Anda di halaman 1dari 30

UNIVERSITAS INDONESIA

JUDUL
TANGGUNG JAWAB DIREKSI DALAM KASUS KEPAILITAN BADAN
USAHA MILIK NEGARA (BUMN) BIDANG JASA KONSTRUKSI
BERBENTUK PERSEROAN TERBATAS
MAKALAH
Diajukan sebagai salah satu syarat lulus Mata Kuliah Etika Dan Aspek
Hukum Bidang Konstruksi

Dibuat oleh :
EVELYNE KEMAL

(1206260463)

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
DEPOK
AGUSTUS
2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmatNya maka penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul
Tnaggung Jawab Direksi dalam Kasus Kepailitan Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) Bidang Jasa Konstruksi Berbentuk Perseroan Terbatas.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Etika dan Aspek Hukum Bidang Konstruksi.
Dalam penulisan makalah ini, penyusun merasa masih banyak
kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat
akan kemampuan yang dimiliki penyusun. Untuk itu kritik dan saran dari semua
pihak sangat penyusun harapkan demi penyempurnaan pembuatannya.
Dalam penulisan makalah ini penyusun menyampaikan ucapan terima
kasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini,
yaitu kepada:
1. Ir. Yusuf Latief selaku dosen pembimbing mata kuliah Etika dan
Aspek Hukum Bidang Konstruksi yang telah membantu dalam
penyempurnaan pembuatan makalah ini.
2. Orang tua dan keluarga penyusun yang telah memberikan bantuan.
3. Teman-teman yang telah banyak membantu penyusun dalam
menyelesaikan dan menyempurnakan makalah ini.
Akhir kata penyusun berharap semoga makalah ini dapat berguna bagi
siapapun yang membacanya.
Penyusun

Depok, 13 Agustus 2014

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL............................................................................................ i
KATA PENGANTAR.............................................................................................. ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ............................................................................................... viii
BAB I : PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG .................................................................................. 1
1.2 IDENTIFIKASI MASALAH........................................................................ 2
1.3 RUMUSAN MASALAH.............................................................................. 2
1.4 TUJUAN PENULISAN................................................................................ 2
1.5 BATASAN MASALAH................................................................................ 2
1.6 MANFAAT PENULISAN............................................................................. 2
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
2.1 BADAN USAHA MILIK NEGARA ............................................................. 4
2.2 PERSEROAN TERBATAS............................................................................ 5
2.3 KEPAILITAN ................................................................................................ 9
2.4 DASAR HUKUM TERKAIT ...................................................................... 11

2.4.1 Undang-undang Nomor 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi....... 11


2.4.2 Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik
Negara................................................................................................ 11
2.4.3 Undang-undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.. 11
2.4.4 Undang-undang Nomor 37 tahun 2004 Kepailitan dan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang........................................................... 13
2.4.5 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Bab XXVI.............. 15
BAB III : METODE PENYELESAIAN MASALAH
3.1 ORIENTASI PENELITIAN ........................................................................ 19
3.2 PROBLEM STATEMENT ........................................................................... 19
3.3 PROBLEM IDENTIFICATION .................................................................. 19
3.4 PROBLEM FORMULATION ..................................................................... 19
BAB IV : PEMBAHASAN................................................................................... 20
BAB V : KESIMPULAN
5.1 KESIMPULAN ............................................................................................ 24
5.2 SARAN ........................................................................................................ 25

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 26

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Daftar BUMN sektor Konstruksi............................................................5

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sebagai satu-satunya organ dalam perseroan yang melaksanakan fungsi
pengurusan perseroan, direksi bertanggung jawab penuh atas pengurusan
perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan. Dalam hal pengurusan ini
termasuk juga di dalamnya kewajiban untuk melakukan penyelenggaraan dan
penyimpanan dokumen perusahaan yang berfungsi sebagai alat untuk
menunjukkan kepada setiap pihak yang terkait dengan perseroan mengenai
hak, kewajiban, dan harta kekayaan perseroan. Informasi tersebut diperlukan
karena pada dasarnya seluruh harta kekayaan perseroan menjadi jaminan bagi
pelunasan seluruh kewajiban perseroan terhadap pihak ketiga tersebut.
Pada prakteknya, pelunasan kewajiban perseroan sangat bergantung pada
kehendak dan itikad baik perseroan, yang dalam hal ini dilaksanakan oleh
direksi perseroan. Pada kondisi di mana debitor dinyatakan pailit, maka
direksi tidak berhak dan berwenang lagi untuk mengurus harta kekayaan
perseroan. Hal ini menyebabkan perseroan tidak mungkin melaksanakan
kegiatan usahanya, menyebabkan kerugian tidak hanya bagi perseroan itu
sendiri melainkan, juga bagi kepentingan para kreditor pemegang saham
perseroan dan kepentingan para kreditor yang tidak dapat dibayar lunas dari
hasil penjualan seluruh harta kekayaan perseroan.
Sampai

saat

ini,

dikarenakan

sifat

badan

hukumnya

(yaitu

pertanggungjawaban terbatas, baik bagi pemegang saham perseroan, direksi,


maupun komisaris), praktik menunjukkan bahwa perseroan seringkali
dipergunakan sebagai alat untuk menutupi pertanggungjawaban yang lebih
luas, yang harusnya dapat dikarenakan dan dipikulkan kepada pihak-pihak
yang menerbitkan kerugian tersebut, termasuk di antaranya adalah direksi
perseroan.
Sejak dibuatnya bentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berbentuk
perseroan (selanjutnya disebut Persero), hingga saat ini belum pernah ada
perseroan yang benar-benar diputuskan pailit, termasuk Persero pada sektor

jasa konstruksi. Padahal, paling tidak sudah ada dua Persero sektor jasa
konstruksi yang pernah diajukan untuk dipailitkan, yaitu PT Istaka Karya dan
PT Hutama Karya. Hal ini menunjukkan bahwa bahkan BUMN berbentuk
perseroan pun pun tidak luput dari resiko finansial akibat sistem pengelolaan
yang buruk. Dalam hal ini, direksi selaku pelaksana kepengurusan perseroan
mungkin saja dapat dimintai pertanggungjawaban yang lebih luas.
1.2 Identifikasi Masalah
Kurangnya pemahaman mengenai bentuk tanggung jawab pribadi direksi
Perseroan

