Anda di halaman 1dari 37

PENGOPERASIAN BOILER

[B.1.1.1.01.3]
Edisi I Tahun 2013

PENGOPERASIAN BOILER
(B.1.1.1.01.3)
TUJUAN PEMBELAJARAN :

Setelah mengikuti pembelajaran ini peserta mampu


mengoperasikan

peralatan

boiler

PLTU

sesuai

prosedur standar operasi/instruksi kerja (SOP/IK)

DURASI

TIM PENYUSUN

76 JP / 10 HARI EFEKTIF

1. EFRI YENDRI
2. GAMA AJIYANTONO
3. ANUGRA PUTRA P

TIM VALIDATOR

1. RODI CAHYAWAN
2. MURDANI
3. WINOTO
4. HAULIAN SIREGAR

SAMBUTAN
CHIEF LEARNING OFFICER
PLN CORPORATE UNIVERSITY
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat, taufik dan hidayahNya
penyusunan materi pembelajaran ini bisa selesai tepat pada waktunya.
Seiring dengan metamorfosa PLN Pusdiklat sebagai PLN Corporate University, telah disusun
beberapa materi pembelajaran yang menunjang kebutuhan Korporat. Program pembelajaran ini disusun
berdasarkan hasil Learning Theme beserta Rencana Pembelajaran yang telah disepakati bersama dengan
LC (Learning Council) dan LSC (Learning Steering Commitee) Primary Energy & Power generation
Academy. Pembelajaran tersebut disusun sebagai upaya membantu peningkatan kinerja korporat dari
sisi peningkatan hard kompetensi pegawai.
Dengan diimplementasikannya PLN Corporate University, diharapkan pembelajaran tidak hanya
untuk meningkatkan kompetensi Pegawai, namun juga memberikan benefit bagi Bussiness Process
Owner sesuai dengan salah satu nilai CORPU, yaitu Performing. Akhir kata, semoga buku ini dapat
bermanfaat bagi insan PLN.

Jakarta,
Desember 2013
Chief Learning Officer

SUHARTO

ii

KATA PENGANTAR
MANAJER PLN PRIMARY ENERGY & POWER GENERATION ACADEMY
PLN CORPORATE UNIVERSITY
Puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, taufik serta hidayahnya,
sehingga penyusunan materi pembelajaran Pengoperasian Boiler ini dapat diselesaikan dengan baik
dan tepat pada waktunya.
Materi ini merupakan materi yang terdapat pada Direktori Diklat yang sudah disahkan oleh
Direktur Pengadaan Strategis selaku Learning Council Primary Energy & Power Generation Academy.
Materi ini terdiri dari 9 buku yang membahas mengenai Termodinamika, Logic & Sequence, Boiler, JenisJenis Katup, Teknik Pengukuran Dan Pengaturan, Pengoperasian Boiler, Efisiensi Boiler, Pelaporan Dan
Petunjuk Praktek Pengoperasian Boier (Simulator), sehingga diharapkan dapat mempermudah proses
belajar dan mengajar di Primary Energy dan Power Generation Academy bagi pegawai dalam melakukan
Pengoperasian Boiler.
Akhir kata, Pembelajaran ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kinerja unit
operasional dan bisa menunjang kinerja ekselen korporat. Tentunya tidak lupa kami mengucapkan
terima kasih kepada semua Katupihak yang telah terlibat dalam penyusunan materi pembelajaran ini.
Saran dan kritik dari pembaca/siswa sangat diharapkan bagi penyempurnaan materi ini.

Suralaya, Desember 2013

M. IRWANSYAH PUTRA

iii

DAFTAR BUKU PELAJARAN


Buku 1
Temodinamika
Buku 2
Logic dan Squence
Buku 3
Boiler
Buku 4
Vent dan Katup
Buku 5
Teknik Pengukuran dan Pengaturan
Buku 6
Pengoperasian Boiler
Buku 7
Efisiensi Boiler
Buku 8
Pelaporan
Buku 9
Praktek Pengoperasian Boiler (simulator)

iv

BUKU I
TERMODINAMIKA

TUJUAN PELAJARAN

: Setelah

mengikuti

pelajaran

ini

peserta

mampu

memahami pengetahuan dasar tentang termodinamika


pada pengoperasian boiler.
DURASI

: 8 JP

PENYUSUN

: 1. EFRI YENDRI

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

DAFTAR ISI

TUJUAN PEMBELAJARAN ......................................................................................................... i


SAMBUTAN................................................................................................................................ ii
KATA PENGANTAR .................................................................................................................. iii
DAFTAR BUKU PELAJARAN .................................................................................................... iv
TUJUAN PELAJARAN................................................................................................................ v
DAFTAR ISI ............................................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................... vii
1.

PROSES PRODUKSI UAP PANAS LANJUT....................................................................... 1

2.

TABEL UAP ......................................................................................................................... 3

3.

TEMPERATUR - ENTROPI ................................................................................................. 5


3.1.

Pengaruh Tekanan Terhadap Titik Didih ................................................................ 5

3.2.

Derajat Kekeringan Uap (Dryness Fraction) ........................................................... 7

3.3.

Titik Kritis .............................................................................................................. 8

3.4.

Luas Daerah Dalam Diagram Ts .......................................................................... 10

4.

SIKLUS CARNOT DAN SIKLUS RANKINE SEDERHANA ................................................ 11

5.

SIKLUS RANKINE SUPERHEAT DAN SUPERHEAT-REHEAT ....................................... 17

6.

5.1.

Siklus Rankine Superheat .................................................................................... 17

5.2.

Siklus Rankine Superheat-Reheat........................................................................ 20

PERPINDAHAN PANAS .................................................................................................... 25


6.1.

Mekanisme Perpindahan Panas. .......................................................................... 25

6.2.

