Anda di halaman 1dari 15

I.

PENDAHULUAN

1.1 Pengertian Penyakit


Penyakit terjadi perubahan fungsi-fungsi sel dan jaringan inang sebagai akibat
gangguan yang terus-menerus oleh agensia-agensia patogen atau faktor lingkungan
dan

menyebabkan

perkembangan

gejalanya.

Fungsi-fungsi

tersebut

adalah

pembelahan, difarensiasi air dan mineral dari tanah dan mentraslokasikannya ke


seluruh bagian tumbuhan, fotosintesis dan translokasi hasil-hasil fotosintesis ke
tempat-tempat penggunaan dan penyimpanannya, metabolisme senyawa-senyawa
yang disintesis, reproduksi, dan penyimpanan persediaan makanan untuk reproduksi
dan kebutuhan setelah berakhirnya musim dingin (Agrios, 2005)
1.2 Mekanisme terjadinya Penyakit
Tumbuhan menjadi sakit apabila tumbuhan tersebut diserang oleh patogen
(parasit) atau dipengaruhi oleh agensia abiotik (fisiapath). Oleh karena itu, untuk
tejadinya penyakit tumbuhan sedikitnya harus terjadi kontak dan terjadi interansi
antara dua komponen (tumbuhan dan patogen). Untuk mendukung perkembangan
penyakit maka harus adanya interaksi adanya tiga komponen yaitu patogen yang
virulen, tanaman yang rentan dan lingkungan yang mendukung seperti pada gambar di
bawah ini:

1.3 Cara patogen menyerang tumbuhan


Menurut sastrahidayat (2011:13) cara patogen menyerang tumbuhan sebagai
berikut:
Inokulasi adalah suatu proses patogen atau unit-unit reproduksinya mengadakan
kontak dengan tumbuhan.
Penetrasi adalah masuknya patogen ke dalam jaringan tanaman inang. Penetrasi
dapat hanyatertuju pada kutikula(skab pada apel), tertuju ke dalam sel epidermis , atau
ke dalam ruang interselular, yang dari sini menuju ke dalam sel atau jaringan
tumbuhan (kebanyakan patogen).
Infeksi adalah proses patogen mengadakan kontak dengan sel-sel jaringan
tumbuhan yang peka dan mengambil makanan daripadanya. Untuk terjadi infeksi

maka organisme harus dalam keadaan patogenik, tumbuhan inangnya peka, dan
kondisinya sesuai.
Periode inkubasi adalah merupakan interval antara infeksi pada tumbuhan dan
timbulnya gejala penyakit. Lamanya periode inkubasi biasanya ditentukan oleh
kekhususan kombinasi antara patogen, inang, dan lingkungan.
Invasi menujukan fase terakhir dari infeksi selama patogen mengadakan
penyebaran, baik di luar maupun ke dalam jaringan tumbuhan.

II. ISOLASI JAMUR


2.1 Pengertian Isolasi
Isolasi mikroorganisme mengandung arti proses pengambilan mikroorganisme
dari lingkungannya untuk kemudian ditumbuhkan dalam suatu medium di
laboratorium. Proses isolasi ini menjadi penting dalam mempelajari identifikasi
mikrobia, uji morfologi, fisiologi, dan serologi. Sedangkan pengujian sifat-sifat
tersebut di alam terbuka sangat mustahill untuk dilakukan (Pelczar,1986).
2.2 Gejala yang Ditimbulkan oleh Patogen yang Dibawa

Capnodialis

Pyiricularia orizae

Hemileia vastatrix

Pytophthora infestans

Coleotriticum Capsici

2.3 Kenampakan Makroskopis Patogen Dalam Pada Media PDA


Dokumentasi kenampakan makroskopis pada media PDA

Coleotritikum capsici

Capnodialis

Hemileia fastatrix

Phytophthora
Phyricularia orizae
Gambar literatur kenampakan makroskopis pada media PDA

Coleotriticum capsici

2.3 Cara kerja

2.3.1 Alat, Bahan, dan Fungsi


Alat
Gunting

: Untuk memotong bagian tanaman yang terkena serangan

Cutter : Untuk memotong bagian tanaman yang terkena serangan


Pinset

: Untuk memindahkan potongan sampel bagian yang bergejala.