menyebabkan

adanya

kecenderungan

direksi

perseroan

menggunakan sifat badan hukum perseroan untuk melepaskan diri dari


pertanggungjawaban yang harus diemban oleh direksi secara pribadi dalam
kasus kepailitan perseroan sektor jasa konstruksi
1.3 Rumusan Masalah
Bagaimana seharusnya bentuk pertanggungjawaban direksi BUMN sektor
Jasa Konstruksi berbentuk perseroan terbatas secara pribadi jika badan
tersebut mengalami kepalitan?
1.4 Tujuan Penulisan
Mengetahui bentuk pertanggungjawaban yang harus dilakukan oleh direksi
BUMN Jasa Konstruksi berbentuk perseroan terbatas secara pribadi jika badan
tersebut mengalami kepailitan.
1.5 Batasan Masalah
Obyek penelitian makalah hanya membahas mengenai tanggung jawab
direksi yang mengelola BUMN sektor jasa konstruksi berbentuk perseroan
terbatas secara pribadi jika badan terbut mengalami kepailitan.
1.6 Manfaat Penulisan
Pemahaman mengenai bentuk pertanggungjawaban yang harus dilakukan
oleh direksi BUMN Jasa Konstruksi berbentuk perseroan terbatas jika badan

tersebut mengalami kepailitan diharapkan dapat membantu masyarakat untuk


mengawasi proses pemenuhan tanggung jawab tersebut.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Badan Usaha Milik Negara


Badan usaha adalah kesatuan yuridis (hukum), teknis, dan ekonomis yang
bertujuan mencari laba/keuntungan. Badan usaha seringkali disamakan dengan
perusahaan padahal pada kenyataannya berbeda. Badan usaha adalah lembaga,
sementara perusahaan adalah tempat dimana badan usaha mengolah faktorfaktor produksi (Endra Murti Sagoro, Nd).
Badan Usaha Milik Negara, yang selanjutnya disebut BUMN, adalah
badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara
melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang
dipisahkan.
Maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah :
a. memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional
pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya;
b. mengejar keuntungan;
c. menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang
dan/atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat
hidup orang banyak;
d. menjadi perintis kegiatan-kegiatan

usaha

yang

belum

dapat

dilaksanakan oleh sektor swasta dan koperasi;


e. turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha
golongan ekonomi lemah, koperasi, dan masyarakat.
Kegiatan BUMN harus sesuai dengan maksud dan tujuannya serta tidak
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, ketertiban umum,
dan/atau kesusilaan.
Pengurusan BUMN dilakukan oleh Direksi. Direksi bertanggung jawab
penuh atas pengurusan BUMN untuk kepentingan dan tujuan BUMN serta
mewakili BUMN, baik di dalam maupun di luar pengadilan. Dalam
melaksanakan tugasnya, anggota Direksi harus mematuhi anggaran dasar
BUMN dan peraturan perundang-undangan serta wajib melaksanakan prinsipprinsip profesionalisme, efisiensi, transparansi, kemandirian, akuntabilitas,
pertanggungjawaban, serta kewajaran.

BUMN terdiri dari Persero dan Perum. Terhadap Persero berlaku segala
ketentuan dan prinsip-prinsip yang berlaku bagi perseroan terbatas
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang
Perseroan Terbatas. Mengingat Persero pada dasarnya merupakan perseroan
terbatas, semua ketentuan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang
Perseroan Terbatas, termasuk pula segala peraturan pelaksanaannya, berlaku
juga bagi Persero.
Saat ini, terdapat kurang lebih 140 BUMN di Indonesia dengan berbagai
sektor keahlian, dengan rincian BUMN yang bergerak di sektor konstruksi
terlampir sebagai berikut[3].
Tabel 2.1 Daftar BUMN sektor Konstruksi
No.
1
2

BUMN
Perum Perumnas
PT Adhi Karya Tbk

Sektor
Konstruksi
Konstruksi

Situs
http://perumnas.co.id
http://adhi.co.id

PT Amarta Karya

Konstruksi

http://amartakaya.co.i
d

PT Brantas Abipraya

Konstruksi

5
6
7

PT Hutama Karya
Konstruksi
PT Istaka Karya
Konstruksi
PT Nindya Karya
Konstruksi
PT Pembangunan Perumahan
Konstruksi http://pt-pp.com
Tbk
PT Waskita Karya Tbk
Konstruksi http://waskita.co.id
PT Wijaya Karya Tbk
Konstruksi http://wika.co.id
(http://bumn.go.id/halaman/situs)

8
9
10

http://brantasabipraya.com
http://hutama-karya.com

2.2 Perseroan Terbatas


Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut perseroan, adalah badan
hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian,
melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam
saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini
serta peraturan pelaksanaannya (Undang-undang No. 40 tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas, pasal 1 ayat 1).
Perusahaan Perseroan, yang selanjutnya disebut Persero, adalah BUMN
yang berbentuk perseroan terbatas yang modalnya terbagi dalam saham yang
seluruh atau paling sedikit 51 % (lima puluh satu persen) sahamnya dimiliki

