Anda di halaman 1dari 9

Praktikum

: V

Judul

: Hukum Hooke

Sasaran Belajar : Mahasiswa mampu memahami bahwa

Pertambahan panjang pegas sebanding dengan gaya yang


bekerja pada pegas.

Energi potensial pegas sebanding dengan kuadrat


pertambahan panjang pegas.

Landasan Teori
Andaikan benda bermassa m digantungkan pada pegas spiral, pegas akan
bertambah panjang sejauh x.
y
massa

x
x
panjang

Grafik y terhadap x berbentuk garis lurus dan melalui titik asal (0,0)
dinyatakan oleh persamaan y = m.x, dengan m adalah kemiringan grafik.
Dengan cara yang sama, grafik gaya tarik F terhadap pertambahan
pangjang x yang berbentuk garis lurus dan melalui titik asal (0,0) dinyatakan
dengan F = m.x. Dengan demikian, hubungan antara gaya tarik F dan
pertambahan panjang x untuk pegas yang memiliki grafik gaya tarik terhadap
pertambahan panjang dapat ditulis:
F = -k.x
Dengan k adalah tetapan gaya. Tetapan gaya adalah besarnya angka pengali yang
tergantung pada pegas yang kita gunakan.
Persamaan di atas pertama kali dikemukakan oleh Robert Hooke, seorang
arsitek yang ditugaskan untuk membangun kembali gedung-gedung di London

yang mengalami kebakaran tahun 1666. Oleh karena itu pernyataan ini disebut
dengan hukum hooke.
Bunyi hukum hooke:
Jika gaya tarik tidak melampaui batas elastik pegas, maka pertambahan
panjang pegas berbanding lurus dengan gaya tariknya.
Sebelum direnggangkan oleh gaya F, energi potensial sebuah pegas adalah nol.
Setelah direngangkan, energi potensialnya bertambah menjadi:
E = k.x2
Menurut hooke, regangan sebanding dengan tegangannya, dimana yang
dimaksud dengan regangan adalah presentase perubahan dimensi. Tegangan ialah
gaya yang menegangkan per satuan luas penampang yang dikenainya. Ada 3
macam regangan, yakni
1. Regangan panjang
Dengan panjang semula sewaktu tiada regangan, L0, dan penambahan panjang
L akibat tegangan, regangannya diberikan oleh L/ L0, sedangkan kalau luas
penampang A dan gaya tegangan yang meregangkan ialah W, maka
tegangannya adalah W/A. Berdasarkan hukum hooke ditulis
Y(L/ L0) = W/A,
dengan tetapan pembanding lurus Y yang dinamakan modulus elastisitas
Young.
2. Regangan volum
Regangan volum yang dimaksud bukan penambahan volum melainkan
pengerutan volum akibat penekanan. Menurut hukum hooke ditulis:
B(L/ L0) = p,
dengan B ialah modulus ketegaran (modulus of rigdity) yang besarnya 1/3
modulus young.
3. Regangan sudut
Yang dimaksud dengan regangan sudut atau regangan luncuran adalah
deformasi, yakni perubahan bentuk yang berkaitan dengan sudut luncuran.
Berbeda dengan tegangan ataupun tekanan yang arahnya tegak lurus
permukaan yang dikenainya, maka gaya luncuran F adalah pada arah

meluncur sepanjang permukaan yang mengakibatkan timbulnya sudut


luncuran. Menurut hukum hooke dapat ditulis
M = F A,
dengan A ialah luas permukaan yang dikenai gaya luncuran dan M adalah
modulus luncuran (shear of modulus).
Alat dan bahan
1. Statif
2. Beban
3. Jepit penahan
4. Pegas spiral
5. Mistar
Prosedur Percobaan
1. Gantungkan beban pada pegas (anggap berat beban adalah F0)
2. Ukur panjang pegas (L0)
3. Tambahkan beban, lalu ukur panjang pegas (L)
4. Ulangi dengan penambahan beban bervariasi.
5. Isilah tabel berikut
6. Perhatikan kecenderungan masing-masing tabel dari atas ke bawah
7. Bagaimana hubungan antara F dan L
8. Gambarkan grafik F terhadap L
9. Gunakan persamaan (teori) untuk menghitung konstanta pegas.
10. Hitung luas daerah di bawah grafik.

