Anda di halaman 1dari 19

Makalah Tugas Kelompok

Analisis Kasus Gayus Tambunan

Anggota Kelompok:
Ardilla Hasni
Netty Nuraini
Putri Mulyawati

8335116618
8335118321
8335118322

S1 Akuntansi Non Reg B 2011


Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Jakarta
2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami sampaikan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayahnya
kami bisa menyelesaikan makalah mengenai kasus mafia hukum pajak, Gayus Tambunan.
Makalah ini merupakan laporan tertulis dari Kelompok Enam Akuntansi Pemerintahan Jurusan
Akuntansi 2011 Universitas Negeri Jakarta.
Makalah ini adalah tugas yang kami tujukan kepada Ibu Ratna Anggraini selaku Dosen
Akuntansi Pemerintahan. Makalah Analisis Kasus Mafia Hukum Pajak, Gayus Tambunan ini
kami susun untuk memenuhi kewajiban tugas Akuntansi Pemerintahan .
Pada kesempatan ini kami selaku tim penyusun menyampaikan ucapan terima kasih
kepada Ibu Ratna Anggraini selaku dosen mata kuliah Akuntansi Pemerintahan yang telah
memberikan arahan dan bimbingan dalam pembuatan makalah ini.
Tim Penyusun menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh
dari kesempurnaan, sehingga kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
para pembaca untuk perbaikan terhadap makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembacanya.
Jakarta, 8 April 2013
Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi

2
3

Bab I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
1.4 Manfaat Penulisan
1.5 Metodologi Penulisan
1.6 Sistematika Penulisan

4
5
6
6
6
7

BAB II Pembahasan
2.1 Kronologi Kasus Gayus Tambunan
2.2 Analisis Kasus Gayus Tambunan

8
11

BAB III Penutup


3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

14
15

Daftar Pustaka
Lampiran

16
17

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas kuliah Akuntansi Pemerintahan sebagai Mata
Kuliah wajib yang memiliki bobot 3 SKS. Tujuan dari tugas ini adalah menganalisa korelasi

antara Pendapatan dan Belanja Negara dengan Kasus pegawai pajak Gayus Tambunan Tahun
2010.
Pendapatan negara yang disebutkan dalam anggaran keuangan tediri dari berbagai
penerimaan yang bermacam-macam yang dikategorikan di anggaran pendapatan dalam tiga jenis
jaitu Pajak, Penerimaan Negara bukan Pajak (PNBP) dan Hibah. Yang terakhir jumlahnya sangat
kecil dan hampir tidak berperan. Pajak yang paling penting terdiri dari Pajak Penghasilan dan
Pajak Pertambahan Nilai.
Banyak kasus korupsi yang sampai sekarang tidak diketahui ujung pangkalnya. Salah
satunya adalah kasus korupsi yang dilakukan oleh seorang pegawai pajak golongan IIIA, yang
sempat menggegerkan Mabes Polri, Gayus Tambunan. Keterkejutan semua orang terhadap apa
yang telah dilakukan oleh Gayus Tambunan adalah suatu hal yang wajar. Karena apabila kita
melihat dari statusnya yang hanyalah seorang pegawai negeri biasa, tetapi memiliki tabungan
yang begitu banyak, senilai Rp. 25 Miliar, tentu saja hal ini mengundang tanya: Apalagi kalau
bukan korupsi? Padahal, pekerjaan Gayus sehari-hari cuma menjadi penelaah keberatan pajak
(banding) perorangan dan badan hukum di Kantor Pusat Direktorat Pajak. Mengingat gaji
pegawai pajak setingkat golongan IIIA hanyalah berkisar antara Rp 1.655.800 sampai Rp
1.869.300 per bulan, hal ini menegaskan bahwa seorang Gayus Tambunan pasti telah melakukan
kecurangan yang dapat merugikan Negara dan masyarakat banyak.
Seperti yang telah diberitakan oleh berbagai media bahwa nama Gayus Tambunan mulai
mencuat ketika disebutkan oleh mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji sebagai seseorang
yang berkaitan erat dengan makelar kasus. Susno menyebutkan Gayus memiliki Rp 25 miliar di
rekeningnya, namun hanya Rp 395 juta yang disita negara. Sisanya Rp 24,6 miliar menguap
entah ke mana. Susno mengutarakan bahwa ada keterlibatan dari tubuh Polri sendiri dalam
kasus manipulasi pengusutan pajak.
Gayus kemudian dituntut kepolisian dengan tiga pasal, yakni pasal penggelapan,
pencucian uang, dan korupsi. Namun pada persidangan itu Gayus hanya dituntut dengan pasal
penggelapan, divonis oleh hakim dengan hukuman 1 tahun percobaan, kemudian dibebaskan.
Terdapat berbagai kejanggalan di pengadilan Gayus saat itu, antara lain soal ancaman hukuman
yang ternyata lebih ringan dari ketentuan Undang-Undang, tuntutan dari jaksa yang hanya
berupa tuntutan soal penggelapan uang, serta penggelaran persidangan yang dilakukan di hari
Jumat, di Pengadilan Negeri Tangerang, yang biasanya tidak digelar persidangan pidana.
Modus Gayus melakukan pelanggaran dengan memanfaatkan wewenangnya bermacammacam. Dalam posisinya sebagai pegawai Sub Direktorat Banding Direktorat Keberatan dan
Banding, pada pertengahan 2007 Gayus berhasil memenangkan lebih dari 40 kasus banding
perusahaan. Berkaitan dengan ini, Gayus memiliki peluang besar untuk memenangkan Ditjen
Pajak dalam pengadilan pajak, yaitu dengan memainkan selisih pemenangan banding. Misalnya
seorang wajib pajak seharusnya membayar pajak Rp 3 Miliar. Lalu dia keberatan, ditolak lalu
banding. Di pengadilan pajak itu Gayus memenangkan banding wajib pajak. Selain itu, menurut

