Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM MIKROTEKNIK

METODE PARAFIN PADA TUMBUHAN

Disusun oleh:
Nama

: Winarni

NIM

: K4312074

Kelas

:B

Kelompok

: 10

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014

I.
II.

JUDUL
Metode Parafin pada Tumbuhan
TUJUAN
Untuk mengetahui bahan, alat dan cara pembuatan sediaan irisan
jaringan tumbuhan dengan metode parafin.

III.

DATA PENGAMATAN
Akar

Kaktus

10x

Akar

Kaktus

20x

Akar Padi 20x

Akar Padi 40x

Akarr
Kaktus20x

Batang
Kacang 10x

Batang
Kacang 20x

Batang
Kacang2 10x

Batang
Selederi2 10x

Batang Seledri
10x

Benang

Sari

Cabe 10x

Biji
10x

Kacang

Biji Kacang2
10x

Bji Kacang 3
10x

Bunga Cabe1
10x

Bunga Cabe2
10x

Bunga Cabe3
10x

Daun

Ficus

Tengah1 10x

Daun

Ficus

Tengah2 10x

Daun

Ficus

Tengah2 10x

Daun

Ficus

Tepi2 10x

Daun

Jeruk

10x

Daun

Jeruk

20x

Ovulum
Bunga

Cabe

10x

IV.

PEMBAHASAN
A. Prinsip kerja pembuatan sediaan preparat dengan metode
parafin:
Hari ke I:
a) Pencucian
Mencuci organ dengan air, jangan sampai merusak
organ. Kemudian memasukkan kedalam flakon.

b) Koleksi organ tumbuhan:


Bunga
1. Mengambil bunga yang masih kuncup
2. Potong bagian ujung untuk mendapatkan
benang sari dan putik, dan potong bagian

pangkal untuk mendapatkan ovul.


Daun
1. Memotong daun dengan bentuk persegi
empat pada bagian daun yang terdapat

tulang daun atau urat daun.


Akar
1. Memotong akar secara melintang
Batang
1. Memotong batang secara melintang
Biji
1. Mengambil bagian biji

c) Fiksasi :

Dipakai larutan
Formalin
5 bagian
Asam asetat glasial 5 bagian
Alkohol 70% 90 bagian
Diamkan selama 24 jam
Hari ke II : Pencucian dan dehidrasi:
Fiksatif dibuang lalu diganti berturut-turut
dengan:
Alkohol 70%.................................. 30 menit
Alkohol 80%.................................. 30 menit
Alkohol 95%.................................. 30 menit
Alkohol 100%................................ 30 menit
Alkohol 100%................................ 30 menit
Dealkoholisasi:............................................
Alkohol / xilol 3:1.......................... 30 menit
Alkohol / xilol 1:1.......................... 30 menit
Alkohol / xilol 1:3.......................... 30 menit
Xilol .............................................. 30 menit
Xilol .............................................. 30 menit
Campuran Xilol / parafin 1:9 dengan temperatur
Hari ke III

57C selama 24 jam


: Infiltrasi: Campuran xilol/parafin dibuang diganti
dengan paraffin murni.
Temperatur tetap 57C selama 24 jam.

Hari ke IV

: Penyelubungan: Parafin dibuang diganti dengan parafin

Hari ke V

murni yang baru.


Setelah 1 jam dibuat balok.
: Pengirisan: Dibuat irisan-irisan dengan menggunakan
Rotary

mikrotome

dengan

ketebalan

6-12m

(mikronmeter).
Perekatan: Irisan direkatkan pada gelas benda dengan
campuran Gliserin: Albumin yang dibubuhi air, kemudian
gelas benda ditaruh diatas Hot plate dengan temperatur
Hari ke VI

45C sampai pita paraffin merenggang.


: Pewarnaan : dengan safranin 1% dalam alkohol 70%.
Berturut-turut gelas benda dimasukkan dalam:
Xilol .............................................................. 3 menit
Xilol .............................................................. 3 menit
Alkohol / xilol 1:3.......................................... 3 menit
Alkohol / xilol 1:1.......................................... 3 menit
Alkohol / xilol 3:1.......................................... 3 menit
Alkohol 100% ............................................... 3 menit
Alkohol 100% ............................................... 3 menit
Alkohol 95% ................................................. 3 menit
Alkohol 80% ................................................. 3 menit
Alkohol 70% ................................................. 3 menit
Safranin 1% dalam Alkohol 70% ..................... 1 jam
Alkohol 70% ................................................. 1 menit
Alkohol 80% ................................................. 1 menit
Alkohol 95% ................................................. 1 menit
Alkohol 100% ............................................... 1 menit
Alkohol 100% ............................................... 1 menit
Alkohol / xilol 3:1.......................................... 1 menit
Alkohol / xilol 1:1.......................................... 1 menit
Alkohol / xilol 1:3.......................................... 1 menit
Xilol .............................................................. 1 menit
Xilol .............................................................. 1 menit
Penutup: Irisan ditutup dengan gelas penutup dengan
pemberian Balsam Kanada terlebih dahulu.
........Pemberian nama: Disebelah kiri gelas penutup
dilekatkan etiket dan diberi keterangan: nama spesies,
organ, penampang, dsb.

