Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

BRONKOPNEUMONIA

OLEH:
Rizky Bella Mulyaningsasi
NIM 132310101043

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
2015

LAPORAN PENDAHULUAN
A. Definisi Penyakit
Bronkopneumonia terdiri dari kata bronkus (salah satu bagian dalam saluran
nafas) dan pneumonia (suatu keadaan dimana parenkim paru mengalami proses
inflamasi yang paling umum disebabkan oleh agen infeksi). Dengan demikian,
Bronkopneumonia dapat didefinisikan sebagai gangguan sistem pernafasan yang
digambarkan dengan adanya inflamasi parenkim paru yang awalnya terjadi di
bronkus terminalis dan area sekitar alveolus. Bronkopneuminia disebabkan oleh
virus, jamur, benda asing atau bakteri yang menyebabkan bercak-bercak
terdistribusi pada parenkim paru (Patchy Distribution) yang berkonsolidasi dan
menyebabkan penyumbatan bronkus. Bakteri yang sering ditemukan atau sebagai
penyebab bronkopneumonia antara lain stafilokokus, pneumokokus, Haemophilus
influenza, P seudomonas aeruginosa.
B. Epidemiologi
Insiden bronkopneumonia pada Negara berkembang hampir 30% pada anakanak

dibawah

umur

tahun

dengan

resiko

kematian

yang

tinggi.

Bronkopneumonia merupakan penyumbang kematian balita di dunia sekitar 1,62,2 juta balita dengan proporsi 19%, sedangkan di Amerika pneumonia
menunjukkan angka 13% dari seluruh penyakit infeksi pada anak di bawah umur
2 tahun. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008, pneumonia yang
terjadi pada balita berdasarkan laporan 26 provinsi, tiga provinsi dengan cakupan
tertinggi berturut-turut adalah provinsi Nusa Tenggara Barat 56,50%, Jawa Barat
42,50% dan Kepulauan Bangka Belitung 21,71%. Sedangkan cakupan terendah
adalah provinsi DI Yogyakarta 1,81%, Kepulauan Riau 2,08%, dan NAD 4,56%.
Selain

itu,

hasil

penelitian

diperoleh

trend

kunjungan

penderita

bronkopneumonia berdasarkan data tahun 2005-2009 menunjukkan penurunan.


Proporsi berdasarkan sosiodemografi yaitu kelompok umur 2-11 bulan 48,5%, sex
ratio168%, dan Kota Medan 71,0%. Bronkopneumonia berat 28,0%, jumlah
kunjungan berulang satu kali 94,1%, gizi buruk 4,2%, imunisasi tidak lengkap
82,9%, pendidikan ayah dan ibu SLTA dan Akademi/PT masing masing 42,9%

dan 42,1%, pekerjaan ayah pegawai swasta 39,1%, ibu rumah tangga 45,5%,
jumlah anak orang tua tiga 60,0%, anak ke tiga 60,0%, lama rawatan rata-rata
4,70 hari, dan meninggal 4,8%.
C. Etiologi
Bronkopneumonia dapat terjadi akibat beberapa faktor yang dapat
dibedakan menurut sifatnya, antara lain:
a. Faktor bersifat Infeksi
Kelompok Usia
Neonatus
Bayi

Faktor Penyebab Penyakit


Streptokokus grup B, Respiratory Sincytial Virus (RSV)
1. Virus : Parainfluenza virus, Influenza virus, Adenovirus,
RSV, Cytomegalovirus.
2. Organisme

atipikal

Chlamidia

trachomatis,

Pneumocytis.
3. Bakteri : Streptokokus pneumoni, Haemofilus influenza,
Mycobacterium tuberculosa, B. pertusis.
Anak-anak

1. Virus : Parainfluensa, Influensa Virus, Adenovirus, RSP


2. Organisme atipikal : Mycoplasma pneumonia

3. Bakteri : Pneumokokus, Mycobakterium tuberculosa


Anak besar-dewasa 1. Organisme atipikal : Mycoplasma pneumonia, C.
muda

Trachomatis
2. Bakteri : Pneumokokus, B. Pertusis, M. tuberculosis

b. Faktor Non Infeksi


Bronkopneumonia dapat terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks esophagus
yang meliputi :
1. Bronkopneumonia hidrokarbon
Terjadi oleh karena aspirasi selama penelanan muntah atau sonde
lambung ( zat hidrokarbon seperti pelitur, minyak tanah dan bensin).
2. Bronkopneumonia lipoid
Terjadi akibat pemasukan obat yang mengandung minyak secara
intranasal, termasuk jeli petroleum. Setiap keadaan yang mengganggu

