Anda di halaman 1dari 21

AUDITING 2

Audit siklus Akuisisi dan Pengeluaran Kas

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memenuhi Nilai Tugas pada Mata Kuliah Auditing 2

Disusun oleh :

  • 1. Achmad Tantan

  • 2. Artamita Caroline

(1202120042)

  • 3. Galang Pandu Aranza

(1202124049)

  • 4. Rifqi abdul haq

(1202120062)

  • 5. Annisa Sariutami

(1202120179)

Akuntansi B 2012

AUDITING 2 Audit siklus Akuisisi dan Pengeluaran Kas Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memenuhi Nilai

PROGRAM STUDI S1-AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS TELKOM BANDUNG 2015

AUDIT SIKLUS AKUISISI DAN PEMBAYARAN

  • A. Akun dan Kelas Transaksi Dalam Siklus Akuisisi dan Pembayaran

Tujuan keseluruhan dari audit atas siklus akuisisi dan pembayaran adalah untuk mengevaluasi apakah akun-akun yang dipengaruhi oleh akuisisi barang dan jasa serta pengeluaran kas bagi akuisisi tersebut disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum.

  • B. Fungsi Bisnis Dalam Siklus Serta Dokumen dan Catatan Yang Terkait

Siklus akuisisi dan pembayaran melibatkan keputusan dan proses yang diperlukan untuk memperoleh barang serta jasa guna mengoperasikan suatu bisnis. Siklus tersebut umumnya dimulai dengan pembuatan permintaan pembelian oleh karyawan yang berwenang yang memerlukan barang dan jasa itu, dan berakhir dengan pembayaran utang usaha

Kelas Transaksi

Akuisisi

Pengeluaran Kas

 

Akun

Persediaan

Kas di bank (dari pengeluaran

 

kas)

 

Properti, pabrik, dan peralatan

Utang Usaha

 
 

Beban dibayar dimuka

Diskon Pembelian

 
 

Utang usaha

 

Beban manufaktur

 

Beban Penjualan

 

Beban administratif

Fungsi Bisnis

Memroses pesanan pembelian

Memroses

dan

mencatat

pengeluaran kas

 

Menerima barang dan jasa

 

Mengakui kewajiban

Dokumen

dan

Permintaan pembelian

Cek

Catatan

 

Pesanan Pembelian

File

transaksi

pengeluaran

 

kas

 

Laporan Penerimaan

Jurnal pengeluaran kas

 

Faktur vendor

 

Memo debet

 

Voucher

 

File transaksi akuisisi

 

Jurnal akuisisi

 

File induk utang usaha

 

Neraca saldo utang usaha

 

Laporan vendor

Permintaan akan barang dan jasa oleh personil klien merupakan titik awal bagi siklus ini. Bentuk pasti dari permintaan itu dan persetujuan yang diperlukan tergantung pada sifat barang dan jasa serta kebijakan perusahaan. Dokumen yang umum digunakan meliputi :

  • a. Permintaan Pembelian ( purchase requisition ) Digunakan untuk meminta barang dan jasa oleh karyawan yang berwenang.

  • b. Pesanan Pembelian ( purchase order ) Dokumen yang digunakan untuk memesan barang dan jasa dari vendor. Pesanan tersebut mencakup deskripsi, kuantitas, dan informasi terkait mengenai barang serta jasa yang ingin dibeli perusahaan dan sering kali digunakan untuk menunjukkan otorisasi akuisisi.

  • c. Faktur Vendor ( vendor’s invoice ) Dokumen yang diterima dari vendor dan menunjukkan jumlah yang terutang atas suatu akuisisi. Faktur tersebut menunjukkan deskripsi dan kuantitas barang serta jasa yang diterima, harga, syarat diskon tunai, tanggal penagihan, dan total jumlahnya.

  • d. Memo debet ( debit memo ) Dokumen yang diterima dari vendor dan menunjukkan pengurangan jumlah yang terutang kepada vendor akibat retur barang atau pengurangan yang diberikan.

