Anda di halaman 1dari 6

Media Baru, Media Sosial dan Ruang Publik bagi Masyarakat

oleh: Innas Rizky Afria


Media baru merupakan sebuah terminologi untuk menjelaskan konvergensi antara
teknologi komunikasi digital yang terkomputerisasi serta terhubung ke dalam jaringan.
Contoh dari media yang sangat merepresentasikan media baru adalah internet. Program
televisi, film, majalah, buku, surat kabar, dan jenis media cetak lain tidak termasuk media
baru. Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah
berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial , wiki, forum, dan
dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling
umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia (www.wikipedia.org).
Mediamorfosis sebagai Dampak Kemajuan Teknologi
Berbicara tentang teknologi media baru, tak bisa dilepaskan dari konteks globalisasi.
Globalisasi sebagai hasil perkembangan teknologi transportasi komunikasi dan informasi
memungkinkan interaksi antara setiap orang di dunia lebih cepat dari masa-masa sebelumnya.
Era internet telah menjadi sebuah fenomena revolusioner pasca industri. Ia telah mampu
membangun sebuah konektivitas yang masif, yang sebelumnya hampir tidak pernah dapat
dibayangkan. Situasi ini telah disinggung oleh Thomas Friedman (2006) dalam bukunya The
World Is Flat.
Kemajuan teknologi internet, yang puncaknya terjadi pada penemuan World Wide
Web (www), telah melahirkan sebuah dunia baru yang saling terkoneksi, dan seakan
menjadi satu kesatuan. Hal ini berubah menjadi sebuah medium berbagi yang efektif, di mana
setiap individu di seluruh dunia dapat berkomunikasi dan bertukar informasi satu sama lain
secara efisien. Siapapun di dunia ini, secara face to face, tanpa sekat bercanda dan bertegur
sapa kapan saja dan di mana saja. Oleh karena itu media baru yang berupa internet tersebut
dikatakan sebagai dunia tanpa batas. Kemunculan teknologi baru ini memiliki potensi untuk
menghubungkan orang secara efektif, teknologi bisa membantu membentuk komunitas baru
dengan menjembatani perbedaan budaya dan melarutkan hambatan dalam ruang dan waktu.
Masyarakat dapat melihat tatanan sosial yang ideal di mana teknologi baru mendorong
pemahaman budaya sehingga orang dapat mempelajari mengenai budaya yang berbeda dan
kemudian bisa menciptakan satu keselarasan dengan saling bertukar informasi maupun
pengalaman.

Menurut pandangan Winston (dalam Fidler, 2003: 29), akselerator yang mendorong
perkembangan berbagai teknologi media baru adalah kebutuhan sosial yang muncul akibat
perubahan (supervening social necessities). Ini dipahami sebagai hubungan timbal balik
antara masyarakat dan teknologi. Kebutuhan ini berasal dari kebutuhan perusahaan, tuntutan
akan teknologi lain, penetapan regulasi/hukum, dan kekuatan-kekuatan sosial.
Perkembangan teknologi mendorong proses yang disebut oleh Roger Fidler sebagai
mediamorfosis. Mediamorfosis diartikan sebagai media komunikasi, yang biasanya
ditimbulkan akibat hubungan timbal balik yang rumit antara berbagai kebutuhan yang
dirasakan, tekanan persaingan dan politik, serta berbagai inovasi sosial dan teknologi (Fidler,
2003: 35).
Teknologi baru akan mampu mengakhiri masalah-masalah sosial dan mengarah pada
pengembangan dunia sosial yang ideal. Tetapi dalam jangka pendek, industrialisasi teknologi
baru juga bisa menimbulkan masalah, antara lain eksploitasi besar pada para pekerja, polusi,
dan kerusuhan sosial. Apalagi ketika masyarakat belum mampu mengadopsi suatu teknologi
baru namun dipaksakan menerimanya.
Pada saat ini kita dihadapkan pada satu permasalahan yang cukup mendasar tentang
informasi yang beredar dan ilmu pengetahuan. Internet telah diyakini banyak orang sebagai
sumber informasi yang aktual. Namun, di era seperti sekarang ini informasi-informasi yang
beredar di internet semakin menyesaki kehidupan dan tidak terkontrol sehingga semakin
susut maknanya. Informasi bukan hanya kehilangan maknanya, informasi juga telah berubah
menjadi barang yang bisa dikonsumsi dan dikomersialisasikan. Informasi telah menjadi
komoditas yang bisa diperjualbelikan tanpa memperhitungkan aspek kegunaan dan
manfaatnya. Masyarakat informasi larut dalam informasi dan punya ketergantungan yang luar
biasa akan perangkat teknologi informasi maupun komunikasi. Saat ini, kualitas ilmu
pengetahuan yang beredar di internet pun perlu dipertanyakan kembali.
Selain permasalahan tersebut, perkembangan teknologi media juga akan berkaitan
dengan tingkat perbedaan kemakmuran masyarakat pengguna jasa internet. Semakin kaya
suatu masyarakat, akan semakin besar aksesnya pada informasi di internet sehingga internet
hanya akan bisa dijangkau oleh mereka yang memiliki kapital besar. Ketimpangan ekonomi
kemudian diikuti dengan pesebaran informasi dan pengetahuan yang selalu menjadi monopoli
negara maju. Faktor SDM juga akan mempengaruhi pemahaman kita terhadap content dari
internet yang kebanyakan cenderung berbahasa inggris. Hambatan lain adalah jurang
kemelekan teknologi (literacy of technology) antara negara maju dan negara berkembang.

