Anda di halaman 1dari 32

Laporan Tutorial

Blok 12
Perdarahan Pervaginam
Tutor: dr.Nira

Disusun oleh :
1. Adisti Irda
2. Agri Shafrion
3. Billy Gustomo
4. Devita Diatri
5. Fransisca Aprilia
6. Miftakhun Nissa
7. Radita Dwihaning
8. Rangga Patria
9. Tajudin Rahmat Surya
10. Tuti Hidayati

(H2A011002)
(H2A011004)
(H2A011012)
H2A011015)
(H2A011022)
(H2A011029)
(H2A011035)
H2A011036)
(H2A011044)
(H2A011045)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG 2013
Skenario 2 Perdarahan Per-Vaginam

Seorang wanita usia 35 tahun G6P4A1 datang dengan perdarahan dari vagina berupa gumpalan
darah yang berwarna kehitamana. Keluarga penjerita menjelaskan bahwa penderita tersebut
sedang hamil 3 bulan dan keguguran dengancara minum jamu, dengan alasan anak penderita
banyak (4 orang)dan masih kecil-kecil, sedangkan suami penderita baru di-PHK. Sebelumnya
penderita memakai KB suntik 3bulanan, tapi karena kesulitan ekonomi, maka sejak 9bulanan
yang lalu penderita tidak KB. Hasil pmx tekanan darah 80/60 mmHg.Pada pemeriksaan dalam
ditemukan jaringan mulut rahim.
Step 1 Klasifikasi Istilah
1. G6P4A1:
Gravida (hamil) : 6 kali, menunjukkan bahwa ibu sudah mengalami hamil anak ke

enam.
-Partus (melahirkan) : 4 kali, menunjukkan bahwa ibu sudah melahirkan empat

kali.
Abortus (keguguran) : 1 kali, menunjukkan bahwa ibu sudah pernah mengalami
keguguran satu kali.

2. Perdarahan
Suatu kejadian dimana terdapat pada yang putus/pecah (arteri, vena, kapiler akibat suatu
trauma/kelainan).
3. KB (Keluarga Berencana).
Suatu program yang dicanangkan pemerintah kepada masyarakat dalam upaya
pendewasaan

usia

perkawinan

(PUP),

pengaturan

kelahiran

dan

peningkatan

kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Salah satu kegiatannya adalah
melayani kebutuhan alat kontrasepsi.

Step 2 Permasalahan
1. Seorang wanita usia 35 tahun datang dengan perdarahan dari vagina yang berupa
gumpalan berwarna kehitaman.
2

2. Keluarga penderita menjelaskan bahwa penderita sedang hamil 3bulan dan digugurkan
dengan cara minum jamu.
3. Sebelumnya penderita menggunakan KB suntik 3bulan, 9bulan berhenti karena kesulitan
ekonomi.
4. Hasil pmx tekanan darah 80/60 mmHg. Pada pmx dalam ditemukan jaringan pada mulut
rahim.
Step 3 Pembahasan
1. Perdarahan dari vagina atau perdarahan pervaginam dapat disebabakan oleh beberapa hal.
Perdarahan pervaginam ringan atau Bloody Show, terjadi akibat pendarahan dan
pembukaan serviks disertai robeknya pembuluh-pembuluh vena halus.
Perdarahan juga dapat disebabakan karena robeknya sebagian plasenta yang melekat
didekat kanalis servicis (plasenta previa) atau juga dapat berasal dari robeknya plasenta
yang terletak ditempat lain dirongga uterus (solusia plasenta) selain itu juga perdarahan
kedalam desidua basalis dan nekrosis dijaringan dekat dengan tempat perdarahan. Ovum
menjadi terlepas dan hal ini memicu kontraksi uterus yang menyebabkan ekspulsi. Mola
karneosa adalah suatu ovum yang dikelilingi oleh kapsul tekuan darah kapsul memiliki
ketebalan bervariasi dengan vili kanonile yang telah berdegenerasi tersebar diantaranya.
Apabila kantong dibuka biasanya dijumpai janin kecil yang mengalami maserasi dan
dikelilingi oleh cairan.
Perdarahan yang berkaitan dengan kehamilan, sebagai berikut :

Perdarahan pada kehamilan muda :


Hamil 3bulan => hamil muda -> Trimester I
- Abortus
Penyebab abortus :
Kelainan ovum
Kelainan genitalia ibu
Gangguan sirkulasi plasenta
Antagonis rhesus

Abortus dibagi menjadi 2 golongan :


a. Abortus spontan
Yaitu abortus yang terjadi dengan tidak didahului factor-faktor mekanis.
Macamnya :
Abortus kompletus (keguguran lengkap)
Keluarnya semua bagian dari janin pada kehamilan sebelum 20 minggu.
3

Abortus inkompletus
Keluarnya sebagian dari organ janin (hasil konsepsi) pada kehamilan
sebelum 20 minggu, di mana sebagian organ janin lain masih tertinggal di

dalam rahim.
Abortus insipient
Terjadinya perdarahan dari rahim pada kehamilan kurang dari 20 minggu,
di mana janin masih di dalam rahim, serta diikuti dengan melebarnya leher

rahim (dengan dilatasi serviks).


Abortus imminens
Terjadinya perdarahan dari uterus (rahim) pada kehamilan kurang dari 20
minggu, di mana janin masih di dalam rahim, serta leher rahim belum

melebar (tanpa dilatasi serviks).


Missed abortion
Kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin mati tersebut
tidak dikeluarkan 8 minggu atau lebih. Dengan kata lain, missed abortion

adalah abortus iminens yang "bertahan" selama 8 minggu atau lebih.


Abortus habitualis
Abortus spontan (non-provokatus) yang telah terjadi 3 kali atau lebih

secara berturut-turut pada seorang wanita.


Abortus infeksius dan septic
Abortus provokatus yang disertai penyebaran kuman atau toksin ke dalam

peredaran darah atau peritoneum.


b. Abortus buatan / provokatus
Yaitu abortus yang disengaja dilakukan untuk menghilangkan kehamilan.
Macamnya :
Abortus provokatus medisinalis
Abortus provokatus kriminalis
Hamil ektopik
Mola hidatidosa (benigna)
2. Seperti penjelasan diatas, hamil muda (Trimester I) memiliki tingkat resiko tinggi
terhadap :
1. Perdarahan pervagina (Abortus, kehamilan mola, kehamilan)
2. Mual dan muntah
3. Bengkak pada wajah, kaki dan tangan
4. Sakit kepala hebat
5. Nyeri perut yang hebat, dan lain-lain

Jamu yang dipakai untuk mengugurkan kandungan memiliki efek yang berat pada janin.
Bahan-bahan yang biasanya terkandung dalam jamu tersebut adalah :

Kunyit => merupakan salah 1 bahan yang terdapat dalam jamu. Kunyit
meningkatakan resiko keguguran Karena ekstrak kunyit meiliki efek stimulan
pada kontraksi uterus dan berefek cibortivum.
Selain itu terdapat bahan lain pula yang dapat meningkatkan resiko Abortus :
Alkohol : konsumsi dalam jumlah / daur yang berlebihan merupakan zat yang

menyebabkan keguguran.
Kafein : kadar parayantin (suatu meta kafein) dalam darah ibu meningkatkan
resiko terjadinya Abortus pada wanita hamil.