  • e. Voucher ( voucher ) Sering digunakan oleh perusahaan atau organisasi dalam menetapkan cara yang formal untuk mencatat dan mengendalikan akuisisi, terutama dengan memungkinkan setiap transaksi akuisisi diberi nomor urut.

  • f. File Transaksi Akuisisi

File yang dibuat computer yang meliputi semua transaksi akuisisi yang diproses oleh sitem akuntansi selama suatu periode.

  • g. Jurnal Akuisisi ( listing ) Laporan ini dibuat dari file transaksi akuisisi dan umumnya meliputi nama vendor, tanggal, jumlah, dan klasifikasi akun.

  • h. File Induk Utang Usaha ( accounts payable master file ) Digunakan untuk mencatat transaksi akuisisi, pengeluaran keas, serta retur dan pengurangan akuisisi untuk setiap vendor.

  • i. Neraca saldo utang Usaha ( accounts payable trial balance ) Mencantumkan jumlah yang terutang kepada setiap vendor atau dari setiap faktur atau voucher pada suatu waktu. Neraca tersebut dibuat secara langsung dari file induk utang usaha.

  • j. Laporan Vendor ( vendor’s statement ) Dokumen yang disisipkan setiap bulan oleh vendor dan menunjukkan saldo awal, akuisisi, retur dan pengurangan, pembayaran kepada vendor, dan saldo akhir.

  • k. Cek

Dokumen ini umumnya digunakan untuk membayar akuisisi ketika pembayaran sudah jatuh tempo. Cek ini dibuat melalui computer berdasarkan informasi yang tercantum dalam file transaksi akuisisi pada saat barang dan jasa diterima.

  • l. File Transaksi Pengeluaran Kas ( cash disbursement transaction file ) File yang dibuat dengan computer yang mencantumkan semua transaksi pengeluaran

kas yang diproses oleh system akuntansi selama suatu periode.

  • m. Jurnal atau listing Pengeluaran Kas ( cash disbursement journal or listing ) Listing atau laporan yang dibuat dari file transaksi pengeluaran kas yang

mencantumkansemua transaski selama setiap periode waktu.

  • I. SIKLUS AKUISISI I.A. Flowchart Siklus Akuisisi

Berdasarkan flowchat siklus akuisisi, kita dapat menyusun audit pogram dari

siklus akuisisi.

I.B. Audit Program Siklus Akuisisi

Program audit adalah Suatu rencana audit yang terdiri atas prosedur-prosedur yang didisain untuk mencapai tujuan audit (audit objective) yang dikembangkan selama fase perencanaan audit. Jadi Program audit untuk transaksi akuisisi

merupakan paparan rencana audit terhadap siklus transaksi akuisisi barang ataupun jasa yang terdiri atas prosedur-prosedur audit yang disusun sebaik mungkin untuk mencapai tujuan-tujuan audit atas siklus akuisisi barang dan jasa.

Tujuan audit dari transaksi akuisisi antara lain :

  • 1. Akuisisi yang tercatat untuk barang dan jasa yang diterima konsisten dengan kepentingan terbaik (best interest) dari klien (existence).

  • 2. Transaksi-transaksi akuisisi yang ada semuanya tercatat (completeness).

  • 3. Transaksi akuisisi yang tercatat adalah akurat (accuracy).

  • 4. Transaksi akuisisi secara tepat diklasifikasikan (classification).

  • 5. Transaksi akuisisi dicatat pada tanggal yang tepat (timing).

  • 6. Transaksi akuisisi yang dicatat dimasukan ke dalam master file hutang dagang dan persediaan dan secara tepat dipindahkan dan diringkaskan.

Sehingga dari tujuan audit di atas, dapat dibuat prosedur audit atas transaksi akuisisi seperti berikut :

  • 1. Menelaah buku pembelian (Acquisition Journal), buku besar, dan accounts payable master file untuk jumlah yang besar dan tidak biasa.

