Anda di halaman 1dari 29

Hubungan Mekanisme Pengaturan Suhu dalam dengan Taraf Metabolisme Tubuh

Sugiharto Saputra
102011022
Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Pendahuluan
Sistem endokrin, seperti halnya sistem saraf, menyesuaikan dan mengatur berbagai aktivitas
sistem tubuh, sehingga sistem tubuh tersebut dapat menjawab kebutuhan lingkungan eksternal
dan internal yang selalu berubah. Integrasi endokrin dilaksanakan oleh sinyal kimiawi yang
disekresikan oleh kelenjar buntu dan dihantarkan melalui sirkulasi darah ke sel sasaran. Hormon
mengatur proses metabolik. Istilah metabolisme secara harfiah artinya perubahan, digunakan
untuk menyebut semua transformasi kimiawi dan energi yang terjadi di dalam tubuh. Dalam
tubuh, panas dihasilkan oleh gerakan otot, asimilasi makanan dan oleh semua proses vital dalam
tingkat metabolisme basal. Panas dikeluarkan dari tubuh melalui radiasi, konduksi (hantaran) dan
penguapan air di saluran napas dan kulit. Sejumlah kecil panas juga dikeluarkan melalui urin dan
feces. Keseimbangan antara pembentukan dan pengeluaran panas menentukan suhu tubuh.
Karena kecepatan reaksi kimia bervariasi sesuai dengan suhu dan karena sistem enzim dalam
tubuh memiliki rentang suhu normal yang sempit agar berfungsi optimal, fungsi tubuh normal
bergantung pada suhu yang relatif konstan. Pada manusia, telah berkembang mekanisme untuk
mempertahankan suhu tubuh dengan menyesuaikan tingkat pembentukan dan pengeluaran panas.
Banyak mekanisme otonom kompleks yang mempertahankan kestabilan kimiawi dan suhu
lingkungan internal terintegrasi di hipotalamus.1,2
Patogenesis demam
Demam merupakan respon fisiologis dimana suhu tubuh meningkat akibat pengaturan ulang di
set point di hipotalamus. Suhu tubuh normal memiliki perbedaan yang cukup jauh pada setiap
orang (kisaran suhu oral antara 36oC-37,7oC).1
Demam juga sering merujuk pada peningkatan suhu tubuh akibat infeksi atau peradangan.
Sebagai respon terhadap masuknya mikroba, se-sel faositik tertentu(makrofag) mengeluarkan
1

suatu bahan kimia yang dikenal sebagai pirogen endogen yang, selain efek-efeknya melawan
infeksi, bekerja pada pusat termoregulasi hipotalamus untuk meningkatkan set point.
Hipotalamus memicu menggigil agar produksi panas segera meningkat, dan mendorong
vasokonstriksi kulit untuk segera mengurangi pengeluaran panas. Terjadinya demam sebagai
respons terhadap infeksi adalah tujuan yang disengaja dan bukan disebabkan oleh kerusakan
mekanisme termoregulasi. Demam memperkuat respons peradangan dan mungkin menghambat
perkembangbiakan bakteri.2
Selama demam, pirogen endogen meningkatkan set point hipotalamus dengan memicu pelepasan
lokal prostaglandin, yaitu mediator kimiawi lokal yang bekerja lansung pada hipotalamus. Ketika
berkurangnya pelepasan pirogen endogen atau sintesis prostaglandin, set point kembali menjadi
normal, sehingga suhu saat demam menjadi terlalu tinggi. Mekanisme-mekanisme respons panas
diaktifkan untuk mendinginkan tubuh. Terjadi vasodilatasi kulit dan pengeluaran keringat. 2
Stadium Demam
Gejala demam biasanya dimulai dengan adanya lesi, sakit kepala, tidak nafsu makan, kadang
disertai mual, dan muntah, dengan fase sebagai berikut :
a. Stage of Chill
1. Fase menggigil (15 menit sampai 1 jam), dimulai dengan menggigil, nadi cepat, tetapi
lemah, bibir dan jari tangan membiru, kulit kering dan pucat, kadang disertai muntah.
Pada fase ini, menggigil merupakan cara agar terjadi peningkattan produksi panas
tubuh dan mendorong vasokonstriksi kulit untuk segera mengurangi pengeluaran
panas.1,3
b. Stage of fastigium
1. Fase panas ( puncak demam) berlansung 2-6 jam, terjadi setelah perasaan dingin
sekali yang berubah menjadi panas sekali, wajah menjadi merah, kulit kering, sakit
kepala, mual dan muntah, nadi penuh dan berdenyut keras (suhu dapat mencapai
41oC)
2. Fase berkeringat berlansung 2-4 jam, setelah puncak panas, penderita selanjutnya
berkeringat banyak, vasodilatasi kulit, suhu turun dengan cepat, kadang berada
dibawah normal. 3
Pengaturan Suhu
2

Perubahan suhu tubuh di kedua arah mengubah aktivitas sel-peningkatan suhu mempercepat
reaksi-reaksi kimia sel, sedangkan penurunan suhu memperlambat reaksi-reaksi tersebut. Karena
fungsi sel sensitive terhadap fluktuasi suhu internal maka manusia secara homeostasis
mempertahankan suhu tubuh pada tingkat yang optimal agar metabolisme sel berlansung stabil.
Panas berlebihan berakibat lebih serius daripada pendinginan. Bahkan peningkatan moderat suhu
tubuh mulai menyebabkan malfungsi saraf dan denaturasi protein ireversibel.sebagian besar
orang mengalami kejang ketika suhu tubuh internal mencapai sekitar 106 oF (41oC); 110oF
(43,4oC), yang dianggap sebagai batas atas yang memungkinkan kehidupan.2
Suhu inti adalah cerminan dari kandungan panas total tubuh. Asupan panas ke tubuh harus
diseimbangkan dengan pengeluaran panas agar kandung panas total konstan sehingga suhu inti
juga konstan. Asupan panas berasal dari panas yang diperoleh dari lingkuangan luar dan
diproduksi panas internal, dengan yang terakhir merupakan sumber terpenting panas tubuh.
Panas yang dihasilkan biasanya lebih besar daripada panas yang dibutuhkan untuk
mempertahankan suhu tubuh pada kisaran normal sehingga kelebihan panas harus dikeluarkan
dari tubuh. Pengeluaran panas terjadi melalui terpajannya permukaan tubuh ke lingkungan
eksternal2
Keseimbangan antara asupan dan pengeluaran panas sering terganggu oleh perubahan produksi
panas internal untuk tujuan yang tidak berkaitan dengan regulasi suhu tubuh, terutama oleh
olahraga, yang sangat meningkatkan produksi panas, dan perubahan suhu lingkungan eksternal
yang mempengaruhi derajat penambahan atau pengurangan panas yang terjadi antara tubuh dan
lingkungan sekitar. Harus dilakukan penyesuaian-penyesuaian kompensatorik pada mekanisme
pembentukan dan pengeluaran panas agar suhu tubuh dapat dipertahankan dalam kisaran yang
sempit. Jika suhu inti mulai turun makan produksi panas ditingkatkan dan kehilangan panas
diminimalkan sehingga bsuhu dapat dipertahankan normal. Sebaliknya, jika suhu mulai
meningkat melebihi normal maka diperlukan koreksi dengan meningkatkan pengeluaran panas
sementara produksi panas dikurangi.2
Semua penambahan atau kehilangan panas antara tubuh dan lingkungan eksternal harus
berlansung antara permukaan tubuh dan lingkungannya. Tubuh menggunakan empat mekanisme
untuk memindahkan panas :

