Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MATA KULIAH KEPERAWATAN MATERNITAS

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN


KLIMAKTERIUM DAN MENOPAUSE
Dosen Pengampu : Ns. Siti Mulidah, S.Pd, S.Kep, M.Kes

Disusun oleh :
Amalia Rizky Primadika

P17420213078

Andina Citra Nugraheni

P17420213079

Andriyanto

P17420213080

Annisatul Maqhfiroh

P17420213081

KELAS 2C

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN SEMARANG
PRODI DIII KEPERAWATAN PURWOKERTO
TAHUN AJARAN 2014/2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Masa perkembangan anatomi dan fisiologi wanita normal melalui enam
tahapan yaitu masa pubertas, masa reproduksi, masa klimakterium dan
menoupause serta masa senile. Masa reproduksi merupakan masa terpenting
dalam kehidupan wanita. Haid pada masa ini paling teratur dan bermakna
untuk kemungkinan kehamilan. Menjelang berakhirnya masa reproduksi ini
disebut dengan masa klimakterium yang merupakan masa peralihan dari masa
reproduksi ke masa senium. Masa ini berlangsung beberapa tahun sebelum
dan sesudah menopause.
Kehidupan manusia dimulai sejak konsepsi hingga menjelang akhir hayat
dan ini merupakan proses yang berkesinambungan serta tiada terbatas.
Begitupun kehidupan seorang perempuan. Segera setelah dilahirkan, secara
fisiologis menjadi lebih tua. Dengan bertambahnya usia maka jaringan
jaringan dan sel sel tua, sebagian mengalami regenerasi, tetapi sebagian lagi
akan mati. Dilihat dari sudut pandang tersebut, maka psikologi perkembangan
juga dapat disebut sebagai psikologi orang menjadi tua. Bagi sebagian orang,
wanita menganggap masa menopause merupakan masa yang menakutkan,
tetapi sebagian lainnya dapat melalui masa ini dengan mulus. Bagi orang
yang merasa masa ini menakutkan akan membutuhkan pendamping yang
mengerti dan paham tentang kondisi dan permasalahan mereka.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
2.
3.
4.
5.

Apa pengertian klimakterium dan menopause?


Apa saja etiologi klimakterium dan menopause?
Bagaimana manifestasi klimakterium dan menopause?
Bagaimana patofisiologi klimakterium dan menopause?
Apa saja komplikasi klimakterium dan menopause?

6. Bagaimana penatalaksanaan klimakterium dan menopause?


7. Bagaimana asuhan keperawatan klimakterium dan menopause?
C. TUJUAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Untuk mengetahui pengertian klimakterium dan menopause


Untuk mengetahui etiologi klimakterium dan menopause
Untuk mengetahui manifestasi klimakterium dan menopause
Untuk mengetahui patofisiologi klimakterium dan menopause
Untuk mengetahui komplikasi klimakterium dan menopause
Untuk mengetahui penatalaksanaan klimakterium dan menopause
Untuk mengetahui asuhan keperawatan klimakterium dan menopause

BAB II
PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR TEORI KLIMAKTERIUM DAN MENOPAUSE


1. PENGERTIAN
Klimakterium adalah masa yang bermula dari akhir tahap
reproduksi, berakhir pada awal senium dan terjadi pada wanita umur 40-65
tahun. Masa ini ditandai dengan berbagai macam keluhan. Klimakterium
bukan suatu keadaan patologis, melainkan suatu masa peralihan yang
normal yang berlangsung beberapa tahun sebelum dan sesudah menapouse
Hal ini disebabkan oleh karena ovarium menjadi tua, sehingga hormon
estrogen menurun dan hormon gonadotropin meningkat.(Kasdu, 2002)
Klimakterium adalah suatu masa peralihan antara tahun-tahun
reproduktif akhir dan berakhir pada awal masa senium. Sekitar umur 4065 tahun. (Endang Purwoastutik, 2008)
Klimakterium merupakan periode peralihan dari fase reproduksi
menuju fase senium yang terjadi akibat menurunnya fungsi generatif
ataupun endokrinologik dari ovarium. Terjadi pada usia 45-65 tahun. (Ali
Baziad, 2003)

Pengertian menopause menurut para ahli, diantaranya:


Menurut Rahayu (2007) ,bahwa men berarti bulan, pause,
pausa, pausis, paudo berarti periode atau tanda berhenti, hilangnya.
Menopause diartikan sebagai berhentinya secara definitif menstruasi.
Menopause adalah haid terakhir, atau saat terjadinya haid terakhir.
Berhentiya dapat didahului oleh siklus haid yang lebih panjang, dengan
perdarahan yang berkurang. Umur waktunya terjadinya menopause

dipengaruhi oleh keturunan kesehatan umum dan pola kehidupan.