Pengaruh Deposit Pada Perpindahan Panas ....................................................... 28

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

vi

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Perubahan Temperatur Pada Tekanan Tetap Saat Pemanasan Air ........................... 2
Gambar 2 Proses Penguapan Dalam Sumbu Temperatur - Entropi. ........................................... 5
Gambar 3 Garis Lengkung Jenuh (Saturation Line) .................................................................... 6
Gambar 4 Proses Perubahan Fase ............................................................................................ 7
Gambar 5 Titik Kritis ................................................................................................................... 9
Gambar 6 Luas Daerah Dalam Diagram T.s ............................................................................. 10
Gambar 7 Komponen Dalam Siklus PLTU ................................................................................ 11
Gambar 8 Siklus Carnot Sederhana ......................................................................................... 12
Gambar 9 Siklus Rankine Sederhana ....................................................................................... 14
Gambar 10 Siklus Rankine Superheat ...................................................................................... 18
Gambar 11 Siklus Rankine Superheat Reheat .......................................................................... 21
Gambar 12 Mekanisme Perpindahan Panas............................................................................. 25
Gambar 13 Perpindahan Panas Konduksi ................................................................................ 26
Gambar 14 Perpindahan Panas Konveksi ................................................................................ 27
Gambar 15 Tahanan Termal pada Deposit ............................................................................... 28

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

vii

TERMODINAMIKA

1.

PROSES PRODUKSI UAP PANAS LANJUT

Seperti diketahui bahwa fluida kerja yang dipakai untuk siklus PLTU adalah air. Secara
alamiah, air dapat eksis dalam 3 wujud yaitu : dalam wujud padat (es), dalam wujud cair (air)
dan dalam wujud gas (uap). Adapun parameter yang mempengaruhi wujud fluida kerja
adalah tekanan dan temperatur. Sebagai contoh, pada tekanan atmosfir standard, air
dibawah temperatur 0 0C akan berwujud padat (es) sedang antara 0 0C sampai 100 0C akan
berwujud cair, dan diatas 100 0C akan berwujud gas (uap).
Tepat pada temperatur 0 0C, air dapat berada dalam wujud padat maupun cair sedangkan
tepat pada 100 0C ia dapat berwujud cair maupun gas. Wujud yang pasti pada saat tepat
berada pada kedua temperatur tersebut ditentukan oleh kandungan energi dalam (internal
energy) fluida.
Temperatur dimana fluida dapat eksis dalam 2 wujud disebut Temperatur Transisi yaitu
temperatur dimana terjadi perubahan fase. Untuk merubah temperatur dan fase, maka
energi panas harus ditambahkan atau dikeluarkan dari fluida.
Karena selama dalam siklus PLTU fluida kerja hanya akan berada dalam 2 wujud yaitu cair
dan gas, maka pembahasan pada pembahasan ini hanya akan dikonsentrasikan pada
transformasi yang terjadi diantara kedua wujud tersebut, merupakan ilustrasi dari
perubahan-perubahan yang terjadi manakala air dipanaskan dalam tekanan tetap.

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

Gambar 1 Perubahan Temperatur Pada Tekanan Tetap Saat Pemanasan Air

Titik A adalah kondisi air pada tekanan atmosfir dimana temperaturnya adalah temperatur
atmosfir (t1). Bila dalam kondisi ini kemudian ditambahkan sejumlah energi panas dalam
fluida, maka fluida akan mengalami kenaikkan temperatur. Kalau energi panas yang
ditambahkan sebesar X1, kondisi air akan berubah dari A ke B dan temperaturnya berubah
dari t1 ke t2. Titik B adalah titik dimana air mulai mendidih (titik didih). Fraksi panas (X 1) yang
diperlukan untuk mengubah temperatur air hingga mencapai titik didih disebut panas
sensibel (sensible heat).
Pada titik B seluruh massa fluida dalam fase cair dan mulai mendidih. Setelah mencapai titik
didih sementara pemberian energi panas tetap dilanjutkan, ternyata temperatur tidak
mengalami perubahan. Dalam kondisi ini, energi panas yang diberikan dipakai untuk
merubah fase air menjadi uap dimana proses ini terus berlangsung dalam temperatur tetap
sampai titik C. Pada titik C, seluruh massa fluida telah berada pada fase gas (uap). Jumlah
panas yang dibutuhkan untuk merubah fase cair menjadi fase gas/uap disebut panas
penguapan. Karena selama perubahan fase berlangsung temperaturnya tetap konstan,
maka energi panas yang dimasukkan akan tersimpan menjadi energi dalam yang
tersembunyi. Itulah sebabnya fraksi panas yang dibutuhkan untuk merubah fase dari cair
menjadi uap (X2) disebut panas laten (tersembunyi) yang umum disebut panas laten
penguapan (latent heat of evaporation).
Kondisi uap yang tepat berada pada titik C disebut uap kering atau uap jenuh (saturated
steam). Setelah mencapai titik C dan pemberian panas tetap dilanjutkan, maka temperatur
uap akan mengalami kenaikkan. Besarnya kenaikkan temperatur sebanding dengan

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

besarnya panas yang diberikan. Dalam contoh seperti pada gambar bila diberikan panas
sejumlah X3, ternyata temperatur uap akan naik hingga titik D dengan temperatur t 3.
Uap yang memiliki temperatur lebih tinggi dari titik didihnya disebut uap panas lanjut
(superheater steam). Fraksi panas yang diperlukan untuk mengubah uap jenuh menjadi uap
panas lanjut juga disebut panas sensibel. Tetapi karena fraksi panas ini terjadi pada fase
uap, maka untuk membedakannya dengan fraksi panas sensibel yang tejadi pada fase cair,
selanjutnya fraksi panas ini disebut superheat.
Pada berbagai literatur , perbedaan antara temperatur uap panas lanjut dengan temperatur
uap jenuh sering disebut istilah derajat panas lanjuy (degre of superheat). Jadi uap dalam
kondisi 550C Superheat artinya adalah bahwa temperatur uap tersebut adalah 55 0C lebih
tinggi dari titik didihnya.
Dalam konteks termodinamika, kita seringkali dituntut untuk mengetahui berapa besar panas
yang terkandung dalam air atau uap pada kondisi tertentu. Dari uraian dalam gambar terlihat
jelas bahwa besarnya panas yang dikandung oleh air yang mulai mendidih (titik B) adalah
sebesar X1. Besarnya panas laten penguapan adalah X 2. Dengan demikian maka panas
yang dikandung oleh uap jenuh (titik C) adalah sebesar X 1 + X2. Sedangkan panas yang
dikandung oleh uap panas lanjut (titik D) adalah X1 + X2 + X3.

2.

