Anda di halaman 1dari 5

LOD dan LOQ

Batas deteksi (LOD) adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat
dideteksi yang masih memberikan respon signifikan dibandingkan dengan
blangko.Batas deteksi merupakan parameter uji batas.Batas kuantitasi (LOQ)
merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan sebagai kuantitas terkecil
analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan seksama
(Gandjar dan Rohman, 2007).Pada penelitian ini LOD dan LOQ pada penetepan
kadar metformin digunakan pada rentang konsentrasi 100-3000 ng/mL. Kurva
kalibrasi dibuat dengan memplot antara luas area peak yang dihasilkan dengan
konsentrasi yang terukur. Berdasarkan perhitungan diperoleh nilai r 2 dari kurva
kalibrasi yang diperoleh yaitu 0,096. Berdasarkan nilai r2 yang diperoleh berarti
berarti hubungan antara absorbansi dengan konsentrasi bersifat linier. Linearitas
adalah kemampuan metode analisis yang memberikan respon yang secara
langsung atau dengan bantuan transformasi matematik yang baik, proporsional
terhadap konsentrasi analit dalam sampel. Parameter yang diamati adalah nilai r
dari persamaan linier dan simpangan baku residual (Sy) suatu data dikatakan linier
apabila nilai r = 1 atau -1 (Harmita, 2004 Nilai LOD dan LOQ yang diperoleh
yaitu 40 ng/mL dan 100 ng/mL. Hal ini menunjukkan jumlah terkecil metformin
yang masih dapat dideteksi dan memberikan respon spesifik terhadap blanko
adalah sebesar 40 ng/mL dan kuantitas terkecil metformin yang masih dapat
memberikan kriteria cermat dan seksama adalah sebesar 100 ng/mL.
Kekasaran dan ketahanan
Kekasaran merupakan tingkat reprodusibilitas hasil yang diperoleh di
bawah kondisi yang bermacam-macam yang diekspresikan sebagai persen standar
deviasi relatif (%RSD). Kekasaran suatu metode akan kelihatan jika digunakan
berulang kali sedangkan ketahanan merupakan kapasitas metode untuk tidak
terpengaruh oleh adanya variasi parameter metode yang kecil (Ganjdar dan
Rohman 2007).Pada penelitian ini validasi metode kekasaran dan ketangguhan
dilakukan dengan eksperimental PlackettBurman. Eksperimental Plackett

Burman dilakukan dengan 5 variabel yang mempunyadi dampak yang paling


signifikan pada metode yaitu sebagai berikut

Eksperimental berjalan dilakukan secara acak untuk meminimalkan efek


variabilitas pada respon. Daerah puncak rasio metformin dan IS dianggap adalah
respon yang dihasikan. Berikut hasil dari eksperimental PlackettBurman:

Pada proses berikutnya dilakukan Tes ANOVA pada ekperimental


Plackett-Burman yang telah dilakukan digunakan untuk mengidentifikasi efek dari
masing-masing variabel terhadap respon ( rasio luas puncak metformin dan IS ) .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan variabel terhadap respon tidak
signicant ( P > 0,05 ) sehingga dapat dikatakan metode yang telah digunakan
memiliki kekasaran dan ketahanan terhadap beberapa perubahan variabel pada
penelitian ini (Uakturk, 2013)

Aplikasi Penetapan Kadar Metformin dengan Metode GC-MS pada Pasien


Diabetes.
Pada aplikasi metode GC-MS untuk penetapan kadar metformin pada
pasien diabetes, pasien diberikan tablet yang mengandung metformin sebesar
1000 mg dua kali sehari. Sampel darah diambil dari pasien kemudian ditempatkan
pada tube yang mengandung EDTA. Fungsi dari EDTA adalah antikoagulan untuk
mencegah sampel darah memadat akibat dari faktor-faktor pembekuan darah yang
nantinya

dapat

mempersulit

proses

ekstraksi.Sampel

darah

kemudian

disentrifugasi dengan kecepatan 4000 rpm. Prinsip utama sentrifugasi adalah


memisahkan substansi berdasarkan berat jenis molekul dengan cara memberikan
gaya sentrifugal sehingga substansi yang lebih berat akan berada di dasar atau
mengendap ke dasar wadag karena pengaruh gravitasi, sedangkan substansi yang
lebih ringan akan terletak di atas (Faatih, 2009). Protein protein pada plasma
yang mempunyai berat molekul yang lebih besar akan mengendap ke dasar tabung
sentrifugasi, selanjutnya diambil supernatan dan dipindahkan pada test tube dan
dilakukan derivatisasi kemudian dianalisis dengan metode GC-MS pada hari yang
sama. Berikut hasil perolehan metformin pada plasma pasien diabetes dengan
metode GC-MS

Konsentrasi

metformin

pada

plasma

pasien

diabetes

ditentukan

berdasarkan persentase ion derivatisasi dan waktu retensi. Keberadaan ion hasil
derivatisasi dideteksi pada

303 m/z, 288 m/z dan 274 m/z yang dipilih

berdasarkan kelimpahan ion relatif. Kelimpahan relatif ion untuk 303 m/z, 288
m/z dan 274 m/z ditemukan yaitu 100%, 42,3% dan 4,3%. Kelimpahan relatif

yang diperoleh dari plasma pasien kemudian dibandingkan dengan kelimpahan


relatif plasma kontrol positif yang mengandung metformin dan IS. Setelah proses
pembandingan semua hasil memenuhi kriteria penerimaan dimana batas toleransi
10% untuk kelimpahan relatif ion lebih dari 50%, batas toleransi 20% untuk
kelimpahan relatif ion antara 25%-50%, dan batas toleransi 50% untuk
kelimpahan relatif kurang dari 5% (Uakturk, 2013). Untuk waktu retensi ion
hasil derivatisasi pada sampel pasien menghasilkan waktu retensi yang sama
dengan ion derivatisasi metformin standar. Waktu retensi yang diperoleh yaitu
3,274-3,146 menit dan waktu retensi relatif yaitu 0,649-0,636. Kriteria
penerimaan batas toleransi untuk waktu retensi tidak boleh melebihi 2% atau
0,1 menit dan sedangkan batas toleransi untuk waktu retensi relatif didak boleh
lebih dari 0,1% dari standar metformin (Uakturk, 2013). Berikut hasil
kromatogram metformin pada pasien diabetes :

Gambar ___. Kromatogram ion derivatisasi metformin pada pasien diabetes (a)
303 m/z (b) 288 m/z dan (c) 274 m/z (Uakturk, 2013)

Kesimpulan
Pengembangan metode analisis metformin dengan GC-MS dengan
derivatisasi

menggunakan

MBTFA pada

cairan

plasma

telah

berhasil

menghasilkan metode yang valid sesuai dengan FDA meliputi spesifitas,


sensitifitas, linearitas, presisi, akurasi , kekasaran dan ketahanan dan telah berhasil
diterapkan pada cairan plasma pasien diabetes. Metode ini memiliki waktu
pemisahan kromatografi yang cepat yaitu kurang dari 5,5 menit dan
memungkinkan digunakan untuk analisis pada laboratorium klinik.