Indonesia Corruption Watch (ICW), diduga modus Gayus memanipulasi pajak dengan bermain
kurs Rupiah saat menangani pajak Bumi Resources tahun 2002-2005. Hasil manipulasi tersebut
menyebabkan kewajiban pajak berkurang hingga US$ 164,627 ribu.
Kini Gayus Tambunan kembali ditetapkan sebagai terdakwa dan dijerat pasal berlapis
yakni korupsi, pencucian uang dan penggelapan. Kasus Gayus kini melebar dan melibatkan
sejumlah pihak. Namanya mencuat kembali saat dirinya diduga bebas berkeliaran keluar dari
rumah tahanan. Gayus Tambunan, entah mengapa, mendapatkan perlakukan khusus yang sangat
tidak masuk akal.
Perkembangan terkini dari penanganan kasus korupsi Gayus Tambunan semakin
membuat masyarakat jengah. Gayus Tambunan sebagai tersangka korupsi seolah-olah memiliki
kuasa sahingga dia selalu mendapatkan perlakuan istimewa. Terakhir, dia kembali mendapatkan
perlakuan istimewa di depan hukum, yaitu kepolisian hanya menjeratnya dengan pasal
gratifikasi, di mana dia hanya dapat dihukum maksimal 3 tahun penjara. Dalam berbagai perkara
yang pernah ada, seseorang yang terjerat pasal gratifikasi sering lolos dari jeratan hukum. Hal ini
kemudian menyebabkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap kinerja penegak hukum dalam
menangani kasus Gayus. Oleh karena itu masyarakat banyak yang mendesak agar kasus Gayus
ditangai oleh KPK. Akan tetapi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri tetap menegaskan
bahwa kasus Gayus tetap ditangai oleh Polisi. Padahal, telah jelas terlihat bahwa Kepolisian
sendiri tidak serius dalam menangani kasus korupsi Gayus sehingga menyebabkan kasus ini
tidak menemui ujungnya.

1.2

Rumusan Masalah

Berdasarkan Tujuan Instruksi Khusus mata kuliah Akuntansi Pemerintahan, masalah yang
dibahas adalah mengenai Pendapatan dan Belanja. Dengan pokok bahasan lebih spesifik yaitu:
1. Apakah korupsi yang dilakukan oleh Gayus Tambunan mempengaruhi pendapatan
Negara?
2. Bagaimana kronologis kasus Gayus Tambunan?
3. Apa yang harus dilakukan pemerintah untuk menanggulangi kasus gayus Tambunan?
Dari pokok bahasan tersebut, penulis mencoba menimbang dan menganalisa kasus
penggelapan uang pajak oleh Gayus dari sudut pandang ke-empat pokok bahasan di atas.

1.3

Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini di bagi menjadi 2 yaitu, tujuan umum dan khusus:

1.3.1. Tujuan Umum


1. Memahami Pendapatan dan Belanja Negara
2. Mengetahui dan memahami pengelolaan yang dialokasikan dari
pendapatan negara berupa pajak
3. Mengetahui penyebab dan dampak penggelapan yang dilakukan
Gayus dari sumber pendapatan negara terbesar, yaitu pajak
4. Diharapkan dapat menambah pengetahuan para pembaca makalah

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Pemerintahan.

1.4 Manfaat Penulisan


1. Sebagai bahan pelajaran bagi mahasiswa agar dapat mengetahui dan
memahami lebih rinci tentang proses penyusunan sebagai wacana awal bagi
penyusunan karya tulis selanjutnya.
2. Sebagai literature untuk lebih memahami pendapatan negara dan belanja
negara.

1.5 Metode Penelitian


Dalam penulisan Karya Tulis ini, metodologi penelitian yang digunakan adalah :
1. Studi pustaka yaitu dengan mencari referensi dari buku-buku yang berkaitan dengan
penulisan karya tulis ini
2. Penjelajahan internet yaitu dengan mencari beberapa informasi di mesin pencari yang
tidak penulis tidak dapatkan dari buku-buku

1.6 Sistematika Penulisan


Untuk memberikan gambaran secara keseluruhan tentang makalah ini, berikut disajikan
sistematika pembahasan makalah yang terdiri dari 3 bab, dengan susunan sebagai berikut
BAB I

PENDAHULUAN

Berisi tentang pembahasan tentang latar belakang penulisan, rumusan masalah, tujuan penulisan,
manfaat penulisan, metodologi penelitian dan sistematika penulisan
BAB II PEMBAHASAN

Bab ini menyajikan pemaparan analisis kasus Gayus Tambunan dan hubungannya dengan materi
Pendapatan dan Belanja.
BAB III PENUTUP
Kesimpulan dan Saran
Daftar Pustaka
LAMPIRAN

BAB II
PEMBAHASAN
2.1Kronologis Kasus Gayus Tambunan
Kronologis kasus gayus ini diambil dari blog SIR MR SRI TAMIANG yang diposkan hari
Minggu tanggal 13 Maret 2011 dengan pengeditan kata seperlunya.