  • 2. Memeriksa dokumen yang mendasari untuk keterandalan/ reasonabless dan otentisitas/authenticity (faktur pembelian, laporan penerimaan barang, pesanan pembelian, dan permintaan pembelian).

  • 3. Memeriksa vendor master file untuk pemasok yang telah biasa.

  • 4. Menelusuri akuisisi persediaan ke inventory master file.

  • 5. Memeriksa aktiva yang telah diperoleh.

  • 6. Menelusuri dari arsip laporan penerimaan barang ke buku pembelian (Acquisition journal).

  • 7. Membandingkan transaksi yang dicatat dalam buku pembelian dengan faktur pembelian, laporan penerimaan barang, dan dokumentasi pendukung yang lain.

  • 8. Menghitung ulang akurasi klerikal pada faktur pembelian, termasuk diskon dan biaya angkut.

  • 9. Membandingkan klasifikasi dengan bagan perkiraan (chart of account) dengan mengacu pada faktur pembelian.

  • 10. Membandingkan tanggal laporan penerimaan barang dengan faktur pembelian dan tanggal dalam buku pembelian.

  • 11. Menguji akurasi klerikal dengan melakukan footing buku harian dan menelusuri pemindahan (posting) ke buku besar dan master file hutang dagang dan persediaan.

I.C. Metodologi Untuk Merancang Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif Atas Transaksi

Pengujian pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi untuk siklus

akuisisi dan pembayaran dibagi ke dalam dua bidang yang luas :

  • 1. Pengujian akuisisi :

2.

  • a. Fungsi memroses pembelian,

  • b. Fungsi menerima barang dan jasa,

  • c. Fungsi mengakui kewajiban.

Pengujian pembayaran, yang menyangkut fungsi keempat yaitu memroses dan

mencatat pengeluaran kas. Gambar 1 : Metodologi Untuk Merancang Pengujian Pengendalian dan Pengujian

Substantif atas Transaksi untuk Siklus Akuisisi dan Pembayaran

Memahami pengendalian internal- akuisisi Menilai resiko pengendalian yang direncanakan-akuisisi dan pengeluaran kas Menentukan luas pengujian pengendalian*
Memahami pengendalian internal-
akuisisi
Menilai resiko pengendalian yang
direncanakan-akuisisi dan pengeluaran
kas
Menentukan luas pengujian
pengendalian*
Merancang pengujian pengendalian
dan pengujian substantif atas
transaksi untuk akuisisi dan
Prosedur Audit
Ukuran Sampel
Item Yang Akan
pengeluaran kas guna memenuhi
Sampling
atribut
untuk
pengujian
pengendalian
dan
tujuan audit yang berkaitan dengan Penetapan Waktu
substantif atas transaksi

pengujian

Terdapat tiga perbedaan yang penting antara akuisisi dan pembayaran dibandingkan dengan siklus lainnya :

  • 1. Banyak akun yang terlibat dalam siklus ini, termasuk laporan laba rugi dan neraca. Hal ini meningkatkan potensi salah saji klasifikasi, yang mungkin akan mempengaruhi laba.

  • 2. Transaksi dalam siklus ini dituntut pertimbangan yang signifikan, seperti biaya lease dan kontruksi. hal ini mengakibatkan kemungkinan salah saji.

  • 3. Auditor sering kali memisahkan item item yang bernilai besar dan tidak biasa serta mengujinya atas dasar 100 persen.

  • 4. Flowchart siklus Akuisisi dan Pembayaran

II. SIKL
II.
SIKL

US PEMBAYARAN/PENGELUARAN KAS

  • 5. Tujuan dari siklus pengeluaran kas adalah untuk mengubah kas perusahaan ke

dalam bentuk bahan baku fisik serta sumber daya manusia yang dibutuhkannya untuk

menjalankan bisnis.

