yang

membawa

pemikiran filsafat dan

rasionalisme dalam Islam. Tokoh perumus pemikiran Mu'tazilah yang


terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allaf (135-235 H/752-849M) dan alNazzam (185-221

H/801-835M). Asy'ariyah,

aliran

tradisional

di

bidang teologi yang dicetuskan oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari (873935 M) yang lahir pada masa Bani Abbas ini juga banyak sekali
terpengaruh oleh logika Yunani. Ini terjadi, karena Al-Asy'ari
sebelumnya adalah pengikut Mu'tazilah. Hal yang sama berlaku pula
dalam bidang sastra. Penulisan hadits, juga berkembang pesat pada
masa Bani Abbas. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh
tersedianya fasilitas dan transportasi, sehingga memudahkan para
pencari dan penulis hadits bekerja.
Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan
ilmu

pengetahuan

umum,

terutama

di

bidang astronomi,

kedokteran, filsafat, kimia dan sejarah. Dalam lapangan astronomi


terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali
menyusun astrolobe. Al-Farghani, yang dikenal di Eropa dengan
nama Al-Faragnus,

menulis

diterjemahkan

ke

ringkasan

ilmu

dalam bahasa

astronomi

yang

Latin oleh Gerard

Cremona dan Johannes Hispalensis. Dalam lapangan kedokteran


dikenal nama ar-Razi dan Ibnu Sina. Ar-Razi adalah tokoh pertama
yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga
orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak.
Sesudahnya, ilmu kedokteraan berada di tangan Ibn Sina. Ibnu
Sina yang

juga

seorang filosof berhasil

menemukan

sistem

peredaran darah pada manusia. Di antara karyanya adalah al-

Qoonuun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling


besar dalam sejarah.
Dalam bidang optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitsami, yang di
Eropa dikenal dengan nama Alhazen, terkenal sebagai orang yang
menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang
dilihat. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya
bendalah yang mengirim cahaya ke mata. Di bidang kimia, terkenal
nama Jabir ibn Hayyan. Dia berpendapat bahwa logam seperti
timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak
dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Di bidang matematika
terkenal nama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, yang juga mahir
dalam bidang astronomi. Dialah yang menciptakan ilmu aljabar.
Kata aljabar berasal dari judul bukunya, al-Jabr wa al-Muqoibalah.
Dalam bidang sejarah terkenal nama al-Mas'udi. Dia juga ahli dalam
ilmu geografi. Di antara karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa
Ma'aadzin al-Jawahir.
Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat, antara lain alFarabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Al-Farabi banyak menulis buku
tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika dan interpretasi
terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Sina juga banyak mengarang buku
tentang filsafat, yang terkenal di antaranya ialah asy-Syifa'. Ibnu
Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes, banyak
berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat, sehingga di sana
terdapat

aliran

yang

disebut

denganAverroisme.

Pada

masa

kekhalifahan ini, dunia Islam mengalami peningkatan besar-besaran


di bidang ilmu pengetahuan. Salah satu inovasi besar pada masa ini
adalah diterjemahkannya karya-karya di bidang pengetahuan,
sastra, dan filosofi dari Yunani, Persia, dan Hindustan.

Banyak golongan pemikir lahir zaman ini, banyak di antara


mereka bukan Islam dan bukan Arab Muslim. Mereka ini memainkan
peranan

yang

penting

dalam

menterjemahkan

dan

mengembangkan karya Kesusasteraan Yunani dan Hindu, dan ilmu


zaman pra-Islam kepada masyarakat Kristen Eropa. Sumbangan
mereka

ini

menyebabkan

seorang

ahli

filsafat

Yunani

yaitu

Aristoteles terkenal di Eropa. Tambahan pula, pada zaman ini


menyaksikan

penemuan

ilmu

dan astronomi seperti Euclid dan

geografi,matematika,

Claudius Ptolemy.

Ilmu-ilmu

ini

kemudiannya diperbaiki lagi oleh beberapa tokoh Islam seperti AlBiruni dan sebagainya.
Demikianlah kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah
dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik, kemajuan yang
tidak ada tandingannya di kala itu. Pada masa ini, kemajuan politik
berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaan,
sehingga

Islam

mencapai

masa

keemasan,

kejayaan

dan

kegemilangan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama


pada masa kekuasaan Bani Abbas periode pertama, namun setelah
periode ini berakhir, peradaban Islam juga mengalami masa
kemunduran. Wallahul Mustaan.
Dari hasil ijtihad dan semangat riset, maka para ahli
pengetahuan, para alim ulama, berhasil menemukan berbagai
keahlian

berupa

penemuan

berbagai

bidang-bidang

pengetahuan, antara lain :


1. Ilmu Umum
a.Ilmu Filsafat
1) Al-Kindi (809-873 M) buku karangannya sebanyak 236 judul.
2) Al Farabi (wafat tahun 916 M) dalam usia 80 tahun.

ilmu

3) Ibnu Bajah (wafat tahun 523 H)