Berawal tudingan Mantan Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Susno Duadji tentang
adanya praktek mafia hukum di tubuh Polri dalam penanganan kasus money laundring oknum
pegawai pajak bernama Gayus Halomoan Tambunan yang merembet kepada Kejaksaan Agung
dan Tim Jaksa Peneliti, Tim Jaksa Peneliti akhirnya bersuara mengungkap kronologis
penanganan kasus Gayus H. Tambunan. Berikut ini kronologis penanganan kasus Gayus H.
Tambunan menurut Tim Peneliti Kejaksaan Agung.
Kasus bermula dari kecurigaan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
(PPATK) terhadap rekening milik Gayus H. Tambunan di Bank Panin. Polri kemudian
melakukan penyelidikan terhadap kasus ini. Tanggal 7 Oktober 2009 penyidik Bareskrim Mabes
Polri menetapkan Gayus H. Tambunan sebagai tersangka dengan mengirimkan Surat
Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP).
Dalam berkas yang dikirimkan penyidik Polri kepada kejaksaan, Gayus H. Tambunan
dijerat dengan tiga pasal berlapis yakni pasal korupsi, pencucian uang, dan penggelapan. Hal ini
karena Gayus H. Tambunan adalah seorang pegawai negeri dan memiliki dana Rp. 25 miliar di
Bank Panin.
Hasil penelitian jaksa menyebutkan bahwa hanya terdapat satu pasal yang terbukti
terindikasi kejahatan dan dapat dilimpahkan ke Pengadilan, yaitu penggelapan namun hal ini
tidak terkait dengan uang senilai Rp. 25 milliar yang diributkan PPATK dan Polri. Untuk korupsi
terkait dana Rp.25 milliar tidak dapat dibuktikan karena dalam penelitian ternyata uang tersebut
merupakan produk perjanjian Gayus dengan Andi Kosasih. Andi Kosasih adalah pengusaha
garmen asal Batam yang mengaku pemilik uang senilai hampir Rp. 25 miliar di rekening Bank
Panin milik Gayus H. Tambunan. Hal ini didukung dengan adanya perjanjian tertulis antara
terdakwa (Gayus H. Tambunan) dan Andi Kosasih yang ditandatangani tanggal 25 Mei 2008.
Menurut Cirrus Sinaga selaku anggota Tim Jaksa Peneliti kasus Gayus, Gayus H.
Tambunan dan Andi Kosasih awalnya berkenalan di pesawat. Kemudian keduanya berteman
karena merasa sama-sama besar, tinggal dan lahir di Jakarta Utara. Karena pertemanan
keduanyalah Andi Kosasih meminta Gayus H. Tambunan mencarikan tanah dua hektar untuk
membangun ruko di kawasan Jakarta Utara. Biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan tanah
tersebut sebesar US$ 6 juta. Namun Andi Kosasih baru menyerahkan uang sebesar US$
2.810.000. Andi menyerahkan uang tersebut kepada Gayus melalui transaksi tunai di rumah
orang tua istri Gayus lengkap dengan kwitansinya, sebanyak enam kali yaitu pada tanggal 1 Juni
2008 sebesar US$ 900.000, tanggal 15 September 2008 sebesar US$ 650.000, tanggal 27
Oktober 2008 sebesar US$ 260.000, tanggal 10 November 2008 sebesar US$ 200.000, tanggal
10 Desember 2008 sebesar US$ 500.000, dan terakhir pada tanggal 16 Februari 2009 sebesar
US$ 300.000. Andi Kosasih menyerahkan uang tersebut karena dia percaya kepada Gayus H.
Tambunan.