B. ALAT & BAHAN


ALAT

Nama alat
a. Wadah
untuk

Jumlah
proses secukupnya

dehidrasi-clearing
Staining jar
Label
Pinset
Kotak parafin
Rotary mikrotome
Hot plate
Waterbath
Objek glass
Deg glass

secukupnya
secukupnya
secukupnya
secukupnya
secukupnya
secukupnya
secukupnya
secukupnya
secukupnya

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
BAHAN

Nama bahan
a. Akar kaktus
b. Akar
Enceng

Jumlah
secukupnya
Gondok secukupnya

(Eichornia crassipes)
c. Batang Seledri (Apium

secukupnya

graveolens)
d. Batang Bayam (Amaranthus

secukupnya

sp)
e. Daun Jeruk purut (Citrus

secukupnya

hystrix)
f. Daun Karet kebo (Ficus

secukupnya

elastica)
g. Bunga Belimbing (Averrhoa

secukupnya

carambola)
h. Bunga Cabe

secukupnya

(Capsicum

annum)
i. Biji
Belimbing

wuluh secukupnya

(Averrhoa bilimbi)
j. Biji Cabe besar (Capsicum

secukupnya

annum)
k. Buah

(Musa

secukupnya

(Capsicum

secukupnya

Pisang

paradisiaca)
l. Buah
Cabe
annum)

Metode parafin adalah suatu metode pembuatan preparat dengan


melakukan

penanaman

jaringan

di

dalam

blok

parafin

untuk

menghasilkan preparat jaringan hewan ataupun tumbuhan yang tipis.


Preparat parafin ini dilakukan penyelubungan karena jaringan merupakan
bahan yang lunak. Pembuatan sediaan dengan pemotongan jaringan
menggunakan parafin dan mikrotom sebagai alat pemotongnya.
Dilakukan infiltrasi agar parafin yang masuk berfungsi sebagai
penyangga jaringan saat diiris dengan mikrotom, lalu diembedding
(proses penanaman) yaitu merendam jaringan ke dalam parafin cair, dan
parafin akan masuk ke seluruh bagian jaringan, proses pemotongan
dengan mikrotom, penempelan pada kaca objek, pewarnaan dengan
haematoksilin (pada umumnya bahan ini yang sering digunakan untuk
jaringan hewan) sedangkan jaringan tumbuhan seringkali menggunakan
safranin ataupun fast green. Setelah diwarnai lalu dimounting, diberi
perekat entellan, dan diberi label nama (Tjiptrosoepomo, 1993).
Irisan utuh suatu specimen sangat bermanfaat bagi studi
pembelajaran. Dengan adanya preparat utuh maka dapat diamati bagianbagian jaringan dan jenis sel yang ada dalam satu preparat. Dalam
pembuatan preparat utuh diupayakan permanen atau awet agar sewaktuwaktu dapat diamati kembali. Dalam pembuatan preparat hendaknya
dipahami karakteristik tanaman yang akan diambil sebagai spesimen.
Karakteristik tersebut dapat berdasarkan atas pengelompokan jenis
batang, termasuk dalam herba atau berkayu kemudian dilanjutkan
berdasarkan penentuan tumbuhan tersebut tergolong dalam angiospermae
atau gymnospermae dan selanjutnya tumbuhan itu tergolong dalam
tumbuhan dikotil atau monokotil. Perbedaan karakteristik tumbuhan yang
akan diambil sebagai spesimen menentukan larutan fiksatif dan zat warna
yang akan digunkan dalam pembuatan preparat (Setjo, 2004).
Karakteristik tumbuhan yang akan diambil spesimennya juga
menentukan waktu pada tahap-tahap pemrosesan. Misalnya waktu yang