Cawan Petri : Sebagai tempat media (isolasi), alkohol, khloroks dan aquadest.
Bunsen

: Untuk menciptakan kondisi aseptis.

Gelas ukur : Untuk tempat alkohol (sterilisasi alat)


Wrapping : Untuk meng-cover hasil isolasi di cawan petri.
Kamera

: Untuk mengambil gambar patogen hasil isolasi.

Bahan
Larutan Kholorox : Untuk menghilangkan kotoran pada bahan penyakit
Larutan Alkhohol : Untuk menyeterilkan bahan penyakit
Larutan Aquades : Untuk mencuci alat serta bahan penyakit

2.3.2 Cara kerja isolasi patogen pada PDA


Langkah kerja sterilisasi bahan

Langkah penanaman bahan

2.4 Pembahasan Hasil Isolasi


Setelah diamati dalam satu minggu maka penyakit yang ditanam pada media
PDA diketahui disebabkan oleh jamur, dicirikan dengan adanya hifa yang tumbuh
pada cawan. Bagian tanaman terutama daun yang diambil setengah sehat setengah
sakit yang ditanam ditumbuhi micelum (berasal dari kumpulan hifa-hifa) pada tiga
titik pada cawan. Untuk mengetahui bahwa jamur yang didapatkan adalah penyakitpenyakit tersebut maka diperlukan isolasi untuk lebih meyakinkan dilihat dari
kenampakan makroskopis pada cawan .
Hasil isolasi jamur yang ditanam tiga titik tersebut terdapat hifa-hifa, namun ada
beberapa bagian dari hifa yang berwarna ciklat dan kehitaman. Warna tersebut terjadi
karena adanya kontaminasi yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri dapat dengan
mudah mengontaminasi karena beberapa faktor diantaranya PDA yang lembab. Hal
ini terlihat dari adanya embun pada PDA. Kontaminasi saat penanaman, hal ini yang
sangat berpengaruh karena penanaman tidak dilakukan pada LAFC sebagaimana
mestinya hal ini sesuai dengan pernyataan Gaman&Shernington, 1994 bahwa
Pertumbuhan fungi pada medium agar dengan penampakannya berbeda dari bakteri.
Pada umumnya berupa benang-benang putih dan sangat mudahdiamati. Fungi tumbuh
baik pada medium Potato Dextrose Agar (PDA). Akantetapi, bakteri juga tumbuh
pada medium tersebut. Sehingga, medium agar yangakan dipergunakan untuk isolasi
fungi sebaiknya diberi suatu antibiotic untuk membunuh atau menghambat

pertumbuhan bakteri. Temperatur inkubasi 280C selama 2 x 24 jam atau lebih.


Pada perkembangan Phytophthora infestan yang ditanam pada media PDA
tidak mengalami perkembangan yang signifikan karena pada media ini dirasa kurang
menyediakan nutrisi bagi perkembangan jamur tersebut. Phytophthora akan
berkembang baik pada media V8, karena media V8 dianggap memiliki nutrisi yang
komplek yang mampu menunjang perkembangan jamur ini.

III. PURIFIKASI
3.1 Pengertian Purifikasi
Purifikasi adalah proses pemisahan mikroorganisme yang diinginkan dari populasi
campuran ke media biakan (buatan) untuk mendapatkan kultur murni. Sebelum
melakukan pemurnian (purifikasi) terhadap suatu patogen tanaman, maka patogen
tanaman pertama kali harus diisolasi ke dalam media buatan dan dibiakkan secara
aseptik. Patogen selalu berasosiasi dengan bagian tanaman yang sakit sehingga harus
dilakukan isolasi.
3.2 Tujuan Purifikasi
Tujuan untuk mengisolasi mikroorganisme dari campurannya atau meremajakan
kultur ke dalam medium baru.
3.3 Cara kerja Purifikasi
3.3.1 alat, bahan, fungsi
Alat
Jarum Ose : Digunaka untuk mengambil/memindahkan koloni patogen.
Wrapping : Untuk membungkus media dan cawan petri.
Bunsen : Digunakan untuk sterilisasi alat
Bahan
Alkohol : Digunakan untuk sterilisasi
Spirtus : Sebagai bahan bakar bunsen
Media PDA : Untuk membiakkan biakan murni yang telah dipurifikasi
3.3.2 Cara Kerja Purifikasi Pathogen

