Anda di halaman 1dari 18

Insentif Fiskal untuk Mendorong

Pengembangan Coalbed Methane sebagai


Sumber Energi Baru di Indonesia
November 12, 2012 by eddysitepu

Insentif Fiskal untuk Mendorong Pengembangan Coalbed Methane sebagai Sumber


Energi Baru di Indonesia
(diterbitkan dalam buku Bunga Rampai MP3EI: Breakthrough Strategy Indonesia Menuju
Negara Maju)
Oleh: Eddy Mayor Putra Sitepu
Calon Peneliti pada Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan

1. A. Pendahuluan
Dalam kehidupan masyarakat modern dewasa ini, kebutuhan terhadap energi meningkat
seiring dengan meningkatnya tingkat kemakmuran. Sebagian besar kebutuhan tersebut
menggunakan listrik sebagai tenaga penggeraknya, karena sifatnya yang memiliki
keunggulan dibandingkan dengan sistem energi lainnya diantaranya mudah dikonversikan ke
energi lain, mudah disalurkan dan disimpan. Oleh sebab itu, tenaga listrik adalah salah satu
bagian dari sistem energi yang memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi
suatu negara. Mengingat pentingnya peranan tenaga listrik dalam pembangunan, angka
konsumsi listrik per kapita mulai sering digunakan sebagai salah satu indikator kemakmuran
suatu negara, di samping indikator lainnya seperti Gross Domestic Product (GDP), konsumsi
energi per kapita dan lain-lain.
Dalam rangka mendorong percepatan dan perluasan pembangunan khususnya di bidang
ekonomi, pemerintah telah menerbitkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan
Ekonomi Indonesia 2011-2025 (MP3EI)[1], dimana pembangunan ekonomi Indonesia
dilaksanakan melalui koridor ekonomi. Pengembangan kegiatan ekonomi utama Koridor
Ekonomi membutuhkan dukungan dari sisi energi. Dengan adanya MP3EI ini, penambahan
kebutuhan energi listrik di Indonesia hingga tahun 2025 diproyeksikan mencapai sekitar
90.000 MW (dalam kondisi beban puncak). Dari jumlah tersebut, sebagian besar kebutuhan
energi akan digunakan untuk mendukung pembangunan dan pengembangan kegiatankegiatan ekonomi utama di dalam koridor.
Dari total nilai investasi kegiatan ekonomi utama 6 koridor untuk tahun 2011-2025 sebesar
Rp 4.012 triliun, kebutuhan infrastruktur untuk ketenagalistrikan mencapai Rp 377,5 triliun
dengan rincian sebagaimana disajikan dalam lampiran dan dirangkum dalam tabel 1 berikut.

Koridor
Sumatera
Jawa
Kalimantan
Sulawesi
Bali Nusa Tenggara
Papua Maluku

Nilai investasi (IDR Miliar)


75.401
233.545
39.925
15.517
749
12.367

Persentase
19,97%
61,87%
10,58%
4,11%
0,20%
3,28%

Sumber: MP3EI, diolah


Tabel 1. Kebutuhan Infrastruktur untuk Ketenagalistrikan di 6 Koridor Ekonomi

Dengan semakin menurunnya kemungkinan untuk mendapatkan sumber energi alternatif


dalam waktu dekat, kesenjangan yang terus melebar antara permintaan dan penawaran serta
penurunan produksi bahan bakar fosil konvensional, menyebabkan kebutuhan terhadap
sumber-sumber gas non-konvensional (seperti tight gas, coal bed methane (CBM), dan gas
hidrat) meningkat dengan pesat di seluruh dunia. Volume gas non-konvensional yang besar
dan potensinya dalam jangka panjang, ditambah dengan harga jual gas yang menggiurkan
serta minat yang tidak bisa diprediksi dalam pasar energi dunia, membawa gas nonkonvensional ke garis terdepan yang menentukan sumber energi masa depan. Dengan
keberhasilan pemasaran gas alam sebagai bahan bakar ramah lingkungan, permintaan gas
meningkat tajam di awal abad ke-21. Karena dampak kerusakan lingkungan yang
ditimbulkan relatif kecil, harga gas mungkin akan bisa melebihi harga bahan bakar fosil. Oleh
karena itu, peningkatan persentase permintaan energi dunia yang signifikan akan dapat
dipenuhi oleh gas alam. Beberapa ahli meyakini bahwa konsumsi gas mungkin dapat
melebihi konsumsi minyak bumi sebelum tahun 2025[2] (Gambar 1). Sumber-sumber gas
non-konvensional akan memainkan peranan penting dalam peta energi internasional.
Sumber: World Gas Conference, 2003

Gambar 1. Konsumsi Minyak Bumi dan Gas Dunia (dalam barrels of equivalent oil per day
(BOE/D))
Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan kebijakan energi nasional sebagai blue print bagi
penggunaan berbagai macam sumber energi pada tahun 2025 untuk mengamankan pasokan
energi bagi kebutuhan domestik. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengurangi konsumsi
minyak mentah Indonesia hingga 20%, dan mendorong penggunaan gas alam hingga 30%
dan batubara hingga 33% pada tahun 2025.
Kebijakan tersebut mendorong penggunaan sumber-sumber energi alternatif bagi kebutuhan
domestik sebanyak 17%, yaitu masing-masing 5% untuk biofuel dan geothermal, 5% untuk
sumber energi baru dan terbarukan.