3. Kontrasepsi suntik
KB suntik adalah cara mencegah terjadinya kehamilan dengan suntikan hormone, yaitu
hormone sintesis progesterone. Waktu pemberiannya ada 2 yaitu :
a. Suntikan per bulan, contoh : cyclofem
b. Suntikan per 3bulan, contoh : depoprovera, depogeston & depoprogestin.
Ada dua macam suntikan KB, yaitu :
a. Golongan progestin
DMPA (Depo Medroxy Progesterone Acerat) :Depo provera, Depo gestor,
Deprogestin =>tiap 12 minggu.
NET-EN (Norethin drone enanthat) = Noristerat => tiap 2 bulan.
b. Gol. Progestin + estrogen plopionat = Cyclo provera (cyClofem) => tiap bulan
Cara kerja :
Primer : - menghambat ovulasi
Kadar FSH dan LH menurun, tidak terjadi lonjakan LH.Respon kel.
Hipofisis terhadap gonadotropin releasing hormone eksogen tidak
berubah, sehingga memberi kesan proses terjadi hipotalamles daripada

kel.hipofisis.
Penggunaan DMPA, endometrium menjadi sangat tipis dan atopic dengan

kelenjar-kelenjar yang tidak aktif, stoma menjadi edematous.


Sekunder -> lender serviks menjadi kental dan edikit, sehingga merupakan barier
terhadap spermatozoa.
Membuat endrometrilem menjadi kurang baik untuk implantasi dari
ovum yang telah dibuahi
Kemungkinan mempengaruhi kecepatan transport ovum didalam tuba
Fillopi
5

Efeksitas : sangat efektif => 99,6%


Keuntungan
-Jangka panjang

Kekurangan
-berab badan naik

-Mencegah kehamilan ektopik

-ketidakteraturan

-Reaksi suntikan sangat cepat (< 24 jam)

perdarahan bercak.

masa

haid,

amenore,

-Tidak berpengaruh pada pemberian ASI -tidak melindungi terhadap penularan PMS
kecuali cyclosem
Kontra indikasi :
-

Kehamilan
Ca mammae
Ca tractus genitalis
Perdarahan abnormal uterus.

4. Tekanan darah 80/60 mmHg => Hipotensi


Selama dua trimester pertama kehamilan, volume darah ibu yang bersikulasi tinggi
karena menguatnya system rennin angiotensin. Estrogen plasenta meningkatkan produksi
angiotensinnya oleh hati. Estrogen bersama progwsteron juga meningkatkan produksi
enzim proteolitik rennin ginjal. Rennin pecah oleh angiotensin yang menghasilkan
angiotensin I dan II (AII). Hilangnya respon vaskuler perifer terhadap AII menyertai
peningkatan volume darah yang bersirkulasi. AII merupakan vasokontriktot poten dan
hilangnya respon AII akan menyebabkan penurunan tekanan darah ibu pada awal
trimester kedua dan akan meningkat kembali pada trimester ketiga.
Pada kasus tekanan darah ibu hipotensi trimester awal jadi termasuk normal.
Jaringan pada mulut rahim-> Abortus Incompletus (keguguran tidak lengkap). ->sedah
terjadi Abortus dengan mengeluarkan Jaringan tetapi sebagian masih berada di dalam
utenus (biasanya plasenta). Sering serviks tetap terbuka karena masih ada benda di dalam
yang dianggap corpus allienum. Maka uterus akan berusaha mengeluarkannnya dengan
mengadakan kontraksi.

Step 4 Skema

Normal tekanan darah ibu hamil

Abortus inkomplit

TD: 80/60 mmHg Ada jaringan parut di mulut rahi

Macam-macam KB

Hasil pemeriksaan

KB suntik 3 bulan

Wanita 35 tahun
G6P4A1

Perdarahan
pervaginam

Perdarahan
kehamilan muda
Vagina dimana?
(anatomi reproduksi
wanita)

DD:

Abortus
Kehamilan ektopik
Mola hidatidosa

Step 5 Sasaran Belajar


1. Anatomi alat reproduksi wanita
2. DD
- Abortus
- Mola hidatidoas
- Kehamilan Etopik
3. KB
4. Hipotensi pada kehamilan trimester paertama
Step 6 Belajar Mandiri
Step 7 Hasil Belajar Mandiri
1. Anatomi alat reproduksi wanita (6)
Terdiri alat/organ eksternal dan internal, sebagian besar terletak dalam rongga panggul.
Eksternal (sampai vagina) : fungsi kopulasi
Internal : fungsi ovulasi, fertilisasi ovum, transportasi blastocyst, implantasi,
pertumbuhan fetus, kelahiran.
Genitalia Eksterna

Vulva
Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi perineum), terdiri dari mons pubis,
labia mayora, labia minora, clitoris, hymen, vestibulum, orificium urethrae externum,
kelenjar-kelenjar pada dinding vagina.
Mons pubis / mons veneris
Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis.Pada masa pubertas daerah ini mulai
ditumbuhi rambut pubis.
Labia mayora
Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang, banyak mengandung
pleksus vena.Homolog embriologik dengan skrotum pada pria.Ligamentum rotundum
uteri berakhir pada batas atas labia mayora.Di bagian bawah perineum, labia mayora
menyatu (pada commisura posterior).
Labia minora
Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut.Banyak
terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf.
Clitoris
Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus
clitoridis yang tertanam di dalam dinding anterior vagina.Homolog embriologik dengan
penis pada pria.Terdapat juga reseptor androgen pada clitoris.Banyak pembuluh darah
dan ujung serabut saraf, sangat sensitif.
Vestibulum

Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet, batas lateral labia minora.Berasal
dari sinus urogenital.Terdapat 6 lubang/orificium, yaitu orificium urethrae externum,
introitus vaginae, ductus glandulae Bartholinii kanan-kiri dan duktus Skene kanankiri.Antara fourchet dan vagina terdapat fossa navicularis.
Introitus / orificium vagina
Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis bermukosa
yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan.Hymen normal terdapat lubang kecil
untuk aliran darah menstruasi, dapat berbentuk bulan sabit, bulat, oval, cribiformis,
septum atau fimbriae. Akibat coitus atau trauma lain, hymen dapat robek dan bentuk
lubang menjadi tidak beraturan dengan robekan (misalnya berbentuk fimbriae).
Bentuk
himen
postpartum
disebut

parous.

