Anda di halaman 1dari 35

KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA

DEPUTI AKUNTABILITAS APARATUR

MODUL PELATIHAN

BEBERAPA TEKNIK EVALUASI


DALAM
EVALUASI ATAS SISTEM AKIP

© Tim Studi Pengembangan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah

JAKARTA, MEI 2005


DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN …………………………………… 3

BAB II LOGIC MODEL …………………………………….. 5

BAB III CRITERIA REFERRENCED TEST ………………… 17

LEMBAR LATIHAN ……………………………………………. 26

LEMBAR SLIDE-SLIDE PRESENTASI

2
Bab 1

Pendahuluan
Evaluasi sistem AKIP (Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah) merupakan salah
satu hal yang seyogianya dilaksanakan dalam mengevaluasi LAKIP. Langkah awal
dalam mengevaluasi LAKIP ini untuk mengetahui dan meyakinkan bahwa instansi
pemerintah telah menerapakan sistem manajemen kinerja dan pengendalian
mutunya dengan baik. Evaluasi ini diperlukan dengan mengasumsikan bahwa jika
sistem-nya baik akan dapat mewujudkan hasil yang baik.

Aksioma tersebut di atas tidaklah selalu benar adanya secara empiris. Namun
secara normatif jika kita ingin memperbaiki hasil tentulah harus diperbaiki proses
atau sistem yang menghasilkan output/outcome tertentu yang kita rencanakan.
Dalam manufakturing misalnya, proses yang baik dan efisien akan dapat
menghasilkan output barang atau jasa yang baik pula. Analog dengan sistem yang
dipakai dalam proses produksi pada perusahaan manufaktur itulah maka riviu atau
penelahaan sistem dan proses produksi barang dan jasa pada instansi pemerintah
dalam menghasilkan layanan kepada masyarakat akan lebih baik jika prosesnya
baik.

Terlepas dari berhasil tidaknya memperoleh output atau hasil yang baik atau tidak,
sudah selayaknya instansi pemerintah selalu memperbaiki manajemen kinerjanya
agar dapat memperbaiki kinerja dan meningkatkan akuntabilitasnya. Hal ini
penting, dan agaknya peningkatan kinerja tidak terlepas dari perbaikan sistem.
Walaupun kita mengetahui bahwa perbaikan sistem saja tidaklah cukup. Masih
diperlukan perbaikan-perbaikan lainnya seperti perbaikan kapasitas staf, kultur
(budaya) organisasi, kepemimpinan, struktur, dan lainnya.

Evaluasi sistem AKIP dapat dilakukan dengan meneliti secara keseluruhan


komponen-komponen sistem AKIP maupun satu per satu komponen-komponen
tersebut. Sistem AKIP yang telah diterapkan mulai tahun 2000 di berbagai instansi
pemerintah pada dasarnya meliputi tiga komponen penting yaitu perencanaan
strategis dan perencanaan kinerja, sistem pengukuran kinerja dan pelaporan
kinerja. Satu per satu komponen tersebut haruslah diriviu atau dievaluasi tahap
demi tahap (step by step assessment) ataupun diriviu secara keseluruhan (over-all
assessment) sehingga keselarasan, keserasian, kohesi dan keterpaduan dalam
mencapai tujuan dan sasaran organisasi dapat diwujudkan.

Teknik yang sangat dianjurkan dalam mengevaluasi sistem AKIP ini antara lain
adalah teknik logic model atau program logic dan criteria referrenced test. Dua
teknik ini dapat dilaksanakan dalam rangka pengumpulan data guna dilakukan

3
analisis dan pemetaan apa yang sesungguhnya ada. Mengidentifikasi ”apa yang
ada” (what it is) dan kemudian membandingkannya dengan apa yang seharusnya
ada (what should be) akan dapat menuntun kita kepada simpulan apakah sistem
manajemen kinerja dan akuntabilitas kinerja atau apa yang disebut sistem AKIP
telah diterapkan secara baik.

Dalam modul pelatihan ini beberapa petunjuk yang ada di dalam buku Pedoman
Umum Evaluasi LAKIP dieksplorasi kembali dan diberikan petunjuk dan contoh-
contoh yang diperlukan dalam memahami pemakaian teknik tersebut untuk tujuan
evaluasi. Hal-hal yang sekiranya secara nyata ditemui dalam praktik dan dianggap
baik oleh instansi dapat dijadikan acuan guna memperluas praktik terbaik tersebut.
Modul pelatihan ini lebih dimaksudkan untuk memicu para evaluator dalam
melakukan evaluasi terutama dalam pengumpulan data, pemetaan dan identifikasi
masalah kesisteman, dan analisis yang dapat dituangkan dalam kertas kerja
evaluasi.

Sistematika modul ini secara sederhana ditulis dalam dua bab besar yaitu tentang
penggunaan teknik logic model atau analsis logika program dan penggunaan teknik
criteria referrenced test. Di samping itu disajikan bahan untuk latihan, contoh dan
alat-alat atau media untuk mendokumentasikan langkah-langkah analisis dan
evaluasi dalam kertas kerja evaluasi.

4
Bab 2

ANALISIS LOGIKA PROGRAM


(LOGIC MODEL)

A. PENGERTIAN
Logika sangat bermanfaat dan sangat penting untuk meningkatkan
kemampuan manusia berpikir rasional, kritis, tepat, tertib, metodis/ sistematis dan
koheren. Logika juga dapat dipakai untuk meningkatkan kemampuan berpikir
secara abstrak, cermat, obyektif dan berfikir lebih tajam.

Menurut Rapar (1996) paling kurang terdapat empat kegunaan logika:


pertama, membantu setiap orang mempelajari logika untuk berpikir secara
rasional, kritis, lurus, tepat , tertib, metodis, dan koheren; kedua, meningkatkan
kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan obyektif; ketiga, menambah
kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri;
keempat, meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kekeliruan serta
kesesatan.

Analisis logika program atau analiis logika atau program logic merupakan
teori tentang hubungan sebab-akibat di antara berbagai komponen dari suatu
program : sumber daya dan kegiatan-kegiatannya, keluarannya, serta dampak
jangka pendek dan hasil jangka panjangnya. Teknik analisis dengan meneliti logika
program ini sering disebut analisis logika program atau program logic. Analisis
logika program (program logic) berguna untuk mendapatkan pemahaman dan
pencapaian kesepakatan serta untuk mengetahui secara rinci tujuan program, baik
secara mikro maupun makro.

Analisis logika ini dapat dipergunakan sebagai alat untuk melakukan


perencanaan atas program yang akan dilaksanakan. Disamping itu program logic
juga dapat digunakan untuk melakukan evaluasi atas program atau kegiatan yang
telah selesai maupun yang sedang berjalan serta program yang masih dalam tahap
perencanaan.

Karakteristik dari pendekatan program logic adalah suatu gambaran di mana


program-program tidak secara langsung mencapai tujuan akhir dari hasil yang
diinginkan. Dengan kata lain alat ini memberikan suatu gambaran hubungan
sebab-akibat di mana urutan kejadian sedemikian rupa sehingga adanya suatu
kejadian merupakan kejadian atau tindakan yang mendahului, atau menjadi
sebab, kejadian atau tindakan berikutnya. Alat ini mengidentifikasikan adanya
beberapa keluaran (output) dan hasil antara (intermediate outcome) sebelum

5
pencapaian hasil akhir. Hasil antara ini membentuk suatu diagram yang disebut
hirarki hasil (hierarchy of outcomes).