TABEL UAP

Melalui serangkaian percobaan yang dilakukan secara seksama, para ahli melakukan
pengamatan yang teliti dan mencatat semua parameter untuk berbagai kondisi percobaan.
Parameter-parameter yang dimaksud antara lain meliputi tekanan, temperatur, total
kandungan panas (entalpi), volume dan entropi.
Hasil pencatatan parameter-parameter yang dilakukan pada berbagai kondisi tersebut
kemudian ditabulasikan secara cermat dalam bentuk daftar yang dikenal dengan tabel uap.
Dengan bantuan tabel uap, maka berbagai persoalan termodinamika dapat diselesaikan
dengan relatif mudah. Adapun tabel uap yang akan dibahas pada session ini adalah tabel
uap dalam satuan SI. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai tabel uap, ada baiknya
dibahas terlebih dahulu tentang besaran, simbol dan satuan yang dipakai yaitu :

BESARAN
Tekanan
Temperatur
Entalpi
Entropi
Volume

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

SIMBOL
P
t
h
s
v

SATUAN
bar (10 5 N/m 2 )
0
C
KJ/kg
KJ/kg
m3/kg

Sedangkan untuk indeks :


s = jenuh
f = cair jenuh

g = uap jenuh
fg = fraksi penguapan

Pada prinsipnya, tabel uap dibedakan menjadi 2 yaitu tabel uap jenuh (Saturation Line) dan
tabel uap panas lanjut (Superheated Table) yang juga mentabulasikan kondisi air dibawah
titik didih (subcooled). Tabel uap jenuh (Saturation Line) merupakan tabel yang
mentabulasikan parameter-parameter uap dan air yang kondisinya tepat berada pada garis
lengkung jenuh (Saturation Line). Cara membaca tabel uap jenuh relatif mudah yaitu cukup
mengetahui 1 besaran saja, maka besaran lainnya dapat ditemukan.
Tabel uap jenuh ada 2 macam yaitu tabel yang diurutkan berdasarkan tekanan (Tabel Uap)
dan tabel yang diurutkan berdasarkan temperatur. Lihat Lampiran Tabel Uap.
Bila yang diketahui tekanannya, maka besaran lainnya akan lebih mudah dicari dengan
menggunakan tabel uap jenuh (tekanan). Sebagai contoh misalnya kita ingin mengetahui
berapakah entalpi uap jenuh serta entalpi air mendidih (air jenuh) pada tekanan 50 bar ?.
Dengan bantuan Tabel Uap, kita cari pada kolom paling kiri tekanan 50 bar. Setelah dapat,
tempatkan penunjuk pada angka 50 dan geser secara horizontal kekanan hingga kolom hf
dan kolom hg dan diperoleh hf =1154,5 sedang hg = 2794,2. Dengan demikian terjawablah
pertanyaan diatas dimana entalpi uap jenuh (hg) pada tekanan 50 bar adalah sebesar
2794,2 KJ/Kg, sementara entalpi air jenuh (hf) pada tekanan yang sama adalah sebesar
1154,5 KJ/Kg. Melalui cara yang sama, kita juga dapat mencari harga S g, Sf, Vf dan Vg.
Bila yang diketahui temperaturnya, maka besaran lainnya dapat dicari dengan relatif mudah
melalui tabel uap jenuh (temperatur) seperti Lampiran Tabel Uap.
Sebagai contoh misalnya kita ingin mengetahui berapakah Entropi uap jenuh (Sg) serta
volume uap jenuh (Vg) pada temperatur 170 0C ?. Dengan menggunakan Tabel Uap, cari
pada kolom paling kiri dan tempatkan penunjuk pada angka 170. Selanjutnya geser secara
horizontal kearah kanan hingga kekolom Sg dan diperoleh angka 6,6630 lalu lanjutkan geser
hingga kolom Vg dimana didapat angka 242,55. Dengan demikian diperoleh jawaban bahwa
entropi uap jenuh pada temperatur 170 0C adalah sebesar 6,6630 KJ/Kg K serta volume uap
jenuh pada temperatur 170 0C adalah 242,55 dm 3/Kg.
Tabel uap panas lanjut adalah merupakan tabulasi dari berbagai besaran yang posisinya
diluar garis lengkung jenuh. Karena itu cara membacanya juga agak berbeda. Untuk dapat
menggunakan tabel uap, minimal harus diketahui 2 besaran, baru besaran yang lainnya
dapat ditentukan. Bagi yang sudah mahir menggunakan tabel ini, sebenarnya tabel uap
jenuh sudah tidak dibutuhkan lagi. Contoh tabel ini terlihat seperti pada Tabel Uap.
Pada tabel diatas, baris yang paling atas adalah baris tekanan. Setiap nilai tekanan memiliki
serumpun harga-harga entalpi (h), entropi (s) dan volume (v). Kolom yang paling kiri
merupakan harga-harga temperatur. Sebagai contoh, kita ingin menemukan berapakah
entalpi (h) dan entropi (s) uap pada tekanan 13 bar dan temperatur 200 0C ?.

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

Mula-mula kita cari pada baris paling atas (baris tekanan) dan tempatkan penunjuk pada
angka 13. Dua baris dibawahnya terdapat serumpun h,s dan v untuk tekanan 13 tersebut.
Selanjutnya kita cari pada kolom paling kiri (kolom temperatur) dan tempatkan penunjuk
pada angka 200. Gerakkan penunjuk secara horizontal kearah kanan hingga memotong
kolom h pada rumpun 13 bar dan diperoleh angka 2808,0. Lanjutkan gerakan kekanan pada
rumpun yang sama sampai kolom 5 dan diperoleh angka 6,5394.
Dengan cara seperti tersebut diperoleh bahwa uap pada tekanan 13 bar dan temperatur 200
0
C memiliki entalpi (h) sebesar 2808,0 KJ/Kg dan entropi (s) sebesar 6,5394 KJ/Kg K.

3.

3.1.

TEMPERATUR - ENTROPI

Pengaruh Tekanan Terhadap Titik Didih


Pada session terdahulu telah dibahas mengenai proses produksi uap panas
lanjut yang diilustrasikan pada sumbu temperatur - panas. Bila kemudian proses
tersebut diilustrasikan pada sumbu temperatur - entropi, ternyata pola prosesnya
sangat identik. Karena itu, pada session ini akan kita coba untuk menelaah
proses produksi uap panas lanjut dalam sumbu temperatur dan entropi seperti
terlihat pada gambar .