Salah satu sumber energi baru adalah Coalbed Methane (CBM). CBM adalah gas alam yang
terjebak dalam cadangan batubara. Gas metana ini kerap dinilai sebagai masalah bagi operasi
penambangan batubara yaitu dapat menimbulkan ledakan pada pertambangan. Perkembangan
teknologi menunjukkan bahwa CBM justru dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi
alternatif yang terbaru serta bahan bakar ramah lingkungan, dimana mengandung lebih dari
90% metana.
CBM diharapkan dapat memasok 1-2% dari total kebutuhan energi pada tahun 2025. CBM
akan memasok konsumsi domestik dengan rincian:
1. Jangka pendek, skala kecil (pilot project) meliputi kebutuhan rumah tangga,
pembangkit listrik, dan non perkotaan.
2. Jangka menengah (2014), pabrik baja, pembangkit listrik, dan bahan bakar
transportasi.
3. Jangka panjang (>2020), sebagai cadangan distribusi gas dari Kalimantan Timur ke
Jawa.
1. B. Potensi Pengembangan CBM di Indonesia
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Ditjen Migas, Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral, Indonesia memiliki potensi sumber daya CBM hingga 450 Trillion Cubic Feet
(TCF). Cadangan CBM sebesar itu tersebar pada sebelas areal cekungan (basin) batubara di
berbagai lokasi di Indonesia, baik di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Kesebelas
basin lokasi CBM itu adalah Sumatera Selatan (183 TCF), Barito (101,6 TCF), Kutei (89,4
TCF) dan Sumatera Tengah (52,5 TCF) untuk kategori high prospective. Basin Tarakan Utara
(17,5 TCF), Berau (8,4 TCF), Ombilin (0,5 TCF), Pasir/Asam-Asam (3,0 TCF) dan
Jatibarang (0,8 TCF) memiliki kategori moderate prospective. Sedangkan basin Sulawesi (2,0
TCF) dan Bengkulu (3,6 TCF) berkategori low prospective.
Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian Energi dan Sumber Daya
Mineral, sebagai pembina kegiatan usaha di bidang minyak dan gas bumi, menetapkan peta
jalan (road map) pengembangan gas metana batubara (CBM) di Indonesia hingga tahun
2025. Dalam road map tersebut direncanakan bahwa pada tahun 2011 produksi CBM sudah
dapat dipergunakan untuk kelistrikan. Perkiraan produksi yang diharapkan terus mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun dengan produksi rata-rata per sumur sebesar 250 MSCFD.
Road Map Pengembangan CBM di Indonesia digambarkan dalam Gambar 2 di bawah ini.
Sumber: Ditjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
Gambar 2. Road Map Pengembangan CBM di Indonesia
Sebagaimana terlihat pada bagan di atas, dalam road map pengembangan CBM di Indonesia,
diharapkan bahwa pada tahun 2011 produksi CBM sudah dapat dipergunakan sebagai sumber
energi listrik khususnya di daerah-daerah terpencil di sekitar wilayah pengusahaan CBM.
Perkembangan proyek-proyek pengusahaan CBM untuk tujuan kelistrikan sampai dengan 25
April 2011 adalah sebagai berikut (Tabel 2).

Tabel 2. Proyek Pengusahaan CBM untuk Kelistrikan (Update 25 April 2011)


N
NAMA BLOK PROGRESS SAAT INI
O
1 GMB Sekayu
2

GMB Barito
Banjar I

GMB Barito
Banjar II
GMB Tanjung
4
Enim
GMB Sangatta
5
I
3

GMB Pulang
Pisau

1 (satu) pilot wells3 (tiga)


1 MMSCFD
coreholes
Sedang dalam persiapan pemboran
(belum ada corehole maupun pilot
0,25 MMSCFD
wells)

EQIVALEN
PRODUKSI
LISTRIK
SETARA 4,0 MW
SETARA 1,0 MW

1 (satu) corehole

0,25 MMSCFD

SETARA 1,0 MW

1 (satu) coreholes

1 MMSCFD

SETARA 4,0 MW

3 (tiga) coreholes4 (empat)


1 MMSCFD
pilot wells
Sedang dalam persiapan pemboran
(belum ada corehole maupun pilot
1 MMSCFD
wells)
11 (sebelas) coreholes7
1 MMSCFD
(tujuh) pilot wells

GMB Sangasanga
Pilot Project
8
LEMIGAS
TOTAL PRODUKSI
7

PERKIRAAN
PRODUKSI

SETARA 4,0 MW
SETARA 4,0 MW
SETARA 4,0 MW

0,006 MMSCFD

SETARA 0,024 MW

5,5 MMSCFD

22,02 MW

Sumber: Ditjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral


1. C. Pengembangan CBM dalam MP3EI
Dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)
2011-2025, ketahanan energi didasarkan kepada manajemen resiko dari kebutuhan dan
ketersediaan energi di Indonesia, yang meliputi antara lain manajemen resiko tersebut melalui
pengaturan komposisi energi (energy mix) yang mendukung pembangunan ekonomi
Indonesia secara berkelanjutan. Kebijakan energi nasional sebagaimana tertuang dalam
Perpres No 5 Tahun 2006 mentargetkan 30 persen dari energy mix pada tahun 2025 berasal
dari gas bumi termasuk di dalamnya CBM.
Untuk mencapai visi Indonesia 2025 mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri,
maju, adil dan makmur, terdapat 3 (tiga) strategi utama dalam MP3EI, yaitu: (1)
pengembangan potensi ekonomi melalui koridor ekonomi; (2) penguatan konektivitas
nasional; dan (3) penguatan kemampuan SDM dan Iptek nasional. Untuk melaksanakan
strategi yang pertama, telah disusun 6 (enam) koridor ekonomi yang terhubung dan saling
menunjang satu sama lain. Keenam koridor tersebut ditetapkan berdasarkan potensi dan
keunggulan masing-masing wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia.
Terkait dengan sektor energi, koridor ekonomi Sumatera dan Kalimantan ditetapkan sebagai
lumbung energi nasional. Dalam koridor ekonomi Kalimantan, selain metode eksplorasi
migas secara konvensional, peluang yang sangat potensial untuk dikembangkan adalah
peningkatan kapasitas Coal-Bed Methane (CBM) sebagai salah satu pendongkrak tingkat
produksi gas nasional yang belum optimal. Sebagai contoh, optimalisasi kapasitas produksi

CBM di Bontang Kalimantan Timur masih tersendat karena memerlukan investasi


tambahan untuk pengembangan pemanfaatan teknologi CBM. Peningkatan eksplorasi CBM
di Kaltim dilakukan agar dapat mendukung optimalisasi kapasitas produksi pabrik pencairan
LNG Bontang yang berkapasitas sebesar 3,7 mmcfd (milyar kaki kubik per hari). Saat ini
pabrik tersebut hanya beroperasi pada level produksi 2,55 mmcfd pada 2009 dan 2,38 mmcfd
pada 2010.
Upaya pengembangan eksplorasi dan eksploitasi yang lebih komprehensif (kemampuan
eksploitasi migas hulu dan pemrosesan migas hilir) dengan penerapan teknologi yang tepat
dapat dilakukan antara lain melalui pemberian investasi tambahan untuk pengembangan
pemanfaatan teknologi untuk peningkatan kapasitas Coal-Bed Methane (CBM). Di sisi
regulasi, untuk mendukung pengembangan CBM perlu dilakukan percepatan revisi PP No. 62
Tahun 2008 tentang Perubahan atas PP No.1 Tahun 2007 tentang fasilitas pajak penghasilan
untuk penanaman modal di bidang tertentu dan atau di daerah tertentu. Revisi dimaksudkan
untuk dapat menetapkan sub sektor baru sesuai prioritas MP3EI yang layak untuk menerima
tax allowance (seperti untuk pajak gas coal bed methane yang IRRnya kurang menarik jika
tanpa insentif).
1. D. Perlunya Insentif Fiskal dalam Pengembangan CBM
Dalam rangka percepatan proyek CBM dimaksud, perlu dukungan kebijakan berupa insentif
pajak dan fiskal yang menarik bagi investasi CBM. Insentif fiskal untuk pengembangan CBM
bertujuan untuk membuat investor tertarik menanamkan modalnya. Hal ini diperlukan
mengingat pengembangan CBM selain bertujuan untuk meningkatkan cadangan gas, juga
mengembangkan pemanfaatan sumber energi ramah lingkungan serta memperluas lapangan
kerja.
Beberapa pertimbangan perlunya insentif fiskal untuk pengembangan CBM adalah sebagai
berikut:
-