Corrunculae myrtiformis adalah sisa2 selaput dara yang robek yang tampak pada wanita
pernah melahirkan / para.Hymen yang abnormal, misalnya primer tidak berlubang
(hymen imperforata) menutup total lubang vagina, dapat menyebabkan darah menstruasi
terkumpul di rongga genitalia interna.
Vagina
Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi cervix uteri di bagian
kranial dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral. Daerah di sekitar cervix disebut
fornix, dibagi dalam 4 kuadran : fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateral kanan
dan kiri. Vagina memiliki dinding ventral dan dinding dorsal yang elastis.Dilapisi epitel
skuamosa berlapis, berubah mengikuti siklus haid.
Fungsi vagina : untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid, untuk jalan lahir dan
untuk kopulasi (persetubuhan).Bagian atas vagina terbentuk dari duktus Mulleri, bawah
dari sinus urogenitalis.Batas dalam secara klinis yaitu fornices anterior, posterior dan
lateralis di sekitar cervix uteri.Titik Grayenbergh (G-spot), merupakan titik daerah
sensorik di sekitar 1/3 anterior dinding vagina, sangat sensitif terhadap stimulasi
orgasmus vaginal.
Perineum
Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot diafragma pelvis
(m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis transversus
profunda, m.constrictor urethra).Perineal body adalah raphe median m.levator ani, antara
anus dan vagina.Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi)
untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah ruptur.

10

Genitalia Interna

Uterus
Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi peritoneum (serosa).
Selama kehamilan berfungsi sebagai tempat implatansi, retensi dan nutrisi konseptus.
Pada saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan serviks
uterus, isi konsepsi dikeluarkan.Terdiri dari corpus, fundus, cornu, isthmus dan serviks
uteri.
Serviks uteri
Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan / menembus dinding dalam
vagina) dan pars supravaginalis. Terdiri dari 3 komponen utama: otot polos, jalinan
jaringan ikat (kolagen dan glikosamin) dan elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina
11

yaitu portio cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium uteri externum (luar, arah
vagina) dilapisi epitel skuamokolumnar mukosa serviks, dan ostium uteri internum
(dalam, arah cavum).Sebelum melahirkan (nullipara/primigravida) lubang ostium
externum bulat kecil, setelah pernah/riwayat melahirkan (primipara/ multigravida)
berbentuk garis melintang.Posisi serviks mengarah ke kaudal-posterior, setinggi spina
ischiadica.Kelenjar mukosa serviks menghasilkan lendir getah serviks yang mengandung
glikoprotein kaya karbohidrat (musin) dan larutan berbagai garam, peptida dan
air.Ketebalan mukosa dan viskositas lendir serviks dipengaruhi siklus haid.
Corpus uteri
Terdiri dari : paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat pada ligamentum latum
uteri di intraabdomen, tengah lapisan muskular/miometrium berupa otot polos tiga lapis
(dari luar ke dalam arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam
lapisan endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh sesuai
siklus haid akibat pengaruh hormon-hormon ovarium. Posisi corpus intraabdomen
mendatar dengan fleksi ke anterior, fundus uteri berada di atas vesica urinaria.Proporsi
ukuran corpus terhadap isthmus dan serviks uterus bervariasi selama pertumbuhan dan
perkembangan wanita (gambar).
Ligamenta penyangga uterus
Ligamentum latum uteri, ligamentum rotundum uteri, ligamentum cardinale, ligamentum
ovarii, ligamentum sacrouterina propium, ligamentum infundibulopelvicum, ligamentum
vesicouterina, ligamentum rectouterina.
Vaskularisasi uterus
Terutama dari arteri uterina cabang arteri hypogastrica/illiaca interna, serta arteri ovarica
cabang aorta abdominalis.
Salping / Tuba Falopii
Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri.Sepasang tuba kiri-kanan,
panjang 8-14 cm, berfungsi sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai cavum
uteri.
Dinding tuba terdiri tiga lapisan : serosa, muskular (longitudinal dan sirkular) serta
mukosa dengan epitel bersilia.Terdiri dari pars interstitialis, pars isthmica, pars ampularis,

12

serta pars infundibulum dengan fimbria, dengan karakteristik silia dan ketebalan dinding
yang berbeda-beda pada setiap bagiannya (gambar).

Pars isthmica (proksimal/isthmus)Merupakan bagian dengan lumen tersempit, terdapat

sfingter uterotuba pengendali transfer gamet.


Pars ampularis (medial/ampula)
Tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah daerah ampula / infundibulum, dan pada

hamil ektopik (patologik) sering juga terjadi implantasi di dinding tuba bagian ini.
Pars infundibulum (distal)
Dilengkapi dengan fimbriae serta ostium tubae abdominale pada ujungnya, melekat
dengan permukaan ovarium.Fimbriae berfungsi menangkap ovum yang keluar saat
ovulasi dari permukaan ovarium, dan membawanya ke dalam tuba.
Mesosalping
Jaringan ikat penyangga tuba (seperti halnya mesenterium pada usus).
Ovarium
Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga peritoneum, sepasang kirikanan.Dilapisi mesovarium, sebagai jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan
saraf.Terdiri dari korteks dan medula.Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan
pematangan folikel menjadi ovum (dari sel epitel germinal primordial di lapisan terluar
epital ovarium di korteks), ovulasi (pengeluaran ovum), sintesis dan sekresi hormonhormon steroid (estrogen oleh teka interna folikel, progesteron oleh korpus luteum
pascaovulasi). Berhubungan dengan pars infundibulum tuba Falopii melalui perlekatan
fimbriae. Fimbriae menangkap ovum yang dilepaskan pada saat ovulasi.Ovarium
terfiksasi oleh ligamentum ovarii proprium, ligamentum infundibulopelvicum dan
jaringan ikat mesovarium.Vaskularisasi dari cabang aorta abdominalis inferior terhadap
arteri renalis.

