Anda di halaman 1dari 2

STABILITAS TANAH EKSPANSIF DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME)

APLIKASI PADA PEKERJAAN TIMBUNAN


Muhammad Jalil
Jurusan Teknik Sipil, Universitas Islam Sultan Agung Semerang
Jl. Raya Kaligawe km 4, Semarang 50112 tlf (024)65831584
e-mail : jalilmuh7@gmail.com / 085241826448

Abstrak: Perilaku tanah sangat dipengaruhi oleh kadar air yang dikandungnya, salah satu
jenis tanah yang mempunyai banyak masalah dalam pembangunan konstruksi pada
umumnya dan konstruksi jalan khususnya adalah tanah ekspansif. Tanah jenis ini mempunyai
sifat kembang-susut sangat tinggi. Pada penelitian ini tanah ekspansif akan ditambahkan
beberapa prosen kapaur sebagai pengikat mineral pembentuk utamanya, yaitu
montmorilonite. Sebagai material timbunan, yang digunakan adalah uji coba di laboratoriam
menurut beberapa standar ASTM. Kesimpulan yang didapat adalah : Besarnya stabilitas
(CBR) tanah ekspansif yang belum ditambahkan kapur padam namun telah mulai proses
pemadatan Standard Compaction mempunyai nilai CBR sebesar 2,316 %. Basarnya nilai
CBR sebagai bentuk stabilitas dari tanah ekspansif yang ditambahakan kapur padam dari 3%,
6%, 9% dan 12% sebagai material timbunan, mendapatkan CBR maksimum sebesar 12,5%
pada saat kadar kapur optimum antara 4% sampai dengan 6%. perbedaan stabilitas (CBR)
antara tanah ekspansif dengan tanah ekspansif dengan penambahan kapur sebesar 10,184%.
Pengaruh kapur pada tanah ekspensif yang dipadatkan terhadap stabilitas (CBR) memberikan
nilai sangat signifikan pengaruhnya, terutama sampai penambahan kadar kapur padam
sebesar 4% s/d 6%.
Kata kunci : Tanah ekspansif, kapur padam, prosentase, CBR, geser langsung.
1. Pendahuluan
1.1 Latar belakang
Salah satu kekuatan atau kekokohan suatu konstruksi ditentukan oleh kwalitas bahan
dasar yang dipergunakan. Pada konstruksi jalan, kwalitas tanah asli sebagai bahan
dasar (subgrade) juga sangat menentukan kekuatannya. Dalam membangun suatu
jalan, tanah dasar merupakan bagian yang sangat penting karena tanah dasar akan
mendukung seluruh beban lalu lintas/beban konstruksi di atasnya. Jika tanah
dasar yang ada berupa tanah lempung yang mempunyai daya dukung (kepadatan
kering, CBR) rendah, makadaya dukung tanah untuk Sub grade biasanya
dinyatakan dengan besarnya kepadatan kering (d) dan California Bearing Ratio
(CBR). Tanah dengan nilai kembang susut yang tinggi, air sangat berpengaruh
sekali terhadap perilaku fisik dan mekanis tanah (Das, 1995). Kondisi jalan di daerah
Sendang Mulyo juga mengalami hal yang sama yaitu cepat mengalami kerusakan
meskipun sering dilakukan perbaikan pada lapis permukaan jalan. Untuk
mengatasi permasalah tersebut, salah satu cara atau metode yang dipergunakan
adalah memperbaiki kwalitas tanah asli (stabilisasi tanah). Penelitian yang pernah
dilakukan adalah stabilisasi tanah lempung Sendang Mulyo dengan hanya mempergunakan
bahan kapur yangberasal dari Purwodadi dengan hasiladalah dapat menaikan daya

dukung (kepadatan kering (d) maksimum) dan CBR tanah Sendang Mulyo dengan
prosentase kapur optimum = 10,80769 % dan Kadar air optimum w = 19 %.
Dari permasalahan tersebut mendorong peneliti untuk melakukan penelitian lebih
lanjut tentang pengaruh bahan stabilisasi lainnya (kapur + pasir) dengan besarnya daya
dukung tanah (CBR). Permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk meningkatkan daya dukung tanah lempung ekspansif yang rendah agar dapat
memenuhi syarat sebagai bahan subgrade jalan harus dilakukan stabilisasi.
2. Dengan menggunakan bahan stabilisasi kapur dan pasir dapat meningkatkan daya
dukung tanah lempung ekspansif.
Pembatasan masalah meliputi sample tanah diambil dari daerah Sendang Mulyo Kota
Semarang, pasir Muntilan diperoleh dari toko bahan bangunan di sekitar kota Semarang, dan
kapur diperoleh dari daerah Purwodadi. Pengujian laboratorium meliputi uji kompaksi, dan
CBR tanah. Prosentase penambahan pasir bervariasi dari 5%, 10%, dan 15%. Sedangkan
prosentase penambahan kapur bervariasi dari 5%, 10% dan 15%.