CBM adalah sumber energi baru

Sumber energi baru[3] adalah sumber energi yang dapat dihasilkan oleh teknologi baru baik
yang berasal dari sumber energi terbarukan maupun sumber energi tak terbarukan, dimana
salah satu diantaranya adalah gas metana batubara (coal bed methane). Pengusahaan CBM
mulai dikembangkan di Amerika Serikat pada dekade 1980-an. Di Indonesia, pengembangan
CBM masih dalam tahap uji coba dan belum dapat berproduksi secara komersial.
Sesuai dengan amanat undang-undang[4], penyediaan energi dari sumber energi baru dan
sumber energi terbarukan dapat memperoleh kemudahan dan/atau insentif dari Pemerintah
dan/atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangannya untuk jangka waktu tertentu
hingga tercapai nilai keekonomiannya. Yang dimaksud dengan nilai keekonomian[5] adalah
nilai yang terbentuk dari keseimbangan antara pengelolaan permintaan dan penawaran.
Insentif dapat berupa bantuan permodalan, perpajakan, dan fiskal. Kemudahan dapat berupa
penyederhanaan prosedur perizinan dan persyaratan pengusahaan.
-

Pengembangan CBM memerlukan biaya yang tinggi pada tahap awal

Dibandingkan dengan gas alam konvensional, biaya untuk pengembangan CBM, terutama
pada tahap awal, sangat tinggi. Oleh karena itu, proyek-proyek pengembangan CBM tersebut

membutuhkan kebijakan-kebijakan yang mendukung seperti subsidi dan pembebasan pajak


untuk mencapai skala ekonomisnya. Hal ini sudah efektif dan berhasil dijalankan dalam
membangun industri CBM di Amerika Serikat, Kanada dan Australia.
-

Periode produksi CBM lebih lambat

Dibandingkan gas alam, CBM memiliki periode produksi lebih lambat. Pada umumnya,
pengembangan CBM memerlukan waktu sekitar 3 tahun untuk eksplorasi, dilanjutkan dengan
tahapan piloting and multi-piloting selama kurang lebih 3 tahun. CBM baru dapat diproduksi
pada tahun ke-7. Umumnya produksi terbesar atau puncak produksi terjadi pada periode
tahun produksi ke-2 hingga ke-7. Sedangkan lama periode produksi berkisar antara 10 hingga
20 tahun.
-

CBM memberi manfaat bagi penambangan batubara

Proyek CBM memberikan manfaat guna perluasan penerapan teknik tambang dalam untuk
batubara di Indonesia[6]. Apabila CBM yang ada pada cekungan-cekungan batubara diambil,
maka pelaksanaan teknik tambang dalam atau tambang bawah tanah (underground mining)
akan lebih aman.
Selama ini keberadaan gas methane dalam cekungan-cekungan batubara, merupakan salah
satu problem dalam pelaksanaan teknik underground mining. Konsentrasi gas methane yang
berada diatas 4% sangat berpotensi menimbulkan ledakan, seperti yang terjadi di Sawah
Lunto pada 16 Juni 2010. Biasanya CBM akan ditemukan pada kedalaman cekungan 500
600 meter. Pada kedalaman ini, tentu batubara tidak bisa ditambang dengan teknik open pit,
melainkan harus dengan teknik underground. Kalau CBM-nya sudah dimanfaatkan maka
pelaksanaan underground mining untuk batubara akan lebih aman.
1. E. Insentif Perpajakan untuk Kegiatan Usaha Hulu Migas
Dasar hukum mengenai CBM di Indonesia untuk pertama kali diatur dalam Keputusan
Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1669 Tahun 1998 Pasal 2 yang menyatakan bahwa
pengaturan hukum Coal Bed Methane tunduk dan berlaku peraturan perundang-undangan
di bidang pertambangan minyak dan gas bumi. Ketentuan tersebut dipertegas kembali
dengan terbitnya Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No. 36 Tahun
2008, dimana pada Pasal 3 ayat 1 diatur bahwa Pengusahaan Gas Metana Batubara tunduk
dan berlaku ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Kegiatan Usaha Minyak dan
Gas Bumi.
Fasilitas perpajakan untuk perusahaan-perusahaan migas diberlakukan dengan menganut
prinsip lex specialis, yaitu ketentuan yang diatur dalam kontrak bagi hasil (production
sharing contract) bersifat mengikat.
Kontrak bagi hasil migas terbagi ke dalam 2 kelompok, yaitu kontrak nailed down dan
kontrak yang tidak nailed down. Untuk kontrak yang nailed down, ketentuan perpajakan yang
diatur dalam kontrak tetap berlaku sepanjang masa kontrak dan tidak berubah meskipun
terjadi perubahan peraturan di bidang perpajakan. Kontrak yang tidak nailed down berlaku
sebaliknya.