Gambar 2 Proses Penguapan Dalam Sumbu Temperatur - Entropi.

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

Gambar 2 memperlihatkan perilaku air pada tekanan atmosfir standard yang


dipanaskan hingga menjadi uap panas lanjut dimana air mulai mendidih pada
temperatur 100 0C.
Selanjutnya akan kita amati apa yang terjadi bila air tersebut dipanaskan pada
tekanan yang lebih tinggi ataupun lebih rendah dari tekanan atmosfir seperti
diilustrasikan pada gambar dibawah ini:

Gambar 3 Garis Lengkung Jenuh (Saturation Line)

Garis A - B - C - D pada gambar , merupakan proses penguapan pada tekanan


atmosfir standard dimana air mulai mendidih pada temperatur 100 0C. Bila
proses tersebut dilakukan pada tekanan lebih tinggi dari tekanan atmosfir,
ternyata pola garis lintasan prosesnya tetap sama hanya air akan mulai mendidih
pada temperatur lebih tinggi dari 100 0C seperti dinyatakan oleh garis E - F - G H. Sebaliknya bila proses dilaksanakan pada tekanan dibawah tekanan atmosfir,
pola prosesnya tetap sama hanya air akan mulai mendidih pada temperatur lebih
rendah dari 100 0C, seperti garis I - J - K - L. Berdasarkan kenyataan yang
diperoleh dari percobaan tersebut kemudian dapat disimpulkan bahwa ternyata
ada korelasi antara tekanan dengan titik didih dimana bila tekanan semakin
rendah, titik didih juga akan semakin rendah dan bila tekanan semakin tinggi,
maka air juga akan mendidih pada temperatur yang smakin tinggi. Kalau
percobaan diatas dilakukan untuk variasi tekanan yang cukup banyak, maka
akan diperoleh garis-garis lintasan proses yang cukup banyak pula.

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

Bila kemudian titik-titik jenuh dari garis garis lintasan tersebur dihubungkan satu
dengan yang lain, maka akan diperoleh sebuah garis lengkung yang disebut
garis lengkung jenuh (Saturation Line) seperti tampak pada gambar .

3.2.

Derajat Kekeringan Uap (Dryness Fraction)


Seperti sudah disinggung dimuka bahwa proses perubahan fase dari air menjadi
uap melalui proses pendidihan tidak berlangsung dengan seketika melainkan
secara bertahap seperti diilustrasikan oleh gambar.

Gambar 4 Proses Perubahan Fase

Karena proses perubahan fase yang berlangsung secara bertahap, maka pada
kondisi tertentu, fluida berada pada fase campuran dimana sebagian masih cair
sementara sebagian lagi sudah menjadi uap. Titik A pada gambar , menyatakan
bahwa kondisi fluida masih 100 % cair didalam keadaan mendidih. Sedang titik
C menyatakan bahwa kondisi fluida telah 100 % berada dalam fase gas (uap).
Kondisi fluida diantara titik A dan titik C menyatakan bahwa fluida masih berada
pada fase campuran antara air dengan uap.
Konsentrasi campuran tidak sama sepanjang garis A sampai C. Pada titik yang
makin mendekat ke titik C berarti porsi uapnya semakin banyak sementara porsi

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

airnya semakin sedikit. Sebaliknya untuk titik makin dekat ke titik A, berarti
kandungan air dalam campuran semakin tinggi sedang kandungan uapnya
semakin rendah.
Variasi dari kandungan uap atau kandungan air dalam campuran menyatakan
kualitas dari campuran. Kualitas campuran dapat dinyatakan dengan dua cara
yaitu dengan menyatakan fraksi uap dalam campuran atau dengan menyatakan
fraksi air dalam campuran. Bila kita memandang dari sisi uap, maka kita
menyatakan persentase kandungan uap dalam campuran.
Kualitas campuran yang dinyatakan dengan cara ini disebut sebagai derajat
kekeringan (dryness fraction). Sebagai contoh, bila kita ingin menyatakan derajat
kekeringan uap yang berada pada titik B dalam gambar 3.2.1, maka
formulasinya adalah :

DF

AB
100%
AC

dimana DF = derajat kekeringan (dryness fraction).


Sedangkan derajat kebasahan uap untuk titik yang sama adalah :

WF

BC
100%
AC

dimana W F = derajat kebasahan (wetness fraction).

3.3.

Titik Kritis
Seperti telah diutarakan sebelumnya bahwa ada korelasi antara tekanan dengan
titik didih dimana makin tinggi tekanan, makin tinggi pula titik didih. Dengan
bantuan tabel uap kita akan mengetahui lebih banyak tentang parameter lain
dalam kaitannya dengan tekanan dan titik didih tersebut. Untuk itu marilah kita
simak gambar .

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

Gambar 5 Titik Kritis

Pada gambar diatas terlihat titik didih pada tekanan P 1 adalah t1. Volume air
yang mulai mendidih pada kondisi ini adalah V a dan volume uap jenuhnya adalah
Vb. Entalpi air yang mulai mendidih adalah h a sedang entalpi uap jenuhnya
adalah hb.
Bila sekarang tekanan dinaikkan ke P2, maka air akan mulai mendidih pada
temperatur t2 yang lebih tinggi dari t1. Volume air dan entalpi air yang mulai
mendidih pada kondisi baru ini masing-masing adalah Vd dan hd sementara
volume dan entalpi uap jenuhnya berturut-turut adalah Ve dan he. Dengan
bantuan tabel uap dapat diketahui, bahwa V b - Va lebih besar dari Ve - Vd. Begitu
pula hb - ha lebih besar dari he - hd.
Dari ilustrasi diatas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tekanan, semakin
kecil perbedaan volume, entalpi dan juga entropi antara air yang sedang
mendidih dengan uap jenuh. Pada suatu titik tertentu (titik C), perbedaan
volume, entalpi dan juga entropi antara air dengan uap jenuh menjadi nol. Titik
ini disebut Titik Kritis.
Untuk air, titik kritis ini berada pada tekanan 221.2 bar, temperatur 374,15 0C dan
volume 3,17 dm 3/Kg. Proses penguapan yang berlangsung dibawah harga harga tersebut disebut proses penguapan sub kritis (Sub Critical) . Sedang yang
berlangsung diatas harga - harga tersebut disebut proses penguapan super kritis
(Super Critical).