13

2. Diagnosis Diferensial
- Abortus (1)(4)
1. Abortus kompletus
Keluarnya seluruh hasil konsepsi sehingga rongga rahim kosong.
Pada keadaan ini kuretasi tidak perlu dilakukan. Pada abortus kompletus, perdarahan
segera berkurang setelah isi rahim dikeluarkan dan selambat-lambatnya dalam 10 hari
perdarahan berhenti sama sekali karena dalam masa ini luka rahim telah sembuh dan
epitelisasi telah selesai. Serviks juga dengan segera menutup kembali. Kalau 10 hari
setelah abortus masih ada perdarahan juga, abortus inkompletus atau endometritis
pasca abortus harus dipikirkan (Sastrawinata et al., 2005).
2. Abortus inkomplitus
Hanya sebagian dari hasil konsepsi yang di keluarkan. Abortus inkompletus
didiagnosis apabila sebagian dari hasil konsepsi telah lahir atau teraba pada vagina,
tetapi sebagian tertinggal (biasanya jaringan plasenta). Perdarahan biasanya terus
berlangsung, banyak, dan membahayakan ibu. Sering serviks tetap terbuka karena
masih ada benda di dalam rahim yang dianggap sebagai benda asing
alienum).

(corpus

Oleh karena itu, uterus akan berusaha mengeluarkannya dengan

mengadakan kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri, namun tidak sehebat pada
abortus insipiens.
3. Abortus Insipiens
Keadaan perdarahan dari intrauteri yang terjadi dengan dilatasi serviks continue dan
progresif tetapi tanpa pengeluaran hasil konsepsi. Abortus insipiens didiagnosis
apabila pada wanita hamil ditemukan perdarahan banyak, kadang-kadang keluar
gumpalan darah yang disertai nyeri karena kontraksi rahim kuat dan ditemukan adanya
dilatasi serviks sehingga jari pemeriksa dapat masuk dan ketuban dapat teraba.
Kadang-kadang perdarahan dapat menyebabkan kematian bagi ibu dan jaringan yang
tertinggal dapat menyebabkan infeksi sehingga evakuasi harus segera dilakukan. Janin
14

biasanya sudah mati dan mempertahankan kehamilan pada keadaan ini merupakan
kontraindikasi (Sastrawinata et al., 2005).
4. Abortus Iminens (mengancam)
Keadaan dimana perdarahan berasal dari intrauteri denagn atau tanpa kolok uterus,
tanpa pengeluaran hasil konsepsi dan tanpa dilatasi serviks. Vagina bercak atau
perdarahan yang lebih berat umumnya terjadi selama kehamilan awal dan dapat
berlangsung selama beberapa hari atau minggu serta dapat mempengaruhi satu dari
empat atau lima wanita hamil. Secara keseluruhan, sekitar setengah dari kehamilan ini
akan berakhir dengan abortus (Cunningham et al., 2005). Abortus iminens didiagnosa
bila seseorang wanita hamil kurang daripada 20 minggu mengeluarkan darah sedikit
pada vagina. Perdarahan dapat berlanjut beberapa hari atau dapat berulang, dapat pula
disertai sedikit nyeri perut bawah atau nyeri punggung bawah seperti saat menstruasi.
Polip serviks, ulserasi vagina, karsinoma serviks, kehamilan ektopik, dan kelainan
trofoblast harus dibedakan dari abortus iminens karena dapat memberikan perdarahan
pada vagina. Pemeriksaan spekulum dapat membedakan polip, ulserasi vagina atau
karsinoma serviks, sedangkan kelainan lain membutuhkan pemeriksaan ultrasonografi
(Sastrawinata et al., 2005).
5. Abortus Habitualis (Recurrent abortion)
Anomali kromosom parental, gangguan trombofilik pada ibu hamil, dan kelainan
structural uterus merupakan penyebab langsung pada abortus habitualis (Jauniaux et
al., 2006). Menurut Mochtar (1998), abortus habitualis merupakan

abortus yang

terjadi tiga kali berturut-turut atau lebih. Etiologi abortus ini adalah kelainan dari
ovum atau spermatozoa, dimana sekiranya terjadi pembuahan, hasilnya adalah
patologis. Selain itu, disfungsi tiroid, kesalahan korpus luteum dan kesalahan plasenta
yaitu tidak sanggupnya plasenta menghasilkan progesterone sesudah korpus luteum
atrofis juga merupakan etiologi dari abortus habitualis.
6. Abortus Tertunda (Missed abortion)
Abortus tertunda adalah keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada dalam
rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. Pada abortus tertunda akan
dijimpai amenorea, yaitu perdarahan sedikit-sedikit yang berulang pada permulaannya,
serta selama observasi fundus tidak bertambah tinggi, malahan tambah rendah. Pada
pemeriksaan dalam, serviks tertutup dan ada darah sedikit (Mochtar, 1998).
7. Abortus Septik (Septic abortion)
15

Abortus septik adalah keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau
toksinnya ke dalam peredaran darah atau peritoneum. Hal ini sering ditemukan pada
abortus inkompletus atau abortus buatan, terutama yang kriminalis tanpa
memperhatikan syarat-syarat asepsis dan antisepsis. Antara bakteri yang dapat
menyebabkan abortus septik adalah seperti Escherichia coli, Enterobacter aerogenes,
Proteus vulgaris, Hemolytic streptococci dan Staphylococci (Mochtar, 1998; Dulay,
2010).
8. Abortus terapeutik
Adalah pengakhiran kehamilan sebelum saatnya janin mampu hidup dengan maksud
melindungi kesehatan ibu. Antara indikasi untuk melakukan abortus therapeutik adalah
apabila kelangsungan kehamilan dapat membahayakan nyawa wanita tersebut seperti
pada penyakit vaskular hipertensif tahap lanjut dan invasive karsinoma pada serviks.
Selain itu, abortus terapeutik juga boleh dilakukan pada kehamilan akibat perkosaan
atau akibat hubungan saudara (incest) dan sebagai pencegahan untuk kelahiran fetus
dengan deformitas fisik yang berat atau retardasi mental (Cunningham et al., 2005).
Kontraindikasi untuk melakukan abortus terapeutik adalah seperti kehamilan ektopik,
insufiensi adrenal, anemia, gangguan pembekuan darah dan penyakit kardiovaskular
(Trupin, 2002)
Menurut Sastrawinata dan kawan-kawan (2005), abortus terapeutik dapat dilakukan
dengan cara:
1. Kimiawi pemberian secara ekstrauterin atau intrauterin obat abortus, seperti:
prostaglandin, antiprogesteron, atau oksitosin.
2. Mekanis:
Pemasangan batang laminaria atau dilapan akan membuka serviks secara perlahan
dan tidak traumatis sebelum kemudian dilakukan evakuasi dengan kuret tajam atau

vakum.
Dilatasi serviks dilanjutkan dengan evakuasi, dipakai dilator Hegar dilanjutkan

dengan kuretasi.
Histerotomi / histerektomi.