4) Ibnu Thufail (wafat tahun 581 H)
5) Ibnu Shina (980-1037 M). Karangan-karangan yang terkenal
antara lain: Shafa, Najat, Qoman, Saddiya dan lain-lain
6) Al Ghazali (1085-1101 M). Dikenal sebagai Hujjatul Islam,
karangannya: Al Munqizh Minadl-Dlalal,Tahafutul Falasifah,Mizanul
Amal,Ihya Ulumuddin dan lainlain
7) Ibnu Rusd (1126-1198 M). Karangannya : Kulliyaat, Tafsir Urjuza,
Kasful Afillah dan lain-lain.
b. Bidang Kedokteran
1) Jabir bin Hayyan (wafat 778 M). Dikenal sebagai bapak Kimia.
2) Hurain bin Ishaq (810-878 M). Ahli mata yang terkenal disamping
sebagai penterjemah bahasa asing.
3) Thabib bin Qurra (836-901 M)
4) Ar Razi atau Razes (809-873 M). Karangan yang terkenal
mengenai cacar dan campak yang diterjemahkan dalam bahasa
latin.
c. Bidang Matematika
1) Umar Al Farukhan: Insinyur Arsitek Pembangunan kota Baghdad.
2) Al Khawarizmi: Pengarang kitab Al Gebra (Al Jabar), penemu
angka (0).
d. Bidang Astronomi
Berkembang subur di kalangan umat Islam, sehingga banyak para
ahli yang terkenal dalam perbintangan ini seperti :

1) Al Farazi : pencipta Astro lobe


2) Al Gattani/Al Betagnius
3) Abul wafat : menemukan jalan ketiga dari bulan
4) Al Farghoni atau Al Fragenius
e. Bidang Seni Ukir
Beberapa seniman ukir terkenal: Badr dan Tariff (961-976 M) dan
ada seni musik, seni tari, seni pahat, seni sulam, seni lukis dan seni
bangunan.

2. Ilmu Naqli
a. Ilmu Tafsir, Para mufassirin yang termasyur: Ibnu Jarir ath Tabary,
Ibnu Athiyah al Andalusy (wafat 147 H), As Suda, Mupatil bin
Sulaiman (wafat 150 H), Muhammad bin Ishak dan lain-lain.
b. Ilmu Hadist, Muncullah ahli-ahli hadist ternama seperti: Imam
Bukhori (194-256 H), Imam Muslim (wafat 231 H), Ibnu Majah (wafat
273 H),Abu Daud (wafat 275 H), At Tarmidzi, dan lain-lain
c. Ilmu Kalam, Dalam kenyataannya kaum Mutazilah berjasa besar
dalam menciptakan ilmu kalam, diantaranya para pelopor itu
adalah: Wasil bin Atha, Abu Huzail al Allaf, Adh Dhaam, Abu Hasan
Asyary, Hujjatul Islam Imam Ghazali
d. Ilmu Tasawuf, Ahli-ahli dan ulama-ulamanya adalah : Al Qusyairy
(wafat 465 H). Karangannya : ar Risalatul Qusyairiyah, Syahabuddin
(wafat 632 H). Karangannya : Awariful Maarif, Imam Ghazali :
Karangannya al Bashut, al Wajiz dan lain-lain.
e. Para Imam Fuqaha, Lahirlah para Fuqaha yang sampai sekarang
aliran mereka masih mendapat tempat yang luas dalam masyarakat

Islam. Yang mengembangkan faham/mazhabnya dalam zaman ini


adalah: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad
bin Hambal dan Para Imam Syiah (Hasjmy, 1995:276-278).

D. Perkembangan Peradaban di Bidang Fisik


Perkembangan peradaban pada masa daulah Bani Abbasiyah
sangat maju pesat, karena upayaupaya dilakukan oleh para Khalifah
di bidang fisik. Hal ini dapat kita lihat dari bangunan bangunan
yang berupa:
a. Kuttab, yaitu tempat belajar dalam tingkatan pendidikan rendah
dan menengah.
b.

Majlis

Muhadharah,yaitu

tempat

pertemuan

para

ulama,

sarjana,ahli pikir dan pujangga untuk membahas masalah-masalah


ilmiah.
c. Darul Hikmah, Adalah perpustakaan yang didirikan oleh Harun ArRasyid. Ini merupakan perpustakaan terbesar yang di dalamnya
juga disediakan tempat ruangan belajar.
d. Madrasah, Perdana menteri Nidhomul Mulk adalah orang yang
mula-mula mendirikan sekolah dalam bentuk yang ada sampai
sekarang ini, dengan nama Madrasah.
e. Masjid, Biasanya dipakai untuk pendidikan tinggi dan tahassus.
Pada masa Daulah Bani Abbassiyah, peradaban di bidang fisik
seperti kehidupan ekonomi: pertanian, perindustrian, perdagangan
berhasil dikembangkan oleh Khalifah Mansyur.

E. Kehidupan Perekonomian Daulah Bani Abbasiyah

Permulaan

masa

kepemimpinan

Bani

Abbassiyah,

perbendaharaan negara penuh dan berlimpah limpah, uang masuk


lebih banyak daripada pengeluaran. Yang menjadi Khalifah adalah
Mansyur. Dia betul-betul telah meletakkan dasar-dasar yang kuat
bagi ekonomi dan keuangan negara. Dia mencontohkan Khalifah
Umar bin Khattab dalam menguatkan Islam. Dan keberhasilan
kehidupan ekonomi maka berhasil pula dalam :
1. Pertanian, Khalifah membela dan menghormati kaum tani,
bahkan meringankan pajak hasil

bumi mereka, dan ada

beberapa yang dihapuskan sama sekali.


2.

Perindustrian,

Khalifah

menganjurkan

untuk

beramai-ramai

membangun berbagai industri, sehingga terkenallah beberapa kota


dan industri-industrinya.
3.