mekanisme menelan seperti latoskizis,pemberian makanan dengan posisi


horizontal, atau pemaksaan pemberian makanan seperti minyak ikan pada
anak yang sedang menangis. Keparahan penyakit tergantung pada jenis
minyak yang terinhalasi. Jenis minyak binatang yang mengandung asam
lemak tinggi bersifat paling merusak contohnya seperti susu dan minyak
ikan .
Selain faktor tersebut, daya tahan tubuh juga berpengaruh terhadap
bronkopneumonia. Menurunnya sistem imun pada penderita-penderita
penyakit yang berat seperti AIDS dan respon imunitas yang belum
berkembang pada bayi dan anak, Malnutrisi Energi Protein (MEP), penyakit
menahun, pengobatan antibiotik yang tidak sempurna merupakan faktor
predisposisi terjadinya penyakit ini.
D. Tanda dan Gejala
Pasien yang mengalami bronkopneumonia akan menunjukkan tanda
dan gejala sebagai berikut:
1. Cemas, dispnea, dan nafas cepat
Kondisi pasien yang tidak sehat membuat fungsi fisiologis tubuhnya
bekerja. Hormon adrenalin akan terstimulasi sehingga meyebabkan cemas.
Kondisi ini akan semakin memperberat sesak napas yang awalnya disebabkan
oleh penumpukan bercak putih pada saluran napas. Untuk mengkompensasi
keadaan tersebut jantung harus memoma lebih cepat sehingga menyebabkan
respirasi rate meningkat dan pasien terlihat sesak napas.
2. Demam mendadak, disertai menggigil, baik pada awal penyakit atau selama
sakit;
Kondisi ini terjadi akibat adanya proses infeksi oleh bakteri, kuman,
virus atau agen asing lainnya yang menginvasi ke dalam sistem tubuh manusia.
3. Batuk, mula-mula mukoid lalu purulen dan bisa terjadi hemoptisis;
Sekret yang mukoid menunjukkan proses infeksi mulai terjadi sampai
pada tahap puncak sedangkan hemoptisis menunjukkan bahwa terjadi inflamasi
yang lebih lanjut
4. Nyeri pleuritik, ringan sampai berat, apabila proses menjalar ke pleura (terjadi
pleuropneumonia);

5. Tanda & gejala lain yang tidak spesifik : mialgia, pusing, anoreksia, malaise,
diare, mual & muntah.
E. Patofisiologi
Bronkopneumonia selalu didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas
yang disebabkan oleh bakteri staphylococcus, Haemophilus influenza atau
karena aspirasi makanan dan minuman. Bakteri masuk ke dalam jarinagn paruparu melalui saluran pernafasan dari atas untuk mencapai bronkiolus dan
kemudian alveolus sekitarnya. Kelainan yang timbul berupa bercak konsolidasi
yang tersebar pada kedua paru-paru, lebih banyak pada bagian basal.
Pneumonia dapat terjadi sebagai akibat inhalasi mikroba yang ada di udara,
aspirasi organisme dari nasofaring atau penyebaran hematogen dari fokus
infeksi yang jauh. Bakteri yang masuk ke paru melalui saluran nafas masuk ke
bronkhioli

dan

alveoli,

menimbulkan

reaksi

peradangan

hebat

dan

menghasilkan cairan edema yang kaya protein dalam alveoli dan jaringan
interstitial.
Kuman pnemukokus dapat meluas melalui porus kohn dari alveoli ke seluruh
segmen atau lobus. Eritrosit mengalami pembesaran dan beberapa lekosit dari
kapiler paru-paru. Alveoli dan septa menjadi penuh dengan cairan edema yang
berisi eritrosit dan fibrin dan serta relative sedikit lekosit sehingga kapiler
alveoli menjadi melebar. Paru menjadi tidak berisi udara lagi, kenyal dan
berwarna merah. Pada tingkat lebih lanjut, aliran darah menurun, alveoli
penuh dengan leukosit dan relative lebih sedikit eritrosit. Kuman pnemukokus
di fagositosis oleh leukosit dan sewaktu resolusi berlangsung, makrofag
masuk ke dalam alveoli dan menelan leukosit bersama kuman pnemokokus di
dalamnya. Paru masuk dalam tahap hepatisasi abu-abu dan tampak abu-abu
kekuning-kuningan. Secara perlahan sel darah merah yang mati dan eksudat
fibrin di buang dari alveoli sehingga terjadi resolusi sempurna, paru menjadi
normal kembali tanpa kehilangan kemampuan dalam pertukaran gas. Akan
tetapi apabila proses konsolidasi tidak dapat berlangsung dengan baik maka
setelah edema dan terdapatnya eksudat pada alveolus maka membrane dari
alveolus akan mengalami kerusakan yang dapat mengakibatkan gangguan