Diagnosa Abortus

16

Menurut WHO (1994), setiap wanita pada usia reproduktif yang mengalami dua daripada tiga
gejala seperti di bawah harus dipikirkan kemungkinan terjadinya abortus:
1.
2.
3.

Perdarahan pada vagina.


Nyeri pada abdomen bawah.
Riwayat amenorea.

Ultrasonografi penting dalam mengidentifikasi status kehamilan dan memastikan bahwa suatu
kehamilan adalah intrauterin. Apabila ultrasonografi transvaginal menunjukkan sebuah rahim
kosong dan tingkat serum hCG kuantitatif lebih besar dari 1.800 mIU per mL (1.800 IU per L),
kehamilan ektopik harus dipikirkan. Ketika ultrasonografi transabdominal dilakukan, sebuah
rahim kosong harus menimbulkan kecurigaan kehamilan ektopik jika kadar hCG kuantitatif lebih
besar dari 3.500 mIU per mL (3.500 IU per L). Rahim yang ditemukan kosong pada pemeriksaan
USG dapat mengindikasikan suatu abortus kompletus, tetapi diagnosis tidak definitif sehingga
kehamilan ektopik disingkirkan (Griebel et al., 2005; Puscheck, 2010).
Menurut Sastrawinata dan kawan-kawan (2005), diagnosa abortus menurut gambaran klinis
adalah seperti berikut:
1. Abortus Iminens (Threatened abortion)

Anamnesis perdarahan sedikit dari jalan lahir dan nyeri perut tidak ada atau ringan.
Pemeriksaan dalam fluksus ada (sedikit), ostium uteri tertutup, dan besar uterus sesuai

dengan umur kehamilan.


Pemeriksaan penunjang hasil USG.

2. Abortus Insipiens (Inevitable abortion)

Anamnesis perdarahan dari jalan lahir disertai nyeri / kontraksi rahim.


Pemeriksaan dalam ostium terbuka, buah kehamilan masih dalam rahim, dan ketuban
utuh (mungkin menonjol).

3. Abortus Inkompletus atau abortus kompletus

Anamnesis perdarahan dari jalan lahir (biasanya banyak), nyeri / kontraksi rahim ada,

dan bila perdarahan banyak dapat terjadi syok.


Pemeriksaan dalam ostium uteri terbuka, teraba sisa jaringan buah kehamilan.
17

4. Abortus Tertunda (Missed abortion)

Anamnesis - perdarahan bisa ada atau tidak.


Pemeriksaan obstetri fundus uteri lebih kecil dari umur kehamilan dan bunyi jantung

janin tidak ada.


Pemeriksaan penunjang USG, laboratorium (Hb, trombosit, fibrinogen, waktu
perdarahan, waktu pembekuan dan waktu protrombin).

Diagnosa abortus habitualis (recurrent abortion) dan abortus septik (septic abortion) menurut
Mochtar (1998) adalah seperti berikut:
1. Abortus Habitualis (Recurrent abortion)

Histerosalfingografi untuk mengetahui ada tidaknya mioma uterus submukosa dan

anomali kongenital.
BMR dan kadar yodium darah diukur untuk mengetahui apakah ada atau tidak gangguan
glandula thyroidea.

2. Abortus Septik (Septic abortion)

Adanya abortus : amenore, perdarahan, keluar jaringan yang telah ditolong di luar rumah

sakit.
Pemeriksaan : kanalis servikalis terbuka, teraba jaringan, perdarahan dan sebagainya.
Tanda-tanda infeksi alat genital : demam, nadi cepat, perdarahan, nyeri tekan dan

leukositosis.
Pada abortus septik : kelihatan sakit berat, panas tinggi, menggigil, nadi kecil dan cepat,
tekanan darah turun sampai syok.

Penatalaksanaan Abortus
Pada abortus insipiens dan abortus inkompletus, bila ada tanda-tanda syok maka diatasi dulu
dengan pemberian cairan dan transfuse darah. Kemudian, jaringan dikeluarkan secepat mungkin
dengan metode digital dan kuretase. Setelah itu, beri obat-obat uterotonika dan antibiotika.

18

Pada keadaan abortus kompletus dimana seluruh hasil konsepsi dikeluarkan (desidua dan fetus),
sehingga rongga rahim kosong, terapi yang diberikan hanya uterotonika.
Untuk abortus tertunda, obat diberi dengan maksud agar terjadi his sehingga fetus dan desidua
dapat dikeluarkan, kalau tidak berhasil, dilatasi dan kuretase dilakukan. Histerotomia anterior
juga dapat dilakukan dan pada penderita, diberikan tonika dan antibiotika.
Pengobatan pada kelainan endometrium pada abortus habitualis lebih besar hasilnya jika
dilakukan sebelum ada konsepsi daripada sesudahnya. Merokok dan minum alkohol sebaiknya
dikurangi atau dihentikan. Pada serviks inkompeten, terapinya adalah operatif yaitu operasi
Shirodkar atau McDonald (Mochtar, 1998).
Abortus Provokatus
Abortus provokatus yang dikenal di Indonesia dengan istilah aborsi berasal dari bahasa latin
yang berarti pengguguran kandungan karena kesengajaan. Abortus provocatus merupakan salah
satu dari berbagai macam jenis abortus (Nainggolan, 2006).
Menurut Nainggolan (2006) dalam Kusmariyanto (2002), pengertian aborsi atau abortus
provokatus adalah penghentian atau pengeluaran hasil kehamilan dari rahim sebelum waktunya.
Dengan kata lain pengeluaran itu dimaksudkan bahwa keluarnya janin
campur

tangan

manusia,

baik

melalui

cara

mekanik atau

disengaja

dengan

obat. Abortus elektif atau

sukarela adalah pengakhiran kehamilan sebelum janin mampu hidup atas dasar permintaan
wanita, dan tidak karena kesehatan ibu yang terganggu atau penyakit pada janin (Pritchard et al.,
1991).

Mola hidatidosa (2)(5)


Definisi
Mola Hidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana seluruh villi korialisnya mengalami
perubahan hidrofobik.