Menurut Cirrus Sinaga, dugaan money laundring hanya tetap menjadi dugaan karena
Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) sama sekali tidak dapat
membuktikan uang senilai Rp. 25 milliar tersebut merupakan uang hasil kejahatan pencucian
uang (money laundring). PPATK telah dihadirkan dalam kasus tersebut sebagai saksi. Dalam
proses perkara, PPATK tidak bisa membuktikan transfer rekening yang diduga tindak pidana.
Dari perkembangan proses penyidikan kasus tersebut, ditemukan juga adanya aliran dana
senilai Rp 370 juta di rekening lainnya di Bank BCA milik Gayus H. Tambunan. Uang tersebut
diketahui berasal dari dua transaksi yaitu dari PT.Mega Cipta Jaya Garmindo. PT. Mega Cipta
Jaya Garmindo adalah perusahaan milik pengusaha Korea, Mr. Son dan bergerak di bidang
garmen. Transaksi dilakukan dalam dua tahap yaitu pada tanggal 1 September 2007 sebesar Rp.
170 juta dan 2 Agustus 2008 sebesar Rp. 200 juta.
Setelah diteliti dan disidik, uang senilai Rp.370 juta tersebut diketahui bukan merupakan
korupsi dan money laundring tetapi penggelapan pajak murni. Uang tersebut dimaksudkan untuk
membantu pengurusan pajak pendirian pabrik garmen di Sukabumi. Namun demikian, setelah
dicek, pemiliknya Mr Son, warga Korea, tidak diketahui berada di mana. Uang tersebut masuk
ke rekening Gayus H. Tambunan tetapi ternyata Gayus tidak urus pajaknya. Uang tersebut tidak
digunakan oleh Gayus dan tidak dikembalikan kepada Mr. Son sehingga hanya diam di rekening
Gayus. Berkas P-19 dengan petujuk jaksa untuk memblokir dan kemudian menyita uang senilai
Rp 370 juta tersebut. Dalam petunjuknya, jaksa peneliti juga meminta penyidik Polri
menguraikan di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) keterangan tersebut beserta keterangan
tersangka (Gayus H. Tambunan).
Dugaan penggelapan yang dilakukan Gayus diungkapkan Cirrus Sinaga secara terpisah
dan berbeda dasar penanganannya dengan penanganan kasus money laundring, penggelapan dan
korupsi senilai Rp. 25 milliar yang semula dituduhkan kepada Gayus. Cirrus dan jaksa peneliti
lain tidak menyinggung soal Rp 25. milliar lainnya dari transaksi Roberto Santonius, seorang
konsultan pajak. Kejaksaan pun tak menyinggung apakah mereka pernah memerintahkan
penyidik Polri untuk memblokir dan menyita uang dari Roberto ke rekening Gayus senilai Rp 25
milyar itu.
Sebelumnya, penyidik Polri melalui AKBP Margiani, dalam keterangan persnya
mengungkapkan bahwa jaksa peneliti dalam petunjuknya (P-19) berkas Gayus memerintahkan
penyidik untuk menyita besaran tiga transaksi mencurigakan di rekening Gayus. Adapun tiga
transaksi itu diketahui berasal dari dua pihak, yaitu Roberto Santonius dan PT. Mega Jaya Citra
Termindo. Transaksi yang berasal dari Roberto, yang diketahui sebagai konsultan pajak bernilai
Rp. 25 juta, sedangkan dari PT. Mega Jaya Citra Termindo senilai Rp. 370 juta. Transaksi itu
terjadi pada tanggal 18 Maret, 16 Juni dan 14 Agustus 2009. Uang senilai Rp. 395 juta tersebut
disita berdasarkan petunjuk dari jaksa peneliti kasus itu.

Berkas Gayus dilimpahkan ke pengadilan. Jaksa mengajukan tuntutan 1 (satu) tahun dan
masa percobaan 1 (satu) tahun. Dari pemeriksaan atas pegawai Direktorat Jenderal Pajak itu
sebelumnya, beredar kabar bahwa ada "guyuran" sejumlah uang kepada polisi, jaksa, hingga
hakim masing-masing Rp 5 miliar. Diduga gara-gara guyuran uang tersebut Gayus terbebas dari
hukuman. Dalam sidang di Pengadilan Negeri Tangerang tanggal 12 Maret 2010, Gayus yang
hanya dituntut satu tahun percobaan, dijatuhi vonis bebas.
Menurut Yunus Husein, Ketua PPATK, "Mengalirnya uang belum kelihatan kepada aparat
negara atau kepada penegak hukum. Namun anehnya penggelapan ini tidak ada pihak
pengadunya, pasalnya perusahaan ini telah tutup. Sangkaan inilah yang kemudian maju ke
persidangan Pengadilan Negeri Tangerang. Di Pengadilan Negeri Tangerang, Gayus tidak
terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penggelapan. Hasilnya,
Gayus divonis bebas.
Sosok Gayus dinilai amat berharga karena ia termasuk saksi kunci dalam kasus dugaan
makelar kasus serta dugaan adanya mafia pajak di Direktorat Jenderal Pajak. Belum diketahui
apakah Gayus melarikan diri lantaran takut atau ada tangan-tangan pihak tertentu yang
membantunya untuk kabur supaya kasus yang membelitnya tidak terbongkar sampai ke akarnya.
Satgas Pemberantasan Mafia Hukum meyakini kasus Gayus H. Tambunan bukan hanya soal
pidana pengelapan melainkan ada juga pidana korupsi dan pencucian uang.
Gayus diketahui berada di Singapura. Dia meninggalkan Indonesia pada Rabu 24 Maret
2010 melalui Bandara Soekarno-Hatta. Namun dia pernah memberikan keterangan kepada
Satgas kalau praktek yang dia lakukan melibatkan sekurang-kurangnya 10 rekannya. Imigrasi
tidak mengetahui posisi Gayus.
Satgas Pemberantasan Mafia Hukum mengatakan bahwa kasus markus pajak dengan
aktor utama Gayus H. Tambunan melibatkan sindikasi oknum polisi, jaksa, dan hakim. Satgas
menjamin oknum-oknum tersebut akan ditindak tegas oleh masing-masing institusinya,
koordinasi perkembangan ketiga lembaga tersebut terus dilakukan bersama Satgas. Ketiga
lembaga tersebut sudah berjanji akan melakukan proses internal. Kasus ini merupakan sindikasi
(jaringan) antar berbagai lembaga terkait.
Perkembangan selanjutnya kasus Gayus melibatkan Komjen Susno Duadji, Brigjen
Edmond Ilyas, Brigjen Raja Erisman. Setelah 3 kali menjalani pemeriksaan, Komjen Susno
Duadji menolak diperiksa Propam. Alasannya, dasar aturan pemeriksaan sesuai dengan Pasal 45,
46, 47, dan 48 UU No 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan,
Pasal 25 Perpres No. I Tahun 2007 tentang Pengesahan Pengundangan dan Penyebarluasan
Peraturan, harus diundangkan menteri dalam hal ini Menteri Hukum dan HAM.
Komisi III DPR menyatakan siap memberi perlindungan hukum untuk Komjen Susno
Duadji. Pada tanggal 30 Maret 2010, polisi telah berhasil mendeteksi posisi keberadaan Gayus di
negara Singapura dan menunggu koordinasi dengan pihak pemerintah Singapura untuk