proses difusi osmosis oksigen pada alveolus. Perubahan tersebut akan


berdampak pada penurunan jumlah oksigen yang di bawa oleh darah.
Penurunan itu yang secara klinis penderita mengalami pucat sampai sianosis.
Terdapatnya cairan purulen pada alveolus juga dapat mengakibatkan
peningkatan tekanan pada paru sehingga dapat mengakibatkan penurunan
kemampuan mengambil oksigen dari luar dan berkurangnya kapasitas paru.
Penderita akan berusaha melawan tingginya tekanan tersebut menggunakan
otot-otot bantu pernafasan (otot interkosta) yang dapat menimbulkan retraksi
dada. Secara hematogen maupun langsung (lewat penyebaran sel)
mikroorganisme yang terdapat di dalam paru dapat menyebar ke bronkus.
Setelah terjadi fase peradangan lumen bronkus berserbukan sel radang akut,
terisi eksudat (nanah) dan sel epitel rusak. Bronkus dan sekitarnya penuh
dengan netrofil (bagian leukosit yang banyak pada saat awal peradangan dan
bersifat fagositosis) dan sedikit eksudat fibrinosa. Bronkus rusak akan
mengalami fibrosis dan pelebaran akibat tumpukan nanah sehingga dapat
timbul bronkiektasis.
Selain itu organisasi eksudat dapat terjadi karena absorsi yang lambat. Eksudat
pada infeksi ini mula-mula encer dan keruh, mengandung banyak kuman
penyebab (strepkokus, virus dan lain-lain). Selanjutnya eksudat berubah
menjadi purulen, dan menyebabkan sumbatan pada lumen bronkus. Sumbatan
tersebut dapat mengurangi asupan oksigen dari luar sehingga penderita
mengalami sesak nafas. Terdapatnya peradangan pada bronkus dan paru juga
akan mengakibatkan peningkatan produksi mukosa dan peningkatan gerakan
silia pada lumen bronkus sehingga timbul peningkatan gerakan silia pada
lumen bronkus sehingga timbul peningkatan reflek batuk. Perjalanan
patofisiologi di atas bias berlangsung sebaliknya yaitu didahului dulu dengan
infeksi pada bronkus kemudian berkembang menjadi infeksi pada paru.
F. Komplikasi
Komplikasi yang timbul dari bronkopneumonia menurut ngastiyah (2005)
dan perhimpunan dokter paru indonesia (2003) yaitu :
1. Emfisema

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Otitis media akut


Efusi pleura
Abses paru
Pneumothoraks
Gagal nafas
Sepsis
Meningitis

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan darah
Pada kasus bronkopneumonia oleh bakteri akan terjadi leukositosis
(meningkatnya jumlah neutrofil)
b. Pemeriksaan sputum
Bahan pemeriksaan diperoleh dari batuk yang spontan dan dalam.
Digunakan untuk pemeriksaan mikroskopis dan untuk kultur serta tes
sensifitas untuk mendeteksi agen infeksius
c. Analisa gas darah untuk mengevaluasi status oksigenasi dan status asam
basa
d. Kultur darah untuk mendeteksi bakterimia
e. Sampel darah, sputum, dan urin untuk tes imunologi untuk mendeteksi
antigen mikroba
2. Pemeriksaan radiologi
a. Rontgenogram thoraks
Menunujukan konsolidasi lobar yang seringkali dijumpai pada infeksi
pneumokokal atau klebsiella. Infilrate multiple seringkali dijumpai pada infeksi
stafilokokus dan haemofilus
H. Clinical Pathway

I.

Penatalaksanaan Medis
Pada dasarnya pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi

tetapi hal ini tidak dapat selalu dilakukan dan memakan waktu yang cukup lama,
maka dalam praktek diberikan pengobatan polifragmasi seperti penisilin diambah
dengan kloramfenikol atau diberi antibiotik yang mempunyai spektrum luas
seperti ampicillin. Pengobatan diteruskan sampai bebas demam selama 4 5 hari.
Adapun berapa pengobatan secara medis atau penatalaksanaan yang dapat
dilakukan yaitu :
1.
2.
3.
4.