Analisis logika program (program logic) dapat dilakukan dengan memperhatikan


suatu acuan teori logika atau model logika (logic model) dan juga acuan yang
sering disebut sebagai program theory (teori program). Logika sendiri bisa
berupa ilmu yaitu ilmu logika, atau hanya suatu metode. Jika logika ini
dipandang sebagai ilmu maka teori logika menjadi dasar dari
pengembangannya. Sedangkan jika dipandang sebagai metode, maka logika
dipakai sebagai alat analisis untuk menguji atau mengecek kebenaran berfikir
atau kebenaran penalaran.

Untuk tujuan evaluasi atau riset maka logika dipakai sebagai metode atau
teknik analisis. Dengan demikian maka analisis logika haruslah memperhatikan
asas-asas penalaran yang sistematis.

Program logic dibuat secara singkat dan jelas, sehingga dengan hanya melihat
alat ini, garis besar isi keseluruhan program sudah dapat diketahui. Program
logic ini dibuat pada saat program direncanakan untuk disertakan dalam
dokumen usulan program. Alat ini sebaiknya selalu diperbaiki dan diperbaharui
pada setiap perubahan yang terjadi pada suatu program guna tetap menjaga
keterkaitan sebab-akibat di antara berbagai komponen dari suatu program.

Penyusunan dari program logic mencakup :


a. menentukan indikator dan sasaran kinerja yang mencakup masukan,
keluaran, hasil, manfaat dan dampak program;
b. hubungan kausal antara indikator-indikator tersebut;
c. asumsi yang mengikuti tujuan di setiap tingkatan, yaitu faktor-faktor luar
yang tidak dapat dikontrol oleh program itu sendiri, tetapi dapat
mempengaruhi tercapainya tujuan program.

B. PROGRAM THEORY
Teori ini mendasari penataan program yang menjelaskan suatu perencanaan dan
penataan suatu program yang meliputi berbagai komponen program. Komponen
utama dari program misalnya, yaitu kegiatan-kegiatan dan hasil yang diinginkan,
haruslah dirancang satu sama lain saling mengkait dan ada hubungan yang logis.
Disini penciptaan kerangka kerja logis haruslah baik, walaupun hanya baik ”di atas
kertas”.
Teori program adalah teori yang menjelaskan rantai yang lengkap dari berbagai kejadian
(events) yang menghubungkan input dengan output, output dengan short-terms outcome,
short-term outcomes dengan medium-term outcomes dan medium-term outcome kepada
long-term outcome atau tujuan akhir.

Teori program, adalah teori yang menjelaskan hubungan antara berbagai komponen
program secara logis yang berdasarkan pada:
1) adanya hubungan sebab akibat berdasarkan asumsi tertentu (hypothesized
cause-effect relationship);
2) adanya terterkaitan kausalitas (causal linkage) yang jelas;
3) adanya serangkaian urut-urutan atau series of IF-THEN;

6
4) adanya perkiraan aksi dan reaksi;
5) asumsi-asumsi tertentu.
Teori ini dapat dijadikan dasar untuk perencanaan dan evaluasi suatu program.
Program teori ini dikembangkan dari suatu model logis atau logic model, seperti
berikut:

s
i Input Output Outcomes
t
u
a
s
i

Dari model logis ini dapat dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari seperti berikut:

Sakit
kepala Mendapat- Minum Sembuh /lebih
kan pil pil baik

C. BEBERAPA TAHAPAN ANALISIS LOGIKA PROGRAM

Tahapan analisis logika progam :


1. Membuat uraian ringkas mengenai program
Bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai:
1) latar belakang dan tujuan dikeluarkannya program
2) dasar hukum program, terutama mengenai batasan lingkup otorisasi
dan operasi program
3) keterkaitan program yang dievaluasi dengan program lainnya
4) benchmark keberhasilan/kinerja program
5) hasil evaluasi program pada periode sebelumnya
6) faktor-faktor lain di luar program yang akan mempengaruhi kinerja
pelaksanaan program.

2. Menentukan tujuan program

7
Kegiatan ini dimaksudkan untuk menentukan ruang lingkup yang menjadi
fokus evaluasi, yaitu kelayakan , efisiensi, dan/atau efektivitas melalui
kegiatan :
1) memisahkan antara tujuan program dengan proses penyampaian
program;
2) mengidentifikasi input, proses dan out put dari masing-masing aktivitas;
3) mengidentifikasi outcome yang bertentangan (negatif);
4) merumuskan kembali tujuan program dalam bentuk yang mudah
dievaluasi.
3. Menyusun diagram logika program
Bertujuan untuk memperoleh gambaran secara visual mengenai alur pikir
program dalam bentuk hubungan sebab akibat antara input, proses, output
dan outcome. Hal tersebut dapat dilakukan melalui:
1) mempelajari data-data logika program yang ada;
2) mengidentifikasi komponen input, proses, out put dan outcome;
3) menentukan hirarki outcome (low-level, midle-level, atau high-level)
4) mengidentifikasi outcome positif dan outcome negatif
5) menuangkan hasil butir (3) dan (4) ke dalam suatu diagram
6) mendiskusikan dan meminta tanggapan/persetujuan dari pihak evaluatan
4. Mengidentifikasi tingkat outcome yang dapat dievaluasi
Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran/perkiraan
mengenai hasil maksimum yang mungkin diberikan/dicapai dari kegiatan
evaluasi yaitu dengan cara :
1) memisahkan outcome yang mungkin dicapai
2) menentukan outcome mana yang dapat dievaluasi berdasarkan batasan
waktu, biaya , dan tujuan evaluasi.
5. Mengidentifikasi indikator pencapaian outcome serta menentukan data yang
relevan .
Kegiatan ini bertujuan untuk menentukan dasar dalam rangka (i) membantu
memfokuskan pengukuran outcome, (ii) menyepakati kriteria keberhasilan
program, dan (iii) membantu mengidentifikasi data yang relevan.

Kegiatan ini dilakukan melalui:


a. mempelajari indikator pencapaian program yang tertuang dalam
dukumen program
b. menetapkan indikator yang akan menjadi kriteria dalam evaluasi
c. mendiskusikannya dengan pihak-pihak terkait untuk mendapatkan
kesepakatan
d. mengidentifikasi jenis data dan sumber data yang relevan.
e. Mengukur perolehan butir d diatas dengan biaya dan waktu yang
tersedia.
6. Mengidentifikasi faktor-faktor ekternal yang mempengaruhi pencapaian
program.
Kegiatan ini bertujuan mengenali dan melokalisir faktor-faktor eksternal yang
mempengaruhi pencapaian program. Hal tersebut dapat dilakukan melalui
identifikasi sebelumnya yang ada dalam dokumen program.