berlebih pada suatu tahap pengecatan akan mengakibatkan suatu warna


menjadi terlalu gelap dan mungkin warna lainnya menjadi kurang atau
bahkan hilang. Keberhasilan pembuatan preparat permanen ini
tergantung pada lima tahap yang utama yaitu fiksasi, dehidrasi,
penjernihan, perembesan dan pengeblokan parafin serta pewarnaan.
Larutan fiksatif yang dipilih, perembesan parafin yang bagus dan zat
warna yang akan digunakan menentukan keberhasilan preparat irisan
(Setjo, 2004).
Metode paraffin merupakan metode pembuatan preparat awetan
yang banyak digunakan karena memiliki beberapa keuntungan yaitu
proses embedding lebih cepat dan lebih simpel, material embedding
dapat disimpan dalam waktu yang lama pada kondisi kering, serta dapat
membuat irisan yang tipis. Embedding menggunakan paraffin sangat baik
digunakan untuk studi embriologi, anatomi dan sitologi (Khasim, 2002).
Prosedur pembuatan sediaan menggunakan metode parafin pada
umumnya sama baik pada jaringan hewan maupun tumbuhan. Pertama
tama organ yang akan dijadikan preparat diisolasi terlebih dahulu,
kemudian difiksasi minimal 24 jam. Fiksasi ini bertujuan untuk
mengawetkan semua struktur sel sehingga sedapat mungkin berada
dalam keadaan sama atau hampir sama dengan pada waktu masih hidup.
Selanjutnya yaitu didehidrasi dengan alkohol bertingkat selama 30 menit.
Dehidrasi ini bertujuan untuk menarik air yang masih terdapat dalam
jaringan. Kemudian, diclearing dengan xilol murni juga selama 30 menit
yang berfungsi untuk membersihkan sisa alkohol yang masih terdapat
dalam jaringan untuk digantikan dengan xilol. Selanjutnya diinfiltrasi
agar parafin yang masuk berfungsi sebagai penyangga jaringan saat diiris
dengan mikrotom, lalu diembedding (proses penanaman) yaitu
merendam jaringan ke dalam parafin cair, dan parafin akan masuk ke
seluruh bagian jaringan, proses pemotongan dengan mikrotom,
penempelan pada kaca objek, pewarnaan dengan haematoksilin (pada
umumnya bahan ini yang sering digunakan untuk jaringan hewan)

sedangkan jaringan tumbuhan seringkali menggunakan safranin ataupun


fast green. Setelah diwarnai lalu dimounting, diberi perekat entellan, dan
diberi label nama (Santoso, 2002).
Pada organ hewan, Embedding merupakan proses pelilinan suatu organ
dengan menggunakan kotak kertas. Proses ini memudahkan dalam
membuat irisan yang sangat tipis dengan menggunakan mikrotom.
Beberapa keuntungan menggunakan kotak kertas dalam embedding yaitu
bisa membuat arah sayatan dan menandai suatu jaringan. Jaringan atau
sampel akan ditanam di ketas kotak, dengan terlebih dahulu parafin
membeku pada bagian dasar dalam kotak dan setelah penempelan
jaringan dilanjutkan dengan penutupan dengan parafin sampai membeku
(Al-farizi, 2011).
Proses penyayatan (sectioning) diawali dengan pengirisan blok
parafin dengan scalpel, sehingga permukaan blok parafin yang akan diiris
dengan mikrotom berbentuk segi empat. Letak mata pisau pada
mikrotom menentukan hasil yang diperoleh. Hasil sayatan diambil
dengan menggunakan kuas secara hati-hati. Pita hasil sayatan ditempel
pada kaca objek dengan menggunakan meyer albumin. Kaca obyek
tersebut diletakkan di atas meja penangas ( haeting plate). Meyer albumin
memiliki kandungan putih telur dan gliserin dan merupakan pelakat
alami yang sangat baik (Hugo 2008).Proses pewarnaan dilakukan setelah
preparat dideparafinasi dengan merendam preparat pada xylol. Salah satu
pewarna metode parafin pada jaringan hewan adalah hematoxylin dan
Eosin. Zat warna hematoxilin ini bersifat aquaosa (Al-farizi, 2011).
Kelebihan dari metode parafin ini adalah (Maximilian, 2011) :

Irisan dapat jauh lebih tipis daripada menggunakan metode beku


maupun seloidin, dengan metode parafin tebal irisan dapat
mencapai rata-rata 6 mikron.
Irisan-irisan yang bersifat seri dapat dikerjakan dengan mudah.
Prosesnya lebih cepat dari metode lain.

Kelemahan dari metode ini adalah (Maximilian, 2011) :

Jaringan menjadi keras, mengerut dan mudah patah.

Jaringan-jaringan yang besar tidak dapat dikerjakan, bila

menggunakan metode ini.


Sebagian besar enzim-enzim akan larut dengan metode ini.