(Syafrudin,2009)
Menopause merupakan suatu akhir proses biologis yang menandai
berakhirnya masa subur seorang wanita. Berhentinya menstruasi tersebut
akan membawa dampak perubahan sosial, fisiologis atau psikologis.
(Varney, 2007)
2. ETIOLOGI
Klimakterium pada seorang wanita telah terjadi perubahan ovarium
seperti sklerosis pembuluh darah, berkurangnya jumlah folikel dan
menurunnya sintesis steroid seks. (Widyastuti, 2009)
Menopause

terjadi

secara

fisiologis

akibat

hilang

atau

berkurangnya sensitivitas ovarium terhadap stimulasi gonadotropin yang


berhubungan langsung dengan penurunan dan disfungsi folikuler. Oosit di
dalam ovarium akan mengalami atresia, folikel mengalami penurunan
kualitas dan kuantitas folikel secara kritis setelah 20-25 tahun sesudah
menarche. Oleh karena itu pada fase perimenopause dapat terjadi siklus
menstruasi yang tidak teratur. Selain itu ketidakteraturan menstruasi juga
terjadi akibat fase folikuler pada fase siklus menstruasi yang memendek.
(Rahayu, 2007)
3. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Helena (2003), klimakterium ini diawali dengan satu fase
pendahuluan

atau

fase

preliminer

yang

menandai

satu

proses

pengahiran. Munculah tanda-tanda antara lain :


1. Menstruasi menjadi tidak lancar atau tidak teratur, datang dalam
interval waktu yang lebih lambat atau lebih awal.
2. Haid yang keluar banyak sekali, atau malah sedikit sekali.
3. Muncul gangguan vasotoris berupa penyempitan atau pelebaran
pembuluh darah.
4. Merasa pusing-pusing, sakit kepala terus menerus.
5. Berkeringat terus-terusan.

6. Neuralgia atau nyeri syaraf terus-terusan.


Gejala Psikologis pada masa klimakterimum :
a. Kemurungan
b. Mudah tersinggung / mudah marah
c. Mudah curiga
d. Insomnia
e. Tertekan
f. Kesepian
g. Tidak sabar
h. Tegang dan cemas
Syndrome Menopouse pada masa klimakterimum :
a. Berhentinya menstruasi, makin jarang dan makin sedikit
b. Mengalami atropi pada sistem reproduksi
c. Penampilan kewanitaan menurun
d. Keadaan fisik kurang nyaman
e. Kemerah-merahan pada leher, dahi, bagian atas dada, berkeringat,
pusing, iritasi, friigid
f. Berat badan
g. Perubahan kepribadian
4. PATOFISIOLOGI
Klimakterium bukanlah suatu keadaan patologis, melainkan masa
peralihan

yang

Klimakterium

berlangsung

dimulai

sebelum

kira-kira

4-5

dan

sesudah

menopause.

tahun

sebelum

menopause

berdasarkan keadaan endokrinologik (estrogen turun dan kadar hormon


gonadotropin naik) dan jika ada gejala-gejala klinis.
Bila

pubertas

disebabkan

oleh

mulainya

sintesis

hormon

gonadotropin oleh hipofisis, klimakterium disebabkan oleh kurang


bereaksinya ovarium terhadap rangsangan hormon itu. Hal ini disebabkan
karena ovarian menjadi tua sehingga dapat dikatakan ovarium lebih cepat
tua daripada organ tubuh lainnya.