8
D. STRUKTUR PROGRAM LOGIC

Sebagai penggambaran bentuk dari program logic dapat dilihat dari contoh-
contoh di bawah ini :
a. Gambar 1 Program pengarahan tingkah laku oleh salah satu instansi
pemerintah
b. Gambar 2 Suatu contoh kasus manajemen pada salah satu instansi
pemerintah
c. Gambar 3 Program peningkatan kesehatan masyarakat dengan
mengurangi jumlah perokok

Dengan melihat contoh-contoh tersebut dapat dilihat hubungan sebab akibat


dari program logic ini yang kemudian dapat dipergunakan sebagai dasar
evaluasi kinerja pada masing-masing instansi. Evaluasi dengan
mempergunakan alat ini dilakukan pada setiap pencapaian target, mulai dari
keluaran (output) instansi, target antara sampai dengan target terakhir.
Sebagai contoh hirarki hasil dari suatu program pemerintah dalam bidang
kesehatan. Hasil akhir, yaitu masyarakat yang sehat, tidak secara langsung
dapat dicapai. Namun, beberapa langkah kegiatan dapat diidentifikasi secara
progresif dibangun menuju hasil yang diinginkan.

Contoh lain alat ini juga dapat ditampilkan dalam format matrik 5 x 4 yang
menunjukkan tingkatan tujuan program, serta hubungan antara masukan, keluaran,
hasil, manfaat dan dampak program. Logika vertikal dibaca dari baris ke baris,
menjelaskan tentang logika pelaksanaan program. Logika horizontal dibaca dari
kolom ke kolom, menjelaskan pencapaian tujuan program pada setiap tingkatan.
Informasi yang disajikan dalam program logic dengan format ini akan
menggambarkan secara jelas seluruh pelaksanaan program beserta informasinya,
baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Format bentuk ini dapat dilihat dalam
gambar 4.

Suatu instansi yang memakai hirarki hasil ini akan mengembangkan suatu
sistem pengukuran kinerja yang akan memberikan indikator pada setiap hasil
antara sebagaimana juga pada hasil akhir. Dengan mengidentifikasikan masukan-
masukan serta faktor-faktor lain yang dapat dikendalikan oleh instansi (dan juga
yang di luar kendali) instansi tersebut menjadi lebih fokus akan pencapaian hasil
yang diinginkannya. Peningkatan focus ini akan menuju kearah pengukuran dan
target kinerja yang lebih baik.

9
Gambar 1
Gambar di bawah ini menunjukkan hubungan sebab-akibat yang dimulai dari
penetapan output program yang layak bagi organisasi/instansi pemerintah dalam
rangka mencapai hasil akhir (ultimate outcome) yang diinginkan. Dalam proses
pencapaian hasil akhir tersebut terdapat hasil antara yang ingin dicapai sebagai
target tahunan, triwulanan, atau bulanan.

Hasil Khusus dari Program

Tingkah Laku Klien telah Dipengaruhi

Perubahan Pengetahuan Perubahan Sikap

Klien merasa kegunaan, kredibilitas saran dan jasa

Klien sadar akan jasa penasehatan

Informasi telah diorganisasikan sehingga menjadi form yang dapat diakses

Informasi yang layak dikumpulkan dan dikembangkan

Program yang layak untuk prioritas pemerintah, organisasi


dan kebutuhan komunitas

10
Gambar 2 :

Gambar di bawah ini menunjukkan hubungan sebab-akibat yang dimulai dari


penetapan output program yang layak bagi organisasi/instansi pemerintah dalam
rangka mencapai hasil akhir (ultimate outcome) yang diinginkan. Sebagai contoh
adalah program logic di bawah ini yang mencoba untuk melihat hubungan sebab-
akibat dari suatu program pemerintah yang hasil akhirnya adalah mengurangi
tingkat ketergantungan suatu instansi.

Mengurangi ketergantungan jangka panjang dan biaya kepada Pemerintah &


Komunitas

Kondisi-kondisi kehidupan meningkat

Sasaran jangka pendek secara progressif dapat dicapai

Program-program terseleksi secara memuaskan dapat diimplementasikan/diadopsi

Seperangkat sasaran objektif

Identifikasi yang akurat dari kebutuhan/prospek individu

Program yang layak untuk prioritas pemerintah, organisasi dan kebutuhan


komunitas

11
Gambar 3 :

HASIL
Tingkat Kematian akibat merokok berkurang
AKHIR

Perokok merubah kebiasaannya

A
Pendapat perokok atas rokok telah berubah
S

I
Perokok mencari informasi lebih lanjut
L

A
Perokok membaca pamflet
N

A Perokok mendapatkan pamphlet kampanye anti


merokok
R

A
Instansi yang berwenang membagikan pamphlet
pada target area

Keluaran
Instansi Instansi yang berwenang mempersiapkan
pamphlet anti-merokok

12
E. PENGGUNAAN TEKNIK PROGRAM LOGIC UNTUK EVALUASI

Teknik ini merupakan salah satu teknik yang sangat dianjurkan dalam melakukan
evaluasi LAKIP. Berikut ini beberapa tips untuk menggunakan teknik ini dalam
evaluasi :

1) Melakukan pemetaan terhadap apa yang ada (existing systems and facts);
Ini merupakan gambaran atau deskripsi singkat mengenai apa yang ada
(what is). Untuk itu para pembaca diharapkan dapat melakukan latihan
dengan menggunakan lembar kerja 1 dan 2.
2) Melakukan pemetaan terhadap apa yang seharusnya (what should be).
3) Membandingkan kedua hasil pemetaan tersebut, kemudian meriviu kembali
dan meneliti perbedaannya. Perbedaan inilah yang seharusnya merupakan
saran perbaikan yang perlu dikemukakan dalam uraian hasil evaluasi.

Oleh karena itu perlu dilakukan pendokumentasikan langkah demi langkah tersebut
di atas. Pertama dilakukan pemetaan secara vertikal hubungan antara kegiatan,
program, kebijakan dan sasaran, tujuan, serta hubungannya dengan visi dan misi
organisasi. Langkah pertama ini dituangkan dalam lembar kerja 1 seperti berikut:

Lembar Kerja 1:
PROGRAM LOGIC
Untuk latihan, test 5-10 kegiatan dari kegiatan-kegiatan yang
ada dengan menggambarkan sbb:

Visi

Misi

TUJUAN

SASARAN

13
KEBIJAKAN

PROGRAM

KEGIATAN

Selanjutnya evaluator dianjurkan untuk meneliti hubungan antara kegiatan-kegiatan


dengan program, program dengan kebijakan, kemudian hubungan antara sasaran
dan tujuan. Dari kertas kerja ini dapat diperoleh gambaran apakah penataan

Program (strategi) yang diterapkan dalam organisasi mempunyai hubungan yang


logis atau masuk akal (penalarannya baik). Argumentasi-argumentasi dari
evaluator haruslah dicatat dalam analisisnya. Jika dinilai hubungan logis tersebut
ternyata cukup baik maka harus diberi catatan baik pula.