memulangkan Gayus ke Indonesia. Polri mengaku tidak akan seenaknya melakukan tindakan
terhadap Gayus meski yang bersangkutan telah diketahui keberadaannya di Singapura.
Pada tanggal 31 Maret 2010, Tim Penyidik Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam)
Polri memeriksa tiga orang sekaligus. Selain Gayus H. Tambunan dan Brigjen Edmond Ilyas,
ternyata Brigjen Raja Erisman juga ikut diperiksa. Pemeriksaan dilakukan oleh tiga tim berbeda.
Tim pertama memeriksa berkas lanjutan pemeriksaan Andi Kosasih, tim kedua memeriksa
adanya keterlibatan anggota polri dalam pelanggaran kode etik profesi, dan tim ketiga
menyelidiki keberadaan dan tindak lanjut aliran dana rekening Gayus.
Pada tanggal 7 April 2010, Komisi III DPR mengendus seorang jenderal bintang tiga di
Kepolisian diduga terlibat dalam kasus Gayus H. Tambunan dan seseorang bernama Syahrial
Johan ikut terlibat dalam kasus penggelapan pajak yang melibatkan Gayus H. Tambunan, dari
Rp. 24 milliar yang digelapkan Gayus, Rp. 11 milliar mengalir kepada pejabat kepolisian, Rp. 5
milliar kepada pejabat kejaksaan dan Rp. 4 milliar di lingkungan kehakiman, sedangkan sisanya
mengalir kepada para pengacara.

2.2 Analisis Kasus Gayus


Setiap tahun pemerintah menyiapkan anggaran keuangan yang disebut Anggaran
Pendapatan dan Belanja yang mempunyai fungsi sebagai kebijakan keuangan pemerintahan
dalam memperoleh dan mengeluarkan uang yang digunakan untuk menjalankan pemerintahan.
Anggaran ini memperlihatkan jumlah pendapatan dan belanja yang diantisipasikan dalam tahun
berikut. Dalam unsur pendapatan yang paling utama dan penting adalah pendapatan yang berasal
pajak, selain dari pada itu berasal dari sumber lain yang dinamakan Pendapatan Negara Bukan
Pajak (PNBP) dan hibah. PNBP merupakan pendapatan negara yang paling banyak jenisnya
termasuk yang dinamakan retribusi. Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) kerap
mengalami kebocoran lantaran dikorup para pejabat. Jumlahnya pun tak tanggung-tanggung
hingga mencapai 30 persen. Jika APBN minimal Rp1.400 triliun, sekitar Rp400 miliar dana
APBN yang menguap setiap tahun.
Pembahasan ini difokuskan pada divonis bebasnya Gayus oleh Pengadilan Negeri
Tangerang karena tidak terbukti melakukan salah satu tindak pidana yang disangkakan, yaitu:
korupsi, Menurut anggota Komisi III DPR, Andi Anzhar Cakra Wijaya, kasus penggelapan pajak
masih belum manjur jika hanya dijerat dengan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. UndangUndang Money Laundering (pencucian uang) dinilai lebih sakti menindak mafia pajak. Para
penegak hukum bisa menggunakan Undang-Undang tersebut untuk membuktikan perbuatan
penggelapan pajak kasus Gayus Tambunan. Ia menyebutkan, penggelapan pajak itu berasal dari
perbuatan Gayus yang menerima suap dari perusahaan-perusahaan yang dibantunya. Akibat suap
itulah terjadi penggelapan pajak yang jumlahnya sangat besar dan merugikan negara. Kalau ada
indikasi penggelapan perpajakan, harus digunakan Undang-Undang Pencucian Uang. Proses
penyidikan bisa dimulai dari pencucian uang itu, tutur Andi. Setuju dengan pendapat Andi