oleh Negara Republik Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan


(Undang-undang No. 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara, pasal
2 ayat 1).
Perseroan Terbatas sebagai perseroan (corporation), yakni perkumpulan
yang berbadan hukum memiliki beberapa ciri substantif yang melekat pada
dirinya, yaitu:
1. Terbatasnya tanggung jawab
Tanggung jawab pemegang saham hanya sebatas jumlah saham yang ia
kuasai, selebihnya ia tidak bertanggung jawab.
2. Perpectual Succession
Sebagai sebuah perseroan yang eksis atas haknya sendiri, perubahan
keanggotaan tidak memiliki akibat atas status atau eksistensinya.
3. Memiliki kekayaan sendiri
Semua kekayaan dimiliki oleh badan itu sendiri, tidak oleh pemilik,
oleh anggota atau pemegang saham.
4. Memiliki kewenangan kontraktual serta dapat menuntut dan dituntut
atas nama sendiri
Badan hukum sebagai subjek hukum diperlakukan seperti manusia
yang memiliki kewenangan kontraktual.
Organ Perseroan adalah Rapat Umum Pemegang Saham, Direksi, dan
Dewan Komisaris.
a. Rapat Umum Pemegang Saham, yang selanjutnya disebut RUPS,
adalah Organ Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak
diberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam batas yang
ditentukan dalam undang-undang ini dan/atau anggaran dasar.
b. Direksi adalah Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung
jawab penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan,
sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan,
baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan
anggaran dasar.
c. Dewan Komisaris adalah Organ Perseroan yang bertugas melakukan
pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran
dasar serta memberi nasihat kepada Direksi.
Dalam menjalankan tugasnya Direksi mempunyai kewajiban antara lain:
a. Direksi wajib menyiapkan rancangan rencana jangka panjang yang
merupakan rencana strategis yang memuat sasaran dan tujuan Persero
yang hendak dicapai dalam jangka waktu 5 (lima) tahun.
6

b. Direksi wajib menyiapkan rancangan rencana kerja dan anggaran


perusahaan yang merupakan penjabaran tahunan dari rencana jangka
panjang.
c. Direksi wajib menyampaikan laporan tahunan kepada RUPS untuk
memperoleh pengesahan.
d. Direksi wajib memelihara risalah rapat dan menyelenggarakan
pembukuan Persero.
Kedudukan, Tugas, dan Wewenang Direksi
Direksi adalah organ perseroan terbatas, yang diangkat oleh RUPS, yang
bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan, yang dilaksanakan
dengan itikad baik, untuk kepentingan usaha dan tujuan perseroan, serta
mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan
ketentuan Anggaran dasar, dengan pembagian tugas dan wewenang yang
ditentukan RUPS, karenanya dapat disimpulkan bahwa direksi memiliki 2
(dua) fungsi utama:
a. Fungsi manajemen, dalam arti Direksi melakukan tugas memimpin
perseroan
b. Fungsi representasi, dalam arti Direksi mewakili perseroan di dalam
dan di luar pengadilan
Dalam melaksanakan kepengurusan dimaksud, direksi dibebankan
tanggung jawab, antara lain:
a. Pembagian tugas dan wewenang setiap anggota Direksi ditetapkan
oleh RUPS (Pasal 92 ayat (5) UUPT)
b. Direksi bertanggung jawab atas pengurusan perseroan untuk
kepentingan dan tujuan perseroan
c. Mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan
d. Dalam hal anggota Direksi terdiri lebih dari 1 (satu) orang, maka yang
berwenang mewakili perseroan adalah setiap anggota Direksi kecuali
ditentukan lain dalam undang-undang (Pasal 98 ayat (2) UUPT)
e. Setiap anggota direksi wajib dengan itikad baik dan penuh tanggung
jawab menjalankan tugas untuk kepentingan dan usaha perseroan
(Pasal 97 ayat (2) UUPT)

Adapun itikad baik (good faith) menurut M. Yahya Harahap (2009) adalah
meliputi aspek-aspek:
a. Wajib dipercaya (fiduciary duty) yakni selamanya dapat dipercaya dan
selamanya harus jujur;
b. Wajib melaksanakan pengurusan perseroan untuk tujuan yang wajar
dan tujuan yang layak;
c. Wajib menaati peraturan perundang-undangan;
d. Wajib loyal terhadap perseroan, tidak menggunakan dana dan aset
perseroan untuk kepentingan pribadi, wajib merahasiakan segala
informasi;
e. Wajib menghindari tejadinya benturan kepentingan pribadi dengan
kepentingan perseroan, dilarang mempergunakan harta kekayaan
perseroan,

dilarang

menggunakan

informasi

perseroan,

tidak

menggunakan posisi untuk kepentingan pribadi, tidak mengambil atau


menahan sebahagian keuntungan perseroan untuk pribadi, tidak
melakukan transaksi antara pribadi dengan perseroan, tidak melakukan
persaingan dengan perseroan, juga wajib melaksanakan pengurusan
perseroan dengan penuh tanggung jawab yang meliputi aspek:
1) Wajib seksama dan berhati-hati melakukan pengurusan yakni kehatihatian yang biasa dilakukan orang dalam kondisi dan posisi yang
demikian yang disertai dengan pertimbangan yang wajar;
2) Wajib melaksanakan pengurusan dengan tekun yakni secara terusmenerus secara wajar menumpahkan perhatian atas kejadian yang
menimpa perseroan; dan
3) Ketekunan dan keuletan wajib disertai kecakapan dan keahlian sesuai
dengan ilmu pengetahuan dan pengetahuan yang dimilikinya.
2.3 Kepailitan
Pengertian Kepailitan
Secara tata bahasa, kepailitan berarti segala hal yang berhubungan dengan
pailit. Dari pengertian yang diberikan Blacks Law Dictionary tersebut,
dapat kita lihat bahwa pengertian pailit dihubungkan dengan ketidakmampuan
untuk membayar dari seorang (debitor) atas atas utang-utangnya yang telah
jatuh tempo. Ketidakmampuan tersebut harus disertai dengan suatu tindakan
nyata untuk mengajukan, baik yang dilakukan secara sukarela oleh debitor