Langkah kedua, dari simpulan dan argumentasi-argumentasi evaluator tersebut


perlu dibuat saran apa yang sebaiknya dirumuskan untuk memperbaiki apa yang
ada tersebut. Inilah yang tidak mudah dilakukan oleh para evaluator. Evaluator
harus menggunakan pengetahuan dan ketajaman analisis dari sisi pandangnya
sendiri, dengan menyediakan argumentasi-argumentasi untuk membujuk
dilakukannya perbaikan. Dalam hal demikian, langkah yang perlu diambil oleh
evaluator adalah mengkonfirmasikan kembali temuannya kepada evaluatee (pihak
yang dievaluasi).

Hal kedua yang perlu dilakukan dengan menggunakan teknik logic model ini yaitu
meneliti keterkaitan horisontal, antara kegiatan/program dengan input, output dan
outcome yang dihasilkan. Langkah ini dapat didokumentasikan dalam lembar kerja
seperti berikut:

14
LEMBAR KERJA 2:

PROGRAM LOGIC
Program: Peningkatan …….
KEGIATAN INPUT OUTPUT OUTCOME

Sekali lagi, langkah yang dilakukan adalah menulis apa yang sesungguhnya ada
(senyatanya) dan kemudian menganalisis hubungan logis antara komponen-
komponen tersebut. Jika ditemukan hubungannya tidak logis atau tidak nalar maka
ini merupakan hal yang harus dibahas atau dikonfirmasikan dengan evaluatee dan
segera dicari kemungkinan perbaikannya.

Glossary

Analisis, adalah aktivitas meneliti, mengurai, mengklasifikasi (memilah-milah),


membagi-bagi, menggolongkan, menimbang, mengenali karakteristik,
membandingkan, membedakan, mencari kesamaan, menyusun urut-urutan,
mencari hubungan dan sebagainya, yang ditujukan untuk maksud tertentu.

Logika, berasal dari kata logikos yang artinya sesuatu yang diutarakan, suatu
pertimbangan akal (pikiran), kata, percakapan, atau ungkapan lewat bahasa.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa logika adalah suatu pertimbangan
akal atau pikiran yang diutarkan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.

15
Program. Program adalah se-seri (serangkaian) dari berbagai kegiatan dan
penggunaan sumber daya yang terorganisasi guna membantu masyarakat
meningkatkan mutu kehidupannya.

Evaluasi Program. Evaluasi program adalah suatu proses yang sistematis dari
memberikan pertanyaan kritis, mengumpulkan informasi yang tepat,
menganalisis, menginterpretasi, dan menggunakan informasi agar supaya
dapat memperbaiki program dan berakuntabilitas untuk hasil yang positif
dan setara (equitable) untuk sumber daya yang diinvestasikan.

Daftar Bacaan

Arikunto, Suharsimi, (1998), Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek,


Edisi revisi IV, Penerbit rineka Cipta, Yogyakarta.

BPKP, (2002), Pedoman Pelaksanaan Evaluasi LAKIP, 2002.

Kadariah, (1988), Evaluasi Proyek, Analisa Ekonomis, Edisi kedua, Lembaga


Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.

Lynch, Richard L. & Kevin F. Cross, (1991), Measure Up !, The Essential Guide
to Measuring Business Performance, Blackwell Publisher, London.

Moleong, Lexy J. (2001), Metodologi Penelitian Kualitatif, Penerbit PT Remaja


Rosdakarya, Bandung.

Owen, John M. and Patricia J. Rogers, (1999), Program Evaluation, Forms and
Approaches-International Edition, SAGE Publications, London.

Rapar, Jan Hendrik, (1995), Pengantar Logika, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.

Rossi, Peter H. and Howard E Freeman, (1993), Evaluation, A Systematic


Approach, Sage Publication, Inc.

Poespoprodjo, W, (1999), Logika Scientifika, Pengantar Dialektika dan Ilmu,


Pustaka Grafika, Bandung.

Wholey, Joseph S., (1979), Evaluation: Promise and Performance, the Urban
Institute, Washington.

16
Bab 3

CRITERIA REFERENCED TEST


UNTUK EVALUASI LAKIP

LATAR BELAKANG

Criteria reference test merupakan suatu metode yang paling lazim dan mudah
dilakukan untuk melakukan evaluasi. Evaluasi LAKIP juga dapat dilakukan dengan
metode ini dengan berbagai desain yang bervariasi. Metode ini paling tua dan
digunakan diberbagai bidang, termasuk bidang pendidikan yang sudah sangat
maju dalam hal evaluasi.

Pemakaian metode ini dapat dilakukan dari mulai yang sederhana (dengan sedikit
kriteria) sampai pada yang rumit dan bertingkat-tingkat. Mengevaluasi dengan
metode ini membutuhkan perancangan struktur apa yang dinilai, apa kriterianya,
jika lebih rinci setiap kriteria memiliki kriteria yang tingkatannya lebih kecil atau
parameter yang secara jelas dan spesifik dapat dicek. Penilaian dengan
menggunakan metode ini memerlukan penghitungan, pembobotan setiap kriteria,
dan petunjuk atau uraian setiap kriteria.

Metode ini dapat digunakan untuk menilai secara bertahap langkah demi langkah
(step by step assessment) setiap komponen sistem AKIP dan menilai secara
keseluruhan (overall assessment). Pada praktiknya penggunaan metode ini dapat
juga digunakan sekaligus yaitu baik untuk step by step assessment maupun overall
assessment.

LANGKAH-LANGKAH PERANCANGAN

17
Pertama, perlu diidentifikasi mengenai apa yang harus dinilai atau diukur. Misalnya,
untuk mengukur kecakapan seseorang dalam mengajar anak didik di tingkat taman
kanak-kanak ditentukan beberapa kriteria, seperti:
- Kejelasan dalam menyampaikan pesan;
- Penggunaan bahasa yang baik dan halus;
- Kemampuan untuk membujuk dan mengarahkan;
- Kemampuan menjawab pertanyaan anak didik;
- Keramahan;
- Kerapian dalam berpakaian, dsb.

Kedua, menyediakan nilai (score) untuk setiap hal yang dinilai. Pemberian nilai ini
dapat menggunakan continumn nilai tertentu. Misalnya:
0, 1
1, 2, 3
1, 2, 3, 4, 5
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, dst.
Pemilihan rentang score ini juga harus dikaitkan dengan klasifikasi hasil penilaian.
Jika klasifikasi yang dibuat hanya perlu penggolongan (pengkategorian) yang
sedikit tentulah pertimbangan yang dilakukan pihak penilai semakin berat. Akan
tetapi jika penggolongan itu banyak, dengan kata lain rentang-nya panjang maka
akan lebih mudah untuk memberi nilai. Pemilihan rentang nilai ini juga harus
dikaitkan dengan tujuan penilaian. Jika tujuan penilaian hanya untuk menyeleksi
siapa yang lulus dan yang tidak lulus, maka rentang nilainya tidak perlu terlalu
banyak.

Ketiga, melakukan assessment dengan memberikan score (nilai) pada masing-


masing hal yang dinilai. Dalam memberi nilai ini yang perlu diingat adalah range
atau rentang nilainya itu sendiri. Penilaian ini juga harus membawa pikiran si
penilai kepada simpulan hasil assessment terhadap yang dinilai. Pemberian nilai
untuk setiap kriteria akan berbeda beda baik unsur bukti pemenuhan kreterianya
maupun proses pengumpulan bukti tersebut, kelengkapannya, serta keyakinan
penilai.