Proses menjadi tua sudah dimulai pada umur 40 tahun. Jumlah


folikel pada ovarium waktu lahir kurang lebih 750.000 buah dan pada saat
menopause tinggal beberapa ribu buah. Tambahan pula folikel yang tersisa
ini rupanya juga lebih resisten terhadap rangsangan gonadotropin. Dengan
demikiian, siklus ovarian yang terdiri atas pertumbuhan folikel, ovulasi,
dan pembentukan korpus luteum lambat laun akan terhenti. Pada wanita di
atas 40 tahun siklus haid untuk 25% tidak disertai ovulasi, jadi bersifat
anovulatorik.
Pada klimakterium terdapat penurunan produksi estrogen dan
kenaikan hormon gonadotropin. Kadar hormon akhir ini terus tetap tinggi
sampai kira-kira setelah menopause, kemudian mulai menurun. Tinggi
kadar hormon gonadotropin disebabkan oleh kurangnya produksi estrogen
sehingga native feedback gonadotropin berkurang. (Widyastuti, 2009)
5. FAKTOR RESIKO
Menurut Rebecca, 2007 faktor resiko terjadinya menopause meliputi :
1. Genetik
Usia menarche (menstruasi pertama kali) mempengaruhi cepat
lambatnya terjadi menopause. Semakin cepat seseorang menarche
maka kemungkinan semakin cepat pula terjadi menopause. Begitu juga
pada ibu yang banyak anak (sering melahirkan) akan lebih lambat
dibandingkan ibu yang jumlah anaknya sedikit, karena sel telurnya
akan disimpan selama masa kehamilan.
2. Nutrisi
Kekurangan nutrisi seperti kalsium, kolesterol, fosfat, dan vitamin
dapat mempengaruhi cepat lambatnya terjadi menopause.
3. Kadar hormon estrogen menurun
Hormon esterogen menurun atau berkurang mempercepat terjadinya
menopause.
4. Kebiasaan/ pola hidup

Pola hidup yang tidak sehat seperti kurang olahraga dan minum
kopi, alkohol, merokok dapat mempercepat terjadinya menopause pada
seorang wanita.
5. Tingkat pendidikan dan status ekonomi
Menopause

dipengaruhi

oleh

status

ekonomi,

disamping

pendidikan dan pekerjaan suami. Begitu juga hubungan antara tinggi


badan dan berat badan wanita yang bersangkutan termasuk dalam
pengaruh sosial ekonomi.
6. Pengangkatan kedua ovarium
Bila seorang wanita mengalami sakit pada organ kewanitaan yang
mengharuskan pengangkatan ovarium oleh dokter maka wanita
tersebut mengalami menopause dini atau bukan alamiah.

6. TANDA DAN GEJALA


Menurut Kasdu (2002) tanda dan gejala pada wanita menopause yaitu :
1. Perubahan Pola Perdarahan
Pola yang paling umum adalah penurunan bertahap jumlah dan
durasi aliran menstruasi, menyebabkan terjadinya bercak darah dan
kemudian berhenti. Beberapa wanita akan mengalami menstruasi yang
lebih sering atau lebih berat, hal ini biasanya refleksi dan produksi
estrogen folikuler yang terus-menerus dengan atau tanpa ovulasi
2. Hot flash
Periode berulang dan sementara terjadinya kemerahan, berkeringat,
dan perasaan panas, sering kali disertai palpitasi dan perasaan ansietas,
dan kadang-kadang diikuti dengan demam.
3. Gangguan tidur

Masalah tidur yang berkaitan dengan menopause mungkin


berkaitan dengan hot flash. Wanita menopause dengan keluhan hot
flash berat beresiko gangguan tidur.
4. Perubahan Atropik
Efek jangka panjang penurunan kadar estrogen termasuk penipisan
epitelium vagina dan serviks, lapisan kapiler menjadi lebih tampak
sebagai kemerahan yang terputus-putus. Ukuran serviks biasanya
mengecil

dengan

menurunnya

produksi

mukus

yang

dapat

menyebabkan disparenia. Traktus urinarius juga menunjukkan


perubahan setelah menopause. Gejalanya dapat meliputi kering atau
gatal pada vulva dan vagina atau dispareunia.
5. Perubahan Psikofisiologis
Trias gejala psikologis yang sering

kali

disebut

dalam

hubungannya dengan menopause adalah depresi alam perasaan,


insomnia, dan penurunan minat seksual.
6. Perubahan Berat Badan
Rekomendasi untuk meningkatkan olahraga dan diet sehat yang
meliputi pengawasan asupan kalori dan lemak harus dibuat untuk
wanita seiring pertambahan usia mereka.
7. Perubahan Kulit
Sebagian besar perubahan kulit yang diperhatikan wanita pada
masa menopause adalah kerusakan karena sinar matahari. Perubahan
lain meliputi kulit kering, banyak berkeringat, pengerutan, perubahan
fungsi pelindung, penipisan, dan penurunan penyembuhan luka.
8. Seksualitas
Mayoritas wanita yang mengalami menopause alami mengalami
penurunan dalam hasrat seksual, kesenangan erotik, atau orgasme dan

penurunan potensi seksual lebih sedikit pada wanita dibanding pria


selama proses penuaan.
9. Perubahan Fungsi Tiroid
Disfungsi tiroid menjadi lebih umum terjadi seiring pertambahan
usia wanita.

