Anda di halaman 1dari 4

Moses Kern adalah seorang anak remaja berusia 18 tahun.

Saat ini
Moses bersekolah di SMA BPK 1 Penabur Jakarta kelas 3 SMA.
Dulunya Moses pernah menjabat sebagai ketua osis. Moses sangat
mudah bergaul dengan siapa saja, Ia juga merupakan anak yang baik
sehingga banyak yang mau berteman dengan Moses. Moses anak
yang rajin sehingga Ia pun mendapat peringkat ketiga dikelasnya.
Murid-murid kelas 3 SMA mulai mem ,fbicarakan mengenai
pendidikan tingkat selanjutnya yaitu kuliah. Moses yang masih bingung
ingin kuliah dimana pun ikut bertanya-tanya kepada guru dan teman
yang lebih mengerti. Melihat bakat bergaul Moses, guru pembimbing
pun memberi saran untuk Moses mengambil jurusan Hubungan
Internasional. Dari sejak kelas 1 SMA, Moses memiliki keinginan
melanjutkan studinya ke kota Bandung.

Sekitar bulan November ketika Moses sedang berkonsultasi dengan guru


pembimbing mengenai universitas, Beliau menganjurkan untuk Moses memilih Universitas
Katolik Parahyangan Bandung. Guru pembimbing memberi informasi bahwa jalur PMDK di
Universitas Katolik Parahyangan telah dibuka, Moses pun diterima di Universitas tersebut.
Hingga Moses selesai ujian nasional dan lulus SMA ia belum pernah sekalipun mengunjungi
Universitas tempat ia akan melanjutkan studinya. Hal ini dikarenakan kesibukan dari orang tua
Moses sehingga belum sempat mengantarkan Moses.
Setelah mendapat pengumuman mengenai pendaftaran ulang yang harus dilakukan
mahasiswa baru, Moses pun bergegas memberi tahu orang tuanya untuk mengantarkan ia ke
Bandung dan segera mencari kos untuk ia tinggal. Saat tiba di UNPAR untuk pertama kali,
Moses langsung menuju ke tempat daftar ulang dengan bertanya kepada satpam. Setelah itu
Moses ingin mencari kos, namun ia bingung harus mencari kemana.
Moses mulai mencari kos dengan menanyakan kepada satpam yang ia temui.
Satpam mengatakan bahwa banyak kos di depan UNPAR, namun ia juga tidak tahu pasti.
Moses berjalan berkeliling dan mulai mencari tempat kos. Namun Moses sangat kesulitan
karena tidak terdapat informasi rumah mana yang memang disewakan untuk tempat kos.
Moses menemukan beberapa rumah kos namun harga yang ditawarkan tidak sesuai dengan
yang Moses inginkan. Akhirnya Moses pun tidak menemukan tempat kos yang cocok. Hari
telah menjelang malam, Moses dan keluargannya mencari tempat makan. Mereka mencoba
salah satu warung makan yang terdekat yang mereka temukan.
Saat di warung makan, Moses mendengar bahwa mahasiswa yang sedang makan di warung
tersebut membicarakan sebuah aplikasi yang terdapat informasi mengenai UNPAR.
Mendengar hal tersebut, Moses langsung menanyakan mengenai aplikasi yang dimaksud.
Mahasiswa tersebut menjelaskan fungsi aplikasi tersebut dengan sangat ramah dan
menyarankan Moses untuk saat itu juga mengunduh aplikasi tersbeut agar dapat
memudahkan Moses dalam mencari kos. Selesai makan Moses langsung mencoba aplikasi
tersebut, Moses takjub karena informasi yang terdapat didalamnya. Segera Moses melihat
informasi kos yang sesuai dengan keinginannya. Moses langsung melakukan panggilan
kepada pengelola kos dan melihat lokasi kos, akhirnya malam itu Moses mendapatkan kos.
Moses dan keluarga sangat senang karena merasa terbantu dengan adanya aplikasi tersebut

Sekitar bulan November ketika Moses sedang berkonsultasi dengan


guru pembimbing mengenai universitas, Beliau menganjurkan untuk Moses
memilih Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Guru pembimbing memberi
informasi bahwa jalur PMDK di Universitas Katolik Parahyangan telah dibuka,
Moses pun diterima di Universitas tersebut. Hingga Moses selesai ujian nasional
dan lulus SMA ia belum pernah sekalipun mengunjungi Universitas tempat ia
akan melanjutkan studinya. Hal ini dikarenakan kesibukan dari orang tua Moses
sehingga belum sempat mengantarkan Moses.
Setelah mendapat pengumuman mengenai pendaftaran ulang yang
harus dilakukan mahasiswa baru, Moses pun bergegas memberi tahu orang
tuanya untuk mengantarkan ia ke Bandung dan segera mencari kos untuk ia
tinggal. Saat tiba di UNPAR untuk pertama kali, Moses langsung menuju ke
tempat daftar ulang dengan bertanya kepada satpam. Setelah itu Moses ingin
mencari kos, namun ia bingung harus mencari kemana.
Moses mulai mencari kos dengan menanyakan kepada satpam yang ia
temui. Satpam mengatakan bahwa banyak kos di depan UNPAR, namun ia juga
tidak tahu pasti. Moses berjalan berkeliling dan mulai mencari tempat kos.
Namun Moses sangat kesulitan karena tidak terdapat informasi rumah mana
yang memang disewakan untuk tempat kos. Moses menemukan beberapa
rumah kos namun harga yang ditawarkan tidak sesuai dengan yang Moses
inginkan. Akhirnya Moses pun tidak menemukan tempat kos yang cocok. Hari
telah menjelang malam, Moses dan keluargannya mencari tempat makan.
Mereka mencoba salah satu warung makan yang terdekat yang mereka
temukan.
Saat di warung makan, Moses mendengar bahwa mahasiswa yang
sedang makan di warung tersebut membicarakan sebuah aplikasi yang terdapat

informasi mengenai UNPAR. Mendengar hal tersebut, Moses langsung


menanyakan

mengenai

aplikasi

yang

dimaksud.

Mahasiswa

tersebut

menjelaskan fungsi aplikasi tersebut dengan sangat ramah dan menyarankan


Moses untuk saat itu juga mengunduh aplikasi tersbeut agar dapat memudahkan
Moses dalam mencari kos. Selesai makan Moses langsung mencoba aplikasi
tersebut, Moses takjub karena informasi yang terdapat didalamnya. Segera
Moses melihat informasi kos yang sesuai dengan keinginannya. Moses langsung
melakukan panggilan kepada pengelola kos dan melihat lokasi kos, akhirnya
malam itu Moses mendapatkan kos. Moses dan keluarga sangat senang karena
merasa terbantu dengan adanya aplikasi tersebut.