Tahapan sistem pembelian:

  • 1. Fungsi pembelian dimulai dengan mengenali kebutuhan untuk menambah persediaan kembali melalui observasi catatan persediaan.

  • 2. Proses pembelian menentukan jumlah yang akan dipesan, memilih memasok, dan membuat pesanan pembelian.

  • 3. Setelah beberapa waktu, perusahaan akan menerima brang persediaan dari pemasok.

  • 4. Informasi mengenai penerimaan barang digunakan untuk memperbarui catatan persediaan.

  • 5. Proses utang usaha menerima faktur dari pemasok.

  • 6. Buku besar menerima ringkasan informasi dari utang usaha dan pengendali

persediaan. Ada 4 departemen dalam sistem pembelian manual, yaitu:

Departemen Pembelian

  • 6. Tugasnya menerima permintaan pembelian, menyortirnya berdasarkan

nama pemasok dan membuat pesanan pembelian yang terdiri atas beberapa bagian. Satu salinan dikirimkan ke pengendali persediaan, tempat staf administrasi menyimpannya bersama permintaan pembelian terbuka. Satu salinan tersebut akan dikirim ke utang usaha untuk disimpan dalam file utang usaha tunda dan akan menjadi file utang usaha terbuka pada saat katur dikirimkan oleh pemasok. Dua salinan diberikan kepada pemsok. Staf administrasi bagian pembelian akan menyimpan salinan terakhir bersama dengan permintaan pembelian dalam file pesanan pembelian terbuka. Bagian Penerimaan

  • 7. Barang yang tiba dari pemasok direkonsiliasi dengan salinan kosong

pesanan pembelian yang berisi informasi jumlah atau harga produk yang diterima.

Tujuan dari salinan kosong adalah untuk memaksa staf administrasi bagian penerimaan menghitung dan memeriksa persediaan dalam mengisi laporan penerimaan. Setelah melengkapi jumlah fisik dan menyelesaikan pemeriksaan, staf administrasi bagian penerimaan membuat laporan penerimaan yang terdiri atas beberapa bagian, yang menyatakan jumlah dan kondisi persediaan tersebut. Bagian Utang Usaha

  • 8. Selama jalannya transaksi, bagian utang usaha telah menerima dan

sementara menyimpan berbagai salinan permintaan pembelian, pesanan pembelian, dan laporan penerimaan. Dokumen formal yang dipakai oleh bagian ini adalah faktur pemasok. Jika faktur pemasok ini belum tiba, maka pencatatan utangnya akan ditunda hingga faktur tersebut dikirimkan oleh pemasok. Lalu apabila faktur tiba, maka staf administrasi utang merekonsiliasi informasi finansial dengan berbagai dokumen di file tunda, mencatat transaksi dalam jurnal pembelian, dan mencatatnya ke rekening pemasok dalam buku pembantu utang usaha. Bagian Buku Besar

  • 9. Bagian ini menerima voucher journal dari bagian utang usaha dan

sebuah ringkasan akun dari bagian pengendalian persediaan. Staf administrasi

bagian buku besar mencatat dari voucher journal ke akun pengendali perusahaan dan utang usaha serta merekonsiliasi akun pengendali persediaan serta ringkasan buku pembantu persediaan.

10.

  • 11. Selain melibatkan system pembelian, system pengeluaran kas

juga berkaitan dengan siklus utang usaha. Tujuan utama dari system utang

usaha adalah untuk memastikan bahwa kreditor yang valid menerima jumlah terutang yang benar ketika kewajiban jatuh tempo. Tahapan – tahapan dari sistem pengeluaran kas yaitu :

Proses utang usaha meninjau file utang usaha mengenai berbagai dokumen yang jatuh tempo dan mengotorisasi proses pengeluaran kas untuk melakukan pembayaran.

Proses pengeluaran kas membuat dan mendistribusikan cek ke para pemasok.