Beberapa ketentuan tentang insentif perpajakan yang diberikan terhadap kegiatan usaha hulu
minyak dan gas bumi adalah sebagai berikut.
1. 1.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 177 / PMK.011 / 2007 tentang
Pembebasan Bea Masuk atas Impor Barang untuk Kegiatan Usaha Hulu
Minyak dan Gas Bumi serta Panas Bumi
Pembebasan bea masuk diberikan terhadap barang yang nyata-nyata dipergunakan untuk
kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi serta panas bumi dengan ketentuan bahwa barang
tersebut belum dapat diproduksi di dalam negeri; sudah diproduksi di dalam negeri namun
belum memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan; atau sudah diproduksi di dalam negeri namun
jumlahnya belum mencukupi kebutuhan industri.
1. 2.
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
178/PMK.011/2007 tentang Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah
atas Impor Barang untuk Kegiatan Usaha Eksplorasi Hulu Minyak dan Gas
Bumi serta Panas Bumi
Pajak Pertambahan Nilai ditanggung Pemerintah diberikan terhadap barang yang nyata-nyata
dipergunakan untuk kegiatan usaha eksplorasi di bidang hulu migas dan pans bumi dengan
ketentuan bahwa barang tersebut belum dapat diproduksi di dalam negeri; sudah diproduksi
di dalam negeri namun belum memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan; atau sudah diproduksi
di dalam negeri namun jumlahnya belum mencukupi kebutuhan industri.
Eksplorasi di bidang hulu migas dimaksud adalah kegiatan yang bertujuan memperoleh
infomasi mengenai kondisi geologi untuk menemukan dan memperoleh perkiraan cadangan
minyak dan gas bumi di wilayah yang ditentukan.
1. 3.
Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2010 tentang Biaya Operasi yang
dapat Dikembalikan dan Perlakuan Pajak Penghasilan di Bidang Usaha Hulu
Minyak dan Gas Bumi
Kontraktor mendapatkan kembali biaya operasi sesuai dengan rencana kerja dan anggaran
yang telah disetujui oleh Kepala Badan Pelaksana, setelah wilayah kerja menghasilkan
produksi komersial.
Biaya operasi yang dapat dikembalikan dalam penghitungan bagi hasil dan pajak penghasilan
harus memenuhi persyaratan:
1. dikeluarkan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan dan terkait langsung dengan kegiatan
operasi perminyakan di wilayah kerja kontraktor yang bersangkutan di Indonesia;
2. menggunakan harga wajar yang tidak dipengaruhi hubungan istimewa sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan;
3. pelaksanaan operasi perminyakan sesuai dengan kaidah praktek bisnis dan keteknikan
yang baik;

4. kegiatan operasi perminyakan sesuai dengan rencana kerja dan anggaran yang telah
mendapatkan persetujuan Kepala Badan Pelaksana.
1. F. Hal-Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Pemberian Insentif Fiskal bagi
Pengusahaan CBM
Terdapat beberapa alternatif bentuk insentif fiskal bagi pengusahaan CBM di Indonesia.
Mengingat bahwa pengusahaan CBM menganut prinsip yang sama dengan kegiatan usaha
hulu minyak dan gas bumi sebagaimana telah dijelaskan di atas, bentuk insentif fiskal yang
mungkin untuk diberikan terutama terkait dengan aspek-aspek dalam kontrak bagi hasil
(production sharing contract) antara kontraktor dengan pemerintah. Beberapa alternatif
insentif fiskal tersebut antara lain:
1. Shareable FTP[7]
2. Investment Credit[8]
3. c.

Tax Holiday

Pemberian insentif fiskal bagi pengembangan CBM harus dilakukan dengan sangat hati-hati
agar tujuan diberikannya insentif dapat tercapai. Pada prinsipnya, dengan memberikan
insentif, pemerintah melepaskan kesempatan untuk mengumpulkan pendapatan dalam
bentuk pajak dengan harapan agar industri dapat berkembang pesat dan memberikan
multiplier effect yang jauh lebih besar dari pengorbanan yang diberikan. Karena itu, dalam
pemberian insentif fiskal tersebut di atas, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan
sebagai berikut.
1. a.
Pemberian shareable FTP melalui amandemen kontrak yang sebenarnya
telah disepakati sebelumnya
Kontrak pengusahaan CBM di Indonesia dilaksanakan berdasarkan kontrak yang disepakati
dan ditandatangani bersama oleh pemerintah Indonesia (dalam hal ini BPMIGAS) dan
kontraktor. Kontrak tersebut memuat ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang
operasionalisasi proyek dan bersifat mengikat terhadap pihak-pihak yang berkontrak. Di
dalam kontrak PSC tersebut diatur tentang FTP yaitu pengurangan produksi untuk menjamin
bagian minimum dari produksi CBM bagi pemerintah.
Dalam kontrak-kontrak yang sudah ditandatangani hingga saat ini, FTP seluruhnya menjadi
bagian pemerintah. Perubahan ketentuan mengenai FTP dari non-shareable menjadi
shareable (FTP dibagi antara pemerintah dan kontraktor) hanya dapat dilakukan melalui
mekanisme amandemen kontrak atas persetujuan pihak-pihak yang berkontrak. Konsekuensi
dari amandemen kontrak adalah dibatalkannya kesepakatan terdahulu dan membuat
kesepakatan baru.
Hal yang perlu dipertimbangkan dalam amandemen kontrak tersebut adalah potensi
munculnya post bidding issue (permasalahan yang timbul setelah dilakukannya lelang untuk
menentukan pemenang tender kontrak). Pada saat suatu kontrak pengusahaan CBM
ditawarkan untuk dilelang kepada kontraktor-kontraktor yang berminat, pemenang tender
bersedia menyetujui ketentuan-ketentuan dalam kontrak yang ditawarkan. Apabila ternyata
setelah kontrak berjalan terjadi perubahan terhadap kontrak tersebut, maka pihak-pihak yang