Data Hasil Percobaan


F0 = 0,5 N
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

L0 = 0,145 m

W (Newton)
0,7
0,9
1,1
1,3
1,5
1,7

F = W F0 (N)
0,2
0,4
0,6
0,8
1,0
1,2

Analisis Data
1. W = mg
F = W = mg
F = 0,07 kg x 10 m/s2
F = 0,7 N
mg

0,7 N

k = x 0,009 m 77,77 N m
2
Ep 1 kx

2
Ep 1 77,77 (0,009)

Ep 1 77,77 (0,000081)

Ep 0,0031 J
2. W = mg
F = W = mg
F = 0,09 kg x 10 m/s2
F = 0,9 N
mg

0,9 N

k = x 0,025 m 36 N m
2
Ep 1 kx

2
Ep 1 36 (0,025)

L (m)
0,154
0,170
0,196
0,216
0,237
0,263

L = L L0 (m)
0,009
0,025
0,051
0,071
0,092
0,118

Ep 1 36 (0,000625)

Ep 0,011 J
3. W = mg
F = W = mg
F = 0,11 kg x 10 m/s2
F = 1,1 N
mg

1,1 N

k = x 0,051 m 21,57 N m
2
Ep 1 kx

2
Ep 1 21,57 (0,051)

Ep 1 21,57 (0,002601)

Ep 0,028 J
4. W = mg
F = W = mg
F = 0,13 kg x 10 m/s2
F = 1,3 N
mg

1,3 N

k = x 0,071 m 18,3 N m
2
Ep 1 kx

2
Ep 1 18,3 (0,071)

Ep 1 18,3 (0,005041)

Ep 0,046 J

5. W = mg

F = W = mg
F = 0,15 kg x 10 m/s2
F = 1,5 N
mg

1,5 N

k = x 0,092 m 16,3 N m
2
Ep 1 kx

2
Ep 1 16,3 (0,092)

Ep 1 16,3 (0,008464)

Ep 0,068 J
6. W = mg
F = W = mg
F = 0,17 kg x 10 m/s2
F = 1,7 N
mg

1,7 N

k = x 0,118 m 14,40 N m
2
Ep 1 kx

2
Ep 1 14,40 (0,118)

Ep 1 14,40 (0,013924)

Ep 0,100 J

Luas daerah di bawah grafik.


1. L1 = 1 a t

a = 0,009

t = 0,2

L1 = 1 0,009 . 0,2

L1 = 0,0009
2. L2 = p l
L2 = 0,109. 0,2
L2 = 0,0218
3. L3 = 1 a t

L1 = 1 0,109. 1

L1 = 0,0545
Ltotal = L1 + L2 + L3
Ltotal = 0,0009 + 0,0218 + 0,0545
Ltotal = 0,0772

Pembahasan
Dari grafik, dapat kita lihat bahwa grafik tersebut berbentuk garis lurus.
Hal ini berarti bahwa konstanta pegas tersebut adalah konstan (tetap). Maksudnya,
konstanta pegas ini memiliki nilai yang tetap jika F dihubungkan dengan L.
Konstanta pegas dipengaruhi oleh massa beban pada pegas, gaya gravitasi,
dan pertambahan panjang pegas. Sehingga bila ditulis dalam bentuk rumus:
k=

mg
x

Dari grafik, kita dapat mengetahui bahwa F dan L sebanding. Jika F


besar maka L juga akan besar. Hal ini disebabkan adanya pertambahan massa

beban yang digantung pada pegas, dimana massa merupakan komponen penyusun
gaya berat (W). Massa beban yang digantung pada pegas dipengaruhi oleh gaya
gravitasi ( untuk kasus ini g = 10 m/s 2). Hasil kali massa beban dan gaya gravitasi
adalah gaya berat (W) yang memiliki arah gaya ke bawah. Dapat kita katakan
bahwa jika massa beban pada pegas bertambah maka gaya berat pada pegas itu
akan bertambah pula.
Pertambahan gaya berat pada pegas menyebabkan pegas mengalami
pertambahan panjang pula.
Jadi, jika perbandingan antara gaya dan pertambahan panjang pegas selalu
memberikan nilai yang tetap, maka nilai tetapan pegas juga akan konstan untuk
setiap x dari waktu ke waktu.
Kesimpulan
1. Petambahan panjang pada pegas sebanding dengan gaya yang bekerja pada
pegas tersebut.
2. Energi potensial pegas sebanding dengan kuadrat pertambahan panjang pegas.
3. Gaya yang bekerja pada pegas adalah gaya berat.
4. Gaya berat dipengaruhi oleh massa benda dan gravitasi.
5. Tetapan pegas adalah perbandingan nilai F terhadap nilai L yang selalu sama
dan tetap.

Daftar Pustaka
Bueche, Frederick. 1989. Fisika. Jakarta: Erlangga.
Kanginan, Marthen. 2000. Fisika 2000 Jilid IB. Jakarta: Erlangga.
Soedodjo, Peter. 2000. Fisika Dasar. Yogyakarta: Erlangga.
Tim Dosen Fisika Dasar. 2008. Panduan Praktikum Fisika Dasar I. Inderalaya:
FKIP UNSRI.
Tobing, D.L. 1996. Fisika Dasar 1. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.