Pada akhir periode, baik proses pengeluaran kas maupun utang usaha mengirim

informasi ringkasan ke buku besar Terdapat 3 departemen dalam sistem pengeluaran kas :

  • 12. 1.

Bagian Utang Usaha

  • 13. Proses pengeluaran kas dimulai dalam bagian utang usaha. Staf

administrasi bagian utang usaha meninjau file voucher utang terbuka atau utang

usaha untuk melihat berbagai dokumen yang jatuh tempo dan mengirim voucher serta dokumen pendukungnya kebagian pengeluaran kas.

  • 14. 2.

Bagian Pegeluaran kas

  • 15. Menerima paket voucher dan meninjau

berbagai dokumen

untuk melihat kelengkapan dan akurasi administratifnya. Untuk tiap pengeluaran, staf administrasi tersebut membuat cek tiga salinan dan mencatat nomor cek,

jumlah uangnya, nomor voucher serta data lain yang terkait dalam daftar cek, yang juga disebut sebagai jurnal pengeluaran kas.

  • 16. 3.

Bagian Buku Besar

 

17.

Menerima voucher journal pengeluaran kas dan ikhtisar akun dari

 

bagian utang usaha. Mencatat ke akun pengendali utang usaha dan akun kas dalam buku besar serta merekonsiliasi akun pengendali utang usaha dengan ikhtisar buku pembantu utang usaha. Ringkasan Pengendalian Siklus Pengeluaran

 

18. Aktivitas Pengendalian

 

19.

Sistem

20.

Sistem

 

Pemrosesan Pembelian

Pengeluaran Kas

 

21.

Otorisasi transaksi

37.

Pengendalian

46. Bagian utang usaha

22.

persediaan

 

mengotorisasi pembayaran

23.

Pemisahan

 

38.

47. Pisahkan bagian buku

Pekerjaan

39. Pengendalian

 

besar pembantu utang

24.

 

persediaan

dipisahkan

usaha, pengeluaran kas

12

25.

 

dari bagian pembelian

 

dan buku besar.

26.

dan penyimpanan

 

48.

27.

persediaan. Buku besar

49.

28.

utang usaha terpisah

50.

File voucher utang,

 

29.

Akses

dari buku besar.

buku pembanyu utang usaha,

30.

40.

Bagian penerimaan

jurnal pengeluaran kas, akun

31.

41.

Buku pembantu utang

kas di buku besar.

 

32.

usaha, buku besar, file

51.

33.

permintaan pembelian, file

52.

34.

laporan penerimaan.

53.

Keamanan

yang

35.

Verifikasi

42.

memadai atas kas. Batasi

independen

43.

Keamanan fisik aktiva.

akses ke berbagai catatan

36.

Batasi akses hanya ke catatan

akuntansi di atas.

akuntansi diatas.

54.

44.

55.

Peninjauan akhir oleh

45.

Bagian utang dagang

bagian pengeluaran kas.

merekonsiliasi berbagai dokumen sumber sebelum mencatat kewajiban. Bagian buku besar merekonsiliasi akurasi umum proses tersebut

Rekonsiliasi keseluruhan oleh bagian buku besar. Rekonsiliasi keseluruhan oleh bagian buku besar. Rekonsiliasi bank secara

berkala oleh kontroler.

 
  • 56. I.B. Audit Program Siklus Pembayaran

  • 57. Karena

semua

transaksi

dalam

siklus

akuisisi

dan

pembayaran

mengalir melalui utang usaha, akun ini penting bagi setiap audit ats siklus akuisisi dan pembayaran. Utang usaha dibedakan dari kewajiban akrual dan kewajiban berbunga. Kewajiban akn dianggap sebagai utang usaha hanya jika total jumlah kewajiban itu diketahui dan terutang pada tanggal neraca. Jika kewajiban mencakup pembayaran bunga, hal tersebut harus dicatat sebagai wesel bayar, utang kontrak,