Perdagangan,

Segala

usaha

ditempuh

untuk

memajukan

perdagangan seperti:
a) Membangun sumur dan tempat-tempat istirahat di jalan-jalan
yang dilewati kafilah dagang.
b) Membangun armada-armada dagang.
c) Membangun armada : untuk melindungi parta-partai negara dari
serangan bajak laut.
Usaha-usaha tersebut sangat besar pengaruhnya dalam
meningkatkan perdagangan dalam dan luar negeri. Akibatnya
kafilah-kafilah dagang kaum muslimin melintasi segala negeri dan
kapal-kapal dagangnya mengarungi tujuh lautan.
Selain ketiga hal tersebut, juga terdapat peninggalan-peninggalan
yang memperlihatkan kemajuan pesat Bani Abbassiyah.
1. Istana Qarruzzabad di Baghdad

2. Istana di kota Samarra


3. Bangunan-bangunan sekolah
4. Kuttab
5. Masjid
6. Majlis Muhadharah
7. Darul Hikmah
8. Masjid Raya Kordova (786 M)
9. Masjid Ibnu Taulon di Kairo (876 M)
10. Istana Al Hamra di Kordova
11. Istana Al Cazar, dan lain-lain (Maruf,1996:39-40).

F. Strategi Kebudayaan dan Rasionalitas


Sebagaimana

diketahui

sebelumnya

bahwa

kebebasan

berpikir diakui sepenuhnya sebagai hak asasi setiap manusia oleh


Daulah Abbasiyah. Oleh karena itu, pada waktu itu akal dan pikiran
benar-benar dibebaskan dari belenggu taqlid, sehingga orang
leluasa

mengeluarkan

pendapat.

Berawal

dari

itu,

zaman

pemerintahan Abbasiyah awal melahirkan 4 Imam Madzhab yang


ulung, mereka adalah Syafii , Hanafi, Hambali , dan Maliki.
Disamping itu, zaman pemerintahan Abbasiyah awal itu juga
melahirkan Ilmu Tafsir al-Quran dan pemisahnya dari Ilmu Hadits.
Sebelumnya, belum terdapat penafsiran seluruh al-Quran, yang ada
hanyalah Tafsir bagi sebagian ayat dari berbagai surah, yang dibuat
untuk tujuan tertentu (Syalaby, 1997:187). Dalam negara Islam di

masa Bani Abbassiyah berkembang corak kebudayaan, yang berasal


dari beberapa bangsa. Apa yang terjadi dalam unsur bangsa, terjadi
pula

dalam

unsur

kebudayaan.

berkembang

empat

unsur

Dalam

kebudayaan

masa
yang

sekarang

ini

mempengaruhi

kehidupan akal/rasio yaitu Kebudayaan Persia, Kebudayaan Yunani,


Kebudayaan Hindi dan Kebudayaan Arab dan berkembangnya ilmu
pengetahuan.
1. Kebudayaan Persia, Pesatnya perkembangan kebudayaan Persia
di zaman ini karena 2 faktor, yaitu :
a. Pembentukan lembaga wizarah
b. Pemindahan ibukota
2. Kebudayaan Hindi, Peranan orang India dalam membentuk
kebudayaan Islam terjadi dengan dua cara:
a. Secara langsung, Kaum muslimin berhubungan langsung dengan
orang-orang India seperti lewat perdagangan dan penaklukan.
b. Secara tak langsung,penyaluran kebudayaan India ke dalam
kebudayaan Islam lewat kebudayaan Persia.
3. Kebudayaan Yunani

Sebelum dan sesudah Islam, terkenallah di Timur beberapa


kota yang menjadi pusat kehidupan kebudayaan Yunani. Yang paling
termasyur diantaranya adalah :
a. Jundaisabur, Terletak di Khuzistan, dibangun oleh Sabur yang
dijadikan tempat pembuangan para tawanan Romawi. Setelah jatuh
di bawah kekuasaan Islam. Sekolah-sekolah tinggi kedokteran yang
asalnya diajar berbagai ilmu Yunani dan bahasa Persia, diadakan
perubahan-perubahan dan pembaharuan.

b. Harran,Kota yang dibangun di utara Iraq yang menjadi pusat


pertemuan

segala

macam

kebudayaan.

Warga

kota

Harran

merupakan pengembangan kebudayaan Yunani terpenting di zaman


Islam, terutama dimasa Daulah Abbassiyah.
c. Iskandariyyah, Ibukota Mesir waktu menjadi jajahan Yunani.
Dalam kota Iskandariyyah ini lahir aliran falsafah terbesar yang
dikenal Filsafat Baru Plato (Neo Platonisme). Dalam masa Bani
Abbassiyah hubungan alam pemikiran Neo Platonisme bertambah
erat dengan alam pikiran kaum muslimin.
4. Kebudayaan Arab
Masuknya kebudayaan Arab ke dalam kebudayaan Islam
terjadi dengan dua jalan utama, yaitu :
a. Jalan Agama, Mengharuskan mempelajari Quran, Hadist, Fiqh
yang semuanya dalam bahasa Arab.
b. Jalan Bahasa,Jazirah Arabia adalah sumber bahasa Arab, bahasa
terkaya diantara rumpun bahasa samy dan tempat lahirnya Islam.

G. Pengaruh mamluk
Kekhalifahan
mengorganisasikan

Abbasiyah

adalah

yang

penggunaan

tentara

tentara

pertama
budak

kali
yang

disebut mamluk pada abad ke-9. Dibentuk oleh al-mamun, tentaratentara budak ini didominasi oleh bangsa turki tetapi juga banyak

diisi oleh bangsa berber dari afrika utara dan slav dari eropa timur.
Ini adalah suatu inovasi sebab sebelumnya yang digunakan adalah
tentara

bayaran

dari

Turki.