19

Patologi
Sebagian dari villi berubah menjadi gelembung gelembung berisi cairan jernih merupakan
kista- kista kecil seperti anggur dan dapat mengisi seluruh cavum uteri. Secara histopatologic
kadang kadang ditemukan jaringan mola pada plasenta dengan bayi normal. Bias juga terjadi
kehamilan ganda mola adalah : satu jenis tumbuh dan yang satu lagi menjadi mola hidatidosa.
Gelembung mola besarnya bervariasi, mulai dari yang kecil sampai yang berdiameter lebih dari 1
cm.
Mola hidatidosa terbagi menjadi:
1. Mola Hidatidosa Sempurna
Villi korionik berubah menjadi suatu massa vesikel vesikel jernih. Ukuran vesikel bervariasi
dari yang sulit dilihat, berdiameter sampai beberapa sentimeter dan sering berkelompok
kelompok menggantung pada tangkai kecil. Temuan Histologik ditandai oleh:

Degenerasi hidrofobik dan pembengkakan Stroma Vilus


Tidak adanya pembuluh darah di vilus yang membengkak
Proliferasi epitel tropoblas dengan derajat bervariasi
Tidak adanya janin dan amnion.

2. Mola Hidatidosa Parsial


Apabila perubahan hidatidosa bersifat fokal dan kurang berkembang, dan mungkin tampak
sebagai jaringan janin. Terjadi perkembangan hidatidosa yang berlangsung lambat pada sebagian
villi yang biasanya avaskular, sementara villi villi berpembuluh lainnya dengan sirkulasi janin
plasenta yang masih berfungsi tidak terkena.
Etiologi
Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui, faktor faktor yang dapat menyebabkan antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi


Terlambat dikeluarkan.
Imunoselektif dari tropoblast
Keadaan sosioekonomi yang rendah
Paritas tinggi
Kekurangan protein
Infeksi virus dan factor kromosom yang belum jelas.

Gejala klinis
20

1. Amenore dan tanda-tanda kehamilan


2. Perdarahan pervaginam dari bercak sampai perdarahan berat. Merupakan gejala utama
dari mola hidatidosa, sifat perdarahan bisa intermiten selama berapa minggu sampai
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

beberapa bulan sehingga dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.


Uterus sering membesar lebih cepat dari biasanya tidak sesuai dengan usia kehamilan.
Tidak dirasakan tanda tanda adanya gerakan janin maupun ballotement
Hiperemesis,
Pasien dapat mengalami mual dan muntah cuku berat.
Preklampsi dan eklampsi sebelum minggu ke 24
Keluar jaringan mola seperti buah anggur, yang merupakan diagnosa pasti
Tirotoksikosis

Diagnosis
1. Klinis
a. Berdasarkan anamnesis
b. Pemeriksaan fisik
Inspeksi : muka dan kadang-kadang badan kelihatan kekuningan yang disebut muka
mola (mola face)
Palpasi :
- Uterus membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan, teraba lembek
- Tidak teraba bagian-bagian janin dan ballotement dan gerakan janin.
Auskultasi : tidak terdengar bunyi denyut jantung janin
Pemeriksaan dalam :
- Memastikan besarnya uterus
- Uterus terasa lembek
- Terdapat perdarahan dalam kanalis servikalis
2. Laboratorium
Pengukuran kadar Hormon Karionik Ganadotropin (HCG) yang tinggi maka uji
biologik dan imunologik (Galli Mainini dan Plano test) akan positif setelah titrasi
(pengeceran) : Galli Mainini 1/300 (+) maka suspek molahidatidosa.
3. Radiologik
- Plain foto abdomen-pelvis : tidak ditemukan tulang janin
21

- USG : ditemukan gambaran snow strom atau gambaran seperti badai salju.
4. Uji Sonde (cara Acosta-sison)
Tidak rutin dikerjakan. Biasanya dilakukan sebagai tindakan awal curretage.
5. Histopatologik
Dari gelembung-gelembung yang keluar, dikirim ke Lab. Patologi Anatomi
Penatalaksanaan

Pada wanita dengan usia yang lanjut dan sudah mempunyai anak yang diinginkan

dilakukan = Histerektomi.

Pada wanita yang masih ingin anak, maka setelah diagnosis mola dipastikan
dilakukan pengeluaran mola dengan kerokan isapan ( Suction Curettage) disertai dengan
pemberian infus oksitosin intravena.

Sesudah itu dilakukan kerokan dengan kuret tumpul untuk mengeluarkan sisa-sisa
konseptus, kerokan perlu dilakukan hati-hati berhubung dengan bahaya perforasi.

7-10 hari sesudah itu dilakukan kerokan ulang, dengan kuret tajam, agar ada
kepastian uterus benar-benar kosong, dan memeriksa tingkat proliferasi sisa-sisa
trofoblast yang dapat ditemukan.

Makin tinggi tingkat itu hati-hati atau waspada terhadap keganasan.


Sebelum mola dikeluarkan sebaiknya dilakukan Roentgen pada paru-paru untuk

menentukan ada tidaknya metastasis ditempat tersebut.


Setelah mola dikeluarkan atau dilahirkan, dapat ditemukan kedua ovarium membesar
menjadi kista teka-lutein. Kista-kista ini yang timbul karena pengaruh hormonal, dan
kemudian mengecil sendiri.
-

Kehamilan Etopik (4)(5)

Definisi
Pada kehamilan normal, telur yang sudah dibuahi akan melalui tuba falopi (saluran tuba) menuju
ke uterus (rahim). Telur tersebut akan berimplantasi (melekat) pada rahim dan mulai tumbuh
menjadi janin. Pada kehamilan ektopik, telur yang sudah dibuahi berimplantasi dan tumbuh di
tempat yang tidak semestinya. Kehamilan ektopik paling sering terjadi di daerah tuba falopi

22

(98%), meskipun begitu kehamilan ektopik juga dapat terjadi di ovarium (indung telur), rongga
abdomen (perut), atau serviks (leher rahim).
Penyebab
Ada berbagai macam faktor yang dapat menyebabkan kehamilan ektopik. kehamilan ektopik
dapat terjadi pada wanita tanpa faktor risiko. Faktor risiko kehamilan ektopik adalah :
1. Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
Risiko paling besar untuk kehamilan ektopik. Angka kekambuhan sebesar 15% setelah
kehamilan ektopik pertama dan meningkat sebanyak 30% setelah kehamilan ektopik
kedua
2. Penggunaan kontrasepsi spiral dan pil progesteron Kehamilan ektopik meningkat
apabila ketika hamil, masih menggunakan kontrasepsi spiral (3 4%).
3. Pil yang mengandung hormon progesteron juga meningkatkan kehamilan ektopik
karena pil progesteron dapat mengganggu pergerakan sel rambut silia di saluran tuba
yang membawa sel telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi ke dalam rahim
4. Kerusakan dari saluran tuba Telur yang sudah dibuahi mengalami kesulitan melalui
saluran tersebut sehingga menyebabkan telur melekat dan tumbuh di dalam saluran
tuba. Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan gangguan saluran tuba
diantaranya adalah :
5. Penyakit Radang Panggul : menyebabkan perlekatan di dalam saluran tuba, gangguan
pergerakan sel rambut silia yang dapat terjadi karena infeksi kuman TBC, klamidia,
gonorea.
Tanda dan Gejala
Pada minggu-minggu awal, kehamilan ektopik memiliki tanda-tanda seperti kehamilan pada
umumnya, yaitu terlambat haid, mual dan muntah, mudah lelah, dan perabaan keras pada
payudara.
Tanda-tanda yang harus diperhatikan pada kehamilan ektopik adalah :
Nyeri hebat pada perut bagian bawah, nyeri tersebut dapat terasa tajam awalnya kemudian
perlahanlahan menyebar ke seluruh perut. Nyeri bertambah hebat bila bergerak
Perdarahan vagina (bervariasi, dapat berupa bercak atau banyak seperti menstruasi)
Apabila seorang wanita dengan kehamilan ektopik mengalami gejala diatas, maka dikatakan
bahwa wanita tersebut mengalami Kehamilan Ektopik Terganggu. Apabila anda merasa hamil
dan mengalami gejala-gejala seperti ini maka segera temui dokter anda. Hal ini sangat penting
23