Anzhar Cakra Wijaya, penulis berpendapat bahwa sudah seharusnya Gayus dijerat dengan
Undang-Undang Tindak Pidana Khusus, yaitu korupsi, pencucian uang dan penggelapan.
Kalau kita baca kembali kasus Gayus tersebut, jelas bahwa pada awalnya dalam berkas
yang dikirimkan penyidik Polri kepada kejaksaan, Gayus H. Tambunan dijerat dengan tiga pasal
berlapis yakni pasal korupsi, pencucian uang, dan penggelapan. Hal ini karena Gayus H.
Tambunan adalah seorang pegawai negeri dan memiliki dana Rp. 25 miliar di Bank Panin.
Sebenarnya dengan melihat besarnya dana yang dimiliki oleh seorang pegawai negeri
sudah cukup menimbulkan banyak pertanyaan darimana uang sebanyak itu mengingat Gayus
hanyalah seorang pegawai negeri dan orang tuanya juga bukan pengusaha kaya raya. Sangat
mustahil dia bisa mempunyai uang sebanyak itu di rekening banknya. Keberadaan uang dua
puluh lima milyar di rekening Gayus sudah cukup menjadi bukti permulaan untuk menelusuri
darimana uang tersebut, bagaimana cara Gayus memperolehnya, apakah ada hubungannya
dengan pekerjaannya sebagai seorang pegawai pajak dan lain-lain.
Berdasarkan Pasal 43 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan yang menetapkan bahwa selain dilakukan oleh pembayar pajak
(plagen atau dader), tindak pidana pajak dapat melibatkan penyerta (deelderming) seperti
wakil, kuasa atau pegawai pembayar pajak atau pihak lain yang menyuruh melakukan (doen
plegen atau middelijke), yang turut serta melakukan (medeplegen atau mededader), yang
menganjurkan (uitlokker), atau yang membantu melakukan tindak pidana perpajakan
(medeplichtige), Gayus mungkin saja berperan sebagai medeplegen, uitlokker atau
medeplichtige. Hal ini didasarkan pada keterangan Gayus pada Satgas pemberantasan mafia
hukum bahwa dalam melakukan aksinya tersebut Gayus melibatkan sekurang-kurangnya sepuluh
rekannya.
Namun apa yang terjadi?
Indikasi tindak pidana perpajakan berupa penggelapan yang dilakukan oleh Gayus terkait
uang dua puluh lima milyar di rekening banknya tidak terbukti. Hal ini sebagaimana hasil
penelitian jaksa yang menyebutkan bahwa hanya terdapat satu pasal yang terbukti terindikasi
kejahatan dan dapat dilimpahkan ke Pengadilan, yaitu penggelapan namun hal ini tidak terkait
dengan uang senilai Rp. 25 milliar yang diributkan PPATK dan Polri. Penggelapan yang
dimaksud yaitu adanya aliran dana senilai Rp 370 juta di rekening Bank BCA milik Gayus H.
Tambunan. Uang tersebut diketahui berasal dari dua transaksi yaitu dari PT.Mega Cipta Jaya
Garmindo. pada tanggal 1 September 2007 sebesar Rp. 170 juta dan 2 Agustus 2008 sebesar Rp.
200 juta. Uang tersebut dimaksudkan untuk membantu pengurusan pajak pendirian pabrik
garmen di Sukabumi. Namun setelah dicek, pemiliknya Mr Son, warga Korea, tidak diketahui
berada di mana. Uang tersebut masuk ke rekening Gayus H. Tambunan tetapi ternyata Gayus
tidak urus pajaknya. Uang tersebut tidak digunakan oleh Gayus dan tidak dikembalikan kepada
Mr. Son sehingga hanya diam di rekening Gayus. Berdasarkan penelitian dan penyidikan, uang

senilai Rp.370 juta tersebut diketahui bukan merupakan korupsi dan money laundring tetapi
penggelapan pajak murni.
Oleh karena itu, kebocoran APBN di sana-sini hampir dipastikan semakin besar
ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Sebab, semua sektor rawan dikorupsi. Hanya, peluang
beberapa pos anggaran lebih terbuka. Di antaranya, pos penganggaran untuk bantuan sosial dan
belanja modal seperti untuk pembangunan infrastruktur. Mengacu pada sejumlah kasus korupsi
yang bisa dibongkar, jika ditotal, kerugian negara memang cukup besar. Sebut saja kasus
Nazaruddin di wisma atlet yang merugikan negara sekitar Rp25 miliar. Selain itu, kasus mafia
pajak Gayus Tambunan yang merugikan keuangan negara Rp25 miliar. Jadi, kejahatan anggaran
yang belum terungkap itu sebenarnya masih sangat banyak

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2010, belanja negara yang dibiayai dari
penerimaan perpajakan mencapai 71 persen. Sebaliknya, porsi pembiayaan dari utang luar negeri
kian menyusut. Betapa perpajakan kian penting peranannya yang menunjukkan bahwa kita
semakin mandiri, terlihat juga dari porsinya yang mencapai 78 persen dari keseluruhan
penerimaan negara. Namun kenyataan tadi tidak seimbang dengan realita yang terjadi di