1. Radiasi adalah emisi energy panas dari permukaan benda hangat dalam bentuk
gelombang elektromagnetik atau gelombang panas, yang merambat dalam ruang. Ketika
suatu energy radiasi mengenai sebuah benda dan diserap maka energy gerakan
gelombang akan diubah menjadi panas di dalam benda. Tubuh manusia memancarkan
dan menyerap energy radiasi. Apakah tubuh kehilangan atau memperoleh panas melalui
radiasi bergantung pada perbedaan suhu antara permukaan kulit dan permukaan benda
lain di lingkungan. Karena pemindahan netto panas melalui radiasi selalu dari benda yang
lebih hangat ke benda yang dingin maka tubuh memperoleh panas dari benda yang lebih
hangat daripada permukaan kulit.2
2. Konduksi (hantaran) adalah pemindahan panas antara benda-benda yang berbeda
suhunya yang berkontak lansung satu sama lain, dengan panas mengalir menuruni
gradient suhu dari benda yang lebih hangat ke benda yang lebih dingin melalui
pemindahan dari molekul ke molekul. Semua molekuk terus-menerus bergetar, dengan
molekul yang lebih hangat bergerak lebih cepat daripada yang dingin. Ketika molekulmolekul dengan kandungan panas yang berbeda saling bersentuhan maka molekul yang
lebih hangat dan bergerak lebih cepat sehingga molekul yang lebih dingin tersebut
menjadi lebih hangat. Selama proses ini, molekul yang semula lebih hangat kehilangan
sebagian dari energy suhunya karena melambat dan menjadi lebih dingin. Karena itu,
asalkan waktunya cukup maka suhu dua benda yang saling bersentuhan akhirnya sama.
Laju pemindahan panas melalui konduksi bergantung pada perbedaan suhu antara bendabedan yang bersentuhan dan daya hantar panas bahan-bahan yang terlibat.2
3. Konveksi merujuk kepada pemindahan energy panas oleh arus udara (atau H2O). sewaktu
tubuh kehilangan panas melalui konduksi ke udara sekitar yang lebih dingin, udara yang
berkontak lansung dengan kulit menjadi lebih hangat. Karena udara hangat lebih ringan
(kurang padat) daripada udara dingin, maka udara yang telah dihangatkan tersebut naik
sementara udara yang lebih dingin berpindah ke dekat kulit menggantikan udara yang
telah hangat tersebut. Pergerakan udara ini, yang dikenal sebagai arus konveksi,
membantu membawa panas menjauhi tubuh. Jika tidak terjadi arus konveksi maka tidak
lagi terjadi pembebasan panas setelah suhu lapisan udara yang tepat berada di sekitar
tubuh menyamai suhu kulit.2
4. Evaporasi (penguapan) adalah metode terakhir pemindahan panas yang digunakan oleh
tubuh. Ketika udara menguap dari permukaan kulit, panas yang diperlukan untuk
4

mengubah air dari keadaan cair menjadi gas diserap dari kulit sehingga tubuh menjadi
lebih dingin. Pengeluaran panas secara evaporative terjadi terus menerus dari lapisan
dalam saluran pernapasan dan dari permukaan kulit.2
Hipotalamus
Hipotalamus berfungsi sebagai thermostat tubuh. Hipotalamus, sebagai pusat integrasi
termoregulasi tubuh, menerima informasi aferen tentang suhu di berbagai bagian tubuh dan
memicu penyesuaian yang sangat kompleks dan terkoordinasi dalam mekanisme penerimaan
panas dan pembuangan panas sesuai kebutuhan. Untuk menyeimbangkan mekanisme
[engeluaran panas dan mekanisme pembentukan dan penghemat panas, hipotalamus diberi
informasi secara terus menerus tentang suhu inti dan suhu kuliat oleh reseptor peka suhu khusus
yang disebut termoreseptor. Suhu inti dipantau oleh termosreseptor sentral, yang terletak di
hipotalamus d=itu sendiri serta di tempat lain di susunana saraf pusat dan organ abdomen.
Termoreseptor perifer memantau suhu kulit di seluruh tubuh dan menyalurkan informasi tentang
perubahan suhu permukaan hipotalamus.2
Hipotalamus terletak di batang otak tepatnya di dienchepalon, dekat dengan ventrikel otak ketiga
(ventrikulus tertius). Hipotalamus sebagai pusat tertinggi sistem kelenjar endokrin yang
menjalankan fungsinya melalui humoral (hormonal) dan saraf. Hormon yang dihasilkan
hipotalamus sering disebut faktor R dan I mengontrol sintesa dan sekresi hormone hipofise
anterior sedangkan control terhadap hipofise posterior berlansung melalui kerja saraf. Pembuluh
darah kecil yang membawa secret hipotalamus ke hipofise disebut portal hipotalamik hipofise.4
Hipofise terletak di sella tursika, lekukan os spenoidalis basis crania. Berbentuk oval dengan
diameter kira-kira 1cm dan dibagi atas dua lobus, lobus anterior, merupakan bagian terbesar dari
hipofise kira-kira 2/3 bagian dari hipofisis. Lobus anterior juga disebut adenohipofise. Lobus
posterior merupakan 1/3 bagian dari hipofise dan terdiri dari jaringan saraf sehingga disebut juga
neurohipofise. Hipofise stalk adalah struktur yang menghubungkan lobus posterior hipofise
dengan hipotalamus. Struktur ini merupakan jaringan saraf.4
Lobus intermediate (pars intermediate) adalah area diantara lobus anterior dan posterior,
fungsinya belum diketahui secara pasti, namun beberapa referensi yang ada mengatakan lobus

ini mumgkin menghasilkan melanosit stimulating hormone (MSH). Secara histologi, sel-sel
kelenjar hipofise dikelompokan berdasarkan jenis hormone yang disekresi yaitu :
1. Sel-sel somatotrof bentuknya besar, mengandung granula sekretori, berdiameter 350-500
nm dan terletak di sayap lateral hipofise. Sel-sel inilah yang menghasilkan hormone
somatotropin atau hormone pertumbuhan
2. Sel-sel lactotroph juga mengandung granula sekretori, dengan diameter 27-350 nm,
menghasilkan prolaktin atau laktogen
3. Sel-sel tirotroph berbentuk polyhedral, mengandung granula sekretori dengan diameter
50-100nm, menghasilkan TSH
4. Sel-sel gonadotrof diameter sel kira-kira 275-375 nm, mengandung granula sekretori,
menghasilkan FSH dan LH
5. Sel-sel kortikotrof diameter sel kira-kira 375-550 nm, merupakan granula terbesar,
menghasilkan ACTH
6. Sel nonsekretori terdiri atas sel kromofob. Lebih kurang 25% sel kelenjar hipofase tidak
dapat diwarnai dengan pewarna yang lazim digunakan dank arena itu disebut sel-sel
kromofob. Pewarnaan yang sering dipakai adalah carmosin dan erytrosin. Sel foli-kular
adalah sel yang berfolikel.4
Pengeluaran hormon-hormon dari hipofisis posterior dan anterior secara lansung dikontrol oleh
hipotalamus, tetapi sifat hubungan keduanya sama sekali berbeda. Hipofisis posterior
berhubungan dengan hipotalamus dan melalui suatu jalur saraf, sementara hipofisis anterior
berhubungan dengan hipotalamus melalui pembuluh darah yang bersifat unik.2
Hipotalamus dan hipofisis posterior membentuk suatu sistem neuroendokrin yang terdiri dari
suatu populasi neuron neurosekretorik yang badan selnya terletak di dua kelompok di
hipotalamus (nukleus supraoptikus dan nukleus paraventrikel). Akson dari neuron-neuron ini
turun melalui tangkai penghubung tipis untuk berakhir di kapiler di hipofisis posterior.2
Hipofisis posterior sebenarnya tidak menghasilkan hormone apapun. Bagian ini hanya
menyimpan dan, setelah mendapat ranjangan yang sesuai, mengeluarkan dua hormone peptide
kecil, vasopressin dan oksitosin, yang disintesis oleh badan sel neuron di hipotalamus, ke dalam
darah. Kedua peptide hidrofilik ini dibuat di nukleus supraoptikus dan paraventrikel, tetapi satu
neuron hanya dapat menghasilkan salah satu dari kedua hormone ini. Hormone yang disintesis
dikemas dalam granula sekretorik yang diangkut melalui sitoplasma akson, dan disimpan di
6