sendiri, maupun atas permintaan pihak ketiga (di luar debitor), suatu
permohonan pernyataan pailit ke pengadilan.
Persyaratan Kepailitan
Permohonan pernyataan pailit dapat dikabulkan jika persyaratan kepailitan
di bawah ini telah terpenuhi.
a. Debitor tersebut mempunyai dua atau lebih kreditor; dan
b. Debitor tersebut tidak membayar sedikitnya satu utang yang telah jatuh
waktu dan dapat ditagih.
Akibat Hukum Kepailitan bagi Perseroan
Kepailitan mengakibatkan debitor yang dinyatakan pailit kehilangan
segala hak perdata untuk menguasai dan mengurus harta kekayaan yang telah
dimasukkan ke dalam harta pailit. Pembekuan hak perdata ini diberlakukan
oleh Pasal 22 Undang-undang Kepailitan terhitung sejak saat keputusan
pernyataan pailit diucapkan.
Kriteria Tanggung Jawab Direksi terhadap Kepailitan Perseroan
Kepailitan Perseroan Terbatas baik secara langsung ataupun tidak langsung
akan menimbulkan akibat hukum bagi para pengurusnya terutama bagi direksi
perseroan. Ada banyak persoalan tentang akibat hukum yang timbul dari
putusan mengenai kepailitan perseroan terbatas salah satunya adalah mengenai
sejauh mana pertanggungjawaban terhadap adanya kepailitan perseroan
terbatas, apakah badan hukum itu sendiri yang akan memikul tanggung jawab
ataukah organ perseroan dalam hal ini direksi yang akan bertanggung jawab
secara pribadi.
Adapun kriteria tanggung jawab direksi adalah sebagai berikut:
a. Tanggung jawab itu timbul jika perusahaan itu melalui prosedur
kepailitan.
b. Harus ada kesalahan atau kelalaian.
c. Tanggung jawab itu bersifat residual, artinya tanggung jawab itu
timbul jika nanti ternyata asset perusahaan yang diambil itu tidak
cukup.
d. Tanggung jawab itu secara renteng artinya walaupun hanya seorang
kreditor yang bersalah, direktur lain dianggap turut bertanggung jawab.

e. Presumsi bersalah dengan pembuktian terbalik.


Menurut Jerry Joff, Kepailitan menjadi tanggung jawab pribadi dari
direksi apabila dalam melaksanakan tugas kepengurusannya :
1. Secara sengaja atau tidak hati-hati dalam melaksanakan tugas-tugas pokok
pengurusan, seperti melakukan pembukuan yang layak dan pencatatan
lainnya;
2. Tanpa persipan yang layak, melaksanakan keputusan yang akan
mempunyai akibat keuangan yang luas;
3. Membiarkan para direktur yang jelas tidak mampu untuk mengikat
perseroan tanpa batas jumlah keuangan;
4. Gagal untuk memberikan informasi kepada Komisaris, sehingga mencegah
mereka untuk secara layak melakukan tugas-tugas pengawasan mereka;
5. Mengabaikan batas-batas kredit;
6. Gagal mengambil tindakan pencegahan yang layak dan pada waktunya
terhadap resiko yang jelas dan dapat diduga;
7. Gagal untuk menyelidiki kemampuan keuangan mitra kontrak kepada
siapa perseroan menyerahkan barang-barang atau jasa-jasa dengan kredit,
atau memperpanjang kredit untuk suatu jangka waktu yang terlalu lama.
1.4 Dasar Hukum Terkait
a. Undang-undang Nomor 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi
Pasal 11 ayat (1):
Badan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan orang
perseorangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 harus bertanggung
jawab terhadap hasil pekerjaannya

b. Undang-undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik


Negara (BUMN)
Pasal 11:
Terhadap Persero berlaku segala ketentuan dan prinsip-prinsip yang
berlaku bagi perseroan terbatas sebagaimana diatur dalam Undangundang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas.
c. Undang-undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

10

Pasal 1 ayat (5):


Direksi adalah Organ Perseroan yang berwenang dan bertanggung
jawab penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan Perseroan,
sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan serta mewakili Perseroan,
baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan
ketentuan anggaran dasar.
Pasal 104 ayat (2):
Dalam hal kepailitan sebagaimana dimaksud pada ayat terjadi karena
kesalahan atau kelalaian Direksi dan harta pailit tidak cukup untuk
membayar seluruh kewajiban Perseroan dalam kepailitan tersebut,
setiap anggota Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab
atas seluruh kewajiban yang tidak terlunasi dari harta pailit tersebut.
Pasal 104 ayat (3):
Tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku juga
bagi anggota Direksi yang salah atau lalai yang pernah menjabat
sebagai anggota Direksi dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sebelum
putusan pernyataan pailit diucapkan.
Pasal 104 ayat (4):
Anggota Direksi tidak bertanggungjawab atas kepailitan Perseroan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila dapat membuktikan:
1) kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
2) telah melakukan pengurusan dengan itikad baik, kehati-hatian, dan
penuh tanggung jawab untuk kepentingan Perseroan dan sesuai
dengan maksud dan tujuan Perseroan;
3) tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun
tidak langsung atas tindakan pengurusan yang dilakukan; dan
4) telah mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kepailitan.
Pasal 104 ayat (5):
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), dan ayat (4)
berlaku juga bagi Direksi dari Perseroan yang dinyatakan pailit
berdasarkan gugatan pihak ketiga.

11

d. Undang-undang Nomor 37 tahun 2004 Kepailitan dan Penundaan


Kewajiban Pembayaran Utang
Pasal 42:
Apabila perbuatan hukum yang merugikan Kreditor dilakukan dalam
jangka waktu 1 (satu) tahun sebelum putusan pernyataan pailit
diucapkan, sedangkan perbuatan tersebut tidak wajib dilakukan
Debitor, kecuali dapat dibuktikan sebaliknya, Debitor dan pihak
dengan siapa perbuatan tersebut dilakukan dianggap mengetahui atau
sepatutnya mengetahui bahwa perbuatan tersebut akan mengakibatkan
kerugian bagi Kreditor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (2),
dalam hal perbuatan tersebut:
a) merupakan perjanjian dimana kewajiban Debitor jauh melebihi
kewajiban pihak dengan siapa perjanjian tersebut dibuat;
b) merupakan pembayaran atas, atau pemberian jaminan untuk utang
yang belum jatuh tempo dan/atau belum atau tidak dapat ditagih;
c) dilakukan oleh Debitor perorangan, dengan atau untuk
kepentingan:
1) suami atau istrinya, anak angkat, atau keluarganya sampai
derajat ketiga;
2) suatu badan hukum dimana Debitor atau pihak sebagaimana
dimaksud pada angka 1) adalah anggota direksi atau pengurus
atau apabila pihak tersebut, baik sendiri-sendiri maupun
bersamasama, ikut serta secara langsung atau tidak langsung
dalam kepemilikan badan hukum tersebut lebih dari 50% (lima
puluh persen) dari modal disetor atau dalam pengendalian
badan hukum tersebut.
d) dilakukan oleh Debitor yang merupakan badan hukum, dengan atau
untuk kepentingan:
1) anggota direksi atau pengurus dari Debitor, suami atau istri,
anak angkat, atau keluarga sampai derajat ketiga dari anggota
direksi atau pengurus tersebut;
2) perorangan, baik sendiri atau bersama-sama dengan suami atau
istri, anak angkat, atau keluarga sampai derajat ketiga, yang
ikut serta secara langsung atau tidak langsung dalam
kepemilikan pada Debitor lebih dari 50% (lima puluh persen)