Keempat, merancang agregasi untuk menyimpulkan hasil penilaian secara


kuantitatif. Dalam merancang agregasi ini tersedia paling tidak dua kemungkinan,
yaitu: (1) dilakukan agregasi secara rata-rata; (2) memberikan judgement
berdasarkan unsur kriteria yang penting saja, kemudian mengungkapkannya.
Kemungkinan kedua tidak bisa disebut agregasi secara menyeluruh, akan tetapi
hanya yang dianggap mewakili saja. Sedangkan kemungkinan pertama agregasi
dilakukan secara menyeluruh. Pada kemungkinan pertama, bisa dilakukan dengan
dua cara yaitu rata-rata sederhana (simple average) atau rata-rata tertimbang
(weighted average). Jika menggunakan rata-rata tertimbang maka diperlukan
pembobotan pada setiap kriteria yang dinilai. Pemilihan kedua kemungkinan itu
haruslah disandarkan pada sejauh mana generalisasi hasil dapat dilakukan dan
kriteria apa yang akan dipakai untuk mengarahkan keputusan. Kemungkinan
pertama misalnya, lebih mengakomodasi dimana generalisasi dapat dilakukan
dengan mudah. Sedangkan kemungkian kedua, lebih cocok untuk yang tidak
mudah dilakukan generalisasi. Ini tentu kembali lagi tergantung pada kriteria yang
kita pasang sebagai apa yang harus dinilai.

18
Kelima, memberikan interpretasi dari nilai yang didapat dari proses agregasi
tersebut. Interpretasi ini menyangkut tafsir, sehingga tafsiran berarti menilai obyek
evaluasi dan menentukan dampak penilaian tersebut. Pandangan evaluator juga
mempengaruhi penafsiran data. Pandangan sebagai hasil pengalamannya,
pandangan yang unik, berkembang, dan berorientasi pada keunikan pengalaman
hidupnya. Ini berarti bukan hanya tafsiran tetapi juga sebab-musababnya harus
dibuat dengan jelas.

EVALUASI LAKIP

Dalam mengevaluasi LAKIP baik isi substansi maupun bentuk atau format
penyajian dan pengungkapannya dapat dilakukan dengan metode criteria
referenced test. Oleh karena luasnya lingkup evaluasi LAKIP, maka evaluator
harus menentukan prioritas mengenai apa yang akan dievaluasinya. Sebagai
contoh, di dalam LAKIP dimuat akuntabilitas dari berbagai program dan kegiatan
penting organisasi, evaluator dalam hal ini hendaknya memilih atau melakukan
sampling satu atau dua kegiatan atau program saja untuk dievaluasi yang agak
mendalam.

Evaluasi LAKIP juga dapat dilakukan dengan mengevaluasi dari sisi implementasi
sistem AKIP-nya, yaitu penerapan sistem manajemen stratejik dan manajemen
kinerja yang mengacu pada Inpres nomor 7 tahun 1999. Terhadap penerapan
sistem ini dapat dilakukan evaluasi yang bersifat evaluasi sistem dan bukan
terhadap kinerja instansi dalam melaksanakan program-program atau kegiatannya.

Oleh karena isi LAKIP sangat tergantung pada luas kewenangan dan tanggung
jawab instansi, maka evaluasi LAKIP cenderung dilakukan sebagian saja. Evaluasi
yang lingkupnya hanya sebagian saja ini tentulah mempengaruhi penyimpulan
terhadap keseluruh hasil evaluasi LAKIP. Dengan demikian evaluator diharapkan
dapat mendesain evaluasi LAKIP dengan menentukan prioritas yang ketat,
sehingga evaluasi yang dilakukannya dapat menghasilkan saran/ rekomendasi
yang bermanfaat untuk mendorong akuntabilitas instansi dan juga untuk
meningkatkan kinerja instansi.

Criteria referenced test yang dilakukan oleh evaluator hendaknya berdasarkan


pengamatan yang mendalam atas praktek yang selama ini dilakukan di instansi
yang akan dievaluasi LAKIP-nya. Dan teknik ini lebih banyak gunanya jika yang
akan dievaluasi oleh pihak evaluator tidak hanya satu LAKIP saja.

Evaluasi LAKIP dengan metode ini (criteria referenced test/ survey) dapat
dikategorikan ke dalam 3 kelompok besar berdasarkan apa yang akan dievaluasi,
yaitu:
1) Evaluasi atas Penyajian dan Pengungkapan Informasi dalam LAKIP;
2) Evaluasi atas sistem AKIP;
3) Evaluasi kinerja instansi ditilik dari kebijakan, program dan kegiatan-nya.

EVALUASI ATAS PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN INFORMASI DALAM


LAKIP

19
Kelompok pertama, evaluasi atas penyajian dan pengungkapan informasi dalam
LAKIP, kebanyakan bertujuan agar LAKIP dapat dijadikan instrumen untuk wahana
umpan balik (feed back) guna perbaikan kinerja dan peningkatan akuntabilitas.
Evaluasi terhadap LAKIP untuk kategori ini pada dasarnya menilai hal-hal yang
tangible dan wujud dari laporannya sendiri baik disajikan dalam hard copy maupun
penyajian dalam file elektronik. Evaluasi terhadap suatu laporan dapat dilihat dari
bentuk penyajian, kejelasan pengungkapan, dan pentingnya isi yang disampaikan
dalam laporan.

Hal yang perlu diingat bahwa dengan wujud dan tujuan LAKIP yang dimaksudkan
untuk perbaikan kinerja dan peningkatan akuntabilitas, kadang-kadang terdapat
hal-hal yang kontradiksi atau bertentangan. Untuk keperluan peningkatan
akuntabilitas evaluasi ini lebih berorientasi masa kini dan masa lalu, akan tetapi
untuk kepentingan perbaikan kinerja evaluasi ini berorientasi ke masa depan,
bertitik tolak dari proses berkaca (insight) pada masa lalu dan kehendak masa kini.
Dalam memilih kriteria-kriteria haruslah sesedikit mungkin memasang kriteria yang
bertentangan. Contoh yang paling klasik adalah kriteria akurasi sebuah laporan
dengan kecepatan dan ketepatan waktu penyampaian laporan. Di satu sisi jika
memfokuskan akurasi mungkin saja membutuhkan waktu lama untuk menyiapan
laporan ini. Di sisi lain jika laporan disiapkan dengan terburu-buru mungkin saja
akurasinya kurang.

Evaluator juga dihadapkan lagi mengenai bobot masing-masing kriteria yang harus
dipenuhi dalam evaluasi. Desain evaluasi haruslah ditetapkan utamanya untuk
memenuhi tujuan evaluasi. Jika evaluasi ini mengarah pada goals free evaluation
maka hal ini akan timbul kesulitan lain dalam mengagregasi dan mengambil
simpulan hasil evaluasi. Evaluasi dan para perencana evaluasi diharapkan dapat
mengetahui dan mengantisipasi kelemahan yang ada pada desain evaluasi yang
sudah ditetapkan, dan memberitahukan kepada pemberi penugasan ini.