Marak dan berkembang pesatnya teknologi yang turut mendorong kemunculan


media baru didasarkan atas tiga hal. Pertama, kekuatan-kekuatan ekonomi, politik, dan sosial
memainkan peran besar dalam perkembangan teknologi-teknologi baru. Kedua, berbagai
penemuan dan inovasi tidak diadopsi secara luas lantaran keterbatasan teknologi itu sendiri.
Ketiga, pasti selalu ada kesempatan dan alasan ekonomi, sosial dan politik yang mendorong
pengembangan teknologi baru (Winston, dalam Fidler, 2003: 29).
Munculnya Belahan Sosial Baru
Saat teknologi internet dan mobile phone makin maju maka media sosial pun ikut
tumbuh dengan pesat. Kini untuk mengakses facebook atau twitter misalnya, bisa dilakukan
di mana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan sebuah mobile phone. Demikian
cepatnya orang bisa mengakses media sosial mengakibatkan terjadinya fenomena besar
terhadap arus informasi tidak hanya di negara-negara maju, tetapi juga di Indonesia. Karena
kecepatannya media sosial juga mulai tampak menggantikan peranan media massa
konvensional dalam menyebarkan berita-berita.
Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang seperti bisa
memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti televisi, radio, atau
koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang banyak, maka lain halnya dengan
media sosial baru. Seorang pengguna media sosial bisa mengakses menggunakan media
sosial dengan jaringan internet bahkan yang aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar,
tanpa alat mahal dan dilakukan sendiri tanpa karyawan. Pengguna media sosial dengan bebas
bisa mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan berbagai
model content lainnya.
Kemunculan internet sebagai sebuah sistem yang masif, telah memberi konsekuensi
pada berbagai segi. Jhon Naisbitt menaruh kepercayaan besar pada kemampuan teknologi
informasi untuk membawa perubahan radikal dalam semua ranah, termasuk ekonomi.
Baginya, informasi memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan radikal dengan
menciptakan kompleksitas dalam relasi sosial, ekonomi, maupun ranah-ranah lainnya (dalam
Jatmiko, 2005: 25).
Munculnya masyarakat informasi yang mewujudkan belahan sosial (social
cleavage) baru semakin memberi pengaruh terhadap kehidupan sosial di masyarakat.
Kelompok ini didominasi oleh orang-orang muda yang menguasai informasi dan teknologi
informasi, mereka tergabung dalam komunitas-komunitas virtual yang terkoneksi.
Kemunculan media sosial seperti facebook, twitter, plurk, youtube, memberi kontribusi yang