13

utang hipotik, atau utang obligasi. Tujuan audit atas hutang usaha secara keseluruhan

adalah untuk menentukan apakah saldo utang usaha telah dinyatakn secara wajar dan diungkapkan secara layak. Tujuan audit berkaitan dengan saldo utang usaha :

  • 1. Utang usaha dalam daftra utang usaha sama dengan file induk terkait, dan totalnya ditambahkan dengan benar serta sama dengan buku besar umum (detail tie-in)

  • 2. Utang usaha dalam daftar utang usaha memang ada (eksistensi)

  • 3. Utang usaha yang ada telah dicantumkan dalam daftar utang usaha sudah akurat (keakuratan)

  • 4. usaha

Utang

dalam

daftar

utang

usaha diklasifikasikan dengan benar

(klasifikasi)

  • 5. Transaksi dalam siklus akuisisi dan pembayaran dicatat pada periode yang tepat (pisah batas)

  • 6. Perusahaan memiliki kewajiban untuk membayar kewajiban yang tercakup dalam utang usaha (kewajiban).

    • 58. Terdapat

perbedaan

penekanan

yang penting dalam audit atas

kewajiban dan aktiva. Ketika memverifikasi aktiva, auditor menekankan lebih saji melalui verifikasi dengan konfirmasi, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan dokumen pendukung. Auditor lebih memperhatikan lebih saja walaupun tidak mengabaikan kemungkinan salah saji. Pendekatan berbeda diambil ketika memverifikasi saldo kewajiban yang focus utamanya adalah pada kewajiban yang kurang saji atau dihilangkan.

59.

Metodologi untuk Merancang Pengujian atas Rincian Saldo Utang Usaha

60.

73.

74.

Mengidentifikasi risiko bisnis yang mempengaruhi 61. Tahap I utang usaha 62. Menetapkan salah saji yang dapat
Mengidentifikasi risiko
bisnis yang mempengaruhi
61.
Tahap I
utang usaha
62.
Menetapkan salah saji yang
dapat ditoleransi dan menilai
63.
T
Tahap I
risiko inheren untuk utang
64.
Menilai risiko
65.
Tahap I
pengendalian untuk siklus
akuisisi dan pembayaran
66.
67.
Merancang dan melaksanakan
pengujian pengendalian dan
substantif atas transaksi untuk
siklus akuisisi dan pembayaran
68. Tahap II
69.
70.
Tahap III
Merancang dan melaksanakan
prosedur analitis untuk utang
71.
Tahap III
Merancang pengujian atas rincian
saldo utang usaha untuk
memenuhi tujuan audit yang
berkaitan dengan saldo
Prosedur audit
72.
Ukuran sampel
Item yang akan dipilih
Penetapan waktu

Mengidentifikasi risiko bisnis klien yang mempengaruhi utang usaha.

75.

Fokus terkini perusahaan pada perbaikan aktivitas manajemen mata rantai suplainya menimbulkan banyak perubahan dalam perancangan sistem yang digunakan untuk mengawali serta mencatat aktivitas akuisisi dan pembayaran.

  • 76. Menetapkan salah saji yang dapat ditoleransi dan menilai risiko inheren.

  • 77. Sejumlah besar transaksi dapat mempengaruhi utang usaha. Auditor umumnya menetapkan salah saji yang dapat ditoleransi relatif tinggi untuk utang usaha. Auditor juga menilai resiko inheren sebagai sedang atau tinggi.

  • 78. Menilai risiko pengendalian dan merancang dan melaksanakan pengujian pengendalian dan substantif atas transaksi.

  • 79. Auditor harus memiliki pemahaman yang menyeluruh tentang bagaimana pengendalian tersebut berhubungan dengan utang usaha.

  • 80. Merancang dan melaksanakan prosedur analitis untuk utang usaha.

  • 81. Auditor harus membandingkan total beban tahun berjalan dengan tahun sebelumnya untuk mengungkapkan salah saji utang usaha serta akun beban.