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

3.4.

Luas Daerah Dalam Diagram Ts


Diagram temperatur - entropi (diagram Ts) sering digunakan sebagai alat untuk
memecahkan persoalan - persoalan termodinamika dengan cara melukiskan
proses-proses termodinamika pada diagram Ts seperti contoh dalam gambar .

Gambar 6 Luas Daerah Dalam Diagram T.s

Sebagai ilustrasi misalnya kita ingin menghitung berapa besar panas yang harus
diserap oleh air pendingin untuk mengkondensasikan uap jenuh menjadi air
pada tekanan dan temperatur konstan (Isobar - Isoterm) ?

Bila ditampilkan dalam diagram T-s, maka proses tersebut dinyatakan oleh garis
horizontal BA. Kalau pada titik B dan titik C masing-masing ditarik garis vertikal
hingga memotong sumbu S, maka akan diperoleh bidang empat persegi panjang
BC Sc Sb yang sisi panjangnya adalah S dan sisi lebarnya adalah T. Dengan
demikian berarti luas empat persegi panjang tersebut adalah panjang x lebar
atau T x S.
Karena satuan T = 0 K sedang satuan S = KJ/Kg 0 K, maka T x S = 0 K x KJ/Kg
K = KJ/Kg, yang tidak lain adalah satuan panas.

Dari ilustrasi diatas dapat disimpulkan bahwa energi panas berkenaan dengan
proses-proses yang digambarkan dalam diagram T-s dapat diketahui dengan

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

10

menghitung luas daerah yang dibentuk oleh lintasan proses-proses dalam


diagram tersebut.

4.

SIKLUS CARNOT DAN SIKLUS RANKINE SEDERHANA

Siklus adalah rangkaian beberapa proses. Dalam konteks PLTU, rangkaian proses yang
terjalin dalam siklus meliputi proses di boiler, turbin, kondensor dan pompa air pengisi
seperti tampak pada gambar .

Gambar 7 Komponen Dalam Siklus PLTU

Adapun rincian prosesnya adalah sebagai berikut :

Proses di boiler adalah proses isobar - isoterm.


Proses di turbin adalah proses ekspansi isentropis.
Proses di kondensor adalah proses isobar - isoterm.
Proses pompa adalah proses kompresi isentropis.

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

11

Proses - proses tersebut kemudian dirangkai membentuk suatu siklus oleh tuan Carnot dan
tuan Rankine yang hingga kini dikenal sebagai siklus Carnot dan siklus Rankine.

Tampilan siklus Carnot dalam diagram T-s terlihat seperti pada gambar 8.

Gambar 8 Siklus Carnot Sederhana

Dengan menampilkan siklus dalam diagram T-s, maka kita dapat mencari besarnya input
kedalam siklus, besarnya output dari siklus atau besarnya kerugian/losses dari siklus
tersebut. Apabila unsur-unsur tersebut sudah diketahui, maka efisiensi siklus dapat dihitung.

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

12

Adapun unsur - unsur dalam siklus diatas adalah :

Kalor Masuk (Qin)


Kalor Keluar (Qout)
Kerja Pompa (W P)
Kerja Turbin (W T)
Kerja Netto (W net)

= h3 h2
= h4 h1
= h2 h1
= h3 h4
= Qin Qout = (h3 h2) (h4 h1)
Atau
= W T W P = (h3 h4) (h2 h1)

Dengan demikian maka efisiensi Carnot dapat dihitung :

output
C =

input - losses
x 100 % atau
x 100 %
input
input

T2 (Sb - Sa) - T1 (Sb - Sa)


=

x 100 %
T2 (Sb - Sa)

T2 - T1
=

T1
=1-

T2

T2

Keterangan :
h
S
T
Q
W
C

= Entalpi (kJ/kg)
= Entropi (kJ/kg.K)
= Temperatur (K)
= Kalor (kJ/kg)
= Kerja (kJ/kg)
= Efisiensi Carnot (%)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa bila temperatur tertinggi dan terendah dari
siklus diketahui, maka efisiensi Carnot dapat dihitung dengan relatif mudah. Siklus Carnot
adalah siklus yang diidealisasikan guna mengetahui efisiensi termal maksimum dari siklus
secara cepat dan bukan untuk tujuan praktis karena siklus Carnot hampir mustahil untuk
dapat diimplementasikan.
Berkenaan dengan hal tersebut, tuan Rankine menciptakan suatu siklus yang lebih
berorientasi praktis dan memungkinkan untuk mengaplikasikan. Adapun tampilan siklus
Rankine untuk PLTU seperti gambar , dapat dilihat pada siklus dalam gambar.

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

13

Gambar 9 Siklus Rankine Sederhana

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

14

Unsur - unsur siklus Rankine adalah :


Adapun unsur - unsur dalam siklus diatas adalah :

= h3 h2
= h4 h1
= h2 h1
= h3 h4
= Qin Qout = (h3 h2) (h4 h1)
atau,
= W T W P = (h3 h4) (h2 h1)
Dengan demikian efisiensi Rankine dapat dihitung :
Kalor Masuk (Qin)
Kalor Keluar (Qout)
Kerja Pompa (W P)
Kerja Turbin (W T)
Kerja Bersih (W net)

Wnet
100%
Qin

h h2 h4 h1
Qin Qout
100% 3
100%
h3 h2
Qin

atau

h h4 h2 h1
WT WP
100% 3
100%
h3 h2
Qin

dimana :

R
h
W net
Qin
Qout
WT
WP

= efisiensi Rankine
= entalpi
= Kerja Bersih
= Kalor Masuk
= Kalor Keluar
= Kerja Turbin
= Kerja Pompa