Bagaimanapun

tentara

Mamluk

membantu sekaligus menyulitkan kekhalifahan Abbasiyah. karena


berbagai kondisi yang ada di umat muslim saat itu pada akhirnya
kekhalifahan ini hanya menjadi simbol dan bahkan tentara Mamluk
ini, yang kemudian dikenal dengan Bani Mamalik berhasil berkuasa,
yang

pada

mulanya

mengambil

inisiatif

merebut

kekuasaan

kerajaan ayyubiyyah yang pada masa itu merupakan kepanjangan


tangan dari khilafah Bani Abbas, hal ini disebabkan karena para
penguasa Ayyubiyyah waktu itu kurang tegas dalam memimpin
kerajaan. Bani Mamalik

ini mendirikan kesultanan sendiri

di

mesir dan memindahkan ibu kota dari baghdad ke cairo setelah


berbagai serangan dari tentara tartar dan kehancuran Baghdad
sendiri setelah serangan mongol di bawah pimpinan hulagu khan.
Walaupun berkuasa Bani Mamalik tetap menyatakan diri berada di
bawah

kekuasaan

(simbolik)

kekhalifahan,

dimana

khalifah

Abbasiyyah tetap sebagai kepala negara.

H. Pengaruh bani buwaih


Faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas
menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan,
dengan membiarkan jabatan tetap dipegang bani Abbas, karena
khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral
dan tidak bisa diganggu gugat lagi, sedangkan kekusaan dapat
didirikan

di

pusat

maupun

daerah

yang

jauh

dari

pusat

pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka. Di


antara faktor lain yang menyebabkan peran politik Bani Abbas
menurun adalah perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Hal

ini sebenarnya juga terjadi pada pemerintahan-pemerintahan Islam


sebelumnya. Tetapi, apa yang terjadi pada pemerintahan Abbasiyah
berbeda dengan yang terjadi sebelumnya.
Pada masa pemerintahan Bani Abbas, perebutan kekuasaan
sering terjadi, terutama di awal berdirinya. Akan tetapi, pada masamasa

berikutnya,

seperti

terlihat

pada

periode

kedua

dan

seterusnya, meskipun khalifah tidak berdaya, tidak ada usaha untuk


merebut jabatan khilafah dari tangan Bani Abbas. Yang ada
hanyalah

usaha

merebut

kekuasaannya

dengan

membiarkan

jabatan khalifah tetap dipegang Bani Abbas. Hal ini terjadi karena
khalifah sudah dianggap sebagai jabatan keagamaan yang sakral
dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Sedangkan kekuasaan dapat
didirikan di pusat maupun di daerah yang jauh dari pusat
pemerintahan dalam bentuk dinasti-dinasti kecil yang merdeka.
Tentara turki berhasil merebut kekuasaan tersebut. Di tangan
mereka khalifah bagaikan boneka yang tak bisa berbuat apa-apa.
Bahkan merekalah yang memilih dan menjatuhkan khalifah sesuai
dengan keinginan politik mereka. Setelah kekuasaan berada di
tangan orang-orang Turki pada periode kedua, pada periode ketiga
(334-447 H/l055 M), daulah Abbasiyah berada di bawah pengaruh
kekuasaan Bani Buwaih yang berpaham Syi'ah.

I. Pengaruh bani seljuk


Setelah jatuhnya kekuasaan Bani Buwaih ke tangan Bani
Seljuk atau Salajiqah Al-Kubro (Seljuk Agung), posisi dan kedudukan
khalifah Abbasiyah sedikit lebih baik, paling tidak kewibawaannya
dalam bidang agama dikembalikan bahkan mereka terus menjaga
keutuhan dan keamanan untuk membendung faham Syi'ah dan
mengembangkan manhaj Sunni yang dianut oleh mereka.

J. Kemunduran
Faktor-faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani
Abbas pada masa ini, sehingga banyak daerah memerdekakan diri,
adalah:
1. Luasnya wilayah kekuasaan daulah Abbasiyyah sementara
komunikasi pusat dengan daerah sulit dilakukan. Bersamaan
dengan itu, tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan
pelaksana pemerintahan sangat rendah.
2.

Dengan

profesionalisasi

angkatan

bersenjata,

ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.


3. Keuangan negara sangat sulit karena biaya yang dikeluarkan
untuk tentara bayaran sangat besar. Pada saat kekuatan militer
menurun, khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak
ke Baghdad.

K. Masa Disintegrasi (1000-1250 M)


Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan
peradaban dan kebudayaan Islam dari pada persoalan politik itu,
provinsi-provinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman
penguasa

Bani

Abbas,

dengan

berbagai

cara

di

antaranya

pemberontakan yang dilakukan oleh pemimpin lokal dan mereka


berhasil memperoleh kemerdekaan penuh.
Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya sudah mulai
terjadi di akhir zaman Bani Umayyah. Akan tetapi berbicara tentang

politik Islam dalam lintasan sejarah, akan terlihat perbedaan antara


pemerintahan Bani Umayyah dengan pemerintahan Bani Abbas.
Wilayah kekuasaan Bani Umayyah, mulai dari awal berdirinya
sampai masa keruntuhannya, sejajar dengan batas-batas wilayah
kekuasaan Islam. Hal ini tidak seluruhnya benar untuk diterapkan
pada pemerintahan Bani Abbas. Kekuasaan dinasti ini tidak pernah
diakui

di Spanyol dan

bersifat

seluruh Afrika

sebentar-sebentar

dan

Utara,

kebanyakan

kecuali Mesir yang


bersifat

nominal.