  • 82. Merancang pengujian atas rincian saldo utang usaha.

  • 83. Tujuan audit atas utang usaha secara keseluruhan adalah untuk menentukan apakah saldo utang usaha telah dinyatakan secara wajar dan diungkapkan secara layak. Merancang pengujian atas rincian saldo utang usaha, termasuk dalam pengujian kewajiban setelah periode.

  • 84. Prosedur Analitis untuk Siklus Akuisisi dan Pembayaran

  • 85. Prosedur Analitis

  • 86. Salah Saji yang Mungkin

  • 87. Membandingkan saldo akun beban yang berhubungan dengan akuisisi dengan tahun sebelumnya

  • 88. Salah saji utang usaha dan beban

16

  • 89. Mereview daftar utang usaha untuk melihat utang yang tidak biasa, nonvendor dan utang berbunga

90. Klasifikasi salah saji untuk kewajiban nondagang

  • 91. Membandingkan utang usaha individual dengan tahun sebelumnya

92. Akun yang tidak tercatat atau tidak ada, atau salah saji

  • 93. Menghitung rasio, seperti pembelian dibagi dengan utang usaha, dan utang usaha dibagi dengan kewajiban lancar

94. Akun yang tidak tercatat atau tidak ada, atau salah saji

  • 95. Tujuan audit yang berkaitan dengan saldo di Bab 16 yang digunakan untuk memverifikasi piutang usaha digunakan juga pada kewajiban, namun dengan tiga modifikasi kecil :

  • 1. Tujuan nilai realisasi tidak dapat diterapkan pada kewajiban. Nilai realisasi hanya dapat diterapkan pada aktiva.

  • 2. Aspek hak dalam tujuan hak dan kewajiban tidak dapat diterapkan pada kewajiban.

  • 3. Untuk kewajiban, penekanan diberikan pada pencarian kurang saji dan bukan lebih saji.

96.

97.

Pengujian Kewajiban setelah Periode

Karena menekankan pada kurang saji dalam akun kewajiban, pengujian kewajiban setelah periode (out-of-period liabilities test) merupakan hal yang penting bagi utang usaha. Luas pengujian untuk mengungkapkan utang usaha yang belum tercatat sangat tergantung pada penilaian risiko pengendalian dan materialitas saldo akun yang potensial. Prosedur audit yang sama yang digunakan untuk mengungkapkan utang yang belum tercatat dapat diterapkan pada tujuan keakuratan. Berikut adalah prosedur audit yang umum :

Memeriksa Dokumentasi yang Mendasari Pengeluaran Kas Selanjutnya

17

Memeriksa Dokumentasi yang Mendasari untuk Tagihan yang Belum Dibayar

Beberapa Minggu Sebelum Akhir Tahun Menelusuri Laporan Penerimaan yang Dikeluarkan Sebelum Akhir Tahun ke Faktur

Vendor Terkait Menelusuri Laporan Vendor yang Menunjukkan Saldo yang Jatuh Tempo ke Neraca

Saldo Utang Usaha Mengirim Konfirmasi ke Vendor dengan Siapa Klien Melakukan Bisnis

98.

99.

Pengujian Pisah Batas

Pengujian pisah batas (cutoff tests) utang usaha dilakukan untuk menentukan apakah

transaksi yang dicatat beberapa hari sebelum dan setelah tanggal neraca dicantumkan pada periode yang benar.

100.

  • 1. Hubungan Pisah Batas dengan Observasi Titik Persediaan

 

Informasi

pisah

batas

untuk

akuisisi

harus

diperoleh

selama

observasi fisik

persediaan. Pada saat tersebut, auditor harus mereview prosedur dalam departemen penerimaan untuk menentukan bahwa semua persediaan yang diterima telah dihitung, dan auditor harus mencatat pada dokumentasi audit nomor laporan penerimaan terakhir dimana persediaan dilibatkan dalam perhitungan fisik.