7. PENATALAKSANAAN
Menurut Brunner & Suddarth (2001), penatalaksanaan untuk
wanita dengan klimakterium dan menopause adalah sebagai berikut :
1. Mengubah gaya/pola hidup
a. Mengkonsumsi makanan yang kaya akan kalsium.
b. Mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin seperti buahbuahan dan sayuran.
c. Mengurangi konsumsi kopi, teh, minuman soda, dan alkohol.
d. Menghindari merokok.
2. Olahraga
Olahraga akan meningkatkan kebugaran dan kesehatan seseorang,
biasanya ini juga membawa dampak positif, seperti :
a.

Menguatkan tulang

b.

Meningkatkan kebugaran

c.

Menstabilkan berat badan

d.

Mengurangi keluhan menopause

e.

Mengurangi stress akibat menopause


Olahraga bagi wanita yang mengalami menopause tentu saja

berbeda dengan wanita yang masih dalam usia reproduktif karena


biasanya beberapa organ tubuhnya sudah tidak berfungsi sempurna,
selain itu beberapa penyakit sudah dideritanya. Jadi tujuan olahraga
bagi wanita menopause adalah selain menjaga kebugaran juga untuk
mengurangi atau mengobati penyakit. Jenis-jenis olahraga yang bisa
dilakukan untuk wanita usia menopause yaitu jalan cepat, senam, dan
berenang. (Kasdu, 2002)

3. Terapi penggantian hormon (HRT)


Penggantian estrogen tunggal bisa dikombinasikan. HRT dapat
menurunkan atau menghilangkan rasa panas, dapat membantu
pencegahan osteoporosis.
Syarat penggantian esterogen yang harus dipenuhi meliputi
tekanan darah tidak pernah tinggi, pemeriksaan sitologik normal,
besar uterus normal, tidak ada miom uterus, tidak ada varises di
ekstremitas bawah, tidak terlalu gemuk, kelenjar tiroid normal, kadar
normal (Hb, kolesterol total, HDL, trigliserida, kalsium, fungsi hati),
konsultasikan terlebih dahulu pada spesialis penyakit dalam apabila
ditemukan nyeri dada, hipertensi kronik, hiperlipidemia, dan diabetes
melitus.
Sediaan estrogen tidak diberikan apabila terdapat, tromboemboli,
menderita penyakit hati, koleltiasis, sindrom Dubin Johnson Rotor
(gangguan sekresibilirubin), riwayat ikterus dalam kehamilan,
karsinoma endometrium, karsinoma mammae, riwayat gangguan
penghilatan, anemia berat, varises berat, tromboflebitis, penyakit
ginjal.
4. Terapi komplementer : arklimakteriumterapi, yoga, homeopati
5. Terapi sulih hormon (TSH)
Untuk mengurangi keluhan pada wanita dengan keluhan atau
sindrom klimakterium menopause dalam masa premenopause dan
postmenopause. Selain itu, TSH juga berguna untuk menjaga berbagai
keluhan yang muncul akibat menopause, seperti keluhan vasomotor,
vagina yang kering, dan gangguan pada saluran kandung kemih.
Penggunaan TSH juga dapat mencegah perkembangan penyakit akibat
dari kehilangan hormon estrogen, seperti osteoporosis dan jantung
koroner. Jadi, tujuan pemberian TSH adalah sebagai suatu usaha untuk
mengganti

hormon

yang

ada

pada

keadaan

normal

untuk

mempertahankan kesehatan wanita yang bertambah tua. (Kasdu,


2002)

Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah /mengatasi kejengkelan


fisik :
a. Untuk mengatasi gatal-gatal dan ras terbakar pada vulva :
bicarakan

dengan

pemberi

perawatan

kesehatan

untuk

menyingkirkan abnormalitas dermatologis untuk mendapatkan


resep krim pelumas/hormonal
b. Untuk mencegah dispareunia (rasa sakit ketika berhubungan
seksual) : gunakan lubrikan yang larut dalam air, seperti jelly K-Y,
krim hormon atau foam kontrasepsi
c. Memperbaiki otot tonus perineal dan kontrol kandung kemih
dengan