karena kehamilan ektopik dapat mengancam nyawa apabila ruptur (pecah) dan menyebabkan
perdarahan di dalam.

3. KB (6)
1. AlatKontrasepsiDalamRahim(AKDR)
Alat kontrasepsi dalam rahim mempunyai beberapa tipe, antara lain Copper T380A, Nova
T,

dan

beberapa

AKDR

yang

diberi

hormon

(mirena,

Levo

Nova).

Kelebihan:
Angka perlindungannya cukup tinggi, yaitu dengan kegagalan 0,3-1 per 100
wanita tiap tahun.
Kekurangan:

Mengundang risiko infeksi radang panggul, perdarahan, dan kehamilan di luar

kandungan
Komplikasi perforasi (lubang) uterus.
Tidak memberi perlindungan terhadap penyakit kelamin dan hepatitis B maupun

HIV/AIDS.
2. KontrasepsiDenganMetodePerintang
Yang paling umum digunakan

adalah

kondom, diafragma, dan

spermisida.

a. Kondom
Kantong kecil yang terbuat dari karet ini bekerja dengan membungkus penis,

24

sehingga

sperma

yang

keluar

tetap

berada

dalam

kantong

tersebut.

Kelebihan:
Aman dipakai
Mudah didapat
Cukup efektif bila digunakan dengan benar.
Dapat mencegah penyebaran penyakit menular seksual dan hepatitis B
HIV/AIDS
Kekurangan:

Ada risiko robek. Oleh sebab itu, gunakan satu kondom hanya untuk satu kali
pakai. Kondom yang baik terasa licin dan basah. Jangan gunakan kondom
yang bagian dalamnya kering, yang terasa lengket di tangan, atau yang

merekat pada bungkus plastiknya.


Angka kegagalan tinggi, yaitu 3 - 15 per 100 wanita per tahun.
b. Diafragma
Berbentuk seperti mangkok ceper, terbuat dari karet. Cara penggunaannya
dimasukkan ke dalam vagina. Alat ini berkerja dengan cara menutupi mulut rahim,
sehingga sperma, meski masih masuk ke vagina, tak bisa meneruskan perjalanan ke
rahim.
Kelebihan:
Dapat dipakai berkali-kali.
Melindungi dari kehamilan dan penyakit menular seksual hepatitis B
HIV/AIDS
Kekurangan:
Angka kegagalan tinggi, yaitu 5 - 20 per 100 wanita per tahun.
Sulit dipasang.
c. Spermisida
Alat KB ini memiliki bentuk beragam. Ada foam aerosol (busa), tablet, krim, jeli, dan
spons. Dipakai dengan cara dioleskan ke dalam vagina sebelum berhubungan intim.
Spermisida mematikan sel-sel sperma sebelum sempat memasuki rahim.
Kelebihan:
Melindungi pemakainya dari penyakit menular seksual gonorrhea, klamida,
hepatitis B, HIV/AIDS
Tidak didapatkan efek samping sistemik/pada tubuh.
Kekurangan:
25

Angka kegagalan 10-25 dari 100 wanita per tahun.


Tidak memberi perlindungan terhadap hepatitis B, penyakit menular seksual,

seperti HIV/AIDS, klamidia, gonorrhea.


Bisa menimbulkan gatal-gatal atau lecet pada vagina.
Tidak terlalu ampuh bila hanya digunakan tanpa bantuan alat lain seperti

kondom atau diafragma.


3. MetodeKBHormonal
Kebanyakan kontrasepsi hormonal mengandung estrogen dan progesteron atau hanya
progesteron saja.
a. PilKBTerpadu
Umumnya mengandung hormon gestagen dan estrogen sintetik. Pil yang
dianjurkan adalah pil dosis rendah yang mengandung estrogen kurang dari atau
sebesar 35 mikrogram dan 1 miligram progesteron.
Kelebihan:
Mudah didapat
Kekurangan:

Harus diminum setiap hari.


Tidak semua wanita disarankan menggunakan pil, yaitu:
ibu menyusui,
perokok,
berusia 40 tahun ke atas,
memiliki problema kesehatan apa pun seperti kejang, TBC, kanker,

hipertensi, diabetes, hepatitis, jantung pernah stroke, dan lainnya.


Menimbulkan efek samping:
o terjadi pendarahan tidak teratur di luar masa haid.
o mual-mual
o sakit kepala
b. PilKBMini

Beda dengan pil KB terpadu, pil ini hanya mengandung gestagen saja.
Kelebihan:
Dapat digunakan untuk ibu menyusui
Mudah didapat
Kekurangan:

Memiliki efek samping yaitu:


26

o Pendarahan tidak teratur


o Haid tidak datang
o Terkadang muncul sakit kepala
c. Suntikan
Suntikan KB melindungi dari kehamilan sampai tiba waktunya disuntik kembali.
Efektivitasnya hampir sama dengan pil kombinasi dan melebihi pil mini maupun
AKDR. Kegagalan pada umumnya terjadi karena ketidakpatuhan terhadap jadwal
suntik atau teknik penyuntikan yang salah. Cara kerja suntikan KB salah satunya
yaitu

menyebabkan

pengentalan

kemampuan

mukus

serviks,

penetrasi

sehingga

menurunkan
sperma.