  • 2. Persediaan dalam Perjalanan

 

Menyangkut utang usaha, auditor harus membedakan antara akuisisi persediaan atas dasar FOB destination dan atas dasar FOB origin. Untuk FOB destination, hak akan berpindah ke pembeli ketika persediaan diterima, sehingga hanya persediaan yang diterima pada atau sebelum tanggal neraca yang harus dimasukkan dalam persediaan

dan utang usaha pada akhir tahun. Jika akuisisi dilakukan atas dasar FOB origin, perusahaan harus mencatat persediaan dan utang usaha yang terkait pada periode berjalan jika pengiriman dilakukan pada atau sebelum tanggal neraca. Auditor dapat menentukan apakah persediaan diakuisisi atas dasar FOB destination atau FOB origin dengan memeriksa faktur vendor.

101.

102.

103.

104.

105.

Reliabilitas Bukti

 

Auditor harus memahami reliabilitas relatif dari tiga jenis utama bukti yang umumnya

digunakan untuk memverifikasi utang usaha : faktur vendor, laporan vendor dan konfirmasi.

106.

Perbedaan Antara Faktur Vendor dan Laporan Vendor

 

Auditor akan memperoleh bukti yang sangat andal mengenai setiap transaksi ketika

mereka memeriksa faktur vendor dan dokumen pendukung terkait, seperti laporan penerimaan dan pesanan pembelian. Laporan vendor seperti faktur untuk memverifikasi setiap transaksi tidak begitu disukai karena hanya mencantumkan total

jumlah transaksi, sedangkan unit yang diperoleh, harga, ongkos angkut dan data lainnya tidak dicantumkan.

107.

Laporan

vendor

lebih

unggul

dalam

memverifikasi

utang

usaha

karena

mencantumkan saldo akhir. Sedangkan faktur vendor lebih unggul dalam memverifikasi transaksi karena auditor memverifikasi setiap transaksi dan faktur menunjukkan rincian akuisisi.

108.

Perbedaan Antara Laporan Vendor dan Konfirmasi

 

Perbedaan yang paling penting antara laporan vendor dan konfirmasi utang usaha

terletak pada sumber informasinya. Laporan vendor disiapkan oleh vendor (pihak ketiga yang independen) tetapi berada di tengah klien pada saat auditor memperiksanya. Hal ini memberikan klien kesempatan untuk mengubah laporan vendor atau menyimpan laporan tertentu dari auditor

109.

Respons

terhadap

permintaan

konfirmasi

utang

usaha

umumnya

berupa

laporan tersendiri yang dikirimkan langsung ke kantor akuntan publik oleh vendor. Respons tersebut menyediakan informasi yang sama dengan laporan vendor tetapi lebih dapat diandalkan. Selain itu konfirmasi utang usaha seringkali melibatkan permintaan informasi mengenai wesel bayar dan penerimaan utang serta persediaan konsinyasi yang dimiliki oleh vendor.

110.

111.

112.

Ukuran Sampel

 
  • 113. Ukuran sampel untuk pengujian utang usaha sangat bervariasi,

tergantung pada faktor-faktor seperti materialitas utang usaha, jumlah utang yang beredar, penilaian risiko pengendalian dan utang tahun sebelumnya. Jika pengendalian internal klien lemah, yang bukan merupakan hal yang umum untuk utang usaha, hampir semua item populasi harus diverifikasi. Pada situasi lainnya, pengujian yang minimal mungkin sudah mencukupi.

  • 114. DAFTAR PUSTAKA

115.

Arens, Alvin A., dkk. 2008. Auditing dan Jasa Assurance Jilid 2. Jakarta: Erlangga

116.

Hall, James A. 2011. Sistem Informasi Akuntansi Buku 1 Edisi 4. Jakarta:

 

Salemba Empat

117.

118.

119.

120.

121.

122.

123.

124.

125.

126.