Anda di halaman 1dari 22

Steven-Johnson Syndrome

Associated with Drugs and


Vaccines in Children: A
Case Control Study
Oleh:
Ayu Azlina
1110312059
Rizkia Chairani Asri 1110313076

Preseptor
dr. Qaira Anum, Sp.KK, FINSDV

LATAR BELAKANG
Adverse Drug Reactions(ARDs) merupakan masalah
penting dalam dunia kesehatan.

ARD pada kulit sering dilaporkan : dewasa &


anak-anak.

Steven-Johnson
Syndrome (SJS) dan
Toxic Epidermal
Necrolysis (NET)

ARDs
paling
serius

pengelupasan kulit
dan erosi dari
membran mukosa

Penelitian ttg hubungan SJS dan


TEN dengan obat
Dewasa 60-70%
karena obat
Anak-anak
penelitian masih
terbatas

Obat yang berkaitan dengan SJS dan TEN


Sulfonamid
Fenobarbital,
Carbamazepin
Lamotrigine
Asam valproat
Non-steroidal anti-inflammatory drugs
(NSAIDs)
Parasetamol

TUJUAN
Mengetahui risiko dari obatobatan yang telah diketahui
berhubungan dengan SJS atau
TEN
Melihat potensi obat lain
yang belum diketahui.

METODE PENELITIAN

Jenis
Peneliti
an

Case
Contro
l Study

Lokasi Penelitian
9 RS yang tersebar di berbagai
negara [Genoa, Turin, Padua,
Florence, Perugia, Rome (dua
rumah sakit), Naples and
Palermo].

Populasi

semua anak-anak yang


dirawat (1 bulan sampai 18
tahun)

Kriteri
a
Inklusi
Kriteri
a
Eksklu
si

Datang ke Unit Gawat


Darurat (UGD)
Dirawat karena beberapa
hal berikut: penyakit non
infeksi mukokutaneus,
gangguan syaraf, lesi pada
gastrointestinal dan
trombositopenia
Diagnosis SSJ/TEN

diagnosis yang bersamaan


dengan kanker atau
imudofesiensi dan
dalam penyakit saraf,
yaitu: kejang demam, riwayat
epilepsi sebelumnya dan sakit
kepala.

PENGUMPULAN DATA
Wawancara orang tua oleh tenaga
medis terlatih questionnaire
terstruktur dan pengumpulan data
tentang riwayat paparan obat dan vaksin.
Secara spesifik, obat yang diteliti dipakai
dalam 3 minggu sebelum timbul gejala
sedangkan waktu untuk pemberian
vaksin diperpanjang sampai 6 minggu.

KASUS
Definisi
Kasus terdiri dari : pasien anak-anak yang di
rawat melalui UGD dengan kondisi
mukokuteneus yang didiagnosis final
dengan SSJ atau NET.
Diagnosis telah divalidasi melalui rekam
medik dan melalui informasi lain seperti:
lokasi lesi (mata, mulut, anus), konsultsi
dermatologikus dan terapi selama
perawatan.

KONTROL
Kontrol terdiri atas : anak-anak yang
dirawat pada rumah sakit yang memiliki
kondisi neurologis non-kejang.

ANALISIS
Untuk memperhitungkan kemungkinan
bahwa beberapa obat telah di resepkan
untuk mengobati gejala awal SSJ,
analisis lebih lanjut dilakukan setelah
mengeksklusikan penggunaan obat
pada tanggal indeks atau dalam 2 hari
sebelumnya.

HASIL
Dari 2,483 anak yang dirawat dengan kondisi
mukokutaneus antara 1 November 1999 dan 31
Oktober 2012, 37 anak(1,5%) dirawat dengan
kecurigaan SSJ atau NET.
Rekam medis hanya dapat diambil dari
35 anak (95%).
Prosedur validasi tidak
mengkonfirmasi 8 kasus (22%).

Dua puluh sembilan anak (1%) didiagnosis


dengan SSJ atau NET dianalisis (termasuk dua
anak anak dengan catatan rekam medik yang
hilang)

Kasus dan kontrol


menunjukan tidak
adanya perbedaan rasio
antara laki-laki dan
perempuan terutama
kasus yang lebih muda
dari kontrol dengan usia
rata-rata 3 dan 4 tahun.

Kelompok kasus lebih


sering terkena obat
dalam tiga minggu
sebelum timbulnya
gejala.

Durasi rata-rata rawat


inap kasus SJS adalah 9
hari, tiga hari lebih lama
dari grup kontrol.

Proporsi anak-anak
terpapapar vaksin :
14 % kasus dan 10 %
kontrol,

Hanya 5 dari 29 kasus


( 17 % ) tidak menerima
baik obat-obatan atau
vaksin sebelum tanggal
indeks .

DISKUSI
Penelitian ini memberikan bukti
tambahan mengenai peranan obatobatan dan vaksin dalam terjadinya SJS
pada anak-anak .
Terutama sekali, peningkatan risiko dua
puluh tujuh kali lipat diperkirakan untuk
obat antiepilepsi.
Peningkatan risiko tiga kali lipat untuk
antibiotik

TERIMA KASIH