Dengan menggunakan tabel uap, maka semua besaran tersebut dapat diketemukan dan
selanjutnya efisiensi Rankine dapat dihitung. Sebagai contoh, misalnya tekanan boiler pada
siklus seperti gambar , adalah 100 bar absolut dan tekanan kondensor = 0,075 bar absolut.
Hitung efisiensi Rankine.
Untuk titik 1 ; dengan Tekanan 0,075 bar, dari Tabel Uap Jenuh didapatkan :
h1 h f 168,79 kJ/kg

s1 s f 0,5764 kJ/kg.K
s fg 7,6750 kJ/kg.K
h fg 2406,0 kJ/kg

1 f 0,00101 m/kg

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

15

Untuk titik 2;

h2 h1 WP
dimana,

WP 1 .P2 P1
= 0,00101 m/kg (10.000 - 7,5) kPa
= 10,09 kJ/kg

h2 168,79 kJ/kg + 10,09 kJ/kg


= 178,88 kJ/kg
Untuk titik 3; dengan Tekanan 100 bar, dari Tabel Uap Jenuh didapatkan :
h3 = hg = 2727,7 kJ/kg
s3 = sg = 5,6198 kJ/kg.K
Untuk titik 4;
s4 = s3 = 5,6198 kJ/kg.K

h4 h1 x.(h fg )
dimana, x

h4 h1 s4 s1
h fg

s fg

5,6198 0,5764 0,675


7,6750

h4 168,79 + 0,675.(2406,0)
= 1792,84 kJ/kg

Kalor Masuk (Qin)

= h3 h2
= 2727,7 178,88 = 2548,82 kJ/kg

Kalor Keluar (Qout)

= h4 h1
= 1792,84 168,79 = 1624,05 kJ/kg

Kerja Pompa (WP)

= h2 h1
= 178,88 168,79 = 10,09 kJ/kg

Kerja Turbin (WT)

= h3 h4
= 2727,7 1792,84 = 924,86 kJ/kg

Kerja Bersih (Wnet)

= Qin Qout = (h3 h2) (h4 h1)


= 2548,82 - 1624,05 = 924,77 kJ/kg

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

16

Selanjutnya, dapat dihitung Efisiensi Siklus Rankine :

h h4 h2 h1
Wnet WT WP

100% 3
100%
h3 h2
Qin
Qin
924,77
100% 36,28%
2548,82

5.

SIKLUS RANKINE SUPERHEAT DAN SUPERHEAT-REHEAT

5.1.

Siklus Rankine Superheat


Untuk meningkatkan efisiensi siklus, maka ketel - ketel modern dilengkapi dengan
pemanas lanjut uap (Superheater) untuk menaikkan tempeartur uap yang keluar dari
ketel. Dengan cara ini maka kandungan energi panas dalam uap yang akan masuk
turbin menjadi lebih tinggi. Proses yang terjadi didalam superheater sendiri adalah
proses kenaikan temperatur melalui penambahan fraksi panas superheat yang
berlangsung secara Isobar. Adapun tampilan siklus Rankine Superheat dapat dilihat
gambar .

a. PLTU Dengan Superheater

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

17

b. Siklus Rankine Dalam Diagram T-s


Gambar 10 Siklus Rankine Superheat

Dari gambar , terlihat bahwa unsur-unsur dalam siklus adalah sebagai berikut :

= (h4 h3) + (h3 h2) = (h4 h2)


= h5 h1
= h2 h1
= h4 h5
= Qin Qout = (h4 h2) (h5 h1)
atau,
= W T W P = (h4 h5) (h2 h1)
Dengan demikian efisiensi Rankine dapat dihitung :
Kalor Masuk (Qin)
Kalor Keluar (Qout)
Kerja Pompa (W P)
Kerja Turbin (W T)
Kerja Bersih (W net)

Wnet
100%
Qin

h h2 h5 h1
Qin Qout
100% 4
100%
h4 h2
Qin

atau

h h5 h2 h1
WT WP
100% 4
100%
h4 h2
Qin

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

18

Sebagai contoh misalnya tekanan boiler untuk siklus seperti gambar , adalah 100 bar
absolut. Temperatur uap keluar Superheater = 500 0C dan tekanan kondensor =
0,075 bar absolut. Berapakah efisiensi Rankine untuk siklus tersebut.
Untuk menyelesaikan persoalan ini diperlukan bantuan Tabel Uap. Karena titik 4 ada
diluar garis lengkung jenuh, maka digunakan tabel uap panas lanjut. Untuk tekanan
100 bar dan temperatur 500 0C, diperoleh :
Untuk titik 1 ; dengan Tekanan 0,075 bar, dari Tabel Uap Jenuh didapatkan :
h1 h f 168,79 kJ/kg

s1 s f 0,5764 kJ/kg.K

s fg 7,6750 kJ/kg.K
h fg 2406,0 kJ/kg

1 f 0,00101 m/kg
Untuk titik 2;

h2 h1 WP
dimana,

WP 1 .P2 P1
= 0,00101 m/kg (10.000 - 7,5) kPa
= 10,09 kJ/kg

h2 168,79 kJ/kg + 10,09 kJ/kg


= 178,88 kJ/kg
Untuk titik 3; dengan Tekanan 100 bar, dari Tabel Uap Jenuh didapatkan :
h3 = hg = 2727,7 kJ/kg
Untuk titik 4; dengan Tekanan 100 bar dan Temperatur 500 0C dari Tabel Uap Panas
Lanjut didapatkan :
h4 = 3374,6 kJ/kg
s4 = 6,6994 kJ/kg.K

Untuk titik 5,
s5 = s4 = 6,6994 kJ/kg.K

h5 h1 x.(h fg )
dimana, x

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

h5 h1 s5 s1
h fg

s fg

19

6,6994 0,5764 0,80


7,6750

h5 168,79 + 0,80.(2406,0)
= 2093,59 kJ/kg

Kalor Masuk (Qin)


=

= h4 h2
3374,6 178,88 = 3195,72 kJ/kg

Kalor Keluar (Qout) = h5 h1


= 2093,59 168,79 = 1924,80 kJ/kg

Kerja Pompa (W P)
=

= h 2 h1
178,88 168,79 = 10,09 kJ/kg

Kerja Turbin (W T) = h4 h5
= 3374,6 2093,59 = 1281,01 kJ/kg

Kerja Bersih (W net) = Qin Qout = (h4 h2) (h5 h1)


= 3195,72 1924,80 = 1270,92 kJ/kg

Selanjutnya, dapat dihitung Efisiensi Siklus Rankine :

h h4 h2 h1
Wnet WT WP

100% 5
100%
h4 h2
Qin
Qin
1270,92
100% 39,77%
3195,72

Dengan demikian terbukti bahwa efisiensi siklus Rankine Superheat lebih tinggi
dibanding efisiensi siklus Rankine sederhana.