Sebagai contoh:

Perancang evaluasi dihadapkan pada sejumlah kriteria tentang karakteristik


informasi yang baik dalam laporan untuk menilai isi informasi dalam laporan,
seperti:
- Relevance
- Aggregation
- Consistency
- Accuracy
- Precision
- Reliability
- Verifiability
- Objectivity
- Neutrality
- Flexibility
- Adaptibility
- Timeliness
- Fairness, dan;
- Acceptability

20
Kemudian beberapa kriteria penyajian dan pengungkapan informasi dalam laporan,
seperti:
- mudah dimengerti;
- dapat diperbandingkan
- kejelasan yang memadai;
- enak dibaca,
- mudah diingat;
- mengutamakan yang penting sehingga mudah ditemukan pembaca;
- menarik;
- tidak redundant;
- tidak kontradiksi, dsb.
Semakin jelas suatu kriteria semakin mudah melakukan asesmen, sebaliknya
semakin ambigu (bermakna banyak dan kabur) semakin sulit melakukan asesmen.

Untuk mengevaluasi LAKIP dari format wujud penyajian dan pengungkapan


informasi dalam LAKIP dapat pula dikategorikan ke dalam 3 (tiga) hal, yaitu:
1) Proses penyusunan LAKIP;
2) Isi informasi, penyajian dan pengungkapan informasi dalam LAKIP;
3) Pemanfaatan LAKIP.
Dalam hal penetapan kriteria seperti contoh di atas, perancang evaluasi dapat
memilih empat sampai delapan kriteria yang dianggap dapat menjawab pertanyaan
evaluasi, untuk masing hal tersebut di atas. Khusus untuk penyusunan LAKIP
misalnya, perancang evaluasi dapat melakukan peninjauan kembali ke belakang
(flash back) tatkala laporan itu disusun. Biasanya laporan yang baik mengikuti
prinsip-prinsip penyusunan laporan yang baik, yaitu:
- prinsip pertanggungjawaban;
- prinsip pengecualian; dan
- prinsip manfaat.
Untuk prinsip manfaat, ini di samping laporan dimaksudkan untuk rencana
penggunaan tertentu, juga dapat dicek realisasi atau kenyataannya, yaitu
bagaimana setelah laporan selesai apakah dimanfaatkan secara optimal atau tidak.

Berbagai clue, indikasi, atau hints yang menandakan bahwa laporan telah disusun
dengan menggunakan prinsip-prinsip yang baik, telah ternyata jadi laporan yang
baik, dan telah dimanfaatkan secara optimal, dapat di-generate atau diciptakan
sebanyak-banyaknya sehingga evaluator menjadi yakin atau percaya diri dapat
melakukan penilaian. Signal-signal penting, bukti-bukti awal, tanda-tanda awal,
indikasi-indikasi, dapat di-list (dibuatkan daftarnya) dan dipilih yang paling
menjawab suatu kriteria dapat dipenuhi.

Setelah melakukan hal-hal di atas, perancang evaluasi dapat melakukan mapping


dengan membuat diagaram pohon atau matrik yang menggambarkan hubungan
antara kriteria kelompok besar dengan kriteria, dan antara kriteria dengan sub-
kriteria. Sebagai contoh dibuatkan matrik berikut:

Kelompok Kriteria Sub-kriteria Indikasi, tanda- Keterangan


besar kriteria tanda sub-kriteria
terpenuhi

Proses Penggunaan LAKIP - LAKIP berisi

21
Penyusunan prinsip menyajikan hal hal-hal yang perlu
LAKIP pengecualian penting yang diketahui
perlu mendapat pimpinan;
perhatian
pimpinan
-LAKIP
menyajikan hal-
hal yang
digunakan dalam
memantau
program
- hal-hal yang
biasa, reguler,
rutin, dan tidak
perlu mendapat
penanganan
pimpinan tidak
mendominasi
laporan.

LAKIP -terdapat
mengungkap penyajian
mengapa target pencapaian
tidak dapat target, dengan
dipenuhi pembandingan
target dan
realisasi
-terdapat analisis
mengapa target
tidak tercapai;
-LAKIP
menyediakan
argumentasi yg
memadai
-LAKIP
menyajikan
informasi dari
hasil monitoring
program dengan
indikasi yang
mencolok
- analisis dalam
laporan
menyajikan
hubungan sebab
akibat yang
masuk akal.
- analisis dalam
laporan
menyediakan

22
data yang
memadai.

Dengan mengetahui hubungan antara kriteria besar dengan kriteria dan sub-
kreteria (kriteria yang lebih kecil) seperti contoh di atas, maka penyimpulan tentang
apakah proses penyusunan LAKIP telah dilakukan dengan penggunakan prinsip
pengecualian dapat dilakukan. Di sini para perancang evaluasi harus
memperhatikan struktur penataan hirarki dari kriteria yang dipasang, karena akan
mempengaruhi pada penarikan simpulan hasil evaluasi.

EVALUASI ATAS SISTEM AKIP LAINNYA

Evaluasi atas sistem AKIP pada dasarnya mengevaluasi setiap komponen sistem
tersebut. Evaluasi ini dapat dilakukan dengan mendalam dan rinci atau bisa juga
hanya dengan riviu beberapa komponen yang dianggap perlu saja. Penetapan
komponen apa saja yang perlu diteliti lebih mendalam dan aspek apa yang perlu
mendapat fokus perhatian haruslah ditetapkan pada saat mendesain evaluasi. Jika
mengikuti pedoman penyusunan dan pelaporan akuntabilitas kinerja instansi
pemerintah sebagaimana diatur dalam surat keputusan Kepala LAN nomor :
239/IX/6/8/2003 tanggal 25 Maret 2003, beberapa komponen penting dalam sistem
AKIP dapat dibagi ke dalam tiga kelompok, misalnya:
1) Evaluasi atas Perencanaan instansi (perencanaan stratejik dan
perencanaan kinerja);
2) Evaluasi atas sistem pengukuran dan evaluasi kinerja instansi;
3) Evaluasi atas sistem pelaporan.

Masing-masing kelompok dapat diteliti lebih mendalam lagi misalnya, untuk


perencanaan stratejik komponen yang perlu dievaluasi adalah:
1) Visi dan misi instansi;
2) Perumusan tujuan dan sasaran;
3) Kebijakan
4) Program
5) Indikator sasaran.

Kriteria yang dipakai dalam menilai masing-masing komponen Renstra tersebut


dapat diambil dari berbagai sumber berikut ini, misalnya:
- Inpres nomor 7 tahun 1999;
- Buku pedoman penyusunan dan pelaporan AKIP;
- Modul-modul pelatihan;
- Text book mengenai strategic planning yang sudah banyak dipakai; dan
- Praktek-praktek terbaik yang ada.
Dengan demikian dalam praktiknya evaluasi atas sistem AKIP ini mengacu kepada
kombinasi antara kebenaran normatif dan kebenaran empiris, sehingga
diharapkan hasil evaluasi dapat memberikan saran bagi peluang perbaikan kinerja
dan peningkatan akuntabilitas instansi.