berarti pada pesatnya perkembangan dunia sosial tanpa batas tersebut. Pada akhir tahun 2010
saja, diprediksi ada sekitar 2 miliar orang yang terkoneksi oleh internet, 500 juta orang
terdaftar sebagai pengguna facebook, dan yang paling mengejutkan, laju pertumbuhan
pendaftar twitter tercatat sekitar 2,1 juta per minggu (Davies, dalam Ishak, 2011).
Selanjutnya, masyarakat ini menjadi individu yang memiliki sifat-sifat independen,
kuat, berpengaruh, dan bekerja dalam prinsip-prinsip yang setara. Mereka memiliki
kepentingan yang berbeda-beda dan makin variatif. Kondisi ini melahirkan sebuah asumsi
bahwa media sosial yang dijalankan oleh kelompok muda yang memiliki visi yang kuat telah
berubah menjadi perangkat yang efisien, powerful, dan terbuka, yang dapat memfasilitasi
berbagai pandangan dan kepentingan yang sebelumnya cukup tertutup. Kemunculan media
sosial telah memberikan perubahan yang cukup drastis pada berbagai organisasi tradisional.
Banyak organisasi bisnis, politik, sosial yang telah mengadaptasi media sosial sebagai bagian
dari

perangkat

strategis

internal

organisasi

(Rasha

Proctor,

2011

dalam

www.kompasiana.com). Media sosial tidak lagi dianggap sekadar fenomena interaksi


(komunikasi) biasa, namun ia telah menjadi faktor determinan yang dianggap mampu
mengubah lingkungan secara dramatis.
Internet dan Penciptaan Ruang Publik
Di tengah perkembangan zaman dengan ditandainya kemajuan teknologi dengan
pesat, termasuk dalam industri media, terdapat segala manfaat dan resikonya. Semua ini
merupakan implikasi logis dari perkembangan zaman. Ketertinggalan mengenal dan
menguasai teknologi akan semakin membuat kita berada jauh di belakang dari sebuah
peradaban.
Saat ini media sosial seperti media baru di ranah maya yang berhasil menemukan
momentumnya. Lahirnya teknologi internet semakin membuat booming penggunaan media
sosial. Semua orang terbukti memang senang berbagi dan mendengar rekomendasi teman dan
jejaringnya di dunia maya.
Kehadiran internet telah membuka ruang baru, yaitu sebuah ruang imajiner yang di
dalamnya setiap orang dapat melakukan apa saja yang bisa dilakukan dalam kehidupan sosial
sehari-hari dengan cara yang baru (Pialang, 2005: 7). Cara artifisial ini sangat mengandalkan
peran teknologi, khususnya teknologi komputer dan informasi dalam mendefinisikan realitas,
sehingga berbagai kegiatan yang dilakukan di dalamnya seperti bersenda gurau, berdebat,
diskusi, bisnis, brainstorming, gosip, protes, kritik, bermain, bermesraan, bercinta,
menciptakan karya seni, dapat dilakukan di dalam cyberspace (ruang publik tanpa batas).