Indonesia, pendapatan negara yang paling banyak diterima dari pajak tersebut justru
disalahgunakan oleh pegawai pajak itu sendiri.
Kasus pajak di Indonesia seperti halnya pada Gayus saat ini sudah meresahkan banyak
pihak. Pajak yang seharusnya menjadi alat pembiayaan dan pengaturan negara sudah
dikomoditkan berbagai kepentingan. Pemerintah dianggap kurang tegas dan memberikan banyak
peluang dalam menghadapi kasus pajak ini. Terlalu banyak terjadi pelanggaran atau kolusi di
berbagai lini. Memang ada yang tertangkap dan mendapat sanksi. Namun, jika dibandingkan
dengan yang tidak katahuan, jumlahnya lebih banyak lagi.
Kasus ini adalah bentuk kongkalikong Gayus dengan perusahaan yang berusaha
mengakali peraturan agar pajak yang telah dibayar oleh perusahaan tersebut dapat ditarik
kembali. Meskipun Gayus bermain di putusan Pengadilan Pajak yang berada diluar tanggung
jawab dari Direktorat Jenderal Pajak, namun kasus ini akhirnya menjadi tanggungjawab
bersama. Pengadilan Pajak adalah instansi yang terpisah dari Direktorat Jenderal Pajak. Ada dua
pelaku kejahatan di dalam kasus ini, yaitu Gayus serta Perusahaan yang diuntungkan dengan
sepak terjang Gayus. Akibat dari kejahatan ini, negara dirugikan karena pajak yang seharusnya
dibayar oleh perusahaan tersebut menjadi lebih kecil. Namun alangkah sayangnya, dari kedua
belah pihak tersebut saat ini yang diusut hanya Gayus seorang. Sementara perusahaan yang telah
menikmati jasa Gayus melenggang kangkung dengan bebas. Padahal kedua belah tersebut
sama-sama diuntungkan dengan uang pajak yang lolos dari penerimaan negara.
Korupsi pada dasarnya dapat terjadi kapan saja dan di mana saja, menyentuh semua
kalangan di dalam masyarakat. Namun dengan mengacu kepada kasus Gayus Tambunan,
korupsi yang sangat merugikan ini sering kali terjadi di kalangan atas, kaum elite, dan para
pejabat yang memiliki kekuasaan dan posisi yang strategis. Korupsi muncul bukan tanpa sebab.
Korupsi merupakan akibat dari sebuah situasi kondisi di mana seseorang membutuhkan
penghasilan lebih, atau merasa kurang terhadap apa yang dia peroleh jika menjalankan usaha
dengan cara-cara yang sah. Korupsi merupakan tindakan yang tidak lepas dari pengaruh
kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki oleh individu maupun kelompok, dan dilaksanakan
baik sebagai kejahatan individu (professional) maupun sebagai bentuk dari kejahatan korporasi
(dilakukan denga kerjasama antara berbagai pihak yang ingin mendapatkan keuntungan sehingga
membentuk suatu struktur organisasi yang saling melindungi dan menutupi keburukan masingmasing). Korupsi merupakan cerminan dari krisis kebijakan dan representasi dari rendahnya
akuntabilitas birokrasi publik.

3.2 Saran
Semua pejabat perpajakan seharusnya mempunyai rasa tanggung jawab kepada semua
pemakai jasa profesional mereka. Pejabat Perpajakan harus selalu bertanggung jawab untuk
bekerja sama dengan sesama anggota untuk mengembangkan profesinya, memelihara

kepercayaan masyarakat, dan menjalankan tanggung-jawab profesi dalam mengatur dirinya


sendiri secara professional dalam membangun Bangsa.
Dalam kasus penggelapan pajak oleh pejabat perpajakan Gayus tidak ditemukan standar
teknis dan standar professional dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya yang mana
harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan tentunya bermuara pada penerimaan pendapatan
Negara guna pembangunan Bangsa sesuai dengan standar dan ketentuan yang berlaku. Dan
dengan standar Profesi keahliannya dan dengan berhati-hati, anggota mempunyai kewajiban
untuk melaksanakan penugasan dari penerima jasa selama penugasan tersebut sejalan dengan
prinsip integritas dan obyektivitas. Standar teknis dan standar profesional yang harus ditaati
adalah standar yang dikeluarkan oleh lkatan Akuntan Indonesia, International Federation of
Accountants, badan pengatur, dan peraturan perundang-undangan yang relevan.
Seharusnya perusahaan yang telah menikmati jasa Gayus dalam mengakali peraturan
agar pajak yang telah dibayar oleh perusahaan tersebut dapat ditarik kembali juga diusut, karena
kedua belah tersebut sama-sama diuntungkan dengan uang pajak yang lolos dari penerimaan
negara.
Dalam pemanfaatan penerimaan pajak juga terjadi hal yang mengkhawatirkan, karena
lebih banyak digunakan untuk belanja rutin bukan untuk membiayai pembangunan. Terlihat dari
porsi belanja pembangunan yang terus menurun porsinya dibandingkan porsi belanja rutin yang
tidak menstimulasi perekonomian. Tentunya masyarakat akan semakin taat membayar pajak jika
mengetahui pajak yang mereka bayarkan kembali kepada mereka melalui pelayanan publik yang
memuaskan.
Sebagai penegak hukum, seharusnya pihak Pengadilan Pajak bertindak tegas dan
menyelesaikan kasus pajak sampai tuntas. Karena dengan penanganan yang tidak tuntas maka
akan banyak masyarakat yang tidak percaya dengan pengelolaan pajak. Selain dengan
masyarakat yang harus sadar atas pentingnya pajak bagi pendapatan negara, para penegak hukum
juga harus bekerja sampai tuntas dan adil. Dengan kerja sama antara masyarakat dengan
pemerintah, maka kasus kasus pajak yang ada dapat dituntaskan dan tidak akan ada lagi kasus
pajak di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
ngsetya.blogspot.com. analisa-kasus-gayus-by-ningsssss-4. Di publikasikan Januari 2012
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Harian Terbit. Kasus Gayus. Di publikasikan 8 Agustus 2012

LAMPIRAN
SKENARIO

Scene 1
Susno Djuaji

: Saya akan bongkar semuanya! pasti ada mafia pajak di kepolisian, mana
mungkin karyawan rendahan eselon 3A, mempunyai rekening uang
sampai 25 Milyar. Ini tidak wajar!

Scene 2
Kuasa hukum gayus dihadapan wartawan membantah kalau gayus melakukan penggelapan uang
pajak, terkait dengan uang direkening gayus, itu adalah uang titipan temannya Andi kosasih.
Wartawan
Kuasa hukum Gayus

: Apakah uang di rekening gayus adalah benar hasil penggelapan?