23
EVALUASI ATAS KINERJA INSTANSI

Evaluasi atas kinerja instansi dapat dilakukan dengan meneliti perbagai kebijakan,
program-program dan kegiatan-kegiatan instansi. Hal ini dilakukan dengan asumsi
bahwa keberhasilan program/ kegiatan yang dilakukan instansi dapat diartikan
sebagai keberhasilan instansi juga.

Dapat disimpulkan bahwa untuk evaluasi kinerja instansi hanya dapat dilakukan
dengan metode ini (criteria referenced test) jika untuk tujuan penyederhanaan dan
untuk kriteria yang memang bisa dicek kemudian. Misalnya:
- Ketepatan waktu penyelesaian kegiatan / program;
- Penelitian sisa anggaran atau kekurangan anggaran yang digunakan untuk
pelaksanaan kegiatan/ program;
- Beberapa complience test atas pelaksanaan kegiatan / program apakah
sudah sesuai peraturan perundangan yang berlaku.

Sekali lagi, evaluasi atas kinerja instansi dapat dilakukan dengan teknik ini jika
memang kriteria penilaian sudah disusun dengan baik. Dan jika tujuan evaluasi
lebih dimaksudkan untuk menilai kinerja instansi hal ini cukup baik, terutama jika
untuk melakukan rating beberapa instansi yang dinilai.

SIMPULAN

Metode criteria referenced test merupakan metode yang dapat digunakan untuk
mencapai tujuan evaluasi LAKIP. Akan tetapi penerapan metode ini haruslah
dilakukan dengan tepat, sehingga kesalahan metodologi dalam evaluasi dapat
dihindarkan. Untuk evaluasi terhadap format penyajian dan pengungkapan
informasi dalam LAKIP dan evaluasi atas implementasi sistem AKIP metode ini
dapat digunakan. Evaluasi yang sifatnya cepat, murah dan masal sangat cocok
menggunakan metode ini.

24
Daftar Bacaan
BPKP, Pedoman Pelaksanaan Evaluasi LAKIP, 2002.

BPKP, Pedoman Pelaporan Hasil Evaluasi LAKIP, 2002.

Cutt, James and Vic Murray, (2000), Accountability and Effectiveness Evaluation in
Non-Profit Organization, Routledge, London and New York.

Department of Health & Human Services, Office of Inspectorat General, (1994), Practical
Evaluation for Public Managers, Getting The Information You Need, Office of Inspector
General.

Di Kamp, (1992), Penilaian yang Sukses, Dalam Sepekan, PT Kesaint Blanc Indah Corp,
Jakarta.

Dunn, William N. ((1994), Public Policy Analysis: An Introduction, diterjemahkan oleh


Samodra Wibawa dkk, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Gray, Sandra T. and Associates, (1998), Evaluation with Power, A New Approach to
Organizational Effectiveness, Empowerment, and Excellence, A publication of Independent
Sector, Jossey-Bass Publishers, San Francisco.

IMF, (1998), External Evaluation of the ESAF, Report by a Group of Independent


Experts.

Lombardi, Donald N. (1988), Handbook of Personnel Selection and Performance


Evaluation in Healthcare, Guidelines for Hourly, Professional, and Managerial
Employees, Jossey-Bass Publishers, San Francisco.

Lynch, Richard L. & Kevin F. Cross, (1991), Measure Up !, The Essential Guide to
Measuring Business Performance, Blackwell Publisher, London.

Owen, John M. and Patricia J. Rogers, (1999), Program Evaluation, Forms and
Approaches-International Edition, SAGE Publications, London.

Rossi, Peter H. and Howard E Freeman, (1993), Evaluation, A Systematic Approach,


Sage Publication, Inc.

Tim Studi Pengembangan Sistem AKIP, BPKP, (2000), Pengukuran Kinerja, Suatu
Tinjauan Pada Instansi Pemerintah.

Walting, Brian (1995), The Appraisal Checklist, Help Your Team to Get The Results You
Both Want, Prentice Hall, London.

Wholey, Joseph S., (1979), Evaluation: Promise and Performance, the Urban Institute,
Washington.

25
LATIHAN

EVALUASI ATAS IMPLEMENTASI SISTEM AKIP


I. PENGGUNAAN TEKNIK STEP BY STEP ASSESSMENT DENGAN
CRITERIA REFERENCED TEST
II. PENGGUNAAN TEKNIK OVERALL ASSESSMENT DENGAN
CRITERIA REFERENCED TEST

SCENARIO:

Penilaian dilakukan dengan mengkelompokkan beberapa komponen sistem


AKIP seperti berikut:

NO URAIAN 1 2 3 4 5 Keterangan

I PERENCANAAN STRATEJIK

1 Penyusunan
2 Isi substansi
3 Pemanfaatan

II SISTEM PENGUKURAN KINERJA

1 Indikator kinerja
2 Perencanaan kinerja
3 Pengukuran kinerja
4 Analisis kinerja
5 Evaluasi kinerja
6 Sistem Informasi untuk
memperoleh data kinerja.

III PELAPORAN DALAM LAKIP

1 Penyusunan
2 Isi substansi
3 Penyajian dan pengungkapan
4 Penyampaian (distribusi &
ketepatan waktu)

Dari pengelompokkan di atas terlihat bahwawa komponen sistem AKIP


dijabarkan satu-per-satu setiap sub-komponen yang dinilai. Kemudian, setiap
sub-komponen yang dinilai tersebut dibuat /disusun seperangkat atribut atau
kriteria yang dikehendaki seperti tabel-tabel di bawah ini.

26
PERENCANAAN STRATEJIK (RENSTRA)

PROSES PENYUSUNAN RENSTRA:

NO URAIAN 1 2 3 4 5 KETERANGAN

1 Renstra disusun dengan


melibatkan pimpinan unit-unit
instansi.
2 Renstra disusun dengan
keterlibatan pimpinan puncak
3 Terdapat mekanisme
penyampian masukan untuk
penyusunan Renstra
4 Renstra disusun dengan
mempertimbangkan masukan
dari para stakeholders
organisasi
5 Renstra disosialisasikan kepada
seluruh anggota organisasi
6 Renstra secara formal
ditetapkan oleh pimpinan
puncak organisasi.
7 Dst.

Setelah pembahasan perumusan kriteria untuk setiap sub komponen, maka


penilaian terhadap satu-per-satu atau langkah demi langkah (step by step)
setiap sub komponen dan unsur-unsur sistem AKIP dalam dilakukan dengan
memberi nilai dengan skala ordinal atau nominal.

Untuk penilaian tabel yang di dalamnya mengandung unsur-unsur isi rensta


lebih baik digunakan skala ordinal

ISI SUBSTANSI RENSTRA

NO URAIAN KETERANGAN

1 Perumusan visi dan misi


2 Perumusan tujuan
3 Perumusan sasaran
4 Perumusan kebijakan
5 Perumusan Program
6 Indikator pencapaian sasaran
(ukuran keberhasilan)

27
Sedang penilaian terhadap setiap kriteria dari setiap unsur lebih baik
menggunakan skala nominal saja, yaitu: ya atau tidak.