mempraktikkan

latihan

Kegels

setiap

hari

mengkontraksikan otot-otot perineal seperti ketika mnghentikan


ketika berkemih, tahan 5-10 detik dan bebaskan.
d. Untuk mencegah kekeringan kulit : gunakan krim dan lotion kulit
e. Untuk mencegah osteoporosis : amati asupan kalsium dengan
meminum suplemen kalsium dan susu yang dapat membantu untuk
memperlambat proses osteoporosis
f. Untuk mencegah infeksi saluran kemih : minum 6-8 gelas air setiap
hari dan vitamin C (500 mg) sebagai cara untuk mengurangi infeksi
saluran kemih yang berhubungan dengan atrofi uretra
g. Aktivitas

seksual

yang

sering

dapat

membantu

untuk

mempertahankan elastisitas vagina


8. KOMPLIKASI
Menurut Mansjoer (2001), komplikasi yang dapat ditimbulkan dari
menopause adalah sebagai berikut :
1. Penyakit Jantung Koroner
Keluhan yang mempengaruhi fungsi jantung dan pembuluh darah
meliputi : kulit terasa kering, keriput dan longgar dari ototnya oleh
karena turunnya sirkulasi menuju kulit, badan terasa panas termasuk
wajah, terjadi perubahan sirkulasi pada wajah yang dapat melebar ke

tengkuk (hot flushes), mudah berdebar debar terjadi tekanan darah


tinggi yang berlanjut ke penyakit jantung koroner.
Adanya hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol menyebabkan
meningkatkan faktor resiko terhadap terjadinya aterosklerosis.
Khususnya mengenai sklerosis primer koroner dan infark miocard
akan terjadi 1-2 kali lebih sering setelah kadar estrogen menurun.
2. Masalah urogenital
a. Ketidakmampuan mengendalikan buang air kecil (inkontinensia)
b. Infeksi saluran kemih
3. Osteoporosis
Dengan turunnya kadar estrogen, maka proses osteoblast yang
berfungsi membentuk tulang baru terhambat dan fungsi osteoclast
merusak tulang meningkat. Akibat tulang tua diserap dan dirusak
osteoclast tetapi tidak dibentuk tulang baru oleh osteoblast, sehingga
tulang menjadi osteoporosis.
4. Dimensia
Wanita pascamenopause biasanya kemampuan berfikir dan
ingatannya menurun hal ini merupakan pengaruh dari menurunnya
hormon estrogen, dimana hormon estrogen ini dapat mempengaruhi
kerja dari degenerasi sel sel saraf dan sel sel otak.
B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
Menurut Doenges (2002) pengkajian yang dilaksanakan pada
wanita dengan gangguan masa klimakterium dan menopause selain
pengkajian secara umum juga dilakukan pengkajian khusus yang ada
hubungannya dengan gangguan masa klimakterium yang meliputi :
a. Haid
1) Menarche
2) Lamanya
3) Banyaknya
4) Siklus
5) Dismenore
b. Riwayat penyakit keluarga
c. Riwayat obstetri
1) Kehamilan
2) Abortus
3) Pemakaian obat kontrasepsi

d. Riwayat perkawinan
e. Kebiasaan hidup sehari-hari
1) Istirahat (tidur)
2) Pola kegiatan
3) Diet
f. Penyakit yang pernah diderita
g. Pengetahuan pasien dan keluarga tentang masalah yang sedang
dialami
h. Keluhan-keluhan yang sedang dialami

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur/fungsi
seksual
2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hot flash
3. Cemas berhubungan dengan keadaan sulit tidur, berdebar-debar, rasa
kesemutan di tangan dan kaki, serta nyeri tulang dan otot.
4. Kurang

pengetahuan

tentang

klimakterium

dan

menopause

berhubungan dengan kurang informasi tentang klimakterium dan


menopause
3. INTERVENSI
a. Dx 1: Disfungsi

seksual

berhubungan

dengan

perubahan

struktur/fungsi seksual
NOC: penuaan fisik
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan disfungsi
seksual teratasi dengan kriteria hasil:
Menunjukan keinginan untuk mendiskusikan perubahan fungsi
seksual
Meminta informasi yang dibutuhkan tentang perubahan fungsi
seksual
NIC: modifikasi perilaku
Intervensi:

1) Ciptakan lingkungan saling percaya dan beri kesempatan kepada


klien untuk menggambarkan masalahnya dalam kata-kata
sendiri.
2) Beri informasi tentang kondisi individu
3) Diskusikan dengan klien tentang penggunaan cara/teknik khusus
saat berhubungan (misalnya: penggunaan minyak vagina)
b. Dx 2: Gangguan pola tidur berhubungan dengan hot flash
NOC: tidur
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pola
tidur klien normal, dengan kriteria hasil :
Klien tidak sering terbangun saat tidur
Palpebra tidak hitam
NIC: peningkatan tidur
Intervensi:
1) Anjurkan klien untuk memakai pakaian yang menyerap
keringat
2) Anjurkan klien untuk menghindari makanan berbumbu, pedas,
dan goreng-gorengan, alkohol
3) Anjurkan klien untuk menghindari beraktivitas di cuaca yang
panas
4) Anjurkan klien untuk mencuci muka saat hot flashes terjadi
5) Kolaborasi pemberian estrogen
c. Dx 3: Cemas berhubungan dengan stres psikologis (sulit tidur,
berdebar-debar, kesemutan di kaki )
NOC: tingkatan ansietas
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan cemas
berkurang atau hilang, dengan kriteria hasil:
Klien merasa rileks
Klien dapat menerima dirinya apa adanya
NIC: penurunan ansietas
Intervensi:
1) Kaji tingkat ketakutan dengan cara pendekatan dan bina
hubungan saling percaya

2) Pertahankan lingkungan yang tenang dan aman serta


menjauhkan benda-benda berbahaya
3) Ajarkan penggunaan relaksasi
4) Beritahu tentang penyakit klien dan tindakan yang akan
dilakukan secara sederhana.
d. Dx 4: Kurang pengetahuan tentang klimakterium dan menopause
berhubungan dengan kurangnya informasi tentang klimakterium
dan menopause
NOC: pengetahuan: klimakterium dan memopause
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien
mengungkapkan pengetahuannya bertambah, dengan kriteria hasil:
Klien tahu penyebab keadaan saat ini
Klien dapat menyesuaikan diri dengan keadaannya
Klien tidak bertanya-tanya tentang keadaannya
NIC: teaching: proses klimakterium dan menopause
Intervensi:
1) Kaji tingkat pengetahuan klien tentang keadaannya
2) Beri penjelasan tentang proses, penyebab, gejala klimakterium
dan menopause
3) Diskusikan tentang perlunya pengaturan/diet makanan,
penggunaan suplemen.

4. EVALUASI
Menurut

Doenges

(2002),

setelah

dilakukan

implementasi

keperawatan maka evaluasi yang di harapkan untuk pasien dengan


klimakterium si antaranya sebagai berikut :
- Pasien melaporkan perubahan dalam pola tidur/istirahat
- Pasien mengungkapkan peningkatan rasa sejahtera atau segar
- Pasien mamapu mempertahankan orientasi realita sehari hari
- Pasien mampu mengenali perubahan pola pemikiran dan tingkah laku
- Pasien menyatakan nyeri berkurang/terkontrol
- Pasien tampak rileks
- Pasien mampu melakukan aktivitas
- Pasien menyatakan masalah dan menunjukkan pemecahan masalah
- Pasien menyatakan penerimaan diri pada situasi
- Pasien menyatakan pemahaman perubahan fungsi seksual
- Pasien mampu mendiskusikan masalah tentang hasrat seksual
- Pasien mampu mengidentifikasi kepuasan seksual yang diterima

DAFTAR PUSTAKA

Baziad, Ali. 2003. Menopause dan Andropause. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :
EGC
Deutch, Helena. 2003. Psycholoy of women, A psychoanalytic inter Pretation,
Vol.II. Batam : Motherhood
Doenges, E, Marilyn. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta :
EGC
Kasdu, Dini. 2002. Kiat Sehat dan Bahagia di Usia Menopause. Jakarta :
Puspa Swara
Mansjoer, Arief. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta: Media
Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Purwoastutik, Endang. 2008. Menopause Siapa Takut. Yogyakarta : Kanisius
Rahayu, Siti. 2007. Menopause Tanpa Stress. Jakarta, Penerbit Sunda Kelapa
Pustaka
Rebecca Fox-Spencer. 2007. Simple Guide Menopause. Jakarta : Erlangga
Syafrudin. 2009. Promosi Kesehatan Untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta :
Trans infomedia
Varney, H. 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC
Widyastuti, Yani dan Anita Rahmawati, Yuliasti, E. 2009. Kesehatan
Reproduksi.Yogyakarta. Fitramaya

Anda mungkin juga menyukai