Dalam era globalisasi pasar dan informasi dewasa ini, sulitlah membayangkan adanya
forum atau panggung komunikasi politis yang bebas dari pengaruh pasar ataupun negara.
Kebanyakan seminar, diskusi publik, demonstrasi, dan seterusnya didanai, difasilitasi, dan
diformat oleh kekuatan finansial besar, entah kuasa bisnis, partai, atau organisasi
internasional dan seterusnya. Hampir tak ada lagi lokus yang netral dari pengaruh ekonomi
dan politik. Seperti halnya yang dijelaskan oleh Winston di atas, bahwa akan selalu ada
alasan ekonomi, sosial, dan politik serta kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik dalam
perkembangan teknologi media.
Analisis Habermas, membayangkan masyarakat kompleks dewasa ini sebagai tiga
komponen besar, yaitu sistem ekonomi pasar (kapitalisme), sistem birokrasi (negara), dan
solidaritas sosial (masyarakat), lokus ruang publik politis terletak pada komponen solidaritas
sosial (dalam Hardiman, 2006). Dia harus dibayangkan sebagai suatu ruang otonom yang
membedakan diri, baik dari pasar maupun dari negara. Setidaknya dengan adanya era
globalisasi dan demokratisasi, telah terbuka ruang-ruang umum yang bebas diakses oleh
masyarakat umum. Dengan demikian seharusnya dengan terbukanya ruang publik tersebut,
dapat dijadikan sarana untuk berkomunikasi untuk mendiskusikan atau menyelesaikan
persoalan yang menyengkut hajat hidup orang banyak. Ruang-ruang tersebut seharusnya
dapat dimanfaatkan oleh seluruh elemen baik antar lembaga pemerintah maupun masyarakat
sipil dan pemerintah. Kita harus bisa memanfaatkan peluang yang ada untuk mendukung
demokratisasi dan kebaikan bersama.
Masyarakat sipil tidak hanya sebagai aktor atau pelaku, tetapi mereka juga merupakan
penghasil ruang publik politis itu sendiri. J.Cohen dan A. Arato, memberikan ciri ruang
publik politis yang dihasilkan oleh masyarakat sipil yaitu adanya pluralitas (seperti keluarga,
kelompok nonformal, dan organisasi sukarela), publisitas (seperti media massa dan institusi
budaya), privasi (seperti moral dan pengembangan diri), dan legalitas (struktur hukum dan
hak-hak dasar). Itu artinya rakyat sipil bisa turut aktif dalam menciptakan ruang publik politis
tersebut untuk menyuarakan opini, saran, maupun kritik terhadap sistem politik yang sedang
berjalan.
Dalam demokrasi, ruang publik tidak harus ruang-ruang formal, tetapi juga bisa
berupa ruang yang sifatnya informal. Hadirnya internet sebagai cyberspace mampu membuka
ruang demokrasi, karena dunia maya adalah dunia yang tanpa otoritas. Penggunanya dapat
mengekspresikan diri dalam menghadapi kehidupan sosial mereka. Ketika ruang-ruang
publik yang ada dalam dunia nyata sulit terbentuk karena adanya dominasi kekuasaan yang
mengekang, maka media sosial berupa internet ini memberikan tawaran bagi ruang publik

baru. Setiap orang berhak dan bebas bersuara, mengkritik, serta berpendapat terhadap
fenomena sosial di sekitarnya, termasuk juga mengkritik penguasa, karena dalam media ini
adalah ruang terbuka yang menurut Pialang (2005:12) bersifat egalitarian.
Sebuah sistem demokrasi mengharuskan adanya kebebasan pers. Dengan adanya
ruang bebas seperti ini, akan menjadikan media internet sebagai media kontrol terhadap
kehidupan sosial-politik. Karena media merupakan salah satu pilar demokrasi, kebebasan
pers merupakan pilar keempat dari demokrasi. Tentunya kebebasan pers yang disertai dengan
tanggung jawab sosial. Pemanfaatan ruang publik, termasuk juga cyberspace, sangat
diperlukan demi melancarkan demokratisasi. Masyarakat seharusnya bisa memanfaatkan
ruang-ruang yang ada untuk berpartisipasi di dalam sistem politik. Tetapi pada kenyataannya
saat ini masyarakat masih belum mampu sepenuhnya memanfaatkan ruang publik yang ada
untuk terlibat dalam sistem politik.
Daftar Pustaka
Fidler, Roger. 2003, Mediamorfosis: Memahami Media Baru, (terj. oleh Hartono Hadikusumo,
Mediamorfosis: Understanding New Media), Cetakan ke-1, Bentang Budaya, Yogyakarta.
Hardiman, F. Budi. 2006, Ruang Publik Politis: Komunikasi Politis dalam Masyarakat Majemuk,
dalam http://duniaesai.com/komunikasi/kom1.htm, yang diakses tanggal 13 April 2007,
bersumber dari Kompas Cyber Media.
Ishak, Tomy. 2011, Kaum Muda, Politik, dan Media Sosial, artikel opini dalam
http://sosbud.kompasiana.com/kaum_muda_politik_media_sosial.html, diakses pada tanggal
21 Desember 2011.
Jatmiko, Bambang P. 2005, Hikayat Kapital dalam Geliat Abad Informasi, Jurnal Balairung, Edisi
38/XIX, Tahun 2005, Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BPPM) UGM, Yogyakarta.
Halaman 24-33.
Pialang, Yasraf Amir. 2005, Cyberspace dan Perubahan Sosial: Eksistensi, Identitas, dan
Makna, Jurnal Balairung, Edisi 38/XIX, Tahun 2005, Badan Penerbitan Pers Mahasiswa
(BPPM) UGM, Yogyakarta. Halaman 6-13.