dinyatakan kalah dalam tender akan berkeberatan atas perubahan kontrak tersebut karena jika
seandainya ketentuan yang berubah tersebut diberitahukan pada saat lelang, penawaran
mereka mungkin akan berbeda dan mungkin saja mereka yang akan menjadi pemenang
tender. Dengan kata lain, amandemen kontrak setelah kontrak berjalan menimbulkan
ketidakadilan bagi peserta tender yang kalah dan berpotensi menimbulkan legal dispute.
1. b.
Pemberian Investment Credit harus tunduk pada ketentuan dalam PP 79
tahun 2010
Peraturan Pemerintah (PP) No. 79 Tahun 2010 mengatur tentang Biaya Operasi yang Dapat
Dikembalikan dan Perlakuan Pajak Penghasilan di Bidang Usaha Hulu Minyak dan Gas
Bumi. Mengingat ketentuan dalam Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor
1669 Tahun 1998 Pasal 2 yang mengatur bahwa Pengaturan hukum Coal Bed Methane
tunduk dan berlaku peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan minyak dan gas
bumi, maka ketentuan dalam PP di atas juga berlaku terhadap pengusahaan CBM.
Dalam PP tersebut di atas diatur tentang investment credit (insentif investasi) sebagai
tambahan pengembalian biaya modal dalam jumlah tertentu, yang berkaitan langsung dengan
fasilitas produksi, yang diberikan sebagai insentif untuk pengembangan lapangan minyak
dan/atau gas bumi tertentu. Dalam skema PSC, insentif investasi, bersama dengan FTP dan
cost recovery, merupakan pengurang terhadap hasil produksi yang tersedia untuk dibagi
(lifting) sehingga diperoleh equity to be split.
Untuk mendorong pengembangan wilayah kerja, Menteri ESDM dapat menetapkan bentuk
dan besar insentif investasi (sebagaimana diatur dalam pasal 10 PP No. 79 Tahun 2010).
Lebih lanjut, dalam pasal 24 ayat 5 PP tersebut diatur bahwa insentif investasi sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan, dikonversi menjadi gas bumi, dengan harga yang disepakati
dalam kontrak penjualan gas bumi (dalam konteks CBM).
Pemberian insentif dalam bentuk investment credit dimungkinkan untuk diberikan dengan
menerbitkan Peraturan Menteri ESDM berdasarkan ketentuan dalam PP No. 79 tahun 2010
tersebut di atas. Namun demikian, mengingat hingga saat ini belum ada pemberian insentif
dalam bentuk investment credit, maka Kementerian ESDM perlu untuk melakukan kajian
terhadap usulan tersebut sebelum menerbitkan Peraturan Menteri dimaksud.
1. c.
Pemberian insentif tax holiday memerlukan PMK perubahan PMK 130
tahun 2011
Ketentuan mengenai tax holiday diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan No.
130/PMK.011/2011 tanggal 15 Agustus 2011 tentang Pemberian Fasilitas Pembebasan atau
Pengurangan Pajak Penghasilan Badan. Dalam PMK tersebut diatur bahwa kepada Wajib
Pajak badan dapat diberikan fasilitas pembebasan atau pengurangan Pajak
Penghasilan badan (pasal 2 ayat 1). Pembebasan Pajak Penghasilan badan tersebut dapat
diberikan untuk jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) Tahun Pajak dan paling singkat 5
(lima) Tahun Pajak, terhitung sejak Tahun Pajak dimulainya produksi komersial. Setelah
berakhirnya pemberian fasilitas pembebasan tersebut, Wajib Pajak diberikan pengurangan
Pajak Penghasilan badan sebesar 50% (lima puluh persen) dari Pajak Penghasilan terutang
selama 2 (dua) Tahun Pajak. Namun demikian, dengan mempertimbangkan kepentingan
mempertahankan daya saing industri nasional dan nilai strategis dari kegiatan usaha tertentu,

Menteri Keuangan dapat memberikan fasilitas pembebasan atau pengurangan Pajak


Penghasilan badan dengan jangka waktu melebihi jangka waktu sebagaimana tersebut di atas.
Box 1. Beberapa Ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 130/PMK.011/2011
Wajib Pajak yang dapat diberikan fasilitas pembebasan atau pengurangan Pajak Penghasilan
badan adalah Wajib Pajak badan baru yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. merupakan Industri Pionir;
2. mempunyai rencana penanaman modal baru yang telah mendapatkan pengesahan dari
instansi yang berwenang paling sedikit sebesar Rp1.000.000.000.000,00 (satu triliun
rupiah);
3. menempatkan dana di perbankan di Indonesia paling sedikit 10% (sepuluh persen)
dari total rencana penanaman modal sebagaimana dimaksud pada huruf b, dan tidak
boleh ditarik sebelum saat dimulainya pelaksanaan realisasi penanaman modal; dan
4. harus berstatus sebagai badan hukum Indonesia yang pengesahannya ditetapkan
paling lama 12 (dua belas) bulan sebelum Peraturan Menteri Keuangan ini mulai
berlaku atau pengesahannya ditetapkan sejak atau setelah berlakunya Peraturan
Menteri Keuangan ini.
Industri Pionir sebagaimana dimaksud mencakup:
1. Industri logam dasar;
2. Industri pengilangan minyak bumi dan/atau kimia dasar organik yang bersumber dari
minyak bumi dan gas alam;
3. Industri permesinan;
4. Industri di bidang sumberdaya terbarukan; dan/atau
5. Industri peralatan komunikasi.
Dengan mempertimbangkan kepentingan mempertahankan daya saing industri nasional dan
nilai strategis dari kegiatan usaha tertentu, Menteri Keuangan dapat menetapkan Industri
Pionir yang diberikan fasilitas pembebasan atau pengurangan Pajak Penghasilan badan,
selain cakupan Industri Pionir sebagaimana tersebut di atas (pasal 3 ayat 3).
Fasilitas pembebasan atau pengurangan Pajak Penghasilan badan dimaksud dapat
dimanfaatkan oleh Wajib Pajak sepanjang memenuhi persyaratan:
1. telah merealisasikan seluruh penanaman modalnya; dan
2. telah berproduksi secara komersial.

Pengusahaan CBM tidak termasuk dalam industri pionir yang tercantum dalam daftar industri
pionir pada PMK No. 130/PMK.011/2011 ini. Namun demikian, ketentuan dalam pasal 3 ayat
3 PMK tersebut memungkinkan Menteri Keuangan untuk menetapkan Industri Pionir
yang diberikan fasilitas pembebasan atau pengurangan Pajak Penghasilan badan, selain
cakupan Industri Pionir sebagaimana tersebut di atas.
Dengan demikian, apabila insentif dalam bentuk tax holiday hendak diberikan terhadap
pengusahaan CBM, maka PMK No. 130/PMK.011/2011 harus diubah. Selain itu, kontrakkontrak pengusahaan CBM harus tunduk pada ketentuan-ketentuan dalam PMK tersebut agar
dapat memenuhi syarat untuk mendapatkan fasilitas pembebasan atau pengurangan pajak
penghasilan badan.
1. d.
Pemberian insentif fiskal tidak menjamin mempercepat perkembangan
pengusahaan CBM tanpa dibarengi pemberian solusi atas permasalahan lainnya
terutama permasalahan operasional
Pengusahaan CBM di Indonesia, seperti halnya industri pengusahaan sumber energi pada
umumnya, melibatkan banyak pihak dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Demikian pula
aspek-aspek dalam pengusahaan CBM juga saling terkait satu sama lain. Keekonomian
pengusahaan CBM tidak terlepas dari pengaruh aspek-aspek lain dalam industri tersebut,
seperti aspek operasional, aspek lingkungan, aspek pembebasan lahan, aspek hukum, aspek
politik, dan lain sebagainya.
Komitmen pemerintah untuk mempercepat perkembangan pengusahaan CBM di Indonesia
harus didukung oleh seluruh pihak yang terlibat dalam industri pengusahaan CBM tersebut.
Insentif fiskal hanya salah satu instrumen yang berpotensi untuk meningkatkan keekonomian
pengusahaan CBM di Indonesia. Namun demikian, pemberian insentif fiskal semata tidak
akan mampu untuk mendorong percepatan pengembangan CBM apabila hambatan-hambatan
tidak diatasi dengan tuntas dan komprehensif.
Pengembangan CBM mengalami berbagai permasalahan operasional di lapangan yang tentu
saja menghambat pengembangan CBM. Permasalahan tersebut antara lain tumpang tindih
lahan, proses perijinan dan perangkat hukum terkait lingkungan hidup[9]. Permasalahan terkait
tumpang tindih lahan terjadi karena penggunaan lahan yang sama untuk eksploitasi batu bara
dan CBM (lokasi pemboran dan fasilitas produksi), dalam hal PKP2B/KP Batu Bara terlebih
dahulu melakukan eksploitasi di lahan tersebut[10].
Pemberian insentif fiskal yang tidak didukung dengan solusi yang komprehensif terhadap
kendala-kendala operasional di lapangan tidak akan memberikan win-win solution melainkan
win-lose solution karena insentif yang diberikan akan dinikmati oleh kontraktor namun hasil
yang diharapkan dalam bentuk percepatan pengembangan CBM tidak terwujud.
1. G. Kesimpulan
Permintaan terhadap sumber-sumber energi yang terus meningkat di satu sisi serta produksi
bahan bakar fosil konvensional yang terus mengalami penurunan di sisi yang lain telah
mendorong meningkatnya kebutuhan terhadap sumber-sumber gas non-konvensional (seperti
tight gas, coal bed methane (CBM), dan gas hidrat). Konsumsi gas diperkirakan akan
melampaui konsumsi minyak bumi sebelum tahun 2025. Kebijakan energi nasional Indonesia
untuk mengamankan pasokan energi bagi kebutuhan domestik mentargetkan pengurangan