: Semua hal itu tidak benar, uang tersebut merupakan uang titipan dari
Andi Kosasih umtuk membeli ruko di daerah Jakarta utara, jadi sekali
lagi uang tersebut bukan merupakan uang gayus tabungan

Scene 3
Kasus ini yang sudah terlanjur tersebar ke masyarakat. Gayus ditahan dan kasusnya
dipersidangkan. Tidak disangka, hakim memutuskan gayus tidak bersalah dan divonis bebas.
Beberapa pihak mempertanyakan hal tersebut. Ketua PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisa
Transaksi Keuangan) langsung diserbu oleh wartawan di depan kantornya
Wartawan

: Bu, bisa minta waktunya sebentar bu?

Ketua PPATK

: Ini ada apa?

Wartawan

: Kenapa gayus di vonis bebas?

Ketua PPATK

:Terkait hal itu, uang Negara tersebut belum jelas mengalirnya ke aparat
Negara atau ke penegak hukum, dan juga perusahaan (yang disebutkan
memberikan uang buat gayus) sudah tutup. Apalagi yang ingin kalian
tanyakan, gayus kenapa dibebas? pihak di kasus ini tidak ada
pengadunya, dan juga perusahaan nya sudah tutup, nah sangkaan ini lah
yang dibawa ke Pengadilan Negeri Tangerang, sehingga gayus divonis
bebas. Sudah ya saya buru-buru

Setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata telah terjadi penyuapan terhadap hakim yang menagani
perkara Gayus Tabungan.
Reka Adegan
Kuasa Hukum Gayus Tabungan masuk ke ruangan kantor hakim yang menangani kasus Gayus
Hakim

: Oh ada Bu putri, ada apa bu kesini?

Kuasa hukum

: Saya mau ngucapin makasih banyak bu atas bantuan ibu

Hakim

: Ooh bantuan yang di sidang gayus tabungan itu

Kuasa hukum

: Ya ibu taulah

Hakim

: Ya saya juga sudah capek-capek sih supaya ngebuat gayus di vonis


bebas. Ibu tau kana pa yang saya mau?

Kuasa hukum

: Ini Bu 300 juta Rupiah

Hakim

: Terimakasih, ini gak kebanyakan?

Kuasa hukum

: Tidak kok, kan kita sama-sama butuh

Hakim

: Nanti kalo ibu punya sidang-sidang yang lain telfon saya aja

Kuasa hukum

: Tenang bu, saya punya kontak ibu kok. Sudah ya bu saya keluar dulu

Setelah divonis bebas, Gayus berpelesiran ke Singapura bersama Istrinya, untuk menenangkan
pikiran. Akan tetapi, saat bersenang-senang di pusat perbelanjaan di Singapura, Gayus dan
Istrinya tertangkap oleh kamera wartawan Indonesia. Saat itu juga berita tersebar ke Indonesia
bahwa Koruptor jalan-jalan keluar negeri.
Scene 4
Melihat hal tersebut, Presiden segera melakukan rapat kerja, dan menginstruksikan kepada
bawahannya terkait kasus gayus didalam jumpa pers
Presiden

: Kasus gayus ini telah mencoreng Negara Republik Indonesia di Dunia


karena sebelumnya saya sempat menyampaikan masalah pemberantasan
korupsi di forum dunia. Untuk itu saya menginstruksikan kepada Menteri
Keuangan dan Mabes Porli untuk bekerja sama dengan KPK dan
menuntaskan kasus gayus dan juga melakukan penegakan hukum tanpa
pandang bulu.

Scene 5
Gayus menyerahkan diri di singapura secara sukarela. Gayus dibawa ke kepolisian untuk
ditahan, namun istrinya Miliarner sangat sedih, dia berusaha menghentikan polisi membawa
Gayus, Gayus mengatakan dia akan baik-baik saja kepada istrinya
Gayus

: Ma, papa akan baik2 saja

Miliarner

: Tapi pak bagaimana dengan anak2 kita..

Saking sedihnya, Miliarner menangis tersedu-sedu. Dalam persidangan yang kedua kalinya
gayus divonis bersalah dan dihukum selama 3 tahun penjara dan denda 300 juta rupiah. Gayus
merasakan penyeselannya dan ingin hidup lebih baik dan bahagia dengan keluarganya.
Scene 6
Setelah gayus divonis. Mari kita dengar pendapat masyarakat yaitu salah satu Dosen di Fakultas
Ekonomi UNJ, Bapak Andi Pangeran.
Pewawancara

:Menurut bapak bagaimana kasus gayus yang terlihat sekarang? Bapak


setuju atau tidak?

Bapak Andi

:Ya kalo ditanya setuju atau tidak, pasti kurang adil. Jika dilihat dari
sudut perspektif hukum. Yang maling sandal saja dihukum berapa. Di
Indonesia kan kasus hukumnya banyak ya mau gimana lagi, sudah
diputuskan ya, 6 atau 4 tahun hukuman nya ya?

Pewawancara

:Menurut bapak hukum di Indonesia sendiri sudah tegas atau belum


tentang putusan kasus gayus tersebut?

Bapak Andi

:Kalau menurut saya belum, contohnya saja kasus yang sedang marak
akhir-akhir ini kasus Joko Susilo yang asetnya diambilin semua. Itu nilai
asetnya saja sudah sekitar 100 Milyar kalau tidak salah, tapi kenyataanya
kerugian Negara tidak sampai segitu. Di kasus Gayus itu tidak berjalan.
Seakan-akan ada pemilihan lah.

Pewawancara

: Terima Kasih pak