terminal neuron di hipofisis posterior. Setiap ujung saraf ini menyimpan vasopressin atau
oksitosin, tidak keduanya. Karena itu, hormon-hormon ini dapat dikeluarkan secara independen
sesuai kebutuhan.2
Vasopresin (Hormon antidiuretik, ADH) memiliki dua efek utama yang sesuai dengan namanya
yaitu meningkatkan retensi H2O oleh ginjal (efek antidiuretik), dan menyebabkan kontraksi otot
polos arteriol (suatu efek presor pembuluh). Efek pertama memiliki peran fisiologik lebih
penting. Pada kondisi normal, vasopressin adalah faktor endokrin utama yang mengatur
pengeluaran H2O dalam urin dan keseimbangan H2O secara keseluruhan. Sebaliknya,
vasopressin dalam kardar biasa hanya berperan minimal dalam mengatur tekanan darah melalui
efek presornya.2
Kontrol utama pelepasan vasopressin dari hipofisis posterior adalah masukan dari osmoreseptor
hipotalamus, yang meningkatkan sekresi vasopressin sebagai respon terhadap peningkatan
osmolaritas plasma. Masukan yang lebih lemah dari reseptor volume atrium kiri meningkatkan
sekresi vasopressin sebagai respons terhadap penurunan volume CES dan tekanan darah arteri
Oksitosin merangsang kontraksi otot polos uterus untuk membantu menbgeluarkan janin selama
persalinan, dan hormone ini juga meransang penyemprotan (ejeksi) susu dari kelenjar mamaria
(payudara) selama menyusui. Sekresi oksitosin ditingkatkan oleh reflex-refleks yang berasal dari
jalan lahir selama persalinan2
Metabolisme Lemak
Transport lemak di aliran darah dalam bentuk khilomikron, asam lemak bebas, dan lipoprotein.
1. Kilomikron terbentuk dalam mukosa usus dari asam lemak dan gliserol, diabsorpsi dalam
lacteal, dan masuk ke sirkulasi darah. Kilomikron terdiri dari 90% trigliserida ditambah
kolestrol, fosfolipid, dan selubung tipis protein. Dalam waktu empat jam setelah makan
(tahap post absorbtif). Sebagian besar kilomikron dikeluarkan dari darah oleh jaringan
adipose dan hati.
a. Enzim lipoprotein lipase, yang ditemukan dalam hati dan kapiler jaringan adipose,
mengurai trigliserida dalam kilomikron untuk melepaskan asam lemak dan gliserol.
Asam lemak dan gliserol berikatan menjadi trigliserida (lemak netral) untuk disimpan
dalam jaringan adipose. Sisa kilomikron yang kaya kolestrol dimetabolis oleh hati
7

b. Simpanan lemak akan ditarik dari jaringan adipose jika diperlukan untuk energy.
Enzim lipase sensitive-hormon mengurai trigliserida kembali menjadi asam lemak
dan gliserol.
c. Jumlah simpanan lemak bergantung pada total asupan makanan. Jaringan adipose dan
hati dapat menyintesis lemak dari asupan lemak, karbohidrat, atau protein yang
berlebihan.
2. Asam lemak bebas adalah asam lemak yang terikat pada albumin, salah satu protein
plasma. Bentuk bebas ini adalah bentuk asam lemak yang ditranspor dari sel-sel jaringan
adipose untuk dipakai jaringan lain sebagai energy
3. Lipoprotein adalah partikel kecil yang komposisinya serupa kilomikron. Lipoprotein
terutama disintesis di hati. Lipoprotein dipakai untuk transport lemak antar jaringan dan
bersikulasi dalam darah pada tahap postabsorbtif setelah kilomikron dikeluarkan dar
darah. Lipoprotein terbagi menjadi tiga kelas sesuai dengan densitasnya
a. VLDL (Very low density lipoprotein) mengandung kurang lebih 60% trigliserida dan
15% kolestrol dan memiliki massa terkecil. VLDL mentranspor trigliserida dan
kolestrol menjauhi hati menuju jaringan untuk disimpan atau digunakan
b. LDL (low density lipoprotein) mengandung hampir 50% kolestrol dan membawa
60% sampai 70% kolestrol plasma yang disimpan dalam jaringan adipose dan otot
polos. Konsentrasinya bergantung pada banyak faktor, tetapi terutama pada faktor
asupan makanan yang mengandung kolestrol dan lemak jenuh. Konsentrasi LDL
tinggi dalam darah dihubungkan dengan insidensi tinggi penyakit jantung koroner.
c. HDL (high density lipoprotein) mengandung 20% kolestrol, kurang dari 5%
trigliserida, dan 50% protein dari berat molekulnya. HDL penting dalam pembersihan
trigliserida dan kolestrol dari plasma karena HDL membawa kolestrol kembali ke hati
untuk di proses metabolisme bukan untuk disimpan dalam jaringan lain. Konsentrasi
HDL tinggi dalam darah dihubungkan dengan insidensi rendah penyakit jantung
koroner.5
Katabolisme Lemak
1. Gliserol memasuki sel dan diubah oleh enzim menjadi gliseraldehid-3-3fosfat yang
masuk dalam jalur glikolisis. Gliserol kemudian dapat terlibat dalam siklus asam sitrat
atau dapat dipakai dalam sintesis ulang glukosa

2. Asam lemak memasuki sel dan ditranspor menuju mitokondria oleh protein carrier.
Dalam matriks mitokondria, asam lemak diubah melalui proses oksidasi beta menjadi
asetil KoA yang kemudian akan di metabolis melalui siklus asam sitrat.
a. Asam lemak teroksidasi dalam rangkaian reaksi siklik. Proses ini disebut proses
oksidasi beta karena sebuah atom oksigen di tambahkan dalam karbon-beta pada
rantai, yaitu pada atom karbon kedua dari ujung gugus karboksil.
b. Energy yang didapat dari penguraian lemak sangat tinggi, dengan perolehan bersih
sekitar 135 sampai 145 molekul ATP dari molekul asam lemak berantai panjang yang
biasa.
3. Badan keton, molekul asetil dapat berkondensasi untuk membentuk asam asetoasetat
yang diubah menjadi asam hidroksibutirat-beta dan aseton. Molekul-molekul ini disebut
badan-badan keton
a. Badan keton adalah produk normal oksidasi asam lemak. Kadar badan keton dalam
darah biasanya rendah karena sebagian besar jaringan, kecuali hati, dapat
memetabolisnya kembali menjadi asetil KoA secepat terbentuknya
b. Jika laju katabolisme tinggi dan banyak asetil KoA yang terbentuk maka hati akan
memproduksi dan melepas lebih banyak keton dibandingkan yang dapat diterima
jaringan. Keton yang berlebihan berakumulasi dalam aliran darah (ketosis). Pada
kondisi ketosis yang parah, asidosis dan pH lebih rendah yang terbentuk akan
menyebabkan koma dan kematian
c. Ada tiga alasan utama untuk penurunan persediaan glukosa dan laju oksidasi asam
lemak dan produksi keton yang berlebihan
(1) Kelaparan mengakibatkan oksidasi-beta asam lemak berlebihan karena kurangnya
glukosa untuk energy
(2) Diet rendah karbohidrat, tinggi lemak meningkatkan kadar keton dalam darah
karena tidak ada jalur biokimia untuk mengubah lemak menjadi karbohidrat dan
asam lemak menjadi sumber energy utama.
(3) Dalam diabetes mellitus tidak terkontrol, kekurangan insulin yang merangsang
pemasukan dan penyimpanan glukosa dalam sel tubuh, mengakibatkan oksidasi
asam lemak berlebihan sebagai pengganti glikolisis5
Anabolisme lemak
1. Asam lemak esensial, walaupun banyak sel jaringan yang dapat menyintesis sebagian
besar asam lemak dari asetil KoA dan hati dapat mengubah satu jenis asam lemak
9

menjadi jenis lain, ada tiga asam lemak tak jenuh (asam linolenat, linoleat, dan asam
arakidonat) yang tidak bisa disintesis dan diubah. Jenis asam lemak ini harus didapat dari
makanan dan disebut sebagai asam lemak esensial
2. Jika karbohidrat dalam makanan lebih banyak daripada yang dapat disimpan sebagai
glikogen atau digunakan untuk energy, atau lebih banyak protein dalam makanan
dibanding yang dibutuhkan tubuh. Maka trigliserida disintesis dari glukosa dan asam
amino yang berlebih (lipogenesis). Dengan demikian, sebagiann besar lemak dalam tubuh
tidak berasa dari lemak dalam makanan.5
Pengaturan Metabolisme Lemak
1. Hormone mengendalikan keseimbangan antara penguraian dan penyimpanan lemak.
a. Insulin adalah faktor pengendali terpenting
(1) Insulin meningkatkan aliran glukosa ke dalam sel sehingga glukosa dapat dipakai
sebagai energy
(2) Insulin juga mencegah penguraian lemak dalam sel-sel adipose melalui
penghambatan enzom lipase sensitive hormone yang mengkatalisis proses
hidrolisis trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol
(3) Sekresi insulin dan glucagon diatur oleh kadar glukosa darah. Dengan demikian,
glukosa juga berperan sebagai salah satu regulator metabolisme lemak.
b. Epinefrin, glucagon, dan hormone pertumbuhan, ACTH, dan tiroksin, merangsang
penguraian dan pelepasan asam lemak dari simpanan trigliserida dalam jaringan
adipose
2. Kendali saraf pada metabolisme lemak berlansung melalui stimulasi parasimpatis yang
meningkatkan simpanan lemak, dan melalui stimulasi simpatis yang mempercepat
penguraian asam lemak dari simpanan lemak.5
Karbohidrat merupakan salah satu dari tiga bahan makanan pokok manusia disamping l
emak dan protein. Dalam makanan, karbohidrat terdapat sebagai polisakarida yang dibuat dalam
tumbuhan dengan cara fotosintesis. Disamping dalam tumbuhan, dalam tubuh hewan dan
manusia juga terdapat karbohidrat yang merupakan sumber energi yaitu glikogen.
Hidrolisis karbohidrat dalam pencernaan makanan berlangsung dalam mulut, lambung maupun
usus. Hasil dari proses ini adalah glukosa, fruktosa, galaktosa, manosa dan monosakarida lainnya
dimana senyawa-senyawa tersebut akan diabsorpsi melalui dinding usus dan dibawa ke hati oleh
10