Bahkan dalam kenyataannya, banyak daerah tidak dikuasai khalifah.


Secara riil, daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaan gubernurgubernur provinsi bersangkutan. Hubungannya dengan khilafah
ditandai dengan pembayaran pajak.
Ada kemungkinan bahwa para khalifah Abbasiyah sudah cukup puas
dengan pengakuan nominal dari provinsi-provinsi tertentu, dengan
pembayaran upeti itu. Alasannya adalah:
1. Mungkin para khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka
tunduk kepadanya,
2.

Penguasa

Bani

Abbas

lebih

menitik

beratkan

pembinaan

peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi.


Akibat dari kebijaksanaan yang lebih menekankan pembinaan
peradaban dan kebudayaan Islam daripada persoalan politik itu,
provinsi-provinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman
penguasa Bani Abbas. Ini bisa terjadi dalam salah satu dari dua
cara:
1.Seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan
berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti daulah Bani
Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko.

2.Seseorang

yang

kedudukannya

ditunjuk

menjadi

semakin

gubernur

bertambah

oleh khalifah,

kuat,

seperti

daulahAghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyyah di Khurasan.

Kecuali

Bani Umayyah di Spanyol dan Bani Idrisiyyah di Marokko, provinsiprovinsi itu pada mulanya tetap patuh membayar upeti selama
mereka

menyaksikan

Baghdad

stabil

dan

khalifah

mampu

mengatasi pergolakan-pergolakan yang muncul. Namun pada saat


wibawa khalifah sudah memudar mereka melepaskan diri dari
kekuasaan Baghdad. Mereka bukan saja menggerogoti kekuasaan
khalifah, tetapi beberapa di antaranya bahkan berusaha menguasai
khalifah itu sendiri.
Menurut Ibnu Khaldun, sebenarnya keruntuhan kekuasaan
Bani Abbas mulai terlihat sejak awal abad kesembilan. Fenomena ini
mungkin bersamaan dengan datangnya pemimpin-pemimpin yang
memiliki

kekuatan

membuat

mereka

militer

di

benar-benar

Abbasiyah waktu itu

provinsi-provinsi
independen.

tertentu

Kekuatan

mulai mengalami kemunduran.

yang
militer

Sebagai

gantinya, para penguasa Abbasiyah mempekerjakan orang-orang


profesional di bidang kemiliteran, khususnya tentara Turki dengan
sistem perbudakan baru seperti diuraikan di atas. Pengangkatan
anggota militer Turki ini, dalam perkembangan selanjutnya teryata
menjadi ancaman besar terhadap kekuasaan khalifah. Apalagi pada
periode pertama pemerintahan dinasti Abbasiyah, sudah muncul
fanatisme

kebangsaan

berupa

gerakan syu'u

arabiyah

(kebangsaan/anti Arab).
Gerakan inilah yang banyak memberikan inspirasi terhadap
gerakan

politik,

di

samping

persoalan-persoalan

keagamaan.

Nampaknya, para khalifah tidak sadar akan bahaya politik dari


fanatisme

kebangsaan

dan

aliran

keagamaan

itu,

sehingga

meskipun dirasakan dalam hampir semua segi kehidupan, seperti

dalam

kesusasteraan

dan

karya-karya

ilmiah,

mereka

tidak

bersungguh-sungguh menghapuskan fanatisme tersebut, bahkan


ada di antara mereka yang justru melibatkan diri dalam konflik
kebangsaan dan keagamaan itu.
Masa disintegrasi ini terjadi setelah pemerintahan periode
pertama Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya, pada masa
berikutnya pemerintahan dinasti ini mulai menurun, terutama di
bidang politik. Dimana salah satu sebabnya adalah kecenderungan
penguasa untuk hidup mewah dan kelemahan khalifah dalam
memimpin roda pemerintahan.
Berakhirnya

kekuasaan Dinasti

Seljuk atas Baghdad atau

khilafah Abbasiyah merupakan awal dari periode kelima. Pada


periode

ini,

khalifah

Abbasiyah

tidak

lagi

berada

di

bawah

kekuasaan suatu dinasti tertentu, walaupun banyak sekali dinasti


Islam berdiri. Ada di antaranya yang cukup besar, namun yang
terbanyak adalah dinasti kecil. Para khalifah Abbasiyah, sudah
merdeka dan berkuasa kembali, tetapi hanya di Baghdad dan
sekitarnya.
menunjukkan

Wilayah

kekuasaan

kelemahan

khalifah

politiknya.

tentara Mongol dan Tartar menyerang

yang

Pada

Baghdad.

sempit
masa

Baghdad

ini

inilah
dapat

direbut dan dihancur luluhkan tanpa perlawanan yang berarti.


Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini awal babak
baru dalam sejarah Islam, yang disebut masa pertengahan.
Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah,
masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. Namun, faktorfaktor penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba.
Benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama, hanya karena
khalifah pada periode ini sangat kuat, benih-benih itu tidak sempat
berkembang. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa

apabila khalifah kuat, para menteri cenderung berperan sebagai


kepala pegawai sipil, tetapi jika khalifah lemah, mereka akan
berkuasa mengatur roda pemerintahan. Di samping kelemahan
khalifah, banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah
menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling berkaitan
satu sama lain. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
L. Persaingan antar Bangsa
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu
dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatar belakangi oleh
persamaan

nasib

Umayyah berkuasa.
khilafah

kedua

golongan

Keduanya

Abbasiyah

berdiri,

itu

sama-sama
dinasti

pada

masa Bani

tertindas.