No URAIAN YA TDK KETERANGAN


1. Kriteria rumusan visi yang baik, misalnya:
1) Cukup jelas
2) Mudah diingat
3) Menarik
4) Menantang dan memberikan motivasi
kepada anggota organisasi
5) Terkait dgn visi instansi yg lebih tinggi
6) Mengekspresikan akan menjadi apa
organisasi ybs di masa depan
2. Kriteria perumusan misi yang baik, misalnya:
1) Cukup jelas
2) Mudah diingat
3) Selaras dengan pencapaian visi
organisasi
4) Terkait dgn misi instansi yg lebih tinggi
5) Cukup dapat menjelaskan mengapa
organisasi ada.

Timbul pertanyaan bagaimana jika jawaban ya atau tidak sulit ditentukan? (”setengah” ya
dan tidak).
Jawaban: Pertama, jika banyaknya kriteria genap, maka harus dilakukan ditentukan kriteria
mana yang bobotnya lebih tinggi dari yang lain, jika bobot setiap kriteria sama diusahakan
jumlah kriteria ganjil. Kedua, dibuat ”decision rule” tertentu agar tetap dapat diambil
simpulan penilaian, misalnya, jika setengah kriteria tidak dipenuhi dianggap tidak dipenuhi
semuanya.

GOAL SETTING:

NO URAIAN 1 2 3 4 5 KETERANGAN

1 Penetapan tujuan dan sasaran


telah sesuai dengan visi dan misi
organisasi
2 Perumusan tujuan dan sasaran
telah jelas (tidak berdwimakna)
3 Perumusan tujuan dan sasaran
telah dilakukan dengan
mempertimbangkan hirarki hasil
yang diinginkan
4 Perumusan tujuan dan sasaran

28
hirarki dan urut-urutannya logis
5 Penataan hasil yang diinginkan
(output, outcome ataupum
impact) berdasarkan teori yang
kuat dan logis.
6 Perumusan tujuan dan sasaran
pada umumnya realistis
dibandingkan kemampuan
pengerahan sumber daya
7 Perumusan tujuan dan sasaran
pada umumnya sesuai dengan
keinginan dan harapan
stakeholders.
8 Jangka waktu pencapaian tujuan
dan sasaran realistis.

Agar lebih tajam penilaian, sebetulnya lebih baik setiap unsur sub-
komponen dinilai tersendiri, jadi perumusan tujuan ditentukan
kriterianya dan juga sasaran ditentukan kriteria tersendiri.

PENATAAN PROGRAM

NO URAIAN 1 2 3 4 5 KETERANGAN

1 Penataan program
memperhatikan setiap tingkatan
hasil yang diinginkan
2 Penataan program sesuai
dengan inisiatif strategi yang
menjadi dasar perencanaan dan
pemrograman
3 Penataan program sesuai
dengan visi, misi dan kebijakan
yang ditentukan
4 Penataan program telah
mempertimbangkan teori dan
praktik serta pengalaman masa
lalu
5 Penataan program telah
dilakukan dengan urut-urutan
yang logis
6 Penataan program telah
dilakukan dengan
mengindentifikasi semua
tingkatan hasil yang diinginkan
dan hubungannnya satu sama
lain
7 Penataan program telah alur pikir

29
yang logis dan memberi
keyakinan tentang perolehan
atau pencapaian hasil yang
diinginkan

8 Penataan program telah


mempertimbangkan kemampuan
organisasi untuk
melaksanakannya, dan setting
pengorganisasiannya telah dapat
diyakini layak dilakukan.
9 Penataan program telah
mempertimbangkan kelayakan
dan efektivitas pelaksanaannya.

PEMANFAATAN RENSTRA:

NO URAIAN 1 2 3 4 5 KETERANGAN

1 Renstra digunakan untuk dasar


perencanaan kinerja tahunan.
2 Renstra digunakan untuk proses
penganggaran tahunan,
penetapan prioritas kegiatan
dan disiplin penggunaan
sumber daya.
3 Renstra digunakan untuk proses
perencanaan operasional
4 Renstra dijadikan dasar untuk
penyusunan komitmen kinerja
atau persetujuan kinerja
(performance agreement)
5 Renstra dijadikan dasar untuk
penyusunan service agreement
(komitmen pelayanan) unit-unit
organisasi
6 Renstra digunakan untuk
membangun nilai-nilai dan kultur
organisasi
7 Renstra digunakan untuk
membangun manajemen yang
berorientasikan hasil
8 Renstra digunakan untuk proses
pembelajaran (learning)
organisasi.
9 Renstra digunakan untuk refleksi,
kontemplasi dan pengecekan

30
komitmen saat evaluasi program
10 Renstra digunakan untuk referensi
dan patok ukur saat pengukuran
dan evaluasi kinerja organisasi.

INDIKATOR KINERJA

NO URAIAN 1 2 3 4 5 KETERANGAN

1 Relevan dengan apa yang


diukur
2 Dapat diukur dan dapat
dikuantifikasi
3 Tidak bias
4 Dapat dicek, diverifikasi dengan
parameter yang terukur dan
dapat diobservasi.
5 Menggambarkan hasil atau
diinginkan
6 Ditetapkanm melalui proses
konsultasi
7 Ditetapkan dengan
mempertimbangkan
pengumpulan datanya
8 Ditetapkan dengan persetujuan
pimpinan

PERENCANAAN KINERJA:

NO URAIAN 1 2 3 4 5 KETERANGAN

1 Penyusunan rencana kinerja


tahunan mengacu ke Renstra
2 Rencana kinerja disepakati
bersama
3 Rencana kinerja disetujui oleh
pimpinan puncak
4 Berisi target-target kinerja dan

31
hasil tahun yang bersangkutan
5 Target-target dalam rencana
kinerja terkait langsung
dengan sasaran-sasaran yang
telah ditetapkan dalama
Renstra
6 Penetapan target realistis
7 Rencana digunakan dalam
menyusun rencana
operasional
8 Rencana kinerja digunakan
sebagai komitmen untuk
menyediakan sumber daya
9 Rencana kinerja digunakan
dalam proses penganggaran
10 Rencana kinerja digunakan
sebagai komitmen kinerja,
service agreement, ataupun
performance agreement di
dalam organisasi
11 Digunakan untuk pemantauan
program/ kegiatan.

PENGUKURAN KINERJA:

NO URAIAN 1 2 3 4 5 KETERANGAN

32
ANALISIS KINERJA:

NO URAIAN 1 2 3 4 5 KETERANGAN

EVALUASI KINERJA:

NO URAIAN 1 2 3 4 5 KETERANGAN

33
SISTEM INFORMASI UNTUK PENGUMPULAN /PENGOLAHAN DATA KINERJA:

NO URAIAN 1 2 3 4 5 KETERANGAN

EVALUASI TERHADAP FORMAT & PENYAJIAN INFORMASI DALAM LAKIP

NO URAIAN 1 2 3 4 5 KETERANGAN

34
EVALUASI TERHADAP: PENGUNGKAPAN ISI INFORMASI KINERJA DALAM
LAKIP

NO URAIAN 1 2 3 4 5 KETERANGAN

35