darah.
Dalam sel-sel tubuh, karbohidrat mengalami berbagai proses kimia yang memiliki peranan
penting. Reaksi-reaksi tersebut tidak dapat berdiri sendiri tetapi saling berhubungan dan saling
mempengaruhi. Sebagai contoh, apabila banyak glukosa yang teroksidasi untuk memproduksi
energi maka glikogen dalam hati akan terhidrolisis untuk membentuk glukosa. Dalam hubungan
antar-reaksi ini enzim mempunyai peranan sebagai pengatur. Proses kimia yang terjadi dalam sel
ini disebut metabolisme.
Proses-proses metabolisme karbohidrat adalah sebagai berikut :
1.

Glikolisis

2.

Oksidasi Piruvat

3.

Siklus asam sitrat

4.

Glikogenesis

5.

Glikogenolisis

6.

Glukoneogenesis

7.

HMP Shunt

Glikolisis Embden Meyerhof


Pada glikolisis, terdapat dua jalur yaitu aerob (yang menggunakan oksigen) dan anaerob
(tidak menggunakan oksigen). Reaksi anaerob adalah reaksi yang mengubah glukosa menjadi
asam laktat dan yang akan menghasilkan 2 ATP/mol glukosa, sedangkan pada reaksi aerob
terjadi perubahan glukosan menjadi piruvat di dalam sitosol yang akan menghasilkan 8 ATP/mol
glukosa.
Glikolisis aerob dapat dibagi ke dalam beberapa tahap, yaitu :
11

1. Pengubahan glukosa menjadi glukosa-6-fosfat dengan reaksi fosforilasi dengan katalis enzim
heksokinase atau glukokinase. Heksokinase terdapat pada semua sel yang akan bertugas
mengkatalisis heksosa lainnya (glukosa, fruktosa, galaktosa) selain itu fungsi utamanya adalah
menyediakan glukosa untuk jaringan, sedangkan glukokinase terdapat pada hepar yang memiliki
afinitas terhadap glukosa yang kecil dan memiliki fungsi untuk menyingkirkan glukosa dari
darah setelah makan. Kemudian proses perubahan ini dibantu oleh ion Mg 2+ sebagai kofaktor
pada sel parenkim hati dan sel Pulau Langerhans pankreas. ATP sebagai donor fosfat dan
bereaksi sebagai kompleks Mg-ATP. Satu fosfat berenergi tinggi digunakan, sehingga hasilnya
adalah ADP. Glukosa 6-P yag dihasilkan tidak hanya penting untuk glikolisis namun juga
penting untuk proses glukoneogenesis, HMP shunt, glikogenesis, glikogenolisis.
Heksokinase (glukokinase) Mg++
glukosa+ATP -------------------------------------------> glukosa 6-P+ADP.
2. Tahap kedua adalah reaksi isomerisasi yaitu pengubahan glukosa-6-fosfat dengan bantuan
enzim fosfoglukoisomerase dan tidak memerlukan kofaktor.
isomerase
Glukosa 6-P ---------------> fruktosa 6-P
3. Fruktosa-6-fosfat diubah menjadi fruktosa-1,6-difosfat oleh enzim fosfofruktokinase dibantu
oleh ion Mg2+ sebagai kofaktor. Dalam reaksi ini gugus fosfat dipindahkan dari ATP ke fruktosa6-fosfat dan ATP berubah menjadi ADP. Fosfofruktokinase merupakan enzim kunci yang peran
penting dalam pengaturan kecepatan glikolisis.
Fosfofruktokinase
ATP+Mg2+
Fruktosa 6-P ------------------------------------------->fruktosa 1,6 bisfosfat+ADP
4. Penguraian fruktosa-1,6-difosfat membentuk dua molekul triosa fosfat yaitu dihidroksi aseton
fosfat dan D-gliseraldehida-3-fosfat dengan bantuan enzim aldolase sebagai katalis.
Aldolase
12

Fruktosa 1,6 bisfosfat ---------------------------------> gliseraldehid 3-P +DHAP


5. Gliseraldehid 3-fosfat dapat berubah menjadi dihidroksi aseton fosfat dan sebaliknya (reaksi
interkonversi) dengan bantuan enzim triosafosfat isomerase.
Gliseraldehid-3P <----------> DHAP
6. Reaksi oksidasi gliseraldehida-3-fosfat menjadi asam 1,3-difosfogliserat dengan bantuan
enzim gliseraldehida-3-fosfat dehidrogenase. Dalam reaksi ini digunakan koenzim NAD +,
sedangkan gugus fosfat diperoleh dari asam fosfat. Dihidroksi aseton fosfat bisa diubah menjadi
gliseraldehid 3-fosfat maka juga dioksidasi menjadi 1,3-bifosfogliserat.
Gliseraldehid-3P dehidrogenase
NAD+ + Pi
Gliseraldehid-3P----------------------------------------> 1,3 bisfosfogliserat+ NADH + H+
Enzim gliseraldehida-3-difosfat dehidrogenase adalah suatu tetramer yang terdiri atas empat
subunit yang masing-masing mengikat satu molekul NAD+. Atom-atom hidrogen yang
dikeluarkan dari proses oksidasi ini dipindahkan ke NAD + yang terikat pada enzim. Pada rantai
respirasi mitokondria akan dihasilkan tiga fosfat berenergi tinggi (3 ATP)
Karena fruktosa 1,6-bifosfat memiliki 6 atom C dipecah menjadi gliseraldehid 3-fosfat dan
dihidroksi aseton fosfat yang masing-masing memiliki 3 atom C, sehingga terbentuk dua
molekul gula yang masing-masing beratom C tiga (triosa). Jika molekul dihidroksiaseton fosfat
juga berubah menjadi 1,3-bifosfogliserat, maka dari satu molekul glukosa pada bagian awal,
sampai dengan tahap ini akan menghasilkan 6 ATP.
7. Tahap ketujuh, reaksi pengubahan asam 1,3-bisfosfogliserat menjadi asam 3-fosfogliserat
dengan bantuan enzim fosfogliseril kinase sebagai katalisnya. Senyawa sisa yang dihasilkan
adalah 3-fosfogliserat.
Fosfogliserat kinase + Mg2+
1,3 bisfosfogliserat + ADP------------------------------------------>3 fosfogliserat + ATP

13

Dalam reaksi ini terbentuk satu molekul ATP dan ADP dan ion Mg ++ sebagai kofaktor. ADP
adalah senyawa fosfat berenergi tinggi maka reaksi ini mempunyai fungsi untuk menyimpan
energi yang dihasilkan oleh proses glikolisis dalam bentuk ATP. Karena ada dua molekul 1,3bifosfogliserat, maka energi yang dihasilkan adalah 2 ATP.
8. Fosfogliseril mutase bekerja sebagai katalis pada reaksi pengubahan asam 3-fosfogliserat
menjadi asam 2-fosfogliserat. Enzim ini berfungsi memindahkan gugus fosfat dari satu atom C
ke atom C lain dalam satu molekul.
Fosfogliseril mutase
3-fosfogliserat ------------------------------------->2-fosfogliserat
9. Reaksi pembentukan asam fosfoenol-piruvat dari asam 2-fosfogliserat dengan katalis enzim
enolase dan ion Mg++ sebagai kofaktor. Reaksi pembentukan asam fosfoenol piruvat ini ialah
reaksi dehidrasi. Adanya ion F- (flourida) dapat menghambat kerja enzim enolase sebab ion Fdengan ion Mg++ dan fosfat dapat membentuk kompleks magnesium fluoro fosfat yang
menyebabkan berkurangnya jumlah ion Mg++ dalam campuran reaksi, akibatnya efektivitas
reaksi berkurang.
Enolase + Mg2+
2-fosfogliserat -------------------------------------> PEP
10. Reaksi pemindahan gugus fosfat dari asam fosfoenol piruvat ke ADP dengan piruvat kinase
sehingga terbentuk molekul ATP dan molekul asam piruvat. Reaksi ini memerlukan Mg ++ dan K+
sebagai aktivator.
Piruvat kinase + ADP
Mg2+ + K+
PEP--------------------------------------> (enol) piruvat + ATP
Karena ada 2 molekul PEP maka terbentuk 2 molekul enol piruvat sehingga total hasil energi
pada tahap ini adalah 2 ATP.