Bani

Abbas

Setelah
tetap

mempertahankan persekutuan itu. Menurut Ibnu Khaldun, ada dua


sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia daripada
orang-orang Arab.
1.Sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah. Pada
masa itu mereka merupakan warga kelas satu.
2.Orang-orang

Arab

sendiri

terpecah

belah

dengan

adanya ashabiyah (kesukuan). Dengan demikian, khilafah Abbasiyah


tidak ditegakkan di atas ashabiyah tradisional.
Meskipun demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas.
Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari
Persia pula. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa darah
yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan
mereka menganggap rendah bangsa non-Arab ('ajam).
Selain

itu,

wilayah

kekuasaan

Abbasiyah

pada

periode

pertama sangat luas, meliputi berbagai bangsa yang berbeda,

seperti Maroko, Mesir, Syria, Irak, Persia, Turki,

dan India.

Mereka

disatukan dengan bangsa Semit. Kecuali Islam, pada waktu itu tidak
ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacammacam tersebut dengan kuat. Akibatnya, di samping fanatisme
kearaban,

muncul

juga

fanatisme

bangsa-bangsa

lain

yang

melahirkan gerakan syu'ubiyah.


Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang
oleh penguasa. Sementara itu, para khalifah menjalankan sistem
perbudakan baru. Budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan
pegawai dan tentara. Mereka diberi nasab dinasti dan mendapat
gaji. Oleh Bani Abbas, mereka dianggap sebagai hamba. Sistem
perbudakan ini telah mempertinggi pengaruh bangsa Persia dan
Turki. Karena jumlah dan kekuatan mereka yang besar, mereka
merasa bahwa negara adalah milik mereka; mereka mempunyai
kekuasaan

atas

Kecenderungan

rakyat

berdasarkan

masing-masing

bangsa

kekuasaan
untuk

khalifah.

mendominasi

kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyah berdiri.


Akan tetapi, karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang
mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat
terjaga. Setelah al-Mutawakkil, seorang khalifah yang lemah, naik
takhta, dominasi tentara Turki tak terbendung lagi. Sejak itu
kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan
berada di tangan orang-orang Turki. Posisi ini kemudian direbut
oleh Bani

Buwaih,

bangsa Persia,

pada

periode

ketiga,

dan

selanjutnya beralih kepada Dinasti Seljuk pada periode keempat,


sebagaimana diuraikan terdahulu.
Munculnya

dinasti-dinasti

yang

lahir

dan

ada

yang

melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khilafah


Abbasiyah, di antaranya adalah:

Yang berbangsa Persia


1. Bani Thahiriyyah di Khurasan, (205-259 H/820-872 M).
2. Bani Shafariyah di Fars, (254-290 H/868-901 M).
3. Bani Samaniyah di Transoxania, (261-389 H/873-998 M).
4. Bani Sajiyyah di Azerbaijan, (266-318 H/878-930 M).
5. Bani Buwaih, bahkan menguasai Baghdad, (320-447 H/ 9321055 M).
Yang berbangsa Turki
1. Thuluniyah di Mesir, (254-292 H/837-903 M).
2. Ikhsyidiyah di Turkistan, (320-560 H/932-1163 M).
3. Ghaznawiyah di Afganistan, (351-585 H/962-1189 M).
4. Bani Seljuk/Salajiqah dan cabang-cabangnya:
a. Seljuk besar, atau Seljuk Agung, didirikan oleh Rukn al-Din
Abu Thalib Tuqhril Bek ibn Mikail ibn Seljuk ibn Tuqaq. Seljuk
ini

menguasai Baghdad dan

memerintah

selama

sekitar 93 tahun (429-522H/1037-1127 M). Dan Sulthan Alib


Arselan Rahimahullah memenangkan Perang Salib ke I atas
kaisar Romanus IV dan berhasil menawannya.
b. Seljuk Kinnan di Kirman, (433-583 H/1040-1187 M).
c. Seljuk Syria atau Syam di Syria, (487-511 H/1094-1117 M).
d. Seljuk Irak di Irak dan Kurdistan, (511-590 H/1117-1194 M).
e. Seljuk

Ruum atau Asia

kecil di Asia

Anatolia), (470-700 H/1077-1299 M).

tengah

(Jazirah

Yang berbangsa Kurdi


1.al-Barzuqani, (348-406 H/959-1015 M).
2.Abu 'Ali, (380-489 H/990-1095 M).
3.al-Ayyubiyyah,

(564-648

Sulthan Shalahuddin

H/1167-1250

M),

al-ayyubi setelah

didirikan

keberhasilannya

memenangkan Perang Salib periode ke III.

Yang berbangsa Arab


1.Idrisiyyah di Maghrib, (172-375 H/788-985 M).
2.Aghlabiyyah di Tunisia (184-289 H/800-900 M).
3.Dulafiyah di Kurdistan, (210-285 H/825-898 M).
4.Alawiyah di Thabaristan, (250-316 H/864-928 M).
5.Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil, (317-394 H/929- 1002 M).
6.Mazyadiyyah di Hillah, (403-545 H/1011-1150 M).
7.Ukailiyyah di Maushil, (386-489 H/996-1 095 M).
8.Mirdasiyyah di Aleppo, (414-472 H/1023-1079 M).