V. KESIMPULAN
1. Metode parafin adalah suatu cara pembutan sediaan baik itu tumbuhan
ataupun hewan dengan menggunakan parafin
2. Prosedur pembuatan sediaan menggunakan metode parafin pada
umumnya sama baik pada jaringan hewan maupun tumbuhan yaitu
diseksi, fiksasi, pencucian dan dehidrasi, dealkoholisasi, infiltrasi,
embedding,

penyayatan,

affixing,

pewarnaan,

penutupan

dan

pemberian nama atau pelabelan


3. Hasil pengamatan yang dilakukan :
No
1.

Nama Organ
Akar Kaktus

Data Hasil Pengamatan


Merupakan akar dikotil dengan anatomi
sebagai

berikut

epidermis,

korteks,

endodermis, stele. Ciri khusus : Xilem dan


floem pada tumbuhan kaktus tersusun radial
atau membentuk jari-jari. Xilem berbentuk
bintang di pusat dan floem mengelilingi
1. Akar Padi

xilem.
Merupakan akar monokotil dengan anatomi
sebagai

berikut

epidermis,

korteks,

endodermis, dan stele. Letak keduanya saling

berdekatan

karena

tidak

memiliki

kambium.Empulur, terletak di bagian tengah


serta dikelilingi xilem dan floem yang
3.

Batang Seledri

berselang-seling.
Merupakan batang dikotil herba jadi tidak
memiliki kambium gabus. Batang Seledri
memiliki anatomi batang terdiri dari :

4.

Batang kacang tanah

Epidermis, korteks, endodermis dan stele.


Merupakan batang dikotil herba dengan
anatomi batang terdiri dari : Epidermis,
korteks, endodermis dan stele. Aktivitas
kambium

yang

menyebabkan

perbedaan

jumlah floem dan xilem. Jumlah floem dan


xilem yang dibentuk lebih sedikit. Bagian
korteks
5.

Daun ficus elastica

tersusun

makanan.
Merupakan

daun

menyimpan
tanaman

cadangan

dikotil

yang

anatominya terdiri dari : epidermis atas,


jaringan mesofil yang terdiri dari jaringan
tiang dan bunga karang, jaringan pengankut
6.

Daun Jeruk

dan epidermis bawah.


Merupakan daun tanaman

dikotil

yang

anatominya terdiri dari : epidermis atas,


jaringan mesofil yang terdiri dari jaringan
tiang dan bunga karang, jaringan pengankut
7.

Bunga cabai

dan epidermis bawah.


Antera bunga cabai

yang

terdiri

dari

epidermis anter, endotesium, tapetum, dan


butir polen. Saat anter merekah terdapat celah
yang disebut stomium yang memungkinkan
8.

butir polen keluar.


Benang sari bunga cabai a. Benang
sari
bunga

cabai

terdiri

:epidermis,endotesium,tapetum.kandungan

sel-selnya diserap oleh butir polen selama


perkembangannya. Butir polen (mikrospora)
merupakan spora jantan yang menghasilkan
gamet jantan.
9.
10.

Ovulum bunga cabai


Biji kacang tanah

Biji kacang terdiri dari epidermis, jaringan


vaskuler dan parenkim. Jaringan vaskuler biji
kacang menyebar di embrio pada kotiledon.
Sel parenkim terdiri dari spherosom, aleuron,
dan butir amilum

VI.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell NA. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid II. Erlangga. Jakarta.
Dwijoseputro D. 1984. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta:
Penerbit PT Gramedia.
Estiti, B. Hidayat. 1997. Anatomi Tumbuhan Berbiji. ITB Press:
Bandung
Fahn A . 1992. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada Press.
Hartanto, L ; Sumardi, Issirep. 2008. Anatomi Tumbuhan Berbiji
(spermatophita). Penebar Swadaya : Bogor
Lakitan B. 1996. Fisiologi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Jakarta : Rajawali Pers.
Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.
Rudyatmi, Ely. 2012. Bahan Ajar Mikroteknik. Semarang: Jurusan
Biologi FMIPA UNNES
Salisbury, Frank B. dan Ross, Cleon W. 1995. Fisiologi Tumbuhan.
Bandung: ITB.
Syarif 2009. Struktur dan Fungsi jaringan Tumbuhan. Bandung : Pusat
pengembangan dan pemberdayaan Pendidikan.
Tjitrosoepomo HS. 1989. Botani Umum. UGM Press. Yogyakarta.
Tri Wahyu Agustina. 2010. Materi Pokok Ajar Anatomi Tumbuhan.
Bandung: Pendidikan Biologi
Wibisono Surodikusumo dan Suikno.2011. Petunjuk Praktikum
Mikroteknik Tumbuhan. Laboratorium Mikroteknik Tumbuhan.
UGM Yogyakarta

VII.

LAMPIRAN
1 lembar laporan sementara
2 lembar foto dokumentasi