3.4 Pembahasan hasil Purifikasi


Purifikasi adalah pengambilan organisme(jamur) pada bagian PDA cawan yang
mula-mulanya ditumbuhi berbagai jamur kemudian dengan bantuan ose untuk
mengambil jamur yang diinginkan dengan tujuan mendapatkan isolat baru yang
spesifik dan peremajaan. Dalam kegiatan purifikasi kelompok kami mendapatkan tiga
isolat yaitu Fusarium oxysporum,

IV. IDENTIFIKASI JAMUR

4.1 Pengertian identifikasi


Pengertian identifikasi (penyakit) secara umum adalah membuat kepastian
terhadap suatu penyakit berdasarkan gejala yang tampak, atau suatu proses untuk
mengenali suatu penyakit tanaman melalui gejala dan tanda penyakit yang khas
termasuk faktor-faktor lain yang berhubungan dengan proses penyakit tersebut
(Nurhayati, 2012).
4.2 Cara Kerja
4.2.1 Alat, Bahan dan Fungsi
Alat
Mikroskop : untuk mengidentifikasi kenampakan mikroskopis patogen
Objek glass & Cover glass : digunakan sebagai tempat spesimen yang diamati.
Jarum ose : untuk mengambil spesimen.
Kamera : untuk mendokumentasikan hasil identifikasi
Bahan
Aquades : untuk membersihkan alat.
Alkohol : untuk mensterilkan alat.
Biakan murni patogen : spesimen yang diamati.
4.2.2 Cara kerja identifikasi

4.3 Pembahasan hasil identifikasi

Pyricularia oryzae

P. infestans

C. capsici

H. vaastatrix

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Pada identifikasi jamur, kesemuanya jamur yang dapat diidentifikasi bukan
merupakan jamur dari pernyakit yang ada, dikarenakan terjadinya kontaminasi pada
media PDA. Kontaminan banyak dari bakteri sehingga mudah untuk merusak bentuk
hifa. Kemungkinan kontaminasi ini terjadi selain media yang kurang steril namun
lokasinya

karena pelaksanaan praktikum kurang memenuhi standart yakni tidak

menggunkana LAFC

5.2 Saran
Meskipun praktikum ini bertujuan membuat kami paham, namun alangkah
baiknya prosedur yang diterapkan diusahakan disiapkan dengan sistematis dan rapi
jangan terkesan asal-asalan praktikum. Selain itu meskipun kegiatan seperti sterilisasi
tidak menggunakan autoclave dan penamana tidak di LAFC mohon tetap ditunjukkan
cara-caranya agar saya sebagi praktikan lebih paham penggunaan mengenai alat-alat
lab karena nanti apa yang saya pelajari di praktikum sangat membantu dalam prosedur
kerja di lab. Dalam melakukan praktikum, hendaknya dilakukan dengan teliti dan
disiplin. Praktikan dan alat-alat yang akan digunakan sebaiknya disterilisasiterlebih
dahulu agar pada saat proses pengerjaan berlangsung, kontaminasi olehmikroba lain
dapat dikurangi. Selain itu selama praktikum berlangsung, praktikanhendaknya tidak
terlalu banyak berdiskusi, karena dapat menyebabkankontaminasi pada media
tumbuh.Terimakasih

DAFTAR PUSTAKA

Agrios GN. 2005. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Bambang Purnomo, 2006. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman : Proses Terjadinya
Penyakit Tumbuhan.21
Nurhayati. 2012. Diagnose Penyakit Tumbuhan.http://nurhayatisite.blogspot.com/
2011/03/diagnosis-penyakit-tanaman Diunduh 28 April 2013.
Pelczar,M.J.Dasar-Dasar

Mikrobiologi.

Terjemahan

R.S

Hadiotomo

dkk.UI

Press:Jakarta
Sastrahidayat, 2011. Fitopatologi.Malang: UB Press
Gaman, P.M. & K.B. Shernington. 1994. Ilmu Pangan dan Pengantar Ilmu P angan
Nutrisi dan Mikrobiologi.Jakarta:UGM Press