Yang mengaku dirinya sebagai khilafah


1.Umayyah di Spanyol.
2.Fatimiyah di Mesir.

oleh

Dari latar belakang dinasti-dinasti itu, nampak jelas adanya


persaingan antarbangsa, terutama antara Arab, Persia danTurki. Di
samping latar belakang kebangsaan, dinasti-dinasti itu juga dilatar
belakangi

paham

keagamaan,

ada

yang

berlatar

belakang Syi'ah maupun Sunni.

M. Kemerosotan Ekonomi
Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang
ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Pada
periode

pertama,

pemerintahan

Bani

Abbas

merupakan

pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang
keluar, sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Pertambahan dana
yang besar diperoleh antara lain dari al-Kharaj, semacam pajak hasil
bumi.
Setelah khilafah memasuki periode kemunduran, pendapatan
negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar.
Menurunnya

pendapatan

negara

itu

disebabkan

oleh

makin

menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan


yang mengganggu perekonomian rakyat. diperingannya pajak dan
banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak
lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara
lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin
mewah. jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat
melakukan korupsi. Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan
perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi
yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua,
faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.

N. Munculnya aliran-aliran sesat dan fanatisme kesukuan


Fanatisme
kebangsaan.
tercapai,

keagamaan

Karena

berkaitan

cita-cita

kekecewaan

erat

dengan

orang Persia tidak

mendorong

persoalan

sepenuhnya

sebagian

mereka

mempropagandakan
ajaran Manuisme, Zoroasterisme danMazdakisme.

Munculnya

gerakan yang dikenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa


keimanan

para

memberantasnya,

khalifah. Al-Mansur berusaha


bahkan Al-Mahdi merasa

perlu

keras
mendirikan

jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan orang-orang Zindiq dan


melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bid'ah. Akan tetapi,
semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. Konflik antara
kaum beriman dengan golongan Zindiq berlanjut mulai dari bentuk
yang sangat sederhana seperti polemik tentang ajaran, sampai
kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah di kedua belah
pihak.

Gerakan al-Afsyin dan Qaramithah adalah

contoh

konflik

bersenjata itu.
Pada saat gerakan ini mulai tersudut, pendukungnya banyak
berlindung di balik ajaran Syi'ah, sehingga banyak aliran Syi'ah yang
dipandang ghulat (ekstrim)

dan

dianggap

menyimpang

oleh

penganut Syi'ah sendiri. Aliran Syi'ah memang dikenal sebagai


aliran

politik

dalam Islam yang

berhadapan

dengan

paham Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang


kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Al-Mutawakkil, misalnya,
memerintahkan agar makam Husein Ibn Ali di Karballa dihancurkan.
Namun

anaknya, al-Muntashir (861-862

memperkenankan

orang

Syi'ah

M.),

"menziarahi"

kembali

makam

Husein

tersebut. Syi'ah pernah berkuasa di dalam khilafah Abbasiyah


melalui

Bani

Buwaih

lebih

dari

seratus

tahun.Dinasti

Idrisiyah di Marokko dan

khilafah Fathimiyah di Mesir adalah

dua

dinasti Syi'ah yang memerdekakan diri dariBaghdad yang Sunni.


Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik
antara muslim dan zindiq atau Ahlussunnah dengan

Syi'ah

saja,

tetapi juga antar aliran dalam Islam. Mu'tazilah yang cenderung


rasional

dituduh

sebagai

pembuat bid'ah oleh

golongan salafy.

Perselisihan antara dua golongan ini dipertajam oleh al-Ma'mun,


khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah (813-833 M), dengan menjadikan
Mu'tazilah

sebagai

mazhab

resmi

negara

dan

melakukan mihnah.Padamasa al-Mutawakkil(847-861

M),

aliran Mu'tazilah dibatalkan sebagai aliran negara dan golongan


Sunni

kembali

naik

daun.

Tidak

tolerannya

pengikut Hanbali terhadap Mu'tazilah yang rasional dipandang oleh


tokoh-tokoh ahli filsafat telah menyempitkan horizon intelektual
padahal para salaf telah berusaha untuk mengembalikan ajaran
Islam secara murni sesuai dengan yang dibawa oleh Rasulullah.
Aliran Mu'tazilah bangkit kembali pada masa Bani Buwaih.
Namun pada masa Dinasti Seljuk yang menganut paham Sunni,
penyingkiran golongan Mu'tazilah mulai dilakukan secara sistematis.
Dengan didukung penguasa aliran Asy'ariyah tumbuh subur dan
berjaya.

Pikiran-pikiran al-Ghazali yang

menjadi

ciri

tersebut

mempunyai

pengembangan
sekarang.

utama

mendukung

paham Ahlussunnah.
efek

kreativitas

yang

tidak

intelektual

aliran

ini

Pemikiran-pemikiran
menguntungkan

Islam

konon

bagi

sampai

O. Ancaman dari Luar


Apa yang disebutkan di atas adalah faktor-faktor internal. Di
samping itu, ada pula faktor-faktor eksternal yang menyebabkan
khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur.
1.Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode
dan menelan banyak korban.
2.Serangan

tentara Mongol ke

wilayah

kekuasaan

Islam.

Sebagaimana telah disebutkan, orang-orang Kristen Eropaterpanggil


untuk

ikut

berperang

setelah Paus

Urbanus

II (1088-1099

M)

mengeluarkan fatwanya. Perang Salib itu juga membakar semangat


perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan
Islam.