5.2.

Siklus Rankine Superheat-Reheat


Pada PLTU berkapasitas besar, ternyata pemanas lanjut saja masih kurang
memenuhi kebutuhan. Untuk itu, selain pemanas lanjut juga dilengkapi dengan
pemanas ulang uap (Reheater). Pada siklus dengan pemanas ulang, uap dari turbin
tekanan tinggi dialirkan kembali kedalam elemen pemanas ulang (Reheater) untuk
dipanaskan lagi dan baru kemudian dialirkan ke turbin tekanan menengah dan turbin
tekanan rendah. Proses yang berlangsung dalam pemanas ulang sama dengan

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

20

proses yang berlangsung dalam supereheater yaitu pemanasan uap secara isobar.
Tampilan siklus Rankine Superheat Reheat terlihat seperti gambar .

a. PLTU Dengan Superheater - Reheater

b. Diagram TS Siklus Rankine Superheat Reheat.


Gambar 11 Siklus Rankine Superheat Reheat

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

21

Dari gambar , terlihat bahwa :

Kalor Masuk (Qin)


Kalor Keluar (Qout)
Kerja Pompa (W P)
Kerja Turbin (W T)
Kerja Bersih (W net)

=
=
=
=
=

(h6 h5) + (h4 h3) + (h3 h2) = (h6 h5) + (h4 h2)
h7 h1
h2 h1
(h4 h5) + (h6 h7)
Qin Qout = [(h6 h5) + (h4 h2)] (h7 h1)

atau,
= W T W P = [(h4 h5) + (h6 h7)] (h2 h1)
Dengan demikian efisiensi Rankine dapat dihitung :

Wnet
100%
Qin

Qin Qout
[h h5 h4 h2 ] h7 h1
100% 6
100%
h6 h5 h4 h2
Qin

atau

[h h5 h6 h7 ] h2 h1
WT WP
100% 4
100%
h6 h5 h4 h2
Qin

Sebagai contoh misalkan siklus seperti gambar , tekanan dan temperatur uap masuk
turbin tekanan tinggi (T.T) adalah 100 bar dan 500 0C. Tekanan dan temperatur uap
keluar turbin (TT) adalah 40 bar dan 300 0C yang selanjutkan dialirkan kembali ke
Reheat. Temperatur uap keluar reheater = 500 0C. Uap tersebut selanjutnya mengalir
kedalam turbin tekanan menengah dan turbin tekanan rendah untuk akhirnya masuk
ke kondensor. Tekanan kondensor adalah 0,075 bar absolut. Berapakah efisiensi
Rankine untuk siklus tersebut ?.
Untuk menyelesaikan masalah kembali diperlukan Tabel Uap, karena titik 4,5 dan 6
ada diluar garis lengkung jenuh, maka dipakai tabel uap panas lanjut. Dari tabel
tersebut untuk tekanan 40 bar dan temperatur 500 0C, diperoleh :
Untuk titik 1 ; dengan Tekanan 0,075 bar, dari Tabel Uap Jenuh didapatkan :
h1 h f 168,79 kJ/kg

s1 s f 0,5764 kJ/kg.K
s fg 7,6750 kJ/kg.K
h fg 2406,0 kJ/kg

1 f 0,00101 m/kg

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

22

Untuk titik 2;

h2 h1 WP
dimana,

WP 1 .P2 P1
= 0,00101 m/kg (10.000 - 7,5) kPa
= 10,09 kJ/kg

h2 168,79 kJ/kg + 10,09 kJ/kg


= 178,88 kJ/kg
Untuk titik 3; dengan Tekanan 100 bar, dari Tabel Uap Jenuh didapatkan :
h3 = hg = 2727,7 kJ/kg
Untuk titik 4; dengan Tekanan 100 bar dan Temperatur 500 0C dari Tabel Uap Panas
Lanjut, didapatkan :
h4 = 3374,6 kJ/kg
s4 = 6,6994 kJ/kg.K
Untuk titik 5, dengan Tekanan 40 bar dan Temperatur 300 0C dari Tabel Uap Panas
Lanjut, didapatkan :
h5 = 2960,7 kJ/kg
Untuk titik 6; dengan Tekanan 40 bar dan Temperatur 500 0C dari Tabel Uap Panas
Lanjut, didapatkan :
h6 = 3445,3 kJ/kg
s6 = 7,0901 kJ/kg.K
Untuk titik 7,
s7 = s7 = 7,0901 kJ/kg.K

h7 h1 x.(h fg )
dimana, x

h7 h1 s7 s1
h fg

s fg

7,0901 0,5764 0,85


7,6750

h7 168,79 + 0,85.(2406,0)
= 2213,89 kJ/kg

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

23

Kalor Masuk (Qin)

= (h6 h5) + (h4 h2)


= (3445,3 - 2960,7) + (3374,6 178,88)
= 3680,32 kJ/kg

Kalor Keluar (Qout)

= h7 h1
= 2213,89 168,79 = 2045,10 kJ/kg

Kerja Pompa (W P)

= h2 h1
= 178,88 168,79 = 10,09 kJ/kg

Kerja Turbin (W T)

= (h4 h5) + (h6 h7)


= (3374,6 2960,7) + (3445,3 2213,89)
= 1645,31 kJ/kg

Kerja Bersih (W net)

= Qin Qout = W T - W P
= 3680,32 2045,10 = 1635,22 kJ/kg

Selanjutnya, dapat dihitung Efisiensi Siklus Rankine :

Wnet WT WP

100%
Qin
Qin
1635,22
100% 44,43%
3680,32

Dengan demikian terbukti lagi bahwa dengan penambahan pemanas ulang, maka
efisiensi siklus menjadi lebih tinggi lagi. Selain menguntungkan dari sisi efisiensi,
pemanas ulang juga dapat memperpanjang umur turbin tekanan rendah karena
kualitas uap bekas pada siklus dengan pemanas ulang menjadi lebih baik.