14

11. Tahap terakhir adalah tahap dimana enol piruvat akan dirubah menjadi keto piruvat lebih
lanjut akan dioksidasi melalui siklus asam sitrat.
Spontan
(Enol) piruvat -------------------------------->(keto)piruvat
Glikolisis dalam eritrosit sekalipun dalam keadaan aerobik akan menghasilkan asam laktat,
karena enzim-enzim yang dapat mengoksidasi asam piruvat secara aerobik tidak ada dalam sel
darah merah. Dalam eritrosit manusia

tahapan yang dikatalisis fosfogliserat kinase di "by

passed" dengan adanya enzim bisfosfogliserat mutase dan enzim 2,3-bisfosfogliserat fosfatase.
Akibat adanya dua enzim ini ATP tidak terbentuk dan ini memungkinkan glikolisis berlangsung
apabila kebutuhan ATP minimum. 2,3-bisfosfogliserat bergabung dengan hemoglobin sehingga
menyebabkan affinitas hemoglobin terhadap oksigen menurun. Kurve dissosi- asi oksigen
hemoglobin bergerak ke kanan. Dengan demikian adanya 2,3-bisfosfogliserat dalam sel darah
merah membantu pelepasan oksigen untuk keperluan jaringan.
Bisfosfogliserat mutase
1,3 bisfosfogliserat --------------------------------> 2,3 bisfosfogliserat
2,3 bisfosfogliserat fosfatase
3 fosfogliserat
Oksidasi piruvat menjadi asetil koA
Asam piruvat dapat masuk ke dalam mitokondria dengan bantuan transporter. Asam piruvat
mengalami oksodasi-dekarboksilasi oleh suatu enzim yang tersusun rapi dalam matriks
mitokondria. Enzim-enzim ini disebut piruvat dehidrogenase kompleks.
Mula-mula asam piruvat mengalami dekarboksilasi. Reaksi ini dikatalisis enzim piruvat
dehidrogenase. Tiamin pirofosfat bertindak sebagai ko-enzim. Dalam reaksi ini terbentuk CO2
dan -hidroksietil-tiaminpirofosfat atau disebut juga "aktif asetaldehid". Senyawa yang disebut
be- lakangan ini dipindah ke prostetik lipoamide, yang merupakan bagian dari enzim
transasetilase. Dalam perpindahan ini disulfida dari lipoamide tereduksi, asetildehida teroksidasi
15

menjadi asetil aktif yang terikat sebagai tioester. Gugusan asetil ini kemudian bereaksi dengan
koenzim-A,

membentuk

asetil-S-KoA,

dan

menghasilkan

lipoamide

dalam

bentuk

disulfhidril(tereduksi). Koenzim yang tereduksi ini dioksidasi kembali oleh suatu flavoprotein,
dihidrolipoil dehidrogenase. Flavoprotein yang tereduksi kemudian dioksidasi oleh NAD+.
Reaksi :
CH3COCOOH + HSCoA + NAD+

CH3CO-SCoA + NADH + H+

Piruvat dehidrogenase dihambat oleh hasil reaksinya yaitu NADH dan asetilKoA. Enzim ini juga
dihambat oleh aktivitas oksidasi asam lemak, yang mana akan meningkatkan rasio Asetil koA ,
NADH / NAD+ dan ATP / ADP. Peningkatan rasio diatas akan mengaktivasi piruvat
dehidrogenase (PDH) kinase yang akan mengkatalisis fosforilasi enzim PDH a menjadi PDH b
yang tidak aktif. PDH fosfatase akan menghidrolisis PDH b menjadi PDH a yang aktif. PDH
fosfatase diaktivasi oleh insulin.
Siklus asam sitrat
Disebut juga sebagai siklus Krebs atau siklus asam trikarboksilat dan berlangsung di dalam
mitokondria. Siklus asam sitrat merupakan jalur akhir bersama oksidasi karbohidrat, lipid dan
protein. Siklus asam sitrat merupakan rangkaian reaksi katabolisme asetil KoA yang
menghasilkan energi dalam bentuk ATP.
Selama proses oksidasi asetil KoA, terbentuk ekuivalen pereduksi berbentuk hidrogen atau
elektron. Unsur ekuivalen pereduksi ini kemudian memasuki rantai respirasi (proses fosforilasi
oksidatif) menghasilkan ATP.
Pada siklus asam sitrat, dapat diuraikan reaksi-reaksi yang terjadi di dalamnya, yaitu :
1.

Kondensasi asetil KoA dengan oksaloasetat membentuk sitrat, dikatalisir sitrat

sintase.
Sitrat sintase
Asetil koA + oksaloasetat ---------------------------------------------> sitrat

16

2. Sitrat dikonversi menjadi isositrat oleh enzim akonitase (akonitat hidratase) yang mengandung
besi Fe2+. Proses ini dihambat oleh flouroasetat yang akan menghasilkan flouroasetil koA dan
berkondensasi dengan oksaloasetat yang akan membentuk flurositrat dan menghambat akonitase.
Akonitase
Sitrat --------------------------------------> isositrat
3. isositrat akan mengalami dehidrogenase menjadi -ketoglutarat dengan bantuan isositrat
dehidrogenase yang bergantung pada NAD+. Proses ini akan menghasilkan 3 ATP.
Isositrat DH
Isositrat + NAD +------------------------------------> -ketoglutarat + CO2+ NADH + H+
4. -ketoglutarat mengalami dekarboksilasi oksidatif menjadi suksinil KoA dengan bantuan
kompleks -ketoglutarat dehidrogenase, dengan kofaktor misalnya TDP, lipoat, NAD +, FAD
serta KoA. Reaksi ini dapat menghasilkan 3 ATP melalui rantai pernapasan namun dihambat oleh
arsenat.
-ketoglutarat DH
-ketoglutarat + NAD++ KoASH-----------> suksinil koA+ CO2+ NADH+H+
5. Suksinil KoA berubah menjadi suksinat dengan bantuan suksinat tiokinase (suksinil KoA
sintetase). Pada perubahan ini akan dihasilkan GTP (1 ATP) melalui substrat bukan dari rantai
pernapasan.
Suksinat tiokinase
Suksinil koA +GDP+ Pi--------------------------------> suksinat + GTP+koASH
6. Suksinat mengalami dehidrogenasi menjadi fumarat dengan peran suksinat dehidrogenase
yang mengandung FAD. Perubahan dari suksinar menjadi fumarat dapat menghasilkan 2 ATP
melalui rantai pernapasan namun enzim suksinat dehidrogenase dapat dihambat secara
kompetitif oleh malonat.

17

Suksinat DH
Suksinat + FAD -----------------------------> fumarat +FADH2
7. Fumarat mendapatkan penambahan air menjadi malat dengan bantuan enzim fumarase
(fumarat hidratase).
Fumarase
Fumarat +H2O ----------------------------------> malat
8. Malat mengalami hidrogensi menjadi oksaloasetat dengan katalisator malat dehidrogenase,
suatu reaksi yang memerlukan NAD+ dan akan menghasilkan 3 ATP.
Malat DH
Malat + NAD+----------------------------------> oksaloasetat +NADH+ H+