12

dari modal disetor atau dalam pengendalian badan hukum


tersebut;
3) perorangan yang suami atau istri, anak angkat, atau
keluarganya sampai derajat ketiga, ikut serta secara langsung
atau tidak langsung dalam kepemilikan pada Debitor lebih dari
50% (lima puluh persen) dari modal disetor atau dalam
pengendalian badan hukum tersebut.
e) dilakukan oleh Debitor yang merupakan badan hukum dengan atau
untuk kepentingan badan hukum lainnya, apabila:
1) perorangan anggota direksi atau pengurus pada kedua badan
usaha tersebut adalah orang yang sama;
2) suami atau istri, anak angkat, atau keluarga sampai derajat
ketiga dari perorangan anggota direksi atau pengurus Debitor
yang juga merupakan anggota direksi atau pengurus pada
badan hukum lainnya, atau sebaliknya;
3) perorangan anggota direksi atau pengurus, atau anggota badan
pengawas pada Debitor, atau suami atau istri, anak angkat, atau
keluarga sampai derajat ketiga, baik sendiri atau bersama-sama,
ikut serta secara langsung atau tidak langsung dalam
kepemilikan badan hukum lainnya lebih dari 50% (lima puluh
persen) dari modal disetor atau dalam pengendalian badan
hukum tersebut, atau sebaliknya;
4) Debitor adalah anggota direksi atau pengurus pada badan
hukum lainnya, atau sebaliknya;
5) badan hukum yang sama, atau perorangan yang sama baik
bersama, atau tidak dengan suami atau istrinya, dan atau para
anak angkatnya dan keluarganya sampai derajat ketiga ikut
serta secara langsung atau tidak langsung dalam kedua badan
hukum tersebut paling kurang sebesar 50% (lima puluh persen)
dari modal yang disetor.
f) dilakukan oleh Debitor yang merupakan badan hukum dengan atau
terhadap badan hukum lain dalam satu grup dimana Debitor adalah
anggotanya;

13

g) ketentuan dalam huruf c, huruf d, huruf e, dan huruf f berlaku


mutatis mutandis dalam hal dilakukan oleh Debitor dengan atau
untuk kepentingan:
1) anggota pengurus dari suatu badan hukum, suami atau istri,
anak angkat atau keluarga sampai derajat ketiga dari
anggota pengurus tersebut;
2) perorangan, baik sendiri maupun bersama-sama dengan
suami atau istri, anak angkat, atau keluarga sampai derajat
ketiga yang ikut serta secara langsung atau tidak langsung
dalam pengendalian badan hukum tersebut.
e. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Bab XXVI
Pasal 398
Seseorang pengurus atau komisaris perseroan terbatas, maskapai andil
Indonesia atau perkumpulan koperasi yang dinyatakan pailit atau yang
penyelesaiannya oleh pengadilan telah diperintahkan, diancam dengan
pidana penjara paling lama satu tahun enam bulan:
(1) Bila yang bersangkutan turut membantu atau mengijinkan untuk
melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan anggaran
dasar, yang menyebabkan seluruh atau sebagian besar dari kerugian
yang diderita oleh perseroan, maskapai atau perkumpulan.
(2) Bila yang bersangkutan dengan maksud untuk menangguhkan
kepailitan atau penyelesaian perseroan, maskapai, atau perkumpulan,
turut membantu atau mengijinkan peminjaman uang dengan syaratsyarat yang memberatkan, padahal ia tahu bahwa kepailitan atau
penyelesaiannya tidak dapat dicegah lagi.
(3) Bila yang bersangkutan dapat dipersalahkan tidak memenuhi
kewajiban seperti tesebut dalam Pasal 6 alinea pertama KUHD dan
Pasal 27 (1) Ordonansi tentang Maskapai Andil Indonesia, atau bahwa
buku-buku dan surat-surat yang memuat catatan-catatan dan tulisantulisan yang disimpan menurut Pasal tadi dapat diperlihatkan dalam
keadaan tak diubah
Pasal 399
Seseorang pengurus atau komisaris perseroan terbatas, maskapai andil
Indonesia atau perkumpulan koperasi yang dinyatakan pailit atau yang
14

penyelesaiannya oleh pengadilan telah diperintahkan, diancam dengan


pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun bila yang bersangkutan
mengurangi secara curang hak-hak pemiutang pada perseroan,
maskapai, atau perkumpulan untuk :
(1) Membuat pengeluaran yang tidak ada atau tidak membukukan
pendapatan atau menarik barang sesuatu dari budel.
(2) Telah memindahtangankan (vervreemden) barang sesuatu dengan
cuma-cuma atau jelas di bawah harganya.
(3) Dengan suatu cara menguntungkan salah seorang pemiutang pada
waktu kepailitan atau penyelesaian, ataupun pada saat dia tahu bahwa
kepailitan atau penyelesaian tadi tidak dapat dicegah lagi.
(4) Tidak memenuhi kewajibannya untuk membuat catatan menurut
Pasal 6 alinea pertama KUHD dan Pasal 27 (1) Ordonansi tentang
Maskapai