Bed rest
Jumlah cairan disesuaikan dengan berat badan dan kenaikan suhu.
Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit
Pemberian antibiotik sesuai biakan atau berikan :
a. Untuk kasus pneumonia community base :
- Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian
- Kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian

b. Untuk kasus pneumonia hospital base :


- Sefotaksim 100 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian
- Amikasin 10-15 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberia
- Antipiretik : paracetamol 10-15 mg/kgBB/x beri
- Mukolitik : Ambroxol 1,2-1,6 mg/kgBB/2 dosis/oral
5. Bila terdapat obstruksi jalan napas, dan lendir serta ada febris, diberikan
broncodilator.
6. Jika sesak tidak terlalu hebat, dapat dimulai makanan enteral bertahap
melalui selang nasogastrik dengan feeding drip. Jika sesaknya berat maka
pasien harus dipuasakan.
J.

Penatalaksanaan Keperawatan
J.1 Diagnosa Keperawatan yang Sering Muncul (PES)
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
3. Gangguan pertukaran gas
4. Gangguan keseimbangan cairan
5. Intoleransi aktivitas

J. 2 Perencanaan/Nursing Care Plan


NO.

Diagnosa
Keperawatan

Perencanaan
Tujuan dan Kriteria
Hasil

Intervensi

Rasional

1.

Bersihan jalan
nafas tidak efektif
berhubungan
dengan
penumpukan
sputum

Tujuan : setelah
dilakukan tindakan
keperawatan
diharapkan masalah
bersihan jalan nafas
tidak efektif teratasi,
dengan kriteria hasil:
1. Menyatakan/m
enunjukkan
hilangnya
dispnea
2. Mempertahank
an jalan nafas
paten dengan
bunyi nafas
bersih/tidak
ada ronchi
3. Mengeluarkan
sekret tanpa
kesulitan
4. Menunjukkan
perilaku untuk
memperbaiki/
mempertahank
an bersihan
jalan nafas

2.

Nutrisi kurang
dari kebutuhan

Tujuan: Setelah
dilakukan tindakan

1. Kaji frekuensi,
kedalaman, dan
rasio inspirasiekspirasi
2. Auskultasi bunyi
nafas, catat adanya
bunyi nafas.
Misalnya : mengi,
krekels, dan ronki.
3. Posisikan bagian
bantal pasien lebih
tinggi (semi
fowler)
4. Berikan minuman
hangat sedikitsedikit tapi sering
5. Lakukan fisioterapi
dada bila
diperlukan
6. Kolaborasikan
dengan tim
kesehatan lain
untuk pemberian
bronchodilator dan
mukolitik untuk
mencairkan dahak
sehingga mudah
dikeluarkan

1. Monitoring BB
pasien dalam

1. Takipnea biasan
ada pada bebera
derajat dan dapa
ditemukan pada
penerimaan atau
selama stres ata
adanya proses
infeksi akut.
Pernafasan dapa
melambat dan
frekuensi ekspir
memanjang
dibanding inspi
2. Mengi
menunjukkan
penyempitan
saluran nafas,
krekels dan ron
menunjukkan
adanya sekret p
saluran nafas
3. Posisi semi fow
dapat
meningkatkan
ekspansi paru
sehingga
mengurangi ses
nafas
4. Air hangat
menurunkan
kekentalan sekr
dan mempermu
pengeluaran
5. Fisioterapi dada
dapat merangsa
pengenceran se
sehingga mudah
dikeluarkan
6. Pemberian obat
obatan pengenc
dahak
memudahkan
proses evakuasi
jalan nafas
1. Mengetahui
kondisi pasien

tubuh
berhubungan
dengan
menurunnya
intake makanan

3.

Gangguan
pertukaran gas
berhubungan
dengan
perubahan
membran
alveolus kapiler

keperawatan selama 3
x 24 jam kebutuhan
nutrisi pasien
tercukupi dengan
kriteria hasil:
1. Adanya
rhupeningkata
n berat badan
sesuai dengan
tujuan
2. Berat badan
ideal sesuai
dengan tinggi
badan
3. Mampu
mengidentifika
si kebutuhan
nutrisi
4. Tidak ada
tanda tanda
malnutrisi
5. Tidak terjadi
penurunan
berat badan
yang berarti.
Tujuan : setelah
dilakukan tindakan
keperawatan
diharapkan pertukaran
gas pada pasien
normal, dengan
kriteria :
1. Menunjukkan
perbaikan
ventilasi dan
oksigenasi
adekuat
dengan GDA
dalam rentang
normal dan
bebas gejala
distres
pernafasan
2. Berpartisipasi

batas normal
2. Anjurkan diet
makanan tinggi
serat
3. Kolaborasi
dengan ahli gizi
untuk
menentukan
jumlah kalori
dan nutrisi yang
dibutuhkan
pasien.
4. Libatkan