HMP shunt
Jalur ini aktif dalam hepar, jaringan adiposa (lemak), adrenal korteks, glandula tiroid, sel darah
merah,testis dan payudara yang sedang menyusui. Dalam otot aktivitas jalur ini rendah sekali.
Fungsi utama jalur ini adalah untuk menghasilkan NADPH, yaitu dengan mereduksi NADP+.
NADPH diperlukan untuk proses anabolik di luar mitokhondria, seperti sintesis asam lemak dan
steroid. Fungsi yang lain adalah menghasilkan ribosa-5-fosfat untuk sintesis nukleotida dan asam
nukleat.
HMP Shunt dalam eritrosit, hepar dan paru berguna sebagai penghasil suatu reduktor (NADPH).
NADPH dapat mereduksi glutation yang telah mengalami oksidasi ( G-S-S-G ) menjadi glutation
yang tereduksi (2 G-SH). Enzim yang mengkatalisis reaksi ini adalah glu- tation reduktase.
Selanjutnya glutation yang tereduksi dapat membebaskan eritrosit dari H2O2 dengan suatu
reaksi yang dikatalisis oleh enzim glutation peroksidase.
2G-SH + H2O2 G-S-S-G + 2H2O
Reaksi ini penting sebab penimbunan H2O2 memperpendek umur eritrosit. Telah dibuktikan
18

adanya korelasi terbalik antara aktivitas enzim glukosa 6-fosfat dehidrogenase dengan fragilitas
sel darah merah.
HMP Shunt akan menghasilkan suatu pentosa untuk sintesis nukleotida dan asam nukleat. Ribosa
5-fosfat akan bereaksi dengan ATP menjadi 5-fosforibosil-1-pirofosfat (PRPP).
Dalam otot enzim glukosa 6-fosfat dehidrogenase dan 6-fosfoglukonat dehidrogenase hanya
sedikit sekali, namun otot dapat membuat ribosa 5-fosfat, yaitu dengan kebalikan HMP Shunt.
Glikogenesis
Proses di metabolisme kahrbohidrat yang terdiri dari glikolisis, oksidasi piruvat dan siklus asam
sitrat terjadi jika kita membutuhkan energi, misalnya untuk berpikir, mencerna makanan, bekerja
dan sebagainya. Jika jumlah glukosa melampaui kebutuhan, maka dirangkai menjadi glikogen
untuk cadangan makanan melalui proses glikogenesis.
Glikogen merupakan simpanan karbohidrat dalam tubuh dan analog dengan amilum pada
tumbuhan. Glikogen terdapat didalam hati (sampai 6%) dan otot jarang melampaui jumlah 1%.
Tetapi karena massa otot jauh lebih besar daripada hati, maka besarnya simpanan glikogen di
otot bisa mencapai tiga sampai empat kali lebih banyak. Glikogen otot adalah sumber heksosa
untuk proses glikolisis di dalam otot itu sendiri. Sedangkan glikogen hati adalah simpanan
sumber heksosa untuk dikirim keluar guna mempertahankan kadar glukosa darah, khususnya di
antara waktu makan. Setelah 12-18 jam puasa, hampir semua simpanan glikogen hati terkuras.
Tetapi glikogen otot hanya terkuras setelah seseorang melakukan olahraga yang berat dan lama.
Rangkaian proses terjadinya glikogenesis, yaitu :
1. Glukosa mengalami fosforilasi menjadi glukosa 6-fosfat (reaksi yang lazim terjadi juga pada
lintasan glikolisis). Di otot reaksi ini dikatalisir oleh heksokinase sedangkan di hati oleh
glukokinase.
Heksokinase /glukokinase + Mg++
glukosa+ATP -------------------------------------------> glukosa 6-P+ADP

19

2. Glukosa 6-fosfat diubah menjadi glukosa 1-fosfat dalam reaksi dengan bantuan katalisator
enzim fosfoglukomutase. Enzim itu sendiri akan mengalami fosforilasi dan gugus fosfo akan
mengambil bagian di dalam reaksi reversible yang intermediatnya adalah glukosa 1,6-bifosfat.
Fosfoglukomutase
Glukosa-6P---------------------------------->glukosa 1 P
3. Selanjutnya glukosa 1-fosfat bereaksi dengan uridin trifosfat (UTP) untuk membentuk uridin
difosfat glukosa (UDPGlc). Reaksi ini dikatalisir oleh enzim UDPGlc pirofosforilase.
UDP-glukosa pirofosforilase
UTP + glukosa 1-P----------------------------------------> UDP glukosa + Pi

4. Hidrolisis pirofosfat inorganic berikutnya oleh enzim pirofosfatase inorganik akan menarik
reaksi kearah kanan persamaan reaksi
5. Atom C1 pada glukosa yang diaktifkan oleh UDPGlc/ UDPglu membentuk ikatan glikosidik
dengan atom C4 pada residu glukosa terminal glikogen, sehingga membebaskan uridin difosfat.
Reaksi ini dikatalisir oleh enzim glikogen sintase. Molekul glikogen yang sudah ada sebelumnya
(disebut glikogen primer) harus ada untuk memulai reaksi ini. Glikogen primer selanjutnya dapat
terbentuk pada primer protein yang dikenal sebagai glikogenin. Pada proses ini, glikogen sintase
berperan sebagai enzim pengatur.
Glikogen sintase
UDP glukosa+ glikogen primer ------------------------------------> glikosidik 1,4 +UDP
6. Setelah rantai dari glikogen primer diperpanjang dengan penambahan glukosa tersebut hingga
mencapai minimal 11 residu glukosa, maka enzim pembentuk cabang memindahkan bagian dari
glikosidik 1,4 pada rantai yang berdekatan untuk membentuk glikosidik 1,6 sehingga membuat
titik cabang pada molekul tersebut. Cabang-cabang ini akan tumbuh dengan penambahan lebih
lanjut Setelah jumlah residu terminal yang non reduktif bertambah, jumlah total tapak reaktif
dalam molekul akan meningkat sehingga akan mempercepat glikogenesis maupun glikogenolisis.
Penambahan percabangan ini dibantu oleh enzim percabangan ( branching enzyme).
20

Branching enzyme
Glikosidik 1,4 ------------------------> glikogen (unit glikosidik 1,4 dan glikosidik 1,6)
Glikogenolisis
Jika glukosa dari diet tidak dapat mencukupi kebutuhan, maka glikogen harus dipecah untuk
mendapatkan glukosa sebagai sumber energi. Proses ini dinamakan glikogenolisis.
Glikogenolisis seakan-akan kebalikan dari glikogenesis, akan tetapi sebenarnya tidak demikian.
Untuk memutuskan ikatan glukosa satu demi satu dari glikogen diperlukan enzim fosforilase.
Enzim ini spesifik untuk proses fosforolisis rangkaian 1,4 glikogen (glikosidik 1,4) untuk
menghasilkan glukosa 1-fosfat. Residu glukosil terminal pada rantai paling luar molekul
glikogen dibuang secara berurutan sampai kurang lebih ada 4 buah residu glukosa yang tersisa
pada tiap sisi cabang glikosidik 1,6.
Glukan transferase dibutuhkan sebagai katalisator pemindahan unit trisakarida dari satu cabang
ke cabang lainnya sehingga membuat titik cabang glikosidik 1,6 terpajan. Hidrolisis glikosidik
1,6 memerlukan kerja enzim enzim pemutus cabang (debranching enzyme) yang spesifik.
Dengan pemutusan cabang tersebut, dihasilkanlah glukosa bebas yang akan meniadakan
percabangan.
Glukoneogenesis
Glukoneogenesis terjadi jika sumber energi dari karbohidrat tidak tersedia lagi. Maka tubuh akan
menggunakan lemak sebagai sumber energi. Jika lemak juga tak tersedia, barulah memecah
protein untuk energi yang sesungguhnya protein berperan pokok sebagai pembangun tubuh.
Jadi bisa disimpulkan bahwa glukoneogenesis adalah proses pembentukan glukosa dari senyawasenyawa non karbohidrat, bisa dari lipid maupun protein. Glukoneogensis terjadi di hati dan
ginjal pada saat tubuh dalam keadaan kekurangan sebagai contohnya adalah saat keadaan letih
dan puasa.
Jalur yang dipakai dalam glukoneogenesis adalah modifikasi dan adaptasi dari jalur EmbdenMeyerhof dan siklus asam sitrat. Enzim tambahan yang diperlukan dalam proses ini selain dari
enzim-enzim dalam kedua jalur diatas adalah :Piruvat karboksilase, Fosfoenolpiruvat
21