konsumsi minyak mentah Indonesia hingga 20%, dan mendorong penggunaan gas alam
(termasuk CBM) hingga 30% dan batubara hingga 33% pada tahun 2025.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Kementerian ESDM, Indonesia memiliki potensi
sumber daya CBM hingga 450 Trillion Cubic Feet (TCF) yang tersebar di sebelas areal
cekungan (basin) batubara di berbagai lokasi di Indonesia, terutama di Sumatera dan
Kalimantan. CBM diharapkan dapat memasok 1-2% dari total kebutuhan energi pada tahun
2025.
Dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)
2011-2025, ketahanan energi didasarkan kepada manajemen resiko melalui pengaturan
komposisi energi (energy mix). Terkait dengan sektor energi, koridor ekonomi Sumatera dan
Kalimantan ditetapkan sebagai lumbung energi nasional, dimana peluang yang sangat
potensial untuk dikembangkan adalah peningkatan kapasitas Coal-Bed Methane (CBM)
sebagai salah satu pendongkrak tingkat produksi gas nasional yang belum optimal.
Dalam rangka percepatan proyek CBM dimaksud, perlu dukungan kebijakan berupa insentif
pajak dan fiskal yang menarik bagi investasi CBM untuk membuat investor tertarik
menanamkan modalnya. Selain meningkatkan cadangan gas, pengusahaan CBM juga dapat
mengembangkan pemanfaatan sumber energi ramah lingkungan serta memperluas lapangan
kerja.
Pengaturan hukum Coal Bed Methane tunduk dan berlaku peraturan perundang-undangan
di bidang pertambangan minyak dan gas bumi. Insentif perpajakan yang diberikan terhadap
kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi antara lain pembebasan bea masuk, Pajak
Pertambahan Nilai ditanggung Pemerintah, serta biaya operasi yang dapat dikembalikan
dalam penghitungan bagi hasil dan pajak penghasilan.
Terdapat beberapa alternatif bentuk insentif fiskal bagi pengusahaan CBM di Indonesia.
Bentuk insentif fiskal yang mungkin untuk diberikan terutama terkait dengan aspek-aspek
dalam kontrak bagi hasil (production sharing contract) antara kontraktor dengan pemerintah,
antara lain Shareable FTP, Investment Credit dan Tax Holiday. Namun demikian, insentif
fiskal bukan satu-satunya solusi untuk mendorong pengembangan CBM di Indonesia.
Permasalahan terkait teknis dan operasional harus diselesaikan agar tidak menghambat
pengembangan CBM.
DAFTAR PUSTAKA
Indonesia, Undang-Undang Nomor: 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas, LNRI Tahun
2001 Nomor: 136 TLNRI Nomor: 4152.
________, Undang-Undang Nomor: 30 Tahun 2007 tentang Energi, LNRI Tahun 2007
Nomor: 96 TLNRI Nomor: 4746.
________, Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 002/PUU-I/2003 tentang Permohonan
Pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan
Gas Bumi terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD
1945).

________, Peraturan Pemerintah Nomor 62 tahun 2008 tentang Perubahan atas Peraturan
Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman
Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu.
________, Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hulu Minyak
dan Gas Bumi.
________, Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan
Energi Nasional.
________, Peraturan Pemerintah No. 79 Tahun 2010 tentang Biaya Operasi yang Dapat
Dikembalikan dan Perlakuan Pajak Penghasilan di Bidang Usaha Hulu Minyak dan Gas
Bumi.
________, Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 36 tahun 2008
tentang Pengusahaan Gas Metana Batubara.
________, Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 177/PMK.011/2007 tentang Pembebasan
Bea Masuk atas Impor Barang Untuk Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi serta Panas
Bumi.
________, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 178/PMK.011/2007 tentang Pajak
Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah atas Impor Barang untuk Kegiatan Usaha
Eksplorasi Hulu Minyak dan Gas Bumi serta Panas Bumi.
________, Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1669 Tahun 1998.
Amijaya, Hendra. 2011. Tinjauan Singkat Gas Metana Batu bara (Coal Bed Methane).
Makalah presentasi rapat BKF Mei 2011 Jakarta.
Susilowati, S.S. Rita. 2008. CBM-Gas Methan Dalam Batubara Calon Bahan Bakar Masa
Depan. Warta Geologi Vol. 3 (4), h. 12-19.
Suharsono. 2011. Pengembangan Coalbed Methane(CBM) di Indonesia. (http://www.apbiicma.com/news.php?pid=6621&act=detail, diakses 25 Mei 2011).
Sosrowidjojo, Imam B. 2008. Regulasi Teknis dan Implikasinya terhadap Keekonomian
CBM, Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS,
M&E Vol. 6, No. 3.
Aspek Perpajakan PSC, Dewa Made Budiarta, File Presentasi.
Ditjen Migas Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral. 2011. Pengusahaan Minyak
Dan Gas Bumi Non Konvensional (CBM), disampaikan sebagai presentasi pada FGD tanggal
5 Juli 2011 di Jakarta.
Indonesian Petroleum Association (IPA) Unconventional Gas Committee. 2011. CBM in
Indonesia Incentive to CBM Development, disampaikan sebagai presentasi pada FGD
tanggal 5 Juli 2011 di Jakarta.