Yang perlu diketahui, jika kontrasepsi suntikan dihentikan harus menunggu 1


tahun atau lebih untuk bisa hamil kembali. Pemakai akan menerima suntikan
hormon setiap 1-3 bulan sekali, yaitu:
a) Suntikanprogestin
Suntikan yang hanya mengandung hormon gestagen saja. Contohnya, depo
provera dan depo noristerat.
Kelebihan:

Bisa digunakan untuk ibu menyusui atau wanita yang tidak boleh memakai
tambahan estrogen.

Kekurangan:

Memiliki efek samping:


Pendarahan tidak teratur
Haid tidak datang
Berat badan bertambah

b) Suntikanterpadu
Suntikan yang mengandung hormon gestagen dan estrogen, misalnya, depo
estrogen-progesteron

atau

cyklofem.

27

Kelebihan:
Tidak

mempengaruhi

siklus

haid

Kekurangan
Tidak bisa dipakai ibu menyusui
Sulit diperoleh
Relatif mahal
Tidak dianjurkan bagi wanita yang tidak disarankan minum pil KB
terpadu dan suntikan progestin.

d. Susuk
Dipakai dengan memasukkannya ke bawah permukan kulit sebelah dalam lengan.
Ada 2 jenis:

Norplant merupakan salah satu metode kontrasepsi berjangka waktu 5 tahun.


Efektivitas kontrasepsi yang terdiri dari 6 batang susuk ini sangat tinggi.
Angka kehamilan rata-rata pertahun hanya kurang dari 1 %.

Implanon: kontrasepsi yang terdiri atas satu batang susuk ini dapat
dipergunakan sedikitnya selama 3 tahun.

Kelebihan:

Sesudah dipasang alat ini akan mencegah kehamilan selama 5 tahun.

Bisa digunakan oleh wanita yang mengalami masalah dengan hormon


estrogen.

Bisa digunakan oleh wanita yang menjalani pengobatan untuk kekejangan.

Walau dirancang 5 tahun, bisa dicopot sewaktu-waktu.

Kekurangan:

Susuk lebih gampang dipasang daripada dicopot. Jadi sebelum memakai


metode ini, pastikan pekerja kesehatan di klinik atau pos pelayanan KB sudah

28

terlatih dan terampil serta bersedia mencopot susuk seandainya tidak lagi
dikehendaki.

Susuk sebaiknya dihindari jika yang bersangkutan:

Pengidap kanker atau benjolan keras di payudara

Haidnya sudah terlambat datang

Mengalami perdarahan abnormal dari vagina

Penderita sakit jantung

Ingin hamil dalam beberapa tahun mendatang

e. MetodeKontrasepsiLaktasi
Metode ini hanya bisa diterapkan pada ibu menyusui yang benar-benar menyusui
secara eksklusif/terus-menerus.
Kelebihan:

Ekonomis.

Mengurangi perdarahan pasca melahirkan.

Memberikan nutrisi yang baik pada bayi.

Kekurangan:

Hanya melindungi pada 6 bulan pertama.

Angka kegagalan/kehamilan 6 per 100 wanita per tahun.

f. MetodeKontrasepsiMantap
Dikenal juga dengan sterilisasi, yaitu operasi pada saluran indung telur
(perempuan) atau saluran sperma (laki-laki) agar steril atau tak ada sel telur untuk
dibuahi maupun sel sperma untuk membuahi. Sterilisasi pada wanita disebut
dengan tubektomi sedangkan para pria dikenal dengan vasektomi.

Tubektomi
Kelebihan:
29

Cukup efektif dalam mencegah kehamilan 0,1/100 wanita per tahun.

Kekurangan:

Bersifat permanen

Tidak terlindung dari penyakit menular seksual

Vasektomi
Kelebihan:

Cukup efektif dalam mencegah kehamilan 0,3/100 wanita per tahun.

Kekurangan:

Bersifat permanen.

Tidak terlindung dari penyakit menular seksual.

4. Hipotensi pada kehamilan trimester pertama (3)


Selama dua trimester pertama kehamilan, volume darah ibu yang bersirkulasi mengingkat
sekitar 40%. Perubahan ini disebabkan oleh menguatnya sistem renin-angiotensin.
Estrogen plasenta meningkatkan produksi angiotensinogen oleh hati dan estrogen
bersama dengan progesteron meningkatkan enzim proteolitik renin oleh ginjal. Renin
memecah angiotensin untuk membentuk angiotensin I yang dikonversi menjadi
angiotensin II (AII) di dalam paru dan tempat lainnya. Peningkatan jumlah AII bekerja
pada zona glomerulosa kelenjar adrenal untuk meningkatkan produksi aldosteron.
Aldosteron merangsang penambahan volume melalui retensi natrium dan air. Kapasitas
pengangkut oksigen harus dipertahankan saat terjadinya peningkatan volume darah yang
bersirkulasi. Absorpsi besi meningkat untuk memenuhi kebutuhan akan peningkatan
hemoglobin selama terjadi penambahan volume.
Hilangnya respon vaskular perifer terhadap AII menyertai peningkatan volume darah
yang bersirkulasi. AII merupakan vasokonstriktor poten dan hilangnya respon AII
menyebabkan penurunan tekanan darah ibu selama awal trimester kedua. Hipotensi
relatif ini terlihat pada sebagian besar wanita. Walaupun terdapat peningkatan AII,
30

tekanan darah ibu perlahan akan meningkat seperti kadar sebelum kehamilan pada
trimester ketiga. Progesteron merangsang relaksasi otot plos secara keseluruhan sehingga
berperan pada perubahan tekanan darah ibu. Penurunan tekanan darah sekitar 10-15
mmHg.

Daftar Pustaka
1. Abdullah. M.N. dkk. Mola Hidatidosa. PEDOMAN DIAGNOSIS DAN TERAPI
LAB/UPF. KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN. RSUD DOKTER
SOETOMO SURABAYA. 1994.
2. Cuninngham. F.G. dkk. Mola Hidatidosa Penyakit Trofoblastik Gestasional Obstetri
Williams. Edisi 21. Vol 2. Penerbit Buku Kedokteran. EGG Jakarta. 2006.
3. Heffner & Schust.At a Glance Sistem Reproduksi Edisi Kedua.Jakarta: EMS.2005
4. Mansjoer, A. dkk. KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jilid I. Media Aesculapius. Jakarta.2001.
5. Martaadisoebrata. D, & Sumapraja, S. Penyakit Serta Kelainan Plasenta & Selaput Janin.
ILMU KEBIDANAN. Yayasan Bina pustaka SARWONO PRAWIROHARDJO.
Jakarta.2002.
31

6. Prawirohardjo,Sarwono.

Ilmu

Kebidanan.

Jakarta.

PT.Bina

Pustaka

Sarwono

Prawihardjo. 2009.

32