karboksikinase, Fruktosa 1,6-bisfosfatase (tidak ada dalam otot jantung dan otot polos) ,Glukosa
6-fosfatase. Dalam keadaan puasa, enzim piruvat karboksilase dan enzim fosfoenolpiruvat
karboksikinase sintesisnya meningkat. Sintesis enzim ini juga dipengaruhi oleh hormon
glukokortikoid. Dalam keadaan puasa, oksidasi asam lemak dalam hepar meningkat. Ini
membawa akibat yang menguntungkan untukglukoneogenesis karena akan menghasilkan ATP,
NADH dan oksaloasetat.
Asam lemak dan asetil-KoA akan menghambat enzim-enzim fosfofruktokinase, piruvat kinase
dan piruvat dehidrogenase, mengaktifkan enzim-enzim piruvat karboksilase dan fruktosa 1,6bisfosfatase.
Substrat untuk glukoneogenesis adalah : asam laktat yang berasal dari otot, sel darah merah,
medulla dari glandula supra-renalis, retina dan sumsum tulang; gliserol, yang berasal dari
jaringan lemak; asam propionat, yang dihasilkan dalam proses pencernaan pada hewan
memamah biak; asam amino glikogenik.
Asam laktat di dalam sitoplasma diubah menjadi asam piruvat, kemudian asam piruvat masuk ke
dalam mitokhondria dan diubah menjadi oksaloasetat. Karena oksaloasetat tidak dapat melewati
membran mitokhondria, maka diubah dulu menjadi malat. Di sitoplasma malat diubah kembali
menjadi oksaloasetat. Oksaloasetat kemudian diubah menjadi fosfoenol- piruvat yang
selanjutnya berjalan ke arah kebalikan jalur Embden-Meyerhof dan akhirnya akan menjadi
glukosa.
Beberapa reaksi dan enzim-enzim tambahan untuk mengubah asam laktat menjadi glukosa
(selain jalur kebalikan glikolisis dan TCA cycle) adalah :
1. Enzim piruvat karboksilase mengkatalisis reaksi
Piruvat Oksaloasetat (gambar 15-16)
Dalam reaksi ini diperlukan ATP, CO2 (berasal dari H2CO3), biotin ( yang diperlukan un- tuk
mengikat bikarbonat pada enzim sebelum ditambahkan pada asam piruvat ) dan ion Mg.
2. Enzim fosfoenolpiruvat karboksikinase mengkatalisis reaksi :
Oksaloasetat Fosfoenolpiruvat

22

Dalam reaksi ini diperlukan "high energy phosphate" GTP atau ATP, dan akan terbentuk CO2.
3. Enzim fruktosa 1,6-bisfosfatase akan mengkatalisis reaksi :
Fruktosa 1,6-bisfosfat Fruktosa 6-fosfat Enzim ini bisa didapatkan dalam hati, ginjal otot
bergaris, sedangkan jaringan lemak, otot jantung dan otot polos tidak mengandung enzim
fruktosa 1,6-bisfosfatase.
4. Enzim glukosa 6-fosfatase mengkatalisis reaksi : Glukosa 6-fosfat

Glukosa

Enzim ini terdapat dalam usus halus, hati, ginjal dan platelet, akan tetapi tidak bisa di- jumpai
dalam otot dan jaringan lemak.
5. Enzim gliserokinase mengkatalisis reaksi : Gliserol

Gliserol 3-fosfat

Dalam reaksi ini diperlukan ATP dan menghasilkan ADP. Enzim ini terutama terdapat dalam hati
dan ginjal.
6. Enzim gliserol 3-fosfat dehidrogenase mengkatalisis reaksi :
Gliserol 3-fosfat

Dihidroksi aseton fosfat ( DHAP ) 7.5 Asam propionat perlu diaktivasi

dahulu menjadi propionil-KoA. Ensim tiokinase mengkatalisis reaksi ini dan memerlukan ATP ,
KoA dan ion Mg. Selanjutnya propionil-KoA diubah menjadi D-metilmalonil-KoA, selanjutnya
setelah mengalami rasemisasi akan diubah menjadi L-metilmalonil-KoA. Senyawa ini kemudian
akan diubah menjadi suksinil- KoA yang akan masuk ke dalam siklus asam sitrat yang akhirnya
akan diubah menjadi glukosa melalui kebalikan jalur Embden-Meyerhof.
Metabolisme minor karbohidrat
1. Jalur metabolisme asam uronat
Selain dari jalur yang telah diterangkan di atas, glukosa 6-fosfat dapat diubah menjadi asam
glukoronat (glucoronic acid), asam askorbat (ascorbic acid) dan pentosa melalui suatu jalur yang
disebut jalur metabolisme asam uronat.Akan tetapi manusia tidak bisa membuat asam askorbat.
Karena kekurangan enzim tertentu, maka L-gulonat yang terbentuk tidak bisa diubah menjadi Lasam askorbat. L-gulonat akan dioksidasi menjadi 3-keto-L-gulonat, yang kemudian mengalami
dekarboksilasi menjadi L-xylulose.
23

Reaksi lengkapnya adalah sebagai berikut : glukosa-6fosfat akan diubah menjadi glukosa 1fosfat. Glukosa 1-fosfat akan bereaksi dengan UTP (uridin trifosfat) dan membentuk nukleotida
aktif UDPG (uridin difosfat glukosa). Selanjutnya UDPG akan mengalami oksidasi dua tahap
pada atom karbon yang keenam. Asam glukoronat (D-glucoronate) yang terbentuk oleh enzim
yang tergantung pada NADPH, direduksi menjadi L-gulonat. L-gulonat merupakan bahan baku
untuk membuat asam askorbat.
Pada manusia, L-gulonat melalui 3-keto L-gulonat akan diubah menjadi L-xylulose. D-xylulose
merupakan bagian dari HMP Shunt. Untuk bisa masuk ke dalam HMP Shunt,maka L-xylulose
harus diubah dulu menjadi D-xylulose melalui silitol. Dalam proses ini diperlukan NADPH dan
NAD+. Perubahan silitol menjadi D- silulosa dikatalisis enzim silulosa reduktase. D-xylulose
akan diubah menjadi D-xylulose 5-fosfat, ATP bertindak sebagai donor fosfat.
2. Metabolisme fruktosa
Fruktosa dapat difosforilasi menjadi fruktosa 6-fosfat oleh enzim heksokinase. Enzim ini juga
dapat memakai glukosa dan mannosa sebagai substrat, tapi afinitas untuk fruktosa sangat kecil
bila dibandingkan dengan glukosa.
Fruktokinase yang terdapat dalam hati, ginjal dan usus halus, dapat mengkatalisis fruktosa
dengan ATP menjadi fruktosa 1-fosfat. Harga Km untuk reaksi ini kecil sekali dan aktivitas
enzim ini tidak dipengaruhi oleh puasa ataupun insulin. Sangat mungkin sekali bahwa fosforilasi
dengan enzim ini merupakan reaksi fosforilasi yang utama dari fruktosa. Karena aktivitas enzim
fruktokinase tidak dipengaruhi insulin maka pada penderita Diabetes Mellitus, fruktosa dapat
dihilangkan dari darah dengan kecepatan yang sama di-bandingkan dengan orang normal.
Fruktokinase tidak dapat memakai glukosa sebagai substrat. Selanjutnya fruktosa 1-fosfat
dipecah menjadi D-gliseral dehid dan dihidroksi aseton fosfat. Reaksi ini dilatalisis enzim
aldolase B, yang terdapat dalam hati. Enzim ini juga bisa memakai fruktosa 1,6-bisfosfat sebagai
substratnya. D-gliseraldehid dapat masuk ke dalam glikolisis melalui suatu reaksi yang
dikatalisis oleh enzim yang terdapat dalam hepar yaitu triokinase. Enzim ini mengkatalisis
fosforilasi D- gliseraldehid menjadi D-gliseraldehid 3-fosfat. Dihidroksi aseton fosfat dan
gliseraldehi 3- fosfat (triosa fosfat) mungkin mengalami degradasi melalui jalur glikolisis atau
diubah menjadi glukosa. Dalam hepar kedua triosa fosfat tersebut akan banyak yang diubah
24