Indonesian Petroleum Association (IPA) Unconventional Gas Committee. 2011. Fiscal


Incentives for CBM Development, disampaikan sebagai presentasi pada FGD tanggal 10
Oktober 2011 di Jakarta.
Widodo, Lestantu. 2008. Keekonomian Pengusahaan Gas Metana-B di Wilayah Sumatera
Selatan dan Kalimantan Timur. Tesis, Program Studi Teknik Kimia, Program Magister
Manajemen Teknik. Jakarta: Universitas Indonesia.
Sarsono, Asrin. 2008. Kajian Keekonomian Pengembangan Lapangan Gas Metana-B dengan
Mempertimbangkan Manajemen Pengelolaan Air Terproduksi. Tesis, Fakultas Teknik,
Program Studi Teknik Kimia. Jakarta: Universitas Indonesia.
Pilot Project CBM Di Kaltim Butuh Rp 100 150 Miliar. 2011.
(http://www.majalahtambang.com/detail_berita.php?category=18&newsnr=1662, diakses 25
Mei 2011).
Pemerintah Segera Perbaiki Iklim Investasi CBM.2011. (http://www.esdm.go.id/berita/40migas/3335-pemerintah-segera-perbaiki-iklim-investasi-cbm.html?tmpl=component&print
=1&page= , diakses 7 November 2011).
Penyelesaian Masalah Tumpang Tindih Pemakaian Lahan WK CBM dan PKP2B/KP Batu
Bara. 2011. (http://pertambangan.kaltimprov.go.id/in/umum/49-penyelesaian-masalahtumpang-tindih-pemakaian-lahan-wk-cbm-dan-pkp2bkp-batu-bara-.html, diakses 7
November 2011).
LAMPIRAN

Koridor
Sumatera

Nilai
investasi
(IDR Miliar)
Pembangunan PLTA Simpang Aur (2 x 6 MW) dan (2 x 9 MW)
450
PLTU Mulut Tambang Riau 2300 MW
9.000
Pembangunan PLTU Mulut Tambang 4150 MW Sumsel
8.400
Pembangunan PLTU Mulut Tambang Sumsel 2300 MW
7.800
PLTP Sarulla-1 Kap. 110 MW
6.000
PLTP Lumut Balai Unit 1 & 2 (255 MW)
3.484
PLTP Lumut Balai Unit 3 & 4 (255 MW)
3.388
Pembangunan transmisi listrik di Provinsi Riau (15 titik)
3.119
PLTA Asahan, Kap. 287 MW (174MW)
2.880
Pembangunan PLTU Banjarsari 2100 MW
2.800
Pembangunan PLTU Riau (Tenayan) 2 x 100 MW
2.800
Pembangunan PLTP 2x55MW Ulubelu Unit 3 & 4
2.640
Pembangunan transmisi listrik di Provinsi SumateraUtara (17 titik) 2.612
Percepatan pengembangan hidro skala besar (287 MW), Porsea
2.610
Sumatera Utara (Asahan 3) 30 Ha
Pembangkit listrik dan steam
2.400
Proyek MP3EI bidang Kelistrikan

Jawa

Pembangunan transmisi listrik di Provinsi SumateraBarat (6 titik) 2.155


Pembangunan transmisi listrik di Provinsi Jambi (7titik)
1.792
Pembangunan PLTP Hululais Kapasitas 255 MW
1.760
Pembangunan PLTP Sungai Penuh Kapasitas 255 MW
1.760
Pembangunan PLTP 255 MW Ulubelu Unit 1&2
1.760
Pembangunan transmisi listrik di Provinsi NangroeAceh
1.495
Darussalam (16 titik)
Pembangunan transmisi listrik di Provinsi Riau danKepulauan Riau
746
(10 titik)
Pembangunan transmisi listrik di Provinsi Lampung(11 titik)
589
PLTU Peranap Kapasitas : 210 MW
392
Pembangunan PLTU Tanjung Enim (310 MW)
378
Pembangunan transmisi listrik di Provinsi SumateraSelatan (21
357
titik)
PLTU Tarahan Mulut Tambang (28 MW)
351
Pembangunan transmisi listrik di Provinsi KepulauanBangka
327
Belitung (4 titik)
Pembangunan transmisi listrik di Provinsi Bengkulu(6 titik)
288
Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa Sawit (PLTBS)dan Bahan
150
Baku Tebu
Pembangunan Infrastruktur PLTU di Kawasan IndustriMuara Enim
392
(210 MW)
Pembangunan jaringan listrik
326
Pembangunan PLTU Jawa Tengah Baru 2.000 MW
26.000
Pembangunan PLTU Pelabuhan Ratu 1050 MW
13.650
Pembangunan PLTU Indramayu Baru 1000 MW
13.000
Pembangunan PLTU Indramayu Baru 1000 MW
13.000
Pembangunan PLTU Jawa Barat Baru 1000 MW
13.000
Pembangunan PLTU Indramayu 990 MW
12.870
Pembangunan PLTU Teluk Naga/Lontar 945 MW
12.285
Pembangunan PLTU Bojanegara 1.500 MW
12.000
Pembangunan PLTGU Tuban/Cepu 1500 MW
12.000
Pembangunan PLTU Tj. Awar-awar 700 MW
9.100
Pembangunan PLTU Paiton 660 MW
8.580
Pembangunan PLTU Cilacap Baru/Adipala 660 MW
8.580
Pembangunan PLTU Pacitan 630 MW
8.190
Pembangunan PLTU Suralaya 625 MW
8.125
Pembangunan PLTS Upper Cisokan Pump Storage1000 MW
6.500
Pembangunan PLTU Bojonegara 750 MW
6.000
Pembangunan PLTGU Muara Tawar Add-On 3,4 700 MW
5.600
Pembangunan PLTGU Priok Extension 500 MW
4.000
Pembangunan PLTG Grati 800 MW
4.000

