Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH DISKUSI

FARMAKOLOGI
OBAT ANTI KONVULSI
DI SUSUN OLEH:
KELOMPOK 7:
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
• BAB I
• PENDAHULUAN
• Epilepsi merupakan kelainan kronis
yang ditandai oleh kejang (seizures)
berulang dan kerapkali tanpa adanya faktor
pencetus serta tidak bisa diramalkan
(Pedley et al, 1995). Serangan* epilepsi
merupakan akibat disfungsi otak yang
bersifat fisiologis-temporer dan terjadi
karena pelepasan muatan listrik yang
abnormal oleh sel-sel otak. Ada beberapa
jenis serangan yang berbeda.
• A. PENGERTIAN
• Antikonvulsi digunakan terutama untuk
mencegah dan mengobati bangkitan
eppilepsi (epilepticseizure). Golongan obat
ini lebih tepat dinamakan antiepilepsi;
sebab obat ini jarang digunakan untuk
gejala konvulsi penyakit lain. Bromida, obat
pertama yang digunakan untuk terapi
epilepsi telah ditinggalkan karena
ditemukannya berbagai anti epilepsy baru
yang lebih efektif.
• Epilepsi dapat diklasifikasikan secara
umum menjadi tiga kelompok.
• 1. Kejang parsial (fokal).
• 2. Kejang yang menyeluruh.
• 3. Kejang yang tidak bisa digolongkan.
• Epilepsi adalah nama untuk umum
untuk sekelompok gangguan atau
penyakit susunan saraf pusat yang
timbul spontan dengan episoda
singkat (disebut bangkitan atau
seizure); dengan gezala utama
kesadaran, menurun sampai hilang.
• B. ETIOLOGI
• Serangan kejang (konvulsi) dapat
ditimbulkan oleh hipoglikemi , eclampsi, meningitis,
dan encefalitis, juga oleh kecelakaan atau luka di
otak, seperti abses, tumor, atau arteriosklerosis
pada orang di atas usia 50 tahun, yang dinding
pembuluh darahnya telah mengeras. Konvulsi dapat
juga dikarenakan keracunan timah hitam atau obat
(petidin). Hanya sekitar 20 % penderita epilepsi
tidak diketahui penyebabnya.
• C. PENGGOLONGAN OBAT
• Antiepileptika adalah obat yang
dapat menanggulangi serangangan epilepsi
berkat khasiat antikonvulsinya, yakni
meredakan konvulsi (kejang klonus hebat).
Disamping itu,kebanyakan obat juga
bersedatif (meredakan). Semua obat
antikonvulsi memiliki masa paruh panjang,
dieliminasi dengan lambat, dan berkumulasi
dalam tubuh pada penggunaan kronis.
• Penggolongan. Obat-obat ini dapat
dibagi dalam beberapa kelompok
kimiawi, yaitu:
• 1. Barbital: fenobarbital dan
mefobarbital memiliki sifat anti
konvulsif khusus yang terlepas dari
sifat hipnotikanya.
• 2. Hidantion : fenitoin.
• 3. Suksinimida
• 4. Lain-lain : diazepam dan klonazepam,
karbamazepin, dan okskarbazepin
(Trilepital), asam valproat, asetazolamida,
dan sultiam (Ospolot).
• 5. Obat-obat generasi kedua
• D. PENATALAKSANAAN
• Serangan epilepsi dapat merusak sel-sel
otak , terutama serangan grand mal, dan menjadi
suatu beban sosial dan psikologis bagi penderita.
Oleh karena itu, perlu sekali diobati dengan tujuan
utama untuk profilakse timbulnya kejang atau
mengurangi sebanyak mungkin jumlah serangan
tanpa mengganggu fungsi normal tubuh. Dengan
pengobatan dan dosis yang tepat .
E. CONTOH OBAT
• ObatAsam valproatDiazepaim
(A)Tosuksimid
• (B)Fenitoin
• (C)Fenobarbital
• (D)Karbamazepin
(E)Lonazepamtrimidon
• F.EFEK SAMPING OBAT
• Efek samping yang paling sering timbul
berupa nausea, turunnya berat badan, rontok
rambut, hirsutisme, kelainan psikis, darah, dan
hati. Kebanyakan anti epileptika mempengaruhi
sistem endokrin, misalnya metabolisme vitamin D,
dengan akibat penurunan kadar kalsium dan fosfat
dalam darah. Oleh karena itu, penderita yang
menggunakan antiepileptika untuk jangka waktu
lama, perlu secara tertentu diperiksa kadar
kalsium dan fosfatny.
• Sebagian besar obat berinteraksi
dengan fenitoin, dan obat – obat
tersebut meliputi preparat
kontrasepsi oral, alkohol, antasid
serta obat – obat antiepilepsi yang
lain.
• G. INTERAKSI
• Beberapa antiepileptika menyebabkan (auto)induksi
dari enzim hati (sistem-oksidasi P450), seperti fenitoin,
fenobarbital, primidon, dan karbamizepin. Oleh karena itu,
obat-obat ini dapat saling menurunkan kadarnya dalam darah
dengan peningkatan eksresinya. Kadar dari antikonseptiva,
antikoagulansia, zat-zat steroida, dan asetol diturunkan.
Induksi enzim ini telah menimbulkan kehamilan pada wanita
yang menggunakan obat antihamil. Valproat mampu
meningkatkan kada fenobarb dengan kuat, sedangkan efek
valproat dikurang oleh fenitoin.
Obat Pilihan Utama
• Fenition dan karbamazepin merupakan obat pilihan
utama untuk terapi epilepsi, kecuali terhadap
bangkitan lena, tetapi fenabarbital lebih banyak
dan lebih sering digunakan, mungkin didasarkan
pada batas keamanan obat yang lebar serta harga
yang murah. Terhadap bangkitan tonik – klonik,
manfaat fenitoin sedikit melebih fenobarbital; 60-
65% dari pasien dapat dibebaskan dari bangkitan,
dan pada 20% lainnya berkurang frekuensi dan
kekuatan bangkitannya.
• KESIMPULAN
• Jika mungkin pemberian obat antiepilepsi harus ditinjau dahulu
sebelum terjadinya pembuahan dengan memperhatikan tindakan
penghentian pengobatan yang bertahap bila tidak terjadi serangan
epilepsi selama waktu lima tahun (Malseed et al, 1995) atau emapt
tahun (Dchter, 1991) atau bahkan kurang dari waktu tersebut
(Bloomfield, 1996). Pengobatan epilepsi dapat berlangsung selama
beberapa tahun. Semua pasien harus mendapatkan obat dengan
takaran minimal yang efektif. Jika diperlukan pengobatan,
monoterapi akan disertai dengan risiko yang jauh lebih rendah bagi
janin.
• Ibu hamil harus menyadari bahwa risiko yang berkaitan
dengan serangan epilepsimya jauh lebih besar daripada risiko yang
berkaitan dengan pemakaian obatnya. Penghentian obat
antikonvulsan yang mendadak dapat memicu serangan. Demikian
pula, keadaan epilepsi cenderung bertambah parah jika tidak di
obati. Risiko terjadinya abnormalitas pada janin yang dikandung
oleh para ibu yang menderita epilepsi melebihi risiko yang dialami
oleh wanita normal. Peningkatan risiko ini tidak akan terjadi bila
dilakukan mnoterapi dengan disertai kepatuhan terhdap petunjuk
pelaksanaan terapinya yang dikemukakan di atas (Implikasi dalam
Praktik).