menjadi glukosa.
Fruktosa akan lebih cepat mengalami glikolisis bila dibandingkan dengan glukosa, karena
fruktosa tidak melewati jalur reaksi yang dikatalisis enzim fosfofruktokinase. Enzim ini
mengontrol kecepatan reaksi katabolisme glukosa. Ini menyebabkan fruktosa akan membanjiri
hepar dengan akibat meningkatnya sintesis asam lemak, esterifikasi asam le- mak dan sekresi
Very Low Density Lipoprotein (VLDL), yang mungkin bisa meningkatkan kadar triasil gliserol.
3.metabolisme galaktosa
Galaktosa diserap usus dengan mudah diubah menjadi glukosa dalam hepar. Jalur yang dipakai
untuk mengubah galaktosa menjadi glukosa adalah sebagai berikut Galaktokinase mengkatalisis
galaktosa menjadi galaktosa 1-fosfat dan dalam reaksi ini diperlukan ATP sebagai donor fosfat.
Galaktosa 1-fosfat yang terbentuk akan bereaksi dengan uridin difosfat glukosa (UDPG) dan
menghasilkan uridin difosfat galaktosa dan glukosa 1-fosfat. Reaksi ini dikatalisis enzim
galaktosa 1-fosfat uridil transferase, galaktosa menggantikan tempat glukosa.
Suatu epimerase mengubah galaktosa menjadi glukosa.Reaksi ini terjadi pada suatu nukleotida
yang mengandung galaktosa, peristiwa oksidasi-reduksi berlangsung dan memerlukan NAD+
sebagai ko-enzim. UDP-glukosa yang dihasilkan, dibebaskan dalam bentuk glukosa 1-fosfat.
Mungkin sebelum dibebaskan digabung dulu dengan molekul glikogen, baru kemudian dipecah
enzim fosforilase.
4.metabolisme heksosamin
Heksosamin merupakan komponen karbohidrat yang penting dalam tubuh, karena heksosamin
adalah bagian dari elemen struktur jaringan tubuh.
Glukosa akan diubah menjadi glukosa 6-fosfat yang oleh enzim heksosa fosfat isomerase akan
diubah menjadi fruktosa 6-fosfat.
Amino transferase mengkatalisis pemindahan gugusan amino dari glutamin dan membentuk
glukosamin 6-fosfat. Reaksi selanjutnya adalah pembentukan N-asetil glukosamin 6-fosfat, Nasetil glukosamin 1-fosfat, kemudian pembentukan UDP-N-asetil glukosamin yang selanjutnya
dengan asam D-glukoronat membentuk unit untuk polimerisasi yaitu sintesa asam hialuronat.
25

Mukopolisakarida yang lain adalah khondroitin, yang strukturnya mirip asam hialuronat, bedanya pada khondroitin N-asetil D-glukosamin yang terdapat pada hialuronat diganti dengan Nasetil D-galaktosamin. Khondroitin sendiri hanya merupakan bagian yang kecil dari komposisi
"extra cellular material", tapi derivat sulfatnya seperti khondroitin 4-sulfat dan khondroitin 6sulfat merupakan komponen tulang rawan, kornea dan bagian-bagian lain tubuh dalam jaringan
ikat.Dengan enzim epimerase UDP-N-asetil glukosamin diubah menjadi UDP-N-asetil
galaktosamin.
Basal metabolic rate (BMR)
Laju metabolik dan karenanya jumlah panas yang diproduksi bervariasi bergantung pada
beragam faktor, misalnya olahraga, rasa cemas, menggigil dan asupan makanan. Peningkatan
aktivitas otot rangka adalah faktor yang dapat meningkatkan laju metabolik paling besar. Bahkan
peningkatan ringan tonus otot menyebabkan peningkatan laju metabolik yang nyata dan berbagai
tingkat aktivitas fisik secara mencolok mengubah pengeluaran energi dan produksi panas. Nilai
BMR normalnya berkisar antara 65-70 kalori per jam pada laki-laki kebanyakan yang berat
badannya 70 kilogram. Walaupun kebanyakan BMR terpakai dalam aktivitas esensial sistem
saraf pusat, jantung, ginjal dan organ lainnya, variasi dalam BMR di antara individu yang
berbeda terutama terkait pada perbedaan jumlah otot rangka dan ukuran tubuh.6
Kebanyakan penurunan BMR akibat penambahan usia mungkin terkait dengan hilangnya
massa otot dan penggantian massa otot tersebut dengan jaringan adiposa, yang mempunyai
kecepatan metabolisme lebih rendah. Karena itu, laju metabolik seseorang ditentukan di bawah
kondisi basal terstandar yang diciptakan untuk mengotrol sebanyak mungkin variabel yang dapat
mengubah laju metabolik. Dengan cara ini, aktivitas metabolik yang diperlukan untuk
mempertahankan fungsi tubuh dasar saat istirahat dapat ditentukan. Karena itu, apa yang disebut
sebagai laju metabolik basal (BMR) adalah laju pengeluaran energi internal minimal saat
terjaga.2
1. Harus beristirahat secara fisik, beristirahat setelah olahraga paling sedikit 30 menit untuk
menghilangkan kontribusi kontraksi otot terhadap produksi panas.
2. Harus beristirahat secara mental untuk memperkecil tonus otot rangka (orang menjadi
tegang ketika cemas) dan mencegah peningkatan epinefrin, suatu hormon yang
dikeluarkan sebagai respons terhadap stress yang meningkatkan laju metabolik.

26

3. Pengukuran harus dilakukan pada suhu kamar yang nyaman sehingga yang bersangkutan
tidak menggigil. Menggigil akan sangat meningkatkan laju metabolik.
4. Jangan makan makanan apapun dalam 12 jam sebelum pengukuran BMR untuk
menghindari termogenesis makanan atau peningkatan wajib laju metabolik yang terjadi
sebagai konsekuensi asupan makanan.1
Setelah ditentukan di bawah kondisi basal, laju produksi panas perlu dibandingkan
dengan nilai normal untuk orang dengan jenis kelamin,usia, berat dan tinggi yang sama, karena
faktor-faktor ini mempengaruhi laju pengeluaran energi basal. Sebagai contoh, pria bertubuh
besar sebenarnya memiliki laju produksi panas yang lebih tinggi daripada pria bertubuh kecil.
Tetapi jika dinyatakan dalam kaitannya dengan luas permukaan tubuh total (yang mencerminkan
berat dan tinggi), maka pengeluaran dalam kilokalori per jam per meter persegi luas permukaan,
normalnya hampir sama. Hormon tiroid adalah penentu utama meskipun bukan satu-satunya
penentu laju metabolik basal. Peningkatan hormon tiroid menyebabkan peningkatan BMR.
Seperti telah disebutkan, epinefrin juga meningkatkan BMR. Laju metabolik basal bukanlah laju
metabolik tubuh yang paling rendah. Laju pengeluaran energi selama tidur adalah 10% sampai
15% lebih rendah daripada BMR, mungkin disebabkan oleh karena relaksasi otot pada tahap
tidur paradoksial berlangsung lebih sempurna.1,6
Namun, terdapat faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi taraf metabolisme basal
yaitu:
1. Hormon tiroid meningkatkan kecepatan metabolisme jika disekresikan tiroksin dalam
jumlah maksimal mencapai 50-100% di atas normal karena tiroksin meningkatkan
kecepatan reaksi kimia banyak sel di dalam tubuh. Terjadi proses adaptasi kelenjar
tiroid dengan peningkatan sekresi pada iklim dingin dan penurunan sekresi pada iklim
panas.
2. Hormon kelamin pria, testosteron, dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal
kira-kira 10-15%. Hormon kelamin perempuan dapat meningkatkan BMR dalam
jumlah sedikit, tapi biasanya tidak bermakna.
3. Hormon pertumbuhan dapat meningkatkan kecepatan metabolisme 15-20% sebagai
akibat rangsangan langsung pada metabolisme selular.

27

4. Demam, tanpa melihat penyebabnya, meningkatkan kecepatan reaksi kimia rata-rata


120% untuk setiap peningkatan temperatur 10C.
5. Malnutrisi lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20-30%. Penurunan ini
diduga disebabkan oleh tidak adanya zat makanan yang dibutuhkan dalam sel.6

Kesimpulan
Energi dalam molekul nutrien yang tidak digunakan untuk melakukan kerja diubah
menjadi energi termal atau panas. Selama proses-proses biokimia, hanya sekitar 50% energi
dalam molekul nutrien yang dipindahkan ke ATP sedangkan sisanya segera lenyap sebagai panas.
Bahkan dalam melakukan kerja eksternal, otot-otot rangka mengubah energi kimia menjadi
energi mekanis yang tidak efisien; hampir 75% energi yang digunakan lenyap sebagai panas.
Karena itu, semua energi yang dibebaskan dari makanan masuk tidak secara langsung digunakan
untuk kerja akhirnya menjadi panas tubuh. Namun, panas ini bukan energi yang sia-sia karena
sebagian besar digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh.

Daftar Pustaka
1. Davey P. At a glance medicine.Jakarta: Penerbit Erlangga; 2003.h 64
2. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Ed 6 th .Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2011.h 716-7, 711-4, 734-5
3. Muslim H.M. Parasitologi untuk keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2009.h 50-1
4. Rumahorbo H. Asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem endokrin. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1999. H 10-1

28

5. Sloan E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC;2004. H 306-8
6. Guyton AC and Hall EJ. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 11. Jakarta: EGC,
2008.h.770, 932-45.

29