Kalimantan

Sulawesi

Pembangunan PS Grindulu PS 500 MW


3.250
Pembangunan PS Grindulu PS 500 MW
3.250
Pembanguna PLTG Sunyaragi 600 MW
3.000
Pembangunan Matenggeng PS 443 MW
2.876
Pembangunan Matenggeng PS 443 MW
2.876
Pembangunan PLTGU Muara Tawar Add-On 2 350 MW
2.800
Pembangunan PLTG Muara Karang 400 MW
2.000
Pembangunan PLTGU Priok Extension 243 MW
1.944
Pembangunan PLTGU Muara Tawar Blok 5 234 MW
1.872
Pembangunan PLTGU Muara Karang Repowering 194 MW
1.552
Pembangunan PLTGU Muara Tawar Add-On 2 150 MW
1.200
Pengembangan PLTP Kamojang Unit 5 1 x 40 MW
960
Pembangunan PLTA Kalikonto 62 MW
930
Pembangunan PLTA Kesamben 37 MW
555
Percepatan pengembangan hidro skala besar (4250 MW) Upper
8.000
Cisokan di Jawa Barat
Pembangunan pembangkit listrik Kalimantan Timur PLN
7.270
Pembangunan pembangkit listrik Kalimantan Barat -PLN
6.819
Pembangunan pembangkit listrik Kalimantan Tengah- PLN
4.686
Pembangunan pembangkit listrik Kalimantan Selatan- PLN
3.541
Pembangunan fasilitas transmisi kelistrikan diKalimantan Barat
1.608,77
PLN
PLTU Sampit (225 MW)
1.110
Pembangunan fasilitas transmisi kelistrikan diKalimantan Timur
1.035,16
PLN
Pembangunan fasilitas transmisi kelistrikan diKalimantan Tengah
947,10
PLN
Pembangunan Jaringan Transmisi PLN Sampit-Pangkalan Bun
750
Pembangunan fasilitas transmisi kelistrikan diKalimantan Selatan
655,40
PLN
Pembangunan Transmisi Tegangan Tinggi 150 KVPalangka Raya600
Kuala Kurun
Pembangunan Jaringan Transmisi Tegangan Tinggi150 KV Muara
350
Teweh-Buntok
Pembangunan PLTU Buntok 2 x 7 MW
245
Pembangunan PLTU 2 x 3 MW Kuala Pembuang
108
Kalimantan Power Plant (700 MW)
7.000
Pembangunan PLTU PT IDMU 2 x 100 MW
2.000
Pembangunan PLTGU Bangkanai 120 MW diKabupaten Barito
1.200
Utara, Kalimantan Tengah
Pembangunan PLTM Ratelimbong-Kolaka 2MW, PLTU Sulsel
Baru 2,50MW, PLTG Sulsel Baru 50MW & 100MW, PLTD
5.174
Selayar 2MW

Pembangunan PLTM (Sansarino 1MW; Tomini II 2x1MW;


Sawidago II 1MW), PLTU (Leok 2x3MW; Kolonodale 2x3MW;
Ampana 2x3MW; Toli-toli 2x3MW; Bangkir 2x3MW; Tambu
2x3MW), PLTG Luwuk10MW
Pembangunan PLTP Kotamobagu 4x20MW, Kab. Kotamobagu,
Sulawesi Utara
Pembangunan PLTU (Kendari 2x10MW; Wangi-wangi 2x3MW;
Raha 2x3MW), PLTM Rongi 1MW, PLTD Raha 3MW
Pembangunan PLTU Gorontalo Baru (225 MW)
Pengembangan WKP Marana (20 MW), Sulawesi Tengah
Pembangunan Gardu Induk di Prov. Sulawesi Selatan
Pembangunan Gardu Induk di Prov. Sulawesi Utara
Pembangunan Gardu Induk di Prov. Sulawesi Tengah
Pembangunan Gardu Induk di Prov. Sulawesi Tenggara
Pembangunan PLTM (Bonehau 2x2MW; Budaong-Budaong
2x1MW; Kalukku 1MW, Balla 1MW)
Pembangunan Gardu Induk di Prov. Gorontalo
Bali Nusa
Tenggara

Papua
Maluku

3.469

2.540
1.020
880
640
552
330
322
273
192
125

WKP Bedugul (10 MW)

320

PLTU NTT Kupang 2X16,5 MW FTP1


PLTU NTT Ende FTP1 2x7MW

241
188

Feasibility Study Pengembangan PLTA Mamberamo

100

Pengembangan Lapangan Panas Bumi Jailolo 2 x 5MW, Kab.


Halmahera Barat, Maluku Utara
Pembangunan jaringan transmisi listrik di Papua
Pembangunan PLTA 300 MW di Urumuka
Pembangkit Listrik di Papua Barat
Pembangkit Listrik di Maluku
Pembangkit Listrik di Maluku Utara
Pembangkit Listrik di Papua
Pengembangan Lapangan Songa Wayaua 5 MW

[1] Diterbitkan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011


[2] World Gas Conference, 2003
[3] Pasal 1 (4) Undang-Undang Nomor 30 tahun 2007 tentang Energi
[4] Pasal 20 (5) Undang-Undang Nomor 30 tahun 2007 tentang Energi
[5] Penjelasan Undang-Undang Nomor 30 tahun 2007 tentang Energi

320
238
3.500
3.097
2.073
1.637
1.242
160

[6] Pilot Project CBM Di Kaltim Butuh Rp 100 150 Miliar


(http://www.majalahtambang.com/detail_berita.php?category=18&newsnr=1662, diakses 25
Mei 2011)
[7] First Tranche Petroleum (FTP) adalah pengurangan produksi untuk menjamin bagian
minimum dari produksi minyak bumi atau gas bagi pemerintah meskipun terdapat
pembatasan cost recovery bagi kontraktor. Untuk kontrak CBM, ketentuan terkait FTP adalah
sebagai berikut:

Jumlah yang dikurangkan adalah sebesar 10% dari produksi.

Jumlah yang dikurangkan tidak dibagi; seluruhnya menjadi bagian pemerintah.

FTP diambil sebelum perhitungan cost recovery dan investment credit.

[8] Investment Credit adalah insentif yang diberikan oleh pemerintah kepada kontraktor untuk
merangsang kontraktor menambah investasinya. Insentif diberikan berupa pengembalian
(recovery) sejumlah nilai tertentu (biasanya sebesar persentase tertentu yang ditetapkan
dalam kontrak) dari investasi yang langsung berhubungan dengan pembangunan fasilitas
produksi migas (direct production oil/ gas facilities).
[9] Pemerintah Segera Perbaiki Iklim Investasi CBM (http://www.esdm.go.id/berita/40migas/3335-pemerintah-segera-perbaiki-iklim-investasi-cbm.html?
tmpl=component&print=1&page= , diakses 7 November 2011)
[10] Penyelesaian Masalah Tumpang Tindih Pemakaian Lahan WK CBM dan PKP2B/KP
Batu Bara (http://pertambangan.kaltimprov.go.id/in/umum/49-penyelesaian-masalahtumpang-tindih-pemakaian-lahan-wk-cbm-dan-pkp2bkp-batu-bara-.html, diakses 7
November 2011)