Namun,

di

antara

komunitas-komunitas Kristen

Timur,

hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan Perang


Salib dan melibatkan diri dalam tentara Salib. Pengaruh perang salib
juga

terlihat

bahwa Hulagu

dalam

penyerbuan

Khan,

membenci Islam karena

tentara

panglima
ia

orang Budha dan Kristen

banyak
Nestorian.

tentara

Mongol.

Disebutkan

Mongol,

dipengaruhi

oleh

Gereja-gereja

sangat
orangKristen

berasosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti Islam itu dan


diperkeras di kantong-kantong ahlul-kitab. Tentara Mongol, setelah
menghancur

leburkan

pusat-pusat

Islam,

ikut

memperbaiki Yerusalem.

Perang Salib
Perang Salib ini terjadi pada tahun 1095 M, saat Paus Urbanus
II berseru kepada umat Kristen di Eropa untuk melakukan perang
suci, untuk memperoleh kembali keleluasaan berziarah di Baitul

Maqdis yang dikuasai oleh Penguasa Seljuk, serta menghambat


pengaruh dan invasi dari tentara Muslim atas wilayah Kristen.
Sebagaimana

sebelumhnya

Arselan Rahimahullah tahun


berkekuatan

20.000[1]

tentara

464

30.000

H
[2]

(1071

prajurit,

M),

dalam

Sulthan Alp
yang

hanya

peristiwa

ini

berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 40.000[2]


70.000[3],

terdiri

dari

tentara Romawi, Ghuz, al-Akraj, al-

Hajr, Perancis dan Armenia, peristiwa ini dikenal dengan peristiwa


Manzikert.
Walaupun umat Islam berhasil mempertahankan daerahdaerahnya dari tentara Salib, namun kerugian yang mereka derita
banyak sekali, karena peperangan itu terjadi di wilayahnya.
Kerugian-kerugian ini mengakibatkan kekuatan politik umat Islam
menjadi lemah. Dalam kondisi demikian mereka bukan menjadi
bersatu, tetapi malah terpecah belah. Banyak daulah kecil yang
memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad.

Serangan Bangsa Mongol dan Jatuhnya Baghdad


Pada tahun 565 H/1258 M, tentara Mongol yang berkekuatan
sekitar 200.000 orang tiba di salah satu pintu Baghdad. Khalifah AlMusta'shim, penguasa terakhir Bani Abbas di Baghdad (1243 1258), betul-betul tidak berdaya dan tidak mampu membendung
"topan" tentara Hulagu Khan.
Pada saat yang kritis tersebut, wazir khilafah Abbasiyah, Ibn
Alqami ingin mengambil kesempatan dengan menipu khalifah. la
mengatakan kepada khalifah, "Saya telah menemui mereka untuk
perjanjian

damai.

Hulagu

Khan

ingin

mengawinkan

anak

perempuannya dengan Abu Bakr Ibn Mu'tashim, putera khalifah.


Dengan demikian, Hulagu Khan akan menjamin posisimu. la tidak

menginginkan sesuatu kecuali kepatuhan, sebagaimana kakekkakekmu terhadap sulthan-sulthan Seljuk".


Khalifah menerima usul itu, la keluar bersama beberapa orang
pengikut dengan membawa mutiara, permata dan hadiah-hadiah
berharga lainnya untuk diserahkan kepada Hulagu Khan. Hadiahhadiah

itu

dibagi-bagikan

Hulagu

kepada

para

panglimanya.

Keberangkatan khalifah disusul oleh para pembesar istana yang


terdiri dari ahli fikih dan orang-orang terpandang. Tetapi, sambutan
Hulagu Khan sungguh di luar dugaan khalifah. Apa yang dikatakan
wazirnya temyata tidak benar. Mereka semua, termasuk wazir
sendiri, dibunuh dengan leher dipancung secara bergiliran.
Dengan pembunuhan yang kejam ini berakhirlah kekuasaan
Abbasiyah di Baghdad. Kota Baghdad sendiri dihancurkan rata
dengan tanah, sebagaimana kota-kota lain yang dilalui tentara
Mongol tersebut. Walaupun sudah dihancurkan, Hulagu Khan
memantapkan

kekuasaannya

di

Baghdad

selama

dua

tahun,

sebelum melanjutkan gerakan ke Syria dan Mesir.


Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan
bangsa Mongol bukan saja mengakhiri kekuasaan khilafah Bani
Abbasiyah di

sana,

tetapi

juga

merupakan

awal

dari

masa

kemunduran politik dan peradaban Islam, karena Bagdad sebagai


pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan
khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan
oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulaghu Khan tersebut.

D. simpulan
Daulah Abbasiyah merupakan lanjutan dari pemerintahan Daulah
Umayyah. Dinamakan Daulah Abbasiyah karena para pendirinya
adalah keturunan Abbas, paman Nabi. Daulah Abbasiyah didirikan
oleh Abdullah as-Safah. Kekuasaannya berlansung dari tahun 7501258 M. Di dalam Daulah Bani Abbasiyah terdapat ciri-ciri yang
menonjol yang tidak terdapat di zaman bani Umayyah, antara lain :
1. Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad, pemerintahan Bani
Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab. Sedangkan Dinasti Bani
Umayyah sangat berorientasi kepada Arab.
2. Dalam penyelenggaraan negara, pada masa bani Abbas ada
jabatan Wazir, yang membawahi kepala-kepala departemen. Jabatan
ini tidak ada di dalam pemerintahan Bani Umayyah.
3. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan
Bani

Abbas.

profesional.

Sebelumnya

belum

ada

tentara

Khusus

yang