2. Mencegah
terjadinya

konstipasi pada
pasien
3. Supaya nutrisi
yang diberikan
untuk pasien

tercukupi
4. Supaya keluarg
dapat mengetah
nutrisi yang
dibutuhkan pasi
saat ini apa saja

keluarga dalam
pemberian
nutrisi

1. Kaji ratarata,kedalaman,
irama, dan usaha
pernafasan
2. Kaji secara rutin
warna kulit,
membran mukosa
dan kuku
3. Pantau status
pernapasan tiap 4
jam, hasil GDA,
intake, dan output
4. Posisikan pasien
dengan kepala
tempat tidur lebih
tinggi (semi
fowler)
5. Kolaborasi dengan
tenaga kesehatan
lain pemberian
oksigen dengan

1. Mengidentifika
distress pernapa
2. Melihat adanya
sianosis sentral
perifer. Sianosis
sentral
menggambarka
beratnya
hipoksemia
3. Mengidentifika
progres kondisi
pasien
4. Meluaskan
ekspansi paru d
mengurangi
dispneu
5. Mengurangi beb
otot-otot
pernapasan
6. Bronkodilator
membantu

dalam program
pengobatan
dalam
kemampuan/sit
uasi
Gangguan
keseimbangan
cairan dan
elektrolit
berhubungan
dengan kehilngan
cairan berlebih,
penurunan
masukan oral.

Tujuan: Menunjukkan
keseimbangan cairan
dan elektrolit

Intoleransi
aktifitas
berhubungan
dengan
insufisiensi
oksigen untuk
aktifitas hidup
sehari-hari.

Tujuan : Peningkatan

Kriteria Hasil:
1. Intake dan
output yang
adekuat
2. Tanda-tanda
vital dalam
batas normal
3. Tugor kulit
baik

toleransi terhadap
aktifitas.
Kriteria Hasil :
1.

Tanda-tanda
vital dalam
batas normal

2.

Menunjukkan
peningkatan
toleransi

benar sesuai
dengan indikasi
6. Kolaborasikan
dengan tenaga
kesehatan lain
untuk pemberian
bronkodilator
1. Kaji perubahan
tanda tanda
vital
2. Kaji turgor
kulit,
kelembaban
membran
mukosa
3. Catat laporan
mual dan
muntah
4. Pantau
masukan
halauan urine
5. Kolaborasi
pemberian obat
sesuai indikasi

1. Evaluasi respon
pasien terhadap
aktivitas
2. Berikan lingkungan
yang tenang dan
batasi pengunjung
selama fase akut
3. Jelaskan pentingnya
istirahat dalam
rencana pengobatan
dan perlunya
keseimbangan
aktivitas dan
istirahat
4. Bantu aktivitas

membuka jalan
nafas

1.

2.

3.

4.

1. Untuk
menunjukka
adanya
kekurangan
adanya
kekurangan
cairan sistem
2. Indikator
langsung
keadekuatan
masuk caira
3. Adanya geja
ini menurun
masukan or
4. Memberikan
informasi
tentang
keadekuatan
volume cair
dari kebutuh
penggantian
5. Memperbaik
status
kesehatan
Menetapkan
kemampuan atau
kebutuhan pasien d
memudahkan pilih
intervensi
Menurunkan stres
rangsangan
berlebihan,
meningkatkan istir
Tirah baring
dipertahankan untu
menurunkan untuk
menurunkan
kebutuhan metabo
Meminimalkan

terhadap
aktifitas

perawatan diri yang


diperlukan

kelelahan dan
membantu
keseimbangan sup
dan kebutuhan
oksigen

DAFTAR PUSTAKA

Aziz, Alim Hidayat. 2004. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan.

Jakarta:

Salemba Medika.
Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2.
Jakarta: EGC
Doengoes, Marilynn, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3.
Jakarta :EGC
Reeves J Charlen. (2001). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Salemba
Medika
Riyadi, Sujono & Sukarmin. 2009.Asuhan Keperawatan Pada Anak Edisi 1.
Yogyakarta : Graha Ilmu
Smeltzer, suzanna C. 2002. Buku Ajar ILmu Penyakit Dalam, jilid 1,2,3, edisi ke
4. Jakarta: Internal Publishing