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

24

6.

PERPINDAHAN PANAS
Seperti diketahui beberapa jenis komponen PLTU bekerja berdasarkan azas
pemindahan energi panas dari suatu fluida kefluida lain seperti ketel, condenser, heat
exchanger dan lain sebagainya. Karena itu para operator hendaknya juga memahami
prinsip-prinsip dasar proses perpindahan panas. Session ini akan membahas prinsip
dasar proses perpindahan panas secara terbatas beserta penerapannya sesuai
dengan kebutuhan lingkup tugas operator.

Gambar 12 Mekanisme Perpindahan Panas

6.1.

Mekanisme Perpindahan Panas.


Secara umum panas dapat berpindah dari suatu daerah atau benda yang
bertemperatur lebih tinggi ke daerah atau benda yang bertemperatur lebih rendah.
Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa panas dapat berpindah apabila ada
perbedaan tempeatur ( t ). Karena itu dapat disimpulkan bahwa perbedaan
temperatur ( t ) merupakan potensial pendorong bagi proses perpindahan panas.
Pada prinsipnya panas dapat berpindah melalui 3 macam mekanisme yaitu radiasi,
konduksi dan konveksi.

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

25

Gambar 13 Perpindahan Panas Konduksi

Konduksi: adalah proses perpindahan panas yang berlangsung secara merambat


atau estafet melalui molekul-molekul benda. Misalnya sebatang logam yang panjang
salah satu ujungnya dipanaskan. Setelah beberapa lama bila ujung lain disentuh juga
akan terasa panas.ini berarti panas berpindah dari satu ujung logam keujung lainnya
secara merambat. Contoh adalah panas yang berpindah dari permukaan bagian luar
kepermukaan bagian dalam pipa-pipa ketel, condenser dan sebagainya.
Dari Hukum Hukum Fourier 1822 yang ditemukan oleh Jean Baptiste Joseph Fourier
(1768-1830) didapatkan Persamaan Konduksi :

dT
Q k . A.
dx

Q = Laju Perpindahan Panas Konduksi (W)


k = Konduktivitas Thermal (W/m. 0C)
A = Luas Permukaan (m)
dT = Perbedaan Temeperatur (0C)
dx = Ketebalan Material (m)

Konveksi: adalah proses perpindahan panas yang berlangsung melalui perantaraan


pergerakan fluida. Jadi molekul-molekul fluida merupakan perantara yang membawa
panas dari satu tempat ketempat lain.Contoh adalah proses perpindahan panas dari
gas bekas ke elemen economizer didalam ketel.

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

26

Gambar 14 Perpindahan Panas Konveksi

Laju Perpindahan Panas secara konveksi dapat dihitung dengan menggunakan


persamaan Perpindahan Panas Konveksi :

Qkonv = Laju Perpindahan Panas Konveksi (W)


h
A
T

= Koefisien Perpindahan Panas Konveksi (W/(m.C))


= Luas Permukaan (m)
= Perbedaan Temperatur (C)

Radiasi: adalah proses perpindahan panas melintasi ruang melalui pancaran


gelombang elektromagnetik dengan kecepatan cahaya dari benda yang bertemperatur
lebih tinggi ke benda yang bertemperatur rendah. Perpindahan panas secara radiasi
tidak membutuhkan media perantara sehingga panas tetap dapat berpindah secara
radiasi meskipun harus melintasi ruang hampa. Contoh adalah proses perpindahan
panas yang terjadi didalam ruang bakar ( Furnace ) ketel ketika panas dari nyala api
dipancarkan kedinding ruang bakar ( wall tube ).
Laju Perpindahan Panas Radiasi dapat dihitung melalui Hukum Stefan-Boltzmann
(Persamaan Radiasi) :
Eb = Emisi Energi Benda Hitam (W/m2)
q = Laju Perpindahan Panas Radiasi (W/m)
= Konstanta Stefan-Boltzmann
= [5,6697 x 10 W/(m2.K4)]
T = Temperatur (K)

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

27

Pada prakteknya terkadang sulit memisahkan ketiga mekanisme perpindahan panas


tersebut,karena seringkali ketiganya berlangsung secara serentak dan bersamaan.

6.2.

Pengaruh Deposit Pada Perpindahan Panas


Bila pada perrmukaan pemindah panas terjadi deposit, maka proses perpindahan
panas akan terhambat. Hal ini disebabkan karena deposit merupakan
hambatan/resistansi terhadap laju aliran panas terutama pada proses perpindahan
panas konduksi, seperti gb. dibawah.
Gambar 12 merupakan penampang sebuah pipa dengan deposit dibagian dalam pipa,
bila pipa dalam keadaan bersih maka hambatan terhadap perpindahan panas hanya
berupa dinding pipa dengan Resistansi R 1 . Manakala terdapat deposit, maka
hambatan bertambah sesuai ketebalan deposit dengan Resistansi R 2 . Kedua
Resistansi tersebut akan dihubungkan secara seri sehingga Resistansi total menjadai
R1 + R2 . Akibat bertambahnya Resistansi maka laju aliran panas ( Q ) akan berkurang.
Disamping itu deposit yang cukup tebal dibagian dalam pipa juga akan mengurangi
luas permukaanbagian dalam pipa, hal ini berarti akan mengurangi luas penampang
perpindahan panas sehingga juga akan mengurangi laju aliran panas ( Q ).

Gambar 15 Tahanan Termal pada Deposit

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

28

Dari persamaan Perpindahan Panas Konduksi :

Q k . A.

dT
dx
dx
k.A

dT
R

Dimana :
R = Tahanan Thermal (W/ 0C)
Q = Laju Perpindahan Panas Konduksi (W)
k = Konduktivitas Thermal (W/m. 0C)
A = Luas Permukaan (m)
dT = Perbedaan Temeperatur (0C)
dx = Ketebalan Material (m)

Dengan demikian maka segala macam deposit baik bagian dalam maupun bagian luar
pipa harus diusahakan agar jangan sampai terbentuk. Bila sudah terlanjur terbentuk
segera lakukan tindakan koreksi atau laporkan kondisi tersebut agar pihak yang lebih
berwenang dapat melakukan tindakan koreksi.

Simple Inspiring PerformIing Phenomenal

29