Andil

Indonesia,

dan

tentang

menyimpan

dan

memperlihatkan bukubuku, surat-surat dan tulisan-tulisan menurut


pasal-pasal itu.
Pasal 400
Dengan hukuman penjara selama-lamanya lima tahun enam bulan,
dihukum barangsiapa yang mengurangi dengan penipuan terhadap hak
orang yang mengutangkan :
1.e Dalam hal menyerahkan harta bendanya menurut hukum, dalam hal
jatuh pailit atau dalam hal penyelesaian urusan perniagaan atau jika
dapat disangka lebih dulu salah satu hal itu akan terjadi dan kemudian
hari betul penyerahan harta benda, jatuh (pailit) atau penyelesaian
urusan perniagaan itu terjadi, maka ia melarikan sesuatu barang dari
harta benda itu, atau menerima bayaran, baik dari piutang, yang belum
dapat ditagih maupun dari utang yang sudah dapat ditagih, dalam hal
tersebut kemudian, jika diketahuinya bahwa jatuhnya pailit atau
penyelesaian urusan perniagaan orang yang menguntungkan telah
dituntut, atau oleh sebab mufakat oleh orang yang berutang itu;
2.e Pada waktu pemeriksaan piutang dalam hal menyerahkan harta
benda menurut hukum, jatuh pailit atau urusan penyelesaian
perniagaan, menerangkan dengan dusta sesuatu penagihan yang

15

sebenarnya tidak ada, atau membesar-besarkan jumlah piutang yang


betul ada. (KUHP 35, 43, 397-1e, 399-1e, 405, 486)
Pasal 401
(1)Penagihan utang yang suka menerima pemufakatan pengadilan
yang ditawarkan karena ia telah mengadakan perjanjian dengan orang
yang berutang atau dengan orang lain, dengan dituntutnya keuntungan
yang luar biasa, dihukum, kalau persetujuan itu diterima, dengan
hukuman penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan;
(2) Dalam hal demikian, maka hukuman yang serupa itu juga
dijatuhkan kepada orang yang berutang atau, jika yang berutang itu
perseroan, maskapai, perkumpulan atau yayasan, pada pengurusannya
atau pembantunya yang membuat perjanjian itu. (KUHP 43, 405)
Pasal 402
Barang siapa yang dinyatakan tidak mampu akan membayar utangnya
atau kalau ia bukan pedagang ia akan dinyatakan pailit, atau barang
siapa yang dijinkan menyerahkan harta benda menurut keputusan
pengadilan, dihukum penjara selama-lamanya lima tahun enam bulan,
jika ia untuk mengurangi dengan tipu hak orang yang menghutangkan
padanya dengan dusta mengarang utang, atau menyembunyikan
keuntungan atau melarikan suatu barang dari harta bendanya, atau
memindahkan sesuatu barang dengan percuma atau dengan nyata di
bawah harga, atau pada waktu ia dinyatakan tidak mampu,
menyerahkan harta bendanya atau dinyatakan dinyatakan jatuh pailit
atau pada ketika itu ia tahu, bahwa salah satu dari hal ikhwal itu, tidak
dapat dicegah lagi, menguntungkan salah seorang yang berpiutang
padanya dengan memakai jalan apapun juga.
Dengan hukuman kurungan selama-lamanya tiga bulan, dihukum:
1.e Barangsiapa yang sudah mendapat pertangguhan dengan
pembayaran utangnya dengan kekuasaan sendiri melakukan perbuatan
sedang untuk itu menurut undang-undang umum harus dilakukan
dengan perantaraan pengurus harta benda.
2.e Pengurus atau komisaris perseroan, maskapai, perkumpulan atau
badan yang sudah mendapat pertangguhan pembayaran utangnya, yang

16

dengan kekuasaan sendiri melakukan perbuatan, sedang untuk itu


menurut undang-undang hukum harus dilakukan dengan perantaraan
pengurus harta benda..

17

BAB III
METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

3.1 Orientasi Penelitian


Makalah ini menggunakan metode penelitian studi literatur, di mana data
yang digunakan adalah data sekunder yang berupa:
a) Perundang-undangan terkait
b) Buku
c) Tesis dan skripsi
Data berupa informasi digunakan sebagai landasan teori yang dijabarkan
di Bab II: Kajian Pustaka dan untuk kemudian dianalisis dan ditarik
kesimpulannya pada Bab IV: Pembahasan dan Bab V: Penutup. Kesimpulan
yang ditarik berupa pendefinisian bentuk pertanggungjawaban yang harus
dipenuhi oleh Direksi Persero terhadap kepailitan Persero sektor Jasa
Konstruksi tersebut.
3.2 Problem Statement
Dengan
sifatnya

sebagai

badan

hukum,

yaitu

memiliki

pertanggungjawaban yang terbatas, bentuk badan usaha perseroan terbatas


sering disalahgunakan untuk menghindari kewajiban pengurus/pengelolan
perseroan secara pribadi atas kerugian/kepailitan yang dialami badan tersebut
akibat kesalahan/kelalaian direksi secara pribadi.
3.3 Problem Identification
Kurangnya
pemahaman

mengenai

bentuk

sebenarnya

dari

pertanggungjawaban yang harus dipenuhi Direksi Perseroan/Persero atas


kerugian/kepailitan yang diakibatkan oleh tindakan pribadi Direksi.
3.4 Problem Formulation
Bagaimana
seharusnya

bentuk

pertanggungjawaban

Direksi

Persero/Perseroan atas kepailitan Persero sektor Jasa Konstruksi yang


diakibatkan oleh keputusan pribadi Direksi Persero?
BAB IV
PEMBAHASAN

18

Sebelum membahas mengenai pertanggungjawaban Direksi Persero sektor


jasa

konstruksi,

terlebih

dahulu

akan

dijabarkan

mengenai

hubungan

komplementer antar perundang-undangan terkait dengan kasus yang diangkat.


Sebagai badan usaha yang bergerak di sektor jasa industri konstruksi,
BUMN berbentuk perseroan terbatas sektor jasa konstruksi tunduk kepada
sedikitnya tiga perundang-undangan, yaitu UU No.18 tahun 1999 tentang Jasa
Konstruksi, UU No.19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara, dan UU
No.40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Dalam pasal 11 ayat (1) UU No.18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi,
disebutkan bahwa para pelaku industri jasa konstruksi (perencana, pelaksana, dan
pengawas konstruksi) memiliki tanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya.
Termasuk di dalam tanggung jawab tersebut adalah kepuasan konsumen dan
kewajiban memenuhi kriteria profitable sebagai bagian dari profesionalisme.
Namun, hal tersebut tidak dapat dipenuhi ketika Persero mengalami kepailitan.
Pertanggungjawaban atas kasus tersebut kemudian dapat ditelusuri dengan
menelaah peran dan fungsi organ BUMN berbentuk perseroan melalui UU No.19
tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara, yang kemudian pada pasal 11
menyatakan bahwa prinsip dan ketentuan pada Persero merupakan prinsip dan
ketentuan yang diatur dalam UU No.1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas
(yang kemudian direvisi menjadi UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas).
Berdasarkan UU No.40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas pasal 1
ayat (5), disebutkan bahwa direksi merupakan organ perseroan yang berwenang
dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan Perseroan untuk kepentingan
Perseroan. Artinya, selain bertanggung jawab terhadap jalannya kepengurusan
Perseroan, Direksi juga harus bertanggung jawab terhadap hasil dari tindakan
yang diambilnya demi kepentingan Perseroan, termasuk adanya kemungkinan
terjadinya kepailitan Persero. Karena BUMN berbentuk perseroan terbatas berada
di bawah naungan undang-undang ini, maka ketentuan dalam pasal tersebut juga
berlaku pada Persero jasa konstruksi.
Dalam hal terjadinya kepailitan yang diakibatkan oleh kesalahan dan
kelalaian Direksi dan harta pailit tidak cukup untuk membayar seluruh kewajiban
Perseroan dalam kepailitan tersebut, setiap anggota Direksi secara tanggung
renteng bertanggung jawab atas seluruh kewajiban yang tidak terlunasi dari harta
19

pailit tersebut (UU No.40 tahun 2007, pasal 104 ayat (2)). Namun, di dalam
penjelasan Undang-undang Perseroan Terbatas (UUPT), tidak ada keterangan
maupun penjelasan lebih lanjut mengenai definisi dari kesalahan atau kelalaian
Direksi, sehingga agak sulit untuk menyimpulkan seberapa jauh UUPT
mengantisipasi

mengenai

bentuk

penyimpangan

kewenangan

Direksi

Perseroan/Persero.
Meskipun pertanggungjawaban secara tanggung renteng ditekankan
beberapa kali di dalam pasal-pasal UUPT (baik dalam hal kerugian maupun
kepailitan), namun terdapat celah di mana Direksi dapat berkilah dari kewajiban
pribadinya atas kerugian/kepailitan Persero jika pihak terkait, sesuai dengan pasal
104 ayat (4) UUPT, dapat membuktikan:
a. kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya;
b. telah melakukan pengurusan dengan itikad baik, kehati-hatian, dan
penuh tanggung jawab untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan
maksud dan tujuan Perseroan;
c. tidak mempunyai benturan kepentingan baik langsung maupun tidak
langsung atas tindakan pengurusan yang dilakukan; dan
d. telah mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kepailitan.
Namun, seperti pada kekurangan ayat-ayat sebelumnya, terjadi
ketidakpastian arti/definisi/bentuk dari kesalahan atau kelalaian Direksi dan
itikad baik dari Direksi di dalam UUPT. UUPT menyerahkan seluruhnya
penetapan pembuktian kesalahan dan kelalaian Direksi pada pengadilan niaga
(penjelasan UUPT pasal 104), sedangkan itikad baik diberikan definisi oleh M.
Yahya Harahap dalam bukunya yang berjudul Hukum Perseroan Terbatas yang
dilampirkan dalam Bab II: Kajian Pustaka. Berdasarkan keberadaan pasal
tersebut, dapat disimpulkan bahwa Direksi Persero memiliki pertanggungjawaban
secara perdata terhadap kepailitan perseroan/Persero.
Selain pertanggungajawaban secara perdata, Direksi Persero juga diatur
pertanggungjawabannnya secara pidana di dalam buku kedua KUHP Bab XXVI
pasal 398, 399, 400, 401, dan 402. Secara ringkas, bentuk pertanggungjawaban
secara pidana yang dapat diemban oleh Direksi Persero dan tindakan yang
menyebabkan sanksi tersebut adalah sebagai berikut:
a) Pidana penjara paling lama satu tahun enam bulan, bila yang
bersangkutan melakukan:

20

1) Membantu atau mengijinkan untuk melakukan perbuatan yang


bertentangan dengan anggaran dasar dan menyebabkan seluruh
atau sebagian besar dari kerugian yang diderita oleh perseroan.
2) Membantu atau mengijinkan peminjaman uang dengan syarat yang
memberatkan walaupun ia mengetahui bahwa kepailitan dan
penyelesaiannya tidak dapat dihindari lagi.
3) Tidak memenuhi kewajiban dalam pasal 6 alinea pertama KUHD.
b) Pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun bila yang bersangkutan
mengurangi secara curang hak-hak pemiutang pada perseroan untuk:
1) Membuat pengeluaran yang tidak ada atau tidak membukukan
pendapatan atau menarik barang sesuatu dari budel.
2) Telah memindahtangankan (vervreemden) barang sesuatu dengan
cuma-cuma atau jelas di bawah harganya.
3) Dengan suatu cara menguntungkan salah seorang pemiutang pada
waktu kepailitan atau penyelesaian, ataupun pada saat dia tahu
bahwa kepailitan atau penyelesaian tadi tidak dapat dicegah lagi.
4) Tidak memenuhi kewajibannya untuk membuat catatan menurut
Pasal 6 alinea pertama KUHD
c) Hukuman penjara selama-lamanya lima tahun enam bulan, dihukum
barangsiapa yang mengurangi dengan penipuan terhadap hak orang
yang mengutangkan :
1) melarikan sesuatu barang dari harta benda yang harus diserahkan
dalam hal penyelesaian urusan perniagaan, atau menerima bayaran,
baik dari piutang, yang belum dapat ditagih maupun dari utang
yang sudah dapat ditagih, dalam hal tersebut kemudian, jika
diketahuinya bahwa jatuhnya pailit atau penyelesaian urusan
perniagaan orang yang menguntungkan telah dituntut, atau oleh
sebab mufakat oleh orang yang berutang itu;
2) menerangkan dengan dusta sesuatu penagihan yang sebenarnya
tidak ada, atau membesar-besarkan jumlah piutang yang betul ada.
d) Hukuman penjara paling lama satu tahun empat bulan, karena ia telah
mengadakan perjanjian dengan orang yang berutang atau dengan orang
lain, dengan dituntutnya keuntungan yang luar biasa.
e) Hukuman selama-lamanya lima tahun enam bulan, jika ia untuk
mengurangi dengan tipu hak orang yang menghutangkan padanya
dengan dusta mengarang utang, atau menyembunyikan keuntungan

21

atau melarikan suatu barang dari harta bendanya, atau memindahkan


sesuatu barang dengan percuma atau dengan nyata di bawah harga,
atau pada waktu ia dinyatakan tidak mampu, menyerahkan harta
bendanya atau dinyatakan dinyatakan jatuh pailit.
f) Hukuman kurungan paling lama tiga bulan, jika sudah mendapat
pertangguhan pembayaran utangnya, yang dengan kekuasaan sendiri
melakukan perbuatan, sedang untuk itu menurut undang-undang
hukum harus dilakukan dengan perantaraan pengurus harta benda.
Sedangkan ketentuan bahwa Direksi dianggap mengetahui bahwa ia
mengetahui bahwa perbuatan hukum yang dilakukannya merugikan
kreditor diatur dalam Undang-undang Nomor 37 tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang pasal 42, di
mana perbuatan tersebut dilakukan untuk kepentingan:
1) anggota direksi atau pengurus dari Debitor, suami atau istri,
anak angkat, atau keluarga sampai derajat ketiga dari anggota
direksi atau pengurus tersebut;.
2) Debitor adalah anggota direksi atau pengurus pada badan
hukum lainnya, atau sebaliknya;
BAB V
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
1. Pertanggungjawaban Direksi Persero sektor jasa konstruksi dapat dipenuhi
secara tanggung renteng maupun secara pribadi, tergantung pada penyebab
terjadinya kepailitan badan tersebut atas keputusan Pengadilan Niaga.
2. Pertanggungjawaban Direksi Persero terhadap kepailitan Persero yang
diakibatkan oleh pihak terkait secara pribadi dibagi menjadi dua, yaitu:
a) Pertanggungjawaban secara perdata
- Berbentuk pembayaran dengan kekayaan pribadi atas kerugian
-

yang dialami persero


Sebab pertanggungjawaban adalah akibat adanya kelalaian dan

kesalahan dalam pelaksanaan pengelolaan Persero.


b) Pertanggungjawaban secara pidana
- Berbentuk hukuman pidana kurungan dengan jangka waktu
-

minimal tiga bulan dan maksimal tujuh tahun.


Sebab pertanggungjawaban adalah akibat pihak terkait melakukan:
22

1) Perbuatan yang bertentangan dengan anggaran dasar dan


menyebabkan seluruh atau sebagian besar dari kerugian yang
diderita oleh perseroan
2) Peminjaman uang dengan syarat yang memberatkan walaupun
ia mengetahui bahwa kepailitan dan penyelesaiannya tidak
dapat dihindari lagi
3) Membuat pengeluaran yang tidak ada atau tidak membukukan
pendapatan atau menarik barang sesuatu dari budel.
4) Telah memindahtangankan (vervreemden) barang sesuatu
dengan cuma-cuma atau jelas di bawah harganya.
5) Menerangkan dengan dusta sesuatu penagihan yang sebenarnya
tidak ada, atau membesar-besarkan jumlah piutang yang betul
ada

23

6.2 Saran
1. Definisi/bentuk dari kelalaian dan kesalahan oleh Direksi Persero yang
menyebabkan

terjadinya

kepailitan

pada

badan

tersebut

butuh

dicantumkan di dalam UUPT.


2. Definisi/bentuk dari itikad baik Direksi Persero harus dicantumkan dalam
UUPT.

24

DAFTAR PUSTAKA
Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara
Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Buku Kedua, Bab XXVI
Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang UU 37 2004 Kepailitan dan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
Chandra, Fendy. Kedudukan Dan Tanggung Jawab Komisaris Independen Pada
Perseroan Terbuka Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun
2007 (Riset: PT. Central Proteinaprima Tbk.). 2010. Medan: Universitas
Sumatera Utara. < repository.usu.ac.id/bitstream/.../3/Chapter%20II.pdf>
Endryl; Kurniawarman; Tasman. Tanggung Jawab Direksi terhadap Perseroan
Pailit Akibat Kelalaian dan Kesalahannya. Nd. Lampung: Universitas
Andalas.
Erman. Tanggung Jawab Direksi dalam Perseroan Terbatas berdasarkan Prinsip
Fiduciary Relationship. Nd. Jakarta: Universitas Sahid.
Hasibuan, TR. Hukum Perseroan Terbatas. 2010. Medan: Universitas Sumatera
Utara. < repository.usu.ac.id/bitstream/.../3/Chapter%20II.pdf>
Prasetyo, M. Analisa Waste Tenaga Kerja Konstruksi pada Proyek Gedung
Bertingkat (Analysis of Waste of Construction Labour on Low Rise
Building Projects). 2010. Semarang: Universitas Diponegoro.
S., Uray Yanice Neysa. Kepailitan pada Badan Usaha Milik Negara. 2010.
Semarang: Universitas Diponegoro
Safitri, Fahriza Nurul. Kepailitan terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN):
Studi Kasus PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan PT Istaka Karya.
2012. Jakarta: Universitas Indonesia.
Sagoro, Endra Murti. Bentuk Badan Usaha. Nd. Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta.
Widjaja, Gunawan. Tanggung Jawab Direksi atas Kepailitan Perseroan. 2004:
PT Raja Gravindo Persada.
Widjaja, Gunawan; Yani, Ahmad. Seri Hukum Bisnis: Kepailitan. 2002. Jakarta